
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
London, Inggris,
“Gue mau puas – puasin ngabisin waktu sama lo sebelum pergi.”
“Pergi? –“
“Iya –“
“Kemana?”
“Nanti gue kasih tahu.”
‘Sok misterius banget.’ Mika membatin saat dirinya telah berada di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Arya saat ini.
Lalu Mika sedikit memiringkan kepalanya untuk melirik memandang pada Arya.
‘Tapi dia mau pergi ke mana sih???...’ hati Mika bicara lagi, bertanya sendiri.
Penasaran dengan kata – kata yang masih terasa ambigu untuk Mika.
♥♥♥♥♥
Mika masih dengan rasa ambigunya atas rasa penasaran sedang apa Arya di toko perhiasan tadi, lalu apa yang Arya beli dan benda itu ada di dalam sebuah paper bag kecil bertuliskan nama dan logo toko perhiasan tempat Mika menemukan keberadaan pacarnya itu di sana tadi, yang membuat Mika jadi kepikiran kata – kata Val yang mengatakan suatu kemungkinan yang belum siap Mika dengar dan terima.
‘Lagian ini si Arya, kenapa jadi lebih pendiam gini sih???? Biasanya juga petakilan sama receh!...’ kata Mika dalam hatinya, yang memperhatikan Arya memang anteng aja sedari mulai mengemudikan mobil yang Mika dan Arya sedang gunakan itu.
“Kenapa, Mi? –“
“Heu? –“
“Kayak ada yang mau lo omongin sama gue?” tanya Arya pada Mika sambil ia menoleh ke pacar judesnya yang sudah lumayan jinak padanya itu dan nampak sedikit terkesiap.
“Bukannya elo yang mau membicarakan sesuatu sama gue?...“
Arya mengulas senyuman sambil mengacak pelan rambut Mika. “Iya, nanti tunggu sampe.”
Mika hanya manggut – manggut malas menanggapi ucapan Arya, dan Arya mengulas senyumannya lagi.
Setelahnya Arya kembali fokus pada jalanan dan kemudi.
♥♥♥♥♥
“By the way, ini mobil lo di sini?” tanya Mika tak seberapa lama kemudian.
“Iya –“
“Beli di showroom Dad Boo – Boo dan –“
“Sewa, bayar bulanan...”
“Kok sewa? Padahal kalau beli juga pasti Dad Boo – Boo dan Papa Luc kasih discount...”
“Belom kepikiran buat beli mobil di disini...”
“Lo kan kerja di sini? Kuliah juga. Kenapa ga kepikiran buat beli mobil sendiri?... Kalau lo sewa mobil model ini bulanan, bukannya kalau enam bulan malah bisa untuk down payment mobil semacam ini?...”
“Iya, emang...” sahut Arya. “Tapi beli mobil di sini ga segampang kek di Indo kan, Mi. Lagian –“
“Gampang aja. Lo tinggal tunjuk ingin beli mobil di showroom mana jika tidak ingin membeli di tempat Dad Boo – Boo dan Papa Luc, dan hanya dengan satu panggilan telepon bahkan owner showroomnya sendiri yang akan dateng nemuin lo kalo The Dads atau Gappa sudah menghubunginya –“
“Iya, tau ... tapi gue ogah ngerepotin para Dad lo, apalagi Gappa.”
Arya menukas ucapan Mika yang memotong ucapannya itu.
“Mereka ga akan merasa direpotkan sama lo yang sudah mereka anggap anak dan cucu sendiri ...”
“I know –“
“Lo minta salah satu mobil di showroomnya Dad Boo – Boo dan Papa Luc pun mereka pasti kasih, bahkan mempersilahkan lo untuk memilih.”
Arya tersenyum. “Macam Kak Kaf, gue ga mau aji mumpung,” ucapnya kemudian. “Ga usah minta ke Dad Boo – Boo sama Papa Lucca juga, Kak Jo udah nawarin gue buat ambil mobil barunya yang khusus di sini buat gue ...”
Arya menambahkan, dan Mika manggut – manggut.
“Kalo gitu lo pake aja mobil gue yang ada di sini. Jarang gue pake juga. Lo bisa saving uang lo yang buat sewa mobil dari Dad Boo – Boo dan Papa Luc, meskipun gue yakin lo dapet discount super gede dari mereka buat sewa ini mobil ...”
