HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
PERSIAPKAN DIRIMU


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia,


Di sebuah rumah sakit,


“Bebeb Abang ingin dibawakan sesuatu?—“


“Boleh,” tukas Varen pada Drea setelah ia berhasil membuat Drea tak lagi melanjutkan ocehannya.


“Apa?”


“Apa saja, Little Star.”


“Ya sudah kalo begitu,” ucap Drea pada Varen.


🌷🌷🌷🌷


“Va.”


Papa Rico bicara pada Varen selepas kepergian para wanita yang tadi bersama keduanya, serta Arya dan Sony.


Meski Varen sangat protektif pada Drea, namun untuk saat-saat tertentu Varen tidak akan terlalu khawatir jika Drea jauh darinya.


Dengan catatan tapi.


Yakni ada bodyguard di sekeliling istri belianya itu.


Namun juga bukan sembarang bodyguard, melainkan para bodyguard yang mempunyai kemampuan di atas para bodyguard yang lain.


Dan para bodyguard yang lebih menonjol dari para rekannya yang lain itu, akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar tentunya.


Yakni menjadi penjaga utama para wanita inti dalam Dinasti The Adjieran Smith, mengetuai beberapa bodyguard dalam kategori biasa. Tapi ya tetap saja, bodyguard yang terbilang biasa dalam dinasti keluarga yang cetar membahenol itu---adalah orang-orang yang memiliki standarisasi jauh lebih tinggi dari mereka yang berprofesi sebagai bodyguard pada umumnya.


Jadi karena ada dua pentolan bodyguard yang sudah bersama Drea, Varen bisa dengan tenang membiarkan Drea pergi tanpa dirinya---sebagaimana telah berjalan seperti itu beberapa tahun belakangan.


Setidaknya sejak Putra lahir ke dunia, yang mengikis sifat over protective Varen ke Drea atas sebuah trauma yang pernah menimpa istri belia Varen di awal-awal pernikahan mereka. Dan lagi, Drea yang kian gigih berlatih bela diri membuat Varen yakin akan kemampuan sang istri yang bisa menjaga dirinya dengan perlawanan tangguh.


Intinya, Varen tak memiliki kekhawatiran berlebih atas Drea sekarang ini, karena beragam hal untuk antisipasi keselamatan sudah Varen kembangkan lebih jauh. Tidak hanya untuk Drea, tapi untuk seluruh keluarga.


Namun ada hal yang Varen sayangkan.


Varen dan para Dad hebatnya itu terfokus pada keselamatan para wanita dan adik-adik atas ancaman diluaran.


Tidak sampai berpikir sebuah antisipasi untuk ancaman yang terjadi di lingkup internal keluarganya tersebut, hingga apa yang menimpa Val terjadi.


Well, dalam hal ini, kalimat yang mengatakan ‘Kesempurnaan adalah milik Tuhan’---sangat benar adanya.


Upaya menghalang bahaya telah sangat dibuat sedemikian rupa oleh Varen dan para Dadnya untuk anggota keluarga mereka. Tapi ya itu, hanya fokus pada ancaman di luaran dan otak mereka tak sampai mengira jika akan ada sebuah tragedi yang menyayat hati yang akan dilakukan oleh salah satu keluarga mereka sendiri dengan menyakiti diri---menyalahi takdir Tuhan atas yang namanya umur manusia.


🌷🌷🌷🌷


“Va.”


Papa Rico yang mengajak Varen bicara.


“Ya, Pa?—“


“Papa sudah bicara dengan Papi, dan rencananya kami semua akan ke London hari ini...”


Varen manggut-manggut.


“Papa gunakan saja jet pribadiku... karena tadinya aku berencana akan kembali ke London hari ini bersama Drea, Isha dan Aina. Tapi rasanya aku akan mengundurnya terlebih dahulu untuk menemani Bunda dan Lena, selain mengurus perihal istri Kaka dan orang tuanya itu.”


Lalu Varen berkata kemudian.


“Soal istrinya Kaka dan mertuanya itu, biar aku saja yang mengurusnya—“


“Papa mengenal baik mereka?...” tukas Varen seraya bertanya.


“Aku hanya sedikit saja pernah bertemu mereka—“


“Kalau dari cerita Bunda, sepertinya mereka memiliki kenalan baik petinggi di negara mereka tinggal?—“


“Akan aku cari tahu sekarang.” Papa Rico berujar, dan Varen mengangguk.


“Baiknya Papa ngobrol dulu sama Bunda deh. Biar lebih detail lagi dapet info soal besan puk—“


“Mulut jaga oy!”


Papa Rico segera menyergah anak sulungnya yang barusan berkomentar, dimana Papa Rico dapat menebak umpatan tak senonoh yang hendak di lontarkan anak sulungnya tersebut.


Sony pun langsung menampakkan cengiran. “Iya sorry,” cetus Sony kemudian.


“Ya udah, Papa susulin dulu itu cewe-cewe yang lagi pada makan—“


“Okay—“


🌷🌷🌷🌷


“Keluarga pasien atas nama Kafeel Adiwangsa?“


Salah seorang perawat rumah sakit tempat Kafeel dilarikan oleh Arya, menghampiri Varen-Arya dan Sony yang masih berada di dekat ruang IGD---selepas kepergian Papa Rico dari hadapan ketiganya.


“Iya betul.”


Varen, Arya dan Sony kompak menjawab.


“Pasien siap dipindahkan—“


“Baik, terima kasih atas pemberitahuannya—“


🌷🌷🌷🌷


“Alva..“ Adalah Kafeel yang baru saja siuman dari ketidaksadarannya, atas percobaan bunuh diri yang beberapa jam lalu ia lakukan. Dan kini sudah berada di dalam sebuah unit ruang rawat VVIP di sebuah rumah sakit tempat Kafeel dilarikan agar segera mendapat pertolongan.


“Kayaknya lo ga niat mati, karena irisan lo kurang tajam di nadi lo itu..“ cibir Varen. Dimana Kafeel mendengus, dengan nada yang terdengar getir sambil melirik pada Varen.


“Kenapa ga lo pastikan, kalau nadi gue bener-bener putus sekarang?“ jawab Kafeel atas cibiran Varen padanya barusan, dan Varen langsung mendengus setengah sinis. Lalu Varen menampakkan senyuman miring, ketika obrolan kecil sempat tercipta antara Kafeel dan Varen.


Yang mana Varen menanggapi ucapan Kafeel yang terdengar seperti sebuah tantangan.


Tantangan dari orang yang nampak sangat putus asa dan tidak punya gairah hidup.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


“Karena gue ingin nyusul, Val..”


Begitu yang Kafeel katakan sambil ia berusaha bangkit untuk duduk.


Dan Varen menanggapi setengah sinis ucapan Kafeel yang katanya mau menyusul Val itu.


🌷🌷🌷🌷


“Gue yakin ga ketemu.. tapi paling engga.. gue ada di tempat yang sama dengan Val.. Tapi sebelum itu.. mumpung lo ada di sini.. kalau lo mau hukum gue atas apa yang udah  gue lakukan, sampai.. sampai Val.. nekat—begitu, gue dengan senang hati menerimanya, Va—tapi abis itu, jangan halangi jalan gue buat pergi, ke tempat dimana Val berada.. “


Dimana rangkaian kalimat putus asa Kafeel itu ditanggapi Varen dengan sedikit emosi.


Lalu Kafeel membalas ucapan Varen dengan ucapan menggebu, menggunakan tenaga yang ada di tubuhnya yang masih ia rasa lemah itu.


“Gue juga ga ada maksud nyakitin, Va-al.. saat itu gue ga punya pilihan..”


Namun setelahnya, Kafeel menunduk serta tersedu. Dan Varen menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Bunda udah cerita semua sama gue. Tapi itu ga bisa merubah yang udah terjadi.”


Varen berucap dengan lebih tenang kemudian, namun dibuatnya kalimat yang ia lontarkan pada Kafeel itu datar dan dingin.


🌷🌷🌷🌷


Namun tak seberapa lama, Varen kembali berseru pada Kafeel dengan sedikit emosi, setelah ucapan panjang lebarnya Kafeel tanggapi lagi dengan tantangan agar Varen membunuhnya saja. “Lo lupa lo bagian dari keluarga siapa?! Tapi kenaifan lo yang dasarnya sebuah ketololan itu bikin lo gegabah, Bangs*t!” bahkan Varen sedikit lebih emosi dari sebelumnya.


“Kalaupun gue share sama lo, apa ada jaminan Bunda bisa dapet jantung pengganti dihari yang sama saat satu keluarga anj*ng itu mau ngeluarin jantung anggota keluarga mereka yang bunda pake sekarang?!..”


Kafeel pun menjadi sedikit sengit, dengan menukas tajam ucapan Varen padanya itu.


“Ya, gue tolol bahkan lebih dari tolol.. tapi—hari itu gue benar-benar terpojok Va.. mereka udah mempersiapkan semua.. gue, bunda dan Lena.. dilibas hari itu juga—“


“Hhh—“


“Lo boleh hukum gue dengan cara yang lo mau, Va.. tapi.. gue mohon.. kalo perlu gue cium kaki lo—dan semua keluarga lo—gue mohon.. bawa gue ke tempat peristirahatan terakhir Val..“


“Haish..”


🌷🌷🌷🌷


“Bantu gue Ar, cari tali dan ikat ini orang kalau perlu!”


Tak lama setelah mendesis setengah kesal, Varen berseru pada Arya yang masuk karena sayup-sayup mendengar suara Varen yang sepertinya sedang naik pitam.


Bebeb Abangnya Drea itu menggerutu sambil memegangi Kafeel yang sudah melepas selang infusnya dan hendak turun dari brankar tempatnya duduk itu.


“Sekuat apapun kalian menahan, gue akan dapet kesempatan.. dan saat kesempatan itu datang.. gue pastikan.. gue akan sampai ke tempat yang sama dimana Val berada..”


Kafeel berucap saat Arya tengah membantu Varen untuk menahannya turun dari brankar dengan sedikit ancaman yang tak digubris oleh Kafeel yang putus asa itu.


Membuat Varen mendengus kasar karenanya.  “Lo kuat jalan?..“


Yang Varen katakan kemudian.


“Heu?.."


“Gue tanya. Lo kuat jalan ga?!” tanya Varen. “Karena gue ga sudi kalo harus dorong lo di kursi roda!”


🌷🌷🌷🌷


Dan disinilah Kafeel sekarang.


Di salah satu negara Eropa, namun bukan Inggris.


Italia.


Membuat Kafeel yang sama sekali tidak mau mengistirahatkan matanya dari sejak jet yang ia tumpangi bertolak dari Jakarta.


“V-Val.. di-dimakamkan di, sini, kah, Va?“


Dan Kafeel pun bertanya pada Varen yang duduk bersebrangan dengannya.


“Apa gue menyuruh lo untuk bicara?“ Namun Varen menjawab pertanyaan Kafeel dengan kalimat kesinisan.


“Sorry..”


Dan Kafeel menyahut lirih.


Lalu memilih diam saja setelahnya.


Walau hati Kafeel dirundung ragam perasaan saat jet yang ia tumpangi itu telah mendarat di sebuah negara yang resminya bernama Republik Italia tersebut.


Bahagia, karena Varen meskipun sinis saja padanya, namun dengan membawanya untuk ‘menemui’ Val---setidaknya, sedikit banyak. Varen telah mengikis jarak yang sangat lebar diantara mereka. Selain bahagia, karena ia pada akhirnya akan dipertemukan dengan Val. Namun bahagianya Kafeel itu berselimutkan duka yang begitu dalamnya, karena memikirkan pertemuannya kali ini dengan sang belahan jiwa bukanlah dengan sosoknya---melainkan pusara yang bertuliskan nama Valera.


🌷🌷🌷🌷


“Va, gue.. ijin sebentar ke toko bunga..”


Kafeel baru lagi bersuara, ketika kakinya telah menapaki aspal sebuah bandara pribadi di negara kelahiran Papa Lucca.


“Lo jalan aja susah, Sat—“


“Abang..”


Adalah Drea yang menukas kalimat Varen pada Kafeel yang ia ubah panggilannya sekarang.


Bukan karena Kafeel ganti nama.


Tapi Varen menyematkan panggilan yang merupakan penggalan dari satu kata umpatan yang sangat kasar pada Kafeel sekarang, atas dasar Varen masih memiliki kekesalan pada pria yang sudah ia anggap bak saudara kandung itu, namun sampai hati menyakiti hati adik kandungnya sampai melakukan tindakan super nekat.


Yah walaupun Varen sudah tahu dengan jelas alasan kenapa Kafeel sampai tega pada Val, serta juga kasihan dan miris pada Kafeel yang kurang lebih sama kondisinya dengan Val sebelum adik kandungnya itu meminum racun dan menenggelamkan diri di dalam bathtub---tapi tetap saja\, atas dasarnya seorang kakak yang adiknya disakiti sampai sebegitunya\, Varen ingin sekali menghantam Kafeel habis-habisan.


Yang sayangnya harus Varen tahan, mengingat jika Kafeel yang ingin ia pukuli itu belum lama mengiris nadi serta juga hampir mati. Atas itu, Varen mencurahkan kekesalannya pada Kafeel dengan bersikap dingin dan sinis pada pria yang dulunya amat sangat dekat dengannya, walaupun ga dulu-dulu amat.


Baru kurang lebih tiga bulan, Varen dan keluarganya membuat jarak yang amat sangat lebar dengan Kafeel.


Namun tiga bulan itu sungguhlah terasa menyiksa bagi Varen dan keluarganya, walau duka telah terkikis.


Hanya saja duka yang terkikis itu, tetaplah belum dapat hilang sepenuhnya---karena masih ada hal lain yang masih membuntuti, atas belum adanya kepastian.


“Jangan diambil hati ya, Kak Kaf?..” ucap Drea pada Kafeel setelah menyergah si Bebeb Abang yang memanggil Kafeel dengan penggalan kata setelah ‘Bang’.


“It’s okay, Drea..”

__ADS_1


Kafeel menanggapi ucapan Drea padanya.


“Of courselah lo ga perlu ambil hati atas kesinisan gue sama lo.. paling engga lo sadar diri, karena gue mau membawa lo ke tempat adik gue yang lo sakiti dengan teramat itu..”


“Abang..”


Drea lagi-lagi menyergah Varen yang super sinis dan nyelekit itu ucapannya pada Kafeel.


“Makasih, Va. Makasih banyak. Terserah lo mau bagaimana sama gue, yang penting gue bisa ketemu Val, walau..”


Kafeel merasakan tenggorokannya tercekat, hingga matanya mulai berkaca-kaca.


“Gue.. cari bunga dulu, please?..”


Tak melanjutkan kalimat yang membuat hatinya akan terasa begitu sakit bila menyebutkan ‘walau Val cuma bisa gue temui pusaranya aja.’


Varen menghembuskan nafas frustasinya, melihat Kafeel yang nampak putus asa itu melirih dengan sangat memohon padanya. “Val sudah cukup dikelilingi banyak bunga sampai dengan detik ini. Jadi lo ga perlu repot untuk membawakannya lagi bunga.”


Varen berucap kemudian.


“Lagipula kalau lo masih inget, Val suka bunga apa. Lo belum tentu menemukannya di toko bunga terdekat dari sini..”


“Iya gue tau.. tapi paling engga.. ada yang gue bawa buat, Val..”


“Doa lo cukup.”


🌷🌷🌷🌷


Kafeel patuh pada Varen yang secara tidak langsung melarangnya pergi membeli bunga yang ingin Kafeel bawakan untuk Val.


Hanya saja Kafeel di buat mengernyit bingung, ketika setelah turun dari jet, ia dibawa untuk menaiki sebuah helikopter penumpang.


‘Jauh sekali kamu di makamkan Val?’ tak ingin membuat Varen kian kesal padanya, Kafeel tidak bertanya kenapa sekarang ia harus menaiki helikopter.


Mungkin Varen ingin membuangnya ke lautan antah berantah alih-alih membawanya ke pusara Val?


'Terserahlah.'


Yang Kafeel katakan dalam hatinya.


Kalau Varen memang ingin menghabisinya silahkan saja, Kafeel pasrah.


Dengan amat sangat rela, walau inginnya---sebelum Varen menghabisinya, walau sedetik saja---Kafeel ingin dipertemukan dengan Val walau hanya dalam bentuk pusara.


“Ayo, Kak,” ajak Drea pada Kafeel yang termangu ketika ia dan Varen serta Kafeel dan telah turun dari helikopter yang parkir di sebuah pulau tersembunyi, yang tak pernah Kafeel datangi sebelumnya, walau Kafeel rasanya tahu tentang pulau yang sedang ia tapaki sekarang.


“I-iya, Drea..” gugu Kafeel yang sebelumnya memperhatikan keadaan sekeliling.


“Masuk, Kak—“


“Makasih, Drea. Tapi, kalau boleh, Drea.. Alva.. maaf, aku ditunjukkan langsung dimana.. pusaranya, Val—“


“Lo, ga ada hak buat minta apa-apa di sini.”


Varen memotong sinis ucapan Kafeel yang matanya telah kembali berkaca-kaca.


“Maaf..”


Kafeel pasrah.


“Cukup diam, dan ikuti langkah gue.”


🌷🌷🌷🌷


“Sekali lagi gue ingatkan, lo bisa sampai di tempat Val berada atas ijin gue. Dan kalau gue ga kasih ijin lo pergi, sampe mati lo harus tetap tinggal, buat temani Val,” ucap Varen pada Kafeel setelah ia dan Drea telah membawa Kafeel ke area lebih dalam sebuah tempat macam kastil dalam dongeng.


“Dengan senang hati, Va.”


Kafeel menyahut dengan menampakkan senyumnya pada Varen.


Hati Kafeel cukup berdebar, tak karuan juga dengan sedih yang menggelayut di sana.


Tapi Kafeel juga penasaran, ‘Apa makam Val dibangun dalam ruangan?..’


Kafeel membatin setelah sebelumnya memperhatikan pintu besar dengan dua penjaga di sisi kanan dan kirinya.


Dan sekarang Varen serta Drea menghentikan langkahnya di depan pintu tersebut.


Namun pintu belum dibuka oleh dua penjaganya, yang sepertinya menunggu perintah sang tuan dan nyonya muda mereka terlebih dahulu untuk membuka pintu tersebut.


Terlebih lagi, Varen berhenti dan bicara dengan cukup tajam bersama seorang tamu yang mereka tangkap sedang diberi peringatan oleh Tuan Muda Utama mereka itu.


🌷🌷🌷🌷


“Lo gue larang keras untuk mendekat. Cukup melihat. Paham?”


Varen mengeluarkan pernyataan yang terdengar bak perintah sambil memandang tajam pada Kafeel, dimana sebenarnya Kafeel kurang paham maksud ucapan Varen itu.


Tapi atas dasar keinginannya untuk bertemu Val yang walau hanya pusaranya saja, Kafeel mengangguk mengiyakan ucapan Varen padanya itu.


Dan saat pintu besar di hadapannya terbuka, Kafeel dibuat kian tak paham.


“Buka tirainya Celine.”


Kafeel sedang menelaah setelah pintu terbuka dan pemandangan sebuah ruangan macam rumah sakit tersaji dalam pandangannya, kala suara Varen terdengar berbicara pada seseorang yang Kafeel pernah dikenalkan dengannya oleh Varen.


“Seperti yang gue bilang tadi, lo gue larang keras untuk mendekat. Cukup melihat.”


Varen berbicara dengan tegas di hadapan Kafeel yang memiliki tinggi badan yang sama dengannya, setelah ia melontarkan satu kalimat perintah pada seseorang yang bernama Celine, yang ada di dalam ruangan yang baru saja dimasuki oleh ketiga orang tersebut.


“I-iya, Va—“


“Lo langgar, gue akan langsung usir lo dari sini tak peduli lo mau mengiris semua nadi di tubuh lo.”


Varen memberikan lagi peringatan lagi pada Kafeel dengan masih berdiri tegak di hadapan pria itu.


“I—“


“Val, lihat siapa yang datang, Baby?” ucap Varen seraya ia menggeser tubuhnya yang menghalangi pandangan Kafeel atas apa yang ada di belakang tubuh Varen.


Di detik dimana kaki Kafeel melemas sepenuhnya.


Lalu terjatuh dengan keras di atas lututnya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2