
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia....
“Pikirkan yang Abang katakan padamu tadi barusan Val.”
Belum habis ternyata Varen menjahili tangan kanan sekaligus sahabatnya itu.
“Hish!-“
Kafeel yang sudah beberapa saat berdebat unfaedah dengan Varen itu mendesis sinis.
“Istikharah ya My Dear Lovely Sister?”
“Wah!” Kian sebal si AA.
“Biar lebih afdol menjatuhkan pilihan, karena takutnya, nama Kafeel Adiwangsa ga tertulis di Lauhul Mafhfudz buat kamu ....”
Varen masih bicara, sambil mengelus-elus kepala Val.
“Minta dicabein mulutnya ini si Alvarend!” sewot Kafeel.
“Hahaha!! ....”
Varen langsung tergelak setelah mendengar ucapan ketusnya Kafeel barusan.
“Val, Baby ....”
Kafeel segera meraih tangan Val, dan menarik pelan tangan kekasih kecilnya itu.
“Sini sayang, jangan dengarkan itu doktrin sesat kakak kamu satu itu –“
“Sebagai kakak yang baik gue harus kasih pandangan –“
“Heleh! –“
“Dah ah! Berisik lo berdua!”
Nathan menyergah.
“Ganggu selera makan gue aja!” tambah Nathan, lalu ia kembali menikmati mi instan dalam mangkoknya.
“Mau dibawa kemana itu adik gue?!”
Varen lagi bersuara, saat Kafeel berhasil membuat Val bangkit dari tempatnya-disisi Varen itu.
“Mana kek, udah gede ini!”
♥
Val tak henti-hentinya tersenyum ketika Kafeel membawanya menjauh dari Varen, dengan wajah kekasih setengah om-omnya Val itu yang merungut-serta mulut yang masih terdengar menggerutu. Lalu Val menyadari jika Kafeel membawanya ke dapur rumah Keluarga Cemara, dimana ada Rery di sana.
“Rery mau buat mi instan? ....”
Rery mengangguk menjawab pertanyaan Val.
“Kamu mau juga, Val?” lalu Rery balik bertanya.
Dimana Val dengan cepat menjawab pertanyaan Rery itu dengan antusias.
“Mauuu ...”
Dan Kafeel yang tadinya merungut dan menggerutu itu, kemudian tersenyum melihat tingkah Val yang berinteraksi dengan Rery - dimana ekspresi Val nampak menggemaskan di mata Kafeel.
“Sini aku yang buatin –“
“Makasih calon suamiii.”
“Ada juga calon istri yang buatin makanan untuk calon suaminya –“
“Mi instan buatan aku ga pernah seenak buatan kamu, Rery ...” tukas Val.
“Makanya sering-sering belajar masak. Nanti gimana tuh kalau udah nikah, tapi belum bisa masak? –“
“Pesan dari restoran, kan mudah? –“
“Memangnya Kak Kafe mau setiap hari pesan makanan dari resto?”
“Pasti mau-mau saja....” tukas Val atas ucapan Rery. “Iya Kan, Kak Kafeel?”
Lalu dengan segera Val menoleh pada Kafeel.
“Iya, Val....”
Kafeel menyahut seraya tersenyum sambil mendekat pada Val dan mengacak pelan rambut kekasih kecilnya itu.
“Tuh kan, Kak Kafeel fine saja kalau aku tidak bisa masak,” ucap Val yang menoleh lagi pada Rery.
Rery hanya tersenyum geli saja menanggapi ucapan Val barusan itu, begitu juga Kafeel.
♥
“Jadi tidak membuatkan aku mi instan seperti kamu dan yang lainnya makan itu, Rery?....”
Val memastikan.
“Iya sudah, yang sedang aku buat ini untuk kamu aja dulu, Val....”
“Biar Ry, untuk Val biar aku aja yang buatin. Yang sedang kamu buat ini ya buat kamu sendiri aja.”
