HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BURY


__ADS_3

(Pendam)


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia ....


“Hati – hati ya kalian semua?” Ini Nenek Yuna yang sedang berbicara, pada mereka yang sudah bersiap untuk meninggalkan rumah Keluarga Cemara untuk pergi ke Bandara, lalu bertolak ke London.


Mereka yang akan bersiap ke London itupun tersenyum dan mengiyakan ucapan Nenek Yuna, yang kemudian disusul oleh ucapan-ucapan bermakna sama dari mereka yang tetap stay di Jakarta dan Bekasi.


“Kamu juga Yuna, dan semua-Bela, lebih-lebih kamu Herman, jaga kesehatan kalian,” ucap Gamma sebelum pergi kepada para besannya dan Gappa yang tetap tinggal di rumah Keluarga Cemara dan Kediaman Utama yang berada di Jakarta.


“Iya –“


Ketiga orang yang tadi disebut oleh Gamma pun mengiyakan ucapan Gamma.


“Kamu juga Mba Erna, Mister Anthoni, Mba Anye. Sama, pada jaga kesehatan juga ....”


Ene Bela berujar.


Gamma, Gappa dan Oma Anye yang gantian mengiyakan ucapan Ene Bela yang mewakili Nene Yuna dan Ake Herman.


“Tentu, kami akan menjaga kesehatan,” ucap Gappa.


“Tentunya. Karena kita akan punya cucu menantu dalam waktu dekat,” tukas Oma Anye.


“Oh iye bener,” timpal Ake Herman.



Para kakek dan nenek kemudian jadi malah antusias membicarakan bakal acara yang akan membuat mereka memiliki cucu menantu yang kemungkinan besar akan terwujudkan tahun ini. “Mending sekalian aja Chel, Wa, itu si Mika berbarengan dengan Val menikahnya .... Hemat tenaga dan waktu, kan itu? ....”


Gamma mencetuskan saran pada bungsu kandungnya serta suami dari putri bungsunya itu.


“Iye bener tuh. Biar kate si Arya Kamandanu lebih muda dari si Kapel, kan udeh cukup usia juga itu bukannya die buat nikah?”


Ake Herman menimpali ide Gamma sambil memandang dan mengkode pada Arya yang terkekeh karena sebutan nama yang disematkan oleh Ake Herman padanya.


Selain Arya, ya mereka yang mendengar Ake Herman suka sekate-kate lidahnya aja kalau menyebut nama orang itu pun ikutan terkekeh seperti si Eks-Sadboy.


“Arya Narendra, Ake ....”


“Tau. Seneng amat gonta-ganti nama orang.“


Momma menimpali ucapan Via yang terkekeh itu ,meralat sebutan nama Arya yang disebutkan oleh Ake Herman.


“Harap maklum, taunya film Tutur Tinular sama Si Buta Dari Goa Hantu ya begitu deh!”


“Ye, Papah juga suka nonton pelem boxopis!” tukas Ake Herman, yang lagi-lagi ucapannya mengundang kekehan orang-orang.



“Bagaimana, apa kau sudah siap untuk melamar Mika, Ar? –“ ucap Daddy Dewa dengan senyuman lebarnya, pada Arya yang mesam-mesem. “Benar itu yang dibilang sama para kakek dan nenek, kalau kamu-May dan Kafeel-Val barengan nikahnya, kan kami jadi hemat tenaga dan waktu, macam waktu Papi-Mami dan Papa-Mama Bear menikah yang hanya berbeda waktu akad nikahnya aja.“


“Ya siap ga siap sih sebenernya.”


Arya merespon ucapan Daddy Dewa.


“Pengennya I mendulang sukses dulu macam kalian, baru nikahin Mika. Tapi kalo emang disuruh ngelamar cepet-cepet sih, aku oke-oke aja, Dad. Yang jadi masalah kan incess judesnya itu mau engga diajak nikah cepet-cepet? ....”


“Yakinkan dong ....”


Ann nimbrung pada pembicaraan yang sedang berlangsung sambil menyampirkan tas ranselnya.


Yang mana tas ransel Ann kemudian diminta salah seorang ART untuk ia bawakan dan sekalian masukkan ke dalam mobil yang akan Ann tumpangi menuju bandara nanti.


