HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
WHEN A MAN LOVES A WOMAN


__ADS_3

WHEN A MAN LOVES A WOMAN


(Saat Seorang Pria Mencintai Seorang Wanita)


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...


“Ya sudah ya, aku pulang sekarang kalau begitu ...” pamit Kafeel pada Val, sambil mengusap lembut satu sisi wajah Val.


“Iya, Kak ...” sahut Val.


Cup!.


Sebuah kecupan ringan di kening Val, Kafeel berikan.


Ringan saja itu kecupan, tapi cukup berdampak luar biasa untuk hati Val.


“Love you Val cantik, see you tomorrow!”


“See you tomorrow, and love you more....”


Cup!


Val mengecup satu pipi Kafeel yang kemudian langsung tersenyum lebar.


‘Ga apa deh tahan dulu sambar bibir, kalo pipi gue sering-sering dikecup begini sama Val.’


Hati pria yang sudah terkena virus bucin itu berbisik.


“Langsung bobo ya? ...”


Val mengangguk sembari tersenyum menanggapi ucapan Kafeel barusan.


“Kakak juga. Sampai ke rumah langsung istirahat, jangan lagi mengurusi kerjaan.”


“Oke, Val cantik, My lovely ...”


Kafeel mengecup ringan punggung tangan Val sebelum ia masuk mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari Kediaman Utama keluarga besar kekasih kecilnya yang berada di Jakarta itu.


Val tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Kafeel, yang balas melambai padanya dengan melempar seutas senyuman pada Val sebelum melajukan mobilnya tadi.


Baru kemudian Val masuk ke dalam Kediaman dengan hati yang berbunga-bunga.


Val bahagia.


Bahagianya seperti bertambah saja terus setiap kali mendapat perlakuan manis dari Kafeel.


Rasanya Val masih tidak percaya jika kini ia dan Kafeel telah menjadi sepasang kekasih.


Tak menampik juga, jika ia sempat punya pikiran jika Kak Kafeelnya itu pada akhirnya mengaku mencintainya karena cape ‘dikejar’ Val, atau mungkin sudah merasa tidak enak pada keluarga Val.


Namun semua dugaan-dugaan Val itu hilang, karena Val hanya menemukan tatapan kasih sayang bermakna dalam di sorot mata Kafeel padanya.


Sikap Kak Kafeelnya itu terlalu hangat dan manis, jika pernyataan cinta dari pria yang Val inginkan untuk menjadi imam dalam hidupnya hanyalah berdasar rasa kasihan.


Jika kasihan, tidak mungkin Kak Kafeelnya itu menghadap dan bicara pada keluarganya untuk meminta ijin menjalin hubungan dengannya.


“Aku tidak hanya ingin sekedar menjalin hubungan dengan Val... Aku serius, dan akan mempersiapkan diriku untuk itu. Jadi mohon berikan aku kesempatan. Meski aku, jauh dari kata sempurna untuk bersanding dengannya --”


Val teringat ucapan Kafeel sore tadi saat meminta ijin untuk menjalin hubungan dengannya di hadapan Gappa dan lainnya di ruang santai keluarga mereka dalam Kediaman.


Efeknya, Val jadi tersenyum lebar lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu badannya bergerak bak cacing kremi, akibat gemes sendiri.


♥♥♥


🎵There goes my heart beating, cause you are the reason...🎵


Val bersenandung riang sambil berjalan menuju pada lift dalam Kediaman. Senyum seolah terpatri di bibir Val, hingga terus saja terpasang di wajah imut Val itu.


“Apa bibirmu tidak merasa cramped (kram)? ...”


Sebuah suara dengan kalimat sindiran terdengar berseloroh di telinga Val bersamaan dengan sosoknya yang sedang duduk di ruang keluarga bagian tengah Kediaman bersama tiga orang lainnya, saat Val melewati ruangan tersebut ketika ia berjalan menuju lift.


Val menghentikan langkahnya lalu berhenti sambil cengengesan.


“Eh Papi! Papa Bear, Daddy Boo-Boo, Mami!” sapa Val pada empat orang yang berada di ruang tengah Kediaman Utama mereka itu.


Lalu Val mendekati ke empatnya.


“Pasti mau menggibah sebelum tidur ya? ....”


Selorohan keluar dari mulut Val, yang membuat ke empatnya mendengus geli.


“Aku duluan ke atas ya?”


Val berpamitan pada ke empatnya.


“Ya sudah sana.” Sahut Daddy Jeff.


“Ayo Mih, bareng sama Val ke atas pakai elevator.”


