
( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Dear All My Greatest Family Members,
Yang Val sayangi, cintai sepenuh hati..
Sesiapa yang Val tidak dengan spesifik beri,
Silahkan ambil aaaapapun yang ada di dalam kamar Val ini.
Maaf loh ya, bukan Val pilih kasih..
Karena Val sesungguhnya bingung.
Tidak sempat berbelanja juga, karena Val takut bertemu orang yang mengenal dan tahu jika Val akan menikah dua bulan lagi kemudian mereka melontarkan pertanyaan yang jawabannya akan sangat menyakitkan untuk Val katakan.
Jadi, pilih saja sendiri ya, jika ada yang kalian suka di kamar Val ini, sayang-sayang Val semua?..
Sekali lagi, Val mohon maaf, ya?..
Harus mencoreng nama baik kalian dengan sikap pengecut Val.
Val lemah, tidak seperti kalian yang kuat.
Setidak kuat hati Val yang harus melihat kalian menyusahkan diri memutar otak untuk membuat Val sembuh dari luka Val.
Kalian sehat-sehat, ya?..
Bersedihnya sebentar saja..
Tidak perlu menangisi Val yang bodoh dan pengecut ini,
Kalian anugerah terindah yang pernah Val miliki,
Terima kasih telah menjadi keluarga Val dan menyayangi Val dengan sangat.
Sa-yaang semuaa..
Peluk cium,
💕 Val 💕
♣♣♣♣
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England......
Mi, sibuk?
Lo lagi dimana?
Kata lo pagi mau hubungi gue, Mi? Gue nungguin sampe ketiduran di teras ini homestay gue loh Mi. Mana banyak nyamuk.
Iya, sorry, gue buru-buru. Telat kuliah.
Bisa gue tlp sekarang?
Gue udah di kelas. Dosen udah dtg.
Ya udah. Have a nice day ya, Mi. Love you.
Jangan lupa maksi, Mi. Paling cepet 2 minggu lagi gue balik.
Oh iya, persiapannya Val sama Kak Kaf udah sampe mana? Kalo kerjaan gue di sini selesai gue udah agak senggang. Nanti kalo lo butuh bantuan buat ngurus acaranya Val dan Kak Kaf, Insya Allah gue bakal terus nemenin lo buat bantu ngurus persiapan mereka.
“Fuuhh.”
Ada Mika yang menghela nafasnya ketika ia baru saja kembali ke mansion dari kampusnya.
Lalu kemudian Mika kembali memperhatikan ponselnya karena ada pesan masuk, dari dia gerangan yang chatnya tadi Mika baca.
Kabarin kalau udah di mansion.
‘Kalo gue cerita sama Arya, berarti gue ga menghargai permintaan Dad R dan Val... Dan gue bisa mengerti posisi Dad R yang mau menjaga perasaan Val yang kayaknya kepikiran juga soal nama baik keluarga ini kalau pernikahannya dan Kak Kaf yang batal dan dia ditinggal nikah, adalah suatu aib... Hhhh.’
Mika membatin, lalu menghela nafasnya berat.
‘Tapi gue ga mungkin menghindari Arya terus. Tapi gue takut keceplosan juga... Haish.'
Mika sedikit jadi gundah gulana.
‘Kangen juga sih sama si Receh Boy...’
Mika mengulum senyumnya.
Iya.
Hubungi gue setengah jam lagi.
Hingga akhirnya Mika pun membalas chat Arya.
Lalu Mika kembali memalingkan pandangannya ke arah kamar Val.
‘Val... Val... Padahal kamu tidak perlu memikirkan tentang nama baik keluarga saat kamu sendiri sangat terluka. Karena aku yakin Dad R dan orang tua lainnya bahkan Gappa sekalipun tidak peduli akan hal itu...’
Mika masih sibuk sendiri dengan pemikirannya hingga ia tanpa sadar telah berada di depan pintu kamarnya.