Arya tergelak setelah mendengar ucapan Mika soal diskon super gede dari Daddy Dewa dan Papa Lucca yang Mika katakan pasti Arya dapat dari kedua Daddynya yang punya bisnis bersama dalam bidang penjualan dan penyewaan mobil itu.
Sementara Mika mendengus geli.
♥♥♥♥♥
Mobil yang dikemudikan Arya kemudian memelan ketika sudah berada di sebuah kawasan hunian bertingkat dalam kawasan dekat Tower Bridge, London.
Yakni sebuah Menara Jembatan yang terbentang di atas Sungai Thames. Sebuah hunian yang merupakan kawasan Apartemen.
“Ini –“
“Apartemen gue.”
“Lo mau ajak gue ngomong di Apartemen lo? –“
“Iya.”
“Hemm.”
Mika berdehem samar.
__ADS_1
“Kenapa? ...” tanya Arya.
“Nothing ...”
“Kalo lo khawatir gue apa – apain, ya kita ganti tempat ...”
“..........”
“Tapi gue ganti baju dulu, gerah abis tugas luar. Nanti lo tunggu di ruang tunggu aja, atau kalo ga mau tunggu di sana, lo bisa ajak Dave masuk ke unit gue seandainya lo khawatir –“
“Gue cuma nanya ... “
Arya menarik sudut bibirnya. Tersenyum lembut pada Mika.
“Yuk turun? ...”
♥♥♥♥♥
“Please, Mister Arya ( Silahkan, Tuan Arya ) –“
“Thanks, Dave,” ucap Arya pada Dave yang sigap memberikannya sebuah payung yang telah terbuka, karena cuaca sedikit hujan saat Arya turun dari mobil dan melepas blazernya untuk menutupi kepala Mika akibat Arya yang memarkirkan mobilnya di area terbuka-----selain hujan turun secara tiba-tiba.
“Thanks, Dave –“
“You are very welcome, Mister Arya, Miss Mikaela ( Sama-sama, Tuan Arya, Nona Mikaela ) ...” Dave menjawab santun ucapan terima kasih Arya dan Mika padanya, yang sudah mau repot membawakan payung untuk Arya dan Mika.
Tentu saja sebagai seorang bodyguard, Dave akan siap siaga seperti para bodyguard keluarga The Adjieran Smith lainnya.
Tidak hanya payung yang ada di dalam mobil khusus bodyguard yang ditumpangi Dave dan dua rekannya yang lain-----bahkan ragam benda yang kiranya akan menjadi sesuatu yang dibutuhkan secara mendadakpun sudah disediakan atas perkiraan.
Yah, selain senjata api yang tersimpan di balik jas tiap-tiap bodyguardnya The Adjieran Smith Family. Mobil yang biasa digunakan oleh para bodyguard keluarga tersebut juga sudah dilengkapi banyak hal selain teknologi canggih.
“Jadi lo mau nunggu di ruang tunggu ini gedung atau di dalam unit gue?” tanya Arya pada Mika saat keduanya telah mencapai lobi luar kawasan Apartemen tempat Arya tinggal di London.
“Di dalam unit lo aja –“
“Yakin? –“
“Kenapa emangnya? –“
“Ga takut gue apa-apain?” tukas Arya seraya menggoda.
“Mau ngapain gue emang lo? –“
“Maunya diapain? ...”
Lagi, Arya menggoda Mika.
Yang godaan Arya barusan itu, sukses membuat Mika sedikit salah tingkah.
Arya menyadari kekikukkan Mika dan ia mengulum senyumnya. “Aku milikmu malam ini, Sayang ...”
"Gue macem-macemin nanti di dalem ya? -"
“Gue bilang sama The Dads, dikebiri lo! ...” ancam Mika kemudian.
“Hahaha!!!! ...”
Arya tergelak geli.
♥♥♥♥♥
“Want to come in ( Mau ikut masuk ), Dave? ...”
Arya menawarkan Dave yang mengekori dirinya dan Mika bersama satu rekan bodyguardnya, setelah sampai di depan pintu unit Apartemen yang dihuni Arya itu--untuk juga masuk ke dalamnya sesaat Arya sudah membuka pintu unit Apartemennya tersebut.
“Ga apa-apa kan, Mi? ...”
Lalu Arya bertanya pada Mika.
“Kan lo takut gue apa-apain? ...”
Setelahnya Arya menunjukkan senyum tengilnya pada Mika.
“Gue bawa pepper spray ( semprotan merica )” sahut Mika setengah sinis.
