HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 117


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Singapura..


“Wake up you four sissy (Bangun kalian empat banci)!”


Suara seorang gadis terdengar dingin, dimana gadis tersebut sedang berdiri menatap empat orang anak lelaki yang usianya tak seberapa jauh darinya, sesaat setelah ia mendaratkan kakinya ke dada masing-masing empat orang anak lelaki yang membuat sang gadis geram karena mulut lancang mereka.


Tubuh gadis itu berdiri tegak menghadap ke empat anak lelaki yang tadi sempat tersungkur akibat tendangan dari kaki super jenjang gadis tersebut.


Wajahnya sang gadis nampak datar, namun tatapan matanya menantang dan tak ada gurat rasa takut sama sekali disana. Dimana kemudian suara lirihan serempak menyebut nama sang gadis pun terdengar.


“Ann---“


“Ingat Aro, satu langkahpun kamu tidak boleh ikut maju.”


Ann berbicara pada Aro tanpa menoleh ke arah belakangnya.


“Tapi Ann –“


“Seperti yang Val dan Mika katakan, they just want to playing victim with you, so your name get dirty then get discualified as a champion ( mereka hanya ingin bermain sebagai korban denganmu, lalu namamu akan menjadi tercemar kemudian kamu akan didiskualifikasi sebagai juara ) –“


“Aku ga peduli sama gelar juara, asal bisa hantam ini empat bocah songong!” seru Aro yang geram.


Dan saat Ann bicara tentang spekulasinya tadi, empat orang anak laki-laki songong yang kesemuanya habis kena tendang oleh Ann itu nampak terkejut.


Mereka nampaknya kaget jika rencana mereka untuk membuat Aro jelek namanya dengan sebuah perkelahian dimana seperti yang Ann katakan jika mereka hendak bermain playing victim.


Yang rencananya mereka akan memancing emosi Aro, lalu membuat Aro berkelahi dengan mereka berempat yang sudah dengan percaya dirinya mereka berencana untuk mengeroyok Aro, namun setelahnya akan membalikkan keadaan seolah Aro yang mencari ribut terlebih dahulu dengan mereka berempat.


Yang mana keempat orang anak lelaki songong itu merasa cerita mereka akan dipercaya oleh semua orang, karena citra mereka adalah anak baik selama ini – yang mana itu hanyalah kamuflase saja. Sayangnya, empat orang bocah lelaki songong itu hanya terfokus pada Aro saja. Mereka tidak awas pada tiang persaudaraan Aro dan para saudara – saudarinya.


Selain, kemunculan para saudara – saudari Aro yang tahu – tahu muncul ini diluar ekspektasi keempat anak lelaki songong tersebut.


Terlebih gadis jangkung yang mereka ketahui adalah saudari dari Aro, dapat merubuhkan mereka berempat hanya dengan satu tendangan dari kaki super jenjangnya.


Yang mana orangnya sedang berdiri tegak dengan nampak santai – namun pandangannya menusuk, dimana gadis itu sedang menggeleng ditempatnya.


“Jangan Aro.” Tanggap Ann atas ucapan Aro yang memang sudah terlihat geram itu, sambil menatap emosi pada keempat anak lelaki songong yang mulai menegakkan diri mereka lagi yang sempat tersungkur akibat ditendang oleh Ann.


“Ann benar Aro ---“


Saudari kembar Aro membenarkan ucapan Ann.


“Sayang perjuangan kamu untuk bisa sampai ke titik ini..” Isha pun menambahkan.


“Kamu yakin sanggup menghadapi mereka Ann?”


Aro berucap pada Ann seraya memastikan jika satu saudarinya yang memang bar – bar itu sanggup menghadapi empat orang anak lelaki songong tersebut.


Karena bagaimanapun bagi Aro, Ann adalah saudari yang patut dia lindungi meskipun Ann bisa bela diri.


Tapi kan yang sedang ditantang Ann ini empat orang anak lelaki yang meskipun tingginya sama dengan Ann, namun tubuh mereka lebih besar daripada Ann.


“Re – An..”


Ann menyebut Rery, sambil ia sedikit menelengkan kepalanya.


“Lima menit Ann.”


Rery menyahut lalu bersedekap.


“Kalau kamu kewalahan dalam masa itu saat melawan mereka, kamu mundur.”


“Okay Re – An!”


Ann menyahut cepat pada Rery sambil menunjukkan simbol OK dengan satu tangannya.


Rery kemudian menoleh ke arah saudara – saudarinya dan mengkode mereka untuk mundur dan biarkan Ann melakukan apa yang si Little Devil itu ingin lakukan.


Yang mana bukan tanpa sebab jika Rery membiarkan Ann, karena ia tahu betul bagaimana Ann secara personal dan kemampuan salah satu saudarinya yang juga mengklaim dirinya sebagai jodoh Rery sejak balita.


Bukan Rery tega membiarkan Ann melawan empat orang anak lelaki yang seharusnya jadi tandingannya dan Aro.


Tapi karena Rery tahu persis kemampuan Ann dalam soal bela diri, karena Rery adalah partner Ann setiap kali mereka latihan setiap cabang bela diri.


Dimana latihan bela diri itu memang sudah mutlak harus dimiliki oleh para pewaris muda dari Dinasti The Adjieran Smith, yang mana hal itu adalah titah dari para ayah.


Minimal kemampuan bela diri standar harus para pewaris muda itu miliki.


Dan Ann?..


Kemampuan Ann jauh diatas yang namanya standar.


Rery tahu persis, makanya Ann yang mau melawan empat anak lelaki songong itu Rery biarkan.


Setidaknya, orang - orang kurang ajar, perlu diberi sedikit pelajaran.


Namun tetap, Rery akan waspada. Toh kemampuan berkelahi empat anak lelaki songong itu kan tidak mereka ketahui juga sepiawai apa?.


Kalau mereka anggota perkumpulan bela diri Cobra Kai, kan berarti ada jago – jagonya dalam berantem?. Jadi walau santai Rery akan memperhatikan dan siaga jika Ann kewalahan.


Lalu, Rery yang akan maju setelahnya. Karena seperti Ann, Rery sudah meradang juga mendengar ucapan keempat anak lelaki songong yang merendahkan ia dan para saudara – saudarinya, bahkan orang tua dan keluarga mereka.


Jika Ann kewalahan, mungkin juga akan terjadi tawuran antara Para Pewaris The Adjieran Smith VS Empat Bocah Songong. Karena sesungguhnya tidak hanya Aro, Rery dan Ann yang geram pada empat anak lelaki songong itu.


Namun Mika, Val, Isha, Aina dan Ares sudah geram juga pada keempatnya.


Well, lihat saja nanti.

__ADS_1



Ann tersenyum.


Tipis.


Pada ke empat anak lelaki yang sudah kembali berdiri setelah sempat tersungkur karena ditendang Ann tadi, dan kini menatap bengis pada Ann.


Keempatnya sungguh tidak menduga, jika satu dari mereka yang diolok sebagai anak manja itu mampu menyerang mereka dengan cukup keras.


Perempuan pula.


Kena harga diri ga sebagai anak laki ga tuh?.


“So, dare to face this homegirl (Jadi, berani menghadapi gadis manja ini)? –“


“CIH!”


Keempat anak lelaki songong itu berdecih sambil meludah.


Meremehkan.


Hanya mereka salah meremehkan orang.


“Well look at him! Hiding in his sister armpit (Coba lihat itu dia! Bersembunyi di ketiak saudarinya)!”


Celetukan yang berupa olokan untuk Aro, keluar lagi dari mulut salah satu anak lelaki songong lalu kembali tergelak tanpa akhlak bersama tiga temannya.


Aro berdecih sinis.


“Jangan terpancing Aro ..” Val mengingatkan.


“Tenang aja Val.”


“Well my armpit also wide to hide four of you (Ketiakku juga muat kok untuk kalian berempat)!”


