
Padamu Hatiku Jatuh
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Unit apartemen Kafeel, Jakarta, Indonesia
“Ngomong-ngomong Val mau tanya.....”
Val berucap dari jaraknya pada Kafeel yang kini duduk miring menghadap Val dengan kepalanya yang Kafeel topang dengan tangannya, selepas Val membebaskan diri dari dekapan Kafeel setelah kekasih setengah om-omnya itu menyerang bibirnya lagi dengan sedikit ganas.
“Tanya apa, hm?..”
“Kakak ajak Val ke apartemen Kakak ini apa karena Kakak hendak ‘mengiya-iyakan’ Val? ---“
“HEUUU???---“
“Wajah Kakak sudah nampak mesum soalnya ..”
Lagi-lagi Kafeel membelalak tak percaya, mendengar ucapan Val yang entah polos entah apa ini anak perawan satu.
“Mesum ya? ---“ Kafeel tersenyum miring kemudian. Lalu memandang pada Val penuh arti. “Jadi wajah aku keliatan mesum, hm? ..”
Val langsung kembali menjadi was-was saat Kafeel menatapnya dengan tatapan yang bagi Val sungguh meresahkan.
Val menutup lagi mulutnya dengan kedua tangan, saat Kafeel kembali bergerak untuk mendekatinya. Val memundurkan lagi tubuhnya saat Kafeel bergerak maju.
“Trus tadi bilang apa? ... aku mau ‘iya-iyain’ kamu? ----“
Kafeel berucap lagi saat ia sedang bergerak maju untuk mendekati Val.
Sementara Val yang kini sudah terpojok akibat pinggang belakangnya telah menyenth sanggahan lengan sofa, semakin mengeratkan bekapannya sendiri pada bibirnya.
“Jauhkan tangan kamu dari bibir kamu itu..”
Kafeel memberikan perintahnya dengan nada suara yang datar, namun Val menggeleng keras.
“Tidak mau?—“
Kafeel berucap seraya bertanya pada Val sambil masih menatap intens pada kekasih kecilnya itu, dan Kafeel juga sudah berada sangat dekat dengan Val.
Val mengangguk, lalu dengan cepat Val menggeleng lagi dengan kedua tangannya yang masih ia gunakan untuk menutup bibirnya. Sungguh membuat Kafeel menjadi sangat gumush pada kekasih kecilnya ini.
“Aku hitung sampai tiga.” Ucap Kafeel. “Kalau tetap tidak mau menjauhkan tangan kamu dari bibir kamu itu, aku akan bener-bener iya-iyain kamu. Satu---“
Kafeel mulai menghitung, dan Val membulatkan matanya.
“Dua.....” ucap Kafeel lagi sambil semakin beringsut mendekati Val dengan tatapan yang membuat Val merinding, namun hati Kafeel sesungguhnya merasa geli saat ini. “Baik, kamu yang minta ya. Ti –“ Kafeel sudah memposisikan dirinya benar-benar dekat dengan Val, lalu menegakkan dirinya, dengan tangannya yang akan menyentuh Val.
“Stooopp!!”
Val refleks setengah berteriak setelah ia membuka bekapannya, dan tangan Val langsung ia letakkan di dada Kafeel.
“Kakak ga mungkin berani kan? –“
“Siapa bilang aku ga berani?”
“Kakak akan dipukuli sampai mati seperti yang Kakak katakan tadi oleh The Dads, Abang, Kak Tan-Tan, bahkan mungkin oleh Aro dan Rery juga.” ucap Val. “Memang Kakak tidak takut mati?”
“Tidak, asal udah iya-iya sama kamu—“
“KAK KAFEEL MESUUMM!!—“ Teriak Val sambil memukul-mukul dada Kafeel.
Karena kebetulan dada si AA yang senderable itu sudah dekat sekali dengan Val.
Dan Kafeel sontak saja terbahak karena Val yang langsung berteriak mengatainya itu, sambil membiarkan Val memukul-mukul dadanya sampai kekasih kecilnya itu nanti rasa puas.
Mayan dapet pijatan semi shiatsu gratis di dada. Kalo kata si AA dalam hatinya.
Mungkin setelah Val selesai dengan dadanya, Kafeel bisa gantian memijat dada Val?. eehh..
