
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Italy,
“V-Val.. di-dimakamkan di, sini, kah, Va?—“
“Apa gue menyuruh lo untuk bicara?“
“Sorry..”
“Sekali lagi gue ingatkan, lo bisa sampai di tempat Val berada atas ijin gue. Dan kalau gue ga kasih ijin lo pergi, sampe mati lo harus tetap tinggal, buat temani Val.”
♦
♦
Jakarta, Indonesia,
Di sebuah rumah sakit,
Waktu sebelumnya--
“Dad-dy Moreno, sama Mommy Kyara.. apa ada di Jakarta sekarang, Alva?.. kalau mereka ada, anter Bunda ketemu mereka, Alva.. Bunda mau minta maaf, sama Moreno, Kyara.. juga sama semua keluarga kamu.. kalo perlu Bunda su-juud di kaki kalian untuk minta maaf, Al-va—“
“Bunda..” tukas Varen. “Kami semua bukan Tuhan. Jadi Bunda jangan berpikir kalau Bunda harus bersujud pada kami..”
“Bunda mau minta maaf, Al-va.. mungkin terlambat, atau juga percuma.. tapi waktu Val dateng di hari Kaka menikah, setelah Kaka dibuat ga sadar-kemudian bangun dan langsung ke tempat kalian tapi nyatanya Kaka udah ga diterima lagi, Bunda, mau ke sana hari itu juga. Tapi Kaka larang.. percuma-katanya.. terus Kaka mengamuk.. jadi Bunda urung pergi, Alva—“
“Iya, Bun. Tak apa..”
“Ma-af, Alvaa.. maaf—“
“Sudah Bun, sudah..”
Varen mengeratkan pelukannya pada Bundanya Kafeel yang tersedu sedan di pelukannya itu.
“Kami memang sangat marah pada kalian. Pada Kaka terutama. Tapi Demi Tuhan, tidak sedikitpun kami membenci kalian—“
“Al-vaaa—“
“Lebih baik sekarang kita berdoa ya?.. agar Kaka dapat tertolong.”
“Makasih, Bang Alva..” Lena yang ada di dekat sang Bunda dan Varen sedari Varen datang, berucap lirih. “Dan, maafin, kami semua. AA terutama. Karena AA, sangat menderita, Bang Alva..”
Varen tersenyum hangat pada adik perempuan Kafeel yang sudah Varen anggap seperti adiknya sendiri.
“Kemarilah.”
Varen merentangkan satu tangannya ke arah Lena, dimana Lena langsung berhambur kepadanya dan luruh kemudian seperti sang Bunda.
Membiarkan dua orang yang memang Varen sayangi itu tersedu sedan dalam rengkuhannya, sembari Kafeel menenangkan. Sementara Arya tersenyum lembut melihat interaksi Varen dengan dua orang anggota keluarga dari pria yang telah menyakiti adik kandungnya dengan begitu dalam.
“Maaf jika kami terkesan menjauhi kalian.. kami dibuat shocked secara bertubi-tubi. Dan mental kami, katakanlah menurun. Benar-benar tidak siap untuk menghadapi siapapun di luar keluarga inti—“
“Soal Val, Alva—“
“Nanti saja membahas itu ya, Bun?—“
♦♦
“Bang.”
Arya menegur Varen yang baru saja bicara dengan salah seorang bodyguardnya.
“Hem?—“
“Soal Val, gue—“
“Kita bicarakan itu nanti, Ar.”
Varen lekas menukas dengan tersenyum tipis pada Arya yang matanya sudah berkaca-kaca.
Arya lantas mengangguk paham.
Namun wajah Arya menampakkan kesedihan.♦
“Hanya, gue ga ngerti.. gue, papa, mama dan Kak Sony yang kalian sebut keluarga, bahkan kami taunya kalau Val dan Kak Kaf ga jadi nikah saat sudah dekat hari.. terus berita soal Val.. itu nyakitin banget, Bang. Kalian ga kasih kami kabar—“
“Banyak hal yang terjadi, Ar..”
