HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
ADU KEPINTARAN


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,


Satu momen yang sangat merematkan hati pernah terjadi pada satu hari di dalam hunian mewah nan megah tersebut.


Lalu disusul dengan beberapa momen yang membuat para anggota keluarga tersebut dibuat lega, namun tetap kekhawatiran dan was – was tidak hengkang dari hati mereka meski ada kelegaan yang tercipta.


Kemudian momen lain tercipta lagi, dari salah satu anggota keluarga yang membuat anggota keluarga lainnya pening kepala dan juga berpikir keras yang menyelimuti praduga --- yang mana,


“Apa kau sedang bermain api, May?”


“Maksud Poppa?”


“Ini tanganmu dan tangan Felix bukan?”


“Oh, itu.”


“Apa kau sedang membuat rumor untuk membatalkan pertunanganmu dan Arya?”


“Tidak.”


“Jadi?”


“Aku dan Felix telah menjalin hubungan. Jika ditanya mengapa bisa, Felix yang lebih banyak berada di sini menemani dan menghiburku. Bukan Arya.”


Yakin dan mantap jawaban itu terlontar dari mulut Mika, hingga dua Daddy yang sedang menginterogasi tak dapat menemukan kecacatan dari ucapan, sikap, maupun sorot mata Mika yang menyiratkan kebohongan.


Meski jauh di dalam lubuk hati dua Daddy itu masih meragui pengakuan salah satu putri yang mantap dan yakin lagi mengakui,


“Aku telah kian dekat dengan Felix, setelah kejadian Val. Bahkan lebih dari sekedar dekat. Hatiku telah berganti arah.”


“Begitu cepat hatimu berganti arah, padahal saat Arya diberitakan tewas kau terlihat begitu hancur..”


“Dan itu artinya kau begitu mencintai Arya..”


“Pernah. Aku pernah mencintainya. Tapi sekarang tidak. Arya Narendra, sudah mulai terkikis dari hatiku perlahan tapi pasti.”


🍁


Hati.


Kalau sudah soal hati, dua Daddy yang sedang menginterogasi Mika pun angkat tangan --- katakanlah seperti itu.


Tiga hal yang tiada sesiapa bisa melawan kehendak Tuhan yang sudah mengaturnya, yakni rezeki, maut dan jodoh.


Entah Felix akan jadi jodohnya Mika atau tidak, susah diraba.


Apa hubungan Mika dan Felix akan seperti halnya Mika dengan Arya, pun tidak tahu bagaimana.


Karena Mika dan Felix menganut kepercayaan yang berbeda. Tapi sekali lagi, orang tua dan tetua serta yang dituakan dalam The Adjieran Smith Family hanya bisa menasehati.


Pilihan, kembali lagi diberikan kepada yang punya perasaan kalau sudah soal hati dan memilih pasangan. Dan yang telah memilih, harus bisa menghadapi apapun resiko yang ada di depan mereka nanti.


Jadi Felix yang menjadi pilihan Mika, untuk sementara tidak dibahas lagi.


Namun inisiatif untuk membuka omongan pada keluarga Arya meski hanya lewat sambungan telepon setelah Mika melakukannya duluan kepada orang tua Arya untuk meminta maaf karena rencana penetapan masa depan Mika dan Arya harus dikandaskan.


Disusul oleh para Dad dan Mommy of The Adjieran Smith yang sebagian menghubungi juga orang tua Arya dan Arya sendiri untuk meminta maaf perihal Mika yang tidak setia.


Karena Mika tidak dapat menjaga kesetiaan berikut hatinya.


Padahal sebenarnya,


“Fel, I want to collect a debt ( Fel, aku ingin menagih hutang )”


“Debt ( Hutang )?”


“You owe me your life when I saved you by donating my blood  after you got an accident that time. Remember ( Kamu berhutang nyawa padaku saat aku mendonorkan darahku padamu setelah kamu kecelakaan waktu itu. Ingat )?”


“How the way I pay you then ( Bagaimana aku membayarmu kalau begitu )?”


“Help me betray Arya ( Bantu aku mengkhianati Arya ) --- Remember Fel, this just between me and you ( Ingat Fel, ini hanya diantara kamu dan aku )”


“He will hate you for this ( Dia akan membencimu karena ini ), May.”


“That’s what I want ( Itu yang aku inginkan ) --- I want Arya hates me, then left me ( Aku ingin Arya membenciku, lalu meninggalkanku )” ucap Mika lagi. “Just do your part ( Lakukan saja bagianmu ), Fel.”


Untuk satu alasan, yakni,


“Aku tidak akan membangun istana cintaku, di atas istana cinta saudariku yang telah hancur lebur.”


