
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Author’s Pov,
Yang terjadi, sudah terjadi.
Jika hal yang tidak mengenakkan lah yang telah terjadi, tetap sudah terjadi.
Waktu, tidak dapat dimundurkan lagi. Apalagi diulang.
Sebagaimana keputusan yang pernah Dad R ambil mengenai tindakan yang dilakukan pada Val, untuk menghapus memori putri kandungnya itu tentang Kafeel.
Keputusan yang pada akhirnya dilakukan, lalu hasilnya menuai seperti tujuan penghapusan memori tentang Kafeel itu. Yakni, melupakan Kafeel, agar Val tidak lagi merasakan sakit di hatinya yang teramat sangat.
Rasa sakit hati yang sampai membuat Val nekat ingin mengakhiri hidupnya. Yang menjadi Momok menakutkan bagi Dad R, dimana ia sangat tidak ingin hal itu terulang lagi andai Val masih mengingat Kafeel.
Dan keputusan itu tercetus sebelum Dad R dan keluarga besarnya itu mengetahui fakta yang sebenarnya mengapa Kafeel seolah begitu tega mengkhianati Val dan memberikan luka yang begitu dalam pada gadis itu.
Namun untung tak dapat diraih.
Nasi sudah menjadi bubur.
Yang sudah terjadi, sudah terjadi.
Author’s Pov end.
♥
Little Star Island, Italia..
“Hon..”
Adalah Mommy Ara yang berucap sambil ia melingkarkan tangannya ke tubuh Dad R yang sedang berdiri dan nampak juga merenung di balkon kamar mereka yang berada di kastil pada Little Star Island.
Dad R yang sempat terkesiap itu kemudian langsung menyentuh kedua tangan Mommy Ara yang memeluknya dari belakang itu, sebelum Dad R membalikkan tubuhnya hingga berhadapan serta saling melingkarkan tangan di pinggang dengan Mommy Ara.
Dad R tersenyum lembut dan langsung mengecup ringan bibir Mommy Ara, membuat istrinya itu kini mengalungkan tangannya di leher Dad R yang saling tatap dengan dirinya.
“Sedang memikirkan apa?”
“Istriku yang cantik jelita.”
“Gombal!”
Dad R lalu terkekeh kecil karena cebikan gemas Mommy Ara.
“Aku merasa bersalah, Babe.” Ucap Dad R kemudian.
“Karena tindakan penghapusan memori Val tentang Kaka berhasil?—“
“Hem.”
Dad R mengangguk dan berdehem samar.
“Pada Kaka, juga pada Val. Yang terjadi pada mereka murni kesalahanku..”
“Tidak sepatutnya kamu berpikir seperti itu, Hon.”
♥
“Pertama-tama, tidak ada yang menyalahkan kamu. Kedua, kekhawatiran seorang ayah pada nyawa putrinya yang terancam atas alasan apapun, tidak ada sesiapa pun yang boleh menyalahkannya—“
“Meski begitu, Babe—“
“Dengar ya Dad R,” tukas Mommy Ara. “Jika ingin mencari siapa yang salah, baik pada Kaka ataupun pada Val.. Aku, dan semua keluarga kita pun ikut bersalah..“
Mommy Ara membelai lembut wajah suaminya yang memang nampak terbebani itu, lalu menangkup wajah Dad R dengan kedua tangannya.
“Dan untuk itu, aku minta kamu jangan lagi mempersalahkan diri kamu seorang diri,” ucap Mommy Ara kemudian. “seperti biasa, kita berbagi semua dan menghadapi segala hal sama-sama,“ bijak Mommy Ara. Dan Dad R mengangguk seraya tersenyum, sebelum mengecup ringan kening Mommy Ara yang selalu dapat menenangkan hatinya itu.
♥
“Apa Val sudah tidur?..” tanya Dad R pada Mommy Ara, selepas pembicaraan mereka sebelumnya.
Sembari sepasang suami istri paruh baya yang belum terlihat tua itu, masih saling merangkul lembut satu sama lain di balkon kamar mereka tersebut.
“Justru Val belum lama bangun dari tidurnya—“
“Oh ya?”
Mommy Ara mengangguk menanggapi ucapan Dad R yang memastikan apa yang sebelumnya Mommy Ara katakan tentang Val.
