HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MI APPAAHH?!


__ADS_3

Terima kasih masih setia


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah..


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia


“Sabar itu memang melelahkan, tapi Val percaya, kalau sabar itu akan membuat semua indah pada waktunya ..”


Nada suara Val terdengar tulus, setiap kali ia membahas soal perasaannya pada Kafeel. Diluar sikapnya yang menggebu-gebu dalam mengejar pujaan hatinya itu. Gadis muda ini tak pernah malu menunjukkan refleksi rasa cintanya, baik pada pria yang bersangkutan ataupun dihadapan orang lain.


Pertama, Val tidak mau menyimpan perasaan karena ia takut tertekan lalu jerawatan.


Kedua, toh Kafeel fine-fine saja dengan sikapnya yang menggebu-gebu ia tunjukkan pada pria pujaan hatinya itu.


Kafeel tidak pernah protes, apalagi marah, jika Val selalu bergelayut manja dan menempel padanya bak ulat bulu jika bertemu.


Jadi, kalau yang bersangkutan aja ga protes, kenapa anda-anda yang repot? – Begitu kiranya komentar Val, kalau ada yang protes atau mencibir tentang sikapnya yang dinilai berlebihan pada Kafeel.


Bukannya Val tak sadar dengan sikapnya yang kelewat menggebu dalam menunjukkan perasaannya pada Kafeel, justru Val sadar-sesadar-sadarnya. Tapi Val rasanya harus seperti itu, karena menurut Val, Kafeel kelewat pasif, jadi dia yang harus pro aktif.


Dimana pemikiran itu hadir, karena Val yakin jika Kafeel memiliki perasaan yang sama, namun Kafeel masih malu untuk mengungkapkan hal itu pada Val.


Setidaknya hal itu yang Val yakini.


Walau Val sendiri tidak menemukan jawaban, kenapa Kafeel masih harus malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Val.


Apa karena Val masih berusia belasan tahun?.


Atau Kafeel masih punya keraguan, yang entah keraguan soal apa.


Karena kalau perasaan Val, kan sudah Val tunjukkan dengan jelas tentang betapa Val mencintai Kafeel.


Jadi kenapa Kafeel harus merasa ragu, jika pria pujaan hati Val itu juga memiliki perasaan padanya?.


Val juga bingung.


Mungkin Kafeel minder ya pada Val, karena status sosial mereka berbeda?.


Jadi Kafeel ragu untuk mengatakan atau menerima cinta Val?.


‘Bisa jadi!’


Begitu menurut Val.


Setidaknya itu yang Val percayai soal Kafeel yang seolah tak menanggapi cintanya, namun perhatian dan kasih sayang Kafeel padanya, nyata Val rasa.


Masa bodohlah – pikir Val.


Kenyataan jika perasaan cinta Val pada Kafeel sudah Val rasa sangat bulat dan besar mengalahkan bulat dan besarnya bumi, meski menurut teori katanya bumi itu tidak bulat, membuat Val tidak mau terlalu memikirkan kenapa Kafeel masih terkesan, entah bagaimana Val menyebutnya tentang perasaan dan sikap Kafeel padanya yang dibilang keberatan tidak, masa bodoh tidak, tapi menanggapi dengan serius pun tidak.


Masa bodoh!.


Sekali lagi Val katakan.


Yang ia tahu ia akan terus berusaha dan berjuang, meyakinkan Kafeel atas cintanya, dan membuat pria matang nan tampan dengan pipi yang berlesung itu, yang dadanya peluk-able itu menjadi milik Val sepenuhnya.


Val berpatokan pada ucapan Ake Herman.


Berjuang, Berjuang Sekuat Tenaga


Tetapi Jangan Lupa, Perjuangan Harus Pula Disertai Doa...


Padahal sesungguhnya, itu bukan murni ucapan dari sang Ake yang kadang gesrek itu macam istri dan dua anaknya.


Melainkan, potongan lagu Om Aji Rhomah, yakni Perjuangan dan Doa.


Yang dilalahnya, Val jadikan panutan.


“Berjuang sedang dilakukan, berdoa pun sudah.”


Jadi Val tinggal menunggu hasil dari perjuangan dan doanya itu.


Dimana hari ini perjuangan itu akan kembali Val lakukan, saat nanti Val sampai di Perusahaan milik keluarga dari Daddy R, keluarga yang darahnya mengalir dalam diri Val.


‘Aku sekalian ajak kencan saja ah Kak Kafeel hari ini!...’


Val mencetuskan rencana di kepalanya. Sudut bibir Val pun tertarik karena ada bayangan indah saat satu rencana itu terpikirkan olehnya.


“Ah iya begitu saja!” Val berseru dengan tiba-tiba di dalam mobil yang sebentar lagi akan sampai di R Corp. Membuat tiga orang yang berada di dekatnya menjadi sedikit mengendikkan bahu mereka.


“Hish! Mengagetkan saja!” protes Mika yang berada tepat disebelah Val. Dan gadis yang sedang di protes Mika hanya menunjukkan barisan giginya yang rapih dan kinclong itu pada Mika. “Pasti otak kamu sedang memikirkan rencana gila soal Kak Kafeel.”


Val terkikik setelah mendengar kalimat terakhir Mika. “Paham sekali saudariku yang berbeda enam bulan ini tentangku...”


Val menoel dagu Mika yang memutar bola matanya malas, sementara dua kakak perempuan yang duduk di kursi penumpang depan Val dan Mika itu terkekeh kecil saja.


“Bukan rencana gila, tapi rencana romantis!”


Val memainkan alisnya sembari masih menatap pada Mika.


Dan kembali Mika memutar bola matanya malas. “Do what you wanna do ( Lakukan saja apa yang kamu mau lah ), Vaall...” ucap Mika malas. “Keromantisan dan kegilaan kamu itu kan berbeda tipis kalau mengenai Kak Kafeel!”


Val terkikik lagi, dan dua kakak perempuan kembali terkekeh kecil.


“Memang rencana romantis apa yang mau kamu lakukan, Val?... Candle Light Dinner?...”


Itu Via yang bertanya.


“Iya!”


Val menyahut dengan cepat.


“Itu sih yang ada di kepala aku, Kak Vi!” kata Val. “Nanti aku sekalian meminta Kak Kafeel untuk segera melamar aku, kan bagus itu ya rencana aku?”


“Kan, sudah aku bilang, keromantisan dan kegilaannya berbeda tipis?”


Mika pun nyeletuk.


“Ada juga cowo yang bikinin Candle Light Dinner, ini malah terbalik!” ketus Mika.


Kembali Via dan Drea terkekeh. Namun seperti biasa, Val masa bodoh saja, kalau Mika sudah mengeluarkan protes yang samar dengan cibiran padanya soal Kafeel.


“Terus kalau mendadak begini, gimana kamu mau menyiapkannya, Val?...”


Gantian Drea yang bertanya.


“Nah itu yang sedang aku pikirkan, Kak Drea.”


Val nampak berpikir.

__ADS_1


“Humm, gimana ya?. Enaknya aku buat Candle Dinner nya dimana? Humm...”


Val berbicara sendiri dengan tangan yang menopang satu pipinya dan mata menatap langit-langit mobil.


Sementara Mika geleng-geleng saja. Tapi kemudian ada sesuatu yang terbersit di kepala Mika. “Eh Val----”


“Apa kamu punya ide untukku, Mi?”


Val dengan segera memotong dan bertanya dengan antusias pada Mika.


“Ish! Bukan itu!”


Mika menyergah dengan cepat.


Sementara dua kakak kini sedang tidak memperhatikan dulu dua adik yang akrab tapi sering juga debat, karena sedang sibuk dengan ponsel mereka.


“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”


Mika kembali berucap.


“Apa?”


Val pun bertanya pada saudarinya yang lebih tua usia enam bulan dari Val itu.


“Apa kamu pernah bertanya pada Kak Kafeel soal---“


“Perasaan Kak Kafeel padaku?”


Lagi-lagi Val memotong ucapan Mika.


“Jangan dulu memotong ucapanku!” Mika melayangkan protesnya pada Val.


