
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia..
“Urusan gue sama Mika lo berdua jangan ikut campur!”
Ada Arya yang berseru gusar pada dua orang yang merupakan bodyguard Mika.
“Mohon maaf Tuan Arya, kami hanya menuruti perintah Nona Mikaela.”
“Dan gue akan lakukan apapun buat ngejar Mika termasuk kalo harus adu jotos sama lo berdua!”
“Silahkan saja, Tuan. Tapi baiknya anda lebih dulu berpakaian...”
*“S*T!”
Arya yang terkesiap sebelumnya karena ucapan dari salah seorang bodyguard Mika yang sedang menjegal langkahnya untuk mengejar Mika itu, kemudian mengumpat setelah ia menyadari kondisinya saat ini.
Terlalu panik, sampai-sampai Arya lupa jika dirinya hanya mengenakan selembar handuk saja yang melilit di tubuhnya—disaat ia mengejar Mika yang sebenarnya salah paham dengan apa yang dilihatnya beberapa saat lalu di dalam kamar Arya pada unit apartemen pria itu.
Dan setelah menyadari kondisinya, Arya langsung berbalik cepat dan tergesa masuk kembali ke dalam unit apartemennya tersebut.
Dimana setelah berada kembali di dalam unitnya, Arya pun melesat menuju ke kamarnya yang ada di tempat tinggal keduanya itu. Dirinya juga langsung teringat pada seseorang yang menyebabkan Mika menjadi murka bahkan sampai menamparnya.
“Nora...”
Arya pun menggeram sambil ia melesat ke dalam kamarnya di apartemen tersebut.
***
“LO!”
Arya langsung berteriak sambil menunjuk nyalang pada seorang wanita yang adalah Nora.
Dimana wanita itu sudah tidak lagi menutupi tubuhnya dengan selimut, dan kini sudah duduk di pinggir ranjang Arya.
“Arya –“
“KELUAR LO!” teriak Arya pada Nora yang langsung terkejut hingga berjengkit saking menggelegarnya suara Arya.
Kemudian Arya berjalan cepat ke dalam walk in closetnya untuk berpakaian dengan cepat. Dimana setelahnya, Arya langsung berjalan cepat untuk keluar dari dalam walk in closet pada apartemennya.
Dan emosinya kembali mencuat saat orang yang beberapa menit sebelumnya ia usir, malahan masih ada di dalam kamar pada unit apartemennya tersebut.
“MASIH BERANI LO ADA DISINI?!” teriak Arya lagi dengan murka pada Nora sambil menunjuk dan menatap nyalang wanita itu.
“Dengerin –“
“KELUAR LO!” sambar Arya yang tak mau memberikan kesempatan pada Nora untuk bicara.
“Aku cinta kamu, Arya! makanya aku melakukan ini –“
“KELUAR GUE BILANG!”
Arya tak sedikitpun melunak pada Nora.
“AWWW... sakiit, Arya –“
“Perempuan sialan!“ tukas Arya yang geram pada mantan tunangannya itu, sambil mencekal kuat lengan Nora tanpa belas kasihan, dimana wanita itu pun langsung melirih mengiba.
“Tega banget, kamu Arya –“
“Berani-beraninya lo bikin sandiwara di depan cewek gue sampe dia salah paham??!!“
Namun Arya tidak menggubris Nora yang melirih dan mengiba padanya dengan menampilkan wajah nan memelas.
“Semua itu karena aku cinta sama kamu, Ar –“
“DIEM LO!” sambar Arya lagi dengan membentak Nora sambil Arya menyeret wanita itu sejak dari dalam kamarnya.
“Arya! – AKH! --"
“Gue akan bikin perhitungan sama lo *****!”
“AR –“
BLAMM!
Nora hendak menyergah umpatan sangat kasar dari Arya padanya, namun Arya sudah dengan cepat dan membanting pintu unit apartemennya tanpa memberikan kesempatan pada Nora untuk bicara lebih banyak padanya.
***
Arya menggeram setelah ia membanting pintu unit apartemennya. “Apartemen Gembel!”
