
(KEJUTAN & TERKEJUT)
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“Arya!”
“Nora?—“
“Hai Ar, baru aku mau telfon kamu.”
“Lo kok bisa ada di sini?”
“Happy Birthday, ya Ar...”
“Oh, iya. Thanks.”
“Tadi aku ke Perusahaan kamu, dan sekertaris kamu bilang kamu ga ngantor hari ini—“
“Cari gue di Perusahaan ada apa?”
“Mau kasih kamu ucapan selamat ulang tahun dan ini...”
“Repot banget segala kasih kado, Nor?”
“Ga ada yang repot buat kamu kok, Ar. Bahkan direpotin sama kamu malah aku rela...”
***
“Karena seperti yang pernah aku bilang kalo aku masih sayang—“
“Nor—“
“Ya?...”
“Seperti yang pernah gue bilang, berhenti berharap sama gue. Maaf, bukan gue ga menghargai perasaan lo secara gue juga udah mengecewakan lo dan keluarga lo. Tapi gue udah bersama orang yang gue cinta dan gue ga berniat ngelepasin dia. So berhenti sampai sini—“
“Tapi Ar—“
“Kado dari lo gue terima, makasih. Tapi jangan berpikir gimana-gimana, karena gue sekedar menghargai kerepotan lo nyiapin ini kado—“
“Kamu mau pergi, Ar?...”
“Engga—“
“Ini mobil kamu, kan?”
“Oh, ada yang mau gue ambil di mobil karena semalem gue males naik ke parkiran unit.”
“Kamu sakit, Ar?”
“Ga. Gue sehat-sehat aja—“
“Kok sekertaris kamu bilang kamu ga akan ke kantor hari ini?”
“Pengen punya ‘me time’ aja di hari ultah gue. Mungkin stay di apartemen dan berleha-leha—“
“Berarti aku bisa mampir yah ke apartemen kamu? Soalnya aku juga udah bawain makanan buat kita maksi bareng—“
“Sorry Nor, apartemen gue tertutup buat perempuan selain pacar dan keluarga gue—“
“Kalo gitu kita makan siang barengnya di luar aja, gimana?—“
“Sorry ga bisa juga...”
“Tapi Ar—“
“Kan gue bilang hari ini ‘me time’ gue?—“
“Sebentar aja, Ar—“
“Yuk, bye!”
(Arya mengangkat tangannya pada wanita yang menyambanginya itu, kemudian Arya merogoh sakunya mengeluarkan kunci mobil yang langsung ia tekan sebuah tombol yang ada di kunci tersebut)
(Lalu Arya yang tergesa menghindari perempuan yang sedang ada di hadapannya itu, segera membuka pintu mobilnya untuk lekas masuk dan berambus dari tempatnya sekarang)
(Hanya saja, saking tergesa, Arya tidak menyadari ada sesuatu yang ikut tertarik dari saku celananya hingga benda tersebut menyembul setengah saat Arya mengambil kunci mobilnya di saku celana)
Syut.
(Karena benda itu menyembul setengah di saku celana Arya, dan benda pipih tersebut ringan sekali bobotnya—dan juga karena Arya tergesa masuk ke mobilnya, Arya tidak menyadari jika benda yang menyumbul di sakunya itu kemudian terjatuh saat ia bergerak dengan cepat untuk memasuki mobilnya)
(Namun benda yang terjatuh itu dilihat oleh sepasang mata perempuan yang telah ditinggal Arya yang sudah menggerakkan mobilnya dari tempatnya tadi)
“Ini kan kartu akses? Dan ini jatoh dari kantong celananya Arya. Hmm, berarti ini kartu akses masuk unitnya Arya dong? Wow, Nasib baik berpihak ke aku sekarang. Kalau aku anter ini kartu, ga ada alasan Arya buat ga mempersilahkan aku masuk ke unitnya. Biar bagaimanapun, aku harus bisa mendapatkan perhatian Arya agar dia sadar bahwa akulah yang cocok bersama dengannya dan memiliki Arya kembali dengan benar-benar kali ini setelah kami hanya berduaan aja di apartemennya nanti—“
♦♦♦♦
♦♦♦♦
Di beberapa saat setelah pertemuan Arya dengan mantan tunangannya,
Mika kini sudah berada di gedung apartemen milik Arya yang bertempat di Jakarta.
