HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SEKEDAR NOSTALGI


__ADS_3

Terima kasih masih setia


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Noted: Jangan nyinyir disindang, di karya Emak iye?.  Kaga bae. Wkwk ....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah..


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Masih di waktu yang telah berlalu..


Kediaman Utama Keluarga The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


“Abang”


“Hem?”


Val versus Abang Varen.


“Kak Kafeel kapan kembali dari Beijing?”


“Punya ponsel kan?!”


“Ya punya ....”


“Nah ya sudah, tanya sendiri. Nomor ponsel Kafeel kamu punya. Feature chat ada, your phone pun ga pake pulsa, bebas telepon. Bebas mau telepon ke negara mana juga, mau sampai meledak itu cellphone pun bisa!”


“Ya aku kan tanya Abang ada maksudnya! Aku memang sudah tanya Kak Kafeel kapan dia pulang ke Jakarta. Dua hari lagi katanya ....”


“Nah terus kenapa tanya padaku kalau sudah tanya langsung ke orangnya dan sudah dapat jawabannya juga?”


“Ya aku kan mau tanya detailnya sama Abang, soalnya aku tuh mau kasih surprise lah untuk Kak Kafeel.”


“Halah!” Abang Varen memutar bola matanya malas kemudian.


“Surprise apalagi si Val? .... kamu itu kan sudah bikin Kak Kafeel syok dengan pernyataan cinta kamu di Perusahaan waktu itu ....”


Kak Drea kemudian menyambar pembicaraan kakak-beradik sekandung itu.


“Hah?!”


“What?!”


“Seriusan itu yang Kak Drea bilang, Val?!”


“Kamu nembak Kak Kafeel gitu?!”


Rentetan pertanyaan untuk memastikan ucapan Kak Drea pun seketika terdengar saling bersahutan.


Rentetan pertanyaan yang menantikan kepastian itu berasal dari para saudara-saudari Val yang sedang ada juga bersama Val, Abang Varen dan Kak Drea.


Para pewaris muda yang sudah terlanjur kaya sejak masih seonggok embrio di perut emaknya masing-masing itu, memanglah sedang berkumpul di Kediaman Utama mereka yang berada di Jakarta tanpa terkecuali.


Val menganggukkan kepalanya, dihadapan para saudara-saudarinya itu.


Sekali lagi, kalau soal perasaan Val pada Kak Kafeel, tak akan Val tutup-tutupi, apalagi di depan para saudara-saudarinya ini.


“Hu’um.”


Anggukan yang sungguhlah tanpa beban malu sama sekali tentunya bagi Val, didepan para saudara-saudarinya, yang mulutnya sering suka tidak terkontrol kalau mereka sedang berkumpul seperti sekarang.


“Gokil mampus!”


“Astogeee..”


“Wa gela emang lo Val!”


Kan ga terkontrol itu mulut-mulut para saudara-saudarinya Val yang langsung ricuh berkomentar?.


“Malu-maluin!”


Jangan lupakan Abang Varen yang sering ketus ga Cuma pada Val, tapi pada semua adik-adiknya, terkecuali satu orang adik yang merangkap jadi istri si Abang.


Hanya pada itu satu orang, Abang Varen bisa menjadi sangat lembut, mengalahkan lembutnya kain sutra koleksi Gamma.


“Tau ih, benar itu kata Abang!” Mika menyambar. “Malu-maluin.. Masa cewek nembak cowok?”


“Ih, mana ada malu-maluin?!”


Dengan cepat juga Val menyambar ucapan salah satu saudarinya itu.


“Memang kenapa kalau cewek nembak cowok?. Emansipasi dong!. Kalau cowoknya pasif, ya ceweknya harus pro aktif!”


Jangan berdebat soal Kafeel kalau dengan Val. Itu sudah hukum tertulis yang harus di garis bawahi dan ditebalkan.


Karena Val yang sejak menempuh pendidikan di sekolah menengah atas itu adalah Jago debat di sekolahnya, yang sering memenangkan pertandingan debat antar sekolah.


Dan bakat debatnya itu akan langsung keluar jika ada pembahasan soal Kak Kafeel kesayangannya Val, lalu ada yang menyalahkan tindakan Val yang kelewat agresif pada Kafeel, dan tanpa menahan untuk menutupi betapa Val memuja dan tak sabar membuat Kafeel jadi miliknya.


Memang Val adalah seorang Gadis yang terang-terangan. Kelewat terang-terangan malah kalo soal perasaannya pada Kafeel. Karena bagi Val cinta itu harus dikatakan, tanpa harus dipendam.


Jadi jerawat nanti, bahaya. Bisa berkurang kecantikan Val, malah Kak Kafeel yang sebenarnya Val yakin juga menyukainya tapi masih malu-malu empus, jadi ga naksir pada Val.


Begitu penafsiran anaknya Daddy R dan Mommy Ara, adik kandungnya Abang Varen.

__ADS_1


“Ya emansipasi ga begitu juga! Masa nembak cowok! Didepan orang banyak lagi?”


Tapi Mika juga termasuk gadis yang frontal, dan dia kadang akan terus menimpali Val, jika ada tindakan salah satu saudarinya itu yang membuatnya tidak habis pikir.


Kebetulan, Mika dan Val memang beda pola pikir, beda prinsip juga. Tapi tetap tidak meninggalkan kepedulian dan kasih sayang diantara keduanya sebagai saudari satu warisan, yang susah abisnya itu warisan.


“Kamu nembak Kak Kafeel di Perusahaan Utama Val? Di depan banyak orang gitu?. Kayak yang Mika bilang?” Rery ikutan bertanya.


“Ya jam istirahat kantor, di lobi kantor. Banyak orang lah. Coba itu adiknya Alvarend. Luar angkasa bukan??..”


Kak Drea pun menyahut sambil cengengesan, melirik pada san suami yang lagi-lagi memutar bola matanya malas.


“Mi apah Kak Drea??!!..” celetuk Isha sampe melongo.


“Mi tek-tek!” sambar Andrea.


Isha pun kemudian cengengesan plus tergelak bersama dengan para saudara-saudarinya yang lain.


“Gila! Emang,  Gila! Abang ade, sama-sama nge-betan!”


Abang Nathan ikut nyeletuk lalu cekikikan.


Kakak Tan-Tan yang ada saat kejadian, ingat itu momen soalnya, makanya ia geli cekikikan dengan kelakuan satu adiknya yang over pro aktif, super agresif pada Kafeel itu.


“Dulu kakaknya yang ngebet ngawinin bocah SMA, sekarang adenya yang ngebet ngejar om-om!” celetuk Kak Tan-Tan lagi.


“Heits sembarangan aja bilang Kak Kafeel om-om!.. Kalau Kak Kafeel om-om, berarti Abang juga om-om dong?!..” Dan tentu saja Val tidak terima. “Kak Kafeel kan seumur Abang!”


Kak Tan-Tan kembali cekikikan dan tidak sendirian. Sementara Abang tak berkomentar.


Malas saja si Abang sudah menanggapi satu adiknya yang kelewat ngebet pada Kafeel.


“Kamu benar-benar suka sama Kafeel memang?”


Suara Abang yang bertanya, membuat Val menaruh perhatiannya pada Varen.


“Cin-ta!”


Dengan pede dan cepatnya Val menyahut.


“Bukan hanya suka!”


Kembali Val berucap dengan wajah serius.


“Catat itu!”


Membuat si Abang kembali lagi memutar bola matanya malas.


“Ga ada masalah kan, kalau Val suka dengan pria dewasa macam Kak Kafeel?.. Eh, cinta maksudnya!”


Val menatap pada Varen.


Varen kini nampak sedikit serius berbicara.


“Dad dan Mom pun sama. Apalagi Kafeel yang kami sudah tahu dia orang dengan pribadi yang bagaimana. Fine-fine saja, kami semua menyukainya. Tapi soal perasaanmu pada Kafeel itu lebih baik kau yakinkan lagi..”


Abang menegaskan pada Val, namun tidak terlalu serius.


