HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
VAL DAN KAFEEL


__ADS_3

Terima kasih masih setia


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Hai-hai, terima kasih untuk kalean yang masih teteup setia baca.


Semoga selalu suka...


Mohon Supportnya juga untuk karya ini.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Jika aku adalah mentari dan engkau adalah rembulan, maka aku ingin selalu berada di cakrawala senja, ketika kita mulai bertemu dan saling pandang.”


♥♥♥


“Habis Kak Kafeel menggendong belakang Val, nanti kita latihan ya Kak? ..” ucap Val, saat dia mengambil ancang-ancang untuk naik ke punggung Kafeel.


“Latihan apa? ...” sahut Kafeel seraya bertanya dan menoleh pada Val.


“Latihan menggendong Val ala bridal style.” Val berucap sumringah. “Biar nanti Kak Kafeel tidak kaku saat menggendong Val dihari pernikahan kita!” sambung Val lalu memamerkan rentetan giginya.


Kafeel langsung saja tergelak setelah mendengar ucapan Val barusan.


“Val, Val ....”


Kafeel tersenyum lebar dan menegakkan tubuhnya sejenak, untuk mengacak pelan rambut Val yang sudah sedikit berantakan akibat terpaan angin pantai yang tak kencang.


“Terus sekarang jadi mau digendong belakang ga? ....”


“Jadi dong!”


Val menyahut antusias.


“Kalau begitu, silahkan Nona Muda Val yang cantik naik ke punggung hamba,” ucap Kafeel.


Pria pujaan hati Val itu kembali merundukkan tubuhnya, dimana Val terkekeh kecil atas ucapan Kafeel barusan.


Val nampak sumringah dan bahagia.


♥♥♥


Hanya Tuhan dan Val saja yang tahu ..


(Selain Emaknya Queen ama para reader novel ini yang blaem-blaem).


Betapa bahagianya hati Val yang sedang berada dalam gendongan Kafeel sekarang.


Rasa bagai mimpi bagi Val, bisa mendapatkan kesempatan digendong belakang oleh sang pujaan hati belahan jantungnya itu.


Mengingat, sikap Kafeel yang meskipun selalunya hangat pada Val, namun selalunya nampak cuek dimata Val, dan selalu menganggap pernyataan cinta Val adalah satu dari tingkah menggemaskan Val saja padanya.


Bukan apa, Kafeel seyogyanya menahan dirinya.


Kafeel tidak mau terlalu serius menanggapi ucapan Val yang sering mengungkapkan jika gadis cantik nan imut itu mencintainya, karena Kafeel berpikir jika itu hanya tingkah seorang gadis remaja yang beranjak dewasa, yang tidak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya.


Kafeel berpikir, sikap Val itu tidak akan bertahan lama padanya.


Jadi Kafeel tidak menanggapi Val dengan serius setiap pernyataan cinta Val padanya.


Namun Kafeel tidak dapat memang menepis pesona gadis dalam gendongan di punggungnya itu, sejak Val mulai intens mendekatinya, dan Kafeel mulai sering memperhatikan Val.


Tak dapat Kafeel pungkiri, ada rasa sayang di hati Kafeel untuk seorang Val, yang rasanya berbeda dari rasa sayang yang ia punya pada adik-adik perempuan Varen yang lain, bahkan dari adik kandung Kafeel sendiri.


Terkadang juga, di relung hatinya yang terdalam, ada rasa hangat yang menjalar jika Val sedang berada di dekatnya seperti saat ini.


Namun Kafeel selalu berusaha keras untuk menahan dirinya, dan berkali-kali menepis dugaan hatinya sendiri jika kemungkinan dia telah jatuh cinta pada Val.


Kafeel belum yakin akan hal tersebut.


Kafeel belum yakin jika ia jatuh cinta pada seorang gadis belia yang sering begitu terlihat menggemaskan baginya.


Makanya Kafeel tak pernah merasa terganggu dengan Val yang selalu menempel padanya jika mereka sedang bertemu. Wajar saja sikap Val itu padanya Kafeel rasa.


Malah rasanya Kafeel suka, melihat Val yang manja padanya itu.


Hanya saja Kafeel membentengi diri dan hatinya untuk sekarang ini. Percaya jika rasa dalam hati yang ia punya pada Val hanya rasa sayang semata, bukan cinta.


Tapi kok Kafeel rasanya kesal, saat Val terlihat dekat dan akrab dengan Achiel? – pikir Kafeel - sebagaimana hatinya merasa.