Meski rumah keluarganya berada di kota yang sama dengan apartemen yang baru beberapa bulan lalu Arya beli dengan uangnya sendiri itu, dan apartemen Arya tersebut tak semewah apartemen Kafeel serta bukan juga salah satu komplek apartemen milik keluarga The Adjieran Smith, jadinya Arya tidak bisa mendapatkan harga super miring untuk sebuah penthouse---tapi Mika tetap bangga pada pacar recehnya itu yang sudah bisa memiliki satu properti dari uang hasil jerih payahnya sendiri.
Dan karena hal itu, Mika sudah mempertimbangkan kembali jika Arya ingin cepat melamarnya lagi, Mika tidak akan menunda untuk mengiyakan, apalagi menolak.
Biarlah jika nanti Mika diejek sebagai orang yang menjilat ludahnya sendiri---Mika sudah tak peduli akan itu sekarang, karena sudah yakin jika dirinya memang sudah mencintai seorang Arya Narendra.
Dan Arya juga telah menunjukkan betapa besar cinta si Recehboy itu pada Mika, yang Mika yakini jika memang hal itu tulus dan sungguh-sungguh adanya---walau si Eks Sadboy itu begitu petakilannya. Tapi kalau sedang serius menunjukkan rasa cintanya pada Mika, pujangga pun kalah dengan Arya yang punya rangkaian kata indah yang diutarakan pada Mika.
Walau yah, receh banyaknya.
“Aku kalo di suruh jalan, milih ke Selatan aja, karena perasaan cinta aku yang kelewat gede ini susah buat aku Utara-kan.”
Gaje!---kalo kata Mika.
__ADS_1
Tapi Mika juga tak menampik, pada akhirnya dia menyukai setiap kali Arya mengeluarkan gombalan maut nan recehnya itu pada Mika---malah, saat sekarang Arya sudah agak sibuk dan padat jadwal akibat totalitas dalam mengembangkan perusahaan warisan kakeknya, Mika sesekali merindukan gombalan maut Arya nan receh itu.
Ditambah belakangan, dirinya dan Arya tidak lagi sering bertelefonan---walau tetap rajin chattingan.
Cuma sudah agak berkurang durasinya.
♦♦♦♦
Kangen.
Itu yang Mika rasa.
Pada si receh Arya Narendra pacarnya.
Sudah tiga bulan tak bertatap muka secara langsung karena berdomisili di benua yang berbeda, meski sering berkomunikasi lewat sambungan suara telepon ataupun video call.
Yah, mau gimana, resiko LDR.
Selain Mika memang sudah terlanjur berkuliah di London, tanpa tahu jika akhirnya dia akan berpacaran dengan seorang Arya Narendra yang dulu membuatnya alergi.
Lalu karena satu dan lain hal, Arya yang sebelumnya punya pekerjaan di London pun akhirnya memutuskan meneruskan bisnis warisan keluarganya yang bertempat di Jakarta.
Jadi ya no choice Mika dan Arya pun LDR-an dulu, menunggu bersatu sambil menggapai cita-cita masing-masing sampai nanti momen ijab kabul tiba---yang masih samar adanya.
Namun begitu, Mika sudah memutuskan.
Andai nanti tercetus kalimat, “Aku pengen ngelamar kamu dalam waktu dekat.” Dari mulut Arya, Mika tidak akan mencari alasan untuk menunda niatan Arya itu.
Yang mana hal tersebut, juga Mika sertakan sebagai hadiahnya di hari ulang tahun Arya---dimana Mika ingin memberikan Arya kejutan dengan kedatangannya yang diam-diam ke Jakarta, sebagai hadiah ulang tahun Arya---yang mana sempat dicetuskan oleh pacarnya itu.
“Elo, dari ujung rambut sampe ujung kaki—luar dalem.”
Ehem!
Bukan yang itu si, tapi soal betapa Arya ingin ada Mika bersamanya di ulang tahunnya kali ini, yang Arya rasa semua tentang dirinya jadi begitu berbeda sejak jatuh cinta pada Mika.
“Di ulang tahun gue tahun ini, gue maunya ada elo di deket gue, dari pagi sampe pagi besoknya. Sampe sepanjang umur gue.”
Membuat Mika jadi senyum-senyum sendiri saat ingat ucapan Arya itu.
‘Si Recehboy kalo lagi ngomong suka masukin gulanya kebanyakan.‘
♦♦♦♦
“Berikan itu padaku .... Hanya aku yang akan masuk ke unitnya Arya. Lagipula dari tadi aku kan bilang kalau kalian tidak perlu ikut menyertaiku sampai sini. Tidak akan ada ancaman di tempat ini.”
