
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Singapore ....
Sejak beberapa menit yang lalu, delapan orang anak masih berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan yang cukup luas pada satu lantai hotel tempat delapan anak itu dan keluarganya menginap.
“Sudah membuat kesalahan, bukannya mempertanggung jawabkan, malah enak-enakan main!” Daddy R masih mencecar ke delapan orang anak yang sedang berdiri macam siswa-siswi pelanggar kedisplinan sekolah yang sedang disetrap oleh bagian kesiswaan.
“Bisa tolong diperjelas, kesalahan yang mana ya?”
Satu anak kembar nyeletuk dengan santainya.
Yang kemudian diiyakan secara bersahutan oleh para saudara-saudarinya.
Dan sahutan-sahutan itu membuat Daddy R berikut tiga Dad lainnya, mendesis sambil mendelik lagi.
“Kalian memukuli empat orang anak laki-laki dan seenak jidat pergi main ke Univ. Stud tanpa beban?!”
Seruan pun keluar dari mulut Daddy R, setelah sahutan-sahutan ricuh bikin pening kepala Daddy R dan tiga Dad lainnya itu terdengar dari anak-anak mereka baik yang sedarah ataupun tidak.
“Aku yang memukuli empat banci itu, Dad.”
Ann bersuara.
“Tapi atas nama saudara-saudarimu ini kan?!” Daddy Jeff yang kemudian berseru. Dan Ann CS pun mengangguk serempak.
“Kami kan bersaudara, ya harus saling mendukung dong!”
“Yak betul itu!”
“Karena apa gaesh??? ...”
“Karena kita, Satu Nama, Satu Kesatuan, Satu Keluarga, Satu Rasa, Persaudaraan Kita Diatas Segalanya!”
“Satukan Langkah Kita Pasti Bisa!”
“Persaudaraan Bagai Kepompong!”
“One Body One Soul!”
“Together Forever!”
“Bersama Sampai Mati!”
“Ah ya Tuhaan, rasanya aku ingin mencekik kalian karena mulut berisik kalian ini!”
Daddy R mengusap kasar wajahnya karena kelakuan ricuh delapan anak-anaknya itu.
Papi John, Daddy Jeff dan Papa Lucca juga sama geregetan yang mengarah pada sebal sekaligus berkesah frustasi dengan kelakuan anak-anak mereka ini.
Sementara sisanya, termasuk para wanita dewasa keluarga inti sekaligus para wanita kerabat yang ikut serta dengan para personil The Adjieran Smith di SIN saat ini-dimana mereka telah bergabung ke Private Lounge setelah sempat beristirahat sekaligus menunggu kepulangan delapan anak yang mereka sebut sebagai The Krucils, hanya terkekeh geli saja melihat empat Daddy yang sedang geregetan itu.
“Eh tapi Dad tahu darimana kita ribut disana? .... soalnya aku dan Rery tadi sudah sempat memperhatikan kalau ga ada CCTV di tempat itu?” tanya Aro pada Daddy R. “Ya kan Re-An?---“
“Yup!”
Rery menyahut dengan cepat atas ucapan Aro.
“Kecuali ....”
Aro menggantungkan kalimatnya.
Dengan kepala Aro yang bergerak untuk menoleh ke satu arah di bagian belakang dekat sudut ruangan Private Lounge, dimana beberapa bodyguard berdiri dengan sigap disana.
Rery dan para saudara-saudarinya itu pun kompak dengan spontan mengikuti apa yang Aro lakukan.
Lalu ....
“Wah Kak Achiel ternyata ember mulutnya!”
Celetukan pertama keluar dari mulut Mika.
Yang mana ....
“Heu? ....”
Yang punya nama langsung saja menoleh dan melongo.
“Tidak amanah, Astagfirullah.” Celetukan kedua langsung keluar dari mulut Val sebelum Achiel sempat bersuara.
”Ga friend lah kita, Kak Achiel! ----“ celetukan ketiga dan seterusnya pun saling bersahutan, menyerang Achiel.
“Ah parah si!”
”Padahal mau aku beliin jas baru! ----“
“Ternyata Kak Achiel mulutnya macam wanita ----“
“Iya lemes!”
“Ho oh, pantes ga pernah punya pacar!”
‘Hmm, sungguh terlalu!’
Hati Achiel yang tertindas berbisik tajam, akibat dijadikan kambing hitam.
Tapi apa daya, Achiel hanya bisa pasrah saja dengan celetukan-celetukan itu para tuan dan nona mudanya yang kadar kebangoran, keusilan, serta kelakuan anehnya ratusan persen.
