
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin.
---- Tere Liye ----
🍃🍃🍃
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Siapa yang tadi ada di bersama Val dan yang lain ke rumah Kaka ---“
“Gue tekankan ulang...”
Poppa memotong ucapan Daddy Dewa.
“Dia yang baru saja lo sebut namanya, gue haramkan untuk di sebut lagi di lingkup keluarga ini ---“
“Got that ---“
“Teruskan apa yang mau lo bilang tadi, Wa,” tukas Papi John.
“Siapa yang ikut ke rumah ‘That Jerk’ bersama Val dan yang lainnya tadi?”
“Minta Pram panggilkan Achiel ---“
“Biar aku yang panggilkan. Sekalian aku ingin mengecek makan siang ---“
“Rasanya kami ga berselera, Chel...”
“Meski begitu. Kalian, kita, anak – anak harus tetap makan...”
“Ichel bener.”
“Karena kemungkinan kecil Val akan mau makan, jadi kita harus menjaga stamina...”
Mom Ichel lanjut berkata setelah Momma menimpali ucapannya.
“Untuk membujuk Val agar mau makan...”
“Hem... Bener...”
Mami Prita angkat suara.
“Membujuk Val makan dan menghiburnya emang ga melelahkan, tapi menguras emosi ---“
“Dan menguras emosi itu butuh tenaga ekstra. Karena aku yakin, setelah kita kemungkinan bergantian menghibur Val nanti, kurasan emosi itu akan memunculkan air mata saat melihat Val menangis lagi tanpa jeda ---“
🍃🍃🍃
Di tengah beberapa orang tua yang sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu ada anak – anak mereka yang keluar dari kamar Val lalu mengatakan jika Val sudah baik – baik saja dan sudah bisa menerima takdir cintanya dalam artian tidak akan menangisi lagi kegagalan cintanya --- yang mana rasanya tidak mungkin itu cepat terjadi dalam hitungan menit – jam – bahkan hari, seorang asisten rumah tangga dalam kediaman The Adjieran Smith yang berada di Jakarta itu, datang dengan sedikit tergopoh ke hadapan para tuan dan nyonya nya yang sedang berkumpul di ruang keluarga tersebut.
“Ah Pram, kebetulan.”
Daddy Jeff pun langsung berujar.
“Ada apa, Mas Pram?...”
Momma ikut berbicara seraya bertanya, karena melihat salah satu kepala asisten rumah tangga bagian pria nampak ragu – ragu untuk berkata.
“Maaf Tuan, Nyonya, ada Tuan Kafeel datang...“
“Jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah ini.”
Dimana ucapan seorang kepala asisten rumah tangga bagian pria itu ditukas oleh Dad R yang lantas berdiri.
🍃🍃🍃
“Memang ga dikasih masuk sama Mas Acil, Tuan ---“
“Kamu disini aja, D,” tegas Momma pada Poppa.
Suaminya yang temperamental itu, ketika sama seperti empat Dads lain yang sedang bersama Momma, Poppa juga langsung berdiri dari tempatnya selepas salah satu kepala asisten rumah tangga mereka mengatakan jika ada Kafeel datang ke Kediaman mereka sekarang.
“Biar gue yang temui dia...”
Papi John angkat suara mengambil inisiatif untuk menemui Kafeel.
🍃🍃🍃
Merasa bertanggung jawab atas dirinya yang secara tidak langsung membawa Kafeel masuk ke dalam lingkup keluarganya, Papi John yang kini baru saja turun dari sebuah mobil yang biasa disebut sebagai golf car dan telah meminta pada penjaga gerbang untuk membuka gerbang tinggi dan kokoh kediaman mereka saat dirinya telah berdiri tegak di baliknya --- berinisiatif untuk menghadapi Kafeel yang tidak dibiarkan masuk oleh para pengawal pribadi mereka yang paham situasi.
“Piih...”
Suara lirihan terdengar, saat gerbang Kediaman The Adjieran Smith yang berada di Jakarta itu telah bergerak untuk terbuka secara otomatis, apabila sebuah tombol penghubungnya di tekan oleh penjaga gerbang dari dalam pos mereka.
Dan pintu tinggi dan kokoh tersebut menutupi akses penglihatan interior dari gerbang hingga sampai ke bangunan mewahnya itu yang tidak akan terlihat dari tempat berdiri di bagian luar gerbang --- jika gerbang otomatis tersebut tidak terbuka.