Mika merepet pada 2 bodyguard yang menyertainya, ketika ia sudah hampir sampai di depan unit apartemen Arya—dimana sabar dan santun saja dua bodyguard itu masing-masing menjawab Mika.
Tapi juga, ada hal yang mengenai permintaan Mika yang tidak dapat dilakukan oleh dua bodyguard tersebut, karena di atas para pewaris—ada beberapa ‘naga jantan’ yang titahnya tidak dapat dibantah, yang mana tentu perkataan mereka para ‘naga jantan’ itulah yang akan lebih dipatuhi jika pilihannya adalah permintaan para nona muda dengan tugas dari para ‘naga' itu.
“Kalian yang mendapat tugas menjaga anak-anak kami, jalankan tugas itu dengan baik meskipun dunia begitu tenang.”
Begitu titah para ‘naga jantan’ nya The Adjieran Smith pada mereka yang bekerja sebagai pengawal pribadi para pewaris muda, khususnya para adik perempuan.
Namun tetap, privacy akan diutamakan. Pun, sesuai titah para ‘naga jantan’ nya The Adjieran Smith Family, seperti halnya dengan kondisi dimana 2 bodyguard yang sedang menemani sekaligus menjaga Mika ini.
Dimana saat Mika bilang, “Kalian pergi saja ke bawah, santai-santai menungguku di coffee shop yang ada di sana. Nanti berikan struk pembeliannya padaku. Daripada kalian bosan menungguku yang bisa saja lama berada di dalam?”
Salah seorang bodyguard menjawab—mewakili rekannya juga, menjawab Mika dengan yakin namun santun, “Terima kasih, Nona Mikaela. Tapi kami akan tetap menunggui anda di depan pintu unit Tuan Arya, selama apapun itu. Jadi Nona silahkan saja menikmati waktu anda bersama Tuan Arya dengan santai.”
Mika berkata ketus setelah ia mendengus sebal sambil menatap dengan sebalnya juga pada 2 bodyguard yang sedang menyertainya itu.
Tak bisa protes lebih jauh, karena sadar jika dua bodyguard tersebut tidak akan bergeming dengan protesnya karena tindakan 2 pria berbadan tegap itu, lebih terfokus pada perintah para Dad-nya.
Karena setenang-tenangnya dunia—ini kata para Dad-nya Mika, *yang namanya bahaya akan tetap ada dengan beragam bentuknya—tak melulu orang jahat, tapi ada yang namanya bencana selain niat jahat manusia--yang rupa-rupa bentuknya. **Contoh, kebakaran, bencana alam, kecelakaan, tersandung, keseleo.😁*
Apa saja akan disebut oleh para Dad-nya yang luar biasa itu, dimana mereka punya jutaan kosakata untuk membalas ucapan anak-anak mereka sekaligus membungkam agar berhenti memberikan protes.
Lebay.
Tapi juga bukan tanpa sebab para Dad-nya Mika seperti itu.
Karena keluarga mereka bukan keluarga sembarangan.
Beberapa personelnya sudah mengalami ragam kondisi yang hampir mengancam nyawa.
Imbasnya, sekarang Mika rasakan. Meski rasa-rasanya, tak ada lagi orang yang berani mengusik keluarga mereka karena para Dad termasuk satu Abang yang suka bikin ngeri-ngeri sedep kalau ada yang mengusik ketenangan apalagi sampai mengancam nyawa keluarga mereka.
Namun ya itu, para pria dalam keluarga The Adjieran Smith punya sisi protektif dan posesif pada mereka yang mereka sayang, di atas rata-rata orang.
Jadi mau tidak mau, Mika harus mentaati segala peraturan dalam keluarga, yang untungnya masih bisa nego soal kelonggaran.
Terlebih untuk yang namanya privasi dengan pasangan, meski soal pasangan itu pun—walau tak kisah dari keluarga seperti apa mereka berasal, namun terfokus pada para pria yang menjadi pasangan para incess—lampu hijau akan diberikan, jika para pria The Adjieran Smith itu merasa ‘sreg’ pada pilihan putri-putri mereka, yang untungnya jatuh cintanya pada pria yang sudah begitu dekat dan akrab adanya.
Untuk sekarang mengacu pada Val dan Mika sendiri, yang masing-masing jatuh cinta pada anak dari kerabat cukup dekat keluarga mereka—dan sudah resmi berhubungan juga hingga dipersilahkan untuk jalan ke jenjang yang lebih serius.
