HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 93


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Memang Kak Kafeel habis membicarakan apa dengan The Dads selepas Val meninggalkan kalian untuk berganti pakaian?-“


Val bertanya perihal ucapan Daddy R tentang screening test yang Kafeel katakan jika itu hanya sebuah guyonan saja. Namun karena Val penasaran, jadi ia bertanya pada Kafeel tentang apa yang kekasih setengah om-omnya itu bicarakan dengan para Dad-nya saat Val undur diri selepas minta ijin bersama Kafeel untuk pergi ke rumah pria itu dari para Dad-nya Val.


Yang Val tebak, pasti para pria itu terlibat sebuah obrolan tentang satu topik-karena saat Val selesai berganti pakaian dan sedikit memoles wajah lalu mengatur rambutnya agar rapih dan cantik sedemikian rupa dengan cepat dan setelahnya langsung menyambangi The Moms serta para kakek dan neneknya kembali, baik Kafeel ataupun para pria yang ada di ruang billiard tidak ada di tempat The Moms dan Aunt Shireen berada saat Val menyambangi mereka, setelah rapih-rapih diri.


“Ini tentang masa lalu aku, Val ... tentang bagaimana pergaulanku dulu dan sejauh mana. Dan itu buruk.” Jawab Kafeel. “Dan aku ingin mengatakan semua itu ke kamu-The Dads sudah tahu, tapi entah The Moms. Yang Dad R katakan padaku, hanya mereka belum menceritakannya pada kamu, Val .... Tapi sebelum aku katakan itu pada kamu, aku hanya ingin kamu tahu, kalau semua itu jejak masa lalu yang sudah lama sekali dan sudah beberapa tahun belakangan ini aku sedang memperbaiki diri—“


Kafeel menggenggam satu tangan Val.


“Seharusnya memang, aku katakan ini dulu ke kamu sebelum aku meminta kamu untuk menjalani hubungan dengan aku--Untuk keterlambatan itu aku minta maaf ...”


“........”


“Tapi satu hal yang aku ingin kamu yakini, kalau aku tulus dan sungguh – sungguh menyayangi, mencintai kamu, Val ... Dan aku harap, setelah aku menceritakan semua keburukan aku dimasa lalu, kamu, tetap dapat menerima aku—“


“Itu tergantung, Kak ...” potong Val, dimana Kafeel sontak menoleh fokus pada Val.


Kemudian Kafeel tersenyum tipis, lalu sejenak fokus dulu untuk menyetir dan memperhatikan jalanan. “Maksud ... Val tergantung itu ... gimana? ...”


Tak lama Kafeel bertanya dengan suara yang terdengar sedikit was-was seraya menoleh pada Val.


Sedikit ada was-was di hati Kafeel tentang ucapan Val setelah Kafeel bilang jika dirinya berharap seburuk apapun masa lalunya setelah Val tahu, Val bisa menerima diri Kafeel apa adanya.


Fokus Kafeel kini benar-benar terbagi dua.


Pada kemudi dan pada Val. Dimana satu sisi Kafeel harus fokus pada jalanan dan mengemudi dengan hati-hati demi keselamatan. Keselamatan Val tentunya yang utama bagi Kafeel.


Dan fokusnya satu lagi terarah pada gurat wajah Val, yang berhubungan dengan tanggapan Val yang mengatakan ‘Itu tergantung, Kak ...’.


Sungguh membuat Kafeel ambigu.


Tergantung yang bagaimana, yang Kafeel tak tahu.


Apa Val punya opsi?. Yakni pilihan yang akan menjadi pertimbangan Val atas penjelasan Kafeel tentang masa lalunya.


Apa jika Val masih rasa itu bisa diterima olehnya, Val akan tetap mau meneruskan hubungan asmara mereka.


Tapi jika tidak, maka makna tergantung itu adalah Val memilih untuk mundur?-kiranya seperti itu yang sedang Kafeel pikirkan saat ini.


Jadi, pertanyaan Kafeel pada dirinya sendiri,


‘Apakah aku yang udah beberapa kali berhubungan intim dengan beberapa mantan aku itu akan kamu pandang jijik Val? ...’


Kafeel jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Rasanya Kafeel jadi agak ragu untuk mengatakan fakta yang itu pada Val.


Well, memang sih Kafeel akan lapang dada jika Val tidak bisa menerima kebenaran atas masa lalunya yang mana mengacu pada Kafeel yang sudah bukan perjaka tong-tong lagi.


Dan parahnya, bukan sekali dua kali Kafeel melakukan hubungan badan dengan seorang wanita. Dan yang lebih memperparah, bukan juga dengan satu wanita saja Kafeel melakukan hubungan yang sangat diharamkan jika tidak terikat tali pernikahan.


__ADS_1


“Maksud ... Val tergantung itu ... gimana? ...”


Tak lama Kafeel bertanya dengan suara yang terdengar sedikit was-was seraya menoleh pada Val selepas Val menanggapi ucapannya tentang masa lalu yang ingin Kafeel buka pada Val.


“Tergantung dari apa?”


“Dari apa yang digantung.” Lalu Val mengulum senyumnya.


“Mak – sud? ... Val? ...” tanya Kafeel sambil ia membagi fokusnya dengan kemudi dan jalanan selain pada Val.


Wajah Kafeel sedikit sulit diartikan saat ia menoleh pada Val lagi. Val yang tadi mengulum senyumnya, kini mendengus geli.


“Kak Kafeel nih, mau membicarakan masa lalu saja wajahnya sampai setegang itu? ...”


“Karena ini hal sensitif Val.”


Kafeel pun dengan cepat menyahut untuk menanggapi ucapan Val barusan.


“Karena satu hal tentang masa lalu aku ini mungkin menyentuh ranah kesensitifan seorang wanita yang menginginkan pasangan yang sempurna –“


Kafeel lanjut bicara. Menoleh sekali lagi pada Val.


“Seorang pria baik-baik tanpa minus kelakuan.” Sambung Kafeel. “Dan mungkin kamu satu diantaranya Val.”


Kafeel menghela pendek dan samar nafasnya.


“Yang menginginkan pria sempurna dan baik, sebagaimana halnya kamu yang tanpa cela. Sementara aku tidak sempurna dan tidak sebaik yang kamu pikir selama ini—“


Kafeel kembali menggenggam satu tangan Val.


“Mungkin terlambat untuk aku mengatakan ini ke kamu ... Saat di pantai itu aku-hatiku dilanda ketakutan akan kehilangan kamu. Kamu yang mengejar aku tanpa jeda, yang malah menciptakan rindu kalau sehari aja aku ga diganggu kamu.”


“Karena rasa akan takut kehilangan kamu itu, aku jadi ga kepikiran untuk bertanya dulu, sejauh mana kamu tau tentang aku.” Ucap Kafeel lagi. “Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” Sambung Kafeel. “Untuk aku mengatakan pada kamu keburukan aku dimasa lalu –“


“Masa lalu itu kan sudah berlalu Kak. Baik, apalagi buruknya Val rasa tidak perlu dibahas.” Potong Val. “Kalau yang baik diceritakan sih bisa menjadi bahan obrolan senda gurau pada suatu saat. Tapi kalau hal buruk, bukankah tidak perlu diingat-ingat lagi? ...”


Val kemudian menampakkan senyumnya pada Kafeel.


“Meski begitu Val. Aku ingin terbuka ke kamu. Semua hal tentang kamu, setidaknya dari sejak kamu remaja banyaknya, sampai dengan detik ini sedikit banyak aku tahu. Yang terlihat di diri kamu saat ini ya memang kamu –“ tanggap Kafeel. “Sementara aku yang terlihat sebagaimana aku yang sekarang, punya rentetan perilaku buruk dimasa lalu, bahkan yah, tercela-“


Lampu merah sekali lagi, dan momen itu Kafeel gunakan untuk menatap Val lekat-lekat.