“Sudah sana awas.” Val coba mendorong tubuh Kafeel agar menjauh darinya. “Val ini masih kesal ya pada Kakak. Jadi Kak Kafeel tidak usah tebar pesona-hmmpph.”
Val kembali terbungkam secara tiba-tiba, karena lagi-lagi Kafeel mencuri ciuman darinya.
“Kak Kafeel iihhh!!..” ketus Val, namun nada suaranya terdengar manja. Memang udah bawaan orangnya, bahkan lagi marah aja ngegumushin.
Val mengeluarkan protesnya dengan ketus pada Kafeel-setelah ia berhasil menarik paksa dirinya dari sergapan kekasih setengah om-omnya yang sekarang jadi mesum, pada bibirnya secara tiba-tiba itu.
Val benar-benar terkejut dibuat Kafeel atas sikap kekasih setengah om-omnya itu saat ini. Membuat Val jadi bertanya-tanya dalam hatinya tentang Kafeel. ‘Apakah ini Kak Kafeel yang sesungguhnya?.. mesum dan hobby sambar bibir!’.
“Sudah sana aahh ----“
Val mendorong lagi tubuh Kafeel.
“Tidak mau.” sahut Kafeel.
“Kakak menyebalkan ih!”
“Habis kamu sok tahu.” Sahut Kafeel.
“Sok tahu bagaimana??”
“Sok tahu tentang ‘iya-iya’.” Cetus Kafeel.
“Memang Val tahu.”
“Lalu apa yang kamu tahu tentang ‘iya-iya’? ...” tanya Kafeel yang sedang iseng pada Val itu.
“Iy,yaa i-tuu ...” Val menyahut ragu-ragu.
“Iya itu apa?. Ngomong yang jelas dong,” tukas Kafeel sambil menahan dirinya untuk tidak tersenyum geli.
“Masa harus Val jelas, kan?...” ucap Val dengan sedikit canggung.
“Ya harus dong.” Sahut Kafeel.
“Val rasa Kakak sudah sangat paham soal itu—“
Namun dalam sekejap, ekspresi Val berubah.
Suara Val merendah, bersamaan dengan kepalanya yang tertunduk perlahan.
“Kakak kan sudah beberapa kali melakukan itu—“ lanjut Val ambigu dengan suaranya yang pelan dan wajah Val menatap ke arah tangannya sendiri, yang kini sudah berada di atas kedua pahanya. “Dengan para mantan kekasih Kakak –“
__ADS_1
Membuat Kafeel langsung mendengus frustasi setelah mendengar ucapan Val.
“Kata kamu, hal itu tidak mau kamu pikirkan lagi, Val?—“ tukas Kafeel, tersenyum miris.
“Memang tidak.”
Val menyahut cepat, namun lirih.
“Tapi ... saat tadi sampai disini, Val jadi teringat soal gaya berpacaran Kakak dengan para mantan kekasih Kakak, yang ...”
“Sini—“
Kafeel berucap, sambil menarik perlahan tubuh Val dan membawanya ke dalam dekapan.
“Kenapa Val jadi tiba-tiba teringat akan hal itu, hm?...”
Kafeel bertanya lembut, dengan dirinya yang duduk sambil mendekap Val dari belakang.
“Tidak tahu.”
“Pasti ada sebab kan, kamu tiba-tiba jadi memikirkan gaya berpacaran aku dimasa lalu?” tanya Kafeel lagi.
“Memang Val tidak tahu sebabnya tahu-tahu Val memikirkan gaya berpacaran Kakak di masa lalu yang tiba-tiba berkelebat di pikiran Val saat masuk kesini tadi.”
Val menundukkan lagi kepalanya-masih didekap oleh Kafeel, namun dekapan Kafeel telah melonggar, sambil pria itu memperhatikan wajah Val yang kini nampak sendu.
“Mungkin karena efek Kakak yang menceramahi Val dihadapan sepupu Kakak yang gatal itu...” lanjut Val. “Jadi Val berpikir Kakak begitu menyayangi dia, sampai-sampai Kakak bersikap seperti tadi di rumah Kakak, dihadapan banyak orang pada Val—“
Val menjeda sebentar omongannya, dan nampak menghela nafas frustasi kemudian.
