HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 251


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jangan pernah mencintai insan, lebih dari kecintaan terhadap Tuhannya.



Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


“AMBILKAN BELATI GUE, THAN!!”


Suara Varen terdengar menggelegar di dalam ruangan tempatnya berdiri sekarang, dengan rahang mengeras dan matanya yang mulai memerah.


Varen murka, hati satu adiknya dibuat berdarah-darah oleh seorang pria.


Pria yang adik perempuannya cintai sepenuh hati, dan disayangi Varen tanpa pamrih.


Namun dengan teganya pria itu memberi perih, yang begitu melukai relung hati.


“Abang...“


Lalu Mommy Ara langsung maju untuk menenangkan.


“Aku sudah membayangkan bagaimana sakitnya hati Val ... Jadi akan aku buat Kafeel Adiwangsa merasakannya juga. Namun dalam arti yang sebenarnya.”


“Sudahlah Abang...“ tutur Mommy Ara lagi, masih coba menenangkan.


“Iya, Mom ... akan menjadi sudahlah jika aku sudah memberi Kafeel Adiwangsa atas luka yang telah ia torehkan di hati Val.”


“Istighfar Abang...“ Momma ikut serta menenangkan Varen yang rahangnya nampak mengetat dan bicara dengan datar.


Namun semua orang tahu, jika dibalik suara datar Varen itu----ada gumpalan emosi yang kasat mata.


“Akan aku bawakan jantung Kafeel Adiwangsa pada Val...“


Varen menukas datar ucapan Momma yang mengingatkan seraya memohon agar Kafeel tidak terbawa emosi.


Tapi tepat setelah Varen mengatakan sebaris kalimat yang membuat hati para Mom menjadi tidak karuan, mengingat jika Varen pernah menggila----lalu dibeberapa waktu yang telah berlalu pun Varen juga pernah sampai menggila dengan menebas tangan orang, walaupun hitungannya adalah berandal jahat namun tetap saja tidak dibenarkan tindakan Varen yang main hakim sendiri itu -----


Yah, hanya para Mom sih yang sebenarnya yang memiliki pendapat tersebut. Karena para Dad yang kalau kumat juga bisa menggila dengan cara mereka masing-masing, justru mendukung tingkah gila si Abang yang munculnya disaat-saat tertentu itu. Dan saat-saat tertentu itu perlu digaris bawahi, jika melihat situasi saat ini -----


Kala Varen mengetahui jika adiknya telah dikhianati----dengan alasan apapun, lalu melihat betapa salah satu adik perempuannya itu begitu nampak tersakiti----wajar, jika The Moms of Adjieran Smith minus satu itu mengkhawatirkan kemurkaan Varen pada pria penyebab Val begitu terluka hatinya dan begitu nampak syok. Tak terbayang akan bagaimana Varen menghajar Kafeel----istilahnya.


Apalagi sudah menyuruh Nathan untuk mengambilkan belati milik Varen yang super tajam itu macam katananya, yang pernah memakan korban itu----walau bukan korban nyawa.


Dimana saat Nathan kemudian bergerak setelah Varen berseru dengan sangat kencangnya tadi, langkahnya dijegal Dad R dengan cepat sambil juga menggeleng pelan. Mengkode Nathan agar jangan mengambilkan Varen apa yang putra kandungnya itu inginkan.


Karena sungguh, Varen dengan tangan kosong saja jangan ditanya tenaganya.


Yang mana artinya, Varen dengan senjata jenis apapun di tangannya sungguhlah lebih dari bahaya.


Terlebih, Varen memiliki alasan kuat untuk lebih dari sekedar marah.


💔


“Tidak perlu mengotori tanganmu.“


Mereka yang sedang tegang karena Varen, kemudian langsung menoleh ke arah yang sama ketika suara itu terdengar dari arah lorong lift kediaman mereka tersebut.


Termasuk juga Varen sendiri.


“Ndrew, bagaimana Val? ...” Papi John sontak bertanya dengan khawatir pada Poppa, mewakili anggota keluarga mereka yang lain.


“Hancur,”

__ADS_1


Poppa menjawab datar.


Namun begitu, mata Poppa nampak memerah.


“Daripada kau membuang waktu dan mengotori tanganmu dengan darah Kafeel Adiwangsa, lebih baik kau gunakan tanganmu untuk merangkul adikmu yang sedang hancur itu.”


💔


Varen memang dirundung kegeraman yang teramat pada Kafeel Adiwangsa.


Namun ucapan Poppa kemudian membuat kegeraman itu sedikit tertutup, dan selanjutnya Varen tertegun.


Kiranya Poppa benar.


Saat kecil dulu Val terjatuh dan terluka kakinya walau hanya tergores saja, tangisannya luar biasa.


Lalu sekarang jika adik kandungnya itu terluka hatinya, akan bagaimana tangisnya? ...


Sukar Varen jabarkan, ketika ia, Rery, Aro dan Nathan telah menyambangi kamar pribadi Val dalam kediaman.


“Jangan seperti ini Val ....”


Yang sedang ditenangkan Ann dalam rengkuhan, dimana tubuh Val nampak bergetar menahan tangis yang tidak sepenuhnya Val keluarkan.


Disisi lain Val ada Drea yang juga ikut memeluk tubuh Val yang bergetar itu, yang sedang ditenangkan walau hanya terisak, namun isakan Val terdengar menyesakkan.


Tidak hanya Ann dan Drea saja yang sedang bersama Val sekarang.


Semua saudarinya telah mengelilingi, termasuk satu bontot laki-laki yang terduduk lesu memandangi satu kakaknya yang sedang sangat bersedih hati itu.


Via pun juga nampak ada di sana. Memandangi Val dengan gurat kesedihan yang sama seperti mereka yang sedang mengelilingi Val dalam jarak.


Ada yang tak sedarah, namun kuatnya ikatan membuat mereka merasakan hati Val yang seolah sedang luka dan berdarah itu----pun mereka rasakan sakitnya dalam kalbu.


💔


“Sa-kit ...”


Varen tak berkata, karena memang tidak tahu harus berkata apa.


Dulu ia tersenyum saja ketika Val menangis jika terjatuh dan entah kaki dan tangannya yang tergores.


Yang kemudian Varen obati, tiupi, kemudian Varen bawakan es krim atau Varen gendong belakang.


Tapi sekarang Val terluka di hati.


Yang tidak bisa Varen lihat seperti apa lukanya, jadi bingung bagaimana mengobati.


Tak bisa Varen tiupi agar lekas mengering luka itu setelah diobati.


Kalau seperti itu, langsung Varen bawakan saja es krim atau Varen menyuruh Val naik ke punggungnya, apa Val bisa kembali tersenyum ceria? ...


Rasanya tidak.


Luka di hati Val tidak terlihat, tapi melihat bagaimana sedihnya Val sekarang, Varen bisa merasakan jika luka Val itu begitu dalam.


“Come here ...”


Jadi seperti ini saja dulu.


Yang Varen raih tubuh Val, untuk dia dekap penuh sayang.


“Abang, di sini ...”


Yang Varen ucapkan pilu, hingga ia pun sedikit tergugu.


Lalu lirihan Val yang bercampur isakan terdengar lebih memilukan.


Mengiris hati yang mendengarkan, perih menjalar perlahan. Ketika ucapan penuh kegetiran itu Val ucapkan.


“Sa-kit .. A,bang... Hati Val sak-kiittt....”

__ADS_1


Pedih terdengar, terlebih Val memukul dadanya sendiri dengan kuat.


Yang langsung dipegang lembut tangan Val oleh Nathan, yang tak tega dada rapuh itu di pukul lagi lebih hebat.


Bisa lebih hancur nanti, seperti yang lain sedang melihat, Nathan pun tak kuat.


Karena kalau Val hancur, semua keluarga akan lebur.


💔


“Menangislah. Luapkan saja semua, sampai kamu merasa lega ...”


Varen berucap, setelah Val tak lagi melirih.


Namun isakan Val masih terdengar pedih.


Sesak... menyesakkan...


Jadi begini, Varen sandarkan punggung Val didadanya.


Agar Val tahu, kalau Abangnya tidak akan kemana-mana.


“Aku disini, kami semua disini bersamamu ....” ucap Varen melawan cekat di tenggorokan.


Dimana isakan Valera yang tertahan itu kemudian luruh, pecah menjadi sebuah tangisan yang menyayat hati para saudara-saudarinya.


Dan Alvarend mengeratkan rengkuhannya pada si adik kandung, saat merasakan lengannya sudah sangat basah oleh airmata Valera yang wajahnya sudah tertempel di lengan kokoh si Abang yang merengkuhnya itu.


Tak apa.


Jangankan lengannya.


Sekujur tubuhnya jika basah dengan air mata Val pun tidak apa.


Varen rela.


Tapi setelah itu Varen akan meminta, “Sudah ya, cukup menangisnya? Sekarang tunggu di sini, akan Abang ambilkan jantung Kafeel Adiwangsa untuk Abang persembahkan sebagai ganti jantung Val yang terhujam belati kasat matanya Kafeel Adiwangsa. Val iyakan, walau sekali anggukan saja... Langsung Abang lakukan.”


💔


Yang sayangnya tak bisa Varen segera katakan, karena tak habis Val tenggelam dalam isakan.


“Jangan menangis Val .... Jika kamu menangis, kami juga ikut menangis ...”


Memang benar yang Mika katakan barusan, karena mata Mika sudah basah, seperti lainnya.


Tak terisak, namun sama sesak.


Varen bahkan ingin teriak dan mengumpat.


Pada si keparat Kafeel Adiwangsa.


Namun belum bisa, Val masih belum melepaskan dirinya dari rengkuhan si Abang.


Ya sudah, silahkan Val peluk Abang sepuasnya.


Sambil Varen ciumi pucuk kepala Val dengan sayangnya.


Oh jika bisa, luka dan sakit dihatinya Val, biar Varen yang menanggungnya saja.


Varen tak tega, melihat Val sehancur ini Varen pun terluka.


Oh cinta, bukankah sebuah anugerah?


Tapi jika iya, mengapa sebuah anugerah malah membuat hati terluka begitu parahnya?...


💔💔💔


To be continue ........


Dikit yuah, maap. Soale ngejar waktu update.

__ADS_1


__ADS_2