♥
“Lumayan lama juga ya tidurnya, Val?” ucap Dad R, dengan melirik jam pada dinding kamarnya yang masih Dad lihat dengan jelas waktu yang tertera di sana dari tempat Dad R sekarang berdiri. Lalu Mommy Ara mengangguk dan berdehem samar mengiyakan ucapan Dad R.
“Aku dan Fania sempat khawatir tadi.. Karena kami juga merasa jika tidur Val cukup lama kali ini,” tutur Mommy Ara kemudian. “Lalu kami mengecek Val dibantu Hana. Yang kemudian Hana bilang jika Val memang hanya tertidur normal saja. Tapi dia sudah memberitahukan pada Celine dan aku serta Fania sudah mengatakan pada Abang tentang Val yang lebih lama tidurnya kali ini—“
“Lalu Celine dan Abang menjawab apa?” tukas Dad R.
“Celine mengatakan padaku dan Fania serta di depan Abang dan Kaka juga tadi sih, kalau dia akan mengobservasinya lebih lanjut. Karena kan tidak ada lagi obat yang diberikan pada Val selain vitamin pasca Val terbangun dari koma. Serta setelah mendapati kondisi ingatan Val sekarang—“
“Hem.”
Dad R berdehem samar lagi sambil manggut-manggut.
“Bisa jadi Val masih menyesuaikan waktu tidurnya pasca ia koma.”
Dad R berujar setelahnya, dan Mommy Ara pun mengangguk. “Abang juga bilang begitu sih tadi.”
♥
“Kamu pergilah beristirahat duluan, Babe.”
Dad R berkata pada Mommy Ara, dengan sedikit melonggarkan pelukan mereka.
“Aku ingin melihat Val terlebih dahulu.. Hem?..”
“Iya..” jawab Mommy Ara.
♥
Sementara itu di satu sudut berbeda kastil..
“Mau kemana, Ka?..”
Adalah Daddy Jeff yang menegur Kafeel, ketika pria itu sedang berjalan hendak menjauhi kamar rawat Val.
Kafeel yang ditegur Daddy Jeff itu langsung menghentikan langkahnya.
“Ingin kembali ke kamar, Dad. Val sudah bangun soalnya.” Kafeel pun langsung menjawab pertanyaan Daddy Jeff.
♥
“Tadi aku lihat, kamu-Alva-Ara dan Fania berbicara dengan Celine?..”
“Iya Dad..”
“Ada sesuatu yang serius?”
Daddy Jeff bertanya lagi. Kafeel menggeleng pelan.
“Kami hanya sedikit khawatir karena tidur Val kali ini cukup lama. Jadi kami bertanya pada Celine.”
♥
Kafeel pun menjelaskan apa yang disampaikan oleh Celine dihadapannya dan tiga orang yang Daddy Jeff sebutkan tadi, dan Daddy Jeff manggut-manggut kecil setelahnya.
“Ya sudah kalau begitu Dad. Aku ke kamarku dulu.” Kafeel hendak undur diri dari hadapan Daddy Jeff.
Namun Daddy Jeff tidak mengiyakan kalimat undur diri Kafeel barusan itu. “Temui saja Val, Ka.”
Melainkan memberikan gagasan pada Kafeel.
♥
__ADS_1
“Memang kau tidak lelah main kucing-kucingan seperti ini?..”
Daddy Jeff berujar. Kafeel tersenyum, sebelum ia menjawab ucapan Daddy Jeff. “Aku takut Val bingung dengan keberadaanku, Dad.”
“Hanya tinggal mengenalkanmu sebagai bagian dari keluarga ini jika Val bertanya nanti. Layaknya Arya.. Ah iya, Val sudah bertemu dengan itu Recehboy belum sih? Apa Val masih ingat padanya, atau melupakannya juga?”
Daddy Jeff berujar lagi sambil juga bertanya pada Kafeel yang menggeleng samar sambil mengendikkan bahunya tak tahu.
“Aku tidak tahu soal itu sih Dad—“
“Ya sudah. Nanti juga kita tahu apa Val mengenali Arya atau tidak,” tukas Daddy Jeff. “Ayo—“
♥
“Kemana, Dad?—“
“Kuantar menemui Val. Daripada kau menggantikan si Recehboy dengan posisinya sebagai Sadboy dulu. Dan mungkin saja keberadaanmu lebih dekat dapat memicu ingatan Val untuk lepas dari memori empat belas tahunnya itu. Ayo—“
“Tapi Dad..”
