HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
A SMALL HOPE


__ADS_3

HARAPAN KECIL


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italy ...


“Sepertinya Abang dan Drea sudah tiba.”


Adalah Daddy Jeff yang bicara, dari lantai dua mansion pada pulau pribadi mereka yang tersembunyi itu.


Daddy R dan empat Daddy lain yang bersama Daddy Jeff saat ini mengangguk bersamaan, karena mereka sama-sama mendengar suara helikopter yang terasa dekat.


“Kaka jadi ikut?” tanya Papi John, sambil memandang pada Dad R yang mengangkat bahunya.


“Entah. Biar gue yang lihat ..” ucap Dad R, dan lima Daddy lainnya mengangguk bersamaan. “Kalian duluan saja ke ruang makan.”


🌷


🌷


“Val, lihat siapa yang datang, Baby?”


Yang Varen ucapkan ketika ia telah membawa Kafeel ke pulau pribadi tersembunyi yang Varen beli lalu ia jadikan sebuah tempat sebagai sarana penelitian dan pengujian untuk setiap hasil penemuan atau pengembangannya atas sebuah teknologi, serta juga sarana penelitian bagi Celine yang memiliki otak seorang ilmuwan.


Dimana ucapan itu, dibarengi sebuah tirai yang dibuka oleh Celine setelah Varen meminta satu anak buahnya yang nyentrik itu untuk membuka sebuah tirai yang nampak menutupi satu bagian dalam ruangan yang telah Varen bawa Kafeel untuk masuki.


Ucapan yang membuat Kafeel kemudian terjatuh di atas kedua lututnya, lalu meluruh pilu setelah tirai terbuka dan melihat Val terbaring di atas sebuah ranjang pasien.


“Val, memang sempat ‘pergi’, Kak. Makanya dia di bawa kesini untuk diobservasi dengan lebih cermat lagi. Tapi, sudah tiga bulan ini, keadaannya tetap seperti ini.“


Adalah sedikit keterangan dari Drea ketika Kafeel telah sedikit lebih tenang dan dibantu berdiri oleh Drea dan satu orang lainnya namun bukan Varen, kemudian Kafeel untuk mendekat kepada Val yang nampak seperti sedang tertidur pulas itu.


Hanya saja ada sebuah alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan mulut Val.


“Puas-puaskan dirimu melihatnya. Karena setelah itu kau harus pergi dari sini, Kafeel Adiwangsa.”


Lalu ketika Kafeel sedang memandangi pilu Val sambil menyebut dengan lirih nama Val, sebuah suara terdengar dari belakangnya.


Dimana orang yang barusan berbicara itu telah berada tepat di belakang Varen. Dan Kafeel tergugu setelahnya.


Tak hanya tergugu, Kafeel pun kemudian dibelit sembilu dalam hatinya. Karena setelahnya, orang yang tahu-tahu muncul itu yang mana dia gerangan adalah Dad R—memberikan penegasan agar Kafeel tidak usah berlama-lama berada di pulau pribadi yang Varen beli, namun ia atas namakan sebagai aset keluarganya.


Membuat Kafeel kemudian langsung berlutut memohon di hadapan Dad R yang Kafeel langsung jegal langkahnya ketika penegasan yang berupa larangan itu Kafeel terima dari Dad R.


Kemudian saat Dad R mengeluarkan ancaman, Kafeel malah balas menjawab dengan kalimat yang bermakna macam tantangan.


Yang kata Kafeel—menanggapi ancaman Dad R apabila Val tidak sanggup bertahan lebih lama dari keadaannya sekarang, bahwasanya Kafeel akan dengan senang hati menemani Val jika Val tidak sanggup bertahan, yang mana dalam kata lain, kasarnya—Kafeel akan ikut masuk ke dalam lubang yang sama dengan Val saat gadis kecil tercintanya itu dimakamkan.


Lalu kata ‘sarap’ tercetus dari mulut dua orang yang mendengar ucapan Kafeel pada Dad R itu. Setelah Kafeel dengan entengnya bilang kalau dia memilih di kubur hidup-hidup saja bersama Val. Dan Dad R mendengus berat melihat Kafeel yang nampak kacau memohon sampai berlutut padanya itu. “Bangunlah ....” kata Dad R kemudian.


