
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia ..
“Jaga Val, Kak.... Fisiknya, terlebih hatinya. Cintanya Val pada Kak Kaf, kami tahu seberapa besar dan dalamnya. Aku dan yang lain, berharap Kak Kaf pun mencintai Val sebagaimana dia pada Kak Kaf. Sama seperti jika Mika, Ann, Isha ataupun Aina yang terluka hatinya, kalau Val terluka lalu sedih berkepanjangan, aku dan para lelaki lainnya dalam keluarga ini akan juga merasakan luka dan kesedihan yang sama.”
Ini Rery yang bicara.
Anak kandung bontotnya Poppa dan Momma itu, sedang bicara berdua dengan Kafeel.
Si bujang yang biasanya tidak banyak bicara itu, kini bicara panjang lebar pada Kafeel, menyuarakan isi hatinya. Isi hati, atas rasa sayang Rery kepada para saudari perempuannya.
“Val jangan disakiti, karena menyakiti Val sama saja menyakiti kami. Dan jika Val tersakiti hingga sampai ia kelewat bersedih, Kak Kaf tidak hanya akan menghadapi delapan Naga di keluarga ini, tapi sepuluh. Yang akan tanpa segan ‘menyemburkan api’ pada Kak Kaf, untuk setiap air mata kesakitan yang keluar dari mata Val. Jika saja Kak Kaf sampai menyakiti hati Val dengan sangat dalam....”
Bukan pembicaraan yang ingin Rery ciptakan dengan serius, namun kesungguhan ucapan Rery terdengar disetiap alunan kalimat yang ia ucapkan pada Kafeel. Yang mana membuat Kafeel tertegun sejenak, mendengar setiap ucapan Rery padanya itu mengenai Val. Terlebih kalimat terakhir Rery.
Kalimat yang terdengar sebagai sebuah peringatan, atau mungkin sebuah ancaman untuknya-Kafeel rasa. Dan Kafeel pun terperangah dibuatnya. Tuan Muda yang biasanya kalem itu, kini bicara dengan menegakkan punggungnya dihadapan Kafeel, demi untuk saudarinya. Memperingatkannya, agar jangan Kafeel menyakiti Val.
Si bujang yang nampak flamboyan seperti buyutnya ini, ternyata punya aura ‘naga’ juga didalam dirinya. Bahkan, terasa lumayan kuat aura yang kasat mata tersebut, Kafeel tangkap dalam diri Rery. Dan sungguh, Kafeel takjub. Keluarga kekasih kecilnya ini, patutlah memang diacungi dengan banyak jempol.
♥
“Sorry Kak Kaf, jika Kakak merasa tidak nyaman dengan ucapan aku tadi,” ucap Rery. “Aku hanya menyampaikan perasaanku – perasaan yang sama seperti Aro, dan mungkin Ares, selain para Daddy kami dan dua kakak lelaki kami, tentang kami yang begitu menyayangi dan menjunjung tinggi para wanita dalam keluarga kami ini, karena mereka adalah pusat semesta kami.”
Kafeel mengulas senyuman. Lalu Kafeel berucap sambil memegang kedua bahu Rery. Sungguh, selain tercengang pada Rery yang menjadi banyak bicara – Kafeel dibuat takjub juga olehnya.
“Kakak akan selalu mengingat ucapan kamu itu, Ry,” ucap Kafeel dengan intonasi rendah. Bukan semata – mata Kafeel takut pada peringatan Rery, yang membuatnya mengingat siapa itu keluarga Val. Namun lebih kepada rasa hormat dan menghargai pada keluarga kekasih kecilnya itu.
Selain, Kafeel memang benar – benar mencintai Val. Dan Kafeel sungguh memahami posisi Rery yang menyayangi serta mengkhawatirkan saudari perempuannya, sebagaimana Kafeel menyayangi dan mengkhawatirkan adik perempuannya.