Nasib!.
♥
“Jangan sembarangan menyalahkan orang lain!”
__ADS_1
“Ha! Betul itu!”
Ucapan tajam Daddy R serta timpalan dari Papi John membuat delapan pewaris muda tersebut kembali beralih pada para Daddy mereka yang masih bertampang serius.
Sementara sisanya terkekeh geli saja dengan kelakuan delapan pewaris muda yang seringnya konyol itu kelakuan mereka, serta menyabarkan Achiel juga yang dijadikan kambing hitam oleh The Bangor Kids tersebut.
“Tahu nih!”
Daddy Jeff juga ikut angkat suara.
Begitu juga Papa Lucca.
“Do not blame Achiel because he quite loyal to all of you, you know?!”
“(Jangan menyalahkan Achiel karena dia cukup setia pada kalian, tahu?!)”
Papa Lucca juga mendelik pada ke delapan pewaris muda tersebut, sambil ia bersedekap tegak.
“Really Papa? ---“
Isha langsung menukas ucapan Papa Lucca.
“Hem ....”
Papa Lucca hanya berdehem singkat saja menjawab pertanyaan Isha.
Lalu ke delapan pewaris muda itu kembali menoleh ke arah Achiel yang masih tetap dalam posisinya.
“Sorry kalau begitu Kak Achiel, karena sudah salah mengira! ---“
“Jadi belikan Kak Achiel jas baru kalau begitu Rery! ....”
Mika ikutan bersuara menimpali ucapan permintaan maaf Rery pada Achiel yang hanya menggerakkan kepalanya saja-mengangguk hormat.
“Tinggal sebut mau berapa piece!”
Rery menyahut pongah.
“Donald Bebek anaknya ....”
“Emang, ga kebuang banget kek bapaknya itu kesombongan hakikinya si Rery ....”
Didetik berikutnya terdengar celetukan kasak-kusuk dari mereka selain para Daddy dan bodyguard yang disusul suara kekehan kemudian.
♥
“Nah tuh, Kak Achiel mau dibeliin jas baru sama Rery, jadi maafin kita-kita yang udah nyangkain Kak Achiel ember mulutnya??? .... Oke Kak? ---“ celetuk Isha.
Yang tentu saja langsung disusul rentetan sahutan yang mendukung permintaan maaf Isha pada Achiel yang kembali menganggukkan kepalanya dengan santun.
“Iya, tidak baik menyimpan dendam.”
“Betul, apalagi jomblo. Nanti kalau dendam makin dijauhin jodohnya. Kasihan sama umur Kak ....”
‘Sabodo amat!’
“Terima kasih atas perhatian kalian, para tuan dan nona muda yang tiada dua ....”
Lalu Achiel menyahut dengan tenangnya.
“Kak Achiel ga marah kan? ....”
“Jangan marah lah, nanti nambah kerutannya, makin susah dapet cewe ....”
“Nanti ditambah salarynya sama The Dads ----“
“You wish (Enak saja)!”
Sahutan cepat langsung keluar dari mulutnya atas ucapan putri kandungnya yang sekate-kate itu, berikut toyoran cantik di kepala Ann dari sang papa kandung.
Dimana Ann serta para saudara-saudarinya itu langsung cekikikan.
“Pokoknya jangan marah ya Kak Achil ....”
“Iya, jangan sakit hati.”
“Betul, apalagi dendam.”
“Kita kan friend Kak Achiel, oke?”
“Harus lapang dada, menerima segala hal di dunia, termasuk tudingan dari kita orang .... Ya kan my brothers and sisters? ....”
“Iya betul, namanya manusia-“
“Tak luput dari khilaf dan salah-“
“Iyes, selain sabar. Ya Kak Achiel? ....”
“Saya tidak marah ataupun tersinggung pada anda-anda semua tuan dan nona muda yang luar biasa-“
“Bagus itu-“
“Saya justru mau berterima kasih, karena berkat anda-anda , saya menjadi pribadi dengan hati yang seluas samudera-“
Kata-kata Achiel menyiratkan makna yang mendalam untuknya, dan mereka yang paham selain The Bangor Kids itupun ngikik mendengar ucapan Achiel.
“Mantap!”
“Saranghae Kak Achiel!-“
“Sudah diam kalian wahai bocah-bocah tengik!”
Suara Daddy R yang bernada sebal itu kembali mengalihkan fokus The Bangor Kids.
“Udah dong Dad, laper nih!”