“Ngeyakinin satu sodara kamu kalo aku beneran cinta sama dia aja susahnya minta ampun, Ann,” tukas Arya. “Lagian dia kan juga ga bakal mau nikah cepet-cepet.”


“Ya itu, benar yang Ann bilang .... Kau yakinkan dia jika memang kau serius ingin cepat-cepat menikahi Mika. Kecuali kau sendiri masih setengah hati.”


“Setengah hati jelas engga dong, Papa Bear,” tukas Arya. “Cinta banget ini sama Neng Judes—“ tambah Arya. “Cuma ya seperti yang aku bilang tadi, jika memang Mika berubah pikiran dan mau menikah muda macam Val, aku akan menanggapinya dengan sangat serius—“


“Good..” ujar Daddy Jeff. “Kami pegang ucapanmu.”


Arya tersenyum pada Daddy Jeff yang menepuk-nepuk punggungnya.


“Tapi kalo soal dibarengin nikahnya, tuh tanya dulu sama juragan onta,” celoteh Arya sambil mesam-mesam memandang Kafeel yang orangnya lalu terkekeh. “Mau ga dia nikah barengan? ..”


“Gimana Ka?”


Daddy Jeff beralih pada Kafeel sambil ia tersenyum lebar.


“Mau nikah barengan sama ini si Eks-Sadboy andai Mika berubah pikiran, jadi mau nikah muda?”


“Bebasss,” kekeh Kafeel. “Aku sih terserah Val.”


“Gimana, Val, Baby?. Mau nikah barengan sama Mika?—“


“Val?—“



Sementara itu, yang sedang diajak ngobrol seraya ditanya dan dipanggil oleh beberapa pria yang ada didekatnya seolah abai pada pertanyaan dan panggilan yang sedang ditujukan padanya tersebut. Bukan sengaja abai, tapi gadis yang adalah Val itu sedang melayang angannya.


“Secara gue kan akan tinggal deket sama kekasih hati gue di London.**Kissnomor dua, yang penting gue bisa deketan sering-sering sama Neng Mika tersayang. Sementara lo, bakal LDR-an,**”


“No big deal ( Bukan masalah besar )”


Yang mana angan Val itu, sedang mengingat ucapan Arya yang menyinggung soal Long Distance Relationship-berikut tanggapan Kafeel akan hal itu.


‘Bagi Kakak bukan masalah besar, tapi bagi Val iya,’ batin Val.


“Val?—“ tegur Kafeel.


“Ya?“ sahut Val yang terkesiap karena usapan Kafeel di lengannya.


Dimana Val langsung menoleh pada Kafeel yang sedang tersenyum padanya.


“Kenapa?—“ tanya Val pada Kafeel kemudian.


“Itu ditanya sama Daddy Boo-Boo—“


Kafeel berucap, lalu Val menoleh pada salah satu Daddy yang dimaksud Kafeel. Dimana Daddy Dewa dan beberapa yang didekat Val sedang kompak menatapnya.


“Lagi mikirin apa sih?” Daddy Dewa bertanya pada Val kemudian, sambil mengusap lembut puncak kepala Val.


“Bukan apa-apa kok, Dad—“


Val lalu menjawab seraya tersenyum pada Daddy Dewa.


“Daddy Boo-Boo tanya apa pada Val?...” Val balik bertanya.


“Never mind—“

__ADS_1


Daddy Dewa menyahut seraya tersenyum pada Val.


Val pun balas tersenyum.


Lalu setelahnya, Daddy Dewa dan Daddy Jeff berikut lainnya-selain Kafeel beranjak dari hadapan Val dan menghampiri para orang tua yang lain, yang sedang menunggu semua mobil yang akan digunakan menuju bandara siap berangkat dengan serentak.


Kini hanya tertinggal Val dan Kafeel saja, diantara beberapa yang lalu lalang disekitar keduanya sambil menunggu pemberitahuan jika yang akan bertolak ke London berikut yang mengantar ke Bandara sudah siap untuk berangkat.


“Tuan Putri kenapa?” tanya Kafeel pada Val.


Val menggeleng dan tersenyum tipis.


