
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Dihidupku yang tidak pernah aku rasa membosankan karena aku memiliki keluarga yang luar biasa amazing-nya bagiku ini, aku dipertemukan Tuhan oleh seseorang yang disaat pertama aku melihatnya, aku rasakan matahari yang ada di langit saat itu, menyorot pada satu sosok tersebut.
Menjadikannya terlihat begitu bersinar terang.
Di mataku.
Kak Kafeel namanya, yang Mika beritahukan padaku saat itu.
Kafeel Adiwangsa, lengkapnya.
Salah satu anak dari salah satu kerabat dekat keluargaku.
Salah satu anak dari salah satu kerabat dekat keluargaku yang sungguh dapat mengalihkan pandanganku, bahkan duniaku, ke satu sosok itu.
Padahal banyak juga pria-pria ragam usia anak dari para kerabat keluargaku, yang tak kalah tampannya dengan Kak Kafeel.
Tapi hanya satu sosok Kafeel Adiwangsa saja yang mampu menggetarkan hati dan jiwaku.
Satu sosok yang membuat setiap anggota keluargaku mengangkat alis mereka, kala aku mengatakan,
“Val mau dia jadi pendamping hidup Val!”
Lalu,
“Wow!”
“Wuih, Electra Complex!”
“Yakin Val?”
Celetukan-celetukan semacam itu yang keluar dari mulut para anggota keluargaku, saat aku telah memutuskan jika Kafeel Adiwangsa adalah pria yang aku inginkan dalam hidupku.
Tak heran sih, jika keluargaku itu tampak terheran-heran atas keputusanku yang memilih Kak Kafeel menjadi pria yang aku inginkan dalam hidupku.
Pasalnya, kala itu usiaku masih sekitar 14 atau 15 tahun.
Dan Kak Kafeel telah mencapai usia seumur Abang Varen.
“Are you crazy?!”
Pertanyaan itu juga tercetus untukku.
Iya memang. Memang aku se-crazy itu.
Jatuh hati pada seorang pria yang seusia Abang, dimana telah mencapai usia matang.
‘Electra Complex.’
Mungkin memang aku mengidap sindrom itu.
Sindrom ketertarikan pada seseorang yang jauh terpaut usia diatasku.
Yang mungkin aku miliki, karena aku terlalu mengagumi para pria-pria dewasa dalam keluargaku.
Gappa, para Dads, serta Abang dan Kak Tan-Tan, yang memiliki pesona mereka masing-masing.
Jadi mungkin itu yang mempelopori mengapa aku menyukai Kak Kafeel yang hitungannya adalah pria dewasa juga saat aku berjumpa dengannya di kapal pesiar keluargaku dalam acara liburan besar-besaran kami kala itu.
Lalu kenapa?.
Daripada aku jatuh cinta pada pria yang seusia dengan para Dad-ku?.
Bisa jadi Sugar Baby dong aku?.
Ih amit-amit, coy-coy!.
Bisa-bisa aku dicekik Dad R kalau sampai itu terjadi.
Atau ditenggelamkan Abang dalam kolam, dengan tubuhku yang terbalut rantai besi.
Ugh, mengerikan!.
Itu pasti akan menimpaku, bila aku menjadi Sugar Baby.
Mengingat cerita tentang para pria dikeluargaku itu yang memiliki ‘sisi lain’ dalam diri mereka.
Aku tahu hal itu. Kak Tan-Tan pernah mendongengkan kami cerita-cerita tentang para Dad dan Abang, saat mereka menjadi ‘gila’ karena keselamatan kami terancam.
Kak Kafeel juga pernah sekali terlibat dengan beberapa Dad-ku dalam suatu misi pembalasan.
Apa Kak Kafeel juga memiliki ‘sisi lain’ seperti para pria-pria dalam keluargaku?.
Entahlah.
Pun, aku tidak perduli.
Aku bahkan tidak perduli jika para pria-pria dalam keluarga itu memiliki setengah jiwa Psychopath dalam diri mereka.
Yang penting mereka menyayangi aku. Menyayangi dan mengasihi keluarga kami sepenuh hati. Dan ‘sisi lain’ itu hanya akan muncul jika kami semua, yang para pria-pria dalam keluarga kami cintai terancam keselamatannya.
Untuk itu, aku pun tidak perduli jika Kak Kafeel memiliki juga ‘sisi lain’ seperti para pria-pria kesayanganku itu.