Ann tahu – tahu nyeletuk, dan para saudara –saudarinya pun dengan cepat tergelak kompak. Dimana empat orang anak lelaki songong itupun langsung menatap tajam kesemuanya.


“Shut your ****n’ mouth! We don’t fight with a homegirl* (Tutup mulut sialanmu! Kami tidak berkelahi dengan anak perempuan manja)!” seru satu dari bocah lelaki songong pada Ann.


Ann menyungging miring saja pada anak lelaki yang baru saja mengatai dan mengoloknya.


“Really (Benarkah)?! ..”


“Yeah right! Cause we’re not sissy like your brother (Iya benar! Karena kami bukan banci macam saudaramu itu)—“


Ctak!.


“AKH!”


Satu anak lelaki songong itu terpotong ucapannya dan langsung mengaduh kencang, karena mulutnya tersambar sebuah pecut kecil.


Namun percayalah, hasil pecutannya sungguh terasa nyeri di kulit.


Dimana ke empat anak lelaki songong termasuk dia yang terkena pecutan di bibir dan sampai juga ke wajahnya, menatap pada si pemilik cambuk imut nan ramping namun cukup panjang bentuknya itu - dengan tatapan yang menghunus.


Lalu dia terkekeh. Si pemilik cambuk kecil itu terkekeh geli kemudian.


Yang mana, pemilik pecut tersebut, tak lain dan tak bukan adalah Ann.


Jika Papa Lucca selalu mengantongi pisau lipat yang ia selipkan di pakaiannya kemanapun, bahkan jika berada di rumah, nah Ann akan selalu membawa cambuk unyu kesayangannya itu kemanapun dia pergi, jika keluar rumah.


“Because I hear you murmur (Karena aku mendengarmu mengaduh)..” sambung Ann, lalu ia tersenyum lebar dengan tatapan mengejek. “Boy not murmur (Anak lelaki tidak mengaduh).” Lanjut Ann. “But sissy does (Tapi banci iya)”


“Twopenny girl (Dasar gadis murahan)!” Seru anak lelaki yang bibirnya kena pecutan cambuk Ann. Dan dia sudah nampak sangat geram, lalu tak mau lagi berpikir jika Ann adalah anak perempuan.


Maka ia maju dengan tergesa ke arah Ann.


“You’re the one who asked me to being rude (Kau yang memaksaku bertindak kasar) –“ Satu anak lelaki itu sudah hendak menyerang Ann.


Bicara tentang kasar ..


Well ..


BUGH!


Gadis yang hendak si anak lelaki hendak serang itu, sebenarnya tidak kasar.


Tapi,


Bar – Bar!.


Adalah tambahan kesalahan yang harus anak lelaki songong itu tanggung akibat merendahkan.


Karena sebelum anak lelaki songong yang mengatakan Ann murahan itu sempat menggapai Ann, kaki jenjang Ann kembali sudah dengan cepat menyapa dadanya dengan tendangan keras, hingga ia jatuh terduduk dengan kasar.


“It’s show time (Pertunjukan dimulai)” celetuk Rery sembari tersenyum penuh arti.


Begitupun enam orang Para Pewaris muda lainnya kala Ann sudah bergerak lincah dan cepat menendang lagi tiga anak lelaki songong setelah ia merubuhkan kembali satu orang sebelumnya.


Para saudara - saudari Ann itu bukan pecinta kekerasan, tapi tidak toleran juga pada penghinaan yang tertuju untuk keluarga mereka. Jadi tindakan Ann, mereka dukung. Kalau Ann ga kewalahan, mereka siap maju.


“Get up your@s$ and fight this homegirl you four sissy (Bangun dan lawan gadis manja ini wahai kalian empat banci)!” Ucap Ann datar, namun tidak dengan diam saja. Saat empat orang anak lelaki itu terjerembab karena tendangan keduanya, Ann melangkah maju tanpa gentar mendekati ke empat orang anak lelaki songong itu.


*Ctak! **Ctak!.*


*Ctak! **Ctak!.*


*Ctak! **Ctak!.*


Suara pecutan enam kali terdengar, seiring suara aduhan yang berpadu dengan suara angin kala Ann melangkah maju untuk mendekati satu orang yang mengatakannya murahan. Ann mengayunkan cambuknya enam kali, untuk menghadang tiga orang yang mencoba bangkit setelah terjerembab itu.

__ADS_1


Satu orang dapat dua kali pecutan yang Ann layangkan secepat angin pada ketiganya. Dan pecutan dari cambuk Ann yang walau ramping itu, tetap saja menciptakan sensasi perih di kulit yang tersapa oleh pecutan dari cambuk Ann tersebut. Membuat tiga orang itu batal bangun karena sibuk meringis.


“Arrgghhh!!—“ tidak hanya melayangkan pecutannya, Ann juga menendang tulang kering kaki ketiganya, hingga mereka benar-benar tak jadi berdiri, sambil Ann bergerak cepat menghampiri anak lelaki yang mengatakannya murahan itu.


“*F*k you (Persetan denganmu)!”


Dia yang sedang didekati Ann dengan cepat berucap geram, dimana anak lelaki itu hendak melayangkan pukulan pada Ann.


“AARRGGGHH!!”


Namun sebelum itu terjadi, anak lelaki itu kemudian tersungkur tajam,  bahkan ambruk bersimpuh dihadapan Ann sambil ia berteriak dan teriakannya lebih kencang dari tiga temannya.


BUGH!


Tak puas telah membuat anak lelaki yang mengatakannya murahan bertekuk lutut, Ann melayangkan pukulan ke wajah anak lelaki itu hingga ia jatuh telentang ke atas tanah.


“Repeat what you said (Ulangi yang kau katakan tadi)!” Seru Ann saat dengan cepat ia meletakkan kakinya dan di atas dada anak lelaki yang mengatakannya murahan itu, sambil menekan dada anak lelaki tersebut dengan kakinya.


Tiga orang teman anak lelaki itu nampak bangkit dan hendak membantu temannya.


“Move, and I will make my whip greeting three of you eyes (Bergerak, dan aku pastikan cambukku ini akan menyapa mata kalian)---“


Tapi sebelum mereka sempat benar-benar bangkit, Ann sudah memberikan peringatannya dengan melilitkan cambuk miliknya itu ke tangannya.


Dan tiga anak lelaki itupun urung untuk bergerak, karena mereka benar-benar terintimidasi oleh Ann yang auranya nampak menakutkan.


“Want to try (Mau coba)?” ucap Ann menegakkan dirinya menatap tajam pada ketiga anak lelaki tersebut, sambil ia mengetatkan lilitan cambuknya.


Dimana didetik yang sama..


“AARRGGGHH!!”


Suara aduhan kesakitan terdengar lagi dari anak lelaki yang paling kurang ajar mulutnya, karena Ann sembari menginjak tulang keringnya saat mengancam tiga temannya yang tadinya hendak membantu dan berencana mengeroyok Ann, bahkan melupakan Aro.


Hanya saja urung, mengingat gadis yang nampak auranya membuat merinding itu bisa mengayunkan cambuknya dengan cepat bahkan dari jarak yang tidak dekat, tapi dapat mengenai mereka dengan telak. Tak terbayang jika pecutan dari cambuk imut itu menyapa mereka, yakin buta.


"Udah cukup kayaknya Rery."


Mika bersuara, karena ia punya firasat yang sedikit tidak enak.


Takut Ann hilang kontrol.


Rery pun mengangguk. "Ann .." panggilnya.


“Now you can see what this homegirl can do (Sekarang kalian dapat melihat apa yang bisa anak manja ini perbuat), heh?..”


Namun Ann bergeming dengan panggilan Rery.


Ann menekan lagi dada anak lelaki yang ia sudutkan di tanah, sambil ia melirik pada anak lelaki tersebut, lalu pada tiga temannya yang nampak tercengang dengan gadis yang cuantek wajahnya namun bar – bar luar biasa.


