HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MASALAH HATI


__ADS_3

Terima kasih masih setia


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Hai-hai, terima kasih untuk kalean yang masih teteup setia baca.


Semoga selalu suka yah.


Mohon Supportnya juga untuk karya ini.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Hanya Tuhan Yang Tahu, Betapa Aku Benar-Benar Mencintainya.”


--- Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith ---


♥♥♥♥♥


“Nona Muda..”


Seorang pria berperawakan tegap berbicara pada seorang gadis cantik nan imut yang sedang berjalan-jalan di tepi sebuah pantai dengan kaki telanjang.


Dimana pria yang berbicara dengan memanggil gadis yang bersamanya saat ini, sedang memegangi french heels yang tadi dikenakan oleh sang gadis, dan kini telah dilepas oleh sang gadis dan dipegang olehnya atas inisiatif si pria berperawakan tegap tersebut.


Gadis cantik nan imut yang sedang bermain dengan riak air di tepi pantai yang bersentuhan dengan kakinya itupun menghentikan kegiatannya sesaat.


“Kenapa Kak Achiel?” tanggap sang gadis seraya menoleh pada pria yang mengajaknya bicara barusan.


“Apa Nona sudah mengatakan kepada Tuan Alvarend atau Nyonya Muda Andrea jika anda tidak kembali ke Kediaman atau ke Perusahaan Utama?”


♥♥♥♥♥


Flashback...


“Kita langsung kembali ke Kediaman, atau ingin pergi ke JSC?-----“


“Tidak dua-duanya.”


“Lalu anda hendak kemana Nona Muda Valera?”


“Jalan saja dulu...”


Beberapa saat kemudian.


“Kita ke tempat yang waktu itu kami pernah pergi makan di sebuah tempat wisata yang pantainya bisa disewa itu ya Kak Achiel?...”


“Baik Nona Muda.”


“Kak Achiel tahu kan?...”


“Tahu Nona Muda. Tapi itu bukan menyewa pantai sih tepatnya Nona Muda, melainkan waktu seluruh keluarga anda pergi makan disana, area tempat makan yang berada di pantai dalam restoran tersebut yang disewa keseluruhan.”


“Ya pokoknya aku mau kesana.”


“Baik Nona Muda.”


Di sebuah tempat makan luas di tepi teluk pada sebuah kawasan wisata.


“Panggilkan Manajer tempat ini Kak Achiel...”


“Kalau boleh tahu, untuk apa Nona?. Apa keluarga anda ingin mengadakan acara lagi disini?”


“Tidak. Aku ingin menyewa tempat ini untuk diriku sendiri!”


‘Horang Kayah!’


Flashback off...


♥♥♥♥♥


“Nona Muda..”


“Kenapa Kak Achiel?”


Gadis yang sedang berada di tepian pantai itu adalah Val.


Dan pria berperawakan tegap yang bersama Val itu adalah pengawal pribadi yang dikhususkan untuk mendampingi Val dari dua pengawal khusus gadis itu.


Dimana pria yang dipanggil Kak Achiel oleh Val itu akan digantikan dengan satu pengawal pribadi khusus Val yang satunya, jika waktu bekerja Achiel telah selesai.


Namun begitu, kadang Achiel bekerja melebihi waktu kerjanya, karena Val yang merasa lebih cocok bersama Achiel ketimbang satu pengawal pribadi khusus Val lainnya.


“Apa Nona sudah mengatakan kepada Tuan Alvarend atau Nyonya Muda Andrea jika anda tidak kembali ke Kediaman atau ke Perusahaan Utama?”


“Belum,” jawab Val, menanggapi pertanyaan Achiel barusan. Val kembali berjalan menyusuri tepian pantai dengan sesekali memainkan kakinya pada riak air yang menyapa kaki telanjang Val tersebut.


Di sepanjang pantai dari tempat Val dan keselurusan di depan dan belakang Val, hanya ada Val dan Achiel saja.


Tapi Val tidak mem booking satu restoran seperti rencananya tadi, karena ia ingin mendapatkan ketenangan dalam satu tempat.


Memang pihak restoran melalui manajernya yang sedang bertugas itu telah berkali-kali meminta maaf pada Val, karena tidak dapat mengabulkan permintaan Val yang ingin menyewa satu restoran untuk dirinya sendiri, sehubungan sudah ada tamu yang lebih dulu datang sebelum Val, yang tidak mungkin pihak restoran usir begitu saja, walau Val menawarkan jumlah yang fantastis untuk biaya sewa satu restoran tersebut.


Yang mana tetap tidak dapat si manajer iyakan, dengan memberikan pengertian pada Val untuk alasan mengapa Val tidak bisa menyewa satu restoran dengan mendadak seperti sekarang ini.


Karena hal itu berhubungan dengan nama baik restoran itu sendiri, walau setelah Val menyebutkan nama keluarganya, si manajer yang kebetulan mengetahui tentang latar belakang keluarga Val agak sedikit merasa ngeri-ngeri sedep juga.


Namun mengingat jika ia harus bersikap profesional, sang manajer restoran menjalankan tugasnya dengan baik dan berlaku sangat sopan pada Val, menjelaskan tentang penolakannya atas keinginan Val yang ingin mem booking satu restoran untuk dirinya sendiri.


Yang entah apa faedahnya, padahal Val hanya ingin berjalan-jalan di tepian pantai dengan tenang saja, tanpa ada orang lain yang lalu lalang di sekitarnya, selain ya satu pengawal pribadi khusus Val yang sedang mendampinginya ini.


Tapi, horang kayah mah bebas kan ya?.


Apalagi orang kelewat kaya macam si Val ini.


Penolakan sangat halus, berikut penjelasan si manajer restoran itu dapat Val terima.


Yang mana hal itu sangat disyukuri oleh si manajer restoran tempat Val berada sekarang.


Karena jika Val tetap bersikukuh untuk menyewa satu restoran yang mana si manajer harus mengusir para tamu yang sudah lebih dulu datang ke restoran tempatnya bekerja itu, maka ia harus menghubungi si pemilik restoran untuk mengambil keputusan yang akan mempengaruhi kredibilitas restoran tersebut.


Tapi untungnya Val tidak sekeras kepala itu atas arogansi, betapa uang tidak bermasalah sedikitpun untuknya, ataupun kekuasaan yang begitu besar atas nama keluarganya.

__ADS_1


Alhasil, Val dapat bekerjasama dengan baik, dan tidak jadi menyewa satu restoran untuknya sendiri, yang mau healing hati. Sebagai gantinya, Val hanya menyewa satu area restoran yang tepat berada di tepi pantai.


Dimana memang di area tersebut, belum ada tamu yang menyewanya.


Karena di area tersebut dikenakan biaya tambahan penyewaan tempat, mengingat letak kursi dan meja restoran di area tersebut bersifat privilege ( istimewa ) sehubungan dengan area yang benar-benar memberikan spot yang indah untuk menikmati pemandangan pantai secara langsung dan bermain di sekitaran pantai tersebut, dengan suasana yang romantis.


Jadi, karena sifatnya yang privilege itu, jarang sekali orang yang mau menyewa satu tempat khusus di area istimewa tersebut, yang kini sudah disewa oleh Val secara keseluruhan area. Tak perduli berapa banyak nominal yang harus Val gelontorkan hanya untuk sebuah privasi, yang ingin ia dapatkan saat ini.


♥♥♥♥♥


“Apa Nona sudah mengatakan kepada Tuan Alvarend atau Nyonya Muda Andrea jika anda tidak kembali ke Kediaman atau ke Perusahaan Utama?” tanya Achiel pada Nona Mudanya itu.


“Belum,” jawab Val, menanggapi pertanyaan Achiel barusan. Val kembali berjalan menyusuri tepian pantai dengan sesekali memainkan kakinya pada riak air yang menyapa kaki telanjang Val tersebut.


Achiel juga melangkahkan kakinya yang juga telanjang mengikuti sang Nona Muda, karena Val yang menyuruh untuk melepaskan sepatu yang pengawal pribadi khususnya kenakan itu saat ia telah berada di area tempat Val dan Achiel berada sekarang ini.


Meski Achiel sempat menolak keinginan Nona Mudanya itu. Namun ya itu, Val kemudian merajuk sekaligus merengek agar Achiel melepaskan sepatunya. Jadi Achiel akhirnya menuruti keinginan sang Nona Mudanya yang kadang labil itu, selain moody.


“Ya sudah sana kalau Kak Achiel tidak mau mengikuti ucapan aku. Nanti aku laporkan pada Dad R dan semua Dad atau juga Abang, kalau Kak Achiel tidak becus dalam bekerja. Lihat saja akan Val buat Kak Achiel jadi pengangguran tanpa masa depan.”


Juga hobi mengancam.


Dan jika berhubungan dengan pekerjaannya yang dapat dikatakan santai, walau kadang merepotkan menjaga satu Nona Muda yang mood-mood-an orangnya ini, Achiel pasrah.


‘Untung gue hanya kebagian menjaga Nona Muda Valera saat beliau sedang berada di Indonesia aja!’ batin Achiel. ‘Untung juga Nona Val ini selain cantik, juga baik dan royal sama gue...’


Jadi Achiel patuh pada ucapan Val yang disertai dengan sedikit ancaman itu. Meski sebenarnya hati kecil Achiel sih berkata jika Val tidak mungkin setega itu padanya, dengan memecatnya, entah dengan alasan apapun.


Namun tetap saja Achiel harus was-was. Karena Nona Muda Valera yang labil ini kan gampang berubah-ubah suasana hatinya. Kalau ucapannya yang mengandung ancaman tadi serius, bisa gaswat buat Achiel – pikir pengawal pribadi Val itu.


Kehilangan pekerjaan akan menyusahkannya pasti, kalau pikir Achiel. Belum lagi resiko jika dia mendapat rekomendasi buruk dari Val dan keluarganya. Pasti susah untuk mendapatkan pekerjaan dimana-mana. Akan Madesu pasti hidup Achiel, alias Masa Depan Suram.


Jadi lebih baik Achiel patuh saja lah pada Val. Toh hanya disuruh lepas sepatu sama kaos kaki aja, ga sampe harus lepas pakaian dan ganti pakai celana pantai bercorak hawai. Lagian juga enak banget udah kerjaannya sekarang, kalau menurut Achiel.


Hanya mengawal saja gajinya bahkan berkali lipat dari mereka yang harus menguras otak di kantoran. Tidak pernah ada kendala yang berarti dalam pekerjaannya saat ini. Selain Achiel memiliki kemampuan bela diri yang bagus, berikut ke-awasan mata selama ia bertugas mengawal baik Val, atau siapapun dalam kediaman utama The Adjieran Smith di Jakarta.


Tapi selama ini hanya ke-awasan mata dan kesigapan sikap saja yang Achiel lakukan , sementara ilmu bela dirinya belum pernah sekalipun ia gunakan selama ia bekerja dalam keluarga tersebut.


Kalau Nona Muda Valera sedang ada di Jakarta, barulah Achiel akan bekerja lebih ekstra. Bukan karena menggunakan ilmu bela dirinya, melainkan ilmu kesabaran seluas samudra dalam menghadapi Val.


Karena ada saja permintaan Val yang kadang konyol untuk Achiel lakukan.


Yang mana hal paling konyol menurut Achiel adalah, Val mengharuskannya mengganti warna rambut asal Val sedang berada di Indonesia.


Nona Mudanya itu menginginkan warna rambut Achiel berbeda dari sebelumnya saat Val berkunjung lagi ke Jakarta, dan Achiel pasti diminta Val, diharuskan Val untuk mendampinginya.


Seperti sekarang ini, saat tahu Val akan datang, setelah gadis itu sendiri yang langsung menghubunginya, meminta Achiel men-cat rambutnya dengan warna ungu muda seperti salah seorang rapper Korea.


Setelah sebelumnya Val menyuruh Achiel men-cat rambutnya dengan warna rambut merah seperti warna rambutnya Kang Chanyeol EXO.


Bukan karena Val itu fangirlnya para artis cowok K-Pop, melainkan karena menurut Val, wajah Achiel yang semi oriental berat ke artis korsel itu membuat Val gatal ingin melihat Achiel dengan beragam warna rambut macam para cowok K-Pop.


Karena selera Val, ya pastinya si AA Kafeel itu, yang tipe wajahnya mirip-mirip dengan Yigit Kozen alias Daddy R, keturki-turki-an campur muka-muka juragan onta arab.


♥♥♥♥♥


“Apa Nona sudah mengatakan kepada Tuan Alvarend atau Nyonya Muda Andrea jika anda tidak kembali ke Kediaman atau ke Perusahaan Utama?” ucap Achiel seraya bertanya.


“Belum,” jawab Val.


“Tidak usah,” sergah Val.


“Saya tidak ingin membuat kesalahan Nona---“


“Tidak apa-apa Kak Achiel.”


Val dengan segera memotong kalimat pengawal khususnya itu.


“Aku kan tidak sedang pergi ke Irak!” sambung Val dengan entengnya.


“Meski begitu Nona---“


“Sudah deh, Kak Achiel santai saja...” potong Val lagi. “Aku juga tidak akan selamanya berada disini...” sambung Val. “Aku juga akan kembali ke kediaman. Dan lagi ponselku, ponsel Kak Achiel, ponsel Ardi dan mobil yang Ardi kendarai juga sudah ada trackernya. Jika orang di kediaman penasaran tentang keberadaanku kan mereka sudah tahu aku dimana.”


“Baiklah Nona...”


Achiel memilih patuh saja pada Val.


“Kak Achiel...” panggil Val pada pengawal khususnya itu.


“Ya Nona?” jawab Achiel seraya lebih mendekat pada Val, yang mengkodenya untuk berjalan bersisian dengan Nona Mudanya itu.


“Kak Achiel pernah jatuh cinta?” tanya Val.


“Tidak pernah Nona.”


“Kenapa?... belum pernah ketemu sama wanita yang membuat jantung Kak Achiel berdebar tak karuan saat sejak pertama Kak Achiel melihatnya ya?...”


Achiel menggeleng. “Saya tidak percaya cinta pada lawan jenis Nona—“


“What?! Jadi Kak Achiel g*y?...” sambar Val dengan wajahnya yang nampak terkejut sampai menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Dimana Achiel juga sama terkejutnya dengan Val yang mengatakan jika dirinya itu seorang g*y.


“Saya normal Nona...”


Dan Achiel dengan cepat menepis dugaan Val.


“Maksud saya itu, saya tidak percaya sama hal yang namanya cinta antar pria dan wanita...”


Achiel menerangkan. Val pun manggut-manggut. “Oh aku kira Kak Achiel g*y...”


‘Sekate-kate!’


Achiel membatin seraya merutuk.


‘Adek kecil gue juga masih bangun kalo liat cewe seksi...’


“Terus kenapa Kak Achiel ga percaya pada cinta?” tanya Val kemudian.


“Ya ga percaya aja Nona. Selain itu saya juga ga mikirin soal pasangan hidup.”


Achiel menjawab santai, karena memang Achiel orang yang santai, namun tetap menjaga kesopanannya pada sang majikan mudanya itu.


“Mungkin karena Kak Achiel belum bertemu wanita yang tepat ya?, yang membuat Kak Achiel berdebar-debar saat pertama melihatnya, macam orang yang memiliki sakit jantung.”

__ADS_1


“Mungkin juga Nona...” kata Achiel dan Val menarik sudut bibirnya.


“Kalau menurut Kak Achiel, aku dan kak Kafeel memungkinkan untuk bersatu tidak?...”


Val bertanya seraya menoleh pada pengawal khususnya itu, yang nampak mengernyit. “Bukannya Nona dengan Tuan Kafeel sudah bersatu?”


Achiel berucap seraya bertanya.


“Kan tadi waktu di R. Corp. Nona Val bilang Tuan Kafeel pacar Nona?”


“Hemm... belum sih sebenarnya.”


Val menunjukkan rentetan giginya pada Achiel.


“Kak Kafeel itu cuek sekali sama Val, Kak,” ucap Val.


Achiel tak berkomentar.


“Padahal Val sudah sungguh-sungguh menunjukkan bahwa Val sangat mencintai Kak Kafeel...”


Val curcol pada Achiel. Dan Achiel masih diam saja.


“Tapi sepertinya belum cukup untuk meyakinkan Kak Kafeel.”


Val menghela nafasnya sejenak. Sedikit terdengar berat.


“Dan sekarang, Val sedang berpikir. Kalau Val harus memastikan perasaan Kak Kafeel pada Val, seperti sarannya Kak Drea...”


“.....”


“Kata Abang, Val jangan sampai mengejar hal yang tak pasti. Terus kata Kak Drea, untuk itu Val harus menanyakan langsung dengan serius tentang bagaimana sebenarnya perasaan Kak Kafeel pada Val... apa Kak Kafeel sebenarnya mencintai Val, tapi dia memiliki alasan tertentu tidak mau mengakuinya pada Val, atau mungkin Kak Kafeel sudah memiliki kekasih...”


“.....”


“Menurut Kak Achiel, Val harus bagaimana?...”


Val menoleh kan kepala seraya menghadapkan dirinya pada Achiel.


“Ya kalau menurut saya sih, benar itu sarannya Nyonya Muda Andrea. Nona Valera baiknya menanyakan langsung pada Tuan Kafeel bagaimana perasaan beliau pada Nona.”


“Tapi Val takut Kak Achiel...” sambar Val. “Val takut kalau Kak Kafeel mengatakan hal yang paling Val takutkan... kalau pada kenyataannya Kak Kafeel sudah memiliki kekasih, atau memiliki seseorang dalam hatinya, dan orang itu bukan Val...”


Val memaparkan kegundahan hatinya pada sang pengawal khususnya itu.


“Entah bagaimana nanti jadinya Val kalau seperti itu kenyataannya.”


“Ya maaf nih kalau saya boleh berkomentar...” ucap Achiel. “Tapi andainya itu terjadi, Nona Muda ya harus ikhlas...”


“Sepertinya itu sulit Kak...”


“Ya walaupun sulit, Nona Muda harus bisa menerimanya. Kan kalau ga salah ada ungkapan yang mengatakan kalau cinta itu, tidak harus memiliki.” Achiel kembali berkomentar.


“Gitu ya Kak?...” ucap Val seraya bertanya.


Achiel pun mengangguk.


“Ya kalau yang saya denger-denger ya begitu. Jodoh juga ga kemana kan Nona.”


“Iya sih memang...” tukas Val. “Tapi Val maunya Kak Kafeel yang jadi jodohnya Val...”


“Jodoh kan di tangan Tuhan, Nona...”


“Iya aku tahu soal itu...”


“Nah ya sudah, kalau begitu Nona baiknya tanyakan langsung pada Tuan Kafeel soal perasaan beliau yang sebenarnya pada Nona...”


Achiel menyampaikan pendapatnya lagi.


Val pun terdiam. Memandang pada Achiel, namun sebenarnya tak fokus memandang pada pengawal khususnya itu.


Val nampak sedang berpikir.


“Tapi disini kan jodoh bisa dipaksakan ya bukannya?”


“Maksud Nona?...”


“Di negara ini kan, sarat dengan yang namanya ilmu spiritual ya?”


‘Perasaan gue ga enak nih.’ Achiel sontak membatin.


“Apa itu, ilmu yang bisa membuat orang jatuh cinta pada kita?”


‘Aduh! Jangan bilang—‘ Achiel kembali membatin. Namun sebelum batinnya yang was-was itu lanjut berbisik.


“Ada kan cerita tentang ilmu itu di negeri ini?... nyata juga kan ya Kak?...”


“Ya—ada—“


“Ilmu apa itu namanya?... aku pernah membaca buku cerita tentang itu jika tidak salah...”


‘Duh ilah, orang bule kenapa bisa baca buku begituan sih?’


“Ilmu apa itu?. Peyek?...” kata Val sambil mengetuk-ngetuk pelan dagunya dengan telunjuknya.


“Pelet Nona. Peyek itu makanan...” ralat Achiel.


Val manggut-manggut.


“Ah, iya itu...”


Val segera menyambar.


“Ayo Kak!” Lalu mengajak Achiel dengan bersemangat.


“Kemana Nona?” tanya Achiel. “Pulang?...” sambung Achiel.


“Bukan,” jawab Val.


“Ke Mal?” tanya Achiel lagi dan Val menggeleng.


“Temani aku mencari orang yang bisa ilmu yang bisa membuat orang jatuh cinta itu...” kata Val sembari memainkan alisnya memandang pada Achiel.


‘Demi tuyul yang masih kecil udah bisa cari duit. Masa iya gue anterin Nona Muda Valera ziarah ke gunung terus nemuin dukun pelet??!!...’


*

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2