‘Yah, namanya orang sedang tertekan May... Pasti segala pemikiran ada di kepala Val. Selain mungkin Val malu akan menjadi bahan cemoohan orang-orang yang pastinya akan membuat mentalnya drop. Meskipun kami akan pasang badan untuk membungkam mulut orang-orang yang akan usil pada Val’ ucap Mika dalam hatinya dengan masih berdiri di depan kamarnya dan memandangi kamar Val. ‘Hhh... tapi gue sendiri aja ga terbayang kalau gue ada di posisi Val sekarang.’
Mika menatap tak tega ke arah kamar Val yang tertutup itu.
'Val ada di kamarnya ga ya?...’ ucap Mika lagi dalam hatinya seraya bertanya. ‘Pintunya sih nampak unlock... Nanti aku periksa deh sebelum Arya menghubungi...’
Mika berkata lagi dalam hatinya sambil melirik kembali ponselnya yang berdenting.
‘Kalau Val ada di dalam kamar dan menangis lagi diam-diam, akan aku paksa dia untuk pergi keluar bersamaku sekarang juga...’ Kata Mika lagi dalam hatinya. ‘Ya udah simpan dulu ini tas dan buku, ganti pakaian, baru memeriksa Val di kamarnya...’
Lalu Mika memalingkan pandangannya dari kamar Val yang letaknya ada di seberang kamarnya, yang terpisah oleh ruang santai terbuka. Mika meraih knob pintu kamarnya kemudian.
“Eh?” Dimana Mika lalu nampak terperangah ketika ia telah masuk ke dalam kamarnya. “Mister Teddy?...”
Mika langsung menggumam lalu tertegun setelah terperangah, ketika melihat sebuah boneka beruang raksasa ada di salah satu sudut kamarnya.
“Ini Mister Teddy, kan?” Mika menggumam lagi, sambil bertanya-tanya sendiri. “Kenapa ada di sini?...”
Dengan terheran-heran Mika mendekati beruang raksasa tersebut, yang ia ketahui adalah boneka kesayangan Val.
Dan kenapa boneka kesayangan Val itu ada di dalam kamarnya. Begitu kiranya Mika bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
Ingin bertanya pada Val, namun Mika hendak meletakkan dulu tas serta beberapa buku besar di tangannya selepas ia pulang kuliah dan langsung pergi ke kamarnya dimana Mika hendak mengistirahatkan diri dan menunggu Arya menghubunginya.
Namun saat Mika sedang meletakkan buku berikut tas dengan sembarang di atas meja belajarnya di mana boneka beruang raksasa milik Val itu di letakkan di dekat meja belajar Mika dalam kamarnya tersebut, mata Mika mengerjap melihat sebuah kartu yang ada di atas paha boneka beruang yang diberi nama oleh pemiliknya dengan ‘Mister Teddy’.
Yang kemudian kartu itu Mika ambil dengan keningnya yang Mika kerutkan lalu membaca isi kartu dimana di dalamnya terdapat goresan tinta tulisan tangan Val.
♣♣♣♣
“Val, kamu di dalam?”
Ada Mika yang sedang baru saja memasuki kamar pribadi Val.
__ADS_1
“Sorry, Val—“
“It’s okay, May.”
Val tersenyum pada Mika yang nampak merasa bersalah, karena main masuk saja ke kamar Val tanpa mengetuk kamar yang bersangkutan terlebih dahulu dimana nampak Val sedang lagi menangis di atas ranjangnya dengan menyembunyikan wajahnya di kedua kaki Val yang tertekuk.
“Kemari, May—“
“Iya, Val—“
“Kamu baru pulang?”
Val lalu bertanya dengan mengulas senyuman pada Mika yang sudah mendekat padanya, dan duduk di bagian ranjang yang tadi ditepuk-tepuk Val.
“Iya.”
♣♣♣♣
“Apa kamu sudah ke kamarmu terlebih dahulu sebelum ke sini, May?”
Val kembali melontarkan pertanyaan pada Mika yang telah duduk di dekatnya itu.
“Iya, udah. Makanya aku ke sini mencari kamu—“
“Terima ya, May?... kamu kan juga menyukai dan menginginkannya dulu.”
“Itu kan dulu, Val. Tiga tahun yang lalu...” tanggap Mika. “Lagipula dulu itu aku mengajak kamu memperebutkan Mister Teddy hanya ingin menggoda kamu aja kok Val.” ucap Mika lagi. “Kalau aku benar-benar menginginkan boneka seperti Mister Teddy, aku akan meminta Aunt Margareth untuk membuatkan satu untukku, bahkan yang lebih besar dan empuk dari Mister Teddy milikmu itu.”
“Tapi kamu mau menerima Mister Teddy kan, May?—“
“Itu kan boneka kesayangan kamu, Val... kenapa harus kamu berikan padaku?...”
“Kamu belum membaca isi kartu yang aku letakkan di paha Mister Teddy, ya?...”
“Sudah—“
“Berarti kamu kan mengerti kenapa aku ingin memberikannya pada kamu, May.”
“Iya antara mengerti dan tidak mengerti sih Val,” tanggap Mika. “Sorry, tapi Mister Teddy kan bukan pemberian Kak Kaf?... Jadi tidak ada kenangan menyakitkan yang menempel di sana?”
“Iya, memang tidak ada...”
“Lalu?...”
Mika menukas.
“Dan lagi apa maksudnya daripada Mister Teddy kesepian di kamarmu, makanya lebih baik dia bersamaku?—“
“Tidak ada maksud apa-apa, May,” tukas Val. “Hanya mungkin aku sudah bosan dengan Mister Teddy,” tambahnya.
“Kamu tidak berencana pindah dari London kan?” selidik Mika.
Val tersenyum. “Tidak kok, May,” jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu,” tanggap Mika dan Val masih mempertahankan senyumnya. "Aku tidak mau ya, sampai kamu mengasingkan diri--"
“May...”
“Yap?”
“Mau peluk, boleh?”
Mika mendengus geli sejenak.
“Sejak kapan kamu memerlukan ijin untuk memeluk saudarimu, Val?...”
Val terkekeh kecil dan langsung berhambur memeluk Mika yang kemudian balas memeluknya.
“Jangan berkecil hati ya, Val. Suatu hari kamu pasti akan menemukan kebahagiaan kamu,” tulus Mika sambil mengusap-usap punggung Val dengan lembut dan penuh perasaan.
“Ih, apa sih Val?” Mika mengurai pelukannya dengan Val. “Kita ga ada ya pembahasan ikatan kandung atau bukan?... Nanti kalau The Dads dengar, kamu dimarahi loh?...”
Val tersenyum lebar.
“Iya, maaf aku lupa,” ucap Val kemudian.
“Sudah ah, jangan bermelow-melow ria seperti ini.”
Mika berujar sambil menyeka air mata Val yang jatuh sebulir dari pipinya. Val mengangguk seraya tersenyum.
‘Karena entah kenapa hatiku menjadi sedih sekali saat kamu memelukku tadi...’ bisik Mika dalam hatinya.
“Oh iya, May,” cetus Val. “Kak Arya sehat-sehat kan, May?... kapan dia kembali ke London?” tanya Val kemudian.
“Iya, dia sehat. Dua minggu lagi paling cepat katanya.“
Val manggut-manggut kecil setelah mendengar jawaban Mika.
“May, boleh aku minta satu hal ke kamu?”
“Katakan saja, jika mampu akan aku berikan dan lakukan—“
“Rencana lamaran dan pertunangan kamu dan Kak Arya jangan dibatalkan.”
“Aku sudah tidak memikirkan hal itu, Val—“
“Tidak May, kamu harus memikirkannya.”
Val menukas.
“Kamu berhak bahagia May. Dan Kak Arya adalah kebahagiaan kamu—“
“Iya Val, tapi—“
“Ingat tidak betapa hancurnya kamu saat Kak Arya dikabarkan tewas?”
