HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
K A B A R


__ADS_3

Bagi kalian yang sedang penasaran jiwanya tentang bagaimana cerita ini berjalan, Emak Cuma bisa bilang, semua udah punya bagian.


Semua yang pertanyaan kalian, nanti akan ada jawaban.


Ujung, pasti ditemukan.


Nah sebelum ujung sampai, Emak Cuma mau bilang,


Harap bersabar, karena baca karya Emaknya Queen emang ujian kesabaran. 😆😆


Bukankah di dalam cerita BSS dan The Smith cukup ditemukan kejutan?


Seperti itu juga mungkin di karya ini kalian dikejutkan dengan sesuatu yang diluar nalar, kelewat dari pemikiran.


Awokwkwkw.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England ...


“Acara Val dan Kak Kaf tinggal tiga bulan lagi, May ... Gue udah niat banget mau ngelamar lo--Lo, berubah pikiran atau engga kalau gue akan datang melamar lo satu bulan setelah pernikahannya Val dan Kak Kaf? ...”


“Engga.”


“Beneran ya? ----“


“Iya.”


‘Ma-aaaaf, Ar..... Ma-aaf.....’


Ada dia yang melirih dalam hatinya, ketika apa yang ingin ia lakukan, telah hampir seratus persen dilakukan.


♦♦♦


Di dalam sebuah mobil yang berisikan enam orang ...


“By the way, segala tentang si bocah tengik brengsek itu sudah disingkirkan dari KUJ? ---“


“Nathan mengatakan padaku jika dia sendiri yang sudah membakar semua tentang K.A..... baik yang sudah Val pisahkan dan turunkan, juga yang ada di setiap ruangan yang ada di KUJ.....”


“Yang mana aku rasa hal itu tidak perlu dilakukan ---“


“Dan membuat hatiku merasa kacau balau setiap kali melihat wajahnya???.....”


♦♦♦


“Oh iya, sudah ada kepastian tanggal pertunangan May dan Arya?”


“Itulah.”


Momma yang merespons pertanyaan Dad R.


“Aku sama Kak Ara tadi sempat ngobrol sama Ichel..... terus kata Ichel, si May tuh kayak ogah-ogahan untuk ngurusin itu acaranya sama Arya ---“


“Haish, anak itu ---“


“Ya, wajar aja sih Kak Ren, anak – anak kita tau akrabnya kayak apa ---“


“Ya meski seperti itu, May tidak perlu sampai sebegitunya juga. Terlebih harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri ---“


“Nanti langsung panggil saja dia saat kita tiba di mansion ---“


“Mungkin harus ditegaskan lagi Hon..... jika perlu, kita percepat saja acaranya May dan Arya.....” tukas Mommy Ara. “Bagaimana menurut kamu, Drew?.....”


Namun yang ditanya tidak merespons.


“Kenapa, Drew?” Mommy Ara bertanya, ketika ia menangkap Poppa nampak mengernyit saat sedang menatap pada ponsel pribadinya.


“Have you guys seen Felix account? ( Apa kalian sudah melihat akunnya Felix? )”


Poppa baru bersuara, sambil mengangkat wajahnya menatap tiga orang yang berada di dekatnya bergantian.


♦♦♦


Felix Balamy – lovely hand to hold. I love you oh hand’s owner that I hold now


( Tangan yang indah untuk digenggam. Aku mencintaimu wahai pemilik tangan yang sedang aku genggam sekarang )


“May memang bukan putri kandung gue, tapi gue yakin betul jika ini tangannya yang sedang Felix genggam.....”


Poppa berkata sambil ia menunjukkan layar ponselnya kepada Dad R, yang kemudian ponsel Poppa di ambil oleh Momma dan melihat satu laman akun medsos itu bersama Mommy Ara untuk memastikan apa yang Poppa katakan barusan.


“Correct me if I’m wrong ( Koreksi jika aku salah ).....”


“Kamu benar Drew, ini memang tangan May.....”


♦♦♦


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England ...


Empat orang tua yang tadi berada di dalam mobil kini sudah kembali ke London setelah satu minggu berada di sebuah pulau pribadi untuk sebuah urusan genting.


Yang mana ke empatnya kembali ke London, karena telah ada anggota keluarga lain yang menggantikan mereka untuk beberapa waktu sesuai kesepakatan bersama.


“Loh Mommy Ara, Momma, Dad R, Poppa?”


