HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 252


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Tenanglah, Tegarlah, Walau Perihnya Tak Terkira.



Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


“Sa-kit .. A,bang... Hati Val sak-kiittt....”


Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.


Menangis pedih dalam dekapan erat sang Abang.


Yang menjadi tontonan para saudara-saudarinya yang sama merasakan pedih dalam hati mereka atas kondisi Val.


Yang diam, tak tahu harus bagaimana.


Hanya sesekali berucap demi menenangkan Val.


“Menangislah. Luapkan saja semua, sampai kamu merasa lega ... Aku disini, kami semua disini bersamamu ....”


Atau juga kalimat rintihan yang bermakna, sakitnya Val pun mereka rasa.


Seperti yang dilirihkan Mika, “Jangan menangis Val .... Jika kamu menangis, kami juga ikut menangis ...”


Yang kiranya benar adanya. Lirihan Mika, adalah refleksi perasaannya yang sama seperti para keluarganya yang melihat betapa terluka dan hancurnya Val sekarang.


Iba, serta sedih juga. Dan entah bagaimana lagi merefleksikan perasaan yang mereka punya sekarang atas Val.


Rasanya baru kemarin Val menularkan senyum bahagianya.


Tapi sekarang Val menularkan kesedihannya. Tak hanya pada para saudara dan saudarinya.


Tapi juga para orang tua. Yang kini sudah ada di sekitar kamar Val.


Ada yang sudah masuk tapi terpaku tak jauh di dekat pintu, ada yang kembali keluar dari kamar Val setelah melihat bagaimana Val---atas ketidaktegaan.


Ada juga yang berdiri di ambang pintu dengan menatap pedih ke arah Val yang sedang dikelilingi para saudara dan saudarinya.


Tubuh rapuh Val didekap Varen.


Tangannya digenggam Nathan.


Kepalanya dielusi dengan lembutnya.


Sisanya, diam tanpa kata.


Hanya bisa menggigit bibir, meneteskan air mata.


“Aku sakit melihatnya seperti ini, Hon..”


Mommy Ara, dalam dekapan Dad R ia melirih.


“Akupun sakit, Babe..”


Dad R menyahut, sama melirih.


Melihat kondisi anak bungsu kandung mereka, yang tak habis-habis menangis.


“Apa ga ada yang bisa kita lakukan, Kak?..”


Itu Momma, yang berucap dengan menatap sendu ke tempat dimana Valera berada.


Tak hanya sendu, namun sudah juga berkali – kali mengusap air matanya.


“Mau bagaimana lagi Little F?..”


Dad R menanggapi pertanyaan Momma, dengan suaranya yang masih sedikit melirih.


“Nyesek tau ga Kak, liat Val begitu ..”


Momma lagi berbicara. Sambil mengusap lagi air matanya, dibantu oleh Poppa.


“Aku juga sesak melihat salah satu putriku terluka hatinya hingga sampai seperti itu.”


Kembali Dad R menanggapi ucapan Momma, yang kemudian diam tak bicara, namun terisak dalam dekapan Poppa.


“Waktu akan menyembuhkan Val dari luka hatinya.”


Poppa angkat suara, terdengar tegar suaranya.


Namun layaknya Dad R, Poppa merasakan getir yang sama.


“Biarkan Val di sini dengan para saudara dan saudarinya ..” Poppa lagi berkata.


Dan perkataan Poppa pun diiyakan semua orang tua yang ada, yang kemudian satu persatu hengkang dari kamar Val bersama pasangannya.


“Ternyata ini, maksud kedutan mata kiri aku yang berhari – hari lalu sering banget terjadi, ya D? ..”


Momma melirih.


💔


“Gantikan pakaiannya,” ucap Varen setelah ia membaringkan Val yang telah kembali jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya. Val pingsan lagi, saking tertekannya. “Lo mau kemana, Than?...”


Varen lantas segera bertanya, ketika Nathan mengayunkan langkahnya. “Bikin perhitungan sama si b*ngsat,” jawab Nathan datar, namun rahangnya mengetat.


“Pergi sama gue.”


Varen menimpali.


“Berhenti.”

__ADS_1


Suara Drea kemudian terdengar.


Menyergah dua kakak laki-laki yang sedang memiliki amarah atas sedih mereka dalam hati.


💔


“Abang, dan elo Than, mau kemana? Mau apa?” tanya Drea.


“Seperti yang Nathan—“


“Mau ke rumah Kak Kaf? Mau menghajarnya habis-habisan?”


Drea menukas kalimat Varen, sambil menatap dua pria yang hitungannya dalam garis pewaris muda The Adjieran Smith adalah kakaknya.


“Sampai Kak Kaf ga bernyawa?... Terus apa?...”


“.........”


“Selesai?”


Drea masih bicara.


“Sakit hatinya Val, sedihnya dia... Selesai kalau Abang dan lo, Than, hajar dia? Bunuh dia?...”


“Setidaknya kita berdua puas...” jawab Varen.


“Iya, lalu?... Lalu setelah kepuasan kalian dapat apa? Bahagia?”


Ucapan Drea bermakna cibiran.


“Val bisa langsung balik bahagia? Bisa langsung tertawa dengan lebarnya seperti biasa?”


“.........”


“Dengan menghajar atau menghabisi nyawa Kak Kafeel apa itu akan merubah fakta kalau dia sudah tersilap dan mengkhianati Val? Apa bisa merubah fakta kalau nyatanya Kak Kafeel itu sudah menikah dengan perempuan lain, lalu menunggu anaknya lahir?...”


“.........”


“Kepuasan Abang dan Tan-Tan nanti setelah menghajar atau menghabisi Kak Kafeel... Bisa?... Membuat semua kembali seperti semula?... Bisa?... Membuat cerita cinta Val dan Kak Kaf indah seperti sebelumnya?... Membuat hati Val yang udah ga ada bentuknya sekarang, kembali seperti semula. Bisa?...”


Varen dan Nathan membeku.


Sementara para adik terdiam, termasuk Via yang telah berada di dekat Drea yang sedang menyergah Varen dan Nathan dengan matanya yang sudah basah.


“Bisa ga?!”


Drea sedikit menekankan suaranya.


Varen dan Nathan kemudian sama mendongak.


Keduanya sudah punya jawaban dalam hati mereka dari pertanyaan Drea itu.


Tidak bisa,  adalah jawabannya.


“Kalau bisa, silahkan Abang dan Tan-Tan lakukan apa yang kalian ingin lakukan. Hajar Kak Kaf habis-habisan, kalau perlu ambil jantungnya dan taruh di kotak kaca...”


Drea berucap putus asa.


“Kalau engga, buat a-pa?...”


“Ga ada guna...” lirih Drea. “Buang waktu! Buang tenaga!”


💔


“Jadi kalau kepuasan Abang dan Tan-Tan ga bisa buat semua kembali seperti semula, ga bisa buat Val kembali dengan bahagianya sebelum bahagia itu hancur sekarang... Kita...  Yang juga ikut bahagia dengan bahagianya Val... Buat apa buang waktu dan tenaga untuk melakukan hal yang ga bisa merubah fakta?... Ga guna!” tegas Drea dengan linangan air mata. “Ga-gunaa...”


Drea melirih dalam isakan kemudian.


“I’m sorry...” Varen lalu mendekat pada Drea dan membawanya dalam dekapan.


“Daripada Abang dan Tan-Tan lakukan hal yang ga berguna, lebih baik di sini sama-sama... Sama-sama kita hibur Val... Daripada melakukan hal yang ga bisa merubah fakta, lebih baik... pikirkan cara... Gimana kita bisa buat Val tertawa... atau seengganya... tersenyum sedikit aja...”


Drea kian terisak, Varen mengeratkan dekapannya.


“Bukan Cuma kalian berdua yang ga terima tau?... Bukan cuma kalian berdua yang marah... sedih... bukan...”


“Sor-ry, Cute Girl...” lirih Nathan yang mengelus kepala Drea di dekapan Varen. “Gue sama Abang... Kelewat emosi soalnya...”


“Tau Tan, tau --- ngerti... lo emosi... Abang emosi... But not only both of you (Tapi bukan cuma kalian berdua)... kita semua begitu...”


Drea lalu tersedu.


Tidak hanya Drea yang begitu, namun para saudari pun sama tersedu.


Sementara para saudara, nafas mereka rasa tersendat.


💔


“Ibu masih di kamar Putra dan Gadis, Ji?” tanya Mommy Ara pada Mama Jihan.


“Iya kayaknya, Kak Ara...”


Mama Jihan menjawab.


“Aku ke kamar Putra dan Gadis dulu kalau begitu, ya Hon?”


Mommy Ara berbicara pada Dad R.


“Biar Ibu bisa istirahat,” tambah Mommy Ara.


“Iya...”


“Nanti Fania nyusul, Kak. Mau nelfon Papah sama Mamah dulu.”


“Iya, Sweety—“


💔


“Tuan, Nyonya, mohon maaf. Tadi, Nyonya Besar Bella menelefon saat anda semua sedang di lantai tiga-“


“Apa kamu katakan apa yang sedang terjadi di sini, Dis?” Mom Ichel menukas laporan kepala asisten rumah tangga mereka.

__ADS_1


“Tidak Nyonya Michelle-“


“Syukurlah.”


💔


“Tapi mohon maaf, kebetulan saya yang menerima. Karena saya bingung harus menjawab apa dengan kondisi saat ini di sini, saya terpaksa berbohong pada Nyonya Besar Bella dengan mengatakan jika anda semua sedang keluar. Dan saya tidak berani untuk menyambangi Tuan dan Nyonya semua saat sedang di lantai tiga tadi-“


“Ga apa – apa, Dis. Kamu udah bener kok dengan ngomong gitu ke Mama Bela,” tukas Mami Prita. “Ya udah, makasih ya, Dis?”


“Iya, sama – sama Nyonya Prita...”


“Nyonya Bela bilang apa, Dis?” tanya Dad R.


“Cuma tanya aja sih, gimana keadaan di sini. Soalnya katanya perasaannya Nyonya Besar Bela kayak ga tenang gitu, Tuan Reno.”


“Kalau begini, kita benar – benar macam saudara kandung ya, Little F?... Sampai apa yang terjadi pada Val, Mama Bela ikut kena firasatnya juga.” Kelakar Dad R dalam getirnya.


“Katanya udah ga mau bahas status kandung atau engga?”


Momma melayangkan protes kecilnya.


“Iya, sorry...”


Dad R merangkul Momma, lalu ia kecup kepalanya.


“Maafin Kakak ya, adik kandung?”


Dan untuk sejenak, rasa prihatin dan sedih atas Val,  terkikis oleh hangatnya interaksi Momma dan Dad R saat ini.


💔


“Kalian sudah menengok Papa?” tanya Poppa pada mereka yang sudah duduk bersamanya di ruang keluarga.


Papi John dan lainnya mengangguk. “Gue sama Prita baru balik semalam dari rumah Keluarga Cemara. Gantian sama dua J couple dan Dewa – Ichel,” ucap Papi John kemudian.


“Terus Papa gimana kondisinya?...” Mommy Ara gantian bertanya.


“Ga kayak yang waktu itu, Kak,” Mami Prita yang menjawab. “Cuma sedikit ngedrop aja.”


“Pasti pantangan ada yang dilanggar kan?...” celetuk Momma.


“Kayak ga tau si Papah aja, Kak... Itu aki – aki satu kan suka tuman kalo dibilangin...”


Setidaknya, interaksi duo bersaudara yang ceriwis itu bisa membuat mereka yang dadanya sempat terasa tercubit keras itu bisa mendengus geli sejenak.


💔


Meski hening lebih banyak mengambil jatah di tempat sebagian besar para orang tua berkumpul sekarang, namun obrolan ringan sesekali terlontar.


Setidaknya, bisa digunakan sebagai terapi untuk sejenak menetralkan hati.


Rileks, itu yang sudah mulai melingkupi hati orang tua sekarang ini.


Selain menyiapkan diri, untuk saatnya menghadapi Val lagi nanti.


Melihat kacaunya salah satu putri mereka, dengan tangisnya yang terus saja mendera dan entah kapan berhentinya.


Dimana, seorang pria penyebabnya.


Yang mana pria itu,


“Maaf Tuan, Nyonya, ada Tuan Kafeel datang-“


“Jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah ini.”


Dimana ucapan seorang asisten rumah tangga itu ditukas oleh Dad R yang lantas berdiri.


Lalu tak hanya Dad R, namun semua Daddy ikut berdiri.


“Kalian berempat kalau mau menemui Kaka-“


“Sudah aku haramkan untuk menyebut namanya,” potong Poppa pada Momma yang barusan bicara.


“Oke, sorry,” tanggap Momma. “Kak Ren, Kak Jeff, John dan Dewa mau menemui dia silahkan...” lanjut Momma. “Tapi kamu...”


Momma lalu beralih ke Poppa.


“Engga.”


Momma mengeluarkan larangannya pada Poppa setelahnya.


“Kamu disini aja, D,” tegas Momma pada Poppa.


Karena bukan tanpa alasan Momma melarang Poppa untuk pergi menemui Kafeel.


Tapi karena Momma tahu betul Poppa dan bagaimana temperamentalnya sang suami itu jika ada seseorang yang dianggap menyinggungnya diluar keluarga.


Yang mana tidak ada kata tersinggung juga dalam lingkup keluarga inti mereka terutama, mau bagaimanapun parahnya ledekan, jika sesi itu sedang terjadi.


Termasuk, pada para kerabat dekat yang sudah dianggap keluarga.


Sebenarnya Kafeel iya. Pria itu bagian dari mereka. Dikasihi layaknya seorang anak lelaki kandung mereka sendiri.


Namun itu dulu.


Dulu, sebelum Kafeel memberi mereka sembilu melalui perbuatannya pada Val.


Sebelum Kafeel melukai Val begitu parah dan dalam.


Atas itu, sekarang keadaannya telah berubah.


Kafeel Adiwangsa juga keluarganya sudah diputuskan untuk tiada lagi hubungan dengan The Adjieran Smith.


Dad R telah menegaskan.


Bahkan Poppa telah mengharamkan.


Jadi untuk dia yang Poppa haramkan lalu datang ingin berhadapan, sungguh Momma tak bisa membayangkan jika Kafeel Adiwangsa berhadapan dengan dia yang paling bar – bar dalam jajaran para ayah yang saat ini sedang memiliki kegeraman pada dia geraman yang katanya datang bertandang.


💔 💔 💔

__ADS_1


To be continue...


Terima kasih masih setia.


__ADS_2