“Kamu aja lah sana yang naik lift. Kamar Mami sama Papi cuma se-lantai di atas aja kok.”


Mami Prita menyahut.


“Okay deyyy! ....” tukas Val. “Selamat malam my four lovely parents from many (empat orang tua dari banyak orang tua tercintaku ) ....”


Val kemudian mengecupi satu-satu pipi empat orang tuanya itu sebelum melanjutkan langkah menuju lift.


“Selamat malam.”


Ke empat orang tua itu pun menyahut kompak pada Val.


“Eh iya....”


Val menghentikan langkahnya tiba-tiba.


“Mobil akomodasi bandara tadi rasanya sudah Val tidak lihat lagi sejak tadi saat kita berangkat dinner di carport depan?”

__ADS_1


“Sudah dibawa ke bengkel tak lama setelah kau dan Kafeel datang. Setelah selesai, ya dikembalikan lagi ke tempatnya.”


“Ke Airport?” tanya Val.


“Bukan, ke rumah tetangga!” celoteh Mami Prita yang membuat mereka semua terkekeh kecil.


“Ya sudah kalau begitu, Val ke kamar duluan yaaa... nitey nite again...”


“Nitey nite...”


Ke empat orang tua itu pun kembali membalas ucapan selamat malam Val, yang kemudian langsung berlalu dari hadapan mereka untuk berjalan menuju tempat lift Kediaman berada.


♥♥♥


Keesokan hari, di suatu tempat yang berbeda...


🎵Senada cinta bersemi diantara kita... Menyandang anggunnya peranan jiwa asmara...🎵


Seorang pria dengan gegap gempita berikut wajahnya yang bersinar terang, seterang mentari yang sedang bersinar di luar, menghampiri dua wanita yang sedang berada di meja makan sebuah Town House bertingkat dua.


“Pagi Bun, Len...”


Pria itu menyapa dua wanita tersebut dengan ceria, sambil mengecup salah satu pipi wanita yang ia panggil ‘Bun’.


“Pagi A’.”


Kedua wanita beda usia itu balik membalas sapaan si pria, yang adalah Kafeel.


Dan kedua wanita tersebut adalah ibu dan adik kandung Kafeel. Yang kemudian saling lempar tatap.


Ibu dan adik kandung Kafeel sampai mengernyit melihat Kafeel pagi ini. Ada yang berbeda darinya. Pria itu nampak sangat ceria.


Nampak begitu sangat senang, sampai mengoles roti pakai bersiul segala. Hal yang tidak pernah Kafeel lakukan selama ini. “Kenapa?....”


Kafeel yang tadinya ingin menggigit sehelai roti berisikan olesan selai kacang yang telah ia lipat itu mengurungkan niatnya, karena menyadari tatapan heran dari adik dan ibunya.


“AA abis menang tender? ...”


“Engga ... Lupa aku kerja dimana Bun?. Ga akan ada tender yang dimenangkan, karena rata-rata mereka justru melobi Perusahaan Adjieran Smith dan R Corp. serta perusahaan-perusahaan milik pribadi anggota keluarga mereka itu ...”


“Oh iya ya ...”


“Abis menang lotre? ...” gantian adiknya Kafeel yang bertanya.


“Haram.” Tukas Kafeel.


“Alhamdulillah, anak Bunda beneran insaf!”


“Insaf dari mana sih, Bun? ... Mana pernah aku main judi coba? ...”


Kafeel menggigit rotinya.


“Iya emang kamu ga pernah main judi, tapi kan kamu dulu ngelakuin itu ‘keharaman’ dengan beberapa cewe yang jadi pacar kamu makanya pernah dipukul ayah? ...”


“Ya itu kan dulu Bun. Itu juga Cuma sama yang statusnya pacar. Dan itu juga kalo cewenya mau.”


“Terus sekarang beneran udah engga? ...”


Ibunya Kafeel memastikan dan Kafeel segera mengangguk, menggigit kembali rotinya.


Kafeel menjawab pertanyaan sang ibu setelah ia menelan roti yang tadi digigit dan dikunyahnya.


“Cari ‘kesenangan’ dengan perempuan? ...”


“Kalau yang Bunda maksud adalah ‘cinta satu malam’ yang berakhir di ranjang, engga. Apapun itu yang berhubungan dengan yang namanya ‘kesenangan’ dengan perempuan, engga. Aku menghabiskan waktu di kantor dan langsung pulang ke apartemen kalau aku ga pulang kesini. Bisa cek ke kantor kalo ga percaya, atau tanya sendiri sama Alva ...”