Anak – anak lelaki songong itu sampai tremor melihatnya. Kuat sekali anak gadis jangkung bertubuh ramping ini, sampai bisa mengunci pergerakan teman mereka yang nampak tak berdaya dalam tekanan kaki jenjangnya itu – Pikir mereka.


Kaki tiga bocah songong itu seolah kaku dengan intimidasi Ann baik ucapan maupun tatapannya pada mereka. “Be a good boy, and stay right where you are, or I really make three of you blind or paralized (Jadilah anak baik, dan tetap diam ditempat, atau aku akan membuat kalian bertiga buta, atau lumpuh sekalian)..”


Ann kembali berucap.


Datar saja, namun membuat tiga orang yang Ann ancam meneguk kasar saliva mereka.


“And you –“ Ann kembali pada orang yang sedang ia tekan habis.


Bugh!.


Bugh!


Dua pukulan melayang ke wajah anak lelaki di bawah Ann tersebut. Dimana suara Rery terdengar lagi memanggil Ann dengan sedikit keras.


Tapi lagi - lagi panggilan Rery tidak Ann indahkan.


Dan anak lelaki yang barusan di tinju Ann wajahnya itu, sempat coba menangkis pukulan kedua Ann, namun sayang tidak berhasil karena Ann sedang meledak saat ini, meskipun ekspresinya datar.


“Ann stop!”


Suara Rery terdengar kian meninggi dan tergesa.


Namun Ann yang nampak seperti kerasukan sesuatu itu tak menggubris suara Rery yang mencegahnya.


Ann memukuli lagi wajah anak lelaki di bawahnya itu, lalu berdiri dan mengangkat kakinya dengan kuda – kuda.


“AN – RY STOP!"


Rery tak lagi sekedar bersuara, namun ia berteriak.


Dimana dengan cepat Rery menyambar tubuh Ann dan dia dekap dengan erat.


“Tenang, Sweet Little Devil.. tenang..”


Rery berbisik lembut di telinga Ann, sambil mengusap lembut punggung Ann yang orangnya sedang Rery dekap untuk ditenangkan, lalu Rery kecup dahi Ann.


“Hubungi Kak Achiel agar kesini untuk mengurus mereka ..” ucap Rery pada para saudara –saudarinya yang sudah mendekat dengan ia yang masih mendekap Ann – yang tubuhnya Rery rasa masih tegang.


Emosi Ann belum turun, Rery tidak akan melepaskan pelukannya pada Ann. Lalu Rery mengkode Aro untuk mengurus mereka yang telah dihajar Ann, sementara Rery mulai membawa Ann menjauh dari tempatnya sedikit menggila karena terbawa emosi, karena emosi Ann memang jangan sampai tersulut.


“Calm down ( tenang ) An – ry, hem?” bisik Rery dengan lembut pada Ann. Rery tak lama terlihat menarik sudut bibirnya - karena ia yang paling memahami Ann, kini merasa lega setelah ia merasakan perlahan tubuh Ann tak lagi menegang. Pertanda emosi Ann sudah turun. Dan memang Ann sudah lagi nampak santai.


Matanya yang sempat menggelap karena emosi, kini sudah berbinar normal lagi. Rery seolah mantra ajaib untuk Ann.


Sementara Rery membawa Ann menjauh dari korban kebar-barannya, Aro dengan ditemani beberapa orang saudara – saudarinya berbicara pada empat anak lelaki songong yang nampak sangat payah itu.


“It’s a warn, do not try to provocate us, or you all will become worst than now. It’s one that you have faced. If I were you, I won’t try to face all of us (Ini peringatan, jangan coba memprovokasi kami, atau kalian akan menjadi lebih buruk dari ini. Itu baru satu dari kami yang kalian hadapi. Jika aku adalah kalian, aku tidak akan mencoba menghadapi kami semua)—“


♥♥♥

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2