Val meraih tangan Mika yang kemudian mengangguk samar. “Aku ingat Val. Tapi aku tidak mungkin egois meneruskan rencana lamaran dan pertunangan aku dengan Arya sementara kamu dan—“
Mika menggigit lidahnya, tidak melanjutkan kalimatnya.
Val tersenyum teduh.
“Itu bukan keegoisan, May—“
“Val—“
“Janji May, janji jangan dibatalkan kalau memang Kak Arya jadi melamar kamu—“
“Aku—“
“May,” tukas Val serius. “Janji. Lamaran dan pertunangan kamu dengan Kak Arya harus tetap dilaksanakan, apapun yang terjadi... Ga boleh dibatalkan, apalagi kalau sampai kamu berpikir untuk memutuskan Kak Arya hanya karena ketidakberuntunganku... Tidak boleh, May. Tidak boleh. Aku tidak rela. Jadi kamu harus berjanji pada aku ya, May? Tidak boleh memutuskan Kak Arya hanya karena aku. Titik.”
Val menegaskan.
“Janji, May?” tuntut Val. “Kamu sayang padaku kan, May?...”
“Ya iya lah—“
“Berjanji kalau begitu. Tidak boleh memutuskan jalinan cinta kamu dan Kak Arya hanya karena aku.”
Val terlihat memaksa, karena entah kenapa ia menebak Mika terlalu memiliki rasa solidaritas yang kelewat tinggi antar saudara.
“Please, May. Berjanjilah padaku?” pinta Val yang kini melirih dengan wajah memelas. Mika menghela panjang nafasnya.
“Iya, aku janji,” ucap Mika kemudian. Val tersenyum senang.
__ADS_1
“Terima kasih, May. Janji, aku tidak akan minta apa-apa lagi pada kamu—“
♣♣♣♣
Siang beringsut menuju senja......
“Bagaimana jika malam ini kita dinner di luar saja?” Ada Poppa yang mencetuskan ide, kala semua orang telah benar-benar berkumpul di dalam mansion megah mereka yang ada di London tersebut.
“Sounds good!...” timpal Rery. “Mau ya, Val?”
Rery memandang kepada salah satu saudarinya itu.
“Tidak ah Rery, aku masih enggan keluar mansion.”
Val menolak seraya menggeleng.
“Memang kamu tidak bosan berada di dalam mansion terus?...”
“Sama sekali tidak, Daddy...”
Val menanggapi pertanyaan Dad R.
♣♣♣♣
“Tidak perlu mengkhawatirkan orang-orang di luar... Kami akan menghalangi orang-orang yang ingin bertanya padamu nanti, jika memang ada yang tahu-tahu usil...”
“Val tahu, Pop.”
Val menanggapi ucapan Poppa.
“Tapi apapun bisa terjadi, bukan? Diluar sana, bukan satu dua orang yang mengenal keluarga kita. Sudah tahu juga tentang per—“
Val menghentikan kalimatnya.
“Terlebih ada informasi yang bocor sebelum undangan disebar, bukan?“ tutur Val. “Val... Hanya belum siap untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan Val terima seputar apa yang tidak akan pernah terjadi. Val kalian ini kan cengeng...”
Val tersenyum, lalu terkekeh kecil.
“Jadi... Jika Val dihadapkan akan satu pertanyaan yang menyentuh ‘hal itu’, Val... Pasti tidak akan dapat menahan airmata Val keluar dari tempatnya... Nanti... Orang-orang pasti akan langsung mengeluarkan persepsi, lalu mengolok-olok kalian.”
“Tidak ada yang akan berani mengolok-olok keluarga ini, Sweety.” Mommy Ara angkat suara.
“Apapun dapat terjadi, Mom—“
♣♣♣♣
“How about a barbeque?”
Cetusan itu yang kemudian terdengar dari mulut Papa Lucca setelah semua orang saling mengkode untuk tidak memaksa Val yang masih enggan untuk keluar dari mansion megah mereka yang bertempat di London itu.
“Nah kalau itu, Val mau!”
“Tell maids to prepare it then ( Katakan pada para maid untuk menyiapkannya jika begitu )--”
♣♣♣♣
Malam yang indah penuh tawa di acara barbekyu dadakan pada area halaman belakang mansion utama The Adjieran Smith yang berada di London itu telah terlewati, dimana fajar telah menyingsing di atas langit bangunan mewah nan megah tersebut.
Semua penghuni utama mansion The Adjieran Smith London, telah berkumpul seperti semalam untuk melakukan sarapan di ruang jamuan.
“Semua, Val pamit ya?”
Val bersuara, ketika sebagian keluarganya nampak hampir selesai dengan sarapan mereka.
"Pamit kemana?--"
"Ke kamar."
Val mengulas senyuman dengan manisnya.
“Makananmu masih banyak, My Dear—“
“Val sudah kenyang Gappa—“
“Habiskan dulu makananmu. Setidaknya makanlah sedikit lagi agar kondisi badanmu tidak semakin menurun—“
“Tidak Daddy, Val sungguh sudah kenyang. Val sehat kok, tenang saja, Dad,” tukas Val, dan Dad R menghela nafasnya sedikit berat.
“Dad R benar, Val, sayang... Makanlah sedikit lagi, dan lagi kamu nampak lelah. Kamu kurang nutrisi, terlebih pasti kamu tidak tidur dengan baik semalam, bukan?...”
“Iya, Gamma.”
Val menyahut dan tersenyum.
“Val memang lelah dan kurang tidur. Makanya Val ingin istirahat—“
“Ya sudah, katakan pada kami jika ada yang kamu butuhkan ya?...”
“Tidak, Momma. Semua sudah cukup. Val tidak akan butuh apa-apa lagi—“
“Tapi nanti siang janji harus makan yang banyak ya, Val?...”
Val hanya tersenyum menanggapi ucapan Ann barusan.
“Aku antar ke kamarmu.”
“Tidak, May. Tidak perlu. Kamu teruskan saja sarapanmu—“
“Tapi benar ya, kamu beristirahat dan bukannya mengurung diri di kamar untuk menangis lagi?...”
“Iya, janji. Val tidak akan menangis lagi. Val akan benar-benar beristirahat—“
♣♣♣♣
Untuk kata yang tercekat di tenggorokan, goresan tinta dapat menjadi perwakilan.
Dear my family yang blaem - blaem 😄😄,
I love you all that much, and I’m sorry.
“Sekali lagi, Val mohon maaf, ya, semua?..”
Senyum berselimut air mata ada di wajah Val setelah ia menggoreskan banyak kata di selembar kertas.
"Sayaaang sekali pada kalian..."
Yang Val katakan setelah ia kecup satu figura yang berisikan foto yang mencakup seluruh keluarganya.
"Ma-aff... Val, pengecut..."
Isakan tertahan terdengar.
"Val, hanya tidak sanggup menahan sakit di hati Val karena Kak Kafeel... Tidak ter-tolong... Kalian akan bersusah hati lebih lama karena Val tidak akan pernah baik-baik saja... Dan melihat kalian bersusah hati lama-lama karena Val... Val, akan lebih tersiksa nantinya dengan rasa bersalah Val pada kalian... Val... Tidak akan sanggup menanggungnya..."
Yang Val dekap figura yang ia ajak bicara itu kemudian dengan erat dan kuatnya, dengan isakan yang sebisa mungkin ia tahan namun tubuh Val bergetar hebat.
Untuk sesaat, Val tenggelam dalam tangisannya yang tertahan.
Hingga kemudian senyuman terbit di wajah Val sambil ia usapi airmatanya, sambil mencium kembali figura foto berukuran sedang, yang memajang fotonya dan seluruh keluarga. Salinan dari salah satu foto keluarganya yang berukuran besar.
Val usap dengan penuh perasaan figura foto itu kemudian, sambil Val berucap pelan dan lembut pada figura tersebut.
"Val, pamit, ya?..."
**
__ADS_1
To be continue......