
Noted: Terima kasih untuk apresiasi kalian, tapi baca dulu episodenya sebelum memberikan LIKE / KOMEN yuah...
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Unit apartemen Kafeel, Jakarta, Indonesia
“Sudah tahu aku kenakkan kenapa masih mau berhubungan denganku?! kalau tidak suka memiliki kekasih yang kekanakkan ya sudah batalkan saja hubungan kita.”
Val berkata tajam, kala ia menjawab ucapan Kafeel yang mengatakan jika dirinya itu kekanakkan dengan sikap Val yang sedang gadis itu tunjukkan pada kekasih setengah om-omnya itu.
Dimana sontak saja mata Kafeel melebar setelah mendengar cerocosan Val. “Apa kamu bilang? ---“
“Aku katakan batalkan sa – hmphh----“ Val yang kembali menyahut pada Kafeel itu, tidak sampai meneruskan kata – katanya, karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Kafeel yang bahkan mencium Val dengan sedikit ganas.
Membuat Val jadi terkejut bukan main atas tindakan tiba – tiba Kafeel yang menyambar dengan cepat bibirnya itu kala Val masih bicara.
Bahkan Kafeel memegangi kuat tengkuk Val dan sebelah tangan Kafeel memegangi kedua tangan Val yang ia satukan demi menahan Val agar tidak dapat menarik dirinya dari Kafeel.
“Bicara tentang mengakhiri hubungan kita, akan aku lakukan lebih dari ini, tak perduli jika para Dad dan para saudara lelakimu memukuliku sampai mati.”
Kafeel berucap tegas, setelah ciuman sedikit ganasnya pada Val ia urai-sambil Kafeel menatap Val lekat-lekat. Kafeel meraih dagu Val, kala ia telah berhenti mencium bibir Val dengan sedikit ganas barusan.
“Katakan lagi yang kamu katakan tadi soal kamu yang ingin membatalkan hubungan kita ini coba?”
Val terdiam. Namun didetik berikutnya, ia memutus tatapannya dengan Kafeel.
“Val,” ucap Kafeel, dengan suaranya yang kini mulai melembut sambil satu tangannya ia gunakan untuk mengelus rambut Val.
“....”
“Maafkan kekasaran aku tadi.”
Kembali Kafeel berucap dengan lembut pada Val, sambil memandangi Val yang membuang wajahnya ke samping.
Kali ini Kafeel tidak memaksakan Val untuk menoleh kepadanya.
Kafeel sudah melonggarkan cengkramannya pada kedua tangan Val, namun masih memegangnya-hanya dengan lembut sekarang, sambil Kafeel bersimpuh di hadapan Val yang terduduk di sofa.
Kafeel kini sudah bersikap seperti biasanya ia bersikap pada Val-penuh kelembutan. Juga wajah Kafeel sudah tidak lagi nampak serius, melainkan telah berubah menjadi hangat kembali.
“Maaf Val, maaaf banget—“
“....”
“Aku sama sekali tidak berniat melecehkan kamu---“
Kafeel masih terus bicara, walau Val belum sedikitpun menanggapinya.
Kafeel lalu meraih lembut kedua tangan Val, lalu mengecupinya satu – satu.
“Aku meradang Val, meradang karena sikap kamu, dan ucapan kamu dari sejak kamu pergi dari rumah aku---“
“Lalu aku?!”
Kafeel sedikit tersentak karena Val yang tadi nampak diam saja, tahu-tahu berseru sambil mendelik tajam padanya.
“Bagaimana perasaan Val, Kakak pikirkan tidak?! ----“ sambung Val. “Mau tahu bagaimana perasaan Val yang Kakak buat sekarang?!”
Ucapan Val barusan membuat Kafeel mengangguk pasrah, bak kerbau yang di cucuk hidungnya.
__ADS_1
“Sebagaimana Kakak yang meradang, Val juga meradang karena Kakak yang menceramahi Val di hadapan sepupu perempuan Kakak yang gatal itu, tahu?!”
