HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 120


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Singapore


Flashback


“Tuan Muda! Nona Muda! ----“


Mereka yang mengenal suara yang memanggil itu segera menoleh dengan serempak.


“Kak Achiel dekati Aro, Mika, Val dan Ares terlebih dahulu...”


Rery yang kemudian bicara pada salah satu bodyguard pentolan yang datang bersama dua rekannya yang lain.


Achiel pun mengangguk dan langsung bergegas untuk melakukan apa yang Rery minta dengan mengajak juga dua rekan Achiel yang datang bersamanya.


--


“Tuan Aro, Tuan Ares, Nona Mika, Nona Valera.”


“Kak Achiel ---“


Empat orang yang disapa Achiel itu menyebut nama Achiel kemudian.


“Ada apa ini? ---“


Achiel segera bertanya, sambil ia melirik empat orang anak lelaki yang sedang berkumpul seolah terpojok di satu bagian tempat yang mirip sebuah taman di belakang hotel tempat para majikannya menginap.


“Apa anak – anak ini melukai anda – anda, Tuan, Nona?”


Salah seorang rekan Achiel bertanya pada ke empat majikan mudanya itu.


“Mungkin rencana mereka begitu..”


“Tapi?..”


“Tapi keadaan berbalik.”


Val yang menyahut.


“Mereka merundung Aro, dan untung saja kami keburu datang kesini.”


“Mereka ingin menjatuhkanku dan mencari gara – gara agar gelar juaraku dibatalkan. Begitu sih kayaknya.”


Aro menimpali ucapan Val.


“Sudah aku abaikan, tapi malah makin menjadi dengan menghina kami serta orang tua kami.”


“Lalu kalian mengeroyok mereka?” tanya Achiel.


“Engga. Cuma Kak Ann aja yang hajar mereka.”


Ares yang menjawab.


Achiel dan dua rekannya langsung melongo.


“Hanya Nona Ann yang menghajar mereka? –“ tanya Achiel. Dan ke empat majikan muda yang sedang bersamanya itu pun kompak mengangguk. Achiel pun berdecak kagum dalam hatinya. ‘Wow!’ batin Achiel. ‘Dia seorang bisa bikin empat orang anak laki babak belur begini.’ Achiel membatin lagi. Dan sekiranya dua rekan Achiel juga membatin hal yang sama sepertinya. ‘Wow banget!’


“Kalau kami semua yang menghajar mereka, bahkan walau aku dan Rery yang turun tangan juga, yang ada mereka sekarang udah ga bisa duduk.”


Aro menjawab pertanyaan Achiel sambil memandang sinis empat orang anak lelaki yang sudah nampak tak karuan itu.


Achiel pun menghela nafas saja.


--


“Mau diapain ini anak-anak songong sok iye?! ...”


Aro lantas berucap kala Rery telah menghampirinya yang masih berdiri bersama tiga saudara-saudarinya, berikut tiga bodyguard mereka.


“Yang jelas mereka harus diberi perawatan dahulu Tuan Muda ... Terlebih yang satu itu ...”


“Hah! Kerajinan banget ngurusin bocah-bocah songong! ...” timpal Aro dengan ketus.


“Iya ish!” timpal Mika sinis. "Salah mereka sendiri, seharusnya kita biarkan saja!"


“Tau biarin aja sih! Salah mereka cari gara-gara duluan! Dihajar Harley Quinn kan tuh?!” Ares pun ikut menimpali.


“Tapi mereka memang perlu diobati,” tukas Rery.


“Iya kasihan juga sih –“


Val menimpali ucapan Rery.


--


“Kalian udah cerita sama Kak Achiel kejadiannya gimana?” ucap Rery seraya bertanya sambil memandang bergantian pada Mika, Val, Aro dan Ares yang langsung mengangguk.


“Sudah.”


Mika, Val, Aro dan Ares menyahut kompak menanggapi pertanyaan Rery. Termasuk juga Achiel.


“Jadi mau pakai alibi apa buat jaga-jaga kalau mereka akan meneruskan sikap playing victim mereka nanti? ...”


“Begini aja, kita balikin niat mereka itu –“

__ADS_1


Mika berucap.


“Mereka kan ingin playing victim sama Aro, nah kalau mereka bisa playing victim, masa kita engga? ---“


“Ya betul,” sahut Val.


“Bilang mereka coba merundung aku ya, terus kalian yang datang mencariku lalu mencoba membantuku, tapi mereka berlaku kasar duluan gitu ya?”


“Ga jangan begitu.”


Rery mementalkan ucapan Aro.


“Kamu harus ditiadakan dalam alibi ini.”


Rery lanjut bicara.


“Kalau kamu tetap ada, bisa jadi akan berpengaruh pada gelar juara dan eksistensi kamu sebagai atlet tenis Ro.”


“Ya berarti minus Aro. Jadinya kita alibi kita adalah kita sedang mencari Aro, lalu bertemu mereka---“


Val menimpali, sambil menoleh sekilas ke arah empat anak lelaki korban Ann yang sedang dijaga dua bodyguard mereka selain Achiel.


“Lalu mereka mencari gara-gara duluan, kemudian menghina kita dan keluarga, kita balas, mereka tidak terima, mereka memulai duluan untuk memukul, dan kita membela diri. Terus mereka masih mencoba menggunakan kekerasan, jadi kita lumpuhkan,” sambung Mika atas ucapan Val.


“Oke deal. Kita pakai alasan itu nanti kalau mereka emang kesongongan mereka berlanjut ---“ Aro dengan cepat menimpali ucapan Mika.


--


“Kak Achiel ada lain? ....” cetus Val.


“Ya kalau bisa idenya lebih brilliant dari kami.”


“Sebaiknya anda semua segera kembali ke hotel saja, lewat jalan yang berbeda saat anda datang kesini ... Biar mereka kami yang urus.”


“Ya sudah ayo ...”


“Ingat ya Kak Achiel, kita harus satu suara loh?! ...”


Val berbicara sambil mengarahkan telunjuknya pada Achiel.


“Iya loh Kak, inget apa yang tadi aku dan Val paparkan.” Timpal Mika.


“Iya. Ingat kan Kak? ...”


Val kembali berbicara pada Achiel untuk memastikan jika bodyguard yang paling sering mengemban tugas untuk menjaganya jika Val sedang di Indo itu, ingat apa yang harus ia katakan sebagai alibi nanti.


“Sebaiknya kalian lakukan saja apa yang saya sarankan pada kalian tadi. Pergilah ke kamar kalian, dan masuk dari pintu depan.” Tukas Achiel.


“Ya udah okay.”


--


Salah satu rekan Achiel langsung bertanya pada salah seorang pentolan bodyguard itu yang sedang memijat pelipisnya, setelah kepergian para majikan muda mereka.


“You!”


Achiel tak menjawab pertanyaan satu rekannya itu.


Salah satu pentolan bodyguard itu langsung melangkahkan kakinya mendekati empat orang anak lelaki yang terduduk di tanah, dengan wajah ketakutan saat melihat Achiel mendekati mereka dengan tatapan yang dingin.


Lalu Achiel berjongkok dihadapan ke empat anak lelaki tersebut. Namun Achiel tidak berjongkok sepenuhnya.


“I know who four of you, and I know your parents too. But four of you seems don’t really know who are those kids that you all tried to mess up with (Saya tahu siapa kalian berempat, dan saya juga tahu orang tua kalian. Tapi sepertinya kalian berempat tidak begitu mengetahui siapa anak-anak yang coba kalian ganggu) –“


“We’re (Kami) –“


“I didn’t ask you to talk!”


(Saya tidak memintamu bicara!)


“.....”


“As I said I know your parents, then I warn you (Seperti yang saya katakan bahwa saya mengenal orang tua kalian, maka saya peringatkan) –“


“.....”


“What happened to four of you, do not mention their name!”


(Apa yang terjadi pada kalian berempat, jangan menyebutkan nama mereka!)


Achiel berbicara dengan sangat mengintimidasi ke empat anak lelaki dihadapannya itu.


Lalu Achiel mengeluarkan ponsel dari sakunya dan sejenak fokus pada ponselnya itu. “If four of you think that I’m just bluffing (Jika kalian berempat berpikir kalau saya hanya menggertak) ---“


“.....”


“Or, think that I’m just a bodyguard ... a worker, who can’t have any ability to do something to four of you, your parents, your life (Atau, berpikir jika saya hanya seorang pengawal pribadi ... seorang pekerja, yang tidak memiliki kemampun untuk melakukan sesuatu pada kalian, orang tua kalian, hidup kalian) ---“


Achiel menyungging miring. Lalu menghadapkan ponselnya ke arah empat anak lelaki dihadapannya itu.


“This, is your father right (Ini, ayahmu bukan)?”


“Y-es ...”


“Your father just make a dealing with my masters company. If you gloss over to what I have said, I will make that dealing cancelled. Of course, I will tell to all my Big Masters, that four of you was disturbing their kids (Ayahmu baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan para majikan saya. Jika kau mengabaikan apa yang saya katakan padamu, saya akan membuat kerjasama itu batal. Tentu saja, akan aku katakan pada para Tuan Besar saya, jika kalian telah mengganggu anak-anak mereka) ---“


“.....”

__ADS_1


“And for sure, your father will get bancrupt right away. Then your family, will end in the small apartment (Tentu saja juga, ayahmu akan langsung mengalami kebangkrutan. Lalu keluargamu, akan berakhir di apartemen yang kecil)”


Achiel berkata dengan tenang, namun tatapan dan nada suaranya terdengar begitu mengintimadasi ke empat anak lelaki dihadapannya itu.


“You want it happen (Kau ingin itu terjadi)? ...”


Anak lelaki yang sedang diajak bicara dengan dipandang dingin oleh Achiel segera menggeleng.


Achiel pun menyungging miring.


“And three of you (Lalu kalian bertiga)—“


Achiel beralih kepada tiga anak lelaki lainnya dan menatap mereka satu-satu.


“As I know his parents, I can make the same things to your parents too. Try me if you guys don’t believe (Sebagaimana saya tahu orang tuanya, saya dapat membuat hal yang sama pada orang tua kalian juga. Silahkan coba saja jika tidak percaya)”


“W-e, we believe (Ka-mi, kami percaya)-“


Achiel dan dua rekannya menyungging miring setelah mendengar jawaban ke empat anak lelaki yang sedang mereka intimidasi nyalinya.


“Good –“ kata Achiel. “Cause if not, I have to make four of you vanish forever right now (Karena jika tidak, saya akan membuat kalian berempat raib untuk selamanya saat ini juga) ...”


Dan ke empat anak lelaki itupun langsung menjadi lebih ketakutan menatap pada Achiel.


Terlebih saat rekan Achiel memperagakan iris leher dengan tangannya kepada empat anak lelaki tersebut.


Lalu ke empat anak lelaki itupun menggeleng, lalu mengangguk, saking gugup karena ketakutan. “W-e, we promise will not saying anything about them (Ka-mi, kami berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang mereka)”


Achiel manggut-manggut.


“Good.”


Lalu Achiel berdiri dari posisinya.


“Now get up (Sekarang bangunlah)”


Achiel menyuruh ke empatnya bangkit juga.


“Here that you all have to say to everyone after we bring you back to your parents (Ini yang harus kalian katakan setelah kami membawa kalian pada orang tua kalian) ...”


“.....”


“Simple. Four of you were had miss communication, then fight each other (Mudah saja. Kalian berempat berselisih paham, lalu berkelahi satu sama lain)”


“O-kay.” Ke empat anak lelaki itu mengangguk patuh selain masih nampak ketakutan. Achiel dan dua rekannya kembali tersenyum miring, yang sebenarnya merasa geli sendiri telah mengancam bocah.


Tapi biar bagaimanapun dia harus melindungi para tuannya, terlebih itu para majikan muda yang sering membuat Achiel dan para bodyguard lainnya merasa pening dengan tingkah mereka.


Dan Achiel paham posisi Aro-jika satu tuannya yang baru menjuarai turnamen bergengsi dalam cabang olahraga tenis, bisa saja terkena resiko jika ia diketahui terlibat masalah. Jadi Achiel akan melakukan segala cara, untuk melindungi satu tuan mudanya itu, berikut para saudara dan saudarinya.


“Cape-cape gue ikut pelatihan, jalanin segala tes, eh sekarang malah ngancem bocil!” gumam Achiel dan kedua rekannya itu pun terkekeh. Sambil mereka berjalan mengawal empat anak lelaki korban Ann tersebut.


--


Kehadiran empat anak lelaki yang awut-awutan itu tentu saja membuat heboh mereka yang sedang ada di acara ramah tamah yang digelar oleh pihak penyelenggara dan sponsor dari Turnamen Tenis bergengsi yang diikuti dan dimenangkan oleh Aro.


“Itu mereka kenapa Achiel?—“ Tidak hanya orang tua dari ke empat anak tersebut dan orang-orang yang ada di dalam acara ramah tamah Turnamen tersebut yang terkejut melihat kedatangan anak –anak yang awut-awutan itu, tetapi juga para Tuan dan Nyonya The Adjieran Smith.


Dimana Mami Prita langsung bertanya pada Achiel, karena salah satu pentolan bodyguard keluarganya itu datang bersama ke empat anak lelaki yang penampilannya awut-awutan itu.


“Kami menemukan mereka berada di bagian belakang hotel sedang berkelahi satu sama lain, Nyonya Prita.” Jawab Achiel dengan tenang, dan setenang itu juga saat para orang tua dari ke empat anak tersebut menghampiri Achiel dan dua rekannya karena anak – anak mereka datang bersama para bodyguard dari satu keluarga yang mereka kenal sebagai keluarga bisnisman super sukses itu.


Dimana mereka nampak menerima penjelasan Achiel, ditambah anak-anak mereka pun mengiyakan pernyataan Achiel tersebut. Hanya saja...


“Aku yakin bukan itu yang terjadi sebenarnya.”


Suara dari satu Tuan The Adjieran yang merupakan pentolan pertama terdengar.


“Bukan begitu Bapak Achiel?”


Dengan mata sang Tuan Pentolan yang memicing sambil menatap pada Achiel.


“Memang seperti itu yang terjadi Tuan Reno” jawab Achiel dengan tenang.


“Siapa yang mempekerjakanmu? ..”


Daddy R mulai mencecar Achiel.


“Anda Tuan.”


“Tidak tahu terima kasih dengan berbohong padaku?”


“Saya hanya menjalankan tugas Tuan.”


“Tugas dari para bocah tengik itu? ..”


Ah, mata naga lebih tajam dari silet.


--


To be continue ...


Segitu dulu, ngejar waktu update.


Hehe.


Besok Insya Allah dibanyakin.

__ADS_1


Tetep enjoy yang penting, okeh?.


__ADS_2