♦♦♦♦
“Sudah sini berikan dus kue itu!” ketus Mika lagi pada salah seorang bodyguard yang belum mengestafetkan dus kue yang bersangkutan bawakan guna tidak membuat nona mudanya itu membawa barang selain tasnya.
“Anda tekan saja dulu bel apartemen Tuan Arya, Nona Mikaela. Nanti saat Tuan Arya sudah terdengar akan membukakan pintu, baru saya berikan kue ini pada anda.”
Jawaban dari bodyguard yang memegangi kue tart untuk Arya itu.
“Ah iya, benar juga.” Mika pun menyahut.
Lalu meminta sang bodyguard membukakan tutup dusnya.
Satu telunjuk Mika sudah dekat dengan satu tombol di sebuah mesin yang memiliki layar di dinding luar unit apartemen Arya, namun telunjuk itu menggantung kala terbersit satu pikiran di otak Mika.
‘Gue tekan bel atau gue langsung tekan passcode sama-sama Arya bakal liat gue di layar kan?’ kata Mika dalam hatinya. ‘Siapa tau tuh orang malah masih tidur??? Dan kalo benar dia tidur, mendingan gue langsung masuk aja. Lebih bagus begitu, kan???—‘
♦♦♦♦
Ingin memberikan Arya kejutan, namun nyatanya Mika yang mendapat kejutan ketika ia masuk ke dalam kamar Arya di apartemen pribadi pacarnya itu, yang baru dibeli beberapa bulan yang lalu.
Kejutan yang membuat Mika terpaku kelu di tempatnya, meski saat ia masuk Arya begitu nampak sumringah melihatnya.
Dan seperti yang Mika tebak, Arya nampak terkejut melihat keberadaan Mika yang ada di dalam kamarnya, namun berdiri tak seberapa jauh dari pintu, sebelum si Recehboy tersenyum sumringah.
Namun senyum Arya perlahan memudar, dengan heran yang ada di gurat mukanya kemudian.
Karena Mika yang sedang memegang kue tart di tangannya itu memandanginya dengan tatapan permusuhan dimana wajah putih Mika nampak terlihat kemerahan, berikut rahangnya begitu mengetat.
__ADS_1
Arya sudah angkat suara pada akhirnya, karena heran dengan sikap dan raut wajah Mika yang sedang fokus ia tatap.
“Mi?... Lo?—“
“Ar...”
Namun kemudian ucapannya Arya hentikan, karena suara seorang perempuan dari arah samping kanan tempatnya berdiri yang baru keluar dari dalam kamar mandi itu.
“LO????!!!!”
Arya berseru kaget sambil matanya terbelalak ketika ia menoleh ke sumber suara yang menyebut penggalan namanya.
“Mi!...”
Tapi setelahnya Arya langsung menoleh ke arah Mika yang wajahnya sudah merah padam sambil ia berjalan mendekat kepada Mika.
“Brengsek!”
Mika mengumpat dalam gumaman yang pelan namun jelas terdengar, sambil ia melempar kue di tangannya ke arah Arya sampai mengenai dada Arya yang shirtless itu, dengan handuk yang melekat dari pinggang sampai lututnya.
“Mi! Ini Ga Seperti Yang Lo Pikirin!”
Arya berseru sambil melangkahkan lebar kakinya mengejar Mika, yang setelah melemparkannya dengan kue tart lalu berbalik pergi dan melangkah keluar dari dalam kamar Arya dengan sangat tergesa.
Arya juga tak kalah tergesanya melangkah seperti Mika, guna mengejar pacarnya itu—mengabaikan dirinya yang hanya mengenakan handuk, dan tubuhnya yang baru saja mandi itu sudah belepetan lemparan kue dari Mika.
♦♦♦♦
“Mi Dengerin Gue—“
PLAKK!!!
Belum selesai Arya bicara dengan dirinya yang menghadang jalan Mika, tangan Mika membuat sebuah bunyi nyaring setelah telapaknya mendarat dengan cepat di pipinya.
“LO BRENGSEK ARYA NARENDRA!”
Sambil Mika berteriak dengan kencangnya, dimana amarah begitu terlihat pada diri Mika saat ini.
“Mi—“
BRUK!
Mika mendorong dada Arya dengan kencangnya, hingga Arya yang tak siap itu jadi agak terhuyung akibat tak menyangka jika Mika sampai mendorongnya begitu saat Arya yang tak mempermasalahkan tamparan Mika padanya itu hendak berbicara.
“MI!”
Arya berseru, sambil mencekal lengan Mika yang sudah siap membuka pintu unit apartemennya.
“JANGAN SENTUH GUE!”
Mika berteriak lagi dengan menatap Arya dengan nyalang.
Namun begitu, mata Mika sudah nampak begitu berkaca-kaca.
“Lo dengerin penjelasan gue dulu—“
“Lo Brengsek Arya Narendra!” tukas Mika dengan cepat sambil menarik kasar tangannya dari cekalan Arya dan sebulir air matanya pun lolos ke pipi Mika yang sedang berwarna merah padam itu. “Jangan Berani Sentuh Gue Lagi Karena Jijik Sama Lo!—“
“Mi!—“
“JAUHKAN PRIA BRENGSEK ITU DARI GUE!”
Arya tak keburu meraih lagi tangan Mika yang sudah dengan cepat membuka pintu unit apartemennya dan langsung berbicara dengan kencang pada dua pria yang ada di depan pintu unit apartemen Arya tersebut.
Tergambar amarah yang menggunung dari suara Mika pada 2 pria yang merupakan bodyguardnya itu, bahkan amarah Mika itu sampai menutup kesopanan dirinya berbicara, yang walaupun judes, tapi tidak pernah menggunakan bahasa gue-elo dengan orang-orang yang bekerja pada keluarganya.
Dan sekarang, Mika melakukan itu.
Yang tentunya tak dipedulikan sikap Mika tersebut—dimana katakanlah ia memberi perintah dengan keras dan sedikit kasar, oleh 2 bodyguardnya yang malah lebih fokus pada satu perintah nona muda mereka yang nampak murka itu.
Meminta untuk menjauhkan pria yang Mika sebut brengsek dari diri sang nona muda yang setelah berseru murka tadi langsung berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Dan satu-satunya pria yang ada di belakang Mika hanya Arya, yang 2 bodyguard itu tahu betul statusnya dengan Mika. Pacarnya itu satu nona muda mereka, bahkan--seperti halnya Kafeel, Arya digadang-gadangkan akan menjadi menantu yang pasti di dalam keluarga The Adjieran Smith.
Tapi baru saja, sang nona muda menyebutnya dengan ‘pria brengsek’ dan meminta agar Arya dijauhkan darinya.
Membuat 2 bodyguard tersebut jadi bingung selain penasaran juga dengan apa yang telah terjadi diantara Mika dan Arya di dalam unit apartemen Arya—padahal sebelumnya Mika nampak terlihat sempat senyum-senyum sendiri bahkan.
♦♦♦♦
“MIKA!”
Arya berseru dengan kencangnya.
Namun tubuhnya tertahan oleh dua orang berbadan tegap yang berdiri menghalanginya.
Tapi dua pria yang merupakan bodyguard Mika itu tak bersikap kasar pada Arya.
Hanya ‘mengkakukan’ tubuh mereka—menjadi dinding kokoh untuk menahan Arya mengejar Mika.
“Minggir lo berdua!”
Arya berkata ketus pada dua bodyguard tersebut.
“Jangan halangi gue. Kalo mau pake kekerasan ayo! Gue ga takut!”
Arya berkata sangat ketus dan tajam pada 2 bodyguard Mika tersebut sambil menatap keduanya penuh permusuhan.
“Urusan gue sama Mika lo berdua jangan ikut campur!” tekan Arya.
“Mohon maaf Tuan Arya, kami hanya menuruti perintah Nona Mikaela.”
Satu bodyguard menjawab Arya.
“Dan gue akan lakukan apapun buat ngejar Mika termasuk kalo harus adu jotos sama lo berdua!”
“Silahkan saja, Tuan. Tapi baiknya anda lebih dulu berpakaian...”
Arya lalu langsung sedikit menunduk dan melihat tubuhnya sendiri.
*“S*T!” KemudianArya juga langsung mengumpat kasar setelah mendengar ucapan satu bodyguard Mika barusan, dan menyadari kondisinya sekarang yang hanya mengenakan handuk saja.
Tak punya pilihan, jadi Arya mau tidak mau harus kembali ke dalam unitnya.
Sementara Mika sudah tak terlihat dalam pandangan Arya, karena satu incess yang sedang murka itu sudah masuk ke dalam lift.
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue...