
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ....
“Ada apa, Mi?...”
Ada Mika yang tersambung pada sebuah panggilan video dengan Arya di ponselnya.
“Ga ada apa - apa...” jawab Mika, setelah ia teringat ucapan Dad R saat di London, di awal waktu Val mendapatkan ‘luka’ dari Kafeel.
“Tapi wajah lo sembab banget, Mi?---“
“Gue habis nonton film india aja ini. Terbawa suasana aja---“
“Tapi bukannya lo benci film india, Mi?...”
“Yaa emaang...”
“Tapi kok nonton?---“
“Yaa, karena semua pada berkumpul saat... Mami memutar itu film, jadi mau ga mau gue ikutan nonton juga---“
“Huum...” Arya manggut-manggut saja. “Kirain sembab karena nangisin gue saking lo kangen sama gue, Mi. Eh taunya malah nangisin oppa-oppa,” guyon Arya kemudian, dan Mika terkekeh kecil. “Kangen ih,” kata Arya. “Lo kangen ga sama gue?”
Mika mengangguk. “Iya, gue juga kangen sama lo, Ar.”
“Udah dulu kalo gitu ya?”
“Iya, Ar,” tanggap Mika pada Arya yang hendak menghentikan pembicaraan mereka dalam panggilan video tersebut.
“Kalau memang memungkinkan, nanti gue hubungi lo lagi ya?...” ucap Arya. “Sekarang mau hubungi ortu dulu...” ucapnya lagi.
“Titip salam untuk papa Rico dan mama Cello... mereka masih di New Zealand?---“
“Iya, masih.”
“Ya udah kalau begitu. Sampaikan salam gue buat keduanya. Belum sempat lagi hubungi mereka.”
Arya mengangguk setelah mendengar penuturan Mika itu. “Iya ga apa-apa. Nanti gue sampein salam lo sama mereka, Mi,” ucap Arya. “Papa sama mama juga lagi sibuk-sibuknya ngurus usaha yang ada di Mou.”
“Oh iya, ya.”
“Nanti kita atur waktu ke sana ya?”
“Iya, Ar.”
Mika menyahut dengan tersenyum.
Arya juga ikut tersenyum.
“Ya udah kalo gitu, gue tutup ya? Titip salam sama semua yang lagi ada di kediaman.”
Arya memohon ijin.
“Iya, Ar---“
“Baik-baik lo ya, sampe gue balik?”
Mika mengangguk menanggapi ucapan Arya. “Lo juga, Ar. Jaga kesehatan---“
“Iya,” tukas Arya. “Lo juga sama, jaga kesehatan.”
Mika mengangguk lagi, seraya tersenyum simpul.
“Dan yang paling penting, jaga hati lo buat gue.”
♠
“Bagaimana kabar Kak Arya, May?” Val langsung mengajukan pertanyaan pada Mika setelah satu saudarinya itu kembali mendekatinya selepas sebentar menjauhkan diri dari Val ketika Mika bervideo call dengan Arya tadi.
“Baik, Val,” jawab Mika. “Dia titip salam untuk kalian semua,” ucapnya kemudian.
♠
“May,”
“Iya, Val?” Mika merespon cepat Val yang memanggil pelan dirinya.
“Apa... kamu menceritakan pada Kak Arya apa yang sudah terjadi padaku?” Val bertanya pada Mika dengan sedikit ragu-ragu.
“Tidak Val---“
“Syukurlah...”
Val berkesah lega.
Lalu Val mengulas senyuman.
Namun ia menunduk kemudian.
“Jangan cerita dulu pada Kak Arya ya, May?”
“Iya, Val---“
“Karena aku rasanya malu...”
Mika menarik sudut bibirnya sesaat, lalu tangannya terulur untuk mengusap lembut punggung Val.
“Iya, kami mengerti posisi kamu, Val,” ucap Mika kemudian.
“Meskipun aku tahu jika Kak Arya tidak akan meledekku karena hal ini, tapi tetap saja aku merasa malu. Selain merasakan sakit yang teramat di dalam hatiku...”
♠
“Kami paham, Val. Dad R juga sudah meminta itu---untuk menyimpan semua yang terjadi berkaitan dengan kamu hanya diantara kita saja, keluarga inti.” Mika menerangkan. Lalu Val menarik lagi sudut bibirnya.
“Dad R dan kalian, pasti lebih malu daripada aku. Karena bagaimanapun, gagalnya pernikahan aku dan Kak Kafeel, adalah sebuah aib...”
“Tidak, Val...” tukas Mika. “Kami tidak sampai memikirkan jika apa yang terjadi padamu adalah sebuah aib. Justru menurut pandanganku, Dad R meminta kami semua untuk merahasiakan ini dulu---adalah untuk menjaga perasaan kamu.”
♠
“Kami menyayangi kamu Val. sangat---“
“Iya, May---“
“Pokoknya, bagaimana-bagaimananya, kami menunggu keputusan dari kamu,” tukas Mika. “Yang penting, jangan kamu terlalu lama larut dalam kesedihan ya Val? karena kami akan ikut merasa sedih juga jika melihat kamu menangis terus-terusan.”
Val mengangguk dan tersenyum tipis setelah mendengar penuturan tulus Mika.
Mika merengkuh pundak Val, sambil menyalurkan dukungannya pada salah satu saudarinya itu yang memilih untuk duduk di kursi kolam renang bersamanya.
Sementara para saudara-saudari mereka yang lain sedang bermain voli air di dalam kolam renang dibawah rintik hujan yang tidak deras. Yang kemudian satu per satu naik ke permukaan, ketika melihat Mika merangkul Val yang nampak tertunduk sendu dalam pandangan mereka.
“Kamu punya kami, Val. Yang sama merasakan luka yang kamu rasa...” tutur Mika sambil mengeratkan rengkuhannya pada Val yang matanya mulai berkaca-kaca.
♠
Apa yang menimpa Val dalam kisah cintanya, memang keluarganya tidak pernah sangka akan terjadi.
Namun begitu, tetap saja ada hikmah dari setiap hal yang terjadi. Dan dalam hal ini, adalah hubungan batin antar saudara.
Mereka yang sudah dekat, akan kian menambah kuat kedekatan, pun ikatan.
Karena tiap-tiap para saudara dan saudari Val itu, akan bahu-membahu untuk menghibur Val sampai luka dalam hati Val benar-benar sembuh.
__ADS_1
Membuat hati Val tak lagi rapuh.
“Aku ingin makan sushi---“
“Aku juga mau makan sushi---“
“Yeu!” respons Aro pada Ares yang menyambar setelah Val mengatakan keinginannya. “Ikut-ikutan aja lo, bocil.”
Yang mana ucapan Aro itu disertai toyoran di kepala Ares. Lalu mendapat respons dari Val. “Jangan suka seperti itu, Aro.”
“Ya lagian ni bocil, latah.”
“Ye, emang aku juga pengen makan sushi dari kemaren.”
“Maaf ya Ares, gara-gara aku jadi kamu batal bisa menikmati sushi---“
“Eh engga, engga Kak Val, bukan itu maksud Ares---“
“Iya bukan gitu maksudnya Val,” tukas Aro. “Dari kemaren dia emang ngomong mau makan sushi, tapi abis dibuatin Daddy Dewa malah ogah-ogahan makannya.”
“Orang aku maunya makan sushi di mal, tempat kita biasa makan,” sambar Ares. “Sekalian aku mau pergi ke toko action figurenya Uncle Arman,” sambungnya.
“Ya sudah ayo, kita ke mall saja sekarang?” Val langsung mencetuskan ide setelah mendengar keinginan Ares yang ingin pergi memakan jenis makanan dari Negeri Sakura itu di restoran langganan mereka.
Dimana cetusan ide Val itu tentu saja langsung diiyakan para saudara dan saudarinya, kecuali para kakak yang tidak ikut bergabung bersama mereka di kolam renang.
♠
“Tumben cepat sekali kalian bermain di kolam renangnya?...”
Ada Mom Ichel dan empat Moms lain yang sedang duduk-duduk di teras halaman belakang kediaman mereka yang berada di Jakarta itu.
“Kita mau ke Emol!---“
“Hujan-hujan begini?---“
“Ini cuma gerimis mengandung Mom Ayaankk---“
“Lagipula memang kenapa kalau hujan-hujan kami pergi ke Mall?”
Mika menyambar untuk bicara setelah Isha.
“Ya biasanya kalian sukanya mager kalau sedang hujan begini?...”
“Terkhusus sekarang, engga...”
“Val ikut?” tanya Mom Ichel.
“Ikut, Mom---“
♠
Hujan,
Sesuatu yang biasanya Val sukai.
Karena di bawah kucurannya, Val sering menari-nari.
Tertawa, menyipak genangan di rerumputan dengan hati yang dirasa begitu senang.
Hujan,
Pernah begitu menyenangkan untuk Val.
Namun sekarang,
Hujan terasa menyesakkan.
Karena hujan juga berarti kenangan,
Yang berhubungan dengan dia gerangan si pembuat luka menyakitkan di hati Val.
Hujan yang genangannya selalu Val cipakkan dengan senang,
Hatinya berserakan.
Menciptakan pedih yang sukar untuk dilukiskan.
♠
‘Sekarang, hati Val rasa dikoyak setiap kali melihat wajah kakak...’ Val berbisik di dalam hatinya. Sambil ia memandangi satu foto dalam figura yang masih utuh bentuknya. ‘Tapi Val tak rela juga untuk menyingkirkan gambar diri kakak ini.’ bisik Val lagi dalam hatinya. ‘Ya Tu-haann... kenapa takdir seperti ini yang Engkau berikan untukku?---‘
Tercekat,
Val tercekat entah untuk yang keberapa kalinya.
“Kenapa Kak Kafeel tidak bisa menjaga diri Kakak?... kenapa, kak?... kenapa semudah itu, kakak tergoda?...“
Lalu luruh dengan isakan yang tertahan dengan foto Kafeel dalam figura di dekapan Val, yang merasakan lagi rambatan luka di hatinya.
Kecewa dan sedih yang bertubi Val rasa kiranya.
Karena seyogyanya, tidak akan ada kekecewaan yang mendalam dimana tidak ada cinta yang juga mendalam.
Entah siapa yang harus Val salahkan,
Dirinya yang terlalu larut dalam perasaan, ataukah Tuhan yang memberinya takdir menyakitkan?
“Val, ingin kembali ke London.”
Kalimat yang Val ucapkan, setelah ia keluar dari kamarnya selepas berganti pakaian---kemudian menghampiri para orang tua yang sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil menikmati minuman hangat berikut camilan.
Nampak santai, namun jika diperhatikan sekilas, wajah para orang tua itu---The Dads terutama.
Para ayah yang masih nampak gagah di usia mereka sekarang itu, gurat wajahnya terlukis kasat mata jika kiranya mereka menyimpan sebuah beban.
Bukan perihal pencitraan yang sedang mereka pikirkan, namun beban seorang ayah atas seorang putri yang hatinya telah dipatahkan oleh sang lelaki pujaan.
Antara pasrah dan rasa ketidakrelaan, namun yah, hidup harus terus berjalan.
“Kapan?...”
Jadi atas dasar hidup yang harus terus berjalan, atas nama ingin membuat hati seorang putri yang patah itu, segala permintaan yang bersangkutan akan dikabulkan.
“Sekarang?...”
“Akan kami langsung persiapkan.”
♠
“Tidak Dad, tidak sekarang---“
“Kami mau berjalan-jalan dulu.”
“Ya sudah. Katakan saja kapan kau mau bertolak ke London, maka kami akan segera mempersiapkannya.”
“Jika... besok, boleh?...”
“Why not?---“
“Thanks, Dad.”
♠
Bagi mereka yang ditinggal saat sedang cinta-cintanya, hati akan menjadi dirundung dilema.
Kenapa?
Karena cinta yang melekat begitu kuatnya tidak mungkin hilang begitu saja.
Jangankan bisa hilang dalam sehari dua hari.
Bahkan hati yang luka karena ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’, ada yang masih abadi menyimpan cinta untuk si pembuat luka hingga menahun.
__ADS_1
Bahkan juga, ada yang tidak hilang-hilang cinta untuk si pembuat luka, bagi para korban ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.’
Lalu ada yang mengikrarkan benci pada si pembuat luka, dan bersumpah segala rupa.
Namun terkadang tetap saja, meski benci telah diikrarkan atau bahkan diumumkan, sesekali akan terasa cinta yang pernah ada---yang pernah melukai itu.
Yang mana ujung-ujungnya para korban cinta ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’ itu bilang, “Kubenci untuk mencintaimu...” Bukan begitu?
Namun bagaimana bagi mereka yang memiliki cinta nan begitu dalamnya?
Kemudian ditinggal begitu saja, dan dengan cepatnya cinta yang meninggalkannya itu berlabuh ke pelabuhan cinta yang lainnya.
Fix, sakitnya pasti tidak terkira.
Ingin segera melupa, tapi tidak mungkin bisa.
Karena melupakan itu butuh waktu, yang entah berapa lama.
Ingin membenci, namun rindu tak dapat ditampik, meski asa tidak lagi bisa dipetik.
Tak mampu, judulnya.
Melupakan dia yang pernah bertahta dengan indahnya di sebuah singgasana yang disebut Hati.
Apalagi membenci.
Naif, jatuhnya.
Bodoh, pasti sebutannya--- yang dikatakan oleh mereka yang belum pernah merasakannya.
Yang pasti bilang, “Kayak ga ada cowok lain aja.”
Atau ada yang merasa miris bilang, “Antara kamu yang terlalu setia, atau memang kamu ingin bersahabat dengan luka pemberiannya?”
Entahlah, menanggapi pertanyaan itu, kiranya---hati Val yang berkesah berat.
Mungkin, memang Val yang terlalu setia pada cintanya. Meski cinta itu telah memberikan luka yang begitu dalamnya.
Atau karena terlalu tulus hati Val mencinta pada Kafeel Adiwangsa, hingga meski sakit---meski perihnya tak terperi, Val malah bersahabat dengan luka pemberian Kafeel di hatinya.
Apapun itu, sedalam dan sesakit apapun luka itu---luka atas pengkhianatan cinta Kafeel Adiwangsa pada Valera.
Namun sampai dengan detik ini tak bisa Val menampik, jika rindu itu masih ada.
Rindu Val untuk Kak Kafeelnya masih ada di tempatnya.
Jadi walau sakit dalam hati Val karena Kafeel Adiwangsa masih menjalari hatinya,
“Sebelum ke PP, kita ke... Jagakarsa dulu, ya?...” gugu Val, sambil memandang bergantian pada tiga orang yang berada satu mobil dengannya.
“Untuk apa, Val?...”
Rery yang paham maksud kemana Val meminta diantarkan pada satu daerah itu, lantas bertanya setelah ia menghela sedikit berat nafasnya.
“Hanya... Ingin memastikan sekali lagi saja, Rery... jika aku benar-benar tidak sedang bermimpi...“
“Kamu hanya akan merasakan lagi luka di hati kamu, Val. Tidak usah, ya?...” bujuk Mika. “Maaf, tapi semuanya itu, adalah kenyataan, Val.” Mika terpaksa mengatakan hal yang pahit pada Val.
“Iya, May... tidak mengapa. Jika memang itu kenyataan.”
Val menanggapi ucapan Mika. Menarik paksa sudut bibirnya kemudian.
“Aku ingin lebih memastikan... jika... jika... Kak Kafeel... memang pria brengsek.”
Val terkekeh.
Namun kekehannya getir terdengar.
“Agar... aku... dapat membencinya---“
“Val---“
“Sebentar, sebentaarr, saja... aku... ingin melihatnya... kan aku... akan bertolak ke London besok... jadi aku... meski... meskipun Kak Kafeel sudah melukai hatiku... aku... aku masih... merindukan,nyaa...”
Yang kemudian tidak dapat Val tahan air matanya untuk kembali berjatuhan, lalu tersedu dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dimana Mika kembali lagi meneteskan air mata bersama Ann, sementara Rery berkesah berat.
Dua orang di kursi penumpang depan yang keduanya ada pengawal pribadi, hanya terdiam membisu melemparkan pandangan ke lain arah.
Karena sedikit banyak, mereka sudah mengabdi cukup lama di keluarga The Adjieran Smith.
Dan melihat satu nona muda mereka nampak terluka dan bersusah hati begitu, kiranya hati mereka pun ikut mencelos adanya.
“Aku yang bodoh dan naif ini masih merindukannyaa...” isak Val. “Jadi... boleh, ya?... sebentaar saja... setelah sampai di London nanti... aku... kan, tidak akan lagi datang berkunjung ke rumah Kak Kafeel dan bertemu Bunda... juga Lena... aku... ingin berpamitan pada mereka...”
Val terisak, lalu mengulas senyuman disela isakannya.
“Terlepas dari, apa yang Kak Kafeel lakukan padaku... Bunda dan Lena sudah baik padaku selama ini... juga menyayangiku... tapi setelah ini... aku... tidak mungkin akan menemui mereka lagi...”
Val berkata lagi.
“Kak Kafeel dan... dan istri... nya... pasti tinggal disana, kan?... selain hatiku tidak mungkin ku-at jika bertemu dengan mereka sering-sering, aku... juga tidak mau kok, menjadi pelakor...”
“Val----“
“Tapi sekarang ini... aku... aku sedang merindukannya... merindukan Kak Kafeel... aku ingin bertemu... walau sakit aku ingin bertemu... terserah kalian mau mengatakan aku ini bodoh dan naif...”
“Kami ga pernah menilai kamu seperti itu Val----“
“Jadi boleh ya?... sebentaar saja kita kesana... mungkin aku bisa menampar Kak Kafeel, sebagai tanda perpisahan? Sambil mengumpatinya dengan isi kebun binatang?...” Val berkelakar.
Namun percayalah, bagi mereka yang sedang berada di satu mobil dengan Val, kelakar Val itu sungguhlah membuat miris hati mereka.
“Boleh ya?... aku ingin melihat si penipu hatiku itu... untuk yang terakhir kalinya...” pinta Val. “Kan besok aku sudah bertolak ke London?---“
“Ya sudah. Kita ke sana,” tukas Rery yang mengiyakan permintaan Val. “Tapi jika aku emosi padanya, kamu jangan menghalangiku untuk memukulnya ya, Val?”
“Iya, Rery...”
Val mengulas senyuman.
“Terima kasih, ya?---“
“Anything for my sister...”
Rery balas tersenyum pada Val.
♠
“Ternyata kamu benar ya, May... ini kenyataan...”
Val berujar, saat mobil yang ditumpanginya itu telah sampai di seberang sebuah rumah yang kiranya begitu familiar untuk Val dan keluarganya.
Dimana ada dua orang yang berdiri, nampak sedang berinteraksi di bagian dalam setelah pagar rumah yang sedang Val tatap itu. “Kak Kafeel... nampak nyaman ya, bersamanya?...”
Val berkomentar lagi.
Dengan air matanya yang mulai lagi terproduksi, lalu meracau sembari terkekeh memaksakan. Seolah sedang mentertawakan.
Yang mana memang, Val sedang mentertawakan dirinya sendiri dalam kegetiran.
“Ya iyalah... pasti Kak Kafeel merasa nyaman, dengan wanita yang sedang mengandung anaknya... yang mana... seharusnya itu adalah tempatkuu... aku... yang seharusnya, berada disanaa...”
Val meluruh, dan langsung Mika rengkuh.
Sementara Rery dan Ann serta dua orang pengawal pribadi mereka, kembali lagi berkesah berat.
Pilu.
Dan ya, saat ini... apalagi yang dapat dirasa selain itu?
♠♠
To be continue...
__ADS_1