HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
OH DAD R


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia....


“Kalian bertengkar?”


Ada Varen yang Varen langsung bertanya pada Kafeel selepas semua mobil yang membawa mereka yang hendak bertolak ke London berikut beberapa orang yang mengantar rombongan tersebut, telah kompak bergerak meninggalkan halaman luar rumah Keluarga Cemara.


“Lalu Val kenapa?”


Pertanyaan lain langsung keluar dari mulut Varen kala Kafeel langsung menggeleng setelah Varen bertanya sebelumnya.


Kafeel menggeleng lagi. “Gue sendiri juga bingung dia kenapa?“ kata Kafeel kemudian.


“Coba ingat-ingat lagi ...” ujar Varen.  “Lo ada buat salah ga sama Val tanpa lo sadari?”


“Udah gue inget-inget ... Tapi kayaknya gue ga ada bikin salah ke Val ... Toh tadi dia juga senyum-senyum aja ...”


Kafeel menjawab pertanyaan Varen dengan yakin.


‘Meskipun senyumnya Val kayak agak dipaksain –‘


“Ya sudah, kalau lo memang ga merasa bikin salah pada Val ...” Varen lagi berujar, sambil menepuk-nepuk bahu Kafeel.


“Gue yakin ga ada hal yang salah gue lakukan sejak semalam pada Val. Bahkan gue dan dia masih sempat bercanda-canda tadi sebelum sarapan. Tapi kenapa sikapnya Val jadi dingin begitu tadi sama gue? ...”


Kafeel pun berujar.


“Dad R satu mobil dengan Val.” Varen berucap.


“Kalau lo penasaran, lo bisa minta tolong Dad R mencari tahu kenapa dengan sikap Val ke elo –“


“Tapi gue ga enak ngerepotin Dad R dengan masalah gue dan Val ...”


“Dad R, Dad lo juga,” tukas Varen. “Meski tanpa lo minta dia buat nanyain itu si Val kenapa sama lo, Dad R juga udah pasti menanyakan tentang sikap Val pada lo.”


“Tul!” ini Nathan yang menyambar.


“Ga akan ada yang kelewat dari matanya Dad R,“ tukas Aro.


“Mungkin Val Cuma lagi melow aja, Kak. Sedih kali dia pisah sama Kak Kaf, walaupun cuma dua minggu doang ... Soalnya kan dia cengeng, jadi mungkin Val ngelarang Kak Kaf ikut itu karena takut nangis didepan Kak Kaf dan jadinya malah bikin Kak Kaf kepikiran? –“


“Begitu ya, Drea? –“


“Iya kalau menurut Drea sih begitu.“


Kafeel pun manggut-manggut.


“Selain mungkin dia malu kalau nangis di depan lo ...”


“Yang gue yakin bakalan kejer, secara itu si ulet bulu cengse banget ... Selain lebay kadang-kadang ...” celoteh Nathan.


“Kak Kaf telfon aja Val nya.”


“Iya ini aku mau hubungi Val aja dulu.”


“Kita orang masuk duluan ya? ...”


♥♥♥


Sementara itu di tempat terpisah dari rumah Keluarga Cemara, di dalam sebuah mobil tepatnya....


“Anak Dad dan Mom ini cengeng ... Makanya Val tidak ingin Kak Kafeel mengantar, lalu melihat Val menangis, kemudian ia merasa bersalah. Val memang ingin hidup dengan Kak Kafeel, tapi Val juga tidak ingin merusak rencana hidupnya sampai tiba waktunya nanti Kak Kafeel menikahi Val. Cinta yang tulus itu tidak boleh egois, kan? ...”


Pada Daddy R dan Mom Ara yang berada di dalam satu mobil dengannya, Val mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. Tentang sedihnya akan menjalani LDR-an dengan Kafeel dibalik bahagianya Val yang sudah menjadi kekasih Kafeel, bahkan sudah dilamar oleh pria itu.


Namun akan hidup terpisah beda benua untuk berbulan-bulan dengan intensitas bertemu yang dipastikan jarang dengan Kafeel, menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi Val.


♥♥♥


Dad R dan Mommy Ara sama tersenyum selepas Val mengakhiri kalimatnya dengan kalimat, “Cinta yang tulus itu tidak boleh egois, kan? ...”


“Memang ...“ kata Dad R. “Tapi baiknya semua hal yang kau rasakan dalam hati, kau katakan pada pasanganmu,” sambung Dad R. ‘Yang mana orangnya sedang mengirimkanku chat saat ini.’


Dimana Dad R menjeda ucapannya pada Val, setelah ia mendengar bunyi notifikasi ponselnya yang Dad R simpan di sanggahan ponsel yang menyatu dengan kursi penumpang yang ia duduki.


Dimana ponselnya itu, langsung Dad R lirik dan angkat dari sanggahannya sebelum ia membatin tadi. Lalu meletakkannya kembali ke sanggahannya, setelah ia membaca satu chat masuk – yang mana adalah dari Kafeel.


“Sampai dimana aku tadi? –“


“Apa yang dirasakan dalam hati, katakan pada pasangan –“


“Hem –“


“Tapi Val takut terlalu membebani Kak Kafeel dengan sikap kekanakkan Val.”


“Sadar diri, hem?....”


Dad R berseloroh.


Lalu Mommy Ara tersenyum geli bersama Val, yang akhirnya tersenyum juga setelah tadi sempat lesu dan murung.


“Get close to me ( Mendekatlah padaku )” ucap Dad R pada Val sambil Dad R memajukan tubuhnya. “Don’t cry ( Jangan menangis ), hem?....” Dad R mengusap jejak air mata di pipi Val.


“Iya, Dad,” sahut Val seraya ia tersenyum pada Dad R.


“Seperti halnya aku benci melihat Ibu Peri menangis, Momma dan para adikku juga – termasuk para kakek dan nenek kalian, akupun benci melihat anak-anakku menangis.”


Dad R kemudian menjepit lembut dagu Val dengan dua ibu jarinya, sambil ia menatap lekat pada bungsu kandungnya itu.


“Bukan benci mendengar tangisan kalian. Tapi aku, termasuk semua Daddy – mu yang lain rasanya benci pada diri kami sendiri yang berarti sudah lalai menjaga kebahagiaan kalian, hingga membuat kalian sampai menjatuhkan air mata kesedihan....”


Ucapan Dad R, membuat Val dan Mommy Ara jadi berkaca – kaca matanya.


“Haish kalian cengeng sekali! –“

__ADS_1


“Kami kan terharu, Hon –“


“Iya nih Daddy....“ sambar Val. “Aku dan Mommy Peri itu terharu dengan kata – kata Daddy yang dalam barusan....”


Dad R mendengus geli.


“Padahal Dad R kan jarang – jarang bicara dengan lemah lembut seperti ini pada Val selain saat Val kecil,” celoteh Val.


Dad R kini terkekeh mendengar celotehan Val barusan.


“Berbahagialah selalu, hem?” Dad R menangkup wajah Val dengan lembut. “Karena kebahagiaan kalian adalah sumber energiku. Sedih kalian jika hati kalian terluka, akan menjadi rasa sakit yang teramat sangat di hatiku. Jadi berbahagialah selalu, karena kalian yang bahagia itu adalah alasanku untuk terus bertahan hidup –“


Oh Dad R.


♥♥♥


Di siang menjelang sore, pada sebuah bandara yang banyaknya dikhususkan untuk jet pribadi....


Dimana sekelompok orang yang bergerombol - yang mana adalah satu keluarga itu berikut beberapa orang yang nampak seperti asisten dan pengawal pribadi, telah sampai ke bandara tersebut.


“Ada masalah?....”


Itu Momma yang bertanya pada Mommy Ara, ketika Dad R dan para Dad lainnya menyuruh mereka untuk menghabiskan waktu di bandara dengan terserah.


Bebas aja, mau langsung masuk ke dalam jet, atau mau bersantai – santai terlebih dahulu di sebuah lounge mewah yang diperuntukkan bagi para pemilik jet pribadi, serta para penumpang jet baik memang milik pribadi, ataupun sewaan.


Mommy Ara lalu mengajak Momma sedikit menjauh dari tempatnya dan kemudian mengatakan alasan mengapa mereka dipersilahkan untuk bersantai – santai dahulu lebih lama di bandara, setelah sebelumnya tadi diperkenalkan oleh pilot pribadi beserta co – pilot  mereka yang baru.


“Oohh, oke deh!....” ucap Momma setelah Mommy Ara membisikkan sesuatu padanya.


♥♥♥


“Aku duduk disana ya?....” Arya berucap pelan pada Mika yang berjalan bersama Ann.


“Iya....” sahut Mika.


“Sorry ya Kak Arya?....”


Ann yang mendengar ucapan Arya ke Mika itu ikut bersuara.


“Santai, Mika bener, kami harus menjaga perasaannya Val....” kata Arya sambil memandang pada Val yang sedang bergelayut manja pada Momma, karena para Dad berikut Gappa sedang terlihat mengobrol dan membuat kelompoknya sendiri.