“Dan aku ingin kamu tahu itu, terlepas bagaimana tanggapan kamu ke aku setelahnya.”


Kali ini Kafeel sedikit memiringkan tubuhnya dan menggenggam tangan Val lagi, sambil satu tangan Kafeel yang lain membelai lembut kepala Val.


“Tapi aku ingin kamu tahu, kalau aku tulus dan sungguh-sungguh mencintai kamu---“ Kata Kafeel. “Walau mungkin, kamu akan merasa jijik ke aku--”


“Karena Kak Kafeel sudah tidak virgin lagi?” potong Val. Dan Kafeel sontak menampakkan wajah keterkejutannya.


Namun saat Kafeel hendak langsung akan berkata, suara klakson dari mobil di belakangnya membuat Kafeel urung dan spontan melirik ke arah luar kaca mobil dimana lampu lalu lintas telah berganti hijau.


Dan Kafeel dengan cepat menetralkan perseneling mobilnya kemudian tancap gas dengan kecepatan standar.


“Kalau tentang itu Val sudah tahu –“

__ADS_1


Val lanjut bicara, saat Kafeel sejenak fokus pada kemudinya.


“Loh Kak, kok kita masuk kesini? Kak Kafeel lapar lagi? Tapi bukannya Kakak ga terlalu suka junk food ya?” Val mengalihkan topik dan spontan bertanya, karena Kafeel mengarahkan mobil yang ia kemudikan ke sebuah restoran siap saji.


“Engga sih—“


Kafeel dengan cepat menyahut.


“Aku sedikit kurang fokus untuk mengemudi, jadi aku rasa kita harus berhenti sebentar.”


“Oh –“ tanggap Val.


“Val mau makan lagi?---“ tanya Kafeel.


“Engga Kak, Val masih kenyang ---“ jawab Val.


“French fries?”


Kafeel kembali menawarkan Val, saat sudah masuk ke antrian drive – thru pada sebuah restoran cepat saji yang mobil Kafeel masuki.


Val menggeleng. “Kalau Kak Kafeel mau silahkan saja ...”


“Flurry aja, mau?---“


“Hemm. Mau deh kalau itu!”


*


Kafeel sudah memberhentikan mobil yang ia kemudikan di area parkir sebuah restoran cepat saji yang ia dan Val sambangi saat ini, setelah memesan dua cup es krim pada gerai drive-thru di restorang cepat saji tersebut.


Kafeel cukup kaget mendengar pengakuan Val yang katanya sudah tahu tentang pergaulan bebasnya dengan beberapa mantan pacarnya dulu, dan Kafeel menjadi sedikit gelisah selain penasaran tentang Val yang sudah mengetahui salah satu perilaku buruknya itu.


“Jadi Val sudah tahu, soal-“


“Soal Kak Kafeel yang sudah tidak virgin lagi?”


“Iya, Val ...” jawab Kafeel ragu-ragu, sedikit lirih. “Jadi, kamu sudah tau soal itu? ...”


“Iya Val sudah tahu.” Sahut Val. “Termasuk siapa saja mantan-mantan Kak Kafeel yang pernah bercinta dengan Kakak---“


Val memasukkan sesendok es krim dari cup yang sedang ia pegang dan nikmati itu. Nampak santai, berbeda dengan Kafeel yang wajahnya nampak sedikit tegang.


Selain gurat penasaran penuh tanda tanya serta keheranan yang terlihat di wajah Kafeel saat ini.


“Tapi Uncle R bilang sama aku, kalau beliau dan The Dads tidak pernah menceritakannya pada kamu? ...”


“Memang mereka tidak pernah menceritakan pada Val tentang itu.”


“Lalu, bagaimana kamu bisa tau?—“


Kafeel semakin penasaran.


Val pun menoleh dan menatap Kafeel.


“Waktu itu ---“

__ADS_1


♥♥


To be continue....


__ADS_2