Val kini sudah menghadapkan wajahnya di depan wajah Kafeel, dengan masih mendelik tajam pada kekasih setengah om-omnya itu.
“Kakak mengatakan Val kekanakkan, Kakak sendiri sadar tidak kalau Kakak sudah keterlaluan pada Val?!” ucap Val yang nampak sedang melampiaskan kekesalannya pada Kafeel sekarang.
“Val, sa ----“
“Diam! Val belum selesai bicara!”
Seketika Kafeel langsung menggigit bibir bawahnya sendiri, karena Val menyergahnya dengan keketusan yang hakiki.
“Sudah menceramahi Val sebegitunya macam kembang api di depan si semut Rara itu –“
‘Semut Rang-rang itu mah Val.’ ralat Kafeel.
Namun hanya dalam hatinya saja, karena di mata Kafeel, kekasih kecilnya itu menjadi nampak menyeramkan sekarang.
“Lalu apa? Kakak juga mengancam Val bukan, saat Val sudah duduk di mobilnya Kak Sony tadi?!---“
Val masih belum selesai melampiaskan kekesalannya, sampai ia menunjuk-nunjuk dada Kafeel berulang-ulang dengan telunjuknya.
“Masih ingat apa hal yang Val benci?”
Val lalu bertanya pada Kafeel dengan raut wajahnya yang belum berubah.
“Pasti lupa kan?!---“ sambung Val, padahal Kafeel baru hendak membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Val keburu dengan cepatnya menyambar dan menuding jika Kafeel lupa akan hal yang Val tanyakan padanya tentang hal yang Val benci.
‘Baru juga mau nganga buat jawab,’ batin Kafeel.
“Iya kan lupa kan?! Baru kemarin padahal tapi sudah lupa hal-hal penting yang sensitive untuk Val!”
Kafeel mengusap wajahnya, karena Val tidak memberikannya celah untuk bicara, belum lagi tatapan permusuhan Val padanya.
Masih, Val menyembur pada Kafeel yang pasrah saja saat ini.
“Tapi ternyata Kakak anggap itu angin lalu ... Iya pasti seperti itu kan?!-“
“Engga seperti itu Val –“
“Halah! Buktinya Kakak tidak bisa menjawab tadi pertanyaan Val tentang hal yang sensitive bagi Val waktu kita bicara di pantai sebelum kita resmi berpacaran .. Dasar om-om menyebalkan!”
Dimana Kafeel spontan melongo dan melotot tak percaya atas ucapan Val yang mengatainya sebagai om-om menyebalkan, setelah Val memotong dengan cepat ucapannya. “Kamu ngatain aku?-“
“Iya! Kenapa?! Memang itu kenyataannya! Mau marah?! Marahlah! Val tidak peduli! Memang Kakak menyebalkan, mengesalkan dan tidak peka! Sudah menceramahi Val di depan sepupu Kakak yang gatal itu, lalu Kakak juga menyindir serta mengancam tidak mau menghubungi dan menemui Val! Apa itu tidak cukup menyebalkan dan mengesalkan, hah?!”
Val bercerocos, lalu sejenak berhenti hanya untuk menarik dan membuang nafasnya, karena cerocosan Val macam seorang pria yang sedang mengucapkan kalimat ijab, yakni satu tarikan nafas.
“Kakak meradang?----“
Val berucap lagi, namun tidak lagi ketus nada bicaranya.
“Val kesal ...” sambung Val, yang matanya kini mulai berkaca – kaca. “Val kesal dan sedih disaat yang bersamaan.”
“Val ...” ucap Kafeel pelan dan lembut.
“Dengan Kakak yang menceramahi Val di depan orang-orang yang sebagian Val tidak kenal, itu sama saja Kakak mempermalukan Val, tahu? ..”