🌷🌷


Kafeel tidak langsung bangkit ketika Dad R menyuruhnya bangun dari berlututnya. “Jika anda memberikan ijin untuk saya berada di sini, baru saya akan bangun,” ucap Kafeel yang sedikit memaksa selain memohon. Membuat Dad R mendengus berat sekali lagi, dan akhirnya mengiyakan permohonan Kafeel padanya.


“Sekarang bangunlah,” ucap Dad R pada Kafeel. “Dan ikut makan siang dengan kami ....” sambung Dad R.


“Ayo, Kak? ....”


Drea yang kembali membujuk Kafeel untuk berdiri.


“Kau juga, Ar ....”


Dad R berucap pada satu orang yang menyertai Kafeel dari Jakarta, yang juga sekali lagi membantu Drea untuk memapah Kafeel bangun setelah berlutut untuk yang kedua kalinya.


🌷


🌷


Jakarta, Indonesia,


Di sebuah rumah sakit,


“Keluarga pasien atas nama Kafeel Adiwangsa?“


“Iya betul.”


“Pasien siap dipindahkan—“


“Baik, terima kasih atas pemberitahuannya—“


---


“Apa kata Dokter, Bang? Kak Kaf ga koma, kan? ....”


“Nope.”


“Syukur deh ....”


“Kalian berdua kalo mau pergi nyusul yang lain makan atau ada urusan lain, silahkan aja. Biar gue yang tunggu Kaka sampai dia sadar.”

__ADS_1


“Woles aja, Bang. Gue sih off hari ini ....”


“Lo, ga ngapelin tunangan lo?—“


“Ga.”


“Lalu kapan nikahnya?”


“Mika sendiri, gimana progressnya sama Felix?”


“Kenapa ga tanya langsung sama orangnya?”


“Gue udah loose contact sama dia.”


“Heem.”


“Sorry, gue terima telfon dulu ....”


“Gue nyari kopi dulu deh kalo gitu, Bang—“


“Okay.”


---


Lalu yang katanya mau cari kopi, kembali setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dengan membawa juga dua gelas minuman lain di tentengannya untuk dua orang yang tadi bersamanya setelah yang lain memisahkan diri duluan.


Tak ada orang di luar sebuah ruangan yang merupakan ruang rawat VIP rumah sakit, dan dia gerangan yang membawa kopi di tentengan sudah hendak masuk ke dalam ruang rawat tersebut, namun langkahnya terhenti karena mendengar suara orang bicara dari dalam ruang rawat yang merupakan ruangan tempat Kafeel ditempatkan setelah diberi tindakan oleh Dokter.


“Gue paham posisi lo --- sebagai anak, lo melakukan hal yang benar --- tapi di sisi lain, lo ga hanya membuat satu hati bersedih, tapi satu keluarganya juga --- luka yang lo beri pada Val, berimbas pada semua orang ....“


‘Kak Kaf udah sadar kayaknya. Gue tunggu di sini—‘


“May, contohnya...”


‘Eh?’


“Dia yang terluka atas jalan pintas yang dipilih saudarinya, takut jika dia tidak dapat memberikan kepastian masa depannya dengan Arya --- Lalu mencari cara agar Arya membencinya, hingga sampai Arya mau melakukan perjodohan bisnis dengan anak rekan bisnis ayahnya ...”


‘H-ah???—‘


“Dan ya, Kafeel Adiwangsa, mendingan lo mati aja --- karena lo, telah membuat dua adik perempuan gue menderita --- yang satu lo tusuk langsung hatinya, yang satu harus mengorbankan cintanya karena ga mau memberikan warna abu – abu pada masa depan Arya bersamanya...”


‘Mika...’


Dia gerangan yang Varen sebut namanya terkait Mika, melirih dalam hati setelah mendengar penuturan Varen atas ia yang mencuri dengar.


Arya Narendra.


Yang kemudian menggeram dalam hatinya.


---


“Bang. Lo serius mau bawa Kak Kaf hari ini juga ke London?...”


“Dia maksa buat ditemuin sama Val secepatnya. Pake ngancem segala. Kan lo dengar sendiri tadi? Otaknya udah tinggal satu ons, dan dia akan mampu berbuat lebih nekat kalau gue ga iyakan.”


“Tapi kondisi dia kayak gitu. Masih lemah kayaknya juga. Apa ga masalah kalau dia pergi sekarang?—“


“Kalau dia rasa mampu?—“


“Ya pasti dimampu-mampuin sama dia.”


“Tapi gue suruh dia minta ijin dulu sama Bunda.”


“Huum...”


“.....”


“ Kalo emang Kak Kaf jadi ikut lo, gue juga ikut ya, Bang?”


🌷


🌷


“Sekarang bangunlah, dan ikut makan siang dengan kami .... Kau juga, Ar ....”


Adalah Dad R yang bicara, pada Kafeel yang berlutut di hadapannya, serta juga Arya yang bersama Drea membantu Kafeel untuk bangun dari posisinya.


“A – aku di sini aja—“


“Ga usah membantah. Lo sendiri aja masih oleng.”


Varen yang menukas ucapan Kafeel, saat pria itu berdiri dan sedikit agak limbung.


Kafeel tidak ada pilihan selain mengangguk, lalu Drea kembali bicara padanya. “Val sepertinya habis diobservasi lagi oleh Celine. Dan pada masa itu, biasanya kami membiarkan Val sendiri. Nanti di satu jam ke depan, kami akan mulai bergantian menemaninya.”


“Oh—“


“Kak Kaf ikut makan siang saja bersama kami. Toh Celine sepertinya masih ingin melakukan pemeriksaan pada Val. Dan lagi nanti satu dua dari kami akan juga datang ke sini untuk melihat Celine memeriksa Val, selain ini pun sudah waktunya Val dibersihkan ....” tambah Drea.


Kafeel pun mengangguk setelah Drea sedikit menerangkan.

__ADS_1


🌷🌷


“Gue oke, Ar.”


Kafeel berucap pada Arya yang hendak memapahnya berjalan.


“Yakin lo?” tanya Arya memastikan karena Kafeel memang nampak masih lemah karena wajahnya yang masih terlihat pucat.


Kafeel mengangguk seraya tersenyum tipis pada Arya. lalu mengekori Varen, Drea dan Dad R yang berjalan lebih dulu di depan Kafeel dan Arya.


“Everyone, kita kedatangan tamu,” ucap Dad R ketika ia telah berada di lantai dua mansion serupa kastil di pulau pribadi mereka yang tersembunyi itu.


🌷🌷


Didominasi oleh para orang tua dan tetua ruangan yang Dad R datangi bersama Varen dan Drea serta Kafeel dan Arya di belakang mereka. Enam orang Dads of The Adjieran Smith lengkap. Namun The Moms yang seharusnya ada enam orang, hanya ada tiga orang saja dalam ruangan tersebut. Sepasang kakak lain juga tidak terlihat, yakni Nathan dan Kevia.


Berbeda dengan para orang tua yang tidak lengkap, para tetua semuanya ada, namun barisan para adik tak kesemuanya ada. Pun dua pewaris paling junior anak Varen – Drea, serta Nathan – Via.


“Putra sama Gadis mana?”


Varen yang sudah mendekati para anggota keluarganya yang nampak berkumpul dalam satu ruangan itu bertanya setelah menyalim takdzim pada beberapa tetua dan orang tua yang ada, lalu disambangi beberapa adiknya yang ada juga untuk gantian menyalim takdzim pada Varen dan Drea.


“Ikut Tan – Tan dan lainnya ke Ravenna ....”


“Heem ....” Varen mengangguk dan bergumam samar setelah mendengar jawaban Momma.


Kemudian beberapa adik yang ada itu, yakni Aro dan Ares menghampiri Kafeel dan Arya untuk menyalimi takdzim keduanya juga. “Apa kabar Kak Arya, Kak Kaf? ....”


Aro menyapa santun pada dua orang yang ia sebutkan namanya itu.


“Baik Ro .... Lo juga apa kabar? .... Kamu juga, Ares ....” Arya yang menyahut.


“Baik, Kak ....”


Aro dan Ares menyahut bersamaan.


Sementara Arya menyapa, Kafeel hanya tersenyum tipis saja pada Aro dan Ares yang ia acak pelan rambut keduanya.


Kafeel sebenarnya sedang merasa salah tingkah selain tak enak hati berhadapan dengan keluarga Val yang belum terlihat lengkap di matanya itu. Pun malu menggelayuti diri Kafeel saat ini, berada di hadapan keluarga Val yang pasti sama terlukanya dengan Val. Apalagi Val sampai mencoba bunuh diri, dan koma sekarang.


“Kak Kaf dah oke? ....”


Aro bertanya pada Kafeel.


“Udah, Ro ....”


Kafeel menjawab pertanyaan Aro yang kemudian tersenyum padanya.


“Kaka,”


Suara lembut keibuan seorang wanita terdengar memanggil Kafeel yang terpaku di tempatnya, selepas ia berinteraksi dengan Aro dan Ares.


Sementara Arya telah terlihat berada di dekat para orang tua dan tetua yang ada.


Kafeel memang sungkan untuk menggerakkan kakinya mendekat pada keluarga Val yang ada di hadapannya saat ini.


Namun bukan lantaran Kafeel takut dihajar oleh para Dad atau mungkin Gappa dan Ake Herman yang juga ada.


Melainkan Kafeel malu hati sekali pada mereka. Jadi Kafeel tetap di tempatnya saja. “Come here, Kaka. Don’t you miss us?”


Dan sebuah suara bariton bersahaja terdengar lagi kemudian menimpali suara keibuan yang memanggil Kafeel dengan nama kecilnya.


Didetik setelah itu, mata Kafeel berembun dengan cepatnya. Lalu bulir air mata perlahan menderas ketika suara Gappa terdengar mengajaknya bicara, dan Gappa telah mendekatinya.


“Sa – ngat – Gappa ....” Kafeel melirih dan meluruh kemudian, ketika Gappa memeluknya. “Maafkan, aku .... Gappa – Karena aku, Val—“


“Sudahlah, My Boy .... Yang sudah terjadi sudah terjadi. Dan kau tidak seharusnya melakukan apa yang sudah kau lakukan .... Yakni membahayakan dirimu sendiri—“


“Aku .... hanya berpikir untuk berada di dunia yang sama dengan Val, saat ....” Kafeel tergugu. “Seharusnya .... Kalian membunuhku, ketika Val ....” lanjutnya terbata setelah tenggorokannya ia rasa tercekat.


“Sudahlah .... Sebaiknya kau hampiri para naga itu,” canda Gappa pada Kafeel sambil menepuk – nepuk pundak Kafeel yang langsung mengangguk antusias seraya tersenyum pada Gappa.


“Daripada kau terus – terusan menangis macam banci, lebih baik kau berlutut di hadapan para ibu dan nenek yang telah kau buat menangis tak habis – habis selama tiga bulan ini.” Adalah suara dingin nan nyinyir Poppa yang kemudian terdengar.


Mengalihkan atensi Kafeel dari Gappa dan menatap langsung pada Poppa seraya Kafeel mengangguk. Dimana Poppa yang sebenarnya tak serius juga bicara soal Kafeel yang ia sindir untuk berlutut di hadapan tiga Mommy yang ada, dibuat tercengang kemudian.


Karena Kafeel mengambil serius ucapannya, dan benar – benar menjatuhkan lututnya di hadapan Poppa dan mereka yang ada bersamanya itu. Dan bukan Kafeel membuat – buat sikapnya yang merendahkan diri di hadapan kesemua keluarga Val yang ada di hadapannya ini, namun hal itu murni Kafeel lakukan dengan spontan atas dasar rasa sesal dan bersalahnya atas apa yang menimpa Val karena dirinya.


🌷🌷


“Sebagian tinggal di Ravenna?” Arya yang bertanya, ketika ia dan Kafeel kemudian digiring untuk makan siang bersama oleh keluarga Val yang ada di Little Star Island.


“Tidak. Baru tadi pagi mereka pergi ke sana untuk sekedar mengajak Putra dan Gadis bermain di luar tempat ini. Selain mencari beberapa kebutuhan untuk di sini, serta sedikit refreshing ....”


Mommy Ara yang menjawab pertanyaan Arya barusan. Arya pun mengangguk menanggapi jawaban Mommy Ara.


“Terkadang memang kami sesekali menginap di Ravenna. Tapi malam ini jadwal kami berkumpul tanpa terkecuali di setiap tanggal ini sejak tiga bulan lalu, jadi nanti sore mereka akan kembali.”


‘Berarti, gue bisa ketemu Mika?—‘


🌷


🌷

__ADS_1


🌷


To be continue ......


__ADS_2