Kafeel menahan langkah.
“Val baru saja bangun. Dan seperti biasa aku perhatikan, dia akan linglung. Makin linglung nanti jika tahu-tahu Dad membawa aku ke hadapannya.. Lagipula, Val kan masih harus diberitahu dulu tentang umurnya saat ini—“
“Iya, sih—“
♥
“Tapi tak apalah.. Kau tunjukkan dulu eksistensimu, agar nantinya Val terbiasa melihatmu.. Ayo..”
Sekali lagi Daddy Jeff mengajak Kafeel. Dengan satu tangan satu Daddy itu yang merangkul bahu Kafeel.
“Nanti Val merasa terganggu lagi Dad, dengan keberadaanku?”
“Kau terlalu banyak berspekulasi. Toh Val tidak histeris dan mengusirmu saat melihatmu saat kalian bertatap muka pasca ia terbangun dari komanya, kan?“
“Iya, sih,” sahut Kafeel.Yang kemudian mau menerima ajakan Daddy Jeff yang sedang merangkul bahunya itu. “Tapi aku jaga jarak dulu ya Dad?—“
“Terserah kau saja Bucin Sadboy..”
Kafeel terkekeh geli mendengar celotehan canda Daddy Jeff yang memberikan julukan menggelikan padanya itu.
♥
Lalu di kamar rawat Val pada bagian intensifnya, beberapa anggota keluarga The Adjieran Smith yang didominasi The Kiddos minus dua.
Karena dua ekor anggota The Kiddos itu masih dalam kategori bocil yang punya jam malam, dan sudah disuruh masuk ke kamar masing-masing, karena meskipun Ares dan Aina telah meninggalkan sekolah resmi mereka sejak tragedi Val—namun mereka tetap mendapatkan pendidikan dari guru privat secara online.
“Kamu mau makan Val?..” Ini Isha yang bertanya pada Val, selepas Val membasuh wajahnya dengan sebuah handuk yang telah dibasahkan.
Val sebenarnya sudah bangun dari tidurnya sejak beberapa belas menit yang lalu. Namun setiap kali gadis itu membuka mata dari tidurnya, ia akan tercenung diam selama beberapa menit.
Dan tidak akan ada yang menginterupsi Val untuk itu, sampai gadis itu kemudian buka suara duluan. Karena pesannya, Val harus dibuat setenang mungkin.
Dengan harapan, ketenangannya setelah diketahui jika Val mengalami satu jenis amnesia tertentu—akan membantu Val perlahan ingat kepingan-kepingan memori yang ia lupakan itu.
Lalu setelah Val mengatakan jika ia ingin minum dan membasuh wajah, Val baru terlihat dapat diajak berinteraksi dengan normal.
“Nanti saja Isha.”
Dan Val pun menjawab pertanyaan Isha barusan.
‘Aku ini sedang berada di?..’ Val membatin kemudian, sambil ia berpikir. ‘Ah iya, jika tidak salah, keluargaku mengatakan jika aku baru saja bangun dari koma.’
Val kemudian perlahan mengingat-ingat.
‘Tapi kenapa aku bisa koma?’ tanya Val lagi dalam hatinya. “Eum—“
“Lebih baik kamu makan sekarang Val. Karena kamu tidur cukup lama tadi..” tepat saat Val ingin mengajukan pertanyaan, Varen bersuara. “Biasanya kamu mudah lapar macam Kak Drea-mu ini?”
♥
“So??? Masalah buat Bebeb Abang???..”
Drea yang disindir Varen dengan canda itu menyahut seketika.
Varen dan mereka yang bersama sepasang suami istri yang saling bucin itu terkekeh kemudian.
Sambil Drea menyertakan gerakan menunjukkan bentuk tubuhnya itu dengan jumawa.
“Lagian orang lapar itu kan harus makan. Nanti Drea sakit, Bebeb Abang khawatir pasti, kan? Kan?..” kata Drea lagi.
Varen dan lainnya terkekeh lagi, termasuk juga Val yang fokusnya teralihkan pada kelakuan kakak angkat merangkap kakak iparnya itu yang memang sangat hobi melayani ucapan kakak kandung Val itu dengan sikap jenaka seringnya.
