
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Isola, Italia,
Val baru saja melakukan pemeriksaan lanjutan ditemani oleh Varen dan tiga anggota keluarganya yang lain, dan kini Val sedang melintasi area dalam kastil dengan duduk di kursi roda dan Varen yang mendorongnya.
“Abang...”
Val memanggil kakak kandungnya.
“Ya?...” sahut Varen.
“Apa Val sakit parah?...”
“Tidak. Kamu dibawa ke sini karena kamu koma dan butuh perawatan intensif. Itu saja.”
“Kenapa Val tidak dibawa ke rumah sakit?...”
“Pertama, kami ingin menghindari wartawan di London yang pasti bertanya kenapa kau bisa koma. Kedua---“
“Oh iya, Val sudah mendengar beberapa kali jika Val ini koma. Memang, kenapa Val bisa koma?...”
“Kamu tidak ingat?”
“Tidak...”
Val menjawab seraya ia menggeleng.
“Ya sudah nanti saja Abang ceritakan. Sekarang Abang ajak kamu melihat-lihat pemandangan di luar kastil dulu, hem?...”
Varen lalu berujar, seraya tersenyum maklum setelah mendengar jawaban Val yang Varen yakini jika Val yang belum mengingat apa yang terjadi padanya, adalah efek dari komanya selama kurang lebih hampir enam bulan seperti yang pernah Celine katakan.
🌷
Val mengangguk seraya balas tersenyum setelah mendengar ucapan Varen barusan.
Lalu Varen hendak lagi melanjutkan untuk mendorong kursi roda yang diduduki Val.
“Abang...” Namun sebelum itu, Rery yang juga ada menyertai Varen sehabis menemani Val menjalani pemeriksaan, memanggil setengah berbisik pada Varen yang berada di sampingnya sambil menyentuh lengan Varen pelan.
“Apa?”
Varen yang sempat sedikit melamun itu kemudian terkesiap saat Rery berbisik di telinganya sambil menyentuh lengannya itu.
Sementara Val sedang di ajak bicara oleh Ann dan Drea setelah Varen melepaskan pegangannya dari gagang kursi roda Val.
“Mau diambilkan bantal untuk alas duduk kamu, Val?...” Ann bertanya pada Val, saat Varen sedang menanggapi Rery. Val yang teralih fokusnya pada Ann itu kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Ann yang berupa penawaran itu.
Ann tersenyum pada Val, sebelum ia melangkah untuk mengambilkan Val bantal duduk---sementara Drea merapihkan kunciran rambut Val.
🌷
“Ada Kak Kaf di halaman depan...”
Sementara itu, Rery yang menginterupsi niat Varen untuk membawa Val ke luar kastil, mengatakan satu hal yang membuat Varen terdiam sesaat seperti berpikir.
‘Mungkin udah saatnya gue pertemukan Val dengan Kaka.’
Monolog Varen dalam hatinya setelah mendengar informasi dari Rery.
Sambil Varen melirik pada Val.
“Bang...” tegur Rery karena Varen belum menanggapi ucapannya secara langsung.
“Ga apa,” ucap Varen kemudian. “Mungkin udah saatnya kita pertemukan mereka. Siapa tahu juga, itu dapat memicu Val untuk lebih segera pulih---“
“Iya sih Bang...”
Rery menyahut seraya ia mengangguk.
“Kau katakan itu pada Ann dan Kak Drea untuk tetap di dalam. Biar Abang saja yang membawa Val keluar. Nanti mereka akan Abang tinggalkan berdua untuk bicara.”
Varen berujar. Dan Rery mengangguk paham.
Rery menegur Ann yang datang dengan sebuah bantal duduk di tangannya, lalu berbisik di telinga bestienya dari orok itu.
🌷
‘Kak Kaf?...’
Di sisi lain, ada Val yang membatin kala sayup-sayup Rery menyebut dua kata yang barusan Val sebut ulang di dalam hatinya itu.
‘By the way, jantungku berdegup agak cepat secara tiba-tiba. Apakah aku terindikasi sakit jantung?---‘
“Kenapa, Val?”
Drea yang bertanya, karena matanya menangkap Val yang sedang memegangi dada kirinya.
“Dada kamu sakit?” tanya Drea lagi, dan Val yang langsung fokus pada Drea ketika kakak angkat merangkap kakak iparnya itu bertanya padanya, menggeleng pelan.