Yang aku perdulikan sejak dimana aku melihat Kak Kafeel yang ternyata tahu tentang diriku dan pernah bertemu saat aku masih kecil adalah, bagaimana caraku menarik perhatian Kak Kafeel.
Membuatnya terpikat padaku.
Mencintaiku.
Cinta yang dianggap orang-orang hanya sebagai Euphoria masa remajaku.
Yang mana dulu, aku pun merasa seperti itu. Namun nyatanya tidak.
Waktu bergulir.
Dan hingga sampai aku hendak mencapai usia 18 tahun saat ini, ketertarikanku pada Kak Kafeel tak sedikitpun berubah.
Setiap detiknya, malah aku merasakan jika perasaanku semakin dalam pada Kak Kafeel. Mencintai Kak Kafeel sebegitunya, hingga aku mengenyampingkan semua rasa malu dalam diriku. Mengejar Kak Kafeel tanpa jeda, mencecarnya dengan chat dan sambungan telepon, menempel padanya jika kami bertemu tanpa sedikitpun melepaskannya.
Hingga sebutan ulat bulu, tersemat padaku dari para anggota keluargaku.
Masa bodoh deh aku. Aku juga mau upgrade dari ulat bulu menjadi gecko, alias tokek jika berdekatan dengan Kak Kafeel.
Yang konon katanya hanya akan bisa pergi dari orang yang ditempelinya, saat ada halilintar.
Bagus bukan?.
Jika sedang tidak musim hujan, berarti aku akan menempel pada Kak Kafeel tanpa adanya gangguan, karena halilintar kan tidak ada saat hari cerah atau panas.
Gila kan aku? Sebegitunya aku mencintai seorang Kafeel Adiwangsa.
Dicap sebagai wanita kelewat centil atau tidak tahu malu pun aku tidak perduli.
Baik oleh keluargaku ataupun orang lain.
Tidak aku ambil hati.
Karena aku tidak perduli.
Di otakku hanya ada Kak Kafeel, Kak Kafeel dan Kak Kafeel.
Meski juga sih, keluargaku memang tidak serius mengataiku.
Mereka hanya akan mengataiku, saat kami sedang mengobrol ringan dan bersenda gurau. Karena di dalam keluarga kami, tidak ada yang akan saling menjatuhkan, hanya saling mengingatkan.
Menasehati.
Nasehat, yang pada akhirnya aku sangat dengarkan setelah sekian lama.
Bukannya selama ini aku tidak mendengarkan nasehat dari keluargaku. Aku mendengarkan nasehat-nasehat mereka kok.
Namun, nasehat yang berhubungan dengan Kak Kafeel, kala aku rasa itu bertentangan dengan hatiku-bukannya aku abaikan-aku pending dulu untuk aku pikirkan.
Aku sedang buta atas cintaku pada Kak Kafeel.
Sampai detik sih masih begitu.
Hanya saja, pada akhirnya hati dan otakku mulai memikirkan nasehat-nasehat itu.
Nasehat-nasehat yang pernah aku pending untuk aku fokus pikirkan. Dimana sekarang, entah kenapa otak dan hatiku jadi mengingat dan memikirkannya.
__ADS_1
Aku yang selalu maju dengan bersemangat untuk mendekati Kak Kafeel tanpa ragu, tanpa malu.
Otakku selalu berpikir untuk bagaimana menjadikan Kak Kafeel milikku.
Sering sekali menyatakan cinta pada Kak Kafeel pujaan hatiku itu.
Tanpa aku memikirkan perasaannya padaku.
Tanpa berpikir, jika Kak Kafeel mungkin saja terganggu dengan sikapku yang mendekatinya selama ini.
Ya, selama ini aku tidak memikirkan itu.
Selama ini aku hanya fokus untuk menarik perhatian Kak Kafeel untuk membuatnya terpikat padaku.
Meskipun jika aku membahas padanya sesekali, kapan aku dan Kak Kafeel bisa pacaran, Kak Kafeel akan mengalihkan pembicaraan, dengan beragam cara.
Tapi aku, tetap santai saja.
Tidak aku perdulikan sekali hal itu.
Tapi sekarang, aku merasa miris jika mengingatnya.
Mengingat juga, salah seorang anggota keluargaku yang mengatakan,
“Val jangan egois. Val juga harus memikirkan perasaan Kak Kafeel dengan sikap kamu itu.”
Iya juga sih, aku memang tidak pernah menanyakan apa Kak Kafeel merasa keberatan atau terganggu atau tidak dengan berlebihannya sikapku yang mendekatinya, guna mendapatkan perhatian dan cinta seorang Kafeel Adiwangsa.
Lalu Abang bilang,
“Jangan mengejar yang tak pasti.”
Dimana otakku jadi berpikir semakin keras, untuk sikapku pada Kak Kafeel kedepannya.
Membuat otak dan hatiku seolah berperang untuk mengambil keputusan, apa iya sudah waktunya aku serius menanyakan pada Kak Kafeel tentang perasaannya padaku, bagaimana dia menganggapku.
Apa aku sudah mulai lelah mengejarnya?.
Bukan sih, bukan itu penyebabnya. Alasan, mengapa aku enggan untuk serius menanyakan perasaannya padaku.
Bukan juga aku tidak pernah memikirkan untuk melakukan hal itu sebelumnya.
Aku sudah pernah memikirkan hal tersebut.
Untuk menanyakan dengan serius tentang perasaan Kak Kafeel padaku.
Tapi selalu aku kesampingkan selama ini. Selalu terus aku tepiskan, walau sudah akhir-akhir ini sering kupikirkan.
Namun tidak pernah aku wujudkan, untuk menanyakan hal itu pada Kak Kafeel. Karena aku ...
Takut!.
Aku takut untuk bertanya,
“Kak Kafeel punya kekasih?”
Atau,
“Apa ada seorang wanita yang Kak Kafeel cintai dalam hati Kakak, dan wanita itu bukan Val?”
Dan jawaban Kak Kafeel adalah, “Iya.”
Makanya aku takut untuk bertanya guna memastikan.
Aku takut jika hatiku-yang dengan jantung dan lutut yang seolah lemas jika Kak Kafeel sedang tersenyum padaku itu-menjadi luluh lantak.
Jika hal yang aku takutkan itu benar. Jika Kak Kafeel sebenarnya telah memiliki kekasih, atau ternyata ada wanita lain yang ia cintai.
Selain aku.
Andai itu benar, lalu bagaimana hatiku nanti?.
Namun ucapan Kak Achiel-Bodyguard Khusus-ku, menggugah juga hatiku.
“Cinta tidak harus memiliki.”
Dan kalimat dari Kak Achiel itu, semakin mempengaruhiku untuk mengambil keputusan yang selama ini sulit untuk aku lakukan.
Dengan serius.
Yang pada akhirnya, hal itu aku lakukan juga saat ini.
Menanyakan pada Kak Kafeel tentang bagaimana sebenar-benarnya perasaan Kak Kafeel padaku, dengan beribu kekhawatiran berikut ketakutan yang menyelimuti hatiku.
Kekhawatiran atas ketakutan, jika Kak Kafeel mengatakan,
“Maaf Val, bagi Kakak, kamu hanya sebagai seorang adik saja, karena Kakak sudah mencintai orang lain.”
Dan jika jawaban itu yang keluar dari mulut Kak Kafeel, pasti akan gelap duniaku. Serta hatiku, akan seperti tempat-tempat yang tersapu tsunami.
Luluh lantak, tak berbentuk.
Ah Tuhan, membayangkannya saja, dadaku sudah terasa sesak.
Tapi ucapan Kak Achiel yang lain, membuatku tepekur.
“Ada saat untuk berharap, dan ada saat untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, tapi juga ada masa untuk mengikhlaskan.”
Kalimat yang seolah mengetuk hatiku, untuk tidak lagi menunda untuk bertanya dengan serius tentang perasaan Kak Kafeel padaku.
Terlepas, siap atau tidaknya hati dan diriku, jika jawaban Kak Kafeel memanglah hal yang menyakitkan untuk aku dengar nanti.
Hal yang sangat aku takutkan.
Tapi aku butuh kepastian bukan?.
Entah jika kepastian yang aku dapat dari Kak Kafeel akan membuat porak poranda hatiku macam kapal Titanic yang menabrak gunung es di lepas pantai Newfoundland.
Tapi aku harus berani sekarang. Berani untuk bertanya pada Kak Kafeel tentang apa yang ia rasa di hatinya padaku.
Bagaimana pun nanti hasilnya, apapun jawaban Kak Kafeel.