Val yang tadi menatap Kafeel dengan tatapan permusuhan, kini telah menundukkan kepalanya, yang tak lama segera diangkat oleh Kafeel dengan lembut-dengan Kafeel yang menarik pelan dagu Val.
“Maaf, aku benar-benar minta maaf, Val ...”
Sambil Kafeel mengusap sebulir airmata yang sudah keluar dari pelupuk mata Val.
__ADS_1
“Maaf, maaf!” Val kembali dalam mode galaknya sekarang. “Makanya jadi kekasih itu yang peka! Sudah Val tunjukkan kalau Val tak senang saat Kakak menceramahi Val untuk yang pertama kalinya, malah Kakak makin terus menceramahi Val! Stupid!”
Kafeel dibuat melongo dan melotot tak percaya lagi oleh Val, karena entah kekasih kecilnya itu sadar atau tidak jika ia baru saja mengatai Kafeel untuk yang kedua kalinya.
“Seharusnya Val biarkan saja tadi Kakak di .. hhmmppphhh”
Kembali Val dibuat bungkam dan terkejut oleh Kafeel karena bibirnya yang dibungkam dengan tiba-tiba oleh Kafeel seperti tadi, sampai Val membelalakkan matanya.
Sungguh Kafeel tidak tahan-selain gemas karena sudah dua kali dikatai oleh Val, dengan bibir Val yang justru terlihat lebih menggoda untuknya saat Val mengoceh tanpa henti, yang mana membuat Kafeel jadi mendamba.
Terlalu mendamba, hingga Kafeel sekali lagi menciumi Val dengan sedikit ganas, sampai tak memberi Val ruang untuk bernafas. Hingga saat Kafeel merasakan pukulan di bahunya, barulah ia melepaskan bibirnya dari Val, dengan nafasnya yang sedikit tersengal.
“Ka-kak mau.. bunuh Val?!..”
Val berucap kesal pada Kafeel, dengan nafasnya yang lebih tersengal dari Kafeel.
“Siapa suruh ngatain aku om-om menyebalkan, lalu bilang aku stupid!-“
“Memang seperti itu kenyataannya!”
“Hati aku terluka mendengarnya ----“
Kafeel memasang wajah putus asa nan terluka.
“Cih!”
Alih-alih merasa iba, Val malah berdecih.
Tapi Kafeel langsung mengulum senyumnya mendengar decihan Val yang juga melemparkan lirikan sebal padanya.
Kafeel bergerak dari posisinya, dan Val dengan cepat juga bergerak waspada sambil menutup mulutnya, saking takut diserang lagi bibirnya oleh Kafeel.
Membuat Kafeel jadi terkekeh geli karenanya, lalu langsung membawa Val ke dalam dekapannya dengan gemas, karena tingkah kekasih kecilnya itu memang sungguh menggemaskan sekarang ini.
“Ih jangan peluk-peluk!---“
Val menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari Kafeel.
“Val belum mengiyakan untuk memaafkan Kakak, jadi jangan sok mesra!”
“Oh gitu?---“
Kafeel menyahut sambil tersenyum miring, pada Val yang telah berhasil membebaskan diri darinya.
Membuat Val jadi waspada, dan kembali lagi menutup mulutnya sambil bergerak mundur dalam duduknya.
“Stop!” Val berseru pendek pada Kafeel yang ikut bergerak jika Val bergerak. Lalu Kafeel pun menuruti ucapan Val yang menyuruhnya agar tidak bergerak.
Kemudian mata Val menelisik wajah Kafeel.
“Ngomong-ngomong Val mau tanya.....”
Val berucap dari jaraknya pada Kafeel yang kini duduk miring menghadap Val dengan kepalanya yang Kafeel topang dengan tangannya.
“Tanya apa, hm?..”
“Kakak ajak Val ke apartemen Kakak ini apa karena Kakak hendak ‘mengiya-iyakan’ Val? ---“
“HEUUU???---“
♥♥♥
To be continue.....
__ADS_1