
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Pada episode sebelumnya:
“Would you be my girlfriend ( Maukah kamu menjadi pacarku ), Nona Muda Valera?”
“.....”
“Would you? ( Maukah? ) ..”
“Tidak.”
“Val-----“
“I don’t want to be your girlfriend ..”
“.....”
“Val tidak mau jadi pacar Kak Kafeel ..”
“.....”
“Val ..”
“.....”
“I don’t want to be your girlfriend. What I want is to be your wife ( Aku tidak mau jadi pacar kamu. Yang aku mau itu jadi istri kamu )”
“Apa kamu bilang, Val? ..”
“I don’t want to be your girlfriend. What I want is to be your wife ..”
“Jadi, jadi Kakak diterima?!”
“Diterima. Tapi Val maunya -----“
“Oh Val ..”
“.....”
“Makasih ya? ..”
“Tapi ingat loh ya, Val tidak mau jadi pacar Kak Kafeel ..” ucap Val. “Val maunya jadi istri----“
“Sekarang?”
♥
Kata godaan dari Kafeel atas ucapan Val yang tanpa ragu mengatakan tidak ingin menjadi kekasih melainkan langsung menjadi istri untuknya, keluar dengan spontan dari mulut Kafeel, yang kemudian tersenyum geli.
“Ayo!” sahut Val.
Lalu Val dan Kafeel sama-sama terkekeh.
Val memang menimpali godaan Kafeel yang terdengar seperti sebuah tantangan itu.
Namun paham sekali, jika itu hanya candaan Kafeel saja. Dan Val juga tidak menanggapi pertanyaan Kafeel untuk menikah sekarang juga dengan serius.
Toh, menikah kan butuh persiapan?.
Dan seperti banyak wanita pada umumnya, Val pun memiliki konsep pernikahan impiannya.
Urusan menikah nanti saja Val pikirkan.
Yang penting sekarang Val bahagia, karena cintanya berbalas, pun tidak bertepuk sebelah tangan.
“I love you, Val ...”
Kata mesra ungkapan cinta Kafeel membuat wajah Val bersemu hingga Val pun tersipu.
Membuat Kafeel semakin enggan untuk memalingkan pandangannya dari Val.
“Kok ga dijawab? .....”
“Uuummm” Val nampak ragu-ragu untuk bicara. Gumaman tertahan dari mulut Val pun terdengar.
Kafeel menyadari hal itu. “Kenapa hm? ...”
“Tadi ... Kak Kafeel cium bibir Val.” Val menggigit bibirnya.
“Hum, soal itu.” Tukas Kafeel.
Lalu Kafeel melipat bibirnya.
“Val .... Tersinggung kah? ....” Kafeel ragu-ragu bertanya kemudian.
“Uuuummmm” Val menggumam lagi.
Nampak masih ragu-ragu untuk bicara.
“Bisa diulang?...”
“Heu? ...” Kafeel sontak menoleh.
“Tadi waktu Kak Kafeel cium bibir Val kan, Val belum siap?. Jadi tolong diulang.”
AA Kafeel pun terperangah.
♥
Kafeel spontan terkekeh selepas mendengar ucapan polos Val tadi.
“Val. Val ... Selalu menggemaskan!”
Kafeel berucap sambil mengacak pelan rambut Val.
Val menampakkan senyuman. Senyuman yang selalu nampak menggemaskan bagi Kafeel. Senyuman tulus nan ceria dengan binar pada mata Val, yang mungkin salah satu penyebab Kafeel bisa jatuh hati pada Val.
Senyuman yang rasanya sekarang dapat Kafeel minta pada Val, agar gadis itu tersenyum demikian hanya pada dirinya saja.
Karena Kafeel tak sudi jika satu keindahan yang kini sudah dipujanya itu dinikmati oleh laki-laki lain selain dirinya.
Yah, kecuali pada pria yang berada dalam keluarga inti Val.
Pria-pria berparas rupawan namun darah yang dingin juga melekat didalam sel mereka.
Dengan catatan, darah dingin para pria di dalam keluarga Val itu akan muncul hanya jika mereka sedang merasa tidak senang.
Dalam hal tidak senangnya para Dad nya Val itu, yakni ada yang mengganggu ketentraman, terlebih mengancam keselamatan orang-orang yang mereka cintai, sayangi dan lindungi.