Kemudian perihal makan banyak ditimpali oleh mereka selain Varen dan Drea. Dan menjadi candaan berkelanjutan setelahnya selama beberapa saat. Membuat Val jadi fokus terkekeh saja mendengar candaan-candaan para saudara dan saudarinya itu.
Ada sih beberapa orang tua di kamar rawat Val. Namun mereka duduk di bagian ruang tunggu yang lebih luas dari kamar rawat Val yang intensif.
♥
Selesai dengan candaan dan ledek-ledekan, Val diminta lagi untuk makan, lalu Val mengiyakan.
Ann dan Rery yang mengajukan diri untuk memberitahu maid agar menyiapkan makanan untuk Val, karena keduanya juga ingin mencari camilan yang ingin mereka lihat sendiri, apa saja jenis yang tersedia saat ini.
“Oh iya, Val boleh tidak main ponsel?..” cetus Val. Sambil memandang pada Varen menunggu persetujuan. Dimana jawaban Varen kemudian membuat Val berkesah lesu.
“Ponselmu ditinggal di London..”
Varen mengatakan yang sebenarnya.
Karena memang sejak Val di bawa ke Little Star Island, ponsel Val itu dinonaktifkan dan sengaja di tinggal di kamar Val pada Mansion mereka yang berada di London.
“Yaahh..”
Val yang berkesah, sambil ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Kemudian Val nampak tercenung, memperhatikan sebagian rambutnya yang menjuntai ke bagian dadanya.
♥
“Kenapa Val?..” tanya Aro yang melihat Val nampak sedang berpikir.
“Seingatku rambutku ini masih sebahu,” jawab Val sambil matanya yang mengarah ke atas. Sedang mengingat-ingat.
Dimana ucapan dan sikap Val itu, membuat mereka yang sedang berada di dekatnya saling lempar tatap.
Lalu menghela nafasnya dengan agak berat. Karena ucapan Val tersebut mengingatkan mereka pada kondisi Val yang memorinya tertinggal di usia empat belas tahunnya.
Yang mana memang, saat itu rambut Val masih sebahu panjangnya. “Val..” Varen membuat Val teralih padanya, dengan Varen yang sudah setengah duduk di sisi ranjang rawat Val.
“Iya Abang?—“
“Rambut kamu sudah sepanjang ini sejak dua tahun yang lalu.”
“Dua tahun yang lalu?—“
“Iya.”
Varen mengangguk.
“Ih Abang. Rambut Val selalu sebahu dari dulu juga. Sampai kita berpesiar besar-besaran juga tetap sebahu. Karena sebelum Val dan May dipanggil keluar kamar di cruise kita itu, Val sempat bercermin dahulu, dan Val ingat betul rambut Val sebahu. Seperti biasa! Masa Abang lupa?.. Ini efek Kak Drea selalu terbayang-bayang di mata Abang ya?..”
Val terkekeh sendiri.
“Eh tapi kenapa rambut Val bisa sepanjang ini dengan cepat ya?..”
Val kembali berbicara setelah ia bercerocos.
“Val..”
Dan Varen kembali bersuara.
Sambil ia membelai lembut kepala Val.
“Kita yang berpesiar besar-besaran itu, sudah empat tahun yang lalu.”
♥
__ADS_1
“Dan kamu, berusia delapan belas tahun sekarang.”
“Hah?!—“
“Iya, Val—“
“Jadi Val.. itu.. eum koma.. selama empat tahun??!..”
“Tidak Val. Kamu hanya koma selama kurang lebih enam bulan.”
“Enam bulan?..”
“Iya Val,” semua yang berada bersama Val kompak berkata.
“Val confuse ih.”
“Kamu—“
“Bagaimana dalam enam bulan Val bisa tahu-tahu berumur delapan belas tahun coba? Kalian pasti sedang memberikan aku sebuah prank ya???—“
“Engga, Val—“
“Coba mana berikan aku cermin?”
Yang mana permintaan Val itupun dikabulkan.
“Oh my!—“
♥
“Wajahku.. berubah???—“
“Ini kamu yang delapan belas tahun Val—“
“Aku melewatkan masa remajaku, dong???.. Aaa.. tidak mauu.. Masa aku melewatkan Sweet Seventeenkuu???..”
Raut wajah bingung kini mendominasi orang-orang yang berada di dekat Val.
Bingung bagaimana untuk memberikan penjelasan pada Val tentang sebab musabab kondisinya saat ini.