Arya merutuk kemudian. Kemudian ia meraih gagang interkom yang berbentuk gagang pesawat telepon dengan cepat dan kasar, dimana benda tersebut menempel pada satu bagian dinding unit apartemennya itu.
Lalu setelahnya, Arya bicara dengan marah-marah pada seseorang yang menjawab panggilan Arya di seberang interkom tersebut.
Dan sesudah selesai, Arya meletakkan gagang interkom juga dengan cepat dan kasarnya. “Staf Ga Guna!”
Pun, Arya merutuk lagi saat meletakkan gagang interkom itu pada tempatnya.
***
Arya hendak melangkah, namun matanya yang melirik ke arah sebuah monitor kecil membuat Arya kemudian mendesis dengan kesalnya. “Arya, tas sama blazer aku masih di kamar kamu.” Bersamaan dengan suara yang terdengar pada interkomnya. “Ga mungkin aku pergi dari sini dengan keadaan aku begini –“
“Hish! Nih Lontee!...” lagi, Arya menggeram kesal. Kemudian ia melangkah menuju kamarnya. Lalu saat masuk, dirinya melihat sehelai blazer yang tercecer di lantai kamarnya yang langsung Arya pungut. Kemudian celingukan lagi untuk mencari sesuatu.
Arya terus saja menggerutu sendiri sambil berjalan kembali untuk keluar dari dalam kamar pada unit apartemennya tersebut, setelah satu barang yang tadi sempat ia cari dengan matanya tidak ia temukan.
__ADS_1
Kemudian Arya melirik pada pantri apartemennya dan melihat sebuah paper bag ada di sana, yang mana Arya ingat jika paper bag tersebut dipegang Nora kala mereka bertemu di parkiran. Arya pun meraihnya kasar.
Setelahnya, Arya berbalik dan melihat sebuah tas perempuan tergeletak sembarang di salah satu sofa dalam unitnya tersebut yang kemudian juga langsung diraihnya dengan kasar. Dimana sama seperti halnya paper bag yang di meja pantrinya, tas perempuan itu pun Arya ingat kalau Nora yang memakainya.
***
Tiga benda milik wanita yang menjadi bulan-bulanan umpatan Arya sudah berada di tangannya. Dimana Arya kemudian menggegapkan langkahnya menuju pintu masuk unitnya. Dan saat Arya membuka pintunya, wanita yang membuat Arya banyak mengumpat sejak beberapa menit yang lalu itu masih ada di depan unitnya.
Dimana saat pintu unit apartemen Arya terbuka dan sosok Arya terlihat di matanya, wanita itu—Nora, memasang senyuman manis pada Arya.
Kemudian sempat-sempatnya berpikir tentang Arya yang kemudian merasa tak tega padanya, dan Nora memasang wajah memelasnya dengan disertai keimutan—menurut Nora sendiri.
BRUKK!
Namun apa yang Nora pikirkan kiranya ketinggian.
Alih-alih Arya keluar menemuinya untuk memberikan simpati, yang ada Arya melempar sembarang barang-barang milik Nora yang menimpa wajah dan tubuh wanita itu dengan kasar.
Lalu tercecer kemudian karena Nora yang tak siap dengan lemparan barang-barangnya dari Arya tersebut.
“PERGI LO SEKARANG!”
Hardikan Arya yang keras juga terdengar sedetik setelah ia melempar Nora dengan barang-barang milik wanita itu.
***
Di tengah Arya menghardik Nora, tiga orang datang dengan tergopoh dari arah lift dan menghampiri Arya.
Dimana Arya langsung berbicara dengan keras pada tiga orang yang datang dengan tergopoh ke hadapannya itu yang sedang bersama Nora.
“Pak –“
“BAWA PERGI INI PEREMPUAN SIALAN!”
Arya kembali berteriak, tak peduli jika suaranya di dengar oleh penghuni di beberapa unit lain yang ada di lantai yang sama dengan unitnya berada.
