
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa-Barat, Indonesia....
“Ingat selalu jika kita saling menyayangi ya Ann?. Karena seandainya kita berseteru dengan hebatnya, rasa sayang itu yang akan membuat kita saling merasa, jika kita saling membutuhkan serta saling melengkapi satu sama lain hingga benci yang mungkin ada, dapat terkikis dengan mudahnya ...”
Ini Rery yang bicara, kala ia menyambangi Ann yang tidak turun makan malam, di kamar yang disebut sebagai kamar The Gals-di rumah Keluarga Cemara. Dimana Rery merasa, jika ucapannya sore tadi ada yang menyinggung perasaan Ann. Yang mana dugaan Rery itu ditampik oleh Ann, karena sama sekali Ann tidak merasa tersinggung ataupun marah pada Rery.
“Ingat itu baik-baik ya, Ann?-“
“Iya, Re-An. Pasti.”
Ann menanggapi permintaan Rery dengan sungguh-sungguh mengiyakan.
♥♥
Rery dan Ann sudah saling melempar senyum sekarang. Karena pada dasarnya memang Ann tidak sedang marah atau merajuk pada Rery. Ann hanya sedang galau. Itu saja.
Galau yang hadir karena kekhawatirannya yang tidak bersama-sama Rery, karena Ann merasa sangat mencintai Rery, terlepas betapa belia usianya yang baru enam belas tahun. Ann sudah merasa terlalu terikat pada Rery atas perasaan cintanya itu.
Sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan Rery yang begitu dekat dengannya, hingga indikasi ancaman tidak bisa bersama dengan Rery dimasa depan menjadi momok yang menakutkan bagi Ann pribadi. Dan Ann tidak ingin itu terjadi.
Tidak bisa bersama dengan Rery.
♥♥
“Mi scusi ( Permisi )” Satu suara terdengar dari arah pintu kamar The Gals.
Rery dan Ann sama spontan menoleh ke arah pintu kamar saat sebuah suara terdengar dari sana.
“Ann nya, ada?....”
Ann tersenyum lebar kala Aro yang datang menyambanginya dan Rery dalam kamar The Gals itu kemudian melempar candaan padanya.
“Ann nya sedang pacaran. Kenapa Aro ganggu?” sahut Ann dengan wajah sebal yang dibuat-buat.
“Aduh, maaf kalo gitu,” Aro menanggapi guyonan Ann. “Tapi ‘mengganggu’ adalah hobi aku,” sambung Aro.
Ann pun terkekeh dan Rery mendengus geli.
♥♥
“Aku minta maaf ya, Ann?-“
“Minta maaf untuk apa, Aro?” tanggap Ann pada Aro yang mengambil tempat disisi lain pada samping Ann, pada sisi yang berlawanan dari tempat Rery duduk.
“Maaf kalo ucapan aku ada yang bikin kamu ga nyaman,” ucap Aro tulus.
Ann mengulas senyuman pada Aro yang jika bicara dengannya, entah kenapa Aro menggunakan bahasa ‘aku, kamu’. Padahal pada saudaranya yang lain, bahkan pada Mika yang lebih tua dari Aro saja, Aro masih kadang menggunakan bahasa ‘gue, elo’.
Kecuali pada Abang Varen, Kak Tan-Tan dan Kak Drea.
Tapi kadang juga kalau sedang santai menyantai sambil bersenda gurau, Aro menggunakan bahasa ‘gue, elo’ itu.
Hanya pada Ann saja, lidah Aro seolah tersetel otomatis untuk menggunakan bahasa ‘aku, kamu’ dalam setiap kali Aro bicara dengan Ann dalam kesempatan apapun.
“Kamu dan Rery, ucapan kalian, tidak ada yang membuat aku tidak nyaman-“
“Tapi kamu ga mau turun makan malam bareng kita orang,” sambar Aro. “Walaupun Mika bilang kamu lagi tidur.”
“Memang aku sedang tidur tadi.”
Ann menyahut.
“Jangan suka bohong.”
Rery menyela, sambil memencet hidung Ann yang kemudian langsung nyengir kuda.