‘Inget, Val itu bahkan lebih muda umurnya dari Lena!’


Kalimat itu yang menjadi benteng bagi Kafeel, untuk tidak menanggapi dengan serius Val yang sering sekali mengatakan jika gadis itu mencintainya, bahkan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.


Tak pernah mau membuat Val berharap besar padanya, maka Kafeel menanggapi pernyataan cinta Val dengan tanpa keseriusan. Tanpa bermaksud untuk menyinggung perasaan Val.


Tapi sekarang ini, jika Val merasa bahagia saat Kafeel menawarkan untuk menggendong belakang dirinya dan sudah merealisasikannya, Kafeel merasakan sesuatu yang tidak biasa di hatinya.


Bahkan rasanya, Kafeel tidak ingin menurunkan Val dari gendongannya.


Entah kenapa.


Kafeel tidak mengerti.


Atau menolak untuk mengerti?.


Yang jelas, Kafeel merasakan desiran aneh dalam hatinya, kala kedua tangan Val melingkar di leher depannya, dan wajah Val yang tertopang di salah satu bahu Kafeel itu, berada begitu dekat dengannya.


♥♥♥


Val sedang sangat memperhatikan wajah Kafeel yang sangat berada dekat dengan wajahnya itu.


Wajah tampan incaran banyak kaum hawa, macam para pria dalam keluarga Val. Yang sungguh membuat mata sulit dikendalikan untuk tidak sampai melirik.


Dan jika sudah melirik sekali, rasanya akan terus melirik sampai berkali-kali.


Bahkan sudah enggan berpaling setelah melihat wajah tampan tersebut sampai menghilang dari pandangan.


Begitu yang Val rasa setiap kali Val bertemu dengan Kafeel. Kalau bisa waktu Val hentikan, atau punya remote yang bisa membuat Kafeel terdiam setelah ia menekan tombol pause, akan Val buat Kafeel membeku bak patung pancoran kali.


Agar Val bisa bawa pulang itu AA Kafeel pujaan hati, belahan jantung, yang Val cintai dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan sampai ke dalam kukunya.


Alamahoy!! ...


Val intens memandangi Kafeel yang sedang menggendong belakang dirinya itu. Dimana sesekali Kafeel melirik dan tersenyum pada Val.


Melirik saja, karena Kafeel sungkan untuk menoleh. ‘Dari ekor mata gue aja udah ketebak kalau wajah Val pasti sedang nampak menggemaskan sekarang ...’


Kafeel membatin.

__ADS_1


‘Kalau gue menoleh, bibir gue bisa kena ke bibir Val nanti ...’


*Kayaknya Val senang kalau itu terjadi-**kata si Emak.*


‘Nanti kalau sudah menempel, malah gue ga mau melepaskan, gimana?’


Memang itu yang Val harap, Kak-kata si Emak lagi.


Bisa pingsan Val keknya sih, jika hal itu sampai terjadi.


“Kak Kafeel tampan sekali ....”


Val yang sedang memperhatikan wajah Kafeel dalam gendongan pria itu, bergumam.


“Val pun cantik!” ucap Kafeel yang mendengar gumaman Val. “Overdosis cantiknya malahan!” puji Kafeel dengan sebenar-benar pendapatnya mengenai Val. “Karena Val bersinar lebih terang dari bulan di malam paling terang, dan Val lebih bersinar dari matahari di hari yang tidak berawan.”


Sebaris kalimat yang terdengar puitis tercetus dari mulut Kafeel.


Dan Val?.


Jangan tanya bagaimana reaksi gadis Fangirl garis kerasnya AA Kafeel itu, setelah mendengar pujian Kafeel yang juga tersenyum padanya.


Wajah Val bersemu kemerahan, karena sebaris kalimat puitis itu terdengar begitu romantis di telinganya.


Membuat Val jadi ke-ge-er-an sendiri karena pujian Kafeel nan puitis itu.


“Iih Kak Kafeel .... Val kan jadi malu!!!” ucap Val yang malu-malu.


Namun Kafeel sedikit hilang keseimbangan.


'Aduh! Gawat!’


Rutuk Kafeel yang sesaat kakinya yang menapak menyusuri hamparan pasir putih agak-agak jadi lemes.


“Ehem, Val ..” panggil Kafeel, dengan pelan, setelah berdehem sebelumnya, karena ada yang ser-ser-an di tubuhnya.


“Iya, Kak?..”


“Itu..”


Kafeel bingung untuk mengatakan agar Val tidak mengusel di ceruk lehernya.


Bukan apa, selain merinding, kok Kafeel jadi agak-agak gimanaaa gitu? ...


♥♥♥


‘Fuuhhh...’


Kafeel menghela lega dalam hatinya.


‘Untung cepat sampai kesini! Karena kalau engga, bisa-bisa kacau balau gue!’


Kafeel membatin seraya menurunkan Val dari gendongannya karena mereka telah sampai di sebuah sofa semi kasur yang memiliki sebutan sebagai orbit di restoran tempat Kafeel dan Val berada saat ini.


“Makasih ya, Kak.”


Val berucap saat Kafeel telah menurunkannya dari gendongan punggung pria pujaan hati Val tersebut.


Kafeel tersenyum seraya menoleh pada Val, lalu duduk disisi Val yang sudah lebih dulu Kafeel dudukkan pada sofa orbit yang menaungi Kafeel dan Val saat ini.


“Sama-sama, Val cantik..”


Kafeel menyahut.


Val memiringkan tubuhnya.


“Kak Kafeel sampai berkeringat seperti ini...”


‘Aku berkeringat bukan karena kelelahan menggendong kamu Val!’


“Tapi kok keringat Kak Kafeel dingin?....” kata Val dengan tangannya yang menyentuh kening Kafeel.


‘Ya kamu lagian mengusel di leher aku, Val!’ Namun kalimat itu hanya bersuara di hati Kafeel saja.


“Kak Kafeel sakit?...”


‘Yah, pusing-pusing dikit lah ...’


Kembali batin Kafeel bersuara.


“Engga kok, aku sehat. Cuma agak kepanasan aja ....”


Kafeel berlagak mengibas-ngibaskan kemejanya.


“Ya sudah –“


‘Eh?!’


Kafeel terkesiap.


“Val tiupkan agar Kak Kafeel tidak kegerahan lagi yah?..” Val sudah ambil posisi.


‘Aduuhh Vaall. Kalau begini tambah dingin ini keringat aku!!!! ...’


Fyuuhh..


Semilir angin yang berhembus di wajah Kafeel terasa sejuk nan menggoda.


Bukan semilir angin pantai tapi. Melainkan semilir angin dari mulut Val yang begitu dekat dengan wajahnya.


Membuat Kafeel meneguk salivanya tanpa sadar, karena bibir imut milik Val itu seolah melambai untuk dikecup.


Belum lagi leher jenjang Val yang terekspose karena Val memakai kaos ketat berkerah bundar pas sebatas lehernya.


‘Gila! Gue udah gila kayaknya ini! padahal Cuma bibir sama leher cewek belasan tahun doang yang ada dihadapan, tapi kepala gue sudah terasa berdenyut tak karuan!’


Kafeel mencoba mengatur nafasnya.


Sementara Val masih asik meniupi wajah AA Kafeel, yang salah tingkah sendiri gara-gara uselan di leher dan tiupan sepoi-sepoi di wajahnya, dengan bibir Val yang bahkan hampir menyentuh ujung hidungnya.


‘Ada remote untuk menurunkan matahari ga sih?!’


AA Kafeel yang dadanya agak-agak berdebar cepat jadi salting sendiri.


‘Biar gelap gulita ini tempat! Sekalian gue iya-iya-in deh ini makhluk yang imutnya kelewatan!’


Kafeel merutuk.


‘Ish, mana posisi Val seperti ini pula! Rasa ingin buat adegan mobil goyang!’


AA Kafeel masih merutuk dan menggerutu dalam hatinya.


‘Setan mana setan! Gue pengen khilaf!’

__ADS_1


Ah, AA Kapel, bikin gemes si Emak deh ah!.


“Val, sudah..”


Kafeel berkata dengan lembut.


“Katanya Val haus?” ucap Kafeel yang menghentikan aksi Val meniupi wajahnya.


“Oh iya!” sahut Val.


“Val mau pesan apa?”


“Apa saja yang penting manis dan sangat dingin!”


“Okay!”


Kafeel pun mengangkat tangannya, dimana Achiel yang memang matanya tak putus memperhatikan kedua orang yang berada dalam sofa orbit itu, langsung berdiri dan mendekat ke tempat Val dan Kafeel berada.


Kemudian Kafeel meminta Achiel untuk memanggilkan pelayan restoran, karena ia ingin melakukan pemesanan.


♥♥♥


“Kak Kafeel kenapa susul Val kesini?....”