Dan tanpa Arya memberikan kesempatan satu dari tiga orang yang baru saja ada di hadapannya, dimana yang bersangkutan adalah salah satu staf apartemen, dan dua lainnya adalah petugas keamanan yang terciri dari pakaian yang dikenakan keduanya.
***
“Ba – baik, Pak –“
“Dan Keteledoran Kalian Sampai Bisa Orang Luar Sembarangan Masuk Harus Kalian Pertanggung Jawabkan!” pungkas Arya pada tiga orang yang bekerja di apartemen, yang belum lama Arya beli itu.
“Kami mohon maaf atas kelalaian kami, Pak...”
Staf apartemen itu kemudian merespons dengan gugup ucapan Arya yang geram dan berkesan ancaman itu.
“Tunggu Apalagi?! Bawa Ini ***** Pergi Dari Sini!...”
Sekali lagi Arya berseru kesal.
Tidak menggelegar, namun tetap cukup kencang.
***
“Ih Apa Sih???!!!....”
Suara Nora terdengar saat dua petugas keamanan gedung apartemen tempat Arya berada, sudah memegangi dirinya.
“Lepas! Kalian Jangan Kurang Ajar Ya?!...” seru Nora tak terima kepada dua orang yang sudah memeganginya dan mulai menariknya pelan namun tegas untuk menjauh dari Arya yang masih berdiri di depan pintu unitnya.
Arya pun berbalik badan saat Nora sibuk melontarkan protesnya pada staf dan petugas keamanan gedung apartemen tempat Arya berada.
Dimana saat Arya telah berbalik badan dan hendak kembali masuk ke dalam unitnya, suara Nora terdengar lagi.
“ARYA!...”
Kencang memanggil Arya.
***
“Aku Ga Terima Dipermalukan Begini!”
Lalu Nora berseru lagi dengan kencangnya pada Arya dengan wajahnya yang amat tak senang.
Dimana Arya menoleh sedikit dan menyungging miring. Kemudian ia mengangkat satu tangannya, dimana satu jari tengah ia acungkan pada Nora.
“Go to hell!...” ucap Arya dari tempatnya. Kemudian langsung berbalik badan dan segera masuk ke dalam unitnya tanpa mempedulikan Nora yang terdengar melayangkan protes dan agak histeris.
***
“Perempuan Brengsek!”
Arya mengumpat lagi merutuki Nora saat dirinya telah kembali berada di dalam unitnya. Kemudian berkesah berat sambil mengusap kasar wajahnya.
“Mimpi apaa gue semalem sampe dapet kejadian kayak gini??...” gerutu Arya kemudian.
Dimana setelahnya Arya langsung berucap lagi.
“Mika!” ingat pada Neng Judes tercinta yang tadi pergi dengan membawa serta kemurkaannya pada Arya.
***
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..
“Nganter kepala, lo?...”
Sapaan yang didapat Arya saat dia sudah berada di kediaman utama keluarga Mika yang bertempat di Jakarta.
Sapaan sinis nan membuat Arya meringis, bahkan sebelum sempat ia mengucapkan salam. Pun, Arya masih berada di pelataran depan teras tempat tinggal utama keluarga besar Neng Judesnya.
__ADS_1
Dari sejak Arya keluar dari mobilnya yang ia parkirkan di carport KUJ, barisan beberapa ‘naga’ sudah berdiri menjulang di dekat dua pilar pintu masuk utama KUJ. “Assalamu’alaikum.”
Gugup, namun Arya mengucapkan salamnya dengan hormat. Dimana ucapan salamnya itu dibalas oleh barisan beberapa ‘naga’ yang seolah menghadang jalannya untuk masuk ke dalam KUJ dan bertemu Mika yang sudah coba Arya hubungi, namun panggilannya tak ada yang diterima Mika.
Terakhir, Mika sepertinya sudah menonaktifkan ponselnya. Membuat Arya menggegaskan laju mobilnya untuk segera sampai ke KUJ.
Dan disinilah Arya berada saat ini. Kediaman Utama The Adjieran Smith Family yang berada di Jakarta, dimana sebelumnya Arya sudah memastikan kalau Neng Judes tercintanya ada di tempat itu.