Kafeel menimpali.
Lalu Val mengangguk.
♥
“Ga apa, biar sekalian aja aku buatin.”
Rery menanggapi ucapan Kafeel.
__ADS_1
Kafeel tersenyum dan mengacak pelan rambut Rery.
“Biar Kakak aja yang buatin mi untuk Val, Ry. Selain Val lebih suka mi goreng, Kakak mau bicara berdua sama kesayangan satu ini nih.”
“Oh, okay lah kalau begitu, Kak Kaf...”
Rery mengiyakan ucapan Kafeel seraya ia mengangguk.
Dan setelah Rery rapih dengan mi instan buatannya yang akan ia makan sendiri juga, adik kandung Drea itu kemudian undur diri dari hadapan Val dan Kafeel yang bertahan di dapur.
♥
“Kak Kafeel masih ingat ya kalau Val lebih suka mie instant goreng yang direbus?—“
“Heu?—“
“Kenapa, Kak? ...”
“Mi instan goreng yang direbus? ...”
Kafeel mengernyit, dan Val terkekeh kecil melihat wajah keheranan Kafeel.
“Iya, mie instant goreng yang direbus,” ucap Val, lalu memegang dan mengangkat satu bungkus dari dua mi instan yang sudah Kafeel ambil dari lemari penyimpanan mi tersebut.
Kemudian Val menunjuk tulisan pada cover depan bungkus mi instan yang hendak dibuatkan Kafeel untuk Val.
“Ini kan tulisannya mie goreng ...“ kata Val. “Tapi memasaknya dengan cara direbus kan?—“
“Oh iya ya? ... bener juga kamu.”
Kafeel cengengesan pada akhirnya. Karena dia baru ngeh juga akan Val yang katakan soal mi instan kemasan tersebut.
“Pinter!” puji Kafeel sambil tersenyum geli dan memencet gemas hidung Val yang berdiri di sisinya itu.
Val juga menampakkan senyuman menggemaskan miliknya pada Kafeel.
“Iya dong! Pastinya Val pintar!” pongah Val sambil ia tersenyum lebar. “Pacarnya siapaaaa?—“
“Calon istrinya Kafeel Adiwangsa!” gemas Kafeel sambil terkekeh kecil. ‘Kapan sih dia ga ngemesinnya???? ...’
Kafeel membatin.
‘Cium bibirnya sebentar bisa kali? Mumpung cuma berduaan nih...’
♥
“Pelan-pelan makannya, Sayang ...“ ucap Kafeel saat ia dan Val sudah hendak menyantap mi instan yang Kafeel masak dengan dibantu oleh Val.
Bantu bukain bungkus bumbu doang itu si Val, sama menuang bumbu mi ke piringnya dan piring Kafeel.
“Habis mie instant goreng buatan Kak Kaf enak sekali? ...“
Val yang nampak makan dengan tak sabar itu menjawab dengan pujian.
“Bisa aja sayangnya aku nih.”
Kafeel menyahut seraya tersenyum geli.
Dimana Val kemudian tersenyum malu-malu sambil melirik pada Kafeel.
“Hem? ...” tanggap Val yang kepalanya diusap lembut oleh Kafeel.
“Kok ga dilanjutin makannya? ...” ucap Kafeel seraya bertanya. Dan Val cengengesan.
“Val merasa gimana gitu, dengar Kak Kafeel panggil Val dengan sebutan ‘Sayang’ ...”
Val menjawab sambil tersenyum simpul.
Kafeel balas tersenyum. “Tapi panggilan itu pasaran ...”
“Iya sih,” sahut Val. “Tapi kan maknanya dalam, Kak,” ucap Val lagi.
“Sedalam lautan? ...” kekeh Kafeel.
“Sedalam cinta Val pada Kak Kafeel dong!”
“Duh senangnya digombalin.”
“Ih enak saja!. Itu bukan gombalan melainkan kenyataan kalau cinta Val itu memang sangat dalam pada Kak Kafeel bahkan mengalahkan dalamnya lautan!”
Val melayangkan protes kecilnya sekaligus mengungkapkan isi hatinya yang sebenar-benarnya pada Kafeel yang terkadang begitu takjub pada kekasih kecilnya itu, yang mampu bicara dalam satu tarikan nafas saat mengucapkan kalimat panjang.
‘Makasih ya Val, sudah mencintai aku sampai seperti itu,’ batin Kafeel yang selain takjub pada kemampuan bicara cepatnya Val, namun ia selalu dibuat terenyuh oleh setiap ungkapan cinta Val padanya, dimana setiap ungkapan cinta Val padanya itu, selalu secara terang – terangan Val kemukakan pada Kafeel. 'Tapi dalamnya cinta aku juga ga kalah kok sama cinta kamu ke aku.'
Kafeel merengkuh tubuh Val, yang setelah bercerocos itu, kembali menyantap mi instan yang dibuatkan Kafeel untuknya.
“I love you, Val, Baby.”
Kafeel berucap tulus penuh cinta, lalu mengecup lembut pucuk kepala Val.
Dimana Val membalas rengkuhan Kafeel, dengan Val yang tersenyum lalu sedikit mendongak menatap wajah Kafeel.
“I love you more and as always (Aku lebih mencintaimu dan seperti selalunya), Kak ...”
Sambil tangan Val kemudian mengusap lembut garis rahang Kafeel.
“Terlalu cinta, hingga jika Kak Kafeel meninggalkan Val, mungkin Val memilih mati saja ...”
Dan didetik berikutnya,
“Tarik kata – kata kamu. Jangan bicara seperti itu. Aku ga suka dengernya! ...”
Kafeel meradang, ucapan Val terasa pahit didengar-selain menakutkan baginya.
Menakutkan bagi Kafeel membayangkan, jika suatu hari ia membuat kesalahan, lalu Val melaksanakan ucapannya.
Tidak! Tidak!
Memikirkan untuk meninggalkan Val tidak pernah ada dalam pikirannya. Tapi tetap saja, ucapan Val membuat hati Kafeel terasa nyeri-selain ia takut jika dia sampai menyakiti Val, lalu Val sampai berpikir pendek.
“Tarik, Val!”
__ADS_1
Kafeel meminta dengan tegas.
“Tarik ucapan kamu barusan!” tuntut Kafeel. “Jangan pernah bicara seperti itu. Disini seperti ada yang menusuk tau, mendengar ucapan kamu itu?! ...”
Kafeel menunjuk dada kirinya, setelah ia mengurai rengkuhannya pada Val.
“Aku ga pernah berpikir memang untuk pergi jauh dari kamu, Val ...” tambah Kafeel. “Tapi tetap, aku ga suka dengar kamu bicara sembarangan seperti itu! ...”
Kafeel masih agak meradang, atas sebuah kekhawatiran yang besar karena ucapan Val yang menyenggol tentang kematian.
“Iya, maaf, Kak ...” sahut Val. “Itu kan hanya perumpaan atas cinta yang Val rasa untuk Kak Kafeel,” tambah Val.
“No! Ga mau aku mendengar kamu mengumpamakannya begitu—“
“Iya, maaf ...”
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, tapi sekuat tenaga aku ga akan pernah melepaskan kamu, Val. Tapi ucapan kamu membuat aku takut jika suatu hari kita bertengkar, lalu kamu pendek akal. Kamu pikir bagaimana nantinya aku?! ...”
Kafeel menjadi cukup gusar.
“Maaf, Kak—“
“Please, jangan bicara sembarangan Val ...”
“Iya. Val tarik kembali kata – kata Val yang tadi.”
“Aku ga akan pernah meninggalkan kamu Val, mencoba bahkan berpikir pun engga ...”
“Thank you, Kak.”
Cup.
Val mengecup satu sisi pipi Kafeel.