♥
Bicara tentang para pria dalam keluarga inti Val yang Kafeel sudah kenal dengan sangat baik masing-masing nya sekarang ini itu, sangat Kafeel hormati dan juga Kafeel idolai.
( Ini bicara tentang mereka yang dituakan ).
Jadi tidak mungkin Kafeel bersikap posesif pada Val, dengan juga melarang Val dekat dekat, atau tersenyum seperti saat ini pada pria-pria dalam keluarga inti gadis yang tanpa ragu Kafeel katakan adalah gadis yang ia cintai itu.
Selain karena Kafeel menghormati dan mengidolai para pria didalam keluarga inti Val itu, rasanya juga tidak mungkin Kafeel dapat ‘menguasai’ Val dari mereka.
Yang pertama, Val setidaknya memiliki 14 pria inti dalam keluarganya. Kurangi dua kakek dan saudara lelaki yang usianya lebih muda dari Kafeel.
The Daddies!.
Enam ayah Val yang sungguh jangan pernah meremehkan mereka.
The Black Drakes.
I Nero Fuoco.
Sebutan bagi para Dad nya Val yang jumlahnya bisa bikin satu tim voli atau futsal itu.
Dan yang kedua, ada dua yang menjadi pentolan barisan The Daddies dalam keluarganya Val.
__ADS_1
Yang menjadi ikon dari sebutan Black Drakes dan I Nero Fuoco paling hitz sepanjang sejarah keluarga Val.
Yang satu, yakni ayah kandung Val, laki-laki yang dituakan dalam garis keturunan para Dad nya Val, meski ia sama sekali tidak memiliki darah keturunan dari Adjieran Smith.
Namun begitu, ayah kandung Val tersebut begitu menjunjung tinggi keluarga yang dirangkulnya saat ini-selain begitu menyayangi, melindungi dan mengayomi.
Dan ayah kandung Val itu adalah satu, dari pentolan para naga hitam yang disegani.
Mungkin, juga perlu ditakuti.
Karena apa?.
Karena kalem mukanya itu Dad R, tapi kalau mode kejamnya sudah on, paling ringan hukuman potong tangan akan jatuh atas perintahnya pada orang-orang yang ia inginkan untuk dipotong tangannya.
Lalu pentolan naga hitam yang satu lagi, tidak perlu bertanya tentang seberapa berdarah dinginnya ia pada musuh-musuhnya.
Dari tinggi badan berikut tumpukan otot besar namun tetap proporsional dengan tubuhnya saja, sudah terlihat betapa ‘sangar’ nya Daddy Val yang satu ini.
Didukung oleh wajah dengan rahang tegas yang seringnya mengetat itu menggambar bahwa salah satu Dad nya Val itu bukan orang yang mudah berbelas kasih pada mereka yang mencoba mencari masalah dengannya.
Menjatuhkan sepuluh pria dengan tangan kosong pun si naga kedua yang kadang menjelma jadi bebek ini, mudah baginya.
Itu tenaganya.
Kalau sisi mode kejamnya sedang on?. Hmm....
Mantannya pernah dipatahkan tangannya karena ‘mengganggu’ sang istri tercinta.
Sekutu sang mantan yang pernah menembak sang istri, dicungkil matanya hidup-hidup oleh satu Dad Val yang ini dengan tangannya sendiri.
Katakanlah dua Daddy Val yang merupakan pentolan Black Drakes ini adalah manusia serigala dan vampir.
Yang satu sudah jelas sangar memang, dapat merobek dada dan mengambil jantung hanya dengan cakaran.
Sementara yang satu, tampan dan kalem pembawaannya, namun dapat membunuh hanya dengan gigitan.
Empat Daddy Val yang lain pun, punya kegilaan mereka sendiri yang dapat mereka berikan pada musuh-musuh mereka.
Belum lagi satu naga junior yang merupakan pewaris nomor satu dalam keluarga Val.
Tampan keterlaluan wajahnya, sampe bidadari di kayangan bisa kirim salam kalau ketemu dia yang dipanggil Abang Varen.
Tapi sisi kejamnya jika on, setara dengan dua naga.
Mengerikan pun mematikan.
