HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
PLEASE DON’T GO – ( TOLONG JANGAN PERGI ) #1


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kemarin, kami terlalu bahagia. Hingga terlupa, jika kepedihan bisa datang kapan saja. Yang kini telah menghampiri, meremat dada dengan begitu hebatnya.


♥♥♥


Pada satu tempat...


“Lah?!...”


Ada Nathan yang terperangah sambil menunjuk kepada satu orang yang ditemuinya di sebuah Bandara.


“Lo ngapain di sini, Bang?“


Adalah Varen yang ditegur sekaligus ditunjuk Nathan yang terkejut melihat sang Abang tahu-tahu sudah ada di Bandara, dimana Nathan baru saja tiba di sana.


“Nah lo sendiri?!... Ngapain ke sini?!”


Sebagaimana Nathan yang sedikit terkejut yang melihat sang Abang ada sekarang, Varen pun sama.


“Gue mau ke London...”


Varen mengangkat satu alisnya saat mendengar Nathan yang menjawab pertanyaannya.


“Lo sendiri? –“


“Emang...”


Nathan dan Varen berucap di saat yang bersamaan.


“Gue juga mau ke London, Than...”


“Nah loh? Bisa samaan gini? Lo dipanggil Poppa, Papa sama Dad R atau Gappa?”


Varen menjawab pertanyaan Nathan dengan gelengan.


“Ada kerjaan yang mau urus? –“


“Ga ada apa-apa. Gue cuma ingin ke sana aja tiba-tiba –“


“Kok bisa sama juga ya alesan lo sama alesan gue? Kayak ada yang nyuruh gue dateng ke London cepet-cepet –“


****


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta Indonesia...


“Astagfirullah, Astagfirullah –“


“Bela? –“


“Eh, Yun.”


“Ada apa, Bel? Kok mukanya kayak khawatir gitu?“


Ada Ene Bela dan Nenek Yuna yang hanya tinggal berdua di KUJ bersama para asisten rumah tangga dan beberapa penjaga, karena yang lainnya sebagian sedang beraktifitas di luar kediaman mereka tersebut dan sebagian sedang melakukan aktifitas masing – masing di bagian lain KUJ.


“Ga ada apa – apa sih Yun, tapi ini perasaan lagi gelisah aja bawaannya.”


“Kok sama ya, Bel?.. Hati saya dari kemarin rasa ga tenang.”


“Astagfirullah –“


“Allah, mudah – mudahan ga ada apa – apa ya, Bel sama keluarga kita ini? ...“


“Iya, Aamiin ...” tanggap Ene Bela atas ucapan Nenek Yuna.


“Oh iya Bel, kamu mau ikut Michel sama Dewa ke London besok?..”


“Pengen sih.. Khawatir sama si Val.. Tapi belom tanya si papah,”jJawab Ene Bela. “Tadi pas si Via sama Drea mau berangkat ke Bandara, si Papah lagi tidur,” tambahnya. “Lagian kenapa juga pada mendadak amat perginya?”


“Mungkin ada urusan kerjaan yang mendesak kali, Bel –“


“Iya kali ya? –“


“Lagian Abang sama Jo kan kalo lagi mau deket aja bawaannya sama Drea sama Via, maunya ya maunya ...”


“Iye emang. Persis kayak bapaknya pada –“


“Ya udah kita Ikut aja yuk besok sama Dewa dan Michelle ke London?.. Kok aku kayak pengen juga ke sana buru – buru..”


“Ya udeh deh, saya tanya si papah dulu.”


“Tapi lihat kondisinya Herman juga, dia udah bisa diajak bepergian jauh apa belum? –“


“Kalo yang namanya diajak jalan – jalan naek pesawat, apalagi ke luar negeri, biar sakit juga si papah bilangnye sehat aje –“


****


“Perasaan Mamah, Papah bukannya udah ashar tadi? –“


“Iye emang udeh –“


“Trus barusan sholat apaan? ...”


“Perasaan Papah gelisah banget dari semalem. Jadi Papah bawa dua rakaat aja deh, biar tenang ni ati, sama minta jangan sampe ade ape – ape –“

__ADS_1


“Sama Pah, Mamah juga gelisah aje bawaannya dari kemaren. Mau ada ape ye?”


“Wallahualam. Cuma Allah yang tau. Yang penting kite udeh banyakin istigfar ame doa biar semua bae-bae aje.”


“Iye sih. Ta –“


“GA MUNGKIIN!! ...”


****


****


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


“Semua, Val pamit ya?” ucap Val yang bersuara, diantara mereka yang menyantap sarapan dalam kebungkaman, kecuali mulut yang bergerak untuk mengunyah makanan yang sudah beberapa hari belakangan ini kurang membuat selera untuk disantap.


Terkecuali saat malam sebelum pagi ini datang, dimana acara barbekyu kecil-kecilan diadakan karena ide spontan, lalu malam berlalu dengan terasa menyenangkan, sedikit melegakan. Tawa dari seorang anggota keluarga yang sedang hancur lebur hatinya terlihat begitu lepas, hingga menularkan rasa bahagia di dalam hati mereka yang melihatnya.


Hanya saja, pagi ini, wajah yang semalam tertawa itu terlihat sendu lagi.


Dan coba lihat wajah cantiknya yang nampak kuyu, lalu legokan signifikan ada di bawah matanya.


Val seperti tidak tidur berhari-hari.


Adalah komentar yang kurang lebih sama, yang ada di dalam hati para anggota keluarga Val yang melihat dan memperhatikannya kala Val bergabung ke ruang jamuan tempat anggota keluarga The Adjieran Smith yang berada di Mansion Utama London---melakukan sarapan mereka pagi ini.


****


Semua orang yang berada di ruang jamuan telah hampir menyelesaikan sarapan mereka.


Dimana semua orang kemudian memandang ke arah yang sama, ketika satu suara mereka dengar dan sosoknya hendak undur diri.


"Pamit kemana?--"


"Ke kamar," tukas Val pada Poppa yang bertanya menanggapi ucapan Val sebelumnya, sambil Val mengulas senyuman dengan manisnya.


--


“Habiskan dulu makananmu. Setidaknya makanlah sedikit lagi agar kondisi badanmu tidak semakin menurun—“


“Tidak Daddy, Val sungguh sudah kenyang. Val sehat kok, tenang saja, Dad,” tukas Val, dan Dad R menghela nafasnya sedikit berat.


-


“Ya sudah, katakan pada kami jika ada yang kamu butuhkan ya?...”


“Tidak, Momma. Semua sudah cukup. Val tidak akan butuh apa-apa lagi.“


“Tapi nanti siang janji harus makan yang banyak ya, Val?...” celetuk Ann, dan Val hanya mengulas senyuman menanggapinya.


“Aku antar ke kamarmu.” Lalu Mika bersuara.


“Tidak, May. Tidak perlu. Kamu teruskan saja sarapanmu—“


“Iya, janji. Val tidak akan menangis lagi. Val akan benar-benar beristirahat—“


****


Setelah kepergian Val dari ruang jamuan, dan memastikan jika Val telah berjalan menjauh dari ruang jamuan berdasarkan informasi salah seorang maid yang diminta memantau Val saat keluar dari ruang jamuan---dan satu Princessnya The Adjieran Smith itu sudah juga memasuki lift, Poppa angkat bicara.


“Aku merasakan ada yang aneh pada Val...” kata Poppa. “Apa kalian merasakannya juga?—“


“Aku sih ngerasain juga...” timpal Momma. “Tapi aku pikir Val jadi kelihatan moody, karena, yah kalian tau lah...”


Poppa manggut-manggut kecil, begitu juga mereka yang bersama sepasang pasutri yang paling menonjol dalam keluarga mereka itu.


Lalu beberapa pendapat tercetus menimpali sekaligus mengiyakan ucapan Momma.


“Aku rasa benar yang Mom katakan, jika lebih baik kita merencanakan saja liburan dengan seluruh keluarga, demi membuat suasana hati Val menjadi lebih baik.”


Papa Lucca lalu berkomentar.


“Ann dan yang lain, aku rasa tidak keberatan untuk menunda pendidikan mereka sebentar... Toh anak-anak kita bukan hanya sekedar pintar namun cerdas. Jika ingin melanjutkan pun, sudah terbukti jika mereka mampu melewati akselerasi.”


“Aku setuju dengan Papa...” timpal Rery.


“Me too...” Ann juga angkat suara bersama Mika.


“Lagipula mereka bisa home schooling,” Poppa kembali angkat suara.


****


“Bagaimana, R?...” Poppa menanyakan pendapat Dad R, karena meskipun suara terbanyak mengiyakan usulan yang awalnya tercetus dari mulut Gamma, tetap saja selain Mom Ara, pendapat dan persetujuan Dad R sebagai ayah kandung Val akan menjadi keputusan.


“Aku memang khawatirkan Val’s physical, tetapi aku tidak ingin anak-anak yang lain mengorbankan pendidikan mereka juga.” Dad R angkat suara.


“We’re family if you forget, Dad (Kita ini keluarga kalau Dad lupa)” Mika menimpali ucapan Dad R. “Sudah selayaknya sebagai keluarga kita berkorban satu sama lain. Dan aku pribadi tidak menganggap ini sebuah pengorbanan melainkan kewajiban sebagai saudara.”


Dimana ucapan Mika, mendapatkan timpalan ‘setuju’ dari Rery dan Ann. Lalu para orang tua dan tiga tetua menerbitkan senyum di wajah mereka.


****


“Thank you, Baby—“


“Apa sih, Dad?...”


Mika dengan cepat menyergah Dad R yang berterima kasih padanya, serta juga hendak berterima kasih pada Rery dan Ann yang begitu peduli pada Val.


“Tahu nih Dad R. Masa berterima kasih pada anak sendiri yang mempedulikan saudaranya?—“


“Nah, betul itu!...”

__ADS_1


****


Dad R tersenyum hangat kepada tiga anak tersebut, yang sungguh Dad R syukuri kehadiran ketiganya, sama seperti ia mensyukuri anak-anak lain dari para saudara angkatnya itu.


Selayaknya Dad R mensyukuri kehadiran dua anak kandung yang ia punya.


“Baiklah, akan aku pikirkan soal liburan itu.”


Dad R berucap kemudian.


“Nanti kita tanyakan dulu pendapat mereka yang berada di KUJ—“


“Mereka pasti akan setuju juga.”


Rery menukas antusias ucapan Dad R. Dan lagi-lagi dua saudarinya itu, mengaminkan ucapan Rery.


“Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya?... Hari ini aku tidak pergi kuliah. Tapi ada tugas yang aku harus selesaikan untuk besok. Nanti setelahnya aku akan menemani Val.”


Mereka yang dipamitkan oleh Mika kemudian mengangguk dan mengiyakan bersamaan. Lalu tindakan Mika diekori oleh Rery dan Ann. “Kalian akan berangkat ke sekolah?” tanya Oma Anye pada Rery dan Ann.


“Kami yang akan mengikuti kompetisi olahraga tahunan diliburkan hari ini, karena kemarin kami sudah berlatih cukup keras, Oma—“


“Ya sudah kalau begitu.”


Oma Anye merespons lembut Ann yang menjawab pertanyaannya itu.


“Tapi seperti May, aku juga ada tugas sekolah untuk besok. Ingin aku kerjakan dulu baru nanti aku akan menyambangi Val dan menemaninya agar ia tidak menangis lagi.”


“Iya, aku pun ingin meninabobokan Val jika melihat mata pandanya yang parah tadi... Macam Val tidak tidur berhari-hari.” Timpal Ann.


“Nanti aku dan Ann akan berembuk dengan Mika untuk mengajak Val keluar setelah Val beristirahat dengan cukup...”


Kembali para orang tua dan tetua menyahut mengiyakan ucapan Rery dan Ann, yang kemudian melangkah untuk meninggalkan ruang jamuan seperti Mika.


Setelah ketiga pewaris muda selain Val telah keluar dari ruang jamuan, seorang maid menginformasikan jika ada dua orang yang datang ke mansion mereka. Yang mana kedua orang itu adalah kawan lama Poppa dan Dad R.


****


“Selamat pagi, Tuan, Nyonya semua.”


Seseorang datang menyapa, ketika tiga Daddy beserta Gappa sedang duduk di ruang tamu mansion bersama dua tamu mereka yang datang dari Thailand.


“Hai Chiel. Bukankah hari ini kamu libur?”


Adalah Achiel yang datang ke tengah enam pria yang sedang bercengkrama itu.


“Iya, Tuan.”


“Apa sedang ada perlu dengan kami?”


“Mohon maaf, Tuan. Saya ke sini untuk mengantarkan coklat untuk Nona Muda Val. Saya membelinya kemarin, tapi lupa mau kasih semalam. Apa boleh saya memberikannya pada Nona Muda Val, Tuan?”


“Silahkan saja, Chiel.. justru kami sangat menghargai perhatianmu pada Val.. sekalian saja kau ajak dia berjalan-jalan agar perasaannya terus membaik. Lagipula, kau juga kami rasa belum sempat berjalan-jalan mengelilingi London sejak kau di tempatkan di sini. Jadi sekalian saja kau minta Val pergi denganmu.”


“Baik, Tuan.”


“Itupun jika kau tidak ada acara di hari liburmu ini.”


“Sama sekali tidak, Tuan.”


“Ya sudah, sambangi saja Val ke kamarnya. Dia sudah cukup lama masuk, dan aku yakin dia sedang menangis lagi di sana.”


“Baik, Tuan. Saya permisi kalau begitu.”


*


“Maaf Tuan..” Hanya selang beberapa menit, lalu Achiel kembali ke hadapan enam pria yang sedang berada di ruang tamu.


“Kenapa, Chiel? Val tidak meresponmu?”


“Bukan itu, Tuan..”


“Lalu?..” tanggap Dad R.


“Saat saya baru sampai di kamar Tuan Rery, ada air menggenang. Mungkin ada pipa yang bocor?---“


“VAALLL!!!...”


Namun sebelum Achiel menyelesaikan kalimatnya, sebuah teriakan menggelegar datang dari arah pekarangan belakang mansion bersamaan dengan sosok yang berteriak lari dengan nampak kencangnya di ikuti seseorang di belakangnya.


Yang mana tentu saja membuat seisi mansion terkejut bukan main. “HEY ANN!”


Poppa juga ikutan berteriak, karena dia yang berteriak lebih dulu lari dengan kencangnya menuju lantai atas.


“RERY?!”


Begitu juga orang yang di belakang Ann, yang juga lari sama kencangnya seperti Ann dan tidak juga menggubris Dad R yang berteriak memanggil namanya.


Tak digubris, selain sangat terkejut dengan sikap dua anak mereka itu, tiga Dads berikut dua tamunya dan Achiel segera berlari dengan sama kencangnya seperti Rery dan Ann menuju lantai atas.


Yang mana semua orang nampak terperangah ketika lantai tiga dirembesi air yang sudah menggenang. Dan semakin menggenang, ketika para Dads telah sampai ke satu kamar yang telah terbuka lebar, dengan suara teriakan Ann dan Rery yang menggedor kencang satu pintu di dalam kamar yang paling banyak tergenang air walau hanya sebatas atas telapak kaki saja.


Yang tak berpikir panjang, Poppa melesat dengan cepatnya untuk mendobrak pintu yang adalah pintu kamar mandi di dalam kamar Val---dimana pintu tersebut nampaknya di kunci dari dalam, yang kemudian terbuka setelah ditendang Poppa dengan kuatnya.


Lalu di sana, di dalam bathtub di kamar mandi Val, sang pemilik kamar berada di dalam bathtub yang sudah penuh dengan air bahkan luber hingga keluar karena krannya yang terus mengucur.


Sementara orang yang berada di dalam bathtub telah berada di dasar bathtub dengan mata yang tertutup rapat.


Wajahnya sudah seputih kapas.


Yang setelah diangkat dan dipanggil berkali-kali serta diberikan nafas buatan tetap juga bergeming dengan mata yang tertutup sangat rapat, tanpa detakan di jantung maupun di nadi.

__ADS_1


*


To be continue.....


__ADS_2