“Jangan marah—“
“Aku ga marah, tapi aku gusar dan ga tenang ...”
“Sekali lagi Val minta maaf—“
“Dengar ...” Kafeel membuat Val benar – benar berhadapan dengannya, dengan netra Kafeel yang menatap Val begitu lekat. “Ini yang ingin aku bicarakan berdua dengan kamu, sebelum aku bicara dengan keluarga kamu lebih serius lagi ...”
“.........”
“Aku sudah sekilas membicarakan ini dengan The Dads, tentang lamaran resmi aku ke keluarga kamu ... Berikan aku sedikit waktu untuk mempersiapkannya dengan sangat baik—“
“Iya, Kak ...” tukas Val. “Val akan sabar dan setia menunggu hari dimana Kak Kafeel melamar Val secara resmi,” lanjutnya.
“Aku akan mempersiapkan pernikahan kita setelah aku melamar kamu secara resmi dengan secepatnya. Oke?—“
“Iya, Kak—“
“Enam bulan paling lama. Estimasi waktu persiapanku untuk menikahi kamu.”
Kafeel menegaskan.
“Wah lama sekali? ... Kenapa tidak enam hari lagi saja? ...”
Val mencoba mencairkan suasana, agar Kafeel tidak lagi gusar.
Karena yang sesungguhnya Val rasa adalah, Val yang bilang akan sabar dan setia menunggu itu memanglah seperti itu padanya.
Tak perlu Kak Kafeel tercintanya berjanji seperti barusan, karena sampai kapanpun Val akan sabar dan setia menunggu kesediaan kekasih setengah om-omnya itu untuk mengikatnya dalam pernikahan-seperti mimpi Val selama ini.
Jangankan enam bulan ...
Enam abad pun – istilahnya, Val akan terus sabar dan setia menunggu Kak Kafeel tercintanya itu mengucapkan,
‘Saya terima nikah dan kawinnya, Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith bin Moreno Aditama Adjieran Smith, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!’
♥
“Enam bulan paling lama. Estimasi waktu persiapanku untuk menikahi kamu.”
Kafeel mengutarakan kesungguhan janjinya pada Val.
Dimana Val mencoba mencairkan suasana agar Kafeel tidak lagi gusar itu bilang, “Wah lama sekali? ... Kenapa tidak enam hari lagi saja? ...”
Yang mana hal itu sukses membuat wajah Kafeel yang sesaat lalu nampak gusar dan serius, kini sudah beringsut menjadi rileks.
Membuat Val lega, karena ia berhasil mencairkan suasana yang tadi sempat tegang karena kegelisahan atas kekhawatiran Kafeel karena ucapannya.
“Nanti Poppa mengamuk jika aku sampai menembus rekornya menikahi Momma yang dalam hanya jangka waktu seminggu itu—“
“Haha, iya benar juga!—“
“Sabar sedikit yah? ...”
“Iya, Kak,” jawab Val pada Kafeel yang membelai lembut wajahnya sambil juga memandang dan menatap Val penuh kelembutan, selain cinta yang besar untuk Val di sorot mata Kafeel.
“Aku butuh sedikit waktu, untuk memberikan kamu yang terbaik, merencanakan dengan matang persiapan masa depan kita, agar aku bisa memberikan hal yang sempurna untuk kamu di pernikahan kita nanti. Sesempurna kamu di mata aku, Val ...”
Duh, Val bagai mentega di atas wajan panas jadinya karena ucapan Kafeel barusan. Membuat Val jadi spontan berucap,
“Kak Kafeel tahu tidak? ...”
“Soal?”
“Kalau Kak Kafeel itu seperti lempeng bumi—“
“Kenapa begitu?—“
“Ya soalnya bergerak sedikit saja, Kak Kafeel sudah mengguncang hati Val ...”
♥♥♥
To be continue ...
♥♥♥
Tau ga bedanya kamu sama motor?
__ADS_1
Komen kalo tau
Wkwkwk...