Yang jelas, aku akan terus mencintainya, walau jika jawaban Kak Kafeel adalah hal yang menyakitkan bagiku.
Karena cintaku terlalu dalam. Hatiku sudah terlanjur diselimuti namanya dengan penuh, tanpa sedikitpun yang terlewat.
Aku mencintai Kak Kafeel, meski nantinya kenyataan yang aku terima dari Kak Kafeel adalah kebalikan dari perasaanku.
Mungkin, sudah takdirku.
Mengagumi tanpa dicintai.
Mau dibilang apa?.
Benar kan kata Kak Achiel, jika cinta itu tidak selalunya harus memiliki?.
Yah, mungkin aku harus berlapang dada, jika cintaku tak berbalas, jika Kak Kafeel adalah ‘Kasih Tak Sampai’ untukku.
Atau aku bak pungguk yang merindukan bulan.
Tak mengapalah, asalkan Kak Kafeel bahagia dalam hidupnya.
Walau Kak Kafeel dan cintanya, hanya akan selamanya jadi impianku saja.
Dan saat ini aku telah menguatkan diriku untuk bertanya pada Kak Kafeel dengan sangat serius.
♥♥♥♥
“Perasaan Kak Kafeel yang sesungguhnya pada Val, seperti apa? ..”
“Kalau Kakak boleh tahu, kenapa Val tiba-tiba bicara serius seperti ini? ..”
“Karena Val benar-benar mencintai Kak Kafeel.”
---
“Tapi intinya Kak Kafeel tidak percaya kan dengan perasaan Val ke Kakak?”
“Bukan seperti itu Val. Hanya ....”
“Karena di mata Kak Kafeel, Val hanya seorang gadis kecil yang naif soal cinta—“
---
__ADS_1
“Val cinta sama Kak Kafeel setulus hati... tapi kini Val sadar, jika cinta tidak harus memiliki...”
“...”
“Val akan mencoba melepaskan perasaan Val pada Kak Kafeel ..”
“...”
“Kak Kafeel bisa merasa tenang, karena ulat bulu ini tidak akan menempel lagi pada Kak Kafeel...”
---
“Kini Val tahu, jika Kak Kafeel tidak akan pernah bisa Val miliki ... Val akan belajar untuk perlahan melepaskan jeratan cinta konyol Val pada Kakak...”
“Tidak boleh!”
---
“Kalau Val ingin menjauhi Kakak dan juga menjaga jarak, rasanya Kakak akan kehilangan ..”
“Kak Kafeel jangan memaksakan diri untuk membesarkan hati Val ..”
---
“Sudah ya Kak... Val sudah tahu ujungnya pembicaraan kita ini.”
---
“Aku menyayangi kamu, Val .....”
“Iya, Val tahu itu. Kak Kafeel menyayangi Val seperti seorang kakak pada adiknya bukan?...”
“Bukan!”
---
“Yang Kakak rasa ke kamu, bukan seperti rasa sayang seorang kakak lelaki pada adik perempuannya.”
“...”
“Rasa sayang Kakak ke kamu lebih dalam dari itu.”
“ Apa maksud Kak Kafeel itu, Kakak memiliki perasaan sebagaimana perasaan seorang pria pada seorang wanita? ...”
“Jangan membuat Val membenci Kak Kafeel, karena Kakak mengasihani Val ....”
“........”
“Please, don’t ....”
♥♥♥♥
Setelah percakapan panjangku dengan Kak Kafeel yang mana hatiku aku rasa sudah tak karuan, aku hendak pergi dari hadapan Kak Kafeel setelah aku melirih, sekaligus mengiba padanya.
Mengiba agar Kak Kafeel jangan mengasihaniku, atas cinta dan pengharapanku padanya. Karena hatiku terasa lebih sakit, jika dikasihani seperti itu.
Aku hampir terbang tinggi, saat mendengar Kak Kafeel mengatakan jika rasa yang ia punya untukku, bukan seperti rasa sayang seorang kakak lelaki pada adik perempuannya.
Namun seketika aku sadar akan sesuatu yang berhubungan dengan ucapan Kak Kafeel yang itu padaku. Aku berpikir, jika itu adalah karena ia merasa iba padaku.
Padaku, yang mungkin saja terlihat menyedihkan di mata Kak Kafeel, karena begitu mengejar-ngejar dirinya.