Yang Mika cetuskan atas dasar rasa begitu menyayangi satu saudari yang hancur mimpinya lalu melakukan aksi menghilangkan nyawa dari diri.


Salah atau benar keputusannya Mika tidak peduli.


Mika hanya mengikuti kata hatinya sendiri. Val yang duluan bermimpi tentang indahnya mahligai cinta.


Namun mimpi Val itu kemudian hancur lebur tanpa sisa.


Rasanya jahat dirinya Mika rasa, jika hubungannya dengan Arya ia lanjutkan terus untuk menggapai mahligai cintanya dan Arya, sementara Val terluka dengan hebatnya.


Naif mungkin, tapi masa bodoh Mika katakan.


Yang jelas ia tidak mau tersenyum bahagia, di kala Val menangis dengan hebatnya, lalu berlanjut kepada tangisan tanpa suara, hingga Val membawa tangisnya dalam kelelapan yang kelewat lelap.


Dan Mika menyimpan tangisnya di dalam hati saja, ketika tudingan berikut hinaan ia dapatkan dari Arya. “Gue salah berpikir lo adalah cewek terhormat. Karena kenyataannya lo rendahan!”


Mika telan bulat – bulat tudingan dan hinaan Arya itu padanya tanpa sedikitpun kemarahan pada Arya.


Memang itu yang Mika inginkan, Arya Narendra membencinya.


Lalu menjauh sejauh – jauhnya, meski di dalam hati Mika berbisik,


‘Bye, Ar. I’m sorry, and I love you.. Always..’


Disaat perpisahannya dan Arya sudah terealisasi secara resmi.


Keluarga Mika pun tak lagi mencampuri.

__ADS_1


Bagaimanapun, tiap – tiap anggota mereka telah diberikan satu hak mutlak sejak lahir.


Yakni, kebebasan untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan ranah pribadi.


Meski nasehat dan wejangan tetap akan sering di cetuskan dan di suarakan oleh para tetua, orang tua dan yang dituakan dalam keluarga inti.


Dan keputusan Mika yang mengakhiri hubungannya dengan Arya atas dasar yang bertahta di hati Mika telah berganti, begitu yang keluarga Mika ketahui dan percayai sesuai dengan ucapan dari pengakuan Mika yang begitu meyakinkan. Jadi, soal Mika yang memilih Felix, ya sudah tidak dibahas lagi.


Hingga pada suatu hari,


🍁


“Gue masih merasa ada yang tidak benar di dalam hubungan May dan Felix—“


“The same way I do ( Sama )”


“Apa lo ga merasakan kejanggalan pada May, Wa?—“


“I did ( Merasa )”


Dua Dad sedang terlibat pembicaraan di suatu pulau pribadi, rahasia dan tersembunyi serta sulit ditapaki jika tidak menggunakan sebuah helikopter.


“Tapi sudah berkali – kali gue dan Ichel mencoba membuatnya bicara kalau hubungannya dan Felix hanya sandiwara, tapi tetap saja anak itu selalu mematahkan praduga gue dan Ichel dengan sikapnya yang begitu meyakinkan saat menyangkal..”


“Bagaimana dengan Felix?..”


Satu pria lain yang juga ada bersama dua Daddy yang sedang terlibat pembicaraan itu terdengar angkat suara.


“Uncle Nino sudah juga mendesaknya seperti bagaimana kita mendesak May untuk mengakui jika hubungannya dan Felix adalah sebuah sandiwara. Namun sebagaimana May, Felix juga meyakinkan menyangkal jika itu kebohongan sebagaimana May..”


Satu orang lagi yang merupakan seorang Daddy menimpali ucapan satu Daddy barusan yang adalah Dad R.


“Aku pikir, jika kita perlu lebih fokus untuk menyelidiki ini. Well, bukan aku tidak menyukai Felix. Dia sudah macam adik bagiku.. Tapi aku tidak ingin May mengorbankan kebahagiaannya saja demi Val dengan kelewat batas.. Dan setahuku, bukankah Felix memiliki kekasih --- walaupun ia terkesan menyembunyikan kekasihnya itu,  saat Felix dan May mengumumkan jika mereka telah menjalin hubungan?..“


“Aku setuju denganmu bocah tengik nomor satu.. Dan serahkan itu padaku—“


“Apa yang ada di kepala lo, Donald Bebek Tua? Jangan katakan kalau lo mau menggunakan otot lo untuk membuat bocah yang sudah macam anak bagi kita itu untuk jujur???”