Jadi, rasanya Kafeel tidak akan sanggup untuk melawan itu barisan para mantan – eh para daddy dan kakak tertua Val, jika Kafeel ingin bersikap sebegitu posesif nya pada Val.
Katakanlah Kafeel itu Superman.
Tapi Superman tidak akan bisa melawan satu tim berisikan Iron Man, Captain America, Hulk, Thor, Spiderman dan Hawkeye sendirian bukan?.
♥
Kembali kepada dua sejoli yang hatinya sedang sama berbunga-bunga.
“Kita kembali ke orbit yuk? ...” Kafeel mengajak Val untuk duduk kembali di sofa semi kasur tempat mereka sebelumnya.
Val pun mengangguk.
“Hem?” Val yang hendak bangkit itu kemudian mendongak secara spontan, kala tangan Kafeel terulur dihadapan wajahnya.
Dimana sebuah senyuman terpatri indah di wajah Kafeel.
Dan Val pun juga merekah-kan senyumnya dengan spontan, sambil meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Kafeel.
“Mau sekalian digendong?”
Kafeel menawarkan.
“Hanya kesitu saja masa digendong? ...”
Val mencebik, namun Kafeel tetap memasang senyumnya. “Takut kaki indah Val cantik pegal,” kata Kafeel.
“Kak Kafeel bisa meng-gombal juga ya? ...” kata Val. Lalu terkekeh imut.
“Hanya pada kamu.”
Kafeel menyahut dengan menoleh pada Val yang berjalan disisinya, dengan tangan Val yang Kafeel genggam.
“Lagipula yang tadi bukan gombalan kok.” Lanjut Kafeel. “Tapi memang kenyataan kalau kaki Val memang indah. Semua yang ada dalam diri Val indah buat Kakak ...”
Val pun tersipu.
Lalu membuang pandangannya ke arah lain, dan senyuman kecil terbit di bibirnya.
Kafeel yang melirik pada Val yang tersipu itu, kembali menarik sudut bibirnya, sambil membawa Val berjalan menuju sofa orbit yang mana sebenarnya dekat saja jaraknya dari tempat Kafeel dan Val duduk di atas pasir tadi, tapi berhubung dibuat lama jalannya, jadi lama sampainya ke itu sofa.
Harap maklum, baru jadian.
♥
“Kamu lapar? ....” tanya Kafeel saat ia dan Val telah kembali duduk di sofa orbit.
“Tidak Kak ...”
Val menjawab seraya menggeleng.
“Tumben, biasanya Val cepat laparnya.”
“Saat ini sedang tidak!” sahut Val. “Karena hati Val sedang penuh dengan bahagia, jadi rasanya perut Val juga ikutan penuh.”
Dengan Val yang menoleh pada Kafeel dengan menampakkan senyuman cantiknya, selain sorot mata kepolosan dengan ketulusan, bercampur dengan binar bahagia.
‘Oh Val! .... Seharusnya aku tidak menampik perasaan aku ke kamu sejak getar itu mulai aku rasakan dihatiku terhadap kamu,’ batin Kafeel. ‘Jika aku menyadari ekspresi kamu yang seperti ini adalah hal yang membuat hatiku berdesir hangat, yang seharusnya dapat sering aku nikmati jika aku tidak munafik selama ini atas perasaan aku ke kamu ....’
Segores penyesalan muncul di hati Kafeel.
“Jangan jaga image depan Kakak ....”
Sahutan Kafeel pada ucapan Val sebelumnya.
“Ih mana Val jaga image depan Kak Kafeel?! ....”
Val dengan cepat menyergah lalu mencebik, membuat Kafeel tak kuasa untuk tidak mencubit gemas pipi Val.
“Val kan selalu apa adanya didepan Kakak .... Meskipun mungkin tingkah Val itu menyebalkan di mata Kak Kafeel ....”
“Val ....”
Kafeel meraih dagu Val.
“Berhenti berkata lagi mengenai hal itu .... Sudah Kakak bilang jika Kakak tidak pernah merasa terganggu dengan sikap Val selama ini ke Kakak. Please.”
“.....”
“Dengan Val mengungkit hal itu, Kakak merasa diragukan lagi ....”
“.....”
