
( Perjalanan Untuk Mengingat )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Val butuh ruang. Begitu juga kalian, untuk membuatnya menerima dirinya sekarang. Bahkan membuat ingatannya kembali. Dan rasanya, untuk hal itu.. sebaiknya aku menyingkir saja dari sini terlebih dahulu. Jadi fokus kalian tidak akan terbagi antara membuat Val menerima kondisinya bahkan sampai ia lepas dari amnesianya sekarang, dengan kalian yang ingin mengatakan siapa diriku padanya..”
Sebagian ucapan Kafeel saat dia telah memutuskan untuk menjaga jarak untuk sementara waktu dari Val, karena Kafeel ingin Val bisa dapat fokus mengingat kondisi dirinya terlebih dahulu saat ini.
Atau setidaknya Val dapat menerima kondisi dirinya yang sudah delapan belas tahun itu.
Jika semuanya berjalan baik kan --- Val yang tenang nanti, ada kemungkinan dapat cepat pulih dari amnesianya saat ini.
Dan seiring dengan hal tersebut, dirinya akan Val ingat dengan jelas. Pikir Kafeel seperti itu. Walau entah akan makan waktu berapa lama, yang jelas Kafeel tidak akan bosan dan lelah menunggu hari itu datang.
Hari dimana Val mengingatnya, lalu berlari ke arahnya.
Insya Allah, dapat merajut kembali cintanya dengan Val seperti sebelumnya.
Macam Mika dan Arya yang sudah balikan itu.
Begitu pengharapan Kafeel, setelah keputusan untuk menjaga jarak lebih lagi dari Val ia bulatkan.
Kemudian ia laksanakan.
Dan Kafeel akan senantiasa menunggu kedatangan Val ke hadapannya lagi, bila Val telah mengingatnya nanti.
♥
Lalu bicara soal menunggu, ada Val yang juga sedang menunggu.
Namun apa yang Val tunggu, berbeda dengan Kafeel.
Jika Kafeel kembali ke Jakarta dan menunggu kedatangan Val untuk suatu hari akan mengingat lalu berlari menyambanginya untuk memeluknya di sana, yang Val tunggu adalah kapan dia tidak lagi ditempatkan di dalam sebuah kamar yang mirip kamar ICU itu dalam pendapat Val.
Yang mana hal itu Val cetuskan kemudian, lalu akhirnya keputusan yang berdasarkan kondisi Val yang sudah lebih fit fisiknya diambil dan dilaksanakan --- yakni Val dipindahkan ke kamar biasa.
Namun tidak diberikan kamar sendiri, karena adanya kekhawatiran jika Val sendirian begitu saja --- atas nama ada trauma dari tragedi yang pernah begitu membuat syok selain menyayat hati pernah terjadi terkait Val, masih menyisa di hati para keluarga Val jika gadis itu diberikan kamar sendiri.
Jadi Val, pada akhirnya berbagi kamar dengan Mika selama ia tinggal di kastil pada Little Star Island dari sejak Val dipindahkan dari ruang rawatnya.
Dimana hal itu juga atas cetusan Mika yang meminta Val agar berbagi kamar dengannya saja. Walau Isha dan Ann sempat juga mengajukan kamar mereka untuk dibagi bersama Val.
Namun atas pertimbangan Mika yang dapat lebih tegas kepada Val daripada dua saudarinya yang mengajukan kamar mereka juga itu, makanya Val diputuskan untuk berbagi kamar dengan Mika yang akan sangat mampu memaksa Val istirahat bila Gadis itu sedang terlalu asyik melakukan sesuatu.
Termasuk Mika memang sangat detail dalam memperhatikan hal – hal kecil disekelilingnya yang jika tidak selaras dengan pendapat dan matanya, Mika akan membetulkannya.
Begitu kira – kira, karena sedari remaja memang Mika perfeksionis orangnya. Macam emak kandungnya. Mom Ichel.
♥
Selama satu bulan, Val dan Mika berbagi kamar di kastil pada Little Star Island.
Dan selama itu, Val sibuk mendengarkan cerita tentang dirinya. Apa saja kebiasaan dirinya yang 18 tahun itu, termasuk kegiatannya.
Val tidak lagi pernah bertanya apakah dia memiliki kekasih atau tidak sebenarnya.
Yang mana hal itu memang tidak terpikirkan oleh Val yang yakin jika dirinya masih single.
Karena Val tidak merasa mengingat ada seorang pria yang berkesan di hatinya, pun tak ada ingatan memori – memori tentang seandainya dia memiliki seorang kekasih.
Jadi informasi tentang Kafeel, masih disimpan dulu oleh keluarga Val --- selain terkadang jika --- katakanlah otak Val kepenuhan informasi dari cerita – cerita tentang dirinya yang terkadang tumpang tindih itu, Val sesekali mengeluh kepalanya sakit karena mencoba mengingat namun sulit.
Sampai sebuah ide tercetus dari salah seorang di dalam The Adjieran Smith Family, agar Val membuat jurnal pribadi untuk mencatat segala informasi yang Val kiranya anggap penting tentang dirinya yang delapan belas tahun itu.
Dan dari jurnal itu, Val yang mengalami efek dari tindakan penghapusan ingatannya --- hingga jadi memiliki ingatan jangka pendek saja, Val dapat mengingat kembali hal – hal yang ia lupakan. Selain membantunya menjalani hari – harinya di usia 18 tahun.
♥
Little Star Island, Isola, Italy,
__ADS_1
“Apakah kita sekarang berdomisili di sini dan tidak di London atau di Jakarta lagi?” tanya Val pada keluarganya, di kala Val sedang duduk – duduk santai bersama mereka.
“Kenapa memangnya?” Papi John yang duluan menanggapi pertanyaan Val yang kemudian menggeleng pelan dan mengendikkan sedikit bahunya, sebelum ia menjawab tanggapan Papi John yang balik bertanya padanya.
“Tidak apa – apa, hanya bertanya saja—“
“Kamu kangen sama London dan Jakarta?..” tukas Mami Prita.
“Iya, rasanya seperti itu—“
♥
“Jika memang kondisimu sudah memungkinkan untuk berada dalam perjalanan, minggu ini kita akan kembali ke London,” cetus Dad R setelah Val menanggapi pertanyaan Mami Prita.
“Benarkah?!..”
Val menyahut antusias.
“Iya—“
“Aaaaa senangnya!!” Val yang kegirangan.
Dimana semua keluarga Val yang sedang bersama Val itu mendengus geli dan mengulum senyum mereka saja.
Tak sangka rasanya dapat melihat wajah ceria Val lagi setelah sebelumnya ia sempat dinyatakan tiada, lalu koma berbulan – bulan lamanya.
Dengan memberikan momok ketakutan di dalam hati masing – masing keluarga Val kala itu, jika Val tidak mampu bertahan --- dan komanya Val berlanjut ke tidur dalam keabadian.
Namun momok menakutkan akan kehilangan Val untuk selamanya itu telah menghilang dari hati keluarga Val, karena Val yang membuka mata, lalu sudah kembali melihat lagi keceriaan Val seperti semula.
Yah, walau Val melupakan sebagian tentang dirinya saat ini.
♥
“Kalau begitu Val ingin berkuliah..”
Val kemudian langsung nyeletuk selepas ia memekik kegirangan.
“Memang kamu kan sudah terdaftar sebagai mahasiswi dan sudah sempat berkuliah juga sebelum kamu koma, Val –“
“Iya maksud aku itu, aku ingin pergi selayaknya seorang mahasiswi dengan pergi berkuliah ke kampus. Bukan kuliah secara online di rumah –“
“Untuk sementara waktu, lebih baik kamu mengikuti mata kuliah dari rumah saja, Val.. Maaf nih Dad Boo – Boo bukannya merendahkan Val.. tapi Val kan tahu kondisi otak Val yang mengalami short term memory ( ingatan jangka pendek ) itu. Takutnya nanti, Val kesulitan sendiri mengikuti mata kuliah di kampus –“
“Kan sekarang Val memiliki jurnal, Daddy –“
“Walau begitu Val –“
“Dan lagi berkuliah kan hampir sama dengan sekolah? Apapun yang dosen Val nanti katakan dan beritahu akan Val catat semua. Dan setiap mata kuliah yang Val ambil, akan Val perhatikan jadwalnya. Lalu setiap mata kuliah yang terjadwal esok harinya, Val akan pelajari lagi di hari sebelumnya dari catatan Val itu nanti. Simple bukan? Lagipula, Val ini cerdas Daddy. Val ingat jika Val yang 14 tahun itu adalah murid yang pintar. Melly dan Felix saja kalah pintar dariku. Iya, bukan? –“
“Iya, iya.. Val kami adalah anak yang cerdas selain cantik bukan main..”
“Pastinyaa!!..”
Val langsung berseru ceria menanggapi ucapan Daddy Dewa yang mengiyakan ucapan Val lalu melontarkan pujian padanya.
Dimana kemudian, dengusan dan senyuman geli berikut kekehan kecil terdengar dari para keluarga Val yang sedang bersama gadis itu.
♥
Beberapa hari berselang,
London, England,
“Aaaa Londoon I miss you so much!” seru Val dengan ceria ketika ia sudah berada di luar jet pribadi keluarganya yang sudah mendarat di sebuah bandara pribadi milik mereka, yang berada agak jauh dari mansion utama mereka yang bertempat di London.
Namun tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai mansion dari bandara pribadinya The Adjieran Smith Family itu.
Perjalanan dari Italia menuju London yang hanya menempuh waktu kurang lebih 2 jam dengan transportasi udara itu tidak terasa melelahkan, jadi The Adjieran Smith Family yang kembali ke salah satu kota tempat mereka berdomisili itu, tidak menampakkan gurat keletihan di wajah mereka.
Malah rasa syukur yang terlihat, karena mereka dapat kembali ke kota itu dengan tanpa terkecuali seperti saat Val masih koma, yang mana beberapa dari mereka akan bergantian datang ke London ataupun ke Jakarta untuk mengurus ragam hal.
Lalu sisanya, akan standby di Little Star Island untuk menemani dan menjaga Val.
__ADS_1
Agak melelahkan, walau dilakukan tanpa ada sedikitpun keluhan.
Namun apapun itu, lelah bahkan sedih dan duka telah terkikis sudah melihat keceriaan Val saat ini.
“Rasanya sudah berabad – abad Val tidak datang ke sini!..” Yang orangnya nampak heboh kegirangan sendiri.
Dimana lagi – lagi, sikap Val itu menjadi alasan senyuman lebar terbit di wajah para anggota keluarganya tersebut.
♥
“Ka, hari ini kami sudah tiba di London.”
Adalah Varen yang sedang berbicara di telepon, saat ia bersama keluarganya yang lain termasuk Val, sedang berada di dalam sebuah lounge tunggu bandara pribadi mereka.
Lalu akan bergegas memasuki beberapa mobil yang sudah siap sedia untuk mengantar Varen dan seluruh keluarganya itu ke mansion utama mereka yang berada di London.
“Iya, Val sudah sangat membaik. Dan Celine berikut Uncle Mario juga mengatakan jika getaran di pesawat tidak membahayakan untuknya.. Lagipula perjalanan dari Italy ke sini hanya sebentar saja.”
Varen masih bicara di telepon, sambil ia sejenak berdiri di satu sudut lounge. Sementara beberapa anggota keluarganya sudah ada yang berjalan menuju lobi untuk mencapai mobil, dan sebagian sedang menikmati kudapan yang disediakan di lounge tersebut.
Para adik dan juga dua bocil yang merupakan anak lelakinya dan anak perempuan Nathan yang tidak bisa melihat yang namanya kue – kue kecil dengan bentuk yang menggiurkan, walau di dalam jet pribadi mereka juga disediakan kudapan yang kurang lebih sama dengan yang tersedia di lounge tersebut saat ini.
“Gue akan di sini dulu selama beberapa hari. Baru nanti kembali ke Jakarta bersama mereka yang berdomisili di sana. Tapi Val mungkin belum dapat diajak ke Jakarta. Karena selain dia merengek meminta untuk pergi berkuliah di kampus, perjalanan London – Jakarta cukup menyita waktu.“
♥
“Lo ada rencana mau datang ke sini dalam waktu dekat? –“
“.........”
“Ga kangen sama Val memang lo?”
Lalu Varen terdengar terkekeh kecil selepas ia bertanya, dimana ia telah mendengar jawaban dari pertanyaan isengnya dari orang yang sedang bicara dengannya pada sambungan telepon itu.
“Hem, oke lah kalau begitu..”
Varen berujar lagi.
“Kalau dalam bulan – bulan ini ada rencana datang ke sini, kabari aja. Ada yang mau gue bahas juga sama lo –“
“.........”
“Ada lah. Nanti aja kalo kita ketemu muka gue bahas hal itu dengan lo –“
“.........”
“Ya sudah, gue hanya mau mengabari lo soal kami yang sudah kembali ke London hari ini.”
“.........”
“You welcome –“
“.........”
Lalu Varen terdengar berdecih geli, selepas mendengar ucapan dari seberang ponselnya barusan.
“Val adik gue kalo lo lupa. Ga perlu lo ingatkan gue untuk menjaga dia,” ucap Varen lagi. “Yah, walaupun gue dan lainnya sempat lalai menjaga Val sampai tragedi itu terjadi. Ga usah baper lo. Males gue denger ucapan lo yang melow – melow itu.”
♥
“Lo mau titip salam untuk Val?”
Varen masih lanjut bicara, selepas ia mendengus geli sebelumnya.
“Atau mau bicara sekalian? –“
“Siapa yang ingin titip salam untukku serta berbicara denganku, Abang? –“
“Eh Val –“
♥♥♥
To be continue...
__ADS_1