“Val tidak kenapa-kenapa kok, Kak—“


Lalu Val menjawab Kafeel yang tersenyum tapi terdengar juga ada hembusan nafas yang agak berat namun samar dari kekasih setengah om-omnya Val itu.


Tangan Kafeel terulur ke puncak kepala Val. “Saya cukup mengenal anda, Tuan Putri.”


Kemudian Kafeel berucap dengan sedikit merundukkan tubuhnya, hingga wajahnya dan Val saling berhadapan. Lalu Kafeel menatap Val lekat.


“Jadi kamu ga bisa boong kalau sekarang sedang ada yang kamu pikirkan,” tambah Kafeel seraya ia tersenyum.


Val balas tersenyum pada Kafeel.


“Ada apa, hm?—“


Kafeel bertanya untuk memastikan, selain ia penasaran karena Val menjadi lebih pendiam sekarang ini.


Val kembali menggeleng saat Kafeel memastikan ada apa dengan kekasih kecilnya itu. “Benar kok, tidak ada apa-apa....”


Kafeel menghela nafasnya setengah berat.


“Val—“


“Kak, Val ingin cek barang-barang pribadi Val dulu ke mobil ya?. Takut ada yang tertinggal.”


Val berucap cepat, dan dengan cepat juga, ia hengkang dari hadapan Kafeel dengan Val yang memotong ucapan Kafeel.



“Hati-hati kalian semua,” ucap mereka yang tidak ikut mengantar rombongan London ke bandara, karena satu dan lain hal.


“Iya ..”


Rombongan yang akan bertolak ke London itu pun mengiyakan.


“Kak Val, ponselnya.”


Ares mengejar Val yang baru selesai menyalim takdzim dan memeluk mereka yang tidak mengantarnya dan rombongan ke bandara.


“Oh iya,” ujar Val sambil menerima ponselnya dari tangan Ares. “Makasih Ares sayang—“ sambung Val sambil mengacak pelan rambut Ares.


Lalu keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.


“Yuk? ...”


Kafeel kemudian bersuara, mengajak Val untuk segera masuk ke dalam mobil yang akan Val tumpangi bersama beberapa orang lain di dalamnya-setelah Val rampung berpamitan.


Dimana di dalam mobil yang akan Val tumpangi itu, masih ada dua space kosong kursi penumpang.


“Kak.”


Val tidak langsung masuk ke dalam mobil yang akan ia tumpangi itu, saat ia sudah berdiri didekat pintu mobil tersebut.


“Iya, Tuan Putri?”


“Val, berangkat dulu ya?”


“Nanti aja pamitannya di bandara, Tuan Putri,” sahut Kafeel kemudian sambil dirinya menunjukkan gestur agar Val segera masuk ke dalam mobil.


Namun ...


“Disini saja.”


Val berucap lagi.


“Karena Kak Kafeel tidak perlu mengantar Val sampai bandara.”


Yang mana, ucapan Val itu sontak membuat Kafeel terkejut-berikut mereka yang mendengarnya.


“Kenapa?” tanya Kafeel heran.


Val menampakkan senyumnya pada Kafeel. “Kenapa apanya?”


“Kenapa kamu tiba-tiba melarang aku mengantar kamu ke bandara?” tanya Kafeel lagi.


“Ya tidak kenapa-kenapa,” jawab Val.


“Aku ada bikin salah ke kamu, Val?”


“Kak Kafeel nih,” Val menyahut seraya ia terkekeh kecil. “Memang wajah Val terlihat sedang marah?”


Val lalu berucap dengan tersenyum pada Kafeel yang memandanginya penuh tanda tanya.


“Kak Kafeel tidak buat salah apa-apa pada Val.”


“Lalu kenapa kamu begini?”


Kafeel masih bertanya dengan selidik.


“Val hanya tidak ingin Kakak terlalu letih,” jawab Val.


“Tapi aku tidak merasa letih sama sekali.”


“Tetapi Kak Kafeel harus bekerja besok, bukan?”


“Aku dapat beristirahat nanti setelah dari bandara.”


“Val yakin tidak begitu,” sergah Val, yang mematahkan setiap ucapan Kafeel. “Kak Kafeel pasti langsung pergi bekerja sepulang dari bandara--“


Val lanjut bicara.