__ADS_1
The Bangor Kids paling bontot pun nyeletuk, karena memang dia yang paling ga tahan lapar.
“Masa bodoh!”
“Dad tega banget sama anaknya sendiri ....mentang-mentang aku bukan anak kandung Dad dan mentang-mentang orang tua kandung aku ga ada disini dua-duanya –“
Ares terluka hatinya.
Yah, sandiwara sih karena cacing-cacing di perutnya sudah mulai tawuran-selain kakinya kesemutan karena udah kelamaan berdiri.
“Iya betul Ares! ....”
Sang kakak kandung pun menimpali ucapan adiknya yang mukanya sedang dimelas-melasin itu.
“Pilih kasih!”
“Mana ada pilih kasih!” sergah Daddy R.
“Kamu, Ares ga makan, ya semua ga makan!”
Papi John menimpali lagi ucapan Daddy R. Begitu juga Daddy Jeff dan Papa Lucca.
“Hukuman kalian pun sama rata! ....”
“Correct (Benar)!”
Dan decakan dari The Bangor Kids pun langsung terdengar.
“Kami hanya membela diri, tidak sepatutnya kena hukuman Dads ....”
Ann angkat suara.
Dan tentu saja, lagi-lagi sahutan dukungan dari para sekutu pun membahana.
Yang mana, tentu saja, lagi-lagi membuat ke empat Daddy itu mendengus kesal.
“Still you all wrong (Tetap kalian salah)! ---“ seru Papa Lucca. Dan diiyakan oleh tiga Daddy yang lain.
“Ya tentu saja!”
Daddy R menimpali.
Membuat The Bangor Kids itu bertampang tidak terima dengan malas-malasan pada empat The Dads yang menyidang mereka.
“Ta ---“
“A-a-a-a .... sh-sh-sh ....”
Daddy Jeff menghentikan salah seorang personil The Bangor Kids yang hendak membuka mulutnya, dengan menutup mulut yang bersangkutan dengan telapak tangannya.
Pemandangan yang membuat penonton di belakang terkikik lagi ga kelar – kelar.
“Terlepas pembelaan diri kalian, kalian salah karena pergi main bukannya mempertanggung jawabkan kelakuan kalian dengan berbicara pada kami... itu satu... kedua, kesalahan itu sepenuhnya ada padamu bocah tengik nomor 6!...”
Lalu Daddy Jeff bicara setelah memutus ucapan Isha, menunjuk Aro kemudian.
“Nah kok begitu?...”
Respons cepat meluncur dari mulut Aro yang tak terima.
“Memang begitu!. Ini acaramu, tapi kau seenak jidat meninggalkannya, sampai aku bingung mencari alasan pada mereka yang ingin menemuimu!”
“Ah paling-paling mau kasih selamat sama pujian ...” sungut Aro. “Bosen dengernya. Dah lah emang aku jago makanya menang, kan?”
“Lagakmu!”
“Memang iya sih gitu kenyataannya –“
“Sudah diam kau!”
“Ya udah apalagi Dads, kami udah lapar berat ini! ....”
Celetukan keluar dari mulut Rery.
Dan tentu saja, karena provokasi Rery soal lapar itu, sahutan ricuh kembali membuat sakit kuping empat Daddy.
“Merepetnya sambil kami makan ya???----“ rayu Ares.
“Iya Dad, nanti kami sakit loh?”
“Iya betul, nanti kami sakit, sedih, menyesal ----“
“Ah sudah-sudah! Shu! Shu! ----“ potong Daddy R sambil mengibaskan tangannya.
Dan wajah- wajah sumringah The Bangor Kids pun sungguh nampak terlihat.
“Hipertensi akut gue bisa-bisa karena mereka!”
Daddy R menggerutu kala The Bangor Kids telah bubar jalan dari tempatnya, menyerbu meja panjang yang berisikan makanan lengkap.
“Besok kalian pulang naik pesawat ekonomi!”
“Waduh!”
“Kalau perlu pakai pesawat tempur!”
"Satu lagi ---" tukas Daddy R. "Uang jajan kalian bulan depan akan dialokasikan sebagian untuk para bodyguard yang sudah kalian repotkan, terutama itu tuh bodyguard dengan hati seluas samudera! ---"
Dimana yang merasa mengulum senyuman.
'Rezeki hati bodyguard yang tersakiti....'
Si pemilik hati seluas samudera pun membatin senang.
'Sering-sering kalo gitu mereka bikin ulah, cepet tajir gue kan? ....'
__ADS_1
♥♥♥♥♥
To be continue ...