Val berucap seraya bertanya, setelah sesi meniupi wajah Kafeel dihentikan oleh si empunya wajah yang hati dan otaknya dirasa menjadi tak karuan hanya karena seorang gadis belia.


“Val terganggu ya dengan kedatangan Kakak yang menyusul Val kesini?”


Kafeel balik bertanya dan Val langsung menggeleng.


“Justru Val senang sebenarnya dihampiri Kak Kafeel seperti ini...”


“Tapi?..” sergah Kafeel.


“Val hanya takut jika Val mengganggu waktu bekerja Kak Kafeel dan nanti malah membuat Kak Kafeel jadi susah.”


Kafeel tersenyum.


“Val tidak akan pernah membuat Kakak merasa disusahkan ...”


Kemudian Kafeel berucap sembari tangannya menyentuh pucuk kepala Val.


“Maaf soal tadi di Perusahaan yah? ...” kata Kafeel. “Bukan maksud Kakak mengabaikan Val ...”


“It’s okay Kak Kafeel....” tukas Val. “Val hanya sebal sebentar saja kok tadi,” sambung Val dengan menampakkan senyum manis nan imutnya. “Dan sekarang sudah tidak lagi ...”


Kafeel pun lebih menarik sudut bibirnya seraya memandang pada Val. “Makasih ya Val cantik .. sekali lagi Kakak minta maaf soal di Perusahaan tadi yang tidak mengejar Val ..”


“Val ngerti kok, kalau Kak Kafeel sibuk. Val saja ya, yang tidak tahu diri mengganggu Kak Kafeel terus—“


“Kok Val bicaranya begitu?” potong Kafeel.


Val tersenyum.


“Memang iya Val tidak tahu diri kan, Kak? Val selalu menganggu Kak Kafeel dengan chat dan panggilan Val saat Val di London. Dan saat Val datang ke hadapan Kak Kafeel, Val juga menganggu Kak Kafeel dengan lebih parah. Tidak tahu diri kan namanya?...”


Senyum Kafeel memudar, selepas Val berbicara sedikit panjang barusan. “Kakak kurang suka Val bicara begitu ---“


“Memang seperti itu kenyataannya kan Kak? Maaf, Val telat menyadari hal itu. Val -----“


“Stop” ( Kau mencuri hatiku ) – Dewi Persik kali ah!.


Kafeel meletakkan telunjuknya di bibir Val.


“Kakak tidak pernah merasa terganggu dengan Val. Jadi Val jangan mengatakan kalau Val ini tidak tahu diri atau apa. Jangan lagi bicara seperti itu. Kakak ga suka dengarnya.”


Wajah Kafeel kini nampak sedikit serius.


“Kalau Kakak merasa terganggu, Kakak akan langsung katakan pada Val ....”


Val kembali menampakkan senyumnya sebelum ia bertanya pada Kafeel. “Benar Kak Kafeel tidak pernah merasa terganggu sedikitpun dengan sikap Val selama ini?”


“Benar.”


Kafeel menyahut mantap.


“Bukan karena Kak Kafeel tidak enak pada Abang atau dengan keluarga Val kalau Kak Kafeel meminta Val untuk tidak mengganggu Kak Kafeel?..”


“Bukan,” sahut Kafeel dengan mantap sekali lagi.


Val tersenyum lagi.


“Terima kasih ya Kak? ....”


“Terima kasih untuk apa Val cantik? ...”


“Karena Kak Kafeel tidak merasa terganggu dengan keberadaan Val yang macam ulat bulu ini.”


Kafeel tersenyum geli, dan sejurus kemudian tangannya kembali membelai lembut puncak kepala Val.


“Kak,” panggil Val.


“Hm? ...” sahut Kafeel.


“Val ingin bertanya sesuatu yang serius pada Kak Kafeel, boleh?”


“Silahkan...” Kafeel mempersilahkan.


“Apa Kak Kafeel sudah memiliki kekasih?...”


“Belum.” Kafeel menggeleng dan Val nampak sumringah.


Tapi kini Val sedang menjaga sikapnya.


“Val tanya satu hal lagi boleh?”


“Silahkan...”


“Jawab dengan sejujurnya ya, Kak?..”


“Iya.” Sahut Kafeel.


“Janji?”


“Janji.” Kafeel mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Val, karena gadis itu mengajak berjanji ala pinky promise.


“Kalau begitu...”


Val menjeda ucapannya untuk menghela nafasnya sejenak.


“Perasaan Kak Kafeel yang sesungguhnya pada Val, seperti apa?...”


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2