“Jadi Val membayangkan bagaimana perlakuan Kakak pada para mantan kekasih Kakak itu.... yang pastilah romantis dan spesial, sampai Kakak akhirnya.. bercinta, dengan mereka.”
Gantian Kafeel yang kini menghela nafas frustasi. “Val—“ Kafeel hendak bicara.
“Val....” Val keburu menyambar saat Kafeel hendak berbicara.
“Memang Val tidak mempermasalahkan gaya berpacaran Kakak yang intim dengan para mantan kekasih Kakak, hanya saja.... hati Val terasa sesak tiba-tiba, saat membayangkan bagaimana Kakak ‘menyentuh’ mereka,” lirih Val.
“Maaf –“
“Jadi saat masuk kesini, Val—“
Val menjeda ucapannya dengan kepalanya yang kian tertunduk.
“Val ---“
“Hey Val?-“
Kafeel dengan cepat-namun lembut, menggeser sedikit posisinya, lalu memegang tangan Val yang kini menutupi wajahnya sendiri itu, lalu membuka tangkupan tangan sang kekasih kecil di wajahnya sendiri tersebut.
“Hati Val rasanya seperti sebuah luka yang ditabur garam. Walau sedikit.... saat membayangkan kalau Kakak sudah berbagi kehangatan disini, di apartemen Kakak ini, dengan para mantan kekasih Kakak itu—“
Val sudah terisak.
“Val bisa terima, masa lalu Kakak, itu benar.... Val tidak bohong .... tapi Val hanya sedikit perih saja kala memikirkan bagaimana kakak disentuh oleh orang lain.... lalu pasti Kakak punya banyak kenangan dengan mereka disini.... bahkan di sofa ini, mungkin?.... Val.... Val....”
Val tergagap, karena ia tidak dapat lagi menahan isakannya.
Membuat hati Kafeel rasanya diremat dengan kuat, melihat Val menangis seperti ini karena bayangan masa lalunya yang bebas itu menjadi momok yang menyakitkan untuk Val yang membayangkan bagaimana dirinya bercinta dengan para mantan kekasihnya itu.
Lalu Kafeel mengeratkan pelukannya pada Val. “Maaf ----“ desis Kafeel, lalu menciumi pucuk kepala Val. “Maaf jika masa lalu aku menyakiti kamu.” Sambungnya.
Setelahnya, Kafeel menegakkan tubuh Val dengan lembut, lalu membuat wajahnya dan wajah Val berhadapan, sambil lagi tangan Kafeel mengusap pipi Val yang masih menyisakan jejak air mata itu.
Val tersenyum tipis, lalu ia menggeleng. “Tidak perlu minta maaf Kak-“ sahut Val. “Selain masa lalu Kakak adalah hak Kakak, toh Val kan belum jadi kekasih kakak juga?. Val saja yang terlalu terbawa perasaan, ini—“
Val berkelakar, dan Kafeel hanya tersenyum tipis. Namun tak lama, Kafeel langsung menangkup kedua pipi Val dan menatap wajah yang matanya basah itu.
“Aku minta maaf. Aku sangat menyesal jika masa lalu aku menyakiti kamu Val. Tapi mohon hal itu tidak perlu kamu bayangkan, karena aku pun sudah melupakan, sudah melepas semua masa lalu aku dengan para mantan pacar aku itu ke angkasa.”
Kafeel berucap dengan suaranya yang kini terdengar sedikit berat.
“Hanya tentang kamu yang sekarang aku ingat Val.” lanjut Kafeel.
Dengan Kafeel juga menatap dalam sepasang netra berwarna coklat terang milik Val itu.
“Disini—“ Kafeel menunjuk kepalanya. “Dan disini---“ lalu menunjuk dada sebelah kirinya. “Yang sudah mulai memenuhi setiap incinya, dan tidak akan pernah aku keluarkan –“
Lalu Kafeel kembali membawa Val dalam dekapan, membawa kepala Val untuk bersandar di dada bidangnya. Kemudian meletakkan ringan kepalanya di atas kepala Val.
“Jadi jika aku saja sudah tidak mau mengingat lagi, kamu pun tidak usah sampai membayangkan lagi hal apapun yang aku lakukan dimasa lalu..”
“......”
“Ya? –“
“Iya Kak –“
“Janji? –“ pinta Kafeel.
Sambil Kafeel menjauhkan kepala yang ia topangkan dengan ringan di atas kepala Val, lalu menggerakkan penuh perasaan kepala Val, agar wajah kekasih kecilnya itu berhadapan lagi dengan wajahnya.
“Janji----“
Val mengiyakan.
Kafeel pun tersenyum.
“Mau tahu satu fakta?”
Kafeel berucap, sambil sedikit menarik dagu Val.
“Tentang masa lalu Kakak?” tanya Val dengan praduganya.
“Tentang aku dan apartemen ini.” jawab Kafeel.
“Apa itu? –“ tanya Val lagi, sambil ia mengurai dirinya yang bersandar di dada Kafeel.
“Aku selalu berada sendiri disini.” Jawab Kafeel. “Bahkan tidak ada teman pria yang pernah aku ajak kesini, diluar Abang Varen dan Kakak Tan-Tan kamu. Diluar pria-pria yang ada dalam lingkup kerabat kita lah.”
“......”
“Termasuk, tidak pernah ada satupun wanita yang pernah masuk ke dalam apartemen ini..”
“Masa?..” tanya Val tidak percaya. Kafeel mengangguk beberapa kali.
“Itu benar.” Ucap Kafeel. “Bahkan Bunda dan Lena saja belum pernah sekalipun aku ajak kesini –“
__ADS_1
“Benarkah itu Kak?”
Kafeel manggut-manggut lagi.
“Yap.”
“......”
“Bahkan orang yang membersihkan apartemen ini setiap tiga hari sekali itu adalah seorang pria –“
Kafeel menatap Val dengan menampakkan senyumnya sambil ia membelai lembut surai Val, seraya merapihkan surai indah dan halus milik Val itu, karena sedikit berantakan.
“So you’re the first woman ( Jadi kamu wanita pertama ) yang pernah masuk ke dalam apartemenku ini, Val—“ ucap Kafeel lagi. “Semua kenangan yang akan tercipta disini antara aku dan seorang wanita, hanya ingin aku cipta dengan kamu. Well, ralat. Bukan kenangan tapi masa. Aku ingin kamu ada disetiap masa, tidak hanya di apartemen ini, tapi juga di hidup aku. Sekalipun tercipta kenangan, kenangan itu akan menjadi bahasan kita kala kita menua nanti. Menua bersama-”
Auto diabet dah Neng Val.
♥
Wanita mana yang tidak merona jika mendengar sebaris kalimat romantis nan manis seperti yang Kafeel ucapkan pada Val, tentang hanya dengannya lah-Kafeel ingin setiap masa dalam hidupnya ia bagi bersama Val.
Begitu yang terjadi pada Val selepas rangkaian kata-kata yang indah bagi Val itu, ia dengar dari mulut Kafeel untuknya.
Membuat Val merona, namun bibirnya juga tersenyum lebar bahagia. Lalu bersandar manja, di dada Kafeel yang begitu nyaman bagi Val.
“Aku minta maaf atas sikapku saat di rumah tadi----“ ucap Kafeel sambil satu tangannya mengusap lembut kepala Val, sementara satu tangannya melingkar di perut Val. “Juga perkataan aku..”
Val mengangguk seraya tersenyum dengan menatap pada Kafeel.
“Aku mungkin belum memahami kamu sepenuhnya,” lanjut Kafeel. "Jadi jika suatu ketika terjadi lagi seperti ini, mohon ingatkan aku jangan dengan sikap yang keras."
“Iya.” Sahut Val. “Val juga mohon maaf, jika sikap Val berlebihan.”
“No baby ..” tukas Kafeel seraya menggeleng. “Kamu tidak perlu minta maaf.”
Kafeel berucap sambil mengeratkan pelukannya.
“Hanya aku minta satu hal aja sama kamu—“ ucap Kafeel.
“Apa itu Kak?”
“Jika ada sikap aku yang kurang menyenangkan bagi kamu, jangan tau-tau langsung bersikap seperti tadi----“ jawab Kafeel. “Mungkin hal yang aku buat hingga tidak menyenangkan hati kamu itu, adalah satu dari hal yang belum aku pahami dari kamu..”
Dengan Kafeel yang bicara pelan-pelan dan lembutnya pada Val.
“Dan aku ingin belajar untuk itu..” sambung Kafeel. “Memahami kamu seutuhnya.” Ucap Kafeel lagi. “Jadi, jika dimata kamu aku membuat kesalahan, jelaskan padaku agar aku bisa memperbaikinya. Jangan tahu-tahu bersikap seperti tadi, karena itu sungguh membuat hati aku nyeri Val –“
“Iya Kak.”
“Cukup salju aja yang beku, jangan hati kamu. Cukup cuaca yang dingin, jangan sikap kamu.”
Uhuy!.
♥
“Dih malah ketawa!”
Kafeel melayangkan protes pada Val yang terkekeh setelah mendengar sebaris kalimat gombalan dari dirinya.
“Habis Val tidak menyangka, kalau Kakak itu pandai sekali menggombalnya—“ kekeh Val. “Selain mesum.” Tambah Val.
“Wah, wah, semakin berani sekarang sering ngatain aku ya??” Kafeel mendelik namun tidak serius.
“Memang seperti itu kenyataannya.”
Val menyahut dengan sisa-sisa kekehannya.
“Tapi cinta kaann??” Kafeel memencet gemas hidung Val.
“Sangat Kak.”
“Makasih ya?..”
Kafeel berucap tulus.
Val pun mengangguk seraya tersenyum teduh.
“I love you..” ucap Kafeel mesra.
“I love you more and more..” yang langsung dibalas Val dengan lebih mesra.
“Jangan lagi bicara soal mengakhiri hubungan ya?” pinta Kafeel.
Val pun mengangguk patuh dan Kafeel tersenyum bahagia sambil tangannya tetap mengelus kepala sampai ke garis rahang Val dalam diam.
Sejenak Val dan Kafeel saling diam, hanya dalam memandang. Namun di detik berikutnya, Kafeel sudah menempelkan kembali bibirnya di bibir Val.
Mengecup bibir tipis nan ranum menggoda dengan singkat, lalu Kafeel sedikit menarik kepalanya dari Val, namun dengan wajah keduanya yang tetap dekat.
Kafeel menyentuh bibir Val dengan ibu jarinya, menatap Val untuk beberapa saat, menikmati wajah imut nan menggemaskan sang kekasih kecil, yang mana memang masih bisa dikatakan jika Val adalah anak kecil bagi pria seusianya, namun kehadiran Val menciptakan efek luar biasa untuk Kafeel dan hatinya.
Kafeel membawa wajah Val kini dekat ke wajahnya, lalu mencium lagi bibir kekasih kecilnya itu-kali ini tanpa keganasan sama sekali. Membuat Val terbuai, sampai tanpa sadar Val sudah mengalungkan tangannya di leher Kafeel yang matanya terpejam itu, yang nampak sedang begitu menikmati bibir Val.
Tengkuk Val ditahan Kafeel. Tidak dengan kuat Kafeel menahan tengkuk Val dengan satu tangannya, namun seolah ditahan benar-benar oleh Kafeel agar kesenangannya yang sedang meresapi sesi berciumannya dengan Val itu sampai berakhir.
Ciuman yang lembut, namun terasa memabukkan bagi keduanya. Hingga Kafeel membalikkan tubuh Val tanpa melepaskan tautan bibirnya, lalu membuat Val sudah berada di pangkuannya kini.
Yang kemudian membuat Kafeel merutuk dalam hatinya, dimana hati Kafeel mengatakan agar seharusnya Kafeel tidak memangku Val serapat ini. Karena hal itu, ditambah sesi berciumannya dengan Val dengan durasi yang cukup lama-walau sesekali terurai hanya untuk menghirup sedikit oksigen, sesungguhnya membuat Kafeel merasakan celananya mulai terasa sempit.
♥
“Sshh..”
Seorang pria kedapatan sedang bermandikan keringat di sofa pada ruang tamu apartemennya.
Mendesis dengan nafasnya terengah, meringis, menahan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
“Va-ll---“
♥♥
To be continue..
Jempol goyangin jangan lupa.
Hehe.
Loph Loph sekebon raya..
__ADS_1