“Thanks ya?....”


Mika berucap pada Arya yang langsung tersenyum manis dan mengangguk pada Mika.


“Aku temenin, Kak. Sekalian battle kita?” cetus Rery.


“Ide bagus!.... Cus!” terima Arya dan langsung berjalan bersama Rery ke satu sudut lounge.


Mika dan Ann langsung menghampiri Val yang sudah duduk bersama Gamma dan Oma Anye – setelah Arya dan Rery menjauh dari mereka, sementara Momma sedang terlihat kasak – kusuk dengan Mommy Ara dan Mama Fabi berikut Mom Ichel yang ikut mengantar bersama Daddy Dewa, dalam pandangan Mika dan Val.


♥♥♥


Mereka yang jadwal terbangnya mundur dari waktu yang sebenarnya, pada akhirnya bangkit dari tempat duduk mereka masing – masing dan bergegas masuk ke dalam jet pribadi berbadan besar milik atas nama keluarga besar The Adjieran Smith, setelah kurang lebih satu jam menghabiskan waktu pada sebuah lounge eksklusif yang merupakan satu dari fasilitas lain untuk para pemilik serta penumpang jet pribadi dalam bandara tersebut.


“Ih, kamu harusnya duduk dengan Kak Arya dong, May?—“


“Ga ah.”


Mika dengan cepat menyergah ucapan Val.


“Tidak perlu merasa tidak enak padaku, May—“


“Ih, emang aku yang ogah duduk sama – sama itu si Arya Narendra selama perjalanan. Karena aku malas mendengarkan gombalan recehnya selama berbelas – belas jam!“


Cerocosan Mika membuat Val dan Ann terkekeh.


“Tapi benar kok May, sebaiknya kamu duduk dengan Kak Arya saja....”


Val berucap sambil ia berjalan beriringan bersama Mika dan Ann.


“Aku juga ingin duduk di B&K Cabin.... sedang ingin melihat bentangan langit luas seperti sedang di Burj Khalifa....”


“Ya udah kalau gitu,” tukas Mika. “Kita bertiga duduk di B&K cabin aja.... ya ga, Ann?”


“Okay, dokay!—“


“I’m okay, Sis.... Kalian jangan merasa bagaimana-bagaimana padaku. Aku bukannya bersedih karena Kak Kaf tidak ikut denganku ke London, melainkan aku yang tidak ingin Kak Kaf ikut lalu ia melihatku menangis seperti anak kecil karena berpisah dengannya.”


♥♥♥


Terlihat seorang gadis duduk termenung di sebuah kursi penumpang pesawat dengan desain mewah dan nyaman - tentunya, sambil memandang ke arah luar jendela pesawat di sebuah bagian kabin yang didesain menyerupai satu bagian dalam bangunan sebuah gedung yang digadang – gadangkan sebagai gedung tertinggi di dunia.


Dialah Val yang duduk termenung sendirian, atas permintaannya sendiri. Menopang dagunya diatas sandaran lengan kursi pesawat yang di dudukinya, Val memandangi pemandangan luar pesawat yang belum lepas landas itu dengan sesekali tersenyum – namun juga dengan matanya yang berkaca – kaca.


‘Menyesal tidak menyesal aku berpacaran dengan Kak Kafeel sekarang.... Dulu saat masih mengejarnya, aku tidak sesedih ini kalau berpisah walaupun Kak Kaf mengantarku....’


Val membatin.


‘Sekarang setelah resmi berpacaran, kenapa jadi sentimental sekali perasaanku pada Kak Kafeel.’


Val berkesah, lalu menghembuskan berat nafasnya.


‘Maaf Kak, bukannya Val tidak ingin berbicara dengan Kak Kaf.... Tapi Val terpaksa, karena Val tidak mau sampai nanti Val terisak di telefon saat berbicara dengan Kakak.’


Val masih bermonolog dalam hatinya, sambil ia teringat jika sejak masih didalam mobil ponselnya terus bergetar – yang mana Val menduga kuat, bahwa Kafeel yang sedang menghubunginya.


Dimana getaran ponsel yang menandakan sebuah panggilan masuk dari Kafeel itu sengaja Val abaikan, karena melownya belum hilang. Maklum, Val sadar diri jika dia gadis yang melankolis.


Yang tidak bisa menahan air matanya jatuh, karena hatinya begitu sencitip jika ia sedang terbawa perasaan.


“May, kan aku sudah mengatakan kalau kamu dan Ann tidak perlu menemaniku disini....” ucap Val, saat ia merasakan ada pergerakan di kursi penumpang samping kanannya. Sambil kepala Val menoleh otomatis ke arah depannya dimana ada dua kursi kosong yang Val pikir Mika atau Ann ada didepannya, bersamaan dengan orang yang duduk disamping Val itu.


Namun saat dengan cepat Val melirik ke arah kursi di depannya, bagian itu kosong.


Dan secara otomatis, Val menoleh kesamping kanannya. Dimana didetik berikutnya, Val dibuat terpaku dengan mulutnya yang menganga lebar, dan mata yang mengerjap hampir tanpa jeda, memastikan pandangannya.

__ADS_1


Apakah ia sedang berhalusinasi atau tidak.


♥♥♥


Mundur cantik ke waktu sebelum di bandara....


“Kak Kaf telfon aja Val nya.” ( Drea ).


“Iya ini aku mau hubungi Val aja dulu.” ( Kafeel ).


---


“Gimana?—“ ( Varen ).


“Va, gue minta ijin beberapa hari off kerja.” ( Kafeel ).


“Ada masalah apa?—“ ( Varen ).


“Gue mau susul ade lo ke London! ( Kafeel ).


“Bucin!” ( Varen )


“Biarin! Daripada gue ga tenang gini.” ( Kafeel ).


“Udah hubungi Dad R?” ( Varen ).


“Udah. Justru karena gue habis chat sama dia, terus si Sky kirimin gue video makanya gue mau susul Val ke London—“ ( Kafeel ).


“Video apa?” ( Varen ).


“Video Val yang curhat ke Dad R dan Ibu Peri.” ( Kafeel ).


“Mana lihat?—“ ( Varen ).


“Minta sama Sky, gue mau buru-buru cabut ke apartemen ambil passport sama visa....” ( Kafeel ).


“......”


“Tolong hubungi Verdinant, biar dia urus tuh ijin gue masuk London ga pake lama!” ( Kafeel )


“......”


“Belom resmi jadi ipar udah kurang ajar suruh – suruh gue!” ( Varen ).


“Sekali-sekali. Lagian kalian kan punya akses khusus ini, tinggal telfon doang buat bikin akses masuk calon ipar ga usah pake ribet!.... Sekalian gue pinjem motor lo!” ( Kafeel ).


---


Pada sebuah chat dalam aplikasi....


‘Kuberi kau waktu satu jam dari sekarang, jika kau ingin ikut serta dengan pesawat yang sama dengan kami.’


‘Satu setengah jam Dad. Aku kan harus mengambil passport dan visa dulu di apartemen.’


‘Bukan urusanku.’


‘Please?😢’


‘Satu jam lima menit.’


---


Satu setengah jam kemudian....


“Kau membuang waktu kami setengah jam karena menunggumu, bocah tengik!”


Ada Dad R yang berkacak pinggang pada seorang pemuda matang yang datang dengan tergopoh – gopoh ke hadapannya, yang sedang bersama para Dad lain serta satu Mom, dimana sisa rombongan sudah masuk ke dalam jet pribadi mereka.


“Maaf, Maaf, supir taksinya lelet banget—“


“Heh! Alasan! Memang kau lambat macam siput”


“Bebas aja deh Dad R mau bilang aku siput apa keong, yang penting sekarang Val mana?—“


“Ya didalam pesawat! Stupido!”


♥♥♥


Kembali kepada dia yang tengah tercengo – cengo atas apa yang dilihatnya, saking dia yang adalah Val - tidak percaya dengan apa yang matanya tangkap saat ini.


“K – Kak Kafeel??!!—“


“Maaf ya, lagi – lagi aku ga peka....”


Kafeel membelai lembut puncak kepala Val.


“Ta – tapi—“


“Kau harus lebih patuh padaku setelah ini ulat bulu...."


Suara bariton berikut orangnya yang sedang berdiri berkacak pinggang menatap ke arah Val dan Kafeel terdengar di seantero bagian pesawat yang berhubungan secara terbuka ruangnya itu.


Dad R.


Yang berucap sambil mengulum senyumnya, memandang pada Val dan Kafeel yang tengah memandanginya juga.


Serta sambil lagi Dad R berkata,


"Karena demi tidak melihat kesedihanmu itu, aku rela mengorbankan satu setengah jam waktuku – selain membujuk yang lainnya agar tidak keberatan menunda penerbangan, hanya untuknya yang galau ingin menyusulmu!”


Oh Dad R ....


Val jadi spechless karenanya.


“Sa – yaang Dad R ....”


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2