“So please, jangan lagi membahas tentang sikap Val yang selama ini mengejar-ngejar Kakak. Kakak sudah mulai tidak menyukainya. Kakak sudah juga bilang tadi kan, switch that thing. Bukan kamu yang mengejar Kakak, tapi Kakak yang mengejar kamu. Ya? ....”
“Iya, Kak ....” Val mengiyakan, baru Kafeel tersenyum lagi.
“Pesan makan ya? ....”
Kafeel menawarkan dan Val mengangguk.
Kafeel menarik lagi sudut bibirnya, lalu mengacak pelan rambut Val, kemudian ia berdiri untuk mengkode pada Achiel agar memanggilkan pelayan, karena Kafeel ingin membuat pesanan.
♥
“Kenapa? ...”
Kafeel yang baru saja kembali mendudukkan bokongnya di atas kasur sofa orbit spontan bertanya pada Val yang ada disampingnya itu, karena Val nampak intens memperhatikannya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Kak...” jawab Val.
“Kok melihat Kakak sampai seperti itu?”
Kafeel bertanya lagi.
Val menggeleng dan tersenyum.
“Tidak apa-apa .....” jawab Val lagi.
Lalu Val meletakkan kedua tangannya disisi masing-masing kedua paha Val, sembari menatap lurus ke arah pantai.
“Val hanya masih tidak percaya saja jika Val dapat memenangkan hati Kak Kafeel...” kata Val.
Lalu Val menoleh pada Kafeel lagi seraya tersenyum teduh dengan sorot mata yang berbinar.
“Rasa bagai mimpi untuk Val...”
“Val ....”
Kafeel menyebut nama Val dengan lembut.
“Sudah juga Kakak bilang, jangan menjadikan posisi Kakak setinggi itu---“ sambung Kafeel, namun ia tidak sampai menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi memang seperti itu kenyataannya Kak... Terlepas dari Sang Pencipta dan para Dad juga Mom, Kakek dan Nenek serta Kakak-Kakak Val, Kak Kafeel memang setinggi itu di mata Val.” potong Val pada kalimat Kafeel.
Dengan Val yang sudah menoleh dan melemparkan senyum yang menggambarkan ketulusan hati pada Kafeel.
Dimana Kafeel menarik sudut bibirnya, segaris lurus saja. Tipis, namun senyum Kafeel pun sarat makna dengan sorot mata yang teduh pada Val.
“Kak Kafeel itu adalah pikiran terakhir dalam pikiran Val sebelum Val tertidur dan pikiran pertama setiap Val terbangun. Karena memikirkan Kakak sudah menjadi kebiasaan, memimpikan Kakak adalah sebuah kecanduan, dan mencintai Kakak adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan....”
‘Oh Val....’
Hati Kafeel rasanya bergetar hebat setelah mendengar kata-kata Val barusan. Terenyuh, pada setiap penuturan kata yang Val ungkapkan mengenai arti dirinya untuk gadis itu.
Hati Kafeel menghangat, namun merasa miris secara bersamaan. Pasalnya, Kafeel tidak memiliki kata-kata balasan yang lebih indah, atau setidaknya sama indah, untuk membalas rangkaian kata-kata Val yang terdengar indah, selain tulus di telinga Kafeel.
Jadi....
Cup!.
Kafeel tak bisa menjawab rangkaian kata-kata indah Val untuk dirinya, dengan rangkaian kata-kata indah yang sama.
Jadi hanya ini yang dapat Kafeel berikan sebagai jawaban, jika Val telah tersangkut....
Oh bukan, Val telah juga terpatri di hatinya.
Jadi Kafeel mempersembahkan sebuah ciuman.
Ciuman kedua kalinya yang Kafeel sematkan di bibir Val.
Gambaran dan ungkapan, jika Val memiliki arti istimewa untuk Kafeel sekarang.
Mungkin Kafeel pernah pacaran, pernah punya pacar yang udah jadi seonggok mantan, yang mana pernah-sering, ciuman.
Mungkin pernah punya perasaan suka pada lawan jenis yang pernah jadi mantan-mantan Kafeel, tapi Kafeel merasa, yang ia rasa pada Val begitu berbeda.
Entah bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata, namun arti Val rasanya jauh lebih tinggi daripada mantan-mantannya Kafeel terdahulu. Val berbeda dari beberapa mantannya Kafeel-dalam penilaian pria itu.
Hanya gadis belasan tahun, namun dapat membuat hati Kafeel menghangat sebegitunya. Membuat hati Kafeel yang-katakanlah angkuh-akhirnya mau mengakui rasa yang disebut cinta.
Tak punya stok kalimat indah, jadi hanya ini yang dapat Kafeel lakukan.
Mencium bibir Val, untuk kali kedua.
Dimana yang pertama adalah ciuman yang mirip dengan sebuah kecupan, namun juga tidak sepintas lewat.
Dan ciuman kedua Kafeel di bibir Val ini, tidak lagi dapat dikatakan sebagai sebuah kecupan, melainkan ungkapan perasaan Kafeel pada Val.
Ciuman yang sesungguhnya, agar Val dapat merasakan betapa istimewanya Val untuk Kafeel sekarang.
Dalam....
Ciuman Kafeel di bibir Val dalam, namun tidak memburu.
Lembut, namun sedikit menuntut.
“I love you, Val....”
Kafeel berbisik mesra di hadapan wajah Val yang ia tangkup dengan kedua tangannya, sambil memandang lekat pada Val.
“Terima kasih....” kata Kafeel dengan lembutnya. “Terima kasih telah membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tak bisa.”
♥
Val sontak memeluk Kafeel dengan penuh bahagia selepas mendapat ciuman dari Kafeel di bibirnya.
Di tambah kata indah yang terucap dengan tulusnya dari mulut Kafeel yang disertai dengan kecupan mesra di kening Val setelah Kafeel mengucapkan sebari kalimat romantis padanya, bahagia Val begitu membuncah.
Hingga spontan Val melingkarkan kedua tangannya untuk merengkuh punggung kokoh Kafeel, mendekap erat tubuh pria pujaan hati Val yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
Dan tentu, tanpa ragu, Kafeel balas memeluk Val dengan penuh perasaan sambil mengusap lembut surai dan punggung Val. Senyum bahagia juga menghiasi wajah Kafeel, yang hatinya terasa begitu hangat, selain lega setelah melepaskan beban keraguan perasaannya pada Val. Dan berani untuk mengakui, serta mengungkapkan rasa hatinya yang telah mencintai seorang gadis belia, yang mungkin lebih pantas menjadi adiknya itu.
“Jadi kita pacaran sekarang?” kata Val setelah ia mengurai pelukannya pada Kafeel. Dan Kafeel tersenyum geli. Dan satu tangan Kafeel memencet gemas hidung Val.
“Maunya Val?....” Kafeel balik bertanya.
“Maunya Val sih, Kak Kafeel cepat-cepat melamar Val!”
Kafeel pun tertawa renyah mendengar jawaban Val yang terang-terangan itu.
“Val, Val.... Buru-buru sekali?”
“Ya Val ingin saja cepat-cepat memiliki Kak Kafeel –“
“Kan sudah.” potong Kafeel. “Kakak sudah jadi milik Val sekarang dan begitupun sebaliknya.”
Tangan Kafeel kembali membelai pipi Val dengan lembut, sembari tersenyum penuh arti dengan juga menatap teduh pada Val, yang kemudian tersenyum lembut.
“Beri Kakak waktu, untuk mempersiapkan semuanya. Ya?”
Senyum Val semakin mengembang mendengar perkataan Kafeel barusan.
“Jadi Kak Kafeel benar-benar serius pada Val?!” Val bertanya dengan sangat antusias pada Kafeel.
Dimana Kafeel mengangguk pasti, tanpa menanggalkan senyumnya.
“Tentu Kakak serius pada Val,” ucap Kafeel yakin. “Nanti kalau Kakak ga serius, Val diambil orang?”
“Aaa.... Kak Kafeel.....”
Semakin berbunga-bunga selain bahagia yang membuncah rasa hati Val.
Hingga kembali Val berhambur untuk memeluk Kafeel dengan erat.
Kafeel pun kembali membalas pelukan Val.
‘Aku akan mempersiapkan semua untuk kamu Val.’
Kafeel membatin.
‘Semua hal yang bisa aku lakukan untuk kebahagiaan kamu.’
♥♥♥♥♥
To be continue ...
***Terima kasih untuk dukungan kalian sampai dengan detik ini.
Loph-Loph,
Emaknya Queen.
__ADS_1