Kafeel bicara panjang lebar, lalu menyesap kopi yang telah dibuatkan oleh sang ibu.


“Alhamdulillah kalo gitu ... Terus ini hari kayaknya seneng banget, kalau ga karena menangin tender atau lotre----“


“Menangin hati cewe.” Sambar Kafeel sebelum ibunya itu selesai bicara.


“Seriusan?!” Ibu dan adik Kafeel memekik antusias. Kafeel pun mengangguk.


“Eh ralat, menangin hatinya udah lama.... Baru dapetin orangnya kemarin.” Kata Kafeel. ‘Secara pacar bocil gue itu kan memuja gue udah sejak lama.’


Kafeel mengulum senyuman.


‘Sekarang rasanya gue seneng berkali lipat dipuja oleh Val!’


Dan mulai asik sendiri dengan lamunan ala bucin.


‘Karena gue pun sudah memuja dia juga! Bidadari idaman yang sudah dalam genggaman!. Tinggal nyiapin baju besi buat menghadapi bapaknya yang titisan ‘naga’!’


Si AA masih cengengesan.


“Serius kayaknya sih Bun kalo si AA punya udah pacar plus jatuh cinta abis sama itu pacarnya ....” Lena berbisik pada sang ibu. “Liat aja itu mukanya si AA, sinarnya ngalahin cahaya matahari di luar.”


“Iya kayaknya. Tuh udah kayak semar mesem juga AA kamu....”


Lalu dua wanita itu cekikikan.


“Eh, tapi A’ ..” cetus Lena.


“Hm? ...”


Kafeel menanggapi sang adik.


“Kalo AA lagi jatuh cinta sama cewe terus AA udah punya pacar, AA udah kasih tahu Val? ... secara dia kan cinta mati sama AA ... biar gimana kan AA harus kasih tau dia, biar ga nungguin AA lagi .... meskipun aku kok kayaknya ga tega ngebayangin reaksinya Val kalau dia tau AA udah punya pacar dan bukan dia yang menangin hati AA?” kata Lena panjang lebar.


“Iya, A’. Ngomongnya baik-baik nanti sama Val. Bunda rasanya udah sedih duluan nanti kalo dia kamu kasih tau soal kamu yang udah punya pacar. Biar gimana juga, Bunda udah sayang sama Val seperti anak sendiri ...Jadi AA nanti pelan-pelan kasih tau Val, biar walaupun hatinya sakit, tapi engga sedih-sedih amat kalo tau kenyataan kamu udah punya pacar ...”


Ibunda Kafeel juga ikut bicara panjang lebar seperti Lena. Sementara Kafeel tersenyum penuh arti.


“Val ga akan sakit hati---“


Lalu Kafeel berbicara.


“Ngomong-ngomong cewe AA kita orang kenal? .....”


Sang Ibunda juga berbicara disaat yang sama dengan Kafeel untuk bertanya.


“Sangat kenal.”

__ADS_1


Kafeel segera menyahut.


“Oh ya?..” Sang ibu dan adik Kafeel menanggapi antusias.


“Hm..”


“Siapa A’?..”


Lena bertanya lagi, dan sang ibu menyesap teh nya.


“Ya Val, pacar AA sekarang...”


Bluurrrfffff.


“Uhuk, uhuk ....”


Ibunda Kafeel jadi keselek teh manis.


Kafeel dan Lena segera tanggap untuk menolong ibunda mereka itu.


“Pelan-pelan minumnya Bun, Aw!”


Kafeel yang sudah mendekati sang bunda untuk mengelus punggungnya itu, terdengar juga mengaduh.


“Sshhh, perih Bun---“ kata Kafeel yang juga meringis akibat kepretan maut emak-emak di lengannya.


“Kamu jangan main-main A’!”


Bukannya peduli pada ringisan sang anak lelakinya, wanita paruh baya itu memekik sambil mendelik tajam pada anak sulungnya itu.


“Main-main gimana sih Bun? ....” sahut Kafeel sambil mengusap-usap lengannya.


“Ya itu kamu bilang kalo pacar kamu itu si geulis Val?!”


Ibunda Kafeel masih mendelik tajam pada anak lelakinya itu.


“Ya emang benar, Bun---“


“Seriusan A’?---“


“Ga! Ga! Bunda ga setuju!” seru bundanya Kafeel.


“Yah?! Kok gitu?!”


Kafeel menatap heran pada sang Bunda.


“Bukannya Bunda sayang banget sama Val? ----“


“Ya justru karena Bunda sayang banget sama dia, makanya Bunda ga setuju kamu macarin dia!”


