
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Di dalam sebuah burung besi besar nan mewah,
“Judes girl! You sit down now! ( Kau duduk sekarang! )”
Suara bariton ngebas dan dalam milik seorang Daddy, terdengar menggema di dalam burung besi besar nan mewah tersebut. Suara siapa coba?.
Suara Poppa – tentu saja.
Yang tanpa dia harus teriak pun, suaranya bisa begitu terdengar membahana jika ia niat bicara dengan diafragma walau tanpa teriak.
Dan Poppa menatap pada Mika yang masih berdiri --- belum mengambil tempat, sementara lainnya sudah duduk anteng di tempatnya, dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang.
“Iya, Pop. Ini aku sudah bergegas untuk duduk –“
“Bergerak lebih cepat!”
Poppa berkata sebal.
“Iyaa –“
♥
“Eerr....“
Mika telah sampai pada sebuah kabin, dimana ada Arya, Rery dan Ann yang duduk disana.
“Nih....”
Arya menyodorkan ponsel Mika yang tadi dia kantongi pada si empunya yang masih berdiri itu.
“Eerr....“
Dimana Mika nampak terlihat agak salah tingkah.
“Mau minta ponsel lo kan? –“
“Itu –“
“Duduk, pasang seatbelt lo dulu. Nanti dimarahin Poppa lagi.... Ga usah khawatir, gue juga ga ada niatan nyita ponsel lo.... Laki yang ga dianggep sama pacarnya sendiri mana ada hak nyita – nyita ponsel lo, ya kan?....”
‘Duuuuuhhh –‘
“Duduuk, Mikaela Finn Adjieran Smith –“
“Iya –“
“Nih,” Arya kembali menyodorkan ponsel Mika pada si empunya setelah si Judesgirl itu duduk dan memasang seatbeltnya, karena jet pribadi milik keluarga Mika itu akan segera lepas landas.
“Ar....”
Mika menerima ponselnya seraya ia menggumam memanggil pacarnya itu.
Namun Arya nampak acuh tak acuh, membuat Mika jadi rasanya serba salah.
Mika menekan bibirnya sebelum dia lanjut untuk mengajak Arya bicara, meskipun Mika benar – benar sedang kebingungan bagaimana menghadapi seorang pacar yang lagi ngambek.
Mungkin Gamma benar, jika dirinya egois pada Arya.
‘Ya mana gue paham sih, menghadapi cowok yang notabene pacar?’
Begitu Mika membatin.
‘Sudah mana bukannya memberikan gue solusi, malah Gamma memarahi aja.... ini juga nih, anak bebek sama anak hantu.... bantu gue kek?.... malah sok sibuk!’
Lalu Mika menoleh lagi pada Arya.
Mau mengajak pacarnya itu bicara, tapi Mika masih gamang.
♥
Jet pribadi berbadan besar itu sudah mulai bergerak untuk meninggalkan Jakarta untuk pergi ke London.
Para penumpang maupun kru pesawat yang bertugas di kabin - sementara waktu mengikat diri mereka di kursi penumpang pesawat yang mereka duduki masing – masing, sampai nanti waktunya aman bagi mereka untuk melepaskan seatbelt yang terikat di area sekitar perut dan pinggang mereka tersebut.
Setelah berdoa dalam hati masing – masing untuk keselamatan, para penumpang jet pribadi berbadan besar super mewah tersebut terlibat obrolan dengan orang yang ada di sisi, di hadapan, atau dekat dengan mereka masing – masing.
Namun ada satu area kabin yang sedikit berbeda suasana, karena ada keheningan disana.
Empat orang yang duduk berdekatan itu nampak bungkam satu sama lain, selain nampak ada kecanggungan yang menyelimuti.
Kabin tersebut adalah kabin dimana ada Ann, Rery, Mika dan Arya yang duduk disana.
Arya yang biasanya banyak bicara itu kini menjadi pendiam.
Entah si eks – Sadboy itu memang sedang malas bicara karena sedang merasa sebal pada Mika yang duduk disisinya atau Arya sedang tidur? ...
Tidak ada yang tahu pasti akan hal itu, karena Arya menutup wajahnya dengan topi yang ia kenakan.
Sementara Rery dan Ann juga enggan membuka obrolan, karena merasa tidak enak sendiri pada dua insan dihadapan mereka yang seperti sedang perang dingin, padahal baru jadian.
Seharusnya tadi kita tidak duduk disini, Re – An. Rasanya kan jadi aneh berada diantara sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Tulis Ann pada sebuah benda pipih yang merupakan tablet untuk menulis, namun bukan tablet yang sama fungsi seperti android.
Kita sudah lebih dulu duduk disini kan? Kak Arya yang join ke kita lagi, gara – gara itu tuh si Mika kayaknya buat kesal Kak Arya. Makanya dia kembali lagi kesini dan duduk bersama kita.
Gantian Rery yang menulis di tablet menulis tersebut setelah Ann menunjukkan tulisannya pada Rery dalam benda pipih itu.
Lalu kita diam – diam saja seperti ini sampai ke London begitu? Bisa cramp rahang aku, Re – An!
__ADS_1
Rery merasa geli sendiri membaca tulisan Ann yang disertai coretan wajah cemberut di bawahnya.
Hendak tertawa sih, tapi karena suasana di hadapan Rery tidak memungkinkan untuk tertawa – jadi Rery mengulum senyum geli saja.
Ya sudah sabar saja dulu. Nanti saat sudah bisa melepaskan seatbelt, kita pergi ke area F&F.
Lalu Ann tersenyum lebar, sambil menggambar wajah senang pada tablet menulis miliknya – yang juga dimiliki oleh para saudara – saudari Ann yang lain.
‘Pasti mereka berdua sedang membicarakanku dalam tulisan mereka itu!’
Sementara Rery dan Ann nampak asyik berdua, Mika memberengut memandangi keduanya.
‘Aduuuh!!!!’ Lalu Mika berkesah sesaat berikutnya sambil melirik Arya yang duduk di sisi kirinya. ‘Aku harus bagaimana ini sama si Sadboy coba?? – eh eks-Sadboy deng!‘
Hati Mika yang sedang merasa serba salah itu bermonolog, setelah Arya tidak lagi berbicara ataupun menoleh padanya selepas mengembalikan ponsel Mika ke tangannya.
‘Haish! Merepotkan sekali punya pacar ternyata.. Sialnya gue udah mulai sayang menuju ke cinta sama si Arya Narendra! Menyebalkan!’
♥
Beberapa saat kemudian,
Tepat seperti rencana keduanya beberapa saat yang lalu ketika pesawat sedang lepas landas menuju cakrawala ( uhuy ) – Rery dan Ann bergegas pergi dari tempat mereka, ketika pemberitahuan jika para penumpang sudah boleh melepas seatbelt.
“Bye – May!”
“Good luck!”
Rery dan Ann sama – sama berucap tanpa suara pada Mika saat mereka berdiri dari tempatnya.
‘Rese!’
Mika merutuki Rery dan Ann yang sudah berambus dari hadapannya.
Tapi didetik berikutnya, Mika kembali melirik pada Arya yang masih bergeming di tempatnya.
‘Ini dia tidur apa engga sih?! ...’ tanya Mika dalam hatinya yang didera kebingungan untuk bersikap. Mika menggaruk kepalanya yang tak gatal, saking ia yang memang tidak tahu harus bagaimana bersikap menghadapi pacarnya yang seperti sedang ngambek itu.
“Udah oke buat lepas seatbelt.”
Mika terkesiap kala orang disampingnya yang ia pikir sedang tidur itu bersuara sambil melepas topi dan seatbelt yang mengikat pinggangnya.
“Gue ga maksa lo untuk disini kalau lo memang ngerasa ga nyaman.” Arya lanjut bicara sambil melirik Mika acuh tak acuh.
Mika menekan bibirnya, lalu ia bersuara.
“Lo marah karena ucapan gue tadi? ...” cetus Mika.
“Ga –“
Arya langsung menyahut dengan cepat.
“Kalo ga marah kok lo begini? ...”
“Acuh ga acuh ...” sahut Mika.
“Biasa aja perasaan gue.”
“Lo yang begini bukan lo yang biasa –“
Mika berujar.
“Dan gue rasa ga nyaman ...”
“Siapa suruh mau terima gue jadi pacar lo?”
Arya berucap santai, tapi Mika terasa tersentil hatinya.
Pasalnya, Mika ingat betul kalimat yang Arya barusan katakan. Kalimat yang merupakan kalimatnya sendiri saat dia asal bicara tadi.
“Sor, ry –“ lirih Mika.
“Sorry kalo sikap gue kekanakkan dengan ngebalikin ucapan lo yang tadi ...”
Arya berujar.
“Emang ga ada yang nyuruh gue jadi pacar lo, ga ada yang maksa – maksa gue buat punya ‘rasa’ sama lo –“
Arya berkata dengan menatap lurus ke depan.
“Kalo mau salahin, ya salahin hati gue kenapa bisa tau – tau suka, sayang, cinta – yang lo pikir itu gombal, receh, sepele. Asal lo tau ya Mi, gue ga pernah kayak gini sama cewe –“
Arya masih bicara, dan Mika fokus mendengarkan.
“Silahkan bilang gue sok kecakepan, tapi kenyataannya emang begitu. Ga pernah gue ngejar cewe kayak gue ngejar lo. Apalagi nyatain cinta dengan cara yang sok romantis seperti apa yang gue lakuin ke elo. Jadi ucapan lo itu menggores hati gue, Mi – meskipun lo pikir itu cuma sekedar lo yang asal ngomong.”
“.........”
“Oke, gue banyak ga seriusnya. Tapi kan gue udah berkali – kali bilang, kalo soal hati – soal perasaan gue ke elo itu ga ada kata main – main ... eh elonya enteng banget ngomong kayak tadi –“
“.........”
“Kesannya lo tuh masih ragu banget sama gue, dan entah apa alasan lo akhirnya mau terima gue jadi pacar lo. Ya gue emang terkesan maksa lo juga sih, dan gue menyesali itu. Membuat lo ga punya pilihan, malah sekarang rasanya jadi boomerang buat gue. Gue serius Mi, sama lo – asli! ... Tapi kalo nyatanya keseriusan gue masih lo raguin, remehin, ya –“
Cup.
“Maafin gue ...”
Mika berucap, setelah satu kecupan singkat ia daratkan di pipi Arya.
Yang mana kecupan Mika itu, segera membungkam Arya yang sebarusan tadi mengeluarkan keluh kesahnya pada Mika.
Arya terkesiap.
__ADS_1
Oh tidak, Arya terkejut bukan main karena Mika mengecup pipinya.
Saking terkejutnya Arya, pria muda itu langsung menoleh dan memutar badannya hingga berhadapan dengan Mika.
Arya bahkan sampai menegakkan punggungnya. Tidak percaya rasanya jika pacar judesnya itu berinisiatif melakukan skin - ship dengannya lebih dulu – selain berpegangan tangan yang memang sudah Arya yang duluan berinisiatif untuk itu, dan itupun tidak lebih.
Tapi barusan saja, Mika mengecup pipinya – dan Arya masih rasa tak percaya.
“Lo - cium gue, barusan? –“
Sampai pertanyaan bodoh itu tercetus dari mulu Arya, yang tergugu karena rasa ketidakpercayaannya itu atas Mika yang menciumnya lebih dulu – walau hanya di pipi saja.
“Kecup itu namanya –“
Mika menyahut sambil mengulum senyumnya.
Mika malu sebenarnya, tapi melihat ekspresi Arya yang wajahnya sedikit bersemu itu – rasa malu Mika karena ‘nyosor’ duluan itu jadi tertutupi.
“Sorry ya? ... Lain kali soal gue ga akan asal ngomong tentang perasaan ...”
Mika berucap, sambil mengelus lembut kepala Arya dan menyusuri surai pendek berponi Arya yang mirip potongan beberapa Korean Idol itu.
Yang mana tindakan Mika itu membuat jantung Arya seolah mau loncat dari tempatnya, diperlakukan semanis ini oleh pacar judesnya.
Arya bahkan tidak bisa menutupi wajahnya yang bersemu, dan itu tertangkap oleh mata Mika.
Hingga Mika tersenyum geli, dengan tangannya yang masih mempermainkan surai Arya.
“Fucekboy diginiin aja meleyot ...”
Arya terkekeh mendengar ucapan Mika barusan itu.
“Lo bisa mesra juga ternyata ya, Judesgirl? ...”
Gantian Mika yang terkekeh mendengar selorohan Arya.
“I love you –“ ucap Arya yang meraih tangan Mika dari kepalanya dan ia genggam kemudian. “Mikaela Finn Adjieran Smith ...”
Mika tersenyum tipis selepas Arya berucap mesra, lalu mengecup sekilas punggung tangannya. “Too ...”
Singkat, tapi jawaban Mika membuat Arya tersenyum lebar.
Jawaban yang merupakan balasan dimana itu sudah Arya tunggu – tunggu dari Mika. Balasan untuk kalimat romantis sejuta umat itu, keluar juga dari mulut Mika pada akhirnya walau tidak lengkap.
Tapi rasanya itu cukup membuat Arya bahagia.
“Beneran??? ...”
Arya memastikan.
Mika tak menjawab dengan suara.
Hanya dengan anggukkan yang disertai senyuman.
Senyuman tipis, namun tulus.
“Makasih ya? –“ ucap Arya.
“Iya, kembali kasih ...”
Mika menjawab lembut, dengan masih menampakkan senyumnya.
“Gini kan cakep?. Kalo sering senyum manis sama yayangnya? –“ celoteh Arya.
“Ga sering senyum juga gue tetep cakep, kok! ...” balas Mika dan Arya terkekeh.
“Iya sih, tapi sama pacarnya dikurangin dong judesnya?” kekeh Arya.
“Tergantung pacarnya kalo ga sering – sering nyebelin!”
Arya terkekeh lagi, lalu tersenyum lebar.
“Asal lo selalu manis begini sama gue, janji gue ga akan sering – sering bikin lo sebel ...”
“Agak – agak kurang yakin sih gue kalo lo akan berkurang banyak nyebelinnya –“
“Ah Adinda sih suka su’udzon sama Kakanda ...”
Arya berkelakar, dan Mika tersenyum geli.
Lalu saling terdiam, namun saling berpandangan untuk beberapa detik.
Hingga Mika menyadari tatapan Arya kian dalam padanya, lalu didetik berikutnya – hati Mika menjadi berdebar tak karuan, kala Arya meletakkan ibu jarinya di bibir Mika dan mengusapnya lembut.
Yang mana tindakan Arya itu – walau Mika nol pengalaman soal berhubungan dengan lawan, namun Mika paham maksud Arya, yang kemudian bertanya – dimana pertanyaan Arya itu membuat Mika merasakan jantungnya seolah benar – benar sedang sakit, karena debarannya menjadi begitu kencang.
“Boleh? ...”
Arya meminta ijin, sambil Arya masih mengusap lembut bibir Mika – yang orangnya sedang meremat sendiri kedua tangannya.
“Jadi yang pertama ngerasain ini di bibir gue? ...”
( Tanya reader dah, boleh pe kaga lu cium bibir si Mika, Ar ) ...
♥♥♥
To be continue ...
Enjoy selalu buat kalean wahai reader yang blaem - blaem ...
Dukungan jempol selalu ditunggu ...
Thank you and Loph Loph ...
__ADS_1