Papi John telah berdiri tegak dan bersedekap ketika pintu terbuka, dan satu sosok yang merupakan sumber kegetiran diri dan keluarganya itu berdiri di seberang gerbang.
Kafeel Adiwangsa.
“Tetap di tempatmu.”
Papi John langsung bersuara, ketika ia menangkap gelagat Kafeel yang ingin mendekat padanya.
Langkah Kafeel sontak pria itu hentikan.
Dan tangan Kafeel yang tadi hendak meraih tangan Papi John untuk ia cium dengan takdzim seperti biasa, kembali turun dengan lunglai.
Jangankan untuk menyalim takdzim pada Papi John, rel gerbang pun tak sampai Kafeel lewati.
Kafeel mengangguk kemudian.
“Masih berani kau menunjukkan muka kepada kami?”
Papi John kembali bersuara.
__ADS_1
Dingin, sedingin raut wajahnya pada pria yang sudah ia anggap sebagai anak lelakinya sendiri.
Papi kecewa pada anak angkat yang langsung berada di bawah tanggungannya.
Karena sebagaimana Gappa meresmikan Dad R sebagai anak angkat yang setara dengan anak kandungnya di mata hukum, Papi John melakukan hal yang sama pada Kafeel.
Menjadikannya anak angkat yang diberikan hak setara seperti anak kandungnya.
Tapi berbeda dengan Dad R yang memberikan kebanggaan pada Gappa, Kafeel memberikan luka pada Papi John melalui perbuatan pada salah satu putrinya.
Yang bukan tindakan asusila, namun kiranya setara.
Karena sama – sama memberikan dan akan meninggalkan luka yang akan tertoreh cukup lama.
Mungkin juga trauma.
🍃🍃🍃
“Ma, af... Pih, ma, af...”
Kafeel melirih.
Nampak kacau penampilannya sekarang, selain wajahnya yang juga sembab.
“Maafmu tak berguna.”
Papi John merespons lirihan Kafeel.
🍃🍃🍃
Kafeel mengangguk setelah mendengar ucapan dingin Papi John yang Kafeel memang tahu betul, jika memang maafnya tak berguna sama sekali --- mau berjuta kalipun ia mengatakannya, baik pada Papi John ataupun anggota keluarga The Adjieran Smith yang lain --- Val, terutama. Yang telah ia kecewakan dengan teramat sangat, yang sudah ia sakiti dengan begitu hebat.
“Mau apalagi kau kesini? ---“
“A,ku ---“
“Karena yang aku dengar jika R sudah memberikan penegasan berikut peringatan padamu untuk menjauhi kami sejak hari dimana kau membuat mimpi dan harapan Val serta kami semua hancur.”
🍃🍃🍃
“Dan sekarang, kau berani memunculkan diri?”
“Aku ---“
“Kau menganggap remeh peringatan, R ---“
“Engga, Pih, engga ---“
“Atas nama aku menyayangimu...”
Papi John kembali menukas ucapan Kafeel.
“Pernah,” ralat Papi kemudian. “Pergilah. Sebelum ada peringatan kedua. Dan itu akan keluar dari mulutku sendiri.”
Masih tegak Papi John berdiri menatap tajam pada Kafeel dengan tangan Papi yang sudah tidak bersedekap lagi. Kedua tangan Papi kini sudah berada di dalam masing – masing sisi saku celana, yang ia sengaja sembunyikan agar tangan itu tak melayang memberikan Kafeel bogeman.
Karena sedikit banyak ia telah mendengar, cerita Dad R mengapa Kafeel sampai harus ‘undur diri’ dalam hubungannya dan Val yang sudah tinggal di depan mata, dimana hubungan itu akan diikat dalam satu pernikahan yang digelung bahagia.
Tentu bahagia, karena Val dan Kafeel saling cinta.
Tapi sayang tak kesampaian.
Yang mana berimbas pada hubungan kekerabatan yang juga harus berakhir.
Tak hanya satu, tapi banyak yang hancur karena kesilapan Kafeel yang selain dianggap suatu kebodohan, namun juga bentuk ketidakseriusan yang menimbulkan keraguan.