Ada Mika yang baru saja keluar dari lorong tempat lift berada dengan nampak sedikit terkejut.


Yang mana rasanya kebetulan bagi empat orang tua yang baru saja tiba itu dengan kemunculan Mika di hadapan mereka saat telah masuk ke dalam mansion, karena memang ada hal yang ingin ditanyakan serta dipastikan dengan satu putri mereka itu.


♦♦♦


Jika orang tua pintar, anaknya suka jauh lebih pintar.


Yang mana dalam hal ini, orang tua pintar itu adalah mereka para orang tua di Klan The Adjieran Smith, terutama mereka para ayah.


Cerdas? – Jangan ditanya, IQ mereka di atas rata-rata.


Teliti? – Woya pasti. Lihat bagaimana The Dads of The Adjieran Smith membawa bisnis keluarga dan bisnis mereka masing-masing menggurita dengan keuntungan berkali lipat dari kerugian yang pernah dialami.


Lalu memiliki anak-anak yang luar biasa dengan makna yang luas adanya, terutama mewarisi kecerdasan mereka --- bahkan ada yang jenius juga.


The Dads of The Adjieran Smith pintar, teliti matanya, bahkan dapat mengetahui seseorang jujur atau tidak hanya dari pandangan mata.


Jadi atas nama cerdas atau pintar dan teliti adanya itu atas ketajaman insting yang merasa ada ‘apa-apa’, seperti ini kiranya.


“Apa kau sedang bermain api, May?”


“Maksud Poppa?”

__ADS_1


“Ini tanganmu dan tangan Felix bukan?”


“Oh, itu.”


“Apa kau sedang membuat rumor untuk membatalkan pertunanganmu dan Arya?”


“Tidak.”


“Jadi?”


“Aku dan Felix telah menjalin hubungan. Jika ditanya mengapa bisa, Felix yang lebih banyak berada di sini menemani dan menghiburku. Bukan Arya.”


“Kemari dan mendekat padaku, lalu ulangi apa yang kau katakan tadi.”


Tentu, dua Dads yang instingnya paling tajam diantara The Dads of The Adjieran Smith lainnya, tidak percaya begitu saja dengan perkataan Mika atas dasar hati mereka mengatakan, ‘seperti ada yang tidak beres’.


“Aku telah kian dekat dengan Felix, setelah kejadian Val. Bahkan lebih dari sekedar dekat. Hatiku telah berganti arah.”


Namun ya itu, setajamnya insting, tetapi bila dihadapkan pada ucapan penuh keyakinan dengan mata yang menatap fokus pada lawan bicara---dugaan Poppa dan Dad R yang menduga tentang sesuatu yang tidak beres itu terpatahkan, meski masih ada keraguan yang mengganjal.


Hanya saja tak bisa diteruskan, karena Mika berkata penuh keyakinan.


Pupil matanya sama sekali tidak menampakkan kebohongan.


Ya itu lah yang katanya, ‘Sepintar-pintarnya orang tua, anak suka lebih pintar.’


Dimana kalimat itu berlaku pada Mika yang paham betul bagaimana para orang tuanya, baik yang kandung ataupun angkat.


Bahkan dua Dad angkatnya ini, dimana yang satu jatuhnya adalah paman---karena Poppa adalah kakak kandungnya Mom Ichel, adalah dua orang yang paling sulit untuk dibohongi.


Yang sudah Mika pahami sifat dan tabiat, bahkan kebiasaannya.


Dan Mika sudah menduga, rumor yang ia buat itu terendus oleh dua Dad - nya ini.


Untuk itu Mika sudah sangat berlatih.


Karena posisinya saat ini telah ia prediksi.


Agar kiranya Poppa dan Dad R meyakini, bahwasanya benar, hati Mika telah berganti arah.


“Oh May.....”


Dad R dan Poppa sama berkesah berat.


“Lalu Arya bagaimana? Dia pasti akan sangat terluka May.....”


“Mau bagaimana? Hati kan tidak bisa di - control?.....”


Diresapi sekali akting dirinya di depan dua Daddy, hingga kedua Daddy itu mau tidak mau mempercayai jika memang Mika telah berpindah hati.


“Kalian bilang aku perlu mengejar kebahagiaanku bukan?..... Aku bahagia berada di dekat Felix sekarang, melebihi apa yang pernah aku rasa pada Arya.”


Seperti itu yang Mika katakan dengan penuh keyakinan, hingga benar - benar menepiskan keraguan hati Dad R dan Poppa yang menduga.


Tapi kenapa ya, hati kecil Dad R dan Poppa sama berbisik, 'Sepertinya tetap harus diselidiki benar atau tidak pengakuan May, meski tak tampak sedikit pun kebohongan di matanya.'


Lalu benar-benar terealisasi, perpisahan Mika dan Arya secara resmi.


♦♦♦


Jakarta, Indonesia....


Mika dan Arya bertemu, setelah perpisahan tak baik mereka.


“Untuk, ketidaksetiaan gue ke elo, gue minta maaf, Ar.....”


“Thanks ya, Ar?.....”


“Well, gue mau memastikan sekali lagi ---“


“Tentang?”


“Lo, dan Felix... benar udah ‘sejauh’ itu?”


“Iya, benar.”


“Dan lo cinta dia, sekarang?”


“Iya.”


Mika sudah layaknya pemain film kawakan.


Jika dua Dads Mika rasa bisa ia kelabui dengan aktingnya yang sangat meyakinkan, apalagi Arya?.....


“Hh.... Well, gue bisa bilang apa kalau begitu? ---“


“Sekali lagi, gue minta maaf, Ar.”


“Ya sudah mau diapain May? ---“


“.........”


“Mungkin udah takdirnya begini, kalo kita ga jodoh ---“


“Lo akan menemukan jodoh yang sesuai untuk lo, Ar. Yang lebih baik dari gue.....”


Yang kemudian berakhir dengan saling berpamitan, menjabat tangan, lalu saling memberikan pelukan perpisahan. Teriring ucapan,


“Semoga lo cepat dapat pengganti gue, baik di hidup dan di hati lo ...”


Dari Mika untuk Arya, yang mengangguk lesu dengan tersenyum pada Mika.


Senyum yang akan Mika rindukan sepanjang hidupnya, begitu kiranya.


Karena cinta Mika pada Arya tetap ada di hatinya.


Tidak akan Mika berusaha untuk hilangkan, meskipun sesuatu yang ia terima terasa menyakitkan di hampir dua bulan kemudian.


♦♦♦


Sebelum dua bulan itu diungkapkan, mari menyorot dulu pada dia yang baru saja kehilangan.


Arya Narendra.


Yang langkahnya gontai karena cerita cintanya telah kandas.


Selama beberapa hari berada di Jakarta, Arya yang berniat mengundurkan diri saja dari tempat kerjanya ---- karena London sungguh punya banyak cerita tentang dia dan Mika.


Lalu meminta cuti beberapa hari, dengan selipan kalimat, “Kalau boleh syukur, kalau engga pecat aja.”


Karena Arya sedang enggan bekerja. London masih terasa menyakitkan untuknya. Keengganan atas saking sedang putus asanya, dimana predikat ‘Sadboy’ harus Arya sandang lagi.


Bukan sekedar kata-kataan dari Mika, namun gadis tercintanya itu membuat julukan ‘Sadboy’ benar – benar nyata bagi Arya.

__ADS_1


Dan atas dasar keputusasaan, Arya juga enggan kembali ke rumah orang tuanya yang juga telah datang dari New Zealand.


Ia butuh menenangkan diri. Karena sungguh, hati Arya sedang sakit sekali karena Mika telah mengkhianati.


Kalau kata Mas Azmi,


“Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini. Karna pernah cinta, tapi tak pernah sedalam ini.”


‘SIALAN!’


Arya merutuk dalam umpatan.


Tapi kata ‘Sialan’ yang Arya katakan itu menjadi sebuah pengharapan, ketika setelah beberapa hari menenangkan diri dan katakanlah bersembunyi bahkan ponselnya pun Arya buat tidak aktif, Arya pulang ke rumah orang tuanya yang berada di Jakarta.


Mengernyit, ketika papa dan mamanya berikut kakak lelakinya nampak kompak menempelkan ponsel di telinga masing – masing dengan wajah yang macam – macam ekspresinya.


“Kenapa dah?.....”


Arya bersuara, dan kakak lelakinya yang menoleh, Sony.


Karena papa dan mama mereka sedang terpencar berbicara dengan ponsel yang menempel di telinga.


“Ck! Mana aja lo?!.....” Sony menyambut ketus.


“Dari pedalaman.....”


Arya menyahut malas.


“Lo tau tentang hal ini??? ---“


“Tau apaan?” tukas Arya.


“Val dan Kak Kaf batal nikah ---“


“HAH?!”


♦♦♦


“Lo dari mana?”


Rico, ayah kandung Arya dan Sony ---- memang senyantai itu bicara pada dua anak lelakinya setelah keduanya dewasa.


“Kerja.”


Arya yang menjawab, karena papa Rico menatap padanya setelah ia selesai dengan ponselnya, lalu menghampiri Arya yang baru saja duduk di samping Sony setelah ia dikejutkan dengan kabar yang diucapkan kakak lelakinya itu.


“Jangan ngibul! Papa telfon ke kantor lo dan mereka bilang lo udah beberapa hari cuti.....”


Arya kemudian memamerkan barisan giginya.


“Semedi lo, jadi sadboy beneran?.....”


Ya seperti itu papa Rico melontarkan cibiran pada Arya yang ia ketahui telah putus dari Mika sebulan yang lalu, karena ada ‘kumbang’ lain yang menikung anak bungsunya itu.


Tapi baru ‘menduda’ secara resmi beberapa hari lalu, ketika bertemu Mika lagi untuk memastikan berakhirnya hubungan.


Yang tidak begitu papa Rico dan istrinya lihat kehancuran Arya, karena saat kabar itu mereka dengar berikut permintaan maaf dari keluarga Mika, orang tua Arya dan Sony itu sedang berada di luar Indo.


Tapi sekarang sudah papa Rico lihat, jika anak bungsunya itu sedang patah hatinya. Keliatan betapa suram muka Arya soalnya, macam lagi terjerat utang banyak di pinjol.


“Laki jangan lembek....” namun begitu, papa Rico tetap saja mencibir Arya.


Meski papa Rico tahu, seperti apa Arya mencintai Mika.


Namun tentu saja cibiran itu tak serius, semata – mata agar anaknya lebih santai saja.


Arya tahu itu.


Dan Arya hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.


“Eh iya Pa! Itu, tadi si Sony bilang, Val sama Kak Kaf batal nikah?!.....”


Yang Arya tanyakan ketika ia teringat tentang perkataan Sony sebelumnya.


“Gimana ceritanya???!!!”


“Nah justru itu Papa mau tanya sama lo. Emang waktu lo dan Mika putus atau sebelumnya, Mika ga bilang apa-apa soal itu?.....”


“Engga.”


“Brengsek banget emang si Kaka..... bla..... bla.....”


Papa Rico mendongeng kemudian, berdasarkan dari apa yang ia dengar.


“HAH?! Beneran itu?!” Arya tercengang.


“Ga bisa dihubungin lagi tuh orang! ---“


“Besok Papa sama Mama ke rumahnya. Pengen Papa gebukin tuh si Kaka ---“


“Eh btw Ar..... Nih dari apa yang gue denger dari si Jo, tentang batalnya pernikahan Val dan Kak Kaf itu udah dari hampir dua bulan yang lalu.” Ini Sony yang menyambar untuk bicara.


“Seriusan?.....”


Arya masih dengan keterkejutannya.


Sony manggut – manggut.


“Lo masih belum putus sama Mika kan berarti pas itu kejadian?.....”


Papa Rico berbicara lagi dan Arya mengangguk.


“Yaa..... belom..... tapi kok Mika ga cerita apa – apa ya? ---“


“Mungkin lo udah mulai ga dia anggep ---“


“Bacot lo ah!” tukas Arya seraya mendelik pada Sony yang asal bicara menurutnya. Sony terkekeh saja menanggapi kesewotan adiknya itu.


“Soal putusnya lo sama Mika ---“


“Gue ga mau bahas itu!”


Arya menukas ketus.


“Dih, siapa juga yang mau dengerin cerita patah hati lo?!.....”


Sony pun segera merespons.


“Gue Cuma mau bilang, kok kebetulan lo yang putus sama Mika, kejadiannya ga lama setelah dipastikan Val dan Kak Kaf yang batal nikah?.....”


Atas ucapan Sony itu Arya jadi berpikir,


‘Apa Mika menggunakan Felix sebagai alibi buat putus dari gue karena dia ga mau menyinggung Val?.....’

__ADS_1


♦♦♦♦♦♦


To be continue.....


__ADS_2