“Tidak, Kak Drea...” jawab Val kemudian. “Hanya tiba-tiba berdebar sedikit—“
“Oh, mungkin efek pemeriksaan.“
“Iya. Mungkin saja karena itu ya Kak Drea?”
“Ini, Val... Angkat tubuh kamu sedikit bisa?” Ann yang sempat diajak bicara oleh Rery itu kemudian menunjukkan bantal duduk yang sudah dia ambilkan untuk Val, lalu meminta Val untuk mengangkat sedikit tubuhnya agar Ann dapat menyelipkan bantal tersebut di bawah bokong Val.
“Sini aku pegangi kamu sebentar—“
“Aku bisa berdiri sendiri kok, Rery. Kan hanya sebentar saja juga—“
“Sudah?”
Varen yang bicara seraya bertanya, ketika Ann telah menyelipkan bantal duduk di atas permukaan kursi roda yang diduduki Val---dan Val yang sempat sedikit mengangkat tubuhnya sambil berpegangan di alas tangan kursi roda tersebut, telah duduk kembali seperti sebelumnya.
“Kak Drea, aku ada perlu sama Kak Drea,” ucap Rery setelah Val menjawab sambil mengangguk pertanyaan Varen yang memandang ke arahnya.
“Kenapa, Rery?---“
“Abang kalau mau ajak Val duluan ke halaman depan silahkan aja,” tukas Rery yang mengabaikan pertanyaan kakak kandungnya itu.
__ADS_1
“Ya sudah.”
Varen menyahut.
“Aku duluan ke depan antar Val jalan-jalan di luar ya?” pamit Varen pada Drea setelahnya.
“Ya udah. Nanti Drea nyusul---“
“Okay,” tukas Varen seraya tersenyum pada adik angkat merangkap istrinya itu.
Lalu Varen memposisikan tangannya kembali ke dorongan kursi roda yang sedang diduduki Val.
🌷
“Abang.”
Val memanggil Varen seraya ia sedikit menoleh pada kakak kandungnya, yang kemudian menjeda lagi mendorong kursi roda Val saat sedang menuju pintu masuk utama kastil.
“Val senang sekali akhirnya bisa juga datang ke pulau rahasia Abang ini---“
“Syukurlah kalau kamu senang,” tukas Varen seraya tersenyum pada Val yang sedikit mendongak dengan tersenyum ceria padanya. “Lanjut jalan?...” ucap Varen lagi seraya ia bertanya dengan wajah bahagia pada Val, karena adiknya itu mengangguk antusias.
“Lanjut doooongg,” jawab Val yang sudah jauh lebih segar itu dengan bersemangat. “Nanti kalau Val mau digendong belakang sama Abang, Abang mau kan gendong Val?---“
“Tentu saja...” tukas Varen.
“Yeaayy---“
Varen tersenyum melihat Val yang bersorak kecil itu.
“Sa-yang Abaang...” ceria Val lagi. “Peluk boleh?” tanya Val yang sambil mendongak lagi pada Varen yang langsung mengangguk dan memeluk Val dengan menjeda mendorong kursi roda Val, dan memeluk singkat adik kandungnya itu dari belakang.
‘Jika dia seperti ini, aku merasa sedang berhadapan dengan Val yang masih berusia remaja bahkan saat dia masih bocil.’
Varen membatin kala ia memperhatikan polah Val yang bertepuk tangan kecil dan terlihat girang serta memintanya untuk memeluk dengan manja.
🌷
Varen telah mendorong kursi roda Val hingga sudah melewati pintu utama kastil. Dimana pandangan Varen langsung tertuju kepada empat pria yang sedang bermain di sebuah padang golf buatan yang dibuat sedemikian rupa.
Val juga menangkap pemandangan yang sama seperti Varen.
“Abang, Val ingin kesana,” pinta Val pada Varen, sambil menunjuk ke arah dimana ada empat pria yang nampak asyik mengobrol dengan masing-masing memegang stik golf di tangan mereka.
Varen pun mengiyakan permintaan Val itu, dan langsung mendorong kursi roda Val ke tempat empat pria itu berada.
“Kita kejutkan mereka ya, Abang?...” pinta Val lagi. Varen pun mengiyakan lagi juga.
“Tidak perlu dikejutkan, mereka pasti akan otomatis terkejut saat melihat Abang datang bersama kamu ke hadapan mereka sekarang.”
“Oh iya,” sahut Val. “Mereka pasti tahunya Val masih lemah dan masih melakukan pemeriksaan ya?---“
“Hem...”
Varen mengiyakan dengan deheman.
‘Terutama itu satu buciner gila,’ lalu Varen membatin sambil lebih fokus melihat satu sosok dari empat pria yang sedang berada di padang golf buatan di Little Star Island.
Yang mana, pria yang Varen juluki dengan buciner gila itu adalah Kafeel.
🌷
Tepat seperti yang dikatakan Varen tadi pada Val, bahwasanya pria-pria yang sedang bermain golf itu akan terkejut dengan sendirinya melihat Val yang datang ke hadapan mereka.
Tiga orang tergugu menyebut nama Val sambil melongo, ketika melihat Val yang duduk di atas kursi roda yang didorong oleh Varen itu tahu-tahu ada di hadapan mereka saat ini tanpa mereka sadari sebelumnya, karena asyik mengobrol dan bersenda gurau sambil saling memperhatikan gerangan yang sedang mendapat giliran memukul bola golf.
Sementara yang satu lagi dan hendak memukul bola golf kala tiba gilirannya itu nampak membeku di posisinya. Hendak menengok, namun dengan cepat ia mengurungkan niat, kala suara yang amat sangat ia rindukan itu terdengar di belakangnya.
“Halo Kak Tan – Tan... Papa... Daddy...”
Dimana suara itu mengandung suatu efek yang membuat dia gerangan, yang adalah Kafeel, langsung menegang di posisinya.
‘Gue... udah boleh ketemu, Val, ini?...’
Kafeel yang berbisik di dalam hatinya.
🌷
“Kok?---“
“Val, ingin menghirup udara segar. Silahkan saja jika ingin menyapanya,“ tukas Varen pada Nathan yang hendak bertanya, dimana Varen sudah bisa menebak apa yang ingin Nathan tanyakan. “Dan sudah oke, kalau Val berada di luar, selain dia mengeluh bosan...“
Tiga orang pria yang adalah Dad R, Nathan dan Papa Lucca itu kemudian tersenyum dan mengerubungi Val.
Varen mengulas senyuman, lalu melirik ke arah Kafeel yang belum menolehkan wajah dan tubuhnya ke arah Val.
‘Harusnya si buciner gila satu ini paham kode di ucapan gue tadi, kalau ini saatnya dia bertatap muka dengan Val. Tapi kenapa masih diam saja ini orang?’ batin Varen.
Kafeel paham sih, kode Varen dalam ucapan kakak kandung Val itu sebelumnya. Namun selain merasa tidak percaya karena hanya dalam waktu dekat saja akhirnya kesempatan untuk bertatap muka dengan Val itu diberikan padanya, Kafeel lebih kepada merasa gugup dan kelu.
Grogi untuk membalikkan badan dan bertatap muka dengan Val setelah gadis kecil tercintanya itu koma selama berbulan-bulan, dan di dua bulan terakhir Kafeel intens berada di samping Val yang koma. Kafeel lalu menghirup nafas panjang, setelah Varen berdehem kecil.
Dimana deheman Varen itu mengambil atensi Dad R, Nathan dan Papa Lucca yang ngeh dengan maksud deheman Varen.
🌷
Kafeel menghirup panjang nafasnya dan menghembuskan perlahan, setelahnya Kafeel berbalik dengan jantung yang bertalu dengan hebatnya.
Gadis kecil yang ia cintai dengan sangat sampai sempat Kafeel ingin menyusul ke tempatnya berada yang kala itu berita tentangnya yang sampai ke telinga Kafeel adalah, jika Val telah tiada.
Namun sekarang, setelah sempat diblokir segala aksesnya untuk bertemu bahkan berkomunikasi dengan Val karena ia yang harus menikahi sepupu jauhnya yang terobsesi padanya hingga Kafeel memutuskan hubungan percintaannya dengan Val---lalu kabar Val tak Kafeel dengar hingga tiga bulan lamanya sebelum kabar Val yang tiada itu ia dengar, hingga saat fakta jika Val masih hidup dan koma hingga belum sempat Kafeel saling bertatap muka dengan Val---kini siksa batin dan penantiannya untuk menyampaikan rindunya pada Val secara langsung terwujud.
“V...“
Kafeel yang sudah berbalik itu hendak menyapa Val.
“Nanti setelah Val benar-benar sehat, dan bisa berdiri dengan normal, kita main sama-sama ya?”
Namun belum sampai Kafeel menyebut nama Val, gadis kecil tercintanya itu sudah keburu bicara.
Tidak terlihat memperhatikan Kafeel, malah Val asyik memandangi padang golf buatan tempat mereka berada, lalu menoleh ke tiga pria yang merupakan keluarganya.
Kafeel tak kisah jika Val tidak terlihat memperhatikan keberadaan dirinya yang berada di belakang Dad R.
__ADS_1
Kafeel malah merasa bahagia hanya dengan melihat Val yang kini sudah tidak lagi terbujur lemas serta diam membisu di atas ranjang perawatannya.
“Nanti battle sama Kak Tan-Tan, oke?”
Nathan yang kemudian menanggapi ucapan Val saat Kafeel hendak menyapanya.
Dan Val nampak tersenyum seraya mengangguk setelah mendengar ucapan salah satu kakak angkatnya itu.
Baru setelahnya Val nampak melirik pada Kafeel, saat Dad R bergeser, lalu Nathan menoleh ke arah pria yang matanya nampak berkaca-kaca itu.
Pria itu nampak sekali gugup dan membeku di tempatnya, tatapannya selain bahagia, juga nampak takut-takut.
Hingga Kafeel yang sedang menegang itu, nampak sekali terlihat kegugupannya saat Val melihat ke arahnya. Yang mana ketegangan Kafeel perlahan nampak mencair ketika Val melemparkan senyuman kepadanya, walau tipis saja.
🌷
Kafeel rasa mimpi mendapat senyuman dari Val. Hingga bibir Kafeel kemudian tertarik sempurna dan menciptakan senyum bahagia di sana. Menatap Val lamat-lamat dari tempatnya, meski Val hanya sebentar saja memandanginya. Juga nampak datar-datar saja melihat dirinya.
Namun Kafeel memaklumi sikap Val yang datar itu padanya, mengingat dia pernah menyakiti hati Val dengan amat sangat dalam. Jadi tak apa, jika Val terlihat biasa saja menanggapinya saat ini.
Val tidak emosi dan mengusirnya saja, sudah Syukur Alhamdulillah untuk Kafeel. Jadi datarnya sikap Val saat ini, walau agak getir juga bagi Kafeel, Kafeel amat sangat maklumi. Seperti itu saja sudah cukup, mendapat sapaan dari Val lewat senyuman.
Berbeda dengan Kafeel yang maklum, empat pria yang merupakan keluarga Val sedikit heran juga dengan sikap Val pada Kafeel yang terkesan dingin pada pria yang semua keluarga Val tahu---adalah pria yang amat sangat Val cintai, sampai-sampai saking cintanya lalu merasa disakiti dengan teramat sangat hingga sampai mencoba bunuh diri karena tak kuat menanggung luka di hatinya karena Kafeel.
“Apa kamu ingin diberikan ruang?...”
Namun keheranan yang terbersit di hati empat pria keluarga Val itu, mereka jawab sendiri.
Dengan anggapan, mungkin saja Val masih merasa sakit hati pada Kafeel. Toh Val belum mendengar cerita yang sebenarnya tentang Kafeel yang memutuskan ikatan cinta mereka.
Jadi Val rada-rada jaim dihadapan Kafeel---istilahnya.
Atau memang Val memang masih merasa sakit hati, makanya bersikap dingin seperti itu pada Kafeel.
Maka dari itu, Dad R akan memberikan dua orang itu kesempatan untuk bicara, untuk Kafeel menjelaskan semuanya pada Val. Namun tetap dengan catatan, jika Val memang mau bicara dengan Kafeel berdua saja.
Val baru tiga hari sadar dari koma.
Masih nampak sering kurang fokus bahkan nampak linglung.
Jadi pemaksaan dalam bentuk apapun, tidak akan di lakukan pada Val.
Termasuk, jika Val menolak untuk bicara dengan Kafeel saat ini.
“Ruang?...”
Val menanggapi ucapan Dad R yang berupa pertanyaan itu, sambil Dad R memandang padanya. Lalu Val, memandang pada Kafeel juga.
Dimana Val kemudian memandang lagi pada Kafeel yang kini nampak tersenyum canggung, karena agak terkejut juga dengan ucapan Dad R yang memberikannya kesempatan untuk berduaan dengan Val.
“Ruang untuk apa, Daddy?...”
Val melanjutkan ucapannya, sambil ia memandang pada Dad R yang sebelumnya mengangguk.
🌷
“Ruang untuk berbicara berdua dengannya...”
Dad R menjawab pertanyaan Val, sambil ia menggerakkan samar kepalanya ke arah Kafeel yang nampak tertegun di tempatnya.
Val mengernyit kecil, lalu menoleh lagi ke arah Kafeel yang Val pandangi kemudian sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya, dimana ucapannya itu langsung membuat gurat keterkejutan di wajah lima pria yang sedang berada bersama Val, muncul---dengan mata mereka yang kompak membelalak.
“Memangnya, dia siapa?...”
Terkejut?
Sangat,
Dad R, Varen, Nathan, Papa Lucca serta Kafeel saat mendengar ucapan Val yang tidak mengenali Kafeel.
‘Ngelawak nih si Val...’
Nathan yang tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Val lalu membatin
Dan rasa tak percaya Nathan pun sama dirasakan oleh empat orang pria lainnya yang bersama Val itu.
Mereka yang tidak serta merta percaya dengan ucapan Val yang menyiratkan tidak mengenali Kafeel tersebut, menelisik wajah Val dengan cermat, karena merasa Val sedang bersandiwara.
Namun sebelum mereka selesai memindai wajah Val, gadis itu bicara lagi.
“Apa... Val, menyetir sendiri lalu kecelakaan hingga Val koma, lalu dia yang menolong Val? Tapi seingat Val, kita sedang liburan besar dan Val sedang duduk bersama May di kapal pesiar kita, mengobrol sambil memakan camilan. Lalu kapan Val kecelakaannya, ya?...“
Ucapan Val yang orangnya nampak terlihat begitu natural dengan sikap dan air mukanya yang sedang mengira-ngira itu, kembali menciptakan keterkejutan di telinga lima pria yang bersamanya.
“Apa kamu bilang, Val?...“ Dad R ingin memastikan apa yang di dengarnya dari mulut Val barusan, dan jawaban dari mulut Val---membuat Dad R serta empat pria lainnya itu menelan ketat saliva mereka.
“Iya, seingat Val terakhir kali, kita sedang berada di kapal pesiar bersama seluruh kerabat kita semua. Tapi tahu-tahu Val sudah terbangun di ruangan yang mirip kamar rawat rumah sakit itu—“
🌷
“Alat apa itu, Cel?...”
“Oh itu, akan dipergunakan bagi para korban pelecehan sksual yang memiliki trauma hebat dan mendalam, agar mereka melupakan kejadian buruk yang menimpa mereka dan dapat menjalani hidup mereka dengan normal...”*
“Jadi itu, dengan kata lain, itu adalah alat penghapus memori?...”
“Iya, Tuan Moreno. Hanya saja alat itu dapat mengatur memori yang ingin di hapus.”
“Apa bekerja pada orang yang koma?”
“Dad?...”
“Aku tanya padamu Celine, apa itu bekerja pada orang yang koma? Karena aku tidak ingin putriku kembali merasakan lukanya saat dia sadar dari tidur panjangnya nanti dan melakukan hal bodoh dengan mencoba membunuh dirinya sekali lagi---“
“Dad, apa Dad yakin ingin melakukan itu?...”
“Jika itu bisa membuat putriku tak perlu lagi mengingat sakit di hatinya karena Kaka, lalu tidak bertindak bodoh dengan berusaha bunuh diri lagi, yang mana untuk kali kedua belum tentu dia akan seberuntung saat ini, dan nyawanya terselamatkan walaupun dalam keadaan koma... Ya. Aku yakin.”
“Tapi Tuan Moreno, hasil akhir berbeda-beda meskipun pada orang yang dalam kondisi sadar. Ada resiko amnesia total, dan tidak hanya melupakan memori yang ingin di hapus pada masa tertentu. Namun Nona Muda Valera bisa saja melupakan anda semua---“
“Asal tidak mengancam nyawanya. Lakukanlah.”
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
To be continue.....