“Val kan paham sekali jika Kakak gila kerja--“


Berucap dengan nampak santai, berikut senyuman Val yang terus terpasang di wajah cantiknya saat ia sedang mencegah Kafeel untuk ikut mengantarnya ke bandara.


Entah apa alasannya-Val yang biasanya begitu manja dan lengket pada Kafeel itu, saat ini seolah seperti sedang menjaga jarak dengan Kafeel.


“Aku akan tetap ikut ke bandara.”


Kafeel berujar.


“Masuklah ... Kasian yang lain sudah lama menunggu."


“Please, Kak Kafeel. Tolong jangan ikut mengantar ke bandara.”


“Tapi, Val-“

__ADS_1


“Val memaksa ...”



“Salim?” ucap Val seraya mengulurkan tangannya ke arah Kafeel yang akhirnya mengiyakan permintaan Val untuk tidak ikut mengantar ke bandara.


“Hati-hati ya?-“


“Iya-“


“Ya udah.”


“Assalamu’alaikum! Bye semuaaa!”


Val berucap ceria sambil ia melambaikan tangannya sebelum mendudukkan dirinya dengan sempurna di kursi penumpang dalam mobil.


“Bye, Kak-“


“Benar aku ga ada bikin salah ke kamu, Val?”


“Benar, Kak-“


“Aku ingin sekali mengantar sampai bandara, Val--“


“Jangan merepotkan diri, hem?” potong Val.


“Aku sama sekali--“


“Sudah ya? . Val tidak enak membuat yang lain terlalu lama menunggu.”


Sekali lagi Val memotong ucapan Kafeel. Lalu tersenyum sembari mengkode pada Kafeel untuk menjauh dari pintu mobil yang bergerak otomatis tersebut.


Karena pintu mobil yang ditumpangi Val tertahan oleh tangan Kafeel, yang menutupi bagian sensor mobil.


Dimana Kafeel secara mau tidak mau, akhirnya bergeser dari tempatnya sekarang, agar pintu mobil yang ditumpangi Val dapat tertutup dengan sempurna.


‘Kamu kenapa, Val?’


Kafeel bertanya-tanya dalam hatinya, karena sikap Val yang terasa dingin padanya, meski senyum terus menghiasi wajah Val saat mereka bicara tadi.


‘Aku bikin salah apa? ...’



“Kalian bertengkar?” Varen langsung bertanya pada Kafeel selepas semua mobil yang membawa mereka yang hendak bertolak ke London berikut beberapa orang yang mengantar rombongan tersebut telah kompak bergerak meninggalkan halaman luar rumah Keluarga Cemara.


Varen sendiri tidak ikut mengantar, begitu juga Drea, Nathan dan Via. Selain karena sudah terbiasa dengan para keluarga yang pulang pergi Jakarta-London, pertimbangan dua pasang orang tua muda itu adalah dua bocil terbocil-yakni Putra dan Gadis, yang akan merengek dengan sangat jika sudah melihat pesawat terbang.


Dimana jika hal itu sudah terjadi, Putra dan Gadis akan menangis sejadi-jadinya, jika mereka tidak diajak ikut pergi dengan pesawat terbang.



Menanggapi pertanyaan Varen soal apakah dirinya dan Val bertengkar, Kafeel langsung menggeleng.


“Lalu Val kenapa?” Varen lagi bertanya pada Kafeel, karena mata Varen yang tajam itu dapat menangkap gelagat Val yang sedikit tidak biasa pada Kafeel, meskipun sedari tadi Val nampak banyak tersenyum saat berbicara dengan Kafeel-pun nampak santai.


“Gue sendiri juga bingung dia kenapa?--“


“Coba ingat-ingat lagi ...”


Varen berujar.


“Lo ada buat salah ga sama Val tanpa lo sadari?”



Sementara itu, didalam sebuah mobil. Sebuah pembicaraan lain tercipta, setelah beberapa saat mobil mulai berjalan menjauh dari rumah Keluarga Cemara.


“Kau bertengkar dengan Kafeel?--“


“Tidak, Dad.”


“Lalu mengapa kau melarang Kafeel untuk mengantarmu sampai bandara?”


Daddy R yang membuka pembicaraan dengan Val itu kembali bertanya pada sibungsu kandungnya tersebut.


“Tidak kenapa-kenapa ...”


“Tumben sekali kau tidak meminta Kak Kafeelmu untuk terus bersamamu saat kau memiliki kesempatan?-“


“Val hanya ingin membiasakan diri saja, Dad ... meskipun Kak Kafeel sudah melamar Val, tapi Val merasa berat jika ingat kalau kami akan menjalani Long Distance Relationship.”


Val berucap, dengan nada suara yang sedikit lirih sembari ia tersenyum getir memandang pada Dad R.


Lalu Val membuang pandangannya ke arah luar kaca mobil, dan setelahnya Val kembali bicara.


“Val iri pada Mika, yang meskipun baru saja jadian dengan Kak Arya, tapi mereka bisa sama-sama terus tanpa perlu menahan rindu. Sementara Val-dari sejak Val mengejar Kak Kafeel, sampai dengan Val berhasil memenangkan hati Kak Kafeel, tetap saja sama. Harus menahan rindu karena jarak ...”


Val menghela nafasnya sedikit berat.


“Dulu-saat masih mengejar Kak Kafeel, walaupun berat setiap kali Val akan bertolak ke London-tetapi rasanya tidak sesedih ini jauh dari Kak Kafeel.”


“Tapi dua minggu lagi kalian akan bertemu kembali,” Mommy Ara berkomentar, sambil meraih tangan sibungsu kandungnya dengan Daddy R seraya Ibu Peri tersenyum lembut.


“Memang ... tapi setelah itu kami akan berpisah selama berbulan-bulan lamanya. Val sudah tidak bisa lagi mencuri waktu saat Val vacuum sementara waktu setelah lulus high school saat rindu Val nanti sudah tidak terbendung lagi.”


Val dengan pemikirannya.


“Dulu, Val takut selamanya Kak Kafeel akan memandang Val sebagai seorang gadis kecil dan hanya akan menganggap Val sebagai adiknya saja ... saat ini Val takut, jika dengan Long Distance Relationship seperti ini, jarak-yang membatasi intensitas bertemu dan berkomunikasi, akan membuat perasaan Kak Kafeel pada Val memudar.”


“Jangan terlalu berpikir berlebihan.”


“Dad bisa bicara seperti itu, karena Dad and Mom kan tidak pernah menjalani LDR.”


“Tapi kami memiliki lika-liku lain yang sempat menjadi masalah dalam hubungan kami, begitu juga dengan para Dads dan Moms mu yang lain –“


“Val paham itu, Dad ... tapi kalian tidak ada yang pernah menjalani hubungan jarak jauh bukan? ... jadi kalian tidak tahu rasanya memiliki rasa takut seperti Val-yang mana Val yakin jika perasaan Val pada Kak Kafeel lebih besar dan dalam daripada Kak Kafeel terhadap Val –“”


“.......”


“Kalian pasti tidak pernah merasakan rasa takut berjauhan selama berbulan-bulan, dimana rasa was-was ada dalam hati dan takut sekali jika dalam masa berbulan-bulan itu orang yang kita cintai bisa memudar perasaannya.”


“.......”


“Jangankan berbulan-bulan, dua minggu ke depan saja rasanya hari-hari Val tidak akan tenang.”


“.......”


“Val takut, terlalu takut kehilangan Kak Kafeel. Tapi Val juga tidak ingin egois padanya. Makanya Val tidak ingin Kak Kafeel mengantar ke bandara, lalu berpisah akan terasa lebih berat lagi. Val pasti menangis ...”


Val menjeda ucapannya.


“See (Lihat kan)? ...” ucap Val. “Seperti ini saja Val sudah menangis.”


Val terkekeh getir sambil menghapus sebulir air matanya.


“Anak Dad dan Mom ini cengeng ... Makanya Val tidak ingin Kak Kafeel mengantar, lalu melihat Val menangis, kemudian ia merasa bersalah. Val memang ingin hidup dengan Kak Kafeel, tapi Val juga tidak ingin merusak rencana hidupnya sampai tiba waktunya nanti Kak Kafeel menikahi Val. Cinta yang tulus itu tidak boleh egois, kan? ...”

__ADS_1


♥♥


To be continue ...


__ADS_2