Arya pun terkekeh.
“Ya udah, Dave gue suruh ikut masuk ga apa? ...” tanya Arya kemudian. “Ga enak aja guenya kalo dia nunggu diluar ...”
Mika mengendikkan bahunya pelan.
“Terserah lo itu sih ...“
Lalu Mika menanggapi pertanyaan Arya.
“Ini kan Apartemen lo? Hak lo mau kasih ijin siapa aja buat masuk.” tambah Mika, dan Arya tersenyum.
“Come on in, Dave ...”
Arya pun mempersilahkan Dave untuk ikut masuk ke dalam unit apartemennya dan Mika.
“Thank you, Mister Arya. But better I’ll wait here ( Terima kasih, Tuan Arya. Tapi sebaiknya saya menunggu di sini saja )”
“I really don’t mind if you get in, also Mika ( Aku tidak keberatan kamu untuk ikut masuk, Mika juga tidak keberatan )”
Arya berujar ramah pada Dave yang kemudian mengulas senyuman profesional.
“Thank you, Sir. But I will be wait here. You and Miss Mikaela may have a privacy ( Terima kasih, Tuan. Tapi saya menunggu di sini saja. Anda dan Nona Mikaela silahkan memiliki waktu pribadi anda berdua )” sahut Dave kemudian.
Dan sahutan Dave yang berupa jawaban atas tawaran Arya padanya yang mengundang masuk ke dalam unit Apartemennya itu, membuat Arya tersenyum. ‘Pengertian banget ini bodyguard.’
__ADS_1
Arya membatin senang.
Bukan karena dia memiliki niat terselubung dengan membawa Mika ke apartemennya, tapi memang Arya ingin membicarakan satu hal dengan Mika di tempat yang sekiranya nyaman untuk dia dan Mika bicara berdua.
Tapi kalau ada kesempatan icip-icip bibir Mika lagi, justru lebih asyik, kan? Pikir Arya.
Dan hal itu bisa saja terjadi kalau satu bodyguard Mika memilih untuk menjaga privasi Arya dan Mika.
Yang mana memang sudah menjadi bagian tugas para bodyguard The Adjieran Smith Family itu untuk tidak masuk campur ke ranah pribadi kehidupan para tuan, baik yang tua maupun yang muda terlebih jika mereka sedang bersama orang-orang terdekatnya kecuali bila diminta.
Maka itu yang Dave lakukan sekarang, memberikan privasi untuk Arya dan Mika yang ia dan seluruh rekan sesama bodyguardnya yang bekerja pada keluarganya Mika itu mengetahui jika Arya adalah kekasih Mika sekarang----dan tidak menutup kemungkinan jika Arya akan seperti Kafeel yang kini menyandang gelar calon suami dari satu inces of The Adjieran Smith.
♥♥♥♥♥
“Alright then, Dave ... Let me know if you need anything ( Ya sudah kalau begitu, Dave ... bilang aja kalau lo butuh sesuatu ) ...”
Arya berujar pada sebelum ia masuk dan mempersilahkan Mika untuk masuk terlebih dahulu.
“I will, Sir and thank you ( Pasti, Tuan dan terima kasih )”
“We’re going in then ( Kami masuk dulu kalau begitu )”
Arya berujar lagi, sambil membawa Mika yang belum juga melangkahkan kakinya itu untuk masuk ke dalam unit apartemennya.
Kemudian membawa Mika masuk lebih dalam dengan satu tangan Arya yang menggenggam tangan Mika, sementara satu tangan Arya membawa paper bag toko perhiasan.
Mika memperhatikan isi apartemen Arya yang tidak seberapa besar itu-----jika dibandingkan dengan kamarnya di mansion utama keluarganya yang berada di London, namun terasa cukup nyaman selain rapih.
Tapi Mika juga belum tahu pasti seluas apa apartemen Arya yang saat masuk, Mika langsung mendapati pemandangan sebuah ruang tamu dengan televisi layar datar yang tertempel di satu bagian dinding berikut sebuah jendela di samping televisi tersebut dimana di sisi lainnya ada satu set meja makan dengan empat kursi dengan meja kaca bundar di tengahnya, serta sebuah sofa panjang yang menghadap ke arah televisi dengan satu meja persegi di depan sofa panjang tersebut.
Lalu saat Mika menoleh ke arah kirinya, Mika mendapati sebuah dapur dengan kitchen set modern didominasi dengan unsur kayu dan marmer. Di arah kanan ada sebuah lorong yang sepertinya adalah area kamar tidur.
Arya tersenyum saja melihat Mika yang sedang memperhatikan isi apartemennya itu selama beberapa saat, kemudian menegur Mika dengan lembut. “Duduk, Mi –“
“Iya –“
“Kecil ya? ...”
“Tapi nyaman –“
“Sangat ...” tukas Arya. “Apalagi kalo ada lo di sini. Terasa berkali lipat nyamannya ...”
♥♥♥♥♥
Selama beberapa saat Mika menyibukkan diri dengan ponselnya selain sesekali melihat ke arah televisi yang sebelumnya telah dinyalakan oleh Arya, saat Mika telah mengambil tempat di sebuah sofa panjang berwarna abu-abu dalam unit apartemen Arya tersebut.
Dimana Arya kemudian pamit pada Mika untuk pergi ke kamar dan membersihkan dirinya, dengan membawa serta paper bag dari toko perhiasan tempat Mika menemukan Arya saat di Mal beberapa jam yang lalu.
‘Padahal mau gue geledah itu paper bag yang dia bawa dari toko perhiasan tadi ...’ batin Mika saat tadi Arya melangkah menuju kamar tidur dalam unit apartemennya itu dengan membawa serta paper bag yang isinya membuat Mika penasaran setengah mati.
Mika menoleh ke sisi kanan tempat dia duduk dimana ada sebuah empat bagian pintu yang dua di sisi kiri dan kanannya sepertinya berfungsi sebagai jendela dan dua bagian di tengah adalah pintu kembar.
Kemudian Mika berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu dan jendela yang tak seberapa jauh dari tempatnya dan sedang Mika tatap itu. Yang kemudian Mika buka pintunya dan tembus ke sebuah balkon yang tak seberapa besar, namun memanjang.
Mika berdiri di bagian tengah balkon dalam unit apartemen Arya tersebut yang baru pertama kali di masukinya, dimana Apartemen Arya itu adalah Apartemen pria pertama yang Mika datangi sebagai seorang kekasih sehubungan memang baru ini Mika pacaran.
“Eh.”
Mika sedang memandangi langit musim semi London yang masih agak terang meski hari agak sedikit hujan ketika sebuah benda terasa menempel di bagian tengah tulang selangka dan lehernya, hingga membuat Mika terkesiap.
“Gue beli ini di toko perhiasan tadi ...” berikut sebuah suara bariton rendah nan lembut terdengar di mana kedua tangannya sedang memasang benda yang adalah sebuah kalung di leher Mika.
“Ar –“
“Ga spesial banget gue pesen sih, cuma minta digabungin dua inisial aja. Inisial nama lo dan gue ...”
♥♥♥♥♥
Tubuh Mika sudah diputar Arya hingga kini keduanya berhadapan selepas Arya memasangkan sebuah kalung emas dengan inisial nama Mika dan dirinya di leher jenjang Mika.
“Gue sembunyikan karena gue sempat urung mau kasih ini ke elo kalo seandainya tadi lo ga dateng ke toko perhiasan tadi. Soalnya setelah gue pikir-pikir kayaknya ini kalung terlalu sederhana kalo gue kasih sebagai simbol hubungan lo dan gue, Mi ...”
Arya berujar lembut sambil satu tangannya mengusap lembut kepala Mika, dan satu tangannya menyentuh kalung yang ia beri dan sudah Arya pasangkan juga di leher Mika.
“Gue suka ...” dimana Mika langsung menukas ucapan Arya, seraya ia tersenyum manis pada sang pacar yang juga melempar senyuman padanya.
“Belom liat udah bilang suka? ... Liar ( tukang ngibul ) –“
“Lo juga tukang bohong! ... lupa udah bohongin gue tadi? ...”
Mika menukas ucapan Arya yang disertai cubitan kecil di hidungnya, namun dengan ekspresi sebalnya Mika yang dibuat – buat.
Arya terkekeh kecil.
“Neng Judes bisa ngegemesin banget juga ternyata ...”
Lalu Arya menangkup wajah Mika yang ia goyangkan dengan gemas.
“Gue sudah menggemaskan dari lahir ...”
“Dan gue bakalan kangen banget sama wajah judes menggemaskan lo ini –“
“Kenapa? ...” tukas Mika seraya bertanya.
“Karena kita bakal LDR-an –“
“Kok??? ...”
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue ......
__ADS_1