Adalah Poppa yang kemudian tersenyum lebar ketika Dad R barusan berucap menyelidik. “Hah, kakak ganteng. Hanya kegantengan lo saja yang masih tetap di tempatnya, tapi otak lo sudah mulai bekerja lambat seperti otak manula..”


Didetik dimana tiga orang yang sedang bersama Poppa itu, yakni Daddy Dewa-Dad R dan Varen --- terkekeh geli bersama setelah mendengar ucapan si Donald Bebek Tua yang tak berubah dengan mulut asal jeblaknya.


“Felix, this place ( tempat ini ),  and those equipments ( dan peralatan - peralatan itu )—“


“Ga heran jika biangnya naga tua tetap bertahta. Dan kau Bang, akan terus aja jadi anak naga..” tukas Daddy Dewa yang paham dengan maksud ucapan Poppa walau tanpa Poppa berikan penjelasan detail akan rencananya. “Karena biar ini naga blasteran bebek sudah tua, otaknya tetap cemerlang adanya. Termasuk mulut nyinyirnya yang ga ada berkurang sadisnya..”


“Belum aja dipelintir Momma itu mulutnya..”


🍁


“Nino mengatakan jika Felix ingin pindah kuliah, keluar dari London..”


Selang beberapa jam kemudian Dad R menyampaikan berita, pada tiga orang pria yang sebelumnya mengobrol dan bertukar pikiran dengannya.


“Semakin menguatkan dugaan kita saja. Bukan begitu?” Poppa menanggapinya.


“Yap!—“


“Pasti sudah tidak tahan menanggung beban kebohongan, makanya menjauh untuk menghindari cecaran.”


“Pasti—“


🍁


Tahukah kalian pepatah, yang berbunyi,


Sepandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya dia akan jatuh juga.


Lalu ada yang mengatakan,


Sepintar-pintarnya orang tua, anak biasanya lebih pintar dari mereka.


Iya, benar. Mungkin saja begitu.


Kalau orang tuanya --- para ayah terutama, serta satu kakak lelaki --- bukanlah mereka yang disebut The Dads of The Adjieran Smith dan si Abang sayangnya para adik di garis keluarga tersebut. Alvarend Aditama Adjieran Smith, yang instingnya lebih tajam dari silet.


Yang jiwa – jiwa penasarannya tidak akan berhenti meronta, jika ada sesuatu yang masih terasa janggal di hati --- Meskipun tersangka yang membuat mereka merasakan kejanggalan di hati itu, telah berkali – kali meyakini dan memang meyakinkan sekali.


Tapi kenapa, keraguan masih ada di dalam hati walaupun Mika begitu selalu meyakinkan di mata mereka?..


Dicari cacatnya sikap Mika yang mungkin menutupi hati dan menyembunyikannya dalam sikap, ga ketemu.


Tapi hati The Dads dan Varen yang mungkin juga mewakili hati keluarga mereka yang lain, masih sulit meyakini pengakuan Mika yang katanya sudah tidak lagi mencintai Arya.


Lega pada otak dan hati yang ada pada diri The Dads dan Varen mulai menciptakan ruang untuk memikirkan hal lain setelah sebuah tragedi yang menyayat hati serta menghujam jantung.


Jadi atas nama keluarga yang mengingkan kebahagiaan untuk anggota keluarga yang lain, masalah Mika akan menjadi sorotan sekarang.


Perhatian lebih untuk menemukan fakta yang sebenarnya pun dilakukan. “Kau sudah mulai berkuliah, May?”


Dad R yang bertanya, ketika satu putri dalam keluarga itu datang ke tempat Dad R berada sekarang bersama beberapa anggota keluarga yang lain.


“Secara aktif belum, Dad. Dan lagi, aku mengajukan kuliah online..” Dia yang barusan di tanya pun menjawab.


“Bagaimana dengan hubunganmu dan Felix?—“


“Dad dengar katanya Felix juga ingin pindah kuliah—“


“Apa kalian sedang bertengkar?..”


Cecaran pertanyaan untuk dia gerangan.


Mika.


Yang menampakkan senyumnya dengan natural.


“Kami baik – baik saja kok.”


Mika menjawab kemudian.


“Sedang bahagia – bahagianya bahkan—“


“Benarkah?..”


Poppa yang menukas ucapan Mika barusan.

__ADS_1


Dimana Mika tersenyum geli. Dan lagi – lagi gestur Mika sungguh natural sekali.


“Kalian masih penasaran ya dengan ucapanku?.. Jika begitu, bukankah namanya kalian meragukan diri sendiri?”


Lalu Mika berucap kemudian.


“Kan kalian paling jago menilai seseorang, bahkan bisa tahu jika seseorang berbohong hanya dari sorot mata? Tapi yah, kalau kalian masih ingin menginterogasiku yah silahkan saja.”


Mika melayangkan pandangan ‘berani’ ke arah empat Dads yang sedang ada bersamanya itu, diantara beberapa anggota keluarga lainnya yang sedang ada bersama mereka. Meyakinkan sikap dan gelagat Mika, saking naturalnya.


Dimana senyuman, kemudian terbit di wajah empat Dads serta satu Abangnya setelah Mika mencetuskan tantangannya.


Hebat.


Sungguh hebat anak mereka satu ini dalam soal akting.


Sebelas dua belas dengan Val yang sempat berakting ‘baik – baik saja’, tapi tahunya meminum racun dan menenggelamkan dirinya.


Namun begitu, kesedihan dan luka Val masih menjejak di wajahnya.


Tapi coba lihat Mika?..


Tak ada jejak apa – apa di wajahnya.


Padahal dia mengorbankan cintanya.


Hebat sekali bukan?..


Tapi,


“Kau tahu, May?”


Varen angkat suara kemudian.


“Apa yang difokuskan oleh Celine di tempat ini selain obat – obatan?..”


Sambil Varen menatap Mika dengan tersenyum pada satu adik angkatnya itu.


“Eum-“


“Tech. Bagian dari AV SMART.”


Varen tidak membiarkan Mika menjawab.


Mika mengernyit, sedikit bingung.


Kenapa tiba – tiba pembicaraan jadi sangat berubah haluan?


Sedang membicarakan hubungannya dengan Felix, kenapa malah jadi membahas kegiatan di dalam bangunan yang serupa kastil drakula ini?


Yang Mika pikirkan dalam otak dan hatinya. Dan disaat Mika sedang berpikir itu,


TIK!


Varen menjentikkan jarinya dengan nyaring.


“Ini, contohnya.”


Varen berucap, bersamaan dengan dua orang yang datang membawa seperangkat alat di atas sebuah troli aluminium yang sedang di dorong mendekat ke arah mereka yang sedang berkumpul itu.


Otak Mika sedang loading untuk menerka.


“Polygraph.”


Dan didetik yang sama dengan otak Mika yang sedang loading itu, Varen kembali berucap.


Lalu Mika?..


Seketika ia menegang di tempatnya.


“A.k.a lie detector ( Alias alat pendeteksi kebohongan )”


Varen tersenyum, dan The Dads pun ikut juga tersenyum.


Sementara Mika?..


Masih menegang tubuhnya, ia pun menelan ketat salivanya.


Terlebih saat Varen bilang,


“Sudah dinyatakan sangat akurat, bukan lagi 99% tapi 100%. Polygraph tercanggih abad ini. Yang mana..”


Tes.


“Sshh.”


Mika mendesis secara terkejut, ketika ia merasakan alas satu jarinya ada yang menusuk kecil dan darahnya bergerak sebentar.


Mika pintar memang.


Bisa mengelabui anggota keluarganya dengan sikapnya yang menampakkan kejujuran terlebih pada The Dads dan Abang, sungguh benar – benar pinta dan memang layak mendapat acungan empat jempol.


Hanya saja,


“Alat ini, dapat mendeteksi jika kau berbohong hanya lewat sel darahmu saja.“


“Dimana hasil test kekasihmu ini..”


Mika menggigit bibir dalamnya ketika partner kebohongannya muncul dari satu sudut, dengan dirangkul ayah kandung Mika.


“Mengenai hubungan kalian,  tidak 1% pun menunjukkan kejujuran.”


“And now, kita lihat hasil tes darahmu,” tutur Varen sambil menatap Mika dengan tersenyum penuh arti. “Mikaela Finn Adjieran Smith, apa benar kau mencintai Felix Ballamy seperti kau pernah mencintai Arya Narendra?..”


Sambil Varen memasangkan satu alat berkabel di pergelangan tangan Mika, tanpa melepaskan pandangan dari satu adik angkatnya itu.


Mika terdiam. Tak menjawab pertanyaan Varen.


“Darahmu sedikit diambil tadi, ketika kami sekilas menangkap dirimu nampak tegang setelah aku sebutkan alat apa ini. Jadi adikku sayang, kita lihat seberapa jujur dirimu. Atau.. seberapa jauh kau sudah mengelabui kami..”


Dimana Mika spontan merapatkan gigi, lalu menggigit bibir dalamnya agak kuat.


Sekali lagi, Mika pintar memang..


Tapi The Dads dan Abang, seng ada lawan.

__ADS_1


🍁 🍁 🍁


To be continue....


__ADS_2