“Lagipula kau kan masih tujuh belas tahun!”


“Valera yakin Abaaaannngg.. Kalau tidak yakin, masa Val sampai menyatakan cinta Val pada Kak Kafeel didepan orang banyak?!”


“Saranku, kau lebih baik fokus pada pendidikanmu terlebih dahulu”


“Bisa seiring sejalan kan antara pendidikan dan cinta?” bela Val untuk dirinya. “Kak Drea, bahkan Abang nikahi saat dia masih sekolah, hayo?”


Dan skak-mat Abang Varen terima dari Val. Membuat decakan lidah Abang Varen pun terdengar kemudian, tapi tak menyahut. Dia sendiri juga ga bisa menahan dirinya untuk tidak segera membuat Andrea jadi miliknya kala itu.


“Kenapa coba?. Karena Abang cinta sama Kak Drea kan?. Mau memiliki Kak Drea sepenuhnya, supaya tidak ada kesempatan untuk orang lain memiliki Kak Drea?.. Nah Val pun kurang lebih seperti Abang.. Val itu membuat Kak Kafeel tahu, juga semua orang, agar tidak ada yang bisa mencoba merampas Kak Kafeel dari Val, dan biar Kak Kafeel juga sadar betapa cintanya Val sama dia!”


“Tapi setidaknya jual mahal dong Val..”


Mika kembali berkomentar.


“Tuh dengarkan Kakak Mika ngomong..”


Abang menimpali sekarang dengan sedikit sini.


“Jangan terlalu-lalu ditunjukkan banget sikap kamu yang mengejar Kafeel”


Nah, kalau ini sesuai dengan Abang Varen, yang memang tidak menunjukkan perasaannya secara terang-terangan pada Andrea yang sudah ia cintai sejak orok.


Tapi ya gitu deh, ga nunjukin emang, tapi tangan Abang seolah menjadi sangat besar untuk membuat Andrea tidak bisa didekati oleh para kumbang-kumbang tak berakhlak – kalo kata Abang Varen.


“Abang, Val begitu agar Kak Kafeel sadar..”


Namun tetap juga, Val tidak akan terima begitu saja, perkataan yang tidak sesuai dengan pendapatnya.


“Kan Val sudah katakan..” lanjut Val. “Kalau Val punya perasaan mendalam sama dia.. siapa tahu ternyata Kak Kafeel juga menyimpan rasa pada Val tapi dia ga enak sama Abang atau keluarga kita dan dia memendam perasaannya yang sebenarnya kalau dia mencintai Val, dan berpikir Val ga mungkin menyukai apalagi mencintai dia, kan kasihan Kak Kafeelnya?.. jadi ya Val permudah lah!”


Sungguh kepercayaan diri yang membagongkan dari anak satu naga dan ibu peri ini.


“Luar biasa!”


Itu Kak Via yang langsung saja tak tahan untuk nyeletuk atas pemikiran salah seorang gadis yang bisa dikatakan adalah adik iparnya juga.


Entah Kak Via harus kagum atau gimana pada pemikiran Val itu, yang jelas Kak Via sampai geleng-geleng saking ia terperangah pada kalimat cerocosan Val tadi.

__ADS_1


“Pede mampus!”


Celetukan lain keluar dari mulut Aro.


“Lalu tanggapan Kak Kafeel yang mendengar pernyataan cinta kamu Val?”


Kalau ini Ann yang baru bersuara.


Satu gadis ini yang mendukung sikap Val pada Kafeel, karena Ann kurang lebih sama dengan satu saudarinya itu, selain sama-sama berdomisili di Mansion Utama yang berada di London.


Sama-sama punya perasaan luar biasa pada seorang pria, dan tidak ragu untuk menunjukkan bahkan mengumumkan nya. Hanya Ann lebih bar-bar dari Val kalau soal cewe-cewe disekitaran cowok yang sudah ia klaim adalah miliknya dari sejak mereka orok.


“Diterima? Kak Kafeel punya perasaan yang sama dengan kamu?..”


“Boro-boro!” Abang yang dengan cepat menyahut pertanyaan Ann pada Val. “Ditolak mentah-mentah!”


Val nampak mengerucutkan bibirnya, dimana saudara-saudarinya tergelak tanpa akhlak.


“Ya ga ditolak mentah-mentah juga si!” sanggah Val.


“Kan aku bilang apa?. Jual mahal makanya jadi cewek! Ditolak didepan orang banyak gitu kan malu?..”


Mika juga dengan cepat berceloteh.


“Ih engga tuh aku ga malu!:


Dan dengan cepatnya juga Val menyambar celotehan Mika.


“Kak Kafeel ga nolak aku mentah-mentah si! Abang aja berlebihan..”


Val dengan pembelaannya.


“Kak Kafeel malah senyum dan mengusap kepala aku. Yee..”


“Nah terus, Kafeel bilang apa?” Nathan iseng bertanya. Meskipun dia dan Via ada saat Val menyatakan cintanya pada Kafeel dengan blak-blakan di Perusahaan, namun tidak sempat mendengar jawaban Kafeel karena Varen langsung mengajak mereka semua yang ada kala itu segera hengkang dari lobi Perusahaan.


Dan Valera ikut ke bersama Kafeel di mobil milik pria tersebut untuk pergi ke restoran.


“Punya perasaan yang sama dengan kamu, dia?”


Nathan kembali bertanya.


“Punya sih firasat aku!”


Valera menyahut.


“Ngomong apa Kafeel memangnya selama perjalanan ke resto sama kamu?..”


“Ya Kak Kafeel bilang kalau dia sayang sama aku..” Valera menjawab, namun ia menggantung kata-katanya, sembari memainkan bibirnya.


Suatu prediksi bagi para saudara dan saudarinya.


“Ta-pii???..” Membuat satu kata pertanyaan yang kompak adanya dari para saudara-saudari Val itu langsung terdengar bersamaan dengan mata mereka yang menyorot pada Val.


“Sebagai adik..”


“Buahahaha!!..”


Yak, gelakan tanpa akhlak langsung saja mengudara dan membahana dari para saudara-saudari Val.


Terkecuali Abang yang terkekeh karena melihat kelakuan para adik-adiknya itu, begitu juga Andrea, Nathan dan Via.


“Silahkan kalian tertawa lah sepuasnya!..” ketus Val sembari memandang sebal pada saudara-saudarinya yang sedang ngakak tanpa akhlak itu. “Seiring sejalan pasti tumbuh cinta di hati Kak Kafeel untuk aku.. coba saja. Kalau Kak Kafeel memang menganggap aku adik, katanya. Tapi kan dia bilang juga, kalau dia sayang sama aku. Dari adik turun ke hati nanti pasti..”


“Eh Val dengerin,” Aro bersuara. “Nanti kalau mau pulang ke London, pastikan baca peta biar tidak tersesat di jalan..”


“Dih, mana ada aku akan tersesat di jalan mau pulang ke London?”


Valera dengan cepat menimpali ucapan Aro barusan.


“Gaje!”


Val mencibir.


Tapi sayang Aro mengabaikan.


Karena Aro sedang berkordinasi dengan kembarannya, Isha.


“Pokoknya, nanti kalau mau pulang ke London, pastikan baca peta biar tidak tersesat di jalan..” ulang Aro. “Karena apa Sha?”


“Karena biar jelas nanti arahnya..” Isha menimpali ucapan kembarannya yang berbeda jenis kelamin itu. “Yang mana sama seperti hubungan, harus jelas kalau mau pacaran. Jangan sampe terjebak di ade-ade an!”


Gelakan tanpa akhlak kembali mengudara dari mulut para saudara-saudari Val.


“Masa bodoh!” tanggap Val.


Yang diledek pun tak perduli.


Meskipun dihadapannya, para saudara-saudari tak ber-akhlaknya itu sudah ramai eyya-eyya-an.


**


To be continue..


Sekedar Memori.


Next episode akan berada di masa sekarang.

__ADS_1


( Ceritanya )


__ADS_2