
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Episode sebelumnya :
SIN...
“Awas ah!---“
Mika mendorong tubuh Arya yang sedikit menghalangi jalannya itu, dengan mengabaikan ledekan Arya sebelumnya.
“Peyuk duyu peyuk.” Arya masih betah menggoda Mika. “AA Arya belom dapet peyukan good night dari Dek Mika kan?..”
Dan lagi – lagi Mika mendelik tajam pada Arya. “Jijik gue sumpah!”
Membuat Arya terkekeh geli karena melihat wajah sebal Mika.
“Jangan diganggu terus dedek Mikanya, Arya.” celetuk Aunt Shireen yang berjalan di depan Arya dan Mika, dimana Arya terus saja mengganggu Mika yang sudah berjalan mengekori Aunt Shireen, yang tinggal sendirian, karena Uncle Rico sedang menerima panggilan telepon di ujung lorong.
“Tuh dengerin!-“
Mika menimpali ucapan Aunt Shireen. Namun kemudian Mika dibuat melotot oleh Aunt Shireen karena ucapan ibu kandung Arya yang bilang,
“Kalo serius nembaknya yang bener.”
“Siap 86!” sahut Arya cepat lalu terkekeh.
Lalu Mika dibuat makin melotot dan melongo, kala Aunt Shireen berucap lagi.
“Kalo lebih serius lagi, nanti sampai Jakarta langsung temuin Uncle Dewa sama Aunt Ichel ---“
“Apa??----“
“Nah Dek Mika, siap – siap gue lamar!”
♥♥♥
Mika melotot pada Arya yang lagi-lagi menjegal langkahnya ketika Aunt Shireen sudah belok ke lorong kamarnya.
Dimana Arya kembali lagi juga menggoda Mika. “Mau kan gue lamar?---“
“Ogah banget!” Sewot Mika yang membuat Arya terkekeh.
“Ya udah kita pacaran dulu kalo gitu.” Goda Arya lagi.
“Timpuk sendal nih ya?!..”
“Tadi katanya cium? ----“
Arya menukas ucapan Mika sambil memainkan alisnya, begitu nampak menyebalkan bagi Mika.
“Iya cium sendal gue! Mau?!..” ketus Mika. “Atau cium ketiak gue nih sekalian? Mau lo?!”
“Boleh sebagai permulaan!”
“Dasar Sadboy gila!”
Mika menggerutu tajam, tapi Arya malah tergelak.
“Dah Awas!”
Mika berucap ketus sambil mendorong tubuh Arya yang sedang tergelak itu.
♥♥♥
Setelah berhasil hengkang dari Arya dan godaan pria itu yang lebih tepat dikatakan sebagai ledekan - dan Mika merutuki habis – habisan keisengan si Sadboy padanya yang membuatnya kesal tak berkesudahan itu, Mika segera melangkahkan kaki menuju lift untuk sampai ke lantai tempat dimana kamarnya berada dalam hotel tempatnya menginap bersama keluarga di SIN.
Lantai tempat Mika dan para saudara – saudarinya berada itu, ada di satu lantai di bawah lantai yang terdapat kamar para orang tua, serta para kerabat yang jauh lebih dewasa usia, termasuk para tetua dan tiga kakak serta satu kakak ipar.
Sementara Mika dan para saudara – saudarinya, berikut anak – anak para kerabat yang lain, menempati kamar – kamar yang berada di lantai bawah kamar – kamar para orang dewasa tersebut. Dikarenakan dua lantai yang khusus di sewa oleh keluarga Mika itu adalah dua lantai paling eksklusif pada hotel tempat mereka menginap, jadi unit - unit kamar di dua lantai itu tidak terlalu banyak, namun setiap kamar sangat luas ukurannya.
Lalu banyak kerabat yang ikut menginap juga, jadilah anak – anak seperti Mika disewakan kamar – kamar di lantai yang berbeda, namun sama eksklusifnya seperti kamar – kamar yang ditempati para orang tua dan tetua.
♥♥♥
“Good evening Miss Mikhaela ( Selamat malam Nona Mikhaela) --”
Dua pria berbadan tegap yang berdiri sigap di kanan dan kiri lift yang Mika gunakan, langsung menyapa Mika saat ia keluar dari dalam lift.
“Good evening, Bram, Ab –“
Mika membalas sapaan dua orang tersebut dengan santun.
“This is your key, Miss ( Ini kunci anda, Nona )” salah seorang pria yang adalah bodyguard itu memberikan benda pipih berbentuk kartu pada Mika.
“Thanks, Ab –“
“You are very welcome, Miss Mikhaela ( Terima kasih kembali, Nona Mikaela )..”
“Excuse me, then ( Aku permisi, kalau begitu )” ucap Mika pada dua bodyguard tersebut, setelah ia menerima benda pipih berbentuk kartu yang merupakan kunci akses kamarnya dari salah satu bodyguard yang Mika panggil dengan Ab.
Mika pun langsung berjalan menuju kamar hotel yang ia tempati bersama Val. Namun kemudian Mika mengernyit kala ia sudah hampir mencapai kamar hotel yang ia tempati bersama Val. “Eh?” gumam Mika, saat melihat ada seseorang yang berada di depan kamar hotel yang ia tempati bersama Val itu.
Mika pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri orang yang berdiri di depan pintu kamar hotel yang ditempatinya bersama Val tersebut.
“Kak Kafeel?... Kenapa Kak?” tanya Mika pada orang yang berdiri di depan pintu kamar hotelnya dan Val itu, yang mana adalah Kafeel, yang nampak kebingungan.
__ADS_1
“Ah Mika! Kebetulan.”
“Kak Kafeel di depan sini.... Val ada di dalam?—“
Pertanyaan Mika dijawab Kafeel dengan anggukan.
“Iya.”
Sahutan dari mulut Kafeel menyusul.
“Kakak dikunciin gitu?”
“Begitulah..” Kafeel menjawab dengan wajahnya yang sedikit memelas.
“Duh kasihan—“
Mika berucap sambil tersenyum geli.
“Tega sekali itu si ulat bulu sama calon suaminya.”
“Emang.” Sahut Kafeel. Lalu ia dan Mika terkekeh bersamaan.
Mika kemudian mengeluarkan kartu akses masuk kamar dari saku celananya, setelah seorang bodyguard yang bertugas di lantai hotel tempat kamar – kamar yang ditempati Mika dan para saudara – saudarinya, memberikan kartu akses tersebut pada Mika.
“Minta tolong bilangin Val aku disini ya Mi?”
“Nih Kak Kafeel masuk aja!”
Mika memberikan kartu akses kamarnya pada Kafeel.
“Ya udah sama kamu masuknya.” Ucap Kafeel.
Mika tersenyum pada Kafeel. “Ga apa, Kak Kafeel masuk aja, aku biar ke kamar Isha dulu.” Ucap Mika kemudian. “Si ulat bulu kalo ngambek lama loh, kalo dibaik – baikinnya lama ..” tambah Mika.
Kafeel mengangguk sambil ia menerima kartu akses yang disodorkan Mika padanya.
“Makasih ya Mi ..” ucap Kafeel.
“Sama – sama Kak ..” Mika berucap dan tersenyum pada Kafeel. “Ya udah ya Kak, aku ke kamar Isha, Aina dan Ann dulu –“
“Nanti Kakak minta Val samperin kamu ke kamar tiga cewe itu kalau aku udah selesai bujuk dia ya?”
“Santai Kak. Take your time.”
Mika tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan lengan Kafeel.
Kafeel balas tersenyum pada Mika.
“Nite Kak Kaf-“
Kafeel menjawab ucapan selamat malam Mika.
Dan Mika kemudian berlalu dari hadapan Kafeel.
♥♥♥
Kafeel langsung masuk ke kamar hotel yang di tempati Mika dan Val selepas kepergian si gadis judes namun selalu ramah padanya.
Kafeel masuk dengan perlahan ke dalam kamar hotel Mika dan Val, lalu memanggil Val dengan pelan.
“Val?-“ panggil Kafeel setelah pintu kamar tertutup otomatis.
Namun di detik berikutnya Kafeel mendengus geli saat matanya menangkap suatu pemandangan di atas sofa panjang.
‘Dikirain ngambek berkepanjangan kayak apa, taunya tidur!’
Kafeel geleng-geleng saja melihat orang yang ia pikir sedang begitu kesal padanya-hingga Kafeel sampai memutar otaknya dengan keras untuk membuat kata-kata rayuan yang sekiranya mengena untuk meluluhkan hati seseorang yang sedang tertidur di sofa itu sampai-sampai ia dibiarkan cukup lama berdiri di depan pintu kamar hotel tadi, eh taunya orangnya malah tidur!
‘Val... Val...’
Untung cinta ya, A’?...
^0^
Lalu Kafeel yang tak tega melihat orang yang tertidur di sofa itu-yang mana adalah sang kekasih kecilnya Kafeel, ia pun berniat memindahkan Val dari sofa ke atas ranjang.
Dan alih – alih Val terbangun saat ia pindahkan, nyatanya kekasih kecilnya itu bergeming dalam tidurnya. Cakep-cakep kebluk tidurnya!
♥♥♥
Beberapa saat kemudian...
Dia yang enak-enakan tidur akibat kekenyangan sampai-sampai orang yang ingin membujuk rayunya kesemutan di depan pintu kamar hotel, menampakkan pergerakan yang mengarah pada siuman, atau cuma mendusin atau melindur? ...
Entahlah, yang jelas Kafeel hanya diam saja dulu memperhatikan dia yang terdengar komat-kamit pelan di atas ranjang, yang wajahnya samar terlihat karena temaram penerangan.
Dimana hal itu memang sengaja Kafeel lakukan, agar tidur sang kekasih kecilnya menjadi nyaman jika keadaan kamar tidak terlalu terang.
Sungguh pacar, eh calon suami yang pengertian.
Tidak ada gurat marah sama sekali di wajah Kafeel meski ia dibiarkan Val menunggu di luar kamar, karena ditinggal tidur, padahal Kafeel sudah merangkai kata – kata rayuan dengan sangat mempersiapkan, belum lagi kakinya yang kesemutan, dan jarinya yang kebas ngetokin pintu kamar hotel sebelum ia bertemu dengan Mika.
“Seingatku, saat ketiduran, aku sedang berada di sofa tadi?... Kenapa sekarang aku sudah berada di atas ranjang?”
Seseorang yang baru saja mendusin dari tidurnya itu bergumam di atas ranjang tempatnya berada sekarang.
Dan Kafeel tersenyum saja dari tempatnya melihat gerak-gerik seseorang yang adalah kekasih kecilnya itu.
__ADS_1
“Tadi kan Kak Kafeel ada di depan kamar ya .. Dia masih ada disana atau tidak ya?---“
“Udah ga ada di depan kamar ini orangnya ....”
Sebuah suara bariton menanggapi ucapan Val. Suara Bariton yang Val kenali dengan sangat tentunya. Bahkan suara nafasnya saja Val kenali dengan sangat, saking begitu mengenali sosok pemilik suara bariton yang barusan bersuara menyahuti ucapan Val.
“Soalnya udah masuk –“
Dan suara bariton itu terdengar lagi, berikut sosoknya yang sudah mulai Val jelas lihat karena sudah berada didekatnya.
“Kak, Kak Kafeel?? -“ sambar Val, saat wajah Kafeel sudah lebih jelas ia lihat sekarang.
Lalu ia yang Val sebut namanya kemudian duduk di pinggir ranjang, kemudian menatap pada Val.
“Kok bisa masuk?...”
“Dikasih kartu aksesnya sama Mika –“
“Lalu Mikanya, mana?-“
Val sedikit tergugu.
“Di kamar Isha.” Jawab Kafeel tenang dan tangannya terulur ke wajah Val, lalu merapihkan rambut Val yang sedikit berantakan.
“Jadi, disini hanya kita berdua?..” tanya Val ragu –ragu.