Sementara Val terkekeh kecil.


“Kalau soal perasaan Kak Kafeel aku sudah tahu jawabannya. Dia kan selalu bilang menyayangimu!...”


“......”


“Dan kamu selalu mensugesti dirimu jika kata ‘menyayangimu’ yang Kak Kafeel ucapkan padamu adalah ungkapan lain Kak Kafeel yang ‘mencintaimu’...”


“Memang seperti itu...”


Val pun menyambar seraya terkekeh kecil. Dan Mika memutar bola matanya malas.


“Yang mau aku tanyakan adalah, apa kamu pernah bertanya secara langsung dan tegas tentang Kak Kafeel pada yang bersangkutan?...”


Val sedikit mengernyit.


“Maksud?...” Val tak paham maksud ucapan Mika.


“Maksud aku, apa kamu pernah bertanya padanya secara frontal, apa Kak Kafeel itu sebenarnya sudah punya kekasih?”


Deg!.


Ucapan Mika yang berupa pertanyaan itu juga, membuat hati Val sedikit berdentum.


Karena pada kenyataannya, Val memang tidak pernah bertanya soal itu pada Kafeel.


Apakah Kak Kafeel-nya sudah memiliki seorang kekasih atau belum. Hal yang tidak pernah terbersit di kepala Val.


‘Bagaimana jika benar yang Mika katakan barusan?. Jika alasan Kak Kafeel yang selalu menanggapi tidak serius perasaan dan sikapku yang menunjukkan rasa cintaku padanya karena Kak Kafeel sudah punya kekasih?...’


Batin Val bermonolog.


Val memberikan sugesti pada dirinya, seperti yang sudah-sudah.


“Bagaimana Val?...”


‘Kak Kafeel tidak pernah terang-terangan menolakku, apalagi mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih. Abang juga tidak pernah mengatakan hal itu... Jadi Kak Kafeel sudah dipastikan tidak memiliki kekasih!’


Val masih sibuk bermonolog dalam hatinya, hingga ia mengabaikan pertanyaan Mika barusan.


“Val!” panggil Mika, hingga Val kemudian terkesiap dan kembali sadar dari lamunan, dengan pikirannya.


Kini dua kakak perempuan yang duduk di kursi penumpang tengah, kembali memperhatikan dua adik yang duduk di kursi penumpang belakang.


“Kak Drea rasa Mika benar deh Val...”


Drea bersuara, ikut berkomentar.


“Apa ga sebaiknya kamu tanyakan sama Kak Kafeel apa dia punya kekasih sebenarnya atau tidak?...”


Drea menyambung kalimatnya, yang diiyakan oleh Via dengan anggukan.


“Aku ga perlu menanyakan soal itu, karena aku yakin Kak Kafeel tidak memiliki kekasih!...”


Val pun dengan cepat menjawab dan tampak begitu yakin.


“Dan satu-satunya wanita yang akan ditakdirkan menjadi kekasih Kak Kafeel hanya satu... A-ku!”


Val memberikan penegasannya pada tiga orang yang sedang menatapnya itu. Val terlihat begitu percaya diri, seperti selalunya.


“Okay?!” sekali lagi Val menegaskan. “Kak Kafeel belum dan tidak memiliki kekasih saat ini! Aku satu-satunya yang akan menjadi kekasih Kak Kafeel, bahkan akan menjadi istrinya kelak. Period ( Titik )”


“Ya sudah...”


Drea bersuara dengan menampakkan senyumnya, setelah sempat saling tatap dengan Via dan Mika.


Drea juga sudah mengkode Mika dengan gelengan agar tak lagi membahas soal Kafeel yang apakah sudah memiliki kekasih atau belum.


Jangan membuat Val menjadi gusar, atau mungkin bersedih hati, karena mata Val nampak sedikit berkaca-kaca saat berbicara tadi, meskipun nampak percaya diri sekali saat mengucapkan keyakinannya soal dia dan Kafeel tadi.


‘Tidak akan pernah aku tanyakan hal itu pada Kak Kafeel!. Karena aku tidak akan bisa menerima kenyataan jika Kak Kafeel sudah memiliki kekasih!’


Memang benar feeling Kak Drea yang cukup tajam itu soal perasaan Val.


Val tampak yakin dan percaya dirinya berucap tadi. Namun sesungguhnya gadis itu kini sedang memiliki ketakutannya sendiri atas dugaan Mika atas Kak Kafeel-nya.


‘Aku harus melakukan sesuatu!’ Ah, Val sungguh merasa sangat terganggu perasaannya sekarang ini.


♥♥♥♥♥


R Corp, Jakarta, Indonesia


Dua dara telah berada di Perusahaan pribadi keluarga Daddy R, yang dibawah naungan nama Aditama, yakni nama keluarga dari pihak almarhumah ibunda kandung Daddy R. Dimana seorang pria berpakaian rapih tengah berjalan dengan cepatnya menghampiri dua dara tersebut.


Siapa lagi kalau bukan sekertaris pribadi Varen yang disuruh melototin lift demi menunggu kedatangan bidadari tercintanya Tuan Alvarend Aditama Adjieran Smith. Dimana bejibun pengawal pribadi ada di sekelilingnya, yang datang bersama satu Incess pewaris kerajaan Aditama dan Adjieran Smith juga.


‘Presiden aja kayaknya kalah pengawalannya sama pengawalan Nyonya Andrea,’ batin sek-pri-nya Varen berkata. Tentu celetukannya didalam hati saja. Tidak akan berani sekertaris pribadinya Varen itu asak nyeletuk, kalau mau nyawanya selamat, hidup dengan organ tubuh yang utuh.


Karena sepertinya Tuan Alvarend itu banyak sekali matanya.


Sekertaris pribadi Varen itu merasakan dadanya bergetar kemudian. Bukan karena saking terpesona dengan Nyonya Andrea, melainkan...

__ADS_1


Drrrttt... Drrrttt...


Ponsel sekertaris pribadinya Varen itu bergetar di dalam saku kemejanya.


‘Aku bilang apa?. Mata Tuan Alva itu rasanya ada di setiap sudut dinding gedung ini!’


Benar saja dugaan sek-pri-nya Varen, yang telah menduga akan ada panggilan dari Bos Besarnya langsung itu karena rasa-rasanya Varen tahu jika sang istri tercintanya sudah datang.


“Kau cepat antarkan istri tercintaku itu padaku di Lounge Utama!” Suara Varen menggema di ponselnya.


“Baik, Tuan, dengan segera akan saya antarkan Nyonya Andrea dan Nona Valera ke tempat anda berada sekarang.”


Sekertaris pribadi Varen itu pun menjawab dengan patuhnya. Jangan lupakan kalimat lengkap yang harus dia katakan dengan jelas, sebelum dia dikoreksi oleh atasannya yang akan jadi seorang pria super bawel jika sudah menyangkut kedatangan sang istri tercinta, belahan jiwa, raga, pemilik hati Varen, kepala sampai kakinya.


Ah lebay-nya!.


Tapi tentu saja sek-pri-nya Varen itu tidak akan menyuarakan hal itu.


Masih ingin hidup lebih lama, tidak mau juga menghabiskan hidup di kursi roda.


“Bagus!”


Sahutan Varen terdengar setelah sekertarisnya itu menjawab dengan lugas perintahnya.


“Halo Har,” Andrea menyapa sekertaris pribadi suaminya itu.


“Hai Kak Har!” Val juga sama menyapa pria bernama Harsena itu.


“Apa kabar Nyonya Andrea, Nona Valera?...”


“Ba -----“


Belum selesai Andrea dan Valera menjawab sapaan Harsena, namun pria itu kemudian menundukkan kepalanya pada dua dara tersebut, karena dadanya bergetar lagi.


Eh ponselnya Harsena, maksudnya.


‘Tuan Alvarend’.


Nama yang terpampang di layar ponsel Harsena.


“Iya Tu ---“


“Jangan sok akrab dengan istriku!”


‘Mi appah ini Bosque yang bucin sama lebay nya ga ketulungan Ya Tuhaaaaan!’


Harsena menjerit hatinya.


Serba salah.


***


Val dan Drea sudah melangkahkan kakinya menuju Lounge Utama di R Corp dengan diantar Harsena, juga disertai oleh beberapa pengawal pribadi yang matanya fokus pada Andrea lebih utama.


Karena titah Tuan Alva,


“Kalau istriku tersandung dan ia terjatuh, kaki kalian semua akan aku patahkan!”


Ngeri.


Makanya mata mereka yang ditunjuk langsung untuk menjaga Nyonya Alvarend kalau perlu jangan berkedip.


Karena rumor yang tersebar mengenai sisi kejam Tuan Alvarend mereka itu, sungguh membuat para pengawal pribadi tersebut bisa merinding disko.


Kembali ke dua dara yang sedang berjalan menuju Lounge Utama. Keduanya berjalan lurus sampai mereka melewati sebuah ruangan yang merupakan ruangan yang Val kenali siapa pemilik ruangan tersebut.


Dimana Val menghentikan langkahnya untuk pergi ke Lounge Utama, dan berbelok untuk masuk ke dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu, dimana di pintunya tertulis nama ‘Kafeel Adiwangsa’.


“Kak Drea duluan aja ke Lounge Utama, aku menemui Kak Kafeel dulu ya?... kan aku kesini memang mau ketemu dia, hehehe...” celoteh Val yang diiyakan oleh Drea yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju Lounge Utama.


Senyum Val mengembang, karena dari kisi pintu yang terbuka, Val dapat mendengar suara dari pria pemilik hati berikut debarannya itu. Val dengan semangat mengayunkan kakinya untuk melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya Kafeel tersebut.


Namun senyum Val yang mengembang indah itu tidak tahan lama, karena saat Val hendak masuk, pintu terlihat dilebarkan dari dalam, dan tak lama Kafeel muncul dari balik pintu ruang kerja pribadinya itu.


Dan Kak Kafeel tercintanya Val tidak sendirian.


Ada seorang wanita yang usianya mungkin hanya berbeda sedikit dari Kak Kafeel-nya. Tawa menghiasi wajah keduanya yang nampak asik bersenda gurau dan terlihat akrab, membuat udara di sekitar Val menjadi terasa pengap untuknya.


***


Lounge Utama R Corp.


“Hey, Val, kenapa? ...”


Andrea yang melihat Val datang dengan tergesa ke Lounge Utama, dimana dirinya dan Varen baru saja melepas tamu Perusahaan yang akan menjalin kerjasama besar itu, segera bertanya pada adik angkat sekaligus adik iparnya yang wajahnya sukar untuk dilukiskan.


“Ada apa Val?” Varen juga ikut bertanya pada adik kandungnya itu.


Tapi Val tidak menjawab, melainkan ia sedang menggerakkan jempolnya pada ponsel kemudian menempelkannya tak seberapa lama.


***


London, England


The Great Mansion of The Adjieran Smith...


Dimana ada seorang Daddy yang belum lama bangun, dan kini sedang duduk santai dengan secangkir kopi ditangannya bersama satu Daddy yang lain.


Satu Papa, tepatnya.


Daddy R sedang duduk bersama Papa Lucca, menikmati kopi di pagi hari.


‘Beautiful Val Is Calling, Beautiful Val Is Calling’


Ponsel yang berada di atas meja santai tak jauh darinya berbunyi dengan ringtone khas dari suara asli si pemilik nomor.


“Ya Val?...” Ucap Daddy R setelah menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel ke satu telinganya. Kemudian menyesap kopinya setelah menyapa orang yang melakukan panggilan telepon ke ponselnya.


Yang merupakan anak bontot kandungnya, yakni Valera.


“Daddyyy!!!!”


Suara nyaring yang tak indah langsung menyapa telinga Daddy R


“Val Tidak Mau Tahu! Daddy Berangkat Ke Jakarta Saat Ini Juga Karena Daddy Harus Melamar Kak Kafeel Untukku!”


BLUUURRRRFFFF!!!


Ah, Daddy R jadi nyembur kan?.


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2