Namun sayangnya, niatan Arya untuk segera bertemu muka dengan Mika dan menjelaskan tentang kesalahpahaman yang Mika lihat di apartemennya pada waktu sebelumnya—tidak dapat Arya segerakan.
Boro-boro ketemu Mika. Ini Arya aja sulit untuk masuk ke area dalam KUJ.
Plus kalimat cibiran dan ancaman pun tercetus dari mulut dua kakak lelaki Mika.
“Berani-beraninya lo nyelingkuhin May?!”
“Kita orang kebiri tanpa sisa tau rasa lo!”
“Sok ganteng banget! Belom aja lo liat Mika dijodohin sama anak Sultan --"
"Yakin kena mental!"
***
“Aku bisa mempertanggung jawabkan kebenaran tentang penjelasan aku.”
Arya yang tak patah arang membela dirinya dihadapan empat Dad Mika dan dua kakak lelaki Neng Judes tercintanya itu.
“Kami perlu bukti, bukan bualan.”
Cetusan itu keluar dari mulut ayah kandungnya Mika.
“Pun bukti yang kau berikan harus kami cek dulu kebenarannya.”
Kemudian timpalan cetusan keluar dari mulut Dad R.
***
Arya mengangguk setelah mendengar cetusan Daddy Dewa dan Dad R. Kemudian ia merogoh saku celana panjangnya.
“Ini, Dad...”
Kemudian sebuah flashdisk Arya berikan kepada Daddy Dewa.
Yang langsung diterima Daddy Dewa, kemudian ia estafetkan pada Nathan.
“Itu rekaman CCTV dari mulai gedung sampai di dalam unit aku.”
“Masuk.”
Daddy Dewa lalu menyuruh Arya masuk, setelah Arya memberikan keterangannya.
“Kalo sampe ternyata ini video hasil editan, lo! Siap-siap! Gue bikin muka lo ga berbentuk.”
Ancaman keluar lagi dari mulut Varen pada Arya yang langsung mengangguk menanggapinya.
“Jangankan muka. Ini seluruh badan gue kalo mau dipatahin silahkan, kalau emang itu video ga original,” ucap Arya kemudian dengan tanpa gentar.
“Deal,” celetuk Daddy Jeff.
“Tapi kalau memang sudah dipastikan itu video original, aku langsung boleh ketemu Mika, ya?...”
Arya mengajukan penawaran. Yang langsung mendapat sahutan dari Papi John yang kemudian bicara bersahutan dengan para Dad yang lain.
“Boleh –“
“Tapi dengan catatan –“
“May bersedia menemui kamu...”
***
“Tapi kan kalau video yang aku kasih itu terbukti original, aku bisa kali dibantu biar Mika mau nemuin aku?” jawab Arya atas ucapan tiga Dad Mika. Dimana salah satunya hendak menjawab lagi.
Namun,
“NGAPAIN LO?!”
Yang jadi bahan pembahasan Arya dan beberapa pria The Adjieran Smith tau-tau nongol.
Membuat Arya, bahkan para pria The Adjieran Smith yang sedang bersama Arya termasuk juga Kafeel yang diam saja sedari Arya datang sampai berjengkit karena suara dia gerangan begitu menggelegarnya.
“LAKI-LAKI MURAHAN!”
Menghardik Arya dengan geramnya dan merendahkannya pula.
Sampai-sampai Arya mengusap-usap dadanya yang jantungnya kaget mendengar teriakan tiba-tiba Mika, selain mencelos hatinya yang dibilang murahan oleh Mika.
Sungguh ulang tahun yang begitu sial bagi Arya.
“PERGI LO! KALO GA MAU GUE SIRAM AIR PANAS!”
“Anak Dad yang satu ini ngeri juga ya kalo marah?...” bisik Kafeel di telinga Daddy Dewa.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue...
Terima kasih masih setia.
Tetep enjoy reading and semoga kalean bahagia selalu duhai reader emak yang blaem-blaem.
__ADS_1
Aamiin.