
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Terima kasih masih setia baca yawgh.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“Kamu lapar tidak Sugar? Kalau kamu lapar aku juga lapar. Mau langsung candle light dinner? Kamu iyakan, maka aku akan langsung persiapkan .. kalau perlu besok kita keliling dunia-“
“Sudah diam. Aku ngantuk.”
Alih-alih melihat ekspresi sumringah Mami Prita atas tawarannya tadi, Mami Prita malah tetap bersikap acuh tak acuh pada Papi John dengan tidak menggubris tawaran suaminya itu.
Papi John hanya bisa meringis lagi saja. Kembali lagi memutar otak untuk memikirkan cara untuk menghentikan sikap ketus Mami Prita padanya. “Sini kalau mau tidur...”
Papi John berucap dengan lembut, sambil mengusap lembut tangan Mami Prita yang kembali ia genggam.
“Bersandar di aku biar leher kamu ga sakit nanti...” ucap Papi John sambil berusaha merangkul bahu Mami Prita untuk membuat istrinya itu tidur dengan bersandar di dadanya, seperti seringnya.
“Ish...”
Namun tepisan Papi John dapatkan dari Mami Prita.
“Jangan pegang-pegang,” ketus Mami Prita lagi. “Cuci tangan dulu pake disinfektan kalo mau pegang aku abis salam-salaman sama deketan itu para semut rang-rang kaki jenjang! Jijay!...”
“Ya Tuhan Sugar, segitunya?...” lirih Papi John.
“Kalo perlu mandi pake kembang delapan rupa!”
‘Ga sekalian menyuruh gue semedi di gua!’
♥♥♥♥
Meninggalkan sepasang kawula tua, yang mana satunya memang pantas disebut kawula tua – namun yang satunya belum kiranya dapat dikatakan tua, mengingat ia adalah menantu termuda di antara istri-istri dari para pria dari satu klan bernama The Adjieran Smith. Dan rentang usianya sungguh cukup signifikan dengan sang suami yang sudah mencapai usia lima puluhan.
“Kak Sony and team jadi ikut kalau yang kita prediksi malam ini terjadi akan betul terjadi?” Ada kawula muda yang berkumpul sejenak setelah acara puncak festival tahunan telah di tutup dan tamu-tamu serta para pengisi acara sudah mulai meninggalkan tempat mereka, juga hotel tempat berlangsungnya acara festival tahunan tersebut.
Namun ada juga yang tidak langsung meninggalkan tempat acara puncak festival tahunan tersebut, seperti beberapa kawula muda yang sedang mengobrol ini. Beberapa pria dengan ragam usia yang nampak mengobrol santai, namun topik yang sedang mereka bahas lumayan serius.
“Jelas jadi dong, Ry ...” Sony menjawab pertanyaan Rery sambil menghisap vapenya.
“Menunggu kami selesai atau seiring jalan? ...”
“You guys move, me and team move (Kalian bergerak, gue dan timpun bergerak) ...”
“Kak Sony bergerak secara resmi atau gimana?”
Aro yang bertanya.
“Yang seiring jalan dengan kalian nanti, tim inti gue aja.”
“Ga apa tuh Kak, kalau begitu?”
“Sangat ga apa-apa ... toh yang ikut gue adalah mereka yang emang udah biasa ikut gue ... lo lupa gue anaknya siapa, anak didiknya siapa? ...”
“Widih konferensi mata bundar nih? ...“
Ada seseorang yang menyela pembicaraan mereka yang sedang berkumpul itu.
“Eks Sadboy pamer banget lo pacaran sama ade gue, heh?”
Ada Nathan yang langsung nyeletuk pada orang yang barusan menyela diantara dia dan beberapa yang sedang berkumpul dan bercakap bersamanya itu.
“Oh jelas ...”
Adalah Arya yang barusan dicibir oleh Nathan.
“Lo ga liat tuh kalo hari ini para bapak dan ibu yang diundang ke acara ini terus punya anak perjaka, bahkan anak perawan----pada dibawa semua malem ini?”
Yang lekas menyahut, menanggapi cibiran salah satu kakaknya Mika itu.
“Yakin gue sih tujuan mereka itu mau ngenalin anak-anaknya ke dia ...” tunjuk Arya ke Aro. “Dia ...” lalu ke Rery. “Dan para incess di keluarga kalian ...”
Lalu kekehan kecil dan dengusan geli dari mereka yang sedang disambangi Arya itu langsung terdengar setelah mendengar celotehan Arya barusan.
“Makanya gue kekepin si Mika ... itu aja, udah gue kekep begitu si Mikanya, masih aja ada yang coba-coba tebar pesona sama cewe judes gue satu itu.” sewot Arya.
Sambil Arya mengeluarkan rokoknya dari balik saku jasnya, yang kemudian dia sulut setelah ia selipkan sebatang di bibirnya.
“Sampe gue bela-belain mulut gue asem dari tadi,” ucap Arya lagi, sambil menghembuskan asap dari rokok yang dia hisap.
__ADS_1
“Nah sekarang kenapa disini ga kekepin Mika lagi?”
“Dah aman ...”
Arya tersenyum lebar.
“Kak Arya ikut kalau jadi nanti? ...”
Rery lalu bertanya pada si Eks Sadboy itu.
“Ya pasti ikut lah, Ry. Masa engga? Kangen tawuran ...”
♥♥♥♥
Kembali lagi sejenak pada dua kawula tua dan mengarah ke tua yang sudah berada di mobil.
Papi John dan Mami Prita.
Dimana Papi John sedang mati-matian membuat Mami Prita berhenti bersikap acuh tak acuh serta ketus dan sinis padanya.
“Sebentar, Sugar ...”
Papi John berkata, kala ponselnya berdering.
“Andrew menelefon ...” kata Papi John lagi, sambil ia menunjukkan layar ponselnya pada Mami Prita. “Ya, Ndrew?”
♥♥♥♥
“Sugar, kita bertemu di rumah ya? ...” ucap Papi John setelah ia selesai menerima panggilan telepon dari Poppa.
“Apa ada masalah? ...”
Mami Prita yang sedari tadi berbicara dengan ketus dan sinis pada Papi John, kini sudah tidak lagi seperti itu.
Nada suaranya sudah normal, bahkan nampak gurat was – was terbaca dari suara Mami Prita yang bertanya pada Papi John barusan.
Ada kekhawatiran juga di hati Mami Prita, saat Papi John nampak agak serius wajahnya saat mendengarkan Poppa bicara pada sambungan telepon meskipun sebentar saja.
Yang bukan tanpa sebab kekhawatiran yang sedikit itu muncul dalam Mami Prita. Karena ada trauma masa lalu yang masih kadang menjadi momok mengerikan untuknya dan para Mom serta para nenek yang mengalami tragedi itu, jika melihat para pria mereka bertampang serius saat membicarakan sesuatu yang terkadang para wanita tidak tahu.
Menanggapi Mami Prita yang nampak sedikit was – was dan khawatir itu, Papi John kemudian tersenyum dan menatapnya.
♥♥♥♥
Isha datang kala Papi John sudah hendak turun dari mobil yang ia masuki.
“Ya –“
“Kabar – kabarin, Pih.”
Mami berucap pada Papi John yang tersenyum kemudian.
“Iya, Sugar.”
“Bilang sama Aro serta semua yang ikut juga hati – hati.”
Mami Prita berucap lagi pada Papi John yang langsung mengangguk dan tersenyum hangat pada si Mami.
“Iya, Sugar.” Lalu Papi John menyahut. “Kita bertemu di Kediaman ya? –“
“Iya.”
"Kamu dan The Dads yang lain ikut juga?"
"Lihat nanti bagaimana, ya?"
"Kabarin, ya?..."
Papi John mengangguk.
"Iya, pasti -"
Cup.
Satu kecupan singkat didaratkan oleh Papi John ke kening Mami Prita yang tidak memberi penolakan itu.
"Aku tinggal dulu ya, Sugar?..."
"Iya."
Mami Prita lekas menyahut setelah Papi John mengecup singkat keningnya.
__ADS_1
"Kabarin, Pih..." pesan si Mami sekali lagi.
"Iya, Sugar."
Papi John tersenyum senang karena Mami Prita tak sinis dan ketus lagi padanya.
“Cieee.” Isha lantas menggoda sang ayah kandung ketika Papi John keluar dari mobil yang sama dengan yang Mami Prita masuki.
“Ck! –“
“Udah baean nih ye?...”
Isha lanjut menggoda Papi John yang wajahnya sudah tidak sekusut tadi, saat Mami Prita tampil enerjik dan juga seksi dalam menari jaipong.
“Sudah sana cepat masuk! ...” ucap Papi John sambil memegang kepala Isha untuk membuat salah satu anak kandungnya itu segera masuk mobil dan berhenti menggodanya.
“Ih, tunggu Mika sama Val dan Ann –“
“Ya sudah masuk saja dulu! ... aku pusing mendengar suara cemprengmu itu!”
♥♥♥♥
“Gimana, Bang? ...”
Kembali kepada kawula muda yang tadi sedang berkumpul bersama di salah satu sudut luar hotel.
“Sesuai rencana ... jika memang mereka bergerak malam ini. Pastikan saja pasukanmu dan Aro siap bertarung melawan para berandalan itu, jangan hanya menang bendera saja yang sangar tapi kemampuan bertarung lembek ...” Ada Varen yang menjawab pertanyaan Rery yang kemudian terkekeh setelah mendengar kalimat Varen.
“Boleh dicoba,” kekeh Rery, yang tak hanya terkekeh sendiri setelah kalimat cibiran keluar dari kakak tertua dalam keluarganya itu ----- yang sudah menghisap sebuah vape seperti halnya Sony dan beberapa dari mereka yang sedang bersama Rery serta Varen saat ini.
Varen pun mendengus geli.
“Ngomong – ngomong, Kak Kafnya mana, Bang? –“
“Nanti menyusul,” tukas Varen pada Nathan yang bertanya.
♥♥♥♥
Sementara itu ....
Seorang pria matang yang seharusnya telah ikut bergabung bersama mereka yang sedang berkumpul di bagian luar hotel itu terlihat sedang berbicara dengan seorang gadis seraya menampakkan senyum kesabaran menanggapi gadis di depannya --- yang adalah kekasih kecilnya itu sedang tak habis – habis bertanya, lalu merungut.
“Tadi Kak Kafeel sudah tidak bersama Val saat datang kesini ...”
Val --- gadis yang sedang merungut itu.
“Masa Val tidak boleh pulang ke Kediaman bersama Kakak? –“
“Bukannya tidak boleh, Tuan Putri ...” Dan Kafeel, yang sedang berdiri berhadapan dengan Val saat ini.
“Setelah ini aku masih memiliki sedikit urusan ... Lagian kan, besok aku kan mampir lagi ke Kediaman, Tuan Putri?” sabar Kafeel.
Senyum kesabaran nan hangat itu terpatri di wajah Kafeel, sambil satu tangannya membelai lembut kepala Val disertai ucapan lembut Kafeel pada Val.
“Urusan apa sih, sampai Val dinomor duakan?!” ucap Val setengah ketus. “Apa Kak Kafeel jangan – jangan ada janji dengan wanita lain ya?!”
“Ya ampun, teganya kamu menuduh aku begitu, Tuan Putri? ... sedih hati AA, Dek ...”
Kafeel membalas tudingan Val dengan candaan, namun Val masih saja merungut.
Tetapi Kafeel tetap saja sabar menghadapi kekasih kecilnya yang sedang setengah merajuk itu.
“Dengar Tuan Putri ... aku tidak pernah lagi peduli pada perempuan – perempuan diluaran setelah memiliki kamu.” Sambil Kafeel terus membelai kepala serta surai Val dengan satu tangannya, dan satu tangan Kafeel yang lain mengenggam tangan Val. “Setelah melamar kamu di orang satu gelanggang, lalu mengantar kamu sampai ke London saking aku takut kamu jauhi karena kamu berubah jadi dingin ke aku ... masa Tuan Putri masih berpikir kalau aku sampai punya perempuan lain di belakang kamu? ...”
Val pun menghela nafasnya.
“Ya habis, Kak Kafeel terkesan tidak mau bersama – sama Val.”
Val berucap kemudian.
Kafeel tersenyum lebar. “Aku ingin menghabiskan seumur hidup aku sama kamu, Tuan Putri.”
“Lalu kenapa Val tidak boleh –“
“Bukannya tidak boleh ... hanya tidak bisa.”
“Iya, tidak bisa kenapa? ...”
“Karena ada hal yang bahaya, yang mungkin sedang mengintai aku sepulangku dari sini----dan aku tidak ingin kamu berada dalam situasi itu jika kamu pulang bersamaku malam ini, Tuan Putri...”
♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue ........