HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 191


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama Jakarta The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


“Tapi setelah kejadian ini, apa rencana Kaka masih tetap pada jadwal atau berubah? ...”


Ada beberapa wanita personel The Adjieran Smith yang sedang mengobrol santai di area kolam renang, sepeninggal beberapa anggota keluarga lain yang melakukan aktifitas mereka masing-masing.


“Kalau soal itu coba nanti tanya Alva dan The Dads ... Kita tunggu saja kabar dari mereka.”


“Ada untungnya sih acara ini akan menjadi surprise –“


“Acara apa yang akan menjadi surprise?” namun sebuah suara bersamaan dengan sosoknya yang muncul tanpa disadari oleh mereka yang sedang membahas sesuatu yang berkenaan dengan orang yang menyambar ucapan Oma Anye itu, membuat mereka yang sedang membahas topik tersebut----spontan terdiam.


Adalah Val yang menyambar dan memotong ucapan Oma Anye. Yang kemudian melipat bibirnya, lalu saling tatap dengan mereka yang sedang terlibat pembicaraan tersebut.


“Surprise untuk mereka yang akan menerima hasil dari penggalangan dana di Festival Tahunan nanti.” Mommy Ara dengan kecepatan otaknya berpikir yang mumpuni itu, dengan cepat menjawab pertanyaan putri kandungnya yang tahu-tahu nongol secara tiba-tiba.


“Oh, untuk beberapa panti baru itu termasuk para aktivis pendidikan untuk para anak jalanan itu ya? ...”


Val menukas dengan dugaannya.


“Indeed (Betul sekali)!”


Mama Fabi langsung menyambar.


“Ngomong – ngomong, kamu habis bicara dengan Kaka?” Gamma kemudian bertanya pada Val.


“Iya, Gam.”


Val pun lekas menjawab Gamma.


“Lalu kamu bertanya soal Lena yang kenapa sampai nekat mengendap dari kamarnya demi menemui kekasihnya walaupun sudah mendapat peringatan keras dari kakaknya?”


“Iya, Oma. Val bertanya soal itu juga tadi pada Kak Kafeel –“ jawab Val pada Oma Anye yang barusan bertanya. “Tapi Kak Kafeel mengatakan, Val tidak perlu memikirkan soal itu. Biar Lena menjadi urusan Kakak, Val taunya sayang dan cinta aja pada Kakak..... Begitu Kak Kafeel bilang pada Val –“


“Ya sudah kalau seperti itu –“ tukas Mommy Ara yang mengulum senyumnya – begitu juga mereka yang sedang berada didekat Mommy Ara dan Val,  selepas Val dengan polosnya mengatakan kalimat uye yang sempat Kafeel katakan padanya.


“Iya Mom Peri benar,” Gamma menimpali. “Jangan kamu bahas lagi soal Lena.”


“Yaa Val kan ingin tahu, karena siapa tahu Val bisa membantu menemukan solusi atau yah apapun lah soal Lena.”


Val merungut imut, dan mereka yang berada didekatnya tersenyum kemudian.


“AA Kafeel kamu hanya tidak ingin membebani pikiranmu..” Lalu Mommy Ara berucap, sambil membelai kepala sang putri kandung yang kini menyandarkan kepala di bahunya.


“Lagipula Kak Kaf pasti sudah bicara dengan Abang soal permasalahan Kak Lena sih menurutku,” tukas Ann. “Juga dengan The Dads,” tambahnya. “Jadi kalaupun ada masalah pelik mengenai Kak Lena, aku rasa Kak Kaf akan mendapatkan solusi dari Abang dan The Dads –“


Val dan lainnya pun manggut – manggut setuju atas komentar Ann barusan.



“Mami sama Papi masih perang dingin itu?” ada Nathan yang bertanya, pada mereka yang sedang ada didekatnya saat menunggu makan malam siap untuk seluruh anggota keluarga termasuk beberapa tamu kerabat yang sudah tiba dari London sejak sore hari.

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Nathan bertanya, karena dalam penglihatannya Mami Prita dan Papi John tidak saling bertegur sapa dan saling melengoskan wajah saat berpapasan.


“Hu’um..”


Ann dan Rery yang ada di dekat Nathan pun sama mengiyakan dengan deheman.



Semua orang yang berada di KUJ The Adjieran Smith terkecuali para art yang selalunya bertugas di area kediaman tersebut, kini sedang bersiap untuk berangkat ke sebuah acara tahunan dimana satu keluarga dengan nama besar yang cukup tersohor terlebih di Eropa itu-adalah penggagas sekaligus sponsor utamanya.


Sebuah acara tahunan yang diadakan yang diperuntukkan sebagai penggalangan dana besar-besaran, yang hasilnya nanti akan dialokasikan untuk berbagai pihak baik di negara tempat festival tahunan tersebut berlangsung ataupun di negara lain berdasarkan survey yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait yang sudah ditunjuk untuk mengurusnya.


Dan selain penggalangan dana, festival tahunan tersebut kiranya adalah sebagai ajang pengenalan budaya dari kumpulan-kumpulan seniman dari beberapa negara ataupun sebagai ajang perorangan untuk menunjukkan ragam bakat yang berupa kreativitas dan seni.


Dimana setiap hal tersebut akan ada tempat dan bagiannya masing-masing, yang sudah dibuka sejak pagi hari menjelang siang.


Dan saat ini, dimalam harinya – setelah menyempatkan diri untuk menghadiri acara pembukaan di pagi harinya, para personel The Adjieran Smith yang sebagian telah pulang ke kediaman terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri setelah menghadiri acara pembukaan festival di pagi hari menjelang siang tadi, sudah akan berangkat kembali dari kediaman untuk menghadiri acara inti dari festival tahunan tersebut.


Sementara sebagian memilih untuk tidak kembali ke kediaman dan menyewa kamar di hotel tempat acara festival tahunan tersebut diadakan dan sedang berlangsung.



“Jika kamu masih mau bertahan dengan sikap kamu yang seperti ini, Prita. Akupun bisa sama egoisnya dengan kamu.. sorry, aku tidak ada maksud untuk mengancam. Tapi aku cukup terganggu dengan sikap kekananakkan kamu yang aku perhatikan semakin menjadi.”


Dia Papi John yang berbicara, saat ia telah keluar dari kamar hotel dimana kamar yang dia tempati tersebut berbeda dengan Mami Prita yang sedang ia ajak bicara dan bersikap acuh tak acuh padanya – yang masih nampak kekeh dengan sikapnya yang acuh tak acuh itu pada Papi John sebagai bentuk protes Mami Prita pada sang suami.


“Terus kenapa kalo aku semakin menjadi? Ga suka? Ga terima? Jangan diliat. Jangan ngajak aku ngomong.”


Dan respon dengan kecepatan kalimat tanpa ttik dan koma kemudian keluar dari mulut Mami Prita pada si Papi.


Meski Papi John sudah meminta maaf, namun si Papi menganggap hal itu sepele.


Hingga cibiran dan sindiran kemudian sering keluar dari mulut Mami Prita untuk Papi John.


Tapi alih-alih dirayu dan dibaik-baiki, malah Mami Prita didikte dan diceramahi sedikit keras didepan keluarga yang lain.


Lalu, Mami Prita bersikap acuh tak acuh, dan Papi John pun sama.


Keduanya sama-sama bertahan dengan pendapat dan ego masing-masing.


Sampai dengan saat ini, dimana seharusnya – seperti biasanya, Mami Papi John berdiri dan berjalan bersisian dengan mesra seperti para pasangan dalam keluarga yang lain – namun keduanya malah bersikap bak bermusuhan.


“Begitu?” tanggap Papi John atas ucapan Mami Prita sebelumnya.


“Iya begitu.”


Mami Prita menukas dengan acuh.


“Fine, terserah kamu.”


Papi John balik menukas.


“Pesan aku, jaga sikap kamu selama acara berlangsung.”


“......”

__ADS_1


“Tahu kan, jika akan ada banyak orang yang hadir selain kolega dan kerabat keluarga kita? Maka jika kamu tidak mau mendampingi aku, jangan terbakar jika aku dekat dengan beberapa wanita yang aku kenal disana meski aku hanya mengobrol saja –“


“Oke.”


Mami Prita merespon cepat.


“Seperti yang pernah aku bilang, silahkan urus urusan kamu, aku ga akan ikut campur lagi ..”


Lalu Mami Prita berucap lagi dengan intonasi yang datar.


“Begitu juga sebaliknya. Jangan ikut campur sama urusan aku.”


Intonasi suara Mami Prita masih terdengar datar, namun tersirat penegasan disana.


“Seperti kamu yang meminta aku jaga sikap, akupun minta jaga sikap kamu ..” tambah Mami Prita. “Ga perlu mendekati aku atau bicara pada aku jika bukan aku yang melakukannya duluan –“


“Jangan khawatir soal itu.”


Papi John menukas dengan tersenyum kecil namun miring.


“Aku juga enggan mendekati istri yang super egois –“


“Terserah .. tapi ingat kata-kata kamu ini,” tukas Mami Prita. “Yang keluar dari mulut kamu adalah perkataan seorang laki-laki The Adjieran Smith, yang harus memegang kata-katanya.”


“Sudah aku katakan, jangan khawatir soal itu.”


Papi John menyahut percaya diri. Dimana Mami Prita menyungging miring.


“Silahkan melakukan apapun, aku tidak akan menyergah.”


Papi John menegakkan diri sambil tangannya bergerak seolah merapihkan jasnya.


“Sekaligus aku ingatkan, jangan bersikap kampungan dengan tahu-tahu menarik rambut wanita yang mengobrol denganku.”


Lalu Papi John berjalan meninggalkan Mami Prita dibelakangnya. Sementara Mami Prita hanya melirik saja suaminya yang sudah berjalan menjauhinya itu dengan acuh tak acuh, bahkan sempat mendengus sinis.


Kemudian Mami Prita berjalan juga menuju tempat acara dengan asistennya – yang tadi menjaga jarak saat melihat Bos studionya nampak bicara dengan sang suami, dan Mami Prita pergi menuju sudut yang berbeda dengan arah Papi John melangkah.


“John, John, dia lupa kali dulu dia pernah dicuekin sampai gimana sama si Prita gara-gara dia nyinyir begitu.”


Ada Daddy Dewa yang kebetulan ada tak jauh dari Mami Prita dan Papi John saat keduanya saling berargumen datar, dimana ada beberapa orang didekatnya yang menyaksikan adu argumen datarnya Mami Prita dan John beberapa saat yang lalu.


“Meski ga sampai dia menghardik Prita macam waktu dia belain mantan pacarnya seriusnya dulu, tapi aku yakin adik kamu itu sama ga senangnya sekarang seperti waktu itu, Naomy –“


“Heemmm“


Momma yang memang dipanggil dengan nama aslinya oleh Daddy Dewa itu pun manggut-manggut.


“Tinggal nunggu aja si bule koplak kebakaran jenggot. Ga mau belajar dari pengalaman dia punya istri bocil buat ukuran itu aki-aki..”


Lalu Momma dan Daddy Dewa terkekeh bersama dengan mereka yang ada didekat keduanya.



To be continue...

__ADS_1


__ADS_2