Varen memegang bahu Arya yang sudah menitikkan air matanya.
“Banyak pertimbangan atas semua sikap dan apa yang kami lakukan, sejak Val dibuat hancur oleh Kaka.”
“Iya, tapi, Bang—“
“Alva..”
Ucapan Arya terputus ketika sebuah suara terdengar menyebut nama depan Varen.
“Ma-Cel.”
Varen menyapa dengan lembut dan tersenyum pada wanita paruh baya yang langsung meluruh memeluknya.
“Ya Allah, Alvaaaa—“
“Damned, Boy—“
“Apa kabar, Pa?”
Varen juga menyapa seorang pria paruh baya yang datang bersama wanita yang Varen panggil dengan Ma-Cel.
"Ma-Cel juga apa kabar?--"
“Sejak kapan kalian rahasia-rahasiaan sama kami, hah????—“
“Tidak ada maksud seperti itu, Pa.”
__ADS_1
Varen menyahut tenang pada pria paruh baya yang merangkum belakang kepala Varen dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf untuk itu. Tapi nanti saja kita bahas.. karena Papa dan Mama baiknya menemani Bunda dan Lena saja dulu..”
Varen menambahkan, dan dua orang paruh baya yang adalah orang tua Arya itu mengangguk padanya.
Lalu Varen memeluk Sony yang juga datang bersama kedua orang tuanya, dimana kakak Arya juga sendu memandang pada Varen.
“Gue pikir, gue ada bikin salah sama si Jo sampe dia terkesan menghindari gue meski si kampret satu itu selalu nyangkal. Tapi berita yang gue denger soal kabar terbaru Val, bener-bener bikin gue ngerasa kalo gue sekeluarga itu udah ga kalian anggap lagi—“
“So sorry for that—“
“Dan gue, turut—“
“Keluarga pasien atas nama Kafeel Adiwangsa?”
Ucapan Sony terputus, karena ia spontan menoleh seperti orang-orang yang sedang menunggu kabar tentang Kafeel di luar ruang IGD sebuah rumah sakit swasta.
“Ba-bagaimana anak saya, Dokter?..”
Bundanya Kafeel yang segera bicara ketika seorang Dokter keluar dari ruang IGD dan memanggil keluarga Kafeel.
Sisanya, sudah mendekat dengan ekspresi wajah yang was-was, namun dalam hati mereka masing-masing merapalkan doa agar Kafeel baik-baik saja.
♦♦
“Bunda dan Lena, pulang saja dulu dan beristirahat. Biar aku yang menjaga Kaka di sini..”
Varen kemudian berkata, ketika Dokter telah memberitahukan kabar yang melegakan semua orang yang menunggu soal kondisi Kafeel.
“Engga Alva, Bunda di sini aja.. ga mungkin Bunda masih ga punya malu ngerepotin Alva..”
Bundanya Kafeel menggeleng sembari berucap lirih, lalu menundukkan kepalanya.
“Bunda ini bagaimana?.. kalau aku merasa direpotkan, tidak mungkin aku menawarkan diri untuk menjaga anak Bunda yang bodoh itu—“
“Iya, emang bodoh eta si AA.. ngapain coba pilih Bunda yang udah sakit-sakitan begini?..” tukas bundanya Kafeel, dan Varen terkekeh kecil kemudian.
Direngkuhnya lagi bundanya Kafeel oleh Varen.
“Kaka anak berbakti, Bun.”
“Iya, bener, tapi—“
“Sudahlah, Bun,” tukas Varen.
Mengeratkan rengkuhannya pada bundanya Kafeel sambil mengusap-usap lengan perempuan yang usianya kurang lebih sama dengan Mommy Ara itu.
♦♦
“Bunda dan Lena, baiknya pergilah beristirahat dahulu—“
“Kamu aja Alva, kalo mau pulang teu nanaonan—“
“Aku ingin menunggu Kaka sampai ia siuman, Bun. Ingin sedikit menceramahinya..”