Kafeel mengangguk dan mendekatkan wajahnya pada Val, hingga Val jadi deg-degan, dan membuat otaknya jadi berpikir yang iya-iya.
‘Oh ya Tuhan, apakah aku akan jadi di iya – iya oleh Kak Kafeel??...’ batin Val.
“Maaf ya?..”
Kafeel mengecup kening Val setelah ia berucap barusan.
Val mematung, sambil menatap gimana gitu pada Kafeel.
Kemudian Val memejamkan matanya.
‘Oh Ya Tuhan, sesungguhnya Engkau tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya..’ batin Val yang dag-dig-dug ketika kecupan Kafeel tidak hanya di keningnya saja. ‘Karena sesungguhnya Val tidak sanggup menolak godaan makhlukmu yang paling sexy di mataku, yang sedang berada didepanku ini kalau dia mengajak itu ..’
Dan pikiran Val yang sedang melanglang buana itu terhenti saat kecupan Kafeel dirasa Val berhenti dan Val pun membuka matanya perlahan.
“Maafin kalau Val rasa Kakak cuekin Val ..” ucap Kafeel.
Sambil Kafeel tersenyum pada Val.
“Aku ga ada maksud cuekin kamu.”
Lalu Kafeel menangkup wajah Val sembari menatap wajah kekasih kecilnya itu lekat – lekat.
“Tadi aku udah niat mau hubungi kamu dan tanya dimana kamu terus aku susul setelah aku selesai dengan Alva dan minta ijin sama Abang kamu itu, tapi taunya ada insiden kamu dan saudara saudari kamu dengan empat anak yang dihajar Ann. Waktu aku mau ikut jemput, Alva bilang aku stay aja-“
Kafeel menjeda sesaat lalu memandangi Val seraya ia tersenyum.
“Pengen aku bantah, tapi aku lihat empat Dad kamu sedang serius mukanya, jadi aku pikir aku mengikuti apa yang Alva bilang, karena masalahnya bukan hanya ada pada kamu, jadi aku ga mau terlalu masuk campur .. jadi maaf kalau kamu marah karena itu ..”
“Iya, Val mengerti ..”
“Kedua saat kamu kembali tadi, bukan juga aku tidak mau membela kamu yang sedang dimarahi oleh empat Daddy kamu. Tapi aku sekali lagi merasa tidak etis untuk masuk campur, karena itu menyangkut Mika dan lainnya ..”
Val mengangguk.
“Dan terakhir, saat kamu sedang makan tadi, aku sedang mengurus segala hal yang berhubungan dengan insiden kamu dan saudara – saudari kamu itu bersama Alva, Ammar dan Achiel .. Takutnya ada hal yang memberatkan kalian, terlebih Aro. Jadi aku dan mereka memastikan semuanya berjalan kondusif. Jadi maaf kalau aku terkesan masa bodoh sama kamu sejak tadi ..“
Val mengangguk dua kali.
“Maaf ya? ..”
“Iya-“
“Jangan marah lagi ya?”
Kafeel menelisik.
Val pun tersenyum dan mengangguk.
“Iya-“ Val menyahut kemudian.
Kafeel tersenyum lebar sembari menatap Val yang juga sama tersenyum dan menatapnya.
“Val ..”
Kafeel memanggil pelan dan lembut.
Val melihat Kafeel menatapnya dalam.
Lalu dalam sedetik saja, Val dilanda kegugupan yang amat sangat, ketika wajah Kafeel kian mendekat hingga terpaan nafas Kafeel terasa sekali di wajah Val.
Mata Val terpejam, ketika Kafeel mengecup ujung hidungnya, lalu kelopak mata Val yang otomatis terpejam saat Kafeel mengecup keduanya bergantian, lalu turun ke kedua pipi Val.
Terakhir, Kafeel mengecup bibir Val lembut dan beritme.
‘Duh kecup satu-satu, pelan-pelan seperti ini, macam sedang mau ritual malam pengantin kan ya?’ batin Val yang otaknya sudah melanglang buana.
♥♥♥♥♥♥
To be continue...
__ADS_1