“Kakak justru berterima kasih, lega, senang dan bahagia, mengetahui Val memiliki kamu dan lainnya dalam keluarga kalian ini dihidup Val,” Kafeel kembali berucap. “Tapi untuk kamu tahu dan camkan baik – baik, Ry.... jangankan niat, bermimpi pun aku tidak pernah ingin membuat Val tersakiti dan menangis, lalu bersusah hati karena aku –“
“Thanks, Kak....”
“Yah, walaupun aku pernah membuat Val bersedih hati karena kegamanganku atas perasaanku padanya, lalu mencoba mengabaikan perasaannya, hingga pernah memberikan penolakan pada Val.”
Kafeel mendengus kecil.
“Yang meskipun aku melakukannya dengan sehalus mungkin, tapi aku juga tau, jika Val pernah terluka karena itu, dan meski Val tidak pernah menunjukkannya padaku....“
Lalu Kafeel bicara lagi. Santai, namun dengan gurat wajah, serta nada suara yang sungguh – sungguh.
“Tapi aku tahu, dan aku menyesal untuk itu.”
Kafeel yang berucap sungguh – sungguh, kini sedikit nampak sendu.
“Jadi, tidak akan dan tidak pernah aku mau mengulangi kesalahan itu lagi, Rery.”
“Thanks Sekali lagi,Kak Kaf....”
Ada lega yang melesak di dalam dada Rery yang merasakan kesungguhan dari ucapan Kafeel itu.
“Seperti yang kubilang tadi dihadapan kalian semua saat dibawah, jika aku sampai terlalu menyakiti Val – yang mana aku sungguh berdoa hal itu tidak akan pernah terjadi bukan karena aku takut mati....” cerocos Kafeel.
Dimana cerocosan Kafeel itu terjeda sebentar karena Rery yang terkekeh kecil.
“Kak Kaf sudah ketularan Val...”
Kafeel jadi ikut terkekeh karena ucapan Rery barusan itu.
“Haha, iya juga ya...” kekeh Kafeel yang sadar jika ia baru saja berbicara panjang dengan hampir tanpa jeda seperti yang seringnya Val lakukan.
Lalu sambil masih saling terkekeh kecil, Rery dan Kafeel melanjutkan langkah mereka menuju lantai bawah.
“Yah, seperti itu pokoknya Ry,” ujar Kafeel. “Aku tidak pernah berharap-coy, coy!. Akan ada hari dimana aku akan melakukan suatu hal yang sampai membuat Val sakit hati apalagi sampai hatinya terluka dengan sebegitunya...”
Kafeel menghela nafasnya.
“Tapi jika itu sampai terjadi-aku menyakiti hati Val sampai terlalu-lalu, lagi-lagi seperti yang aku bilang tadi, tak perlu repot menyiksa dan mengotori tangan kalian dengan darahku, karena aku pasti akan lebih tersiksa karena menyakiti Val, lalu aku akan mati dengan sendirinya—“
“Aku percaya, Kak,” tukas Rery dan Kafeel tersenyum.
♥
Rery dan Kafeel telah bergabung lagi ke tempat mereka yang masih anteng menonton film di ruang santai rumah Keluarga Cemara, tapi juga sudah ada satu set kartu yang sepertinya hendak dimainkan.
“Para Incess sudah pada tidur, Ry?—“
__ADS_1
“Sudah, Bang—“
“Hem ....”
“Ngelongok ke kamar gue sama Kak Via ga, Ry?”
Gantian Nathan yang bertanya pada Rery.
“Engga, Kak Tan-Tan ....” jawab Rery.
Nathan pun manggut-manggut.
“Takut malah ganggu Putra dan Gadis nanti—“
“Ya udah. Gue liat mereka dulu deh ....”
♥
“Ka.” Varen yang kini sedang memegang satu set kartu di tangannya, memanggil Kafeel.
“Apa nih taruhannya?—“
“Satu sayatan setiap satu kekalahan.”
Varen dengan segera menyambar untuk menjawab Kafeel, dimana kekasih setengah om-omnya Val itu sontak terkekeh kecil.
“Serem!“
Arya menimpali kemudian.
“Takut?”
Varen meledek si eks-Sadboy itu.
“Kalo sayatan di kulit luar gue ga takut. Nah kalo adek lo nan judes tapi cuakep itu menyayat hati gue tuh, baru gue takut,” tanggap Arya.
“Heleh lebay!” tukas Varen, yang membuat Arya dan lainnya sontak terkekeh.
♥
Nathan telah kembali ke tengah-tengah mereka yang hendak akan bermain kartu sambil menunggu detak jam bergerak menyambut pagi.
“Banget,” jawab Nathan pada Varen yang barusan bertanya.
Varen pun manggut-manggut kecil.
“Btw Ka, gue mau tanya soal Lena.”
Varen kembali pada Kafeel.
“Iya, kenapa emangnya?.....”
“Lena memang lagi sakit, atau dia sedang ada masalah?.....” tanya Varen kemudian.
Kafeel sontak mengernyit dan menatap pada Kafeel.
“Karena saat di SIN, gue perhatikan itu anak agak berbeda sikapnya-“
“Berbeda gimana?-“
“Lebih pendiam, dan lagi, dia ga pernah gabung saat kita kumpul ...”
Lalu Kafeel nampak berpikir. “Mungkin dia masih nyimpen kesel sama gue karena gue mendesak buat dia mutusin cowoknya yang begundal itu ...”
“Tapi dia mau bantuin lo buat ngelamar Val?”
“Itu karna dia sayang sama Val, Than ...”
“........”
“Jadi seandainya dia kesel banget sama gue juga, tapi saat dia denger gue ngomong sama Bunda mau ngelamar Val di SIN, Lena jadi excited-“
“Mending lo cari tahu kenapa Lena sebenarnya. Kalau dia memang hanya sekedar kesal sama lo sih, it’s fine ... Tapi takutnya, ya mudahan jangan sampai,”
Varen lagi berujar.
“Takutnya she’s suffering of something ( dia menderita sesuatu ) yang mana satu penyakit serius yang baru dia tahu sendiri, juga menyimpannya sendiri, lo jangan sampai tahu saat terlambat-“
“Iya bener tuh, Kak Kaf,” tukas Nathan dan Kafeel manggut-manggut kecil. “Lo ajak deh tuh si Lena ngomong berdua dari hati ke hati, layaknya kita orang disini kalau melihat ada salah satu dari kita yang tau-tau jadi beda sikapnya ...”
__ADS_1
Kafeel mengangguk mengiyakan.
“Tapi sekalian juga deh lo omongin itu soal bokinnya si Lena sama dia, Kak. Gue penasaran aja-kalo denger cerita Kak Sony sama Papa soal bokinnya si Lena itu ... plus gue heran kenapa si Lena bisa kepincut terus pacaran sama cowok brengsek kayak begitu? ...” Arya ikut berkomentar.
“........”
“Mungkin Lena ga tau itu cowok kelakuan aslinya kayak gimana makanya dia mau jadi pacarnya tuh cowok berandalan? ... pimpinan geng motor kriminal lagi-“
“Pokoknya nanti gue akan coba ngomong berdua sama Lena secepatnya. Ya ngomongin seperti yang lo berdua bilang tadi,” Kafeel memandang pada Varen dan Nathan. “Juga ngomongin soal si begundal itu-“
“Ya lo tanya aja, apa Lena tau soal hidup cowoknya itu. Selain lo ajak dia buat cek up di Rumah Sakitnya Uncle Alan dan Aunt Clarisa,” tutur Varen.
“Kalo emang si Lena taunya itu cowok baik, mending lo bongkar aja yang sebenarnya, jadi si Lena tau kalau larangan lo itu minta dia putus sama cowok brengseknya itu, buat kebaikan dia juga kan ... karena itu cowok ga pantes dapetin cewek kek Lena ... lagian sorry nih ya-gue juga brengsek dulunya ke Via, tapi gue rasa itu cowok jauh lebih brengsek dari gue dan sebagai eks-badboy lo pasti kebayang gimana kelakuan itu berandal ke cewek-cewek? ... Lena udah gue sama Abang anggep ade. Jadi gue juga ga rela kalo dia sampe dirusak sama itu kriminal! ...”
Kafeel lagi-lagi mengangguk mendengar komentar panjang lebarnya Nathan.
“Iya, gue akan secepatnya ajak Lena ngomong berdua ...” ucap Kafeel.
♥
“Jangan lupa share soal Lena nanti sama kami, Ka. Seperti yang Tan-Tan bilang tadi, gue dan dia udah anggap Lena seperti adik perempuan kami sendiri.”
Varen berujar.
“Ya.”
Kafeel lantas menjawab.
“Tapi kalo emang si Lena udah tau soal siapa sebenarnya itu cowoknya, lo juga jangan kelewat keras sama dia, Kak-“
“Hmm-“
“Iya, tar malah nekat lagi Kak Lenanya kalo dilarangnya sampe Kak Kaf kerasin.” Aro pun ikut berkomentar.
Kafeel pun tersenyum dan mengangguk menanggapi komentar Aro barusan.
“Lo bilang, lo sudah minta Lena buat mutusin itu cowok kan?-“
“Iya, udah...”
“Terus dia bilang apa?”
“Udah diputusin sih Lena bilang...”
“Nah lo cari tahu kebenarannya... bener ga dia udah putus sama itu kriminal?...”
“........”
“Lo bisa minta Achiel atau sesiapa buat mengawasi gerak gerik Lena, sekaligus jagain dia... atau kalau lo mau cuti dulu buat ngawasin sendiri adik lo itu, silahkan saja... ada Ezra dan Nicky, serta lainnya yang bisa bantu gue backup kerjaan lo.”
“Ya nanti gue pikirkan soal itu setelah gue ngomong berdua sama Lena,” tanggap Kafeel atas saran Varen.
“Ya sudah lo kabarin gue saja bagaimana-bagaimananya tindakan lo nanti soal Lena... toh biar itu para terminator ga gabut-gabut amat.”
Mereka selain Varen pun mendengus geli setelah mendengar celotehan si Abang barusan.
“Tapi satu hal, Ka...” ujar Varen lagi. “Kalau Lena bohong sama lo dan dia tetap bersikukuh mau jalan terus sama itu kriminal, untuk beragam alasan. Dan alasan yang paling tidak mengenakkan andai Lena bersikukuh untuk bersama itu kriminal adalah Lena berada dibawah ancamannya, Lo, jangan bertindak sendirian.”
♥
“Gue setuju sama ucapan Bang Alva. Biar gimana juga, itu cowok-meski Kak Sony masih ngawasin gerak-geriknya, tapi kalo kata Papa dia lebih licin dari bapaknya.”
Arya kembali berkomentar.
“Banyak keonaran yang udah terjadi yang mana Kak Sony curiga itu ulah komplotan itu lanang ga beradab, tapi belum ada bukti yang telak buat ngeringkus dia... dah gitu-dia dan komplotannya, mereka licin juga bisa kabur terus pas mau disergap...”
Arya menambahkan.
“Bahkan CCTV setiap tempat yang mereka rusuhin aja mereka bisa kerjain.”
Arya berujar lagi.
“Jadi gue rasa, lo-andainya si Lena memang seperti yang Bang Alva bilang, jangan gegabah deh Kak.”
“Anggota geng motornya kriminalnya dia lebih dari lima puluh orang. Jadi jangan sampai lo gegabah, terus mati konyol.”
♥♥
To be continue ...
__ADS_1