“Dimarahin aja sekalian, sok Bunda ikhlas, Alva,” sahut bundanya Kafeel, dan Varen lantas mendengus geli, bersama lima orang lainnya.
Varen lalu merengkuh lagi Bundanya Kafeel.
“Kabar yang lain gimana, Abang?..” tanya Lena.
“Mereka baik, Lena. Alhamdulillah..”
“Alhamdulillah.”
“Nanti Kak Drea datang ke sini bersama Aina dan Isha.”
‘Mika?’
Seseorang bertanya dalam hatinya ketika mendengar ucapan Varen yang barusan.
‘Ada juga ga?..’
Kembali pertanyaan terlontar, namun kembali juga pertanyaan itu hanya tercetus di dalam hatinya saja.
‘Kangen banget soalnya..’ hati Arya yang masih merindu—belum move on sama sekali, meski statusnya sudah tidak single lagi. 'Ah kalo dia ada mending ga usah ikut ke sini deh. Nyeri lagi hati gue nanti. Apalagi kalau si Felix ada juga barengan dateng sama Mika!'
♦♦
“Bunda dan Lena, lebih baik mengisi perut dulu. Aku yang menjaga disini sambil menunggu Drea, Isha dan Aina datang.”
“Bunda ga laper, Alva..”
“Aku harus memastikan jika Bunda sehat-sehat, begitu juga Lena. Karena nanti malam aku kembali ke London..”
“Alva benar, ayok aku temani kamu dan Lena untuk mengisi perut, Magda..” Mamanya Arya dan Sony angkat suara sambil merangkul pundak ibundanya Kafeel.
“Lena pulang dulu aja sebentar ya, Bun?.. Lena mau bersihin kamar AA, sekalian ganti baju dan bawain baju ganti buat Bunda..”
“Oh iya, ya, Lena..”
“Makan dulu saja, Lena—“
“Abang bener, kamu makan dulu gih sama Bunda. Masalah mau ngebersihan kamar Kak Kaf, nanti Kak Sony sama Arya yang anter kamu balik—“
“Eum.. tapi baju Lena sama Bunda banyak darahnya gini, apa ga ganggu orang-orang di tempat kita makan nanti?..”
“Elah, pikirin amat orang, Len. Nanti di headshot kepalanya sama Papa Rico kalo ada yang rese. Ya ga, Bapak Eks KOMJEN?—“
“Kompres!”
Papa Rico menimpali celetukan asal anak bontotnya yang terkekeh bersama mereka yang berada di dekat Papa Rico dan Arya itu.
“By the way, mana istrinya Kaka?..” Varen yang sudah selesai terkekeh sebentar atas interaksi Arya dan papanya itu, kemudian bertanya sambil memandang pada bunda dan adiknya Kafeel.
“Astagfirullah!”
“Kenapa, Bun?—“
__ADS_1
“I-itu—Bunda baru inget, Rara—Rara disekep AA di gudang.”
“HAH?!..” Varen, Arya, Papa Rico, Sony dan Mama Cello spontan memekik bersamaan.
♦♦
“Ken!”
Varen lantas memanggil satu anak buahnya yang berdiri sigap tak jauh darinya itu bersama satu rekan lainnya.
“Hubungkan aku dengan istriku lagi.”
♦♦
“Drea akan mampir untuk mengecek menantu Bunda—“
“Ih najis banget deh denger dia disebut menantunya Bunda—“
“Lena!..”
“Ya maaf, Bun. Abisnya Lena benci banget sama Rara dan orang tuanya yang brengsek itu. Gara-gara dia kan? AA sampai hancur begini? Bahkan hampir gila.”
Dada Lena nampak naik turun, dengan rahang yang mengetat namun matanya berkaca-kaca.
“Cewek ga tau malu itu sama bapak ibunya yang sialan itu udah ngancurin kita, sampe Val—“
“Sstt..”
Varen merengkuh Lena sambil mengelus punggung gadis itu, yang kemudian sedikit terisak.