Mungkin juga, Kak Kafeel merasa tidak enak pada keluargaku, karena ada satu gadis menyedihkan-padahal keluarganya begitu hebat-yang begitu mengemis cinta pada dirinya, mengejarnya tanpa jeda, tanpa malu..
Yah, mungkin.
Mungkin Kak Kafeel berpikir begitu, karena merasa punya hutang budi dan nyawa pada beberapa Dad-ku.
Dan bila memang seperti itu, betapa semakin menyedihkan-nya aku.
Iya kan? ....
Karena itu aku tak mau.
Aku tak mau dikasihani oleh Kak Kafeel.
Makanya aku sedikit geram, sampai sempat berbicara dengan suaraku yang agak sedikit meninggi pada Kak Kafeel.
Selain aku sedih juga, sih.
♥♥♥♥
Aku mungkin naif, tapi aku memiliki prinsip.
Aku benci dikasihani.
Terlebih dikasihani atas cintaku oleh Kak Kafeel.
Apalagi oleh Kak Kafeel sendiri.
Jadi, aku putuskan, untuk benar-benar berhenti, jika memang seperti itu adanya.
Lebih baik aku sakit hati karena harus melepaskan harapanku pada Kak Kafeel, daripada bisa memilikinya, bersamanya hanya berdasar rasa kasihan.
Tidak, aku tidak mau.
Jadi aku katakan pada Kak Kafeel,
“Jangan mengasihani Val!”
Aku berseru seperti itu pada Kak Kafeel, diantara sedih dan kesalku.
“Don’t Kak. Jangan pada akhirnya Kakak menerima Val dalam hidup Kakak, berdasarkan rasa kasihan ... Jangan membuat Val membenci Kak Kafeel, karena Kakak mengasihani Val...”
Air mataku sudah mulai berjatuhan. Aku sudah tak tahan, hatiku sudah rasanya tak karuan.
Bagaimana nanti setelah ini aku bersikap pada Kak Kafeel, biar nanti aku pikirkan lagi.
Sekarang ini, aku hanya ingin pergi dari hadapan Kak Kafeel, agar tak lagi dia mengasihani diriku.
Agar tidak sampai aku membencinya karena itu.
Jadi aku menggerakkan kakiku, untuk memalingkan diri ini yang sedang berhadapan dengannya.
Dengan Kak Kafeel-ku, yang menatapku dengan sorot mata, yang entahlah seperti apa. Tidak dapat aku perhatikan jelas, karena mataku terhalang oleh airmata.
“Please, don’t..” kataku, lalu memalingkan wajahku, sembari menggerakkan kakiku untuk pergi dari hadapan Kak Kafeel. Namun, kakiku tak sukses melangkah, tubuhku tertahan karena cekalan di pergelangan tanganku untuk yang kedua kalinya.
Kak Kafeel sekali lagi menahan langkahku, setelah sebelumnya tadi juga aku sudah sempat mengajaknya untuk meninggalkan restoran dengan view langsung pada pantai, setelah aku mengatakan untuk menyudahi pembicaraan kami. Tapi cengkraman tangan Kak Kafeel di pergelangan tanganku sekarang ini, sedikit lebih kuat dari yang sebelumnya.
Yang mana, saat tanganku dicekal lagi, tubuhku juga terasa tertarik dengan cepat sampai aku kembali berbalik kearah dimana tadi aku menghadap sebelum aku berpaling dari Kak Kafeel. Hanya se per sekian detik, dari cekalan ditangan, dan tubuhku yang tertarik. Sampai pada akhirnya tanganku terbebas dari cekalan tangan Kak Kafeel, yang dengan cepat sudah menangkap wajahku.
Dan tanpa menunggu detik berlalu,
Cup!.
Bibirku .. Bibirku ..
Menempel dengan bibir Kak Kafeel...
Ini.. Ini..
“Apa itu cukup menjelaskan bagaimana perasaan Kakak pada Val?...”
Kudengar suara Kak Kafeel berucap dengan lembutnya, dengan wajahnya yang begitu sangat dekat dengan wajahku, hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku.
Aku membatu.
Shock lebih tepatnya.
Aku .. Aku ..
“Val!”
Kudengar Kak Kafeel berseru.
Disaat yang sama, dimana lututku seolah lepas tempurungnya.
*
To be continue ...
__ADS_1