
Noted: Baca episodenya dulu, baru klik tanda jempolnya jika berkenan ya.
Thank You
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...
“Jadi kau, jangan cari mati—“
Peringatan namun tak keras keluar dari mulut Daddy Dewa, saat membahas soal adik perempuan Kafeel yang diketahui memiliki hubungan dengan seorang pemuda yang merupakan pimpinan sebuah geng motor yang memiliki track record amat sangat buruk.
“Dengan sengaja mendatangi atau menemui pemuda yang dekat dengan Lena itu.”
“Iya Uncle.”
Kafeel menyahut patuh.
“Yang jelas kau pastikan dulu pada Lena. Jika memang Lena sudah lepas dari berandal itu, ya sudah tidak perlu kau perpanjang atau berurusan dengannya.“
“I’m sure he’s just a pup (Aku yakin dia hanya berandalan yang sok aksi)---“ Papa Lucca berkomentar. “Tetapi pada kenyataannya hanya seorang pengecut yang mengandalkan kawanannya.” Sambung Papa Lucca dengan bahasa Indonesia yang memang sudah ia kuasai sejak lama, hanya jarang sekali menggunakannya.
“Jadi jika pemuda berandalan itu tidak menyulitkan Lena, ya kau tak perlu berurusan dengannya. Biar saja dia menjadi urusan Rico dan instansinya... Selama tidak mengusik kami, kami pun enggan berurusan dengan kotoran macam berandalan itu dan kawanannya...”
“Tapi jika memang ada kerugian yang Lena derita karena pemuda berandalan itu selama mereka berhubungan, ya itu kami serahkan padamu untuk menyikapinya... Dari informasi yang Two J serta Dewa katakan berdasarkan laporan Nicky, hanya sebatas Lena dekat dengan dia ----“
Setelah Papa Lucca berkomentar, Poppa dan Daddy R juga ikut berbicara.
“Kami tidak menyuruh Nicky dan yang lainnya untuk menyelidiki sejauh mana kedekatan Lena dengan berandal itu, karena kami rasa kau lebih berhak dalam hal ini untuk memutuskan bagaimana bagaimananya... Toh Lena adalah adikmu, tanggung jawabmu. Meskipun kami juga menyayanginya, tapi tetap kau yang berhak penuh untuk membuat keputusan tindakan apa yang ingin kau lakukan sehubungan dengan Lena... Jika memang ada kerugian yang dibuat oleh berandal itu padanya...”
Daddy R kembali berbicara, kini panjang lebar memberikan wejangan pada Kafeel.
Kafeel pun meresapi setiap wejangan dari mereka yang disebut The Dads dalam keluarga besarnya Val, termasuk ucapan dari Uncle Rico yang merupakan sahabat dari almarhumah ayah Kafeel. Kafeel pun menanggapi setiap wejangan dari para pria yang jauh lebih dewasa diatasnya itu dengan senang hati. Para pria yang memiliki segudang pengalaman dalam menghadapi ragam musuh, atau orang-orang yang usil pada mereka dan keluarga mereka.
The Dads of Adjieran Smith yang gagah-gagah dan rupawan selain kaya luar biasa, bucin akut, dan ‘gila’ kadang-kadang-bahkan konyol seringkali, namun track record mereka dalam melibas lawan sungguh jangan dipertanyakan bagaimana mereka mengatasinya, apalagi meragukan kemampuan mereka. Karena kekonyolan The Dads akan menghilang, berganti dengan kekejaman yang kadang berujung kebengisan tanpa ampun. Untuk perlakuan mereka pada lawan, yang sukar untuk dibayangkan, karena seringnya begitu mengerikan.
Jadi berdasarkan hal itu, Kafeel tidak mungkin tidak mendengarkan wejangan dari The Dads yang memiliki intuisi dalam membaca lawan serta situasi lalu membuat keputusan untuk dilakukan. Karena pada kenyataannya, Kafeel memang mengidolai para Dad dalam keluarga besar kekasih kecilnya itu. Dan wejangan dari mereka, tidak akan mereka abaikan.
“Tidak perlu merepotkan dirimu berurusan dengan sampah masyarakat.”
“Iya Uncle...” sekali lagi Kafeel menyahut patuh.
♥
“Pokoknya Ka, pastikan aja kalau Lena memang udah ga ada hubungan lagi, dan jauh-jauh dari itu berandal.”
Uncle Rico kembali buka suara dan Kafeel pun mengangguk. “Iya Uncle Rico ---“ lalu Kafeel menyahut mengiyakan. “Tentu akan aku pastika Lena jauh-jauh dari berandal urakan itu...” sambung Kafeel.
“Jika kau membutuhkan seseorang sebagai pengawal Lena, kau tinggal katakan saja.”
Daddy R berkata dan Kafeel segera mengangguk.
“Akan aku pikirkan soal itu nanti, Uncle.”
“Ingat untuk jangan terlalu keras pada Lena ---“
Uncle Rico kembali berbicara.
“Kau itu pengganti Arya bagi Lena, Ka.”
Uncle Rico lanjut berbicara lagi.
“Jadi kau haruslah dapat menempatkan dirimu tidak hanya sebagai seorang kakak lelaki, tapi juga sebagai seorang ayah.”
“Iya Uncle.”
Kafeel menyahut patuh pada wejangan Uncle Rico.
“Aku akan mengingat hal itu.”
Kafeel berucap kemudian.
“Meskipun seandainya Lena membantah atau membangkang padamu—“
Poppa kini ikut bersuara.
“Tegas boleh-silahkan, itupun sangat diperlukan---“
Seperti sikap Kafeel pada pria dengan usia jauh di atasnya yang sedang berada di dekatnya ini, Kafeel pun memperhatikan setiap perkataan Poppa.
“Tapi terlalu keras pun jangan, karena Lena anak perempuan. Jika dia adik lelakimu yang pembangkang, kau bisa menghajarnya ---“
Poppa menjeda ucapannya, karena ia menyulut sebatang rokok yang tadi telah ia keluarkan dari kotaknya. Lalu Poppa lanjut bicara, setelah ujung rokok yang ia sulut menyala sambil ia menyesap dan mengepulkan sehembus asapnya ke udara.
“Andai Lena membantah atau bahkan membangkang, keras sedikit boleh, tapi kau harus dapat mencari penyebabnya. Mungkin saja berandal itu sudah mendoktrin otak Lena untuk patuh padanya.”
“Baik Uncle Andrew...”
Lagi, Kafeel menyahut patuh.
“Dan jika hal itu memang benar, serta ada kerugian yang Lena alami dalam bentuk apapun... Nah, silahkan saja jika kau ingin bertindak, Ka...” Papi John menimpali.
Dan Kafeel pun mengangguk.
“Tapi tetap, jika kau ingin mengambil tindakan, jangan sampai kau gegabah---“ sambar Daddy Jeff. “Terlebih jika kau ingin berurusan langsung dengan berandal itu, yang mana dia tidak akan mungkin menghadapimu sendiri.”
“Baik, Uncle.”
Kafeel menyahut seraya mengangguk lagi.
“Diskusikan dengan Alva, atau dengan kami jika hal yang kami khawatirkan benar terjadi, dan kau ingin bertindak, Ka...” ujar Papi John dan Kafeel sekali lagi mengangguk paham.
♥
Kafeel juga telah selesai bicara dengan The Dads secara keseluruhan di Pool Lounge. Dan kini otak Kafeel kembali memikirkan Val.
Setelah undur diri dari hadapan The Dads dan Uncle Rico yang berada di ruang billiard, Kafeel rencananya hendak kembali mengecek Val di kamarnya dan mencari tahu apakah kekasih kecilnya itu masih merajuk padanya atau tidak.
__ADS_1
🎸🎵🎸🎵🎵🎸🎵🎸
Namun suara dentingan gitar dari arah ruang santai keluarga pada kediaman utama keluarga besar Val yang berada di Jakarta itu disertai dengan suara nyanyian beberapa orang, Kafeel tak jadi melangkah ke arah lift berada. Melainkan ia mengarahkan kakinya ke ruang santai keluarga pada kediaman utama keluarga besar Val tersebut.
Karena Kafeel berpikir, mungkin saja Val ada disana, berkumpul bersama para saudara dan saudarinya serta Arya juga Sony.
Karena kedua kakak beradik anak Uncle Rico dan istrinya itu, tidak ada di ruang billiard bersama The Dads.
“Eh Kak Kaf!”
Ares yang langsung bersuara kala melihat Kafeel datang ke ruang santai keluarga dalam kediaman utama keluarga besar mereka itu.
“Sini Kak Kaf, sambil nunggu maksi!”
Kafeel mengangguk dan tersenyum dan masuk mendekati beberapa sultan dan sultanah belia yang sedang duduk bersama Arya dan Sony sambil mereka gitaran dan nyanyi-nyanyi, yang kesemuanya sudah nampak telah bebersih diri sehabis main di kolam renang.
Namun Val tidak ada diantara mereka semua yang sedang berada di ruang santai tersebut. “Val belum gabung?....” tanya Kafeel pada mereka yang ada dihadapannya itu, yang kesemuanya menggeleng secara serempak.
Kafeel pun mengangguk sambil melipat bibirnya dan melirik arlojinya.
‘Tidur beneran dia jangan-jangan....’
Kafeel menerka tentang Val, sambil ia mengeluarkan ponselnya kala Kafeel telah mengambil tempat di dekat Aro dan Rery.
Val, Baby, kamu beneran tidur?.
Lalu Kafeel mengetikkan pesan chat dan langsung mengirimkannya ke nomor kontak Val.
Iya.
Didetik dimana Kafeel spontan tersenyum geli, kala pesan chat yang ia kirimkan pada Val berbalas dengan cepat.
‘Iya kali orang tidur bisa bales chat?....’ batin Kafeel yang merasa geli. ‘Val, Val....’
Memang nyebelin ternyata kekasih kecilnya itu kalau sedang serius merajuk. Sekaligus gemesin.
Trus sekarang masih di kamar?.
Kafeel mengetikkan dan mengirimkan satu lagi pesan chat ke nomor kontak Val.
Ya iyalah. Masa Val tidur di dapur?.
Kafeel tersenyum geli lagi saat ia kembali mendapatkan pesan chat balasan dari Val.
Lalu ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, lalu memperhatikan dua orang yang bermain gitar di hadapannya.
‘Sepertinya gue ada ide buat merayu Val!’
♥
“Kak Kaf, mending main gitar nih daripada gabut nungguin si ulet bulu yang ngambeknya ga kelar-kelar!---“
“Nah iya bener!”
Isha yang berbicara pada Kafeel yang kemudian tersenyum lebar padanya, lalu lainnya mengiyakan gagasan Isha tersebut.
“Tapi jangan lagu yang aku tidak tahu ya?..” Ann kemudian menimpali.
Celetukan kemudian terlontar dari mulut Aina.
“Iya ga Kak Isha?...”
“Betul itu!”
Yang ditanya persetujuannya oleh Aina pun dengan cepat menyahut.
“Wong londo ga tau enaknya lagu, 🎵‘Sikok bagi duo, sikok bagi duo... Idak naik jugo tekan samo-samo...’🎵”
Lalu adik kandung Kak Tan-Tan itu mendendangkan satu lagu yang memang sedang viral, sembari bergoyang semlehoy yang membuat mereka yang sedang bersama Aina tergelak dengan serempak.