“Sudah, sudah.. Lena pergi makan dulu sama Bunda ya? Drea kan lagi on the way ke rumah kalian.. Nanti sekalian diambilkan pakaian ganti kamu dan Bunda sama Drea, ya?..”
“Iya, Bang Alva—“
“Tapi rumah kalian di kunci ga?..”
Sony yang bertanya.
“Engga, Son. Malah kayaknya pintu rumah ga Bunda tutup tadi saking panik pas nemuin AA udah berdarah-darah di kamarnya—“
“Dikunci juga ga masalah. Lo lupa sekuat apa Little Star gue?—“
“Nah iya tuh. Gue saksi hidup berikut korban bogemannya si Drea dulu yang hampir bikin tulang idung gue penyok.”
Yang mendengar tukasan Arya tersenyum geli saja.
“Kayaknya kalo pintu rumah Bunda sih, si Drea sanggup dobrak pake kakinya.”
Yang Varen iyakan ucapan Arya itu dengan anggukkan samar.
‘Jangankan pintu rumah yang termasuk kategori biasa.. pintu iman gue yang segitu kokohnya aja bisa dia dobrak pake nunu sama nana dulu..’
*
Setengah jam kemudian,
“Maaf Tuan, Nyonya Muda Andrea ingin bicara..”
“Thanks, Ken.. Assala—“
“Bebeb Abang!” suara Drea menukas Varen yang belum selesai menyapanya dengan salam lewat ponsel salah satu anak buahnya itu.
“Kamu sudah sampai, Little Star?..”
“Iya, sudah. Drea juga sudah di gudang rumah Bunda Magda—“
“Lalu?..”
“Ya, iya benar.. ada seonggok perempuan yang terikat dan terkulai di lantai dengan bekas cekikan di lehernya.”
“Apa dia sudah mati?” tanya Varen was-was.
“Masih bernafas sih, tadi Drea minta Abe untuk mengecek.”
“Abang mau bicara sama, Abe.”
“Iya nanti dulu, ini perempuan ini istrinya Kak Kaf ya?”
Drea bertanya.
“Iya.”
“Ish, Kak Kaf turun drastis seleranya. Ga ada seupil-upilnya Val parasnya,” oceh Drea dan Kafeel mendengus geli di tempatnya.
“Ya sudah, mana Abe..” ucap Varen kemudian
“Terus ini perempuan iyuh ini mau diapakan, Bebeb Abang?”
“Iya makanya, biarkan aku bicara pada Abe..” jawab Varen dengan sabar pada Drea seperti selalunya.
“Mukanya muka ganjen ih! Pasti Kak Kaf dijebak sama dia pakai obat perangsang ya, Bebeb Abang? Makanya Kak Kaf sampai meniduri perempuan iyuh ini..”
Dan Varen hanya meringis samar di tempatnya sambil memijat pelipisnya, menanggapi keceriwisan sang istri belianya itu. Pun seperti selalunya, akan Varen dengarkan dengan sabar ceriwisnya Drea--padahal saat ini katakanlah keadaan sedang genting—bukankah Drea bilang tadi istrinya Kafeel itu memiliki bekas cekikan di lehernya, yang mana setidaknya harus diberikan pertolongan dengan segera bukan?..
Meskipun jika mendengar cerita dari Bunda Magda sebelumnya, istrinya Kafeel itu adalah gadis yang licik macam orang tuanya. Dimana yang bersangkutan begitu terobsesi pada Kafeel selama ini.
“Drea lepaskan saja ini ikatannya atau gimana?” tanya Drea lagi. “Sepertinya kondisinya lemah gitu, Bebeb Abang.” kata Drea. “Tapi, dia kan penyebab hancurnya Val secara tidak langsung.. kalau ingat itu Drea tidak lagi kasihan padanya, tapi kesal sekali!”
Andrea terdengar menggerutu kemudian. Varen tersenyum tipis di tempatnya.
“Bagaimana, Bebeb Abang? Di tolong tidak?..”
“Bi—“
“Atau Drea cekik ulang aja?..”
♦♦♦♦♦♦
To be continue......
__ADS_1