“Aku hanya belum lapar saja, dan sedikit malas untuk bergerak dari ranjang setelah terlanjur tidur-tiduran sehabis mandi tadi.”
“Tapi bener ya, kamu ga ngerasa gimana-gimana karena ucapan aku tadi sore? Aku ga ada maksud apa-apa sama sekali ke kamu Ann.” Aro meletakkan satu tangannya di atas kepala Ann, yang kemudian ia goyangkan dengan pelan. Dimana kemudian kedua tangan Ann langsung menyambar pipi Aro.
“Iya, Aroo....”
Sambil Ann mencubit dan menggoyangkan gemas pipi Aro yang sudah ia pegang itu.
“Love ya, Sis....”
“Love ya too, Brother....”
Aro dan Ann saling mengucapkan kata sayang dan menyalurkan kasih sayang antar saudara dalam pelukan, seperti halnya yang Ann lakukan dengan Rery tadi.
♥♥
“Yuk turun? Aku lapar-“
“Memang Re-An belum makan?”
Ann sontak bertanya pada Rery yang barusan mengatakan jika dirinya merasa lapar.
Rery lantas menggeleng. “Belum.”
“Kenapa?-“
“Mana tega aku makan sementara kamu belum makan?” tukas Rery.
“Ugh Re-An, sweet nyaa....”
Kini tangan Ann beralih ke kedua tangan Rery yang terkekeh kecil.
“Jangan katakan kalau kamu juga belum makan karena aku, Aro?....”
“Kenyataannya begitu,” jawab Aro.
“Ih Aro, kenapa kamu begitu?” cetus Ann.
Aro mengulum senyum. “Aku kan sedang merasa bersalah sama kamu tadi. Jadi sama seperti Rery, aku ga selera. Selain aku ga selera, terlepas kamu ga tersinggung dengan ucapan aku soal ‘perbedaan’-“
Aro menjeda ucapannya.
__ADS_1
“Tapi mungkin kamu jadi sedikit merasa ga nyaman. Makanya kamu memilih tidur dan memisahkan diri. Yang mana aku ga suka kalau kit berpencar-pencar disaat waktu dimana seharusnya kita sedang berkumpul sama-sama.”
“Aku mohon maaf ya kalau begitu, Aro? Aku sungguh tidak bermaksud membuat kamu dan Re-An merasa tidak nyaman dengan sikap aku...”
“Dah ah... Kita anggap everythings getting fine again (segalanya baik kembali)?”
“Sure it is (Tentu saja begitu)-“
“Yes, Aro.”
“Yokikan!-“
“Apa itu, Aro?-“
“Yok kita makan.”
♥♥
“Feeling better (Merasa lebih baik), Dolzecca?” Poppa yang sedang duduk santai di ruang keluarga rumah Keluarga Cemara lantas langsung menegur Ann yang turun dari lantai dua dengan digendong belakang oleh Rery.
“I’m not sick (Aku tidak sakit), Poppa...” Ann langsung menyahut pada Poppa, seraya ia turun dari gendongan Rery.
“Tapi galau,” celetuk Mika yang sedang bersandar manja pada Poppa, dimana Poppa mendengus geli mendengar celetukan Mika pada Ann barusan.
Dimana mereka yang sedang berada didekat Mika pun ikutan mendengus geli seperti Poppa, termasuk Rery dan Aro, serta Ann sendiri.
“Ya udah, kalian makan dulu gih sana,” tutur Momma.
“Okay, Momma!...” sahut Rery, Ann dan Aro bersamaan.
♥♥
Setelah mengambil makan malam mereka yang tertunda, Rery, Ann dan Aro memilih untuk bergabung bersama keluarga mereka yang sedang bercengkrama di ruang keluarga dalam rumahnya Ake Herman dan Ene Bela.
“By the way, Aro...”
Itu Val yang angkat suara.
“Kenapa, Val?...” sahut Aro.
“Bukankah kamu dan Isha serta Aina dan Ares besok sudah masuk sekolah?”
“Iya emang.”