“Loh, kenapa gitu?! ...”


“Kenapa gitu, kenapa gitu ... ya gitu! Bunda ga rela si geulis Val dapet cowok second!”


“Astagfirullaaaah, HP kali second!”


“Ya emang kamu second. Bukan perjaka ting-ting!”


“Bunda nih, aneh!”


Kafeel kembali lagi ke tempat duduknya.


“Tadi bilang katanya jangan nyakitin Val, bla, bla, bla ... Sekarang aku bilang aku udah pacaran sama dia, protes juga ...”


Kafeel merungut kemudian.


“Jadi aku tanya, 🎵Bunda maunya apaa?.... 🎵”


Si AA bertanya pada sang Bunda, sambil bernyanyi bak Uncle Judika, lalu kembali menyesap kopinya sambil menggeleng pelan, dengan wajah sebal.


Sementara Lena cekikikan.


“Ya Bunda maunya selain kamu bahagia, si geulis Val juga bahagia ----“


“Nah, ya sudah, keinginan Bunda udah tercapai kan?. Aku adalah kebahagiaan Val, dan sekarang Val adalah kebahagiaan aku ......”


Lalu ibunda Kafeel mendengus kasar.


“Bunda ngomong serius nih ya.....”


“Ya memang aku main-main? .....” sahut Kafeel. “Lagian kenapa sih Bun, karena perbedaan umur aku sama Val makanya Bunda sewot?...”


“Kamu, kita semua tahu persis kalau si geulis Val itu kan tergila-gila sama kamu dari sejak dia ABG... tapi kan selama ini kamu ga mau nanggepin .... tau-tau sekarang kamu katanya udah pacaran sama dia? .... bukan berdasar rasa kasihan kan? Karena Bunda ga rela ya, kalau kamu akhirnya menerima si geulis Val berdasarkan rasa kasihan, lalu pada akhirnya kamu nyakitin dia saat si geulis Val tahu kalau kamu mau pacaran sama dia hanya karena kasihan ... Kalo soal umur sih Bunda ga masalah. Bunda sama ayah kamu juga beda sepuluh tahun.”


“Bun, nih ya, dengerin ucapan aku baik-baik...”


Kafeel langsung merespon ucapan sang ibunda yang panjang lebar itu.


“Aku mencintai Val. Mungkin, ga sebesar cinta Val ke aku. Well, pada kenyataannya aku ga bisa membandingkan cintaku dengan cinta Val yang luar biasa itu. Tapi, aku, Kafeel Adiwangsa, mencintai Val. Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith. Dan ya, aku memang baru mengakuinya. Baru berani mengakui, tepatnya.”


“Benar kamu memang mencintai si geulis Val?...”


“Benar.”


Kafeel menyahut mantap.


“Aku rasa aku sudah mencintainya sejak lama ... tapi yah, pertimbanganku karena Val berbeda umur jauh denganku, aku menampik itu dari hatiku ..... tapi kemarin saat Val bilang sudah mau berhenti dekat denganku seperti selalunya selama ini, aku rasa ga rela---“


“Ga rela karena ga bakalan dikejar-kejar lagi macem artis Korea Selatan  yang dikejar fansnya? ...” potong sang ibunda.


“Ya engga lah! Bukan gitu!”


Kafeel pun menyergah.


“Waktu Val bilang mau ‘membebaskan’ aku, hati aku rasanya nyess gimana lah gitu. Susah dijelaskan. Yang jelas aku ga rela. Udah gitu lah pokoknya. Aku cinta dia, cinta Val. Yakin? Iya aku yakin, sangat yakin. Kenapa? Karena aku ga pernah merasakan hal yang aku rasakan pada Val sama cewe-cewe yang pernah aku pacarin, bahkan yang pernah aku seriusin.”


Gantian Kafeel yang bicara panjang lebar pada sang ibunda.


“Baru ini aku merasa, ingin selalu terlihat baik dimata seorang perempuan.... yang hanya dengan mengingatnya saja, dapat membuatku tersenyum macam orang bodoh. Membuatku merasa, jika aku tak memilikinya dalam hari-hariku, aku layaknya taman bunga yang tak terkena sinar matahari, yang tidak disirami, lalu mati ...”


“Ya Allah, AA ...”


“Picisan? ... aku tidak perduli orang berkata apa. Walau dia hanya seorang gadis belasan tahun, tapi seperti itu kiranya, pada Val aku merasa. Setelah cukup lama aku takut untuk mengakuinya ....”

__ADS_1


♥♥♥♥


To be continue....


__ADS_2