“Tak usah memandangku... Tapi Val?... Kau tega menipunya dengan harapan cintamu yang kosong itu? ---“
“Engga Pih engga!” Kafeel dengan cepat membantah dan menggeleng keras. “Demi Allah ---“
“Jangan kau bawa nama Tuhan di atas kebohonganmu itu!”
Suara Papi John meninggi, satu telunjuknya telah spontan mengarah tajam kepada Kafeel.
“Aku mencintai Val dengan tulus, Pih. Aku sangat sangat mencintainya... Aku ---“
“Jika kau tulus mencintainya kau tidak akan sampai terbuai dengan perempuan lain dan berakhir di tempat tidur!”
Papi John naik pitam, namun sesaat saja.
Karena setelahnya, Papi John berbicara dengan nada suara yang lebih pelan, bahkan terkesan putus asa.
“Atas nama sebagai ayah angkatmu yang resmi kau sungguh mengecewakanku, tahu? ---“
“Aku tau, Pih... Maaf... Sudah mengecewakan dan membuat Papi malu karena memiliki anak angkat sepertiku...”
Kafeel melirih, dengan air mata yang menggenang.
Sebenarnya sama, Papi John juga sedang menahan campuran emosi di hatinya atas Kafeel.
Ya marah, ya sedih, ya kecewa, tapi juga iba.
Iba, karena menangkap penampilan Kafeel yang kacau --- menandakan jika anak angkat resminya itu pun tidak menyangka semua ini terjadi.
Sorot matanya pun sama terluka seperti Val. Papi John iba sebenarnya, tapi Kafeel sungguh membuat kecewa dirinya secara pribadi.
Tapi daripada Kafeel, tentu Papi John lebih berat kepada Val.
Kafeel mungkin memiliki kesedihan atas perpisahannya dengan Val atas namanya Kafeel punya kebodohan.
Namun Val lebih parah kondisinya, akibat kelewat dalam lukanya.
Yang sudah Papi John lihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa saat yang lalu.
Jadi, daripada berlama – lama lagi bicara dengan Kafeel dan hatinya menjadi tak karuan,
“Pergi. Kami tidak sudi melihatmu lagi di hadapan kami.”
Itu yang kemudian Papi John katakan pada Kafeel sambil ia menggerakkan diri untuk berbalik pergi.
“Pih! Tunggu! Aku mohon... Setidaknya, beritahu aku bagaimana keadaan Val? ---“
“Hancur.”
“Maksudku, bagaimana... Kondisi kesehatan Val?... Karena tadi... Saat... Saat ---“
__ADS_1
“Pergi. Layaknya keluarga ini, Val sudah tidak ada urusan lagi denganmu.”
“Ijinkan aku... Menemui Val, Pih ---“
“Tidak.”
“Aku, mohon, Pih ---“
“Untuk apa?”
Suara lain terdengar di belakang Papi John.
Satu suara, namun si pemilik suara tidak datang sendiri.
Kafeel meneguk samar salivanya.
Kini sudah berdiri, lima pria utama garis pertama dalam jajaran The Adjieran Smith --- di hadapannya.
Minus satu, yang tak ada.
Namun lima itu cukup membuat Kafeel pasrah di tempatnya.
Kemungkinan besar, ia akan dihajar habis – habisan oleh lima orang pria paruh baya --- namun masih nampak bugar kondisi tubuhnya, selain masih sanggup mereka memukuli orang dengan kekuatan paruh baya mereka yang mungkin hanya berkurang sedikit saja tenaga mereka saat muda --- jika dilihat dari tegapnya tubuh lima pria paruh baya itu.
Tapi tak apa, Kafeel rela selain pasrah.Toh dia sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi bulan – bulanan amarah para ayah atau para saudara lelaki Val.
🍃🍃🍃
“Untuk apa kau menemui Val?...”
“Aku ingin meminta maaf padanya secara langsung ---“
“Dia tidak membutuhkan maafmu.”
“Aku tahu... Tapi ijinkan aku menemui dan bicara padanya untuk yang terakhir kalinya... Aku mohon...”
Kafeel melirih lebih lagi.
“To – long... satu menit pun ga apa – apa...”
“Jika kau bisa mengembalikan seperti semula apa yang sudah kau hancurkan, kesempatan itu akan kau dapatkan, Kafeel Adiwangsa...”
Dad R sudