HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SEBUAH FAKTA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


Pada suatu waktu.


“I heard that Fania want to espouse us to Russia ( Aku dengar katanya Fania mau menyertai kita ke Rusia )?” adalah Papa Lucca yang bicara ini, pada satu naga utama selain Dad R.


“Yeah....” dia yang ditanya pun lekas menjawab.


Poppa.


“I’m the one who asked her ( Aku yang memintanya )” tambah Poppa.


“Then I will ask Fabi to go to ( Kalau begitu aku akan meminta Fabi untuk turut serta juga )”


Papa Lucca lalu menimpali ucapan Poppa yang kemudian manggut-manggut kecil.


“But Fania haven’t decide, because she’s still feel uncertain due the kids summer holliday ( Tetapi dia belum memutuskan, karena masih bimbang sehubungan dengan libur musim panas anak-anak )” sahut Poppa.


“But summer holliday is about two weeks ahead ( Tetapi libur musim panas kan masih sekitar dua pekan lagi )?” cetus Papa Lucca.


“Like you don’t know woman ( Macam kau tidak tahu bagaimana wanita saja ), Lucca. Especially women in this family ( Terlebih lagi para wanita dalam keluarga ini )—“


“Haha!....”


Papa Lucca menukas ucapan Poppa dengan tertawa kecil.


“You’re right, Bald Drake....” ucap Papa Lucca kemudian. “Even they’re not going anywhere, they will still hassle to choose what clothes to wear just like want to attend party ( Meskipun tidak pergi kemana-mana, mereka repot untuk memilih pakaian yang ingin dipakai macam mau pergi ke pesta )”


Poppa pun terkekeh setelah mendengar ucapan Papa Lucca barusan, sementara Papa Lucca tersenyum geli.


“R, Two J, Dewa are coming ( R, Dua J, Dewa ikut )?....”


Papa Lucca bertanya pada Poppa kemudian.


“Two J and Dewa are confirm will go to, but R haven’t decide ( Dua J dan Dewa pasti ikut, tetapi R belum memutuskan )”


“I see ( Aku mengerti )” sahut Papa Lucca.


Lalu, baik Papa Lucca dan Poppa, membicarakan hal seputar bisnis dan kegiatan mereka saat di Rusia nanti.


---


“Yes, Dave?” Papa Lucca yang berucap. Ketika disaat dirinya dan Poppa sedang mengobrol berdua, salah satu bodyguard yang merupakan penanggung jawab untuk Rery datang menghadap pada keduanya.


“I’m sorry,Sir’. But I have information about Simon Atley ( Maafkan saya, Tuan-Tuan. Tetapi saya memiliki informasi tentang Simon Atley )”


Bodyguard bernama Dave itu, lalu langsung meminta maaf pada Papa Lucca dan Poppa.


Karena khawatir jika dirinya yang meminta ijin untuk menghadap dengan tiba-tiba, mengganggu kedua tuannya yang sedang bicara berdua itu.


Namun selain meminta maaf, Dave langsung juga mengatakan apa yang menjadi kepentingannya saat ini hingga datang menghadap dengan sedikit tergesa.


“Val’s boyfriend ( Pacarnya Val )?” cetus Poppa setelah mendengar ucapan Dave. Dimana Dave langsung dengan cepat menjawab cetusan Poppa yang bertanya memastikan padanya itu.


“Yes, Sir.”


“Tell us then ( Katakan kepada kami kalau begitu ), Dave.”


“And please have a seat ( Dan silahkan duduk ), Dave.”


Poppa dan Papa Lucca lalu bersahutan bicara pada Dave yang kemudian duduk di hadapan dua orang yang kiranya memiliki aura kejam yang sama.


Dimana sebelum ia duduk, Dave mengucapkan terima kasihnya dulu pada Poppa dan Papa Lucca. “Thank you, Sir’—“


“Something wrong with Simon Atley ( Ada yang salah dengan Simon Atley )?”


Poppa langsung bertanya, setelah Dave tak lama duduk.


“Excuse me, Sir ( Maaf, Tuan )” sahut Dave sambil menyodorkan ponselnya kepada Poppa, dimana sebelumnya Dave membuka salah satu folder di galeri foto dalam ponselnya. “Here.” Kata Dave lagi dan menyodorkan dengan sopan kepada Poppa.


“What’s wrong with this photos ( Apa yang salah dengan foto-foto ini )?” cetus Papa Lucca bertanya, sambil ia memperhatikan beberapa foto dalam galeri di ponsel Dave bersama Poppa yang kemudian menoleh menatap Dave setelah Papa Lucca bertanya.




Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..


(KUJ)


Saat ini.


“Ck. Awas aku mau menyapa Gappa dan Gamma serta Simon.”


Ada Dad R yang bicara pada Kafeel, sambil Dad R menggeser tubuh pria yang kurang lebih seusia Varen dan telah juga Dad R dan para orang tua The Adjieran Smith anggap sebagai anak mereka sendiri.


Yang mana sekali lagi, Kafeel digadangkan akan menjadi calon suami Val seperti sebelumnya. Dimana pernah, status itu tertanggal dari Kafeel karena sebuah insiden yang kiranya baik Kafeel atau keluarga The Adjieran Smith enggan untuk diingat lagi.


Lalu selepas Dad R berujar malas sambil menggeser tubuhnya, Kafeel pun segera angkat suara.

__ADS_1


“Iya sebentar, aku mau nanya dulu.”


Dan Dad R pun merespons dengan segera ucapan Kafeel tersebut.


“Cepatlah kalau begitu.”


“Dad tau soal si albino itu yang mau ke sini?” tanya Kafeel sekate-kate menyebut Simon bukan dengan nama pria itu, dengan sedikit kasak-kusuk pada Dad R yang langsung menjawab pertanyaan Kafeel tersebut.


“Ya aku tahu. Poppa memberitahukan hal itu padaku kemarin....”



“Terus Dad tau, kepentingan si Simon itu datang ke sini sekarang?"


“Sangat tahu.”


Dad R masih menanggapi Kafeel yang nampak penasaran itu.


“Apa, Dad?.... Kangen sama Val, dia?"


"Bukan."


“Terus apa jadi alasannya?"


"Sesuatu yang akan membuatmu menganga."


Kafeel lantas spontan mengernyit setelah mendengar jawaban Dad R tersebut.


Namun sejenak kemudian, mata Kafeel membulat dan ekspresinya nampak was-was.


“Dia ke sini mau melamar Val, Dad?!—“



“Dad! Ish! Orang belum selesai ngomong juga?....”


Kafeel menggerutu, karena Dad R berlalu begitu saja dari hadapannya saat Kafeel hendak memastikan dugaannya.


Sementara Dad R sendiri, terkekeh kecil karena mendengar gerutuan Kafeel di belakangnya. “Haish bocah tengik satu inii.”


Tak lama kemudian, Dad R yang gantian menggerutu karena Kafeel sekali lagi menjegal langkahnya.


Kafeel yang sedang masih penasaran dan jadi agak gusar kembali itu bertekad tidak akan membiarkan Dad R berlalu dari hadapannya sebelum satu naga utama itu menjawab pasti pertanyaan yang berdasarkan dugaannya.


“Dad jawab dulu pertanyaanku. Apa benar seperti dugaanku kalau si jurig albino itu ke sini mau melamar Val? karena kalau benar, aku akan kembali menghubungi bunda agar segera datang ke sini bersama Lena. Bagaimanapun Dad harus adil. Anggaplah aku belum resmi menjadi pasangan Val. Tapi si Simon itu yang hendak diputuskan Val karena Val mencintai aku itungannya samar juga statusnya loh, Dad? Kalau Dad membiarkan dia datang ke sini atas dasar kesempatan untuk Val memiilih dihadapan kami berdua apalagi sampai melamar, berarti aku harus dapat kesempatan yang sama juga....”


Kafeel merepet panjang. Membuat Dad R jadi mendengus karenanya.



Dad R kemudian bertolak pinggang sambil menatap Kafeel yang seolah belum puas menyelidik, lalu kembali mengoceh, “Kalo perlu aku adu otot dengan si jurig albino itu demi memperjuangkan Val---“


“Haish bocah tengik satu inii....” tukas Dad R berkesah, sambil mengurut kecil pelipisnya dengan satu tangan.



“Ikut denganku.” Ucap Dad R yang rasanya malas melihat paranoidnya si AA.


“Ke?---“


“Neraka!”



Kafeel melipat bibirnya secara spontan setelah Dad R menyahut jengkel padanya, dengan Kafeel yang menahan tawanya. “Sensi banget, Dad,” celetuk Kafeel kemudian. Dimana Dad R langsung memandanginya setengah sinis dengan wajah jengkelnya itu, lalu Dad R menjawab ucapan Kafeel yang barusan.


“Kecerewetanmu membuat kepalaku pusing.”


“Ya kan aku was-was, Dad. Takut Dad lupa sama janji Dad ke aku, selain aku kan udah pernah kehilangan Val sekali. Ga mau terulang lagi---“


“Salah siapa?”


“Iya, aku emang yang salah.”


“Begitu baru benar. Terus-teruslah sadar diri.”


“Ya emang udah sadar diri kalo aku banyak salahnya soal apa yang pernah menimpa Val, Dad. Sekarang Val udah inget aku juga, trus walaupun Val bilang hatinya tetap padaku juga, aku masih punya perasaan bersalah, Dad....”


Kafeel berkata sendu.


“Ya sama Val, sama Dad dan semua orang di keluarga ini. Meskipun kondisi aku waktu itu sangat terpojok.”


Membuat Dad R menghembuskan nafas setengah frustasi.


Pakk!


Telapak tangan Dad R mendarat cantik di jidat Kafeel.


“Berhenti memasang tampang sadboy....” sambil Dad R berucap.


Kafeel lalu langsung menerbitkan senyumannya.


__ADS_1


“Jadi Dad mau ajak aku kemana tadi?---“


“Ke ruang---“


“Mohon maaf Tuan Moreno, Tuan Kafeel.”


Salah seorang asisten rumah tangga datang menyela ketika Dad R hendak menjawab Kafeel.


“Iya, kenapa, Dist?”


Dad R kemudian menanggapi salah satu asisten rumah tangga KUJ itu.


“Anda sudah ditunggu di ruang tamu, Tuan.”


Asisten rumah tangga KUJ yang sedang menghampiri Dad R dan Kafeel itu pun lantas menjawab dengan santun pada Dad R.


“Aku akan segera ke sana,” sahut Dad R, dan satu art itu pun mengangguk.


“Baik, Tuan.... saya permisi untuk menyampaikan ucapan Tuan Moreno pada mereka yang ada di ruang tamu.”


“Tidak perlu, Dis.... aku akan langsung ke sana. Buatkan saja aku kopi seperti biasa....” sergah Dad R.


“Baik, Tuan Moreno.”


Art bernama Adis itu pun mengiyakan perintah Dad R.


“Tuan Kafeel mau kopi juga atau minuman yang lain?”


“Ga usah, Mba Adis. Makasih....”


Kafeel menjawab dengan santun pada sang art yang merupakan salah seorang kepala art di KUJ.


“Baik, Tuan Kafeel. Kalau begitu saya permisi,” pamit Mba Adis dengan santun dan sopan seperti selalunya ia bersikap pada para majikannya.



“Apa ini Dad?....”


Kafeel lantas bertanya pada Dad R, ketika selepas Mba Adis undur diri dari hadapan mereka berdua---Dad R menyodorkan ponsel miliknya pada Kafeel.


“Ponsel---“


“Iya aku juga tahu kalo ini ponsel---“


“Lalu kenapa kau bertanya?!---“


“Iyaa maksudnya ini Dad kasih ponsel Dad ke aku, kenapa?”


“Kau lihat saja apa yang aku buka....”


“Ini....” Kafeel berujar sambil ia memegang ponsel Dad R dan melihat apa yang terpampang di layar ponsel Dad R tersebut.


“Flaming Club.”


Dad R langsung berucap saat Kafeel menggantungkan kata-katanya.


“Flaming.... Club itu?---“




Mundur dikit dulu,


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


“Something wrong with Simon Atley ( Ada yang salah dengan Simon Atley )?” --- ( Poppa )


“Excuse me, Sir ( Maaf, Tuan ).... Here ( Ini )” --- ( Dave )


“What’s wrong with this photos ( Apa yang salah dengan foto-foto ini )?” --- ( Papa Lucca )


“I beg you both pardon, but do you recognize that place, Sir’ ( Mohon maaf sebelumnya, tapi apa Tuan mengenali tempat itu )?” --- ( Dave )


“Not so sure ( Tidak yakin )---“ --- ( Papa Lucca )


“Flaming?” --- ( Poppa )


“Yes, Mister Andrew.” --- ( Dave )


“That Flaming???....” --- ( Poppa )


“Yes, Sir. That Flaming that you know, Mister Andrew ( Iya Tuan, Club Flaming yang anda ketahui itu, Tuan Andrew )” --- ( Dave )


“Woah!” --- ( Poppa )


“What’s wrong ( kenapa )?---“ --- ( Papa Lucca )


“This club, is one of LGBT Bar in this city ( Club ini, adalah salah satu bar LGBT di kota ini )” --- ( Poppa )


♥♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2