♥
Suara tawa dan kekehan pecah di ruang santai keluarga setelah mendengar celotehan Aina berikut gaya kocak gadis remaja itu saat memperagakan satu lagu yang katanya sedang viral saat ini.
Ann juga ikutan tertawa meskipun ia yang menjadi bahan ledekan Aina. Dan dengan gemasnya Ann menepuk pantat Aina yang tadi bergoyang semlehoy tanpa ada malu-malunya, meskipun ada Kafeel, Arya dan Sony di dekat mereka.
Dan ya, memang Aina yang bercita-cita menjadi seorang selebritis ataupun model terkenal itu, memanglah tak pernah malu-malu pada siapapun dari sejak ia kecil.
Hanya saja cita-cita Aina itu harus ia pending dulu, karena Mama Jihan yang tidak setuju jika Aina masuk ke dalam dunia entertainment secara langsung. Mama Jihan takut putri bungsu kandungnya itu terbawa arus pergaulan sebagian entertainer yang mengacu pada pergaulan bebas dan hal – hal negatif lainnya.
Meski ya itu, hanya sebagian entertainer saja, tidak semuanya.
♥
“Ini Kak Kaf, main. Atau kita nge – jam aja apa?... kebetulan ada Kak Arya sama Kak Sony nih?... gimana?...”
Rery berucap, sambil menyodorkan gitar yang tadi ia mainkan pada Kafeel - seraya ia mencetuskan sebuah ide untuk bermain musik bersama.
“Nanti saja selepas lunch Re – An ---“
Ann segera menyambar.
“Iya Ann benar.”
Kafeel bersuara, mengiyakan ucapan Ann.
“Kita tidak akan mungkin dibiarkan terus nge – jam, saat waktu makan siang udah sampe.”
Kafeel berkata lagi.
Dan perkataan Kafeel itu kemudian langsung diiyakan oleh yang lain.
“Ga enak kan kalau lagi asik –asiknya nge –jam terus harus berhenti? ---“
Kafeel masih berbicara sambil ia meraih gitar yang tadi disodorkan Rery padanya.
“Pinjem ya? ..” ucap Kafeel seraya ia berdiri dengan gitar yang sudah ia pegang, dan kemudian ia gonjrengkan sekali untuk mengecek pengaturan nada pada gitar tersebut.
“Lah Kak Kafeel mau kemana?---“
“Mau merayu rapunzel!” Kafeel segera menukas pertanyaan Aina. “Yang langsung ke bawah balkon kamar Val mana deh?....”
__ADS_1
Kafeel juga langsung bertanya pada mereka yang sedang berada didekatnya saat ini.
Kafeel sih sudah dapat menerka bagian mana di area kediaman yang kiranya ada di bawah balkon kekasih kecilnya itu.
Namun begitu, Kafeel ingin memastikan lagi.
“Yang selurusan pohon matoa itu kan?...” tanya Kafeel.
Para pewaris muda saudara – saudari Val yang paham Kafeel hendak melakukan apa itu sama – sama mengiyakan tebakan Kafeel, setelah sebelumnya mereka cengengesan duluan.
Kafeel pun segera bergegas menuju tempat dimana spot tepat dibawah balkon kamar Val itu berada. Dan tentunya, para saudara – saudari Val termasuk juga Arya mengekori Kafeel untuk melihat aksinya menjadi satria bergitar.
Sementara Nathan dan Sony tetap di tempat mereka, namun cekikikan melihat laki – laki yang umurnya di atas mereka itu, yang biasanya nampak cool macam Varen, kini receh kelakuannya. Yah, macam Varen juga sih, kalau mode bucin akutnya sedang kambuh.
♥
🎸🎸🎸🎸
Aku yang terlelap sendiri....
Terlelap sampai tak sadar diri....
Kulihat sang Pujaan Hati....
Datang melangkah, t'rus menghampiri....
🎸🎸🎸🎸
Dan satria bergitar pun telah memulai aksinya tepat di bawah balkon kamar sang kekasih kecilnya itu.
Dimana para penonton yang bukan bayaran, mengambil posisi tak jauh dari Kafeel – sambil mereka cengengesan, yang sedang menggonjrengkan gitar yang sedang Kafeel mainkan itu demi merayu Val agar berhenti ngambek padanya.
Dan Kafeel pun tersenyum lebar disela ia bernyanyi dengan memainkan gitar, saat Val kemudian telah muncul di balkon kamarnya lalu melihat ke arahnya.
🎸🎸🎸🎸
Aku bergetar disentuh dia, Mataku terbang sampai ke langit
Tubuhnya pun indah kupandangi....
Putih, mulus, dan seksi
🎸🎸🎸🎸
‘Selamat datang pada kebucinan yang hakiki Tuan Kafeel Adiwangsa!’
Kafeel membatin geli saat ia tengah melakukan aksinya bermain gitar, demi untuk membuat Val berhenti ngambek padanya.
‘Ya Allah, kenapa aku jadi norak begini?....’
Lalu Kafeel merutuki dirinya sendiri, karena ia pun tak sangka akan sampai seperti ini demi seorang wanita yang mana masih bocil pula.
‘Kalau cinta udah bicara ...’ bisik hati Kafeel yang sedang merasa geli pada dirinya sendiri.
Namun ya itu, Kafeel hanya spontan melakukan aksinya ini, karena kalau Val ngambek lalu mengacuhkannya, rasanya Kafeel sedikit merasa tak nyaman.
Apalagi Val hanya sebentar saja berada di Jakarta.
🎸🎸🎸🎸
Tak jauh seperti sang Bidadari
'Kan kupeluk dia sampai mati
Rambutnya pun indah bagai putri
Mirip iklan di TV...
🎸🎸🎸🎸
‘Masa iya ga luluh Neng Val, abis AA nyanyiin? ..’
Kafeel membatin setelah ia selesai menggonjrengkan gitar sambil bernyanyi.
“Tuan Putri Val, jangan marah lagi ya??? ..”
Kafeel berbicara pada Val kemudian dengan suara yang sedikit agak keras, sambil menatap kekasih kecilnya yang sedang nampak tersenyum lebar itu.
“Val sudah tidak marah! –“
Val berseru, untuk menjawab ucapan Kafeel. Dengan seruan yang terdengar sumringah.
“Kak Kafeel romantis sekali habisnya!” seru Val lagi.
“Jadi Kakak boleh ya, menghampiri Val sekarang? ..”
“Biar Val saja yang menghampiri Kakak disana! –“ jawab Val dengan cepat, dan Kafeel pun segera mengangguk sambil masih tersenyum lebar.
“Eeehhh??....” namun setelahnya ekspresi Kafeel sedikit terheran – heran. “Loh?! Loh?!—“ Matanya membaca gelagat aneh dari Val yang katanya mau menghampirinya, namun Val masih tetap terlihat di balkon kamarnya.
Dan lagi ....
“Hey, Val, mau apa?!”
Wajah Kafeel berubah sedikit horor karena sepertinya Val hendak memanjat reling balkon kamarnya itu.
“Val Stop!” sergah Kafeel yang panik dengan cepat.
“Kak Kafeel tangkap Val ya?! Biar semakin romantis macam adegan di film dan novel, kala setelah dinyanyikan sebuah lagu, tokoh wanitanya langsung meloncat ke pelukan si tokoh pria yang adalah kekasihnya---“
“Waduh!”
Kafeel tak tahu harus berkomentar apa, akibat kelakuan kekasih kecilnya ini, Sungguh!.
‘Dipikir gue Superman kali bisa terbang nangkep dia?!’ batin Kafeel.
Lalu pekikan panjang Kafeel terdengar.
“Vaall Stooppp!!!...”
♥♥♥
__ADS_1
To be continue ...