Dan hal itu, sedang dalam perhatian dua orang yang berdiri tak jauh dari kamar rawat intensif Val dan sedari tadi melihat bagaimana reaksi Val saat Varen memberi tahunya kenyataan dengan perlahan.
“Alih-alih mengenalkanku pada Val, Dad. Sepertinya kalian fokus saja dulu membuat Val menerima keadaannya saat ini..“
Kafeel yang bicara setengah berbisik pada Daddy Jeff. Dan satu Daddy itu menghembuskan nafasnya sedikit berat.
“Jadi lebih baik aku menjauh saja dari Val dulu..”
Keputusan yang Kafeel buat. Berat, tapi ia merasa tidak boleh egois.
Cinta, rindu—yang Kafeel rasa pada Val amatlah besar. Keinginan untuk dekat dengan Val pun sama besarnya.
Tapi jika melihat Val yang bahkan tidak menerima usianya sekarang, Kafeel tahan perasaannya itu. Jadi Kafeel mundur saja.
Membiarkan kemana takdir cintanya akan membawa.
Andai berjodoh dengan Val dan hubungan mereka kembali seperti semula, Kafeel akan langsung sujud syukur.
Andai tidak, pun—meski amat berat Kafeel katakan tak apa.
“Sekalipun dia tidak mengingatku sampai aku mati, tak apa bagiku. Asal aku dapat melihatnya hidup sehat dan bahagia. Termasuk jika dia jatuh hati pada laki – laki lain.”
Yang Kafeel katakan sebelum dirinya meninggalkan Little Star Island.
“Meski andai saat itu tiba, Val sudah tidak dapat aku gapai sama sekali. Dan Val kian jauh dariku.. namun begitu, walau Val nanti akan amat jauh dari mataku.. tapi Val akan selalu dekat pada doaku—“
♥
Dua hari kemudian..
‘Pria yang sering memperhatikanku dari jauh itu, sepertinya sudah tidak aku lihat sejak kemarin? ...’
“Kenape Val? ...”
“Itu, Val tidak melihat pria yang kalau tidak salah, pertama kali Val melihatnya di sana. Saat Val dibawa Abang untuk berjalan – jalan di luar kastil.”
“......”
“By the way, siapa sih dia?—“
“Kafeel Adiwangsa—“
Praanngg!
“Astagfirullah!”
“Val?!..”
“Sshh..”
Val meringis sambil memegangi kepalanya.
Membuat kepanikan tercipta di wajah orang-orang yang bersama Val.
Yang langsung merengkuh tubuh Val, dan membawanya kembali ke kamar Val yang sekarang sudah pindah untuk menempati satu kamar dalam kastil, tidak lagi di ruang rawat.
“VAL!”
Pekikan lalu terdengar, ketika Val lunglai dan nampak hilang kesadaran.
♥
Sementara itu, Val sedang melanglang buana dibawah alam sadarnya..
“Pasti dia ga inget sama gue deh Va. Terakhir ketemu waktu dia umur lima tahun ya kalau ga salah, saat gue ke London?”
Suara siapa ya ini?.. Ada suara tapi aku tidak melihat wujudnya?
“Perpaduan Uncle R sama Aunt Ara banget ya Valera ini?”
“Cantik kan aku?”
“Pastinya dong!”
“Tunggu ya?”
“Tunggu apa?” Tanya Kafeel spontan.
“Tunggu lima tahun lagi, tunggu usia aku tujuh belas tahun.”
“Memang kenapa kalau kamu sudah tujuh belas tahun?”
“Kita pacaran dong!”
--
“Maaf-kan aku.. Dad.. maaf.. ta-pi itu yang sebenarnya..”
“Keparat!”
Dad?..
“Jangan bermain-main denganku Ka!”
Siapa?.. Dad R bicara dengan siapa?.. Kenapa Dad R terdengar marah?.. Dan jika tidak salah aku mendengar suara tamparan?..
“Maafkan aku, Val.. Maaf..”
Siapa kamu?.. Kenapa aku tidak dapat melihatmu?..
“Iya.. aku.. mengerti.. Sekali lagi.. aku.. minta maaf.. maaf.. Val.. maaf..”
Tunggu! Jangan pergi! Hey! Jawab dulu pertanyaanku! Siapa kamu???..
“Selamat tinggal, V-al..”
Hey! Tunggu aku bilang!..
__ADS_1
♥♥
To be continue..