“Lalu kenapa kalian tidak kembali ke KUJ?” - KUJ adalah Kediaman Utama Jakarta.
Yang mana para pewaris muda yang kadang malas menyebut panjang salah satu tempat tinggal utama mereka itu, main menyingkat saja apa-apa yang ingin mereka singkat untuk disebutkan.
“Aku masih ada jatah libur dari sekolah atas nama Turnamen.”
Aro menjawab santai pertanyaan Val.
“Lalu kamu Isha?” Val menoleh pada kembaran tidak identiknya Aro.
“Sebagai kembaran yang baik aku harus selalu mendampingi kakak kembaranku.”
Isha menjawab dengan entengnya, dimana satu toyoran mendarat di kepalanya dari tangan Papi John.
“Ih Papiii,” cebik Isha. “Kepala Isha di fitrahin kan ini.”
“Aku juga yang membayar fitrah kepalamu itu!” tukas Papi John.
“Nanti anak perempuannya yang cueantek ini jadi pea mau emangnya gara-gara kepala Isha sering Papi sama Mami toyor?” balas Isha.
“Heleh hoax!” sambar Momma. “Kalo udah dasarnya pinter, mau ditoyor pake kaki, pinter mah pinter aja!... Tuh Abang bukti nyata toyoran ga ngaruh sama kinerja otaknya yang titisan kakek uyut ter uyut yaitu Einstein.”
Momma berucap dengan entengnya.
“Bukan cuma kenyang toyoran Dad R sama ini nih...“ Momma menunjuk Poppa. “Kepalanya Abang bahkan sering digeplak sama Dad R and Poppa---“
“Heart... Heart...”
Suara Poppa yang diiringi dengan kekehan kecil terdengar menyambar saat Momma sedang bicara. Yang mana hal itu disebabkan oleh Momma yang memang ga hilang-hilang ceriwisnya sampai sekarang, dimana suka berceloteh dengan bahasa sesuka hatinya, segimana lidah Momma mengarah untuk mengatakan satu kata.
Entah itu jenis kata yang ada pada kamus besar, ataupun ejaan kamus betokaw yang sekate-kate aje. Seperti saat ini, dimana Poppa akan selalunya terkekeh, jika ada kata dari kamus betokaw itu yang terselip diucapan Momma.
“Bertahun-tahun berdomisili di London, masih saja belum hilang itu bahasa ‘asal sebut lidah kamu’, Heart...”
Poppa dengan celotehannya sembari tertawa lebar.
“Heits enak aja bahasa asal sebut...” sergah Momma. “Bahasa keramat ituh.”
Sambil Momma menatap pada Ake Herman.
“Ya ga, Pah?... James Bond aje engga bakal pernah ngerti itu bahasa keramat kita ye, Pah?”
“Iye bener itu!...”
Ake Herman tentu saja menyahuti putri sulung tercintanya, selain satu putri tercintanya lagi enyang bontot.
“Apelagi kalo itu si Jemes Bon dikasih bahasa betawi ora,” celoteh Ake Herman. “Ntar ketemu musuh yang kaga jelas die bakal bilang ape, Prita?—“
“Ora danta!”
Dan gelakan dari masing-masing orang yang berada disekitar grup lenong musiman itu pun sulit untuk ditahan.
“Kebayang ga tuh James Bond ngomong Ora Danta?” Momma berseloroh ria. Dan gelakan menyambung lagi.
“By the way, Abang mana?-“
“Sedang membahas pekerjaan dengan Kak Kafeel...” Val yang menyambar untuk menjawab pertanyaan Ann barusan, setelah mereka selesai terkekeh karena lenong musiman.
Dimana setelah mendengar jawaban Val, Ann manggut-manggut kecil sambil meneruskan makannya.
♥♥
Detik berlalu, dimana satu per satu mereka yang sebelumnya bercengkrama santai di ruang tengah rumah Keluarga Cemara, kemudian hengkang dari ruangan tersebut untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Terutama dua tetua dan dua pasang orang tua, yang tidak bisa menunda waktu istirahat mereka, karena faktor usia-yang mana harus mendisiplinkan istirahat untuk menjaga tubuh yang tidak muda lagi itu tetap bugar dan sehat.
Selain dengan menerapkan pola hidup sehat dan berolahraga teratur. Dan meskipun Poppa dan Papi John serta para Dad lainnya dalam Dinasti keluarga mereka masih dirasa tangguh untuk ukuran pria seusia mereka, namun tetap The Dads harus mendisiplinkan diri mereka sendiri, karena The Dads of Adjieran Smith masih bersemangat untuk melindungi keluarga mereka.
“Kita berangkat ke Londonnya besok malam kan, Pop?” Rery angkat suara, ketika Poppa dan Momma sama-sama beranjak dari tempat mereka.
__ADS_1
Dan seperti biasa, Poppa yang jika sedang enggan banyak bicara itu menjawab hanya dengan deheman disertai anggukan untuk mengintrepretasikan kata ‘iya’.
“Kenapa memangnya?-“
“Tidak apa-apa. Hanya tanya saja.”
Rery lekas menukas ucapan Poppa yang melontarkan pertanyaan balik padanya.
“Kau ingin keluar malam ini?”
“Iya, Pop-“
“Denganmu juga?-“
“Ya pastinya,” tukas Aro.
“Mau pulang pagi?” tanya Poppa lagi.
“Tidak bisa memastikan-“ Rery yang menjawab. “Mau berkumpul dengan beberapa kawan kami ya tidak tahu sampai jam berapa kami bercengkrama.”
Poppa mengangguk-angguk kecil.
“Yakin bercengkrama doang?” Lalu Momma bertanya iseng.
“Yah begitulah Mom, macam Momma ga tau aja.”
“Racing (Mau balapan)?”
Poppa kembali bertanya.
“Tidak tahu. Lihat situasi dan kondisi.”
Rery yang menjawab.
Poppa mengangkat alisnya.
“Silahkan saja. Tapi jauhi masalah.”
“Pasti, Pop,” Aro dan Rery menyahut kompak.
“Mau naik motor dari sini atau menggunakan mobil?”
“Pinjam motor Momma, Poppa atau Abang.”
“Ya sudah. Pergilah. Tapi ingat satu hal-“
“Jangan merusak kepercayaan kalian. Ya kami akan selalu ingat.” Sekali lagi Aro dan Rery kompak menyahut menanggapi peringatan Poppa yang satu Daddy itu tidak sampai selesai katakan.
♥♥
Poppa dan Momma tahu kemana Rery dan Aro hendak pergi sekarang ini.
Bukannya sebagai orang tua mereka tidak khawatir, yang mana khawatir itu pasti ada.
Tapi sedikit banyak, tempat Rery-yang walaupun berdomisili di London, namun ia punya beberapa teman juga di Indo. Karena terkadang Aro dan Rery memang sering menghabiskan waktu bersama sebagai sesama remaja lelaki, dan untuk itu, baik Rery juga Aro memiliki kawan-kawan diluaran.
Kembali lagi pada kekhawatiran orang tua yang dimiliki Poppa dan Momma.
Tapi sebagaimana orang tua dari Poppa dan Momma sendiri yakni Gappa-Gamma, Ake Herman dan Ene Bela, tidak ada yang mengekang pergaulan anak mereka-selain memang baik Poppa dan Momma memang susah dipegang-istilahnya.
Tapi sebagaimana Gappa-Gamma, Ake Herman-Ene Bela yang menaruh kepercayaan kepada anak-anak mereka, begitu juga Poppa dan Momma, serta para orang tua lainnya dalam Dinasti The Adjieran Smith.
Mereka membebaskan dengan siapa saja anak-anak mereka ingin bergaul, dengan catatan mereka bisa menjaga diri dan patuh pada setiap nasihat serta ucapan orang tua mereka, sekalipun itu sebuah larangan.
Yang mana memang sangat diterapkan oleh para pewaris muda generasi adik. Selain itujuga , The Dads dan The Moms tahu sekali kemampuan anak-anak mereka yang diatas rata-rata anak seumurannya. Bahkan Rery bisa menjatuhkan lawan yang lebih besar ototnya dari otot Rery di atas ring.
Hanya saja, Rery dan Aro masih perlu latihan keras untuk bisa mengalahkan The Dads yang meski bertambah tua usia, namun kekuatan dan ketangguhan mereka belum meredup. Baru Abang yang pernah mengalahkan empat Dads dalam keluarga mereka. Tapi Abang juga belum bisa menjatuhkan Poppa dan Daddy R diatas ring, yang mana hasil selalu saja seri, jika mereka sedang adu kekuatan.
Namun ya itu, Poppa dan Momma pernah muda. Keduanya pun gede di jalan-istilahnya. Jadi jika Aro dan Rery hendak ‘bermain’ layaknya anak muda diseusia mereka-selama itu masih dapat ditolerir selain dengan pengawasan juga, Poppa dan Momma akan mempersilahkannya.
Terlebih ya itu, Poppa dan Momma yang ‘gede di jalan’ itu, sudah merasakan ‘dunia’ yang akan ‘dikunjungi’ oleh Aro dan Rery itu saat ini.
Apalagi Poppa, yang sudah ‘turun ke jalanan’ sejak usia empat belas tahun. Jadi Poppa seolah tidak punya alasan untuk menahan Rery dan Aro untuk mengenal ‘dunia jalanan’ diusia mereka sekarang yang lebih dari usia Poppa kala itu.
Poppa membolehkan, bukan berarti membebaskan begitu saja. Toh Rery dan Aro tetap dalam pengawasan saat mereka sedang berada di ‘dunia jalanan’ tersebut. Yah, meskipun keduanya sudah berkenalan dengan ‘dunia jalanan’ itu setahun yang lalu.
Alasan Poppa membolehkan juga karena satu hal, yakni agar Rery dan Aro belajar dengan sendirinya, bagaimana rasanya kehidupan di luar zona nyaman mereka. Lalu mereka akan juga menganalisa sendiri, betapa kerasnya kehidupan di luar sana.
Semata-mata, agar Aro dan Rery tahu bagaimana bertahan diluaran untuk suatu keadaan. Sebagaimana Abang Varen, ataupun Kak Tan-Tan.
“Ya sudah sana. Hati-hati.” Poppa sekali lagi memberikan ijinnya pada Rery dan Aro.
“Thanks, Pop-“
“Ann ikut?”
Momma bertanya.
“Langit akan terbelah jika dia tidak mau ikut.”
Celetukan Aro membuat Poppa, Momma dan Rery yang paham sekali jika Ann sangat mencandui setiap hal yang memacu adrenalin itu terkekeh.
Terlebih, Ann kan ga bisa ketinggalan Rery selain tidur sama ke kamar mandi-jika diibaratkan. Dan setelah tahu jika Rery dan Aro ternyata sudah lebih dulu memiliki tempat bermain yang ‘seru’, Ann lebih tidak akan mau ketinggalan.
♥♥
Dengan mengendarai dua motor yang berbeda, Aro dan Rery yang membonceng Ann, telah sampai di sebuah tempat dimana banyak orang-orang seusia Aro, Rery dan Ann berkumpul. Sebuah tempat yang mana adalah Eks Bandara, telah dipenuhi dengan banyaknya kawula muda baik laki-laki dan perempuan, berikut dengan sepeda motor ragam tipe.
Sudah juga ada yang melaju saling adu kecepatan di sebuah track bergaris buatan sebagai penanda garis finish. Hal yang sudah Rery dan Aro kenal sejak setahun yang lalu.
“Eh Re-An, Aro ...” ucap Ann pada dua bujang tersebut.
Yang mana keduanya langsung menanggapi Ann. “Kenapa, Ann?” sahut Rery dan Aro bersamaan.
“Kalian lihat di seberang sana?” tunjuk Ann ke satu arah bersebrangan sedikit jauh dari tempat mereka berada.
Dimana Rery dan Aro spontan menoleh ke arah yang ditunjuk Ann.
“Itu bukannya?-“
♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue...