
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Kak Kafeel itu masih single kan, ya?”
“Memang kenapa kau menanyakan hal itu?”
“Karena Val sudah jatuh cinta padanya.”
“Halah!”
“Bagus banget matanya si Val. Tau aja cowok ganteng. Tapi emang si Kaka ganteng kok. Wajar kalau si Val suka.”
“Ih ralat ya, Val tidak hanya sekedar suka. Tetapi Val itu sudah mencintai pria yang bernama Kafeel Adiwangsa!”
‘Macam paham aja dia apa itu cinta..’
“Nanti saat Val berumur 17 tahun, akan Val minta dia untuk menikahi Val.”
“Begini ini nih, korban kebanyakan nonton film sama baca novel romantis. Dipikir nikah tuh simple apa?..”
“Biarkan saja. Paling-paling cinta monyet.”
🌿
“Seharusnya kita tidak membiarkannya mengidolai kita terlalu-lalu, agar tidak jatuh cinta dia pada pria yang berbeda 10 tahun lebih tua darinya—“
“Ya I guess you were right, Andrew—“
“Mungkin hari ini, dia sedang pergi menonton film di cinema dalam sebuah Mall bersama pacar yang seusia dengannya. Ataupun jika lebih tua usia, hanya berbeda sampai lima tahun saja.”
“........”
“Dia tidak akan pernah punya impian untuk menikah muda jika kita tidak membiarkannya mengidap Electra Complex—“
“Kita ini para ayah yang terlewat keren. Jadi wajar saja jika para anak perempuan kita itu mengidolai kita.”
“I couldn’t agree more with R”
“Little Star, Ann, Aina, Mika, Isha bahkan Via saja yang menantu, mengidolai kita saking terlalu keren kita ini bukan?”
“........”
“Jadi wajar saja, saat anak perempuan kita menemukan refleksi kita ini pada diri lawan jenis, mereka kemudian memiliki rasa suka pada para lelaki itu.”
“Ya, kau benar.”
“Val tidak salah, jatuh cinta pada pria yang jauh rentang usia di atasnya. Toh cinta tidak memandang apapun. Dan pada dasarnya juga, Kaka pun tidak bisa dipersalahkan atas apa yang menimpa Val. Karena atas nama kesilapan, tak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah—“
“Hem. Gue pun tidak menyalahkan Kaka atas ini... Ini sudah takdir, dan lagi... Ini pilihan Val sendiri...”
“Kesalahan kita adalah kita pernah underestimate pada si ulat bulu yang menggadang-gadangkan perasaan cintanya kepada Kaka, lalu kita berpikir jika nanti juga akan berubah perasaan itu atas dasar cinta monyet. Dan kenyataannya tidak. Val memiliki hati yang kelewat setia, dan kita mengabaikannya. Berpikir, jika dia sudah baik-baik saja.”
“Antara polos, naif dan bodoh—“
“Katakanlah begitu, tapi kita pun bersalah atas nama orang tuanya Val.”
“........”
“Karena kita hanya melihat dari luar saja. Kita mempercayai senyuman palsunya.”
“........”
“Kita tidak memeriksa lebih lagi, seberapa dalam lukanya.”
“........”
“Jadi mengakhiri hidupnya sendiri, menjadi pilihannya—“
🌿
🌿
🌿
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England....
“Val, langsung ke kamar ya?“
Val dan mereka yang bersamanya dari Jakarta telah sampai di tempat tinggal utama mereka yang bertempat di London, dan disambut oleh lima orang yang tidak ikut serta ke Jakarta beberapa hari yang lalu.
“Bersama denganku Val—“
“Aku juga permisi ke kamar—“
“Sama. Ada yang harus aku lakukan...”
“Pasti mau bervideo call dengan Kakanda Arya...“ goda Val pada Mika.
“Ck. Aku ingin bertanya pada teman kampusku apakah ada tugas atau tidak—“
“Oh iya, May. Betul juga. Aku sepertinya juga harus menghubungi Melly untuk bertanya ada tugas kuliah atau tidak?”
🌿
“Sebaiknya kalian fokus istirahat saja dulu...”
Oma Anye berbicara.
“Oma yakin tubuh kalian sedang letih, dan Oma serta Gamma juga Gappa tidak ingin kalian terlalu memaksakan diri lalu jatuh sakit. Tidak perlu memikirkan soal pelajaran kalian di kampus atau sekolah terlebih dulu. Lagian cucu-cucu Oma, Gamma dan Gappa kan pintar? Tidak perlu kalian forsir, kami yakin kalian akan dengan mudah mengikuti walaupun ada yang ketinggalan.”
Dimana ucapan Oma Anye itu diiyakan oleh sepasang kakek dan nenek yang juga sedang bersamanya menyambut mereka yang baru tiba ke Great Mansion mereka yang bertempat di London itu.
Termasuk juga para orang tua yang ada bersama empat pewaris muda, yang hendak pergi ke kamar mereka masing-masing, dimana ke empatnya kemudian mengangguk setelah mendengar ucapan Oma Anye yang diaminkan oleh para orang tua dan tetua yang lain.
🌿
Val-Ann-Rery dan Mika melenggang ke kamar mereka dengan empat maid yang mengikuti ke empatnya, namun para maid itu juga sama melenggang dengan tidak membawa apa-apa di tangan mereka karena Val-Ann-Rery dan Mika tidak membawa koper saat kembali ke Mansion Utama keluarga mereka itu.
Karena memang, saat bertolak dari London hari itu, Val-Ann-Rery dan Mika memang tidak membawa koper berisikan pakaian saat hendak bertolak ke Jakarta beberapa hari yang lalu atas nama pergi dengan tergesa.
“Thank you, Courtney.”
Val berucap santun kepada salah seorang maid yang mengekorinya, kemudian bergegas maju mendahului Val ketika sudah dekat ke kamar pribadinya Val.
“My pleasure, Miss...” balas maid yang bernama Courtney tersebut, sambil dirinya memegang knob pintu kamar Val yang telah ia bukakan. “Is there anything you need, Miss ( Apa ada yang anda butuhkan, Nona )?...”
“No, Courtney. Thank you...”
Val menjawab seraya menggeleng dan tersenyum lembut.
🌿
“Hhhhhh...”
Val menarik nafas panjang ketika ia sudah berada di dalam kamarnya.
“Sakitnya ikut sampai sini...”
Menggumam, Val sambil memegang dadanya dengan bersandar di pintu kamarnya yang telah tertutup.
Ketika saat setelah ia menutup rapat pintu kamarnya dan maid yang tadi ada bersama Val telah undur diri---Val disuguhi pemandangan indahnya pahatan wajah seorang pria yang terbingkai dengan sebuah figura besar, namun keindahan itu sudah tidak terasa nikmat untuk Val pandang akibat ada rasa sakit di hatinya yang langsung menjalar tanpa permisi ketika mata Val terarah ke satu figura itu.
🌿
__ADS_1
“Kenapa menatapku seperti itu, Mister Teddy?”
Val berbicara sambil masih berdiri dengan memandang ke salah satu sudut kamarnya.
“Apa kamu sedang mengejekku?... Atau sedang mengasihaniku?”
Val lagi berbicara, namun yang ia ajak bicara itu diam membisu.
Mata Val sudah berkaca-kaca, menahan sesak di dadanya akibat keadaan kamarnya yang berada di Mansion Utama keluarganya itu---dimana foto-foto yang berkenaan dengan si pembuat luka terbesar dalam hati Val masih terpajang indah di tempatnya.
“Apapun itu, Mister Teddy...”
Val mulai melirih.
“Yang jelas aku membutuhkan pelukan kamu.”
Melirih lagi, sambil Val berhambur ke sudut yang ia pandangi dan ajak bicara itu.
“Peluk aku yang erat, Mister Teddyyyyyy...”
Tidak lagi melirih, Val meluruh.
Duduk di atas dua bagian berbulu dari sebuah boneka beruang fluffy berukuran raksasa yang ada di sudut kamarnya, sambil Val menarik kedua buah lengan boneka beruang raksasa tersebut yang ia buat seolah sedang merengkuhnya.
“Peluk aku yang erat... Karena aku tidak akan mendapatkan pelukan lagi dari Kak Kafeel... Bahkan aku tidak boleh lagi mengharapkannyaa...” Val menangis hebat.
Namun tangisannya itu ia redam ke dalam tubuh berbulu empuk nan lembut boneka beruang raksasa di dalam kamarnya itu, semata-mata agar tangisannya itu tidak sampai terdengar dari luar kamarnya.
“Dia sudah mengkhianatiku, Mister Teddyyy... Kak Kafeel yang aku cintai sepenuh hati itu telah menusuk jantungku... Sakit, sa-kkiit... Hatiku sakit sekali... Aku ingin membencinya namun sulit... Hatiku ingin mengeluarkan namanya dari sana, tapi otakku seolah menahan... Bagaimana ini, MisterTed-ddyyy?... Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini...”
Terus saja seperti itu, Val mengadu sambil menangis di seringkali waktu---pada si boneka beruang raksasa yang ada di salah satu sudut kamarnya.
🌿
“Butuh bantuan?...”
Suara bariton rendah terdengar saat pintu kamar Val terbuka, dimana Val nampak sedang sibuk melakukan sesuatu di dalam kamar pribadinya itu.
“Daddy...”
Val menyapa ketika ia menoleh seraya ia tersenyum.
“Poppa...”
Namun yang Val sapa ternyata tidak sendirian.
“Papa...”
Tiga Daddynya yang nampak tidak kemana-mana seharian itu menyambangi Val ke dalam kamar pribadinya.
“Ingin kau turunkan semua bingkai foto ini?...”
Daddy R berucap seraya bertanya.
“Tidak, Dad... Hanya foto-foto yang ada Kak Kafeelnya saja.”
Dad R kemudian mengangguk.
“Do you want to destroy all of these ( Apa ingin kau hancurkan semua ini )?”
“Up to ( Terserah saja ), Papa—“
🌿
“Apa kau ingin pindah kamar?...”
Poppa yang telah rampung membantu Val bersama Dad R dan Papa Lucca menurunkan foto-foto dimana ada Kafeel di dalamnya itu lantas bertanya pada Val yang nampak sembab wajahnya, seperti seringnya wajah cantik Val itu terlihat akhir-akhir ini.
“Aku tidak sampai memikirkannya, Pop...”
“Lagipula memang masih ada kamar kosong di lantai ini?” Kemudian Val balik bertanya.
“Di lantai ini sudah dipaskan dengan kamarmu dan para saudara-saudarimu memang. Tapi kau bisa bertukar kamar dengan mereka.”
“Ya, Poppa benar. Dan menurutku para saudara dan saudarimu tidak akan keberatan jika kau meminta bertukar kamar dengan salah satu dari mereka.”
Dad R menimpali ucapan Poppa.
“Heem—“
“Disini akan terasa menyesakkan bagimu.”
Dad R berbicara lagi, kala Val bergumam yang nampak seperti sedang menimbang-nimbang.
Dan ucapan Dad R itu memang sarat makna, dimana mereka sama-sama tahu jika di dalam itu Val juga pastinya memiliki kenangan bersama Kafeel sedikit banyak.
“Pilih saja dengan siapa kau ingin bertukar kamar...” cetus Poppa.
“Tidak usahlah, Pop—“
“Switch, Baby... Lebih baik untukmu.”
Papa Lucca menukas dan menimpali ucapan Val.
Val tersenyum.
“It’s okay, Papa. Val bisa mengatasinya...”
Yang mana dalam hal ini, adalah kenangan yang bersangkutan dengan Kafeel di dalam kamarnya itu.
Kenangan yang begitu manis sebenarnya, namun sekarang terasa pahit.
“Kalau foto Kak Kafeel atau foto Val dengannya sudah tidak terpajang kan, pasti Val tidak akan memimpikannya?—“
“Are you sure?”
Val mengangguk menanggapi Papa Lucca yang nampak ragu.
“Yes, Papa. Val pasti akan dapat tidur dengan nyenyak, walau Val masih tetap berada di kamar ini. Sudah tidak ada yang mata Val lihat tentang Kak Kafeel di kamar ini. Jadi jejak kenangan pasti tidak akan mengikuti, bukan?”
🌿
Bukan...
Bukan hanya kenangan akan Kafeel berikut juga kebersamaan Val dengan kasih tak sampainya itu.
Namun lebih dari itu.
Yang membuat lagi-lagi Val meluruh.
Menangis tersedu, menahan pilu dari asanya yang telah runtuh.
🌿
“O Mister Teddyy... Bagaimana aku dapat tidur jika seperti ini?...” sedu Val yang telah beringsut dari ranjangnya. “Jangankan aku dapat lelap tertidur. Baru aku membaringkan diri saja di atas ranjang, aku sudah melihat Kak Kafeel sedang duduk di pinggirnya.”
Kepada boneka beruang raksasanya, Val kembali mengadu.
“Saat aku berbalik untuk menghindari bayangan Kak Kafeel, malah suaranya yang berbisik di telingaku...”
Tersedu, tergugu pilu Val mengadu di atas pangkuan boneka beruang yang Val juluki dengan Mister Teddy itu.
“Yang lebih parahnya lagi, harum Kak Kafeel menyeruak ke hidungku dan pelukannya begitu masih aku rasa melingkari tubuhku. Dan jika aku coba terpejam, lagi-lagi yang kulihat adalah wajahnya, dan semua tentangnya kian aku ingat dengan jelas. Bagaimana ini MisterTeddyy?... Aku kan jadi sulit tidur?--”
🌿
__ADS_1
Val benar-benar mengalami insomnia parah.
Beringsut ke pangkuan Mr. Teddy serta membuat boneka beruang besar berbulu sangat lembut dan empuk itu pun tidak ampuh membuatnya untuk terlelap.
Selama tiga hari Val merasa sudah hampir gila, karena setiap dimana dia berada---Kafeel selalu nampak dalam pandangannya, duduk di hadapan dan menatap Val seraya memasang senyuman di wajah yang pernah begitu Val puja.
Wajah pujaan itu masih sama, Masih sedap dipandang.
Masih membuat ada rindu yang menyelusup, ketika wajah itu berikut sosoknya ada di hadapan Val.
Namun rindu itu kini tidak sendiri.
Ada sakit yang membelit mengikuti.
“Aku sudah akan gila tak lama lagi sepertinya, Mister Teddy...”
Sungguh menyiksa.
Belum lagi...
“Hon, apa kamu ingin dibuatkan sesuatu?—“
“Tidak, Ibu Peri. Terima kasih.”
“Kamu sudah sedikit sekali makan beberapa hari ini, Hon.”
“Bagaimana rasanya aku berselera untuk makan, Babe... Jika putri kita masih bersusah hati karena lukanya. Aku tidak bisa makan dengan benar, sebelum Val menjadi Val yang selama ini kita tahu. Bagaimana aku berselera untuk makan, jika akupun bersusah hati karena aku merasa menjadi ayah yang gagal untuk Val karena aku tidak dapat mencegah hatinya terluka karena cinta. Hati Val yang dilukai Kaka. Tapi hatiku juga ikut berdarah.”
Lalu pada kesempatan lain,
“Hati-hati, D.”
“Hem.”
“D.”
“Apa?”
“Main jalan aja.”
“Aku ada meeting, Heart.”
“Iya tau. Kecup dulu sih?”
“Kita sudah tidak muda lagi, Heart. Lagipula sudah tidak pantas diumur kamu yang sekarang kamu bertingkah macam remaja yang baru mengenal cinta.”
.....
“Heart...”
“Ya?...”
“Maaf soal yang tadi pagi.”
“Yang mana?”
“Waktu aku menolak dan mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya aku katakan ke kamu.”
“Aku ngerti kok, D...”
“......”
“Aku tahu ada Val dibelakang kita saat aku mau mengantar kamu masuk mobil pagi tadi... Aku tahu kamu ga tega kan? Jika kita bermesraan, sementara ada satu putri kita yang hatinya sedang terluka parah?”
🌿
Mulai dari Dad R yang bersedih hati, begitu juga Mom Peri yang suka murung namun selalu tersenyum teduh padanya. Lalu Poppa dan Momma yang biasanya adalah pasangan yang paling mesra diantara para orang tua, sampai Mika yang selalu tidak mau menerima panggilan dari Arya jika ia ada di dekat salah satu saudarinya itu—
Semakin rasanya membebani hati Val yang merasa bersalah telah begitu menyusahkan keluarganya. Luka di hatinya pada Kafeel tak kunjung hilang, malah semakin dirasa menyesakkan.
Semakin bertambah parah imsonianya Val, karena beban pikiran betapa jauh keluarganya berkorban demi menjaga Val punya perasaan.
Yang akan memalingkan wajah, atau terpaksa tersenyum sementara mata mereka mengembun, saat Val ada di hadapan mereka padahal Val sudah coba tersenyum dengan manisnya.
“Kak Kafeel bisa sudah tidak? Berada di dekat Val?... Kakak membuat Val menjadi berdosa pada keluarga Val yang bersedih hati karena keadaan Val yang menyedihkan sekarang atas perbuatan Kakak pada Val... Kasihani Val, Kak... Jangan muncul disaat Val membuka mata, jangan juga hadir disetiap Val mencoba menutup mata. Karena setiap melihat Kak Kafeel sekarang hati Val sa-kkiitt sekali rasanya. Kak Kafeel sudah begitu menyiksa Val tahu?... Setidaknya, biarkan Val tidur dengan tenang tanpa bayang-bayang Kakak...”
🌿
Dear Ann,
Maafkan aku, aku sudah mencuri dari kamu.
Tapi melihat si pangeran tidur berbulu, rasanya aku iri sekali padanya yang dapat tidur dengan damainya dengan tanpa beban, terlihat di wajah berbulunya yang menggemaskan itu.
Aku susah tidur akhir-akhir ini, Ann.
Dan aku ingat sesuatu ketika aku melihat si pangeran tidur berbulu.
Maaf ya, Ann. Sekali lagi aku minta maaf karena mengambil barang milikmu tanpa ijin.
Tapi jika aku memintanya darimu secara terang-terangan, kamu pasti tidak akan memberikan.
Jadi aku ambil cairan fuschia yang sama yang kamu suntikkan ke tubuh si pangeran berbulu itu.
Aku ingin mengiris nadi, tapi aku keburu merasa ngeri membayangkan sakitnya pergelangan tanganku nanti.
Hehe..
_^ ^_
Aku lelah Ann,
Aku ingin tidur.
Agar tidak lagi aku rasa, sakit di hatiku karena Kak Kafeel.
Agar tidak lagi aku lihat, wajah kamu dan lainnya yang bersedih karenaku.
Hatiku tambah sakit mengetahui kalian terus-terusan berkorban untukku.
Dan atas dasar aku melihat si pangeran berbulu yang tidur dengan nyenyak sekali itu, rasanya cairan itu juga akan bekerja padaku.
Jadi aku minta ya, cairan cantik berwarna fuschia milik kamu itu?
Semoga saja bekerja juga untukku seperti halnya pada si pangeran berbulu.
^_-
Sekali lagi maaf, karena aku mengambil barang kamu tanpa ijin.
Terima kasih ya, Ann.
Terima kasih sudah menjadi saudari yang hebat untukku.
Hugs and Kisses from your beloved sister,
💗 VAL 💗
Sa-yaaang Ann...
🌿 🌿 🌿 🌿
To be continue .....
Mata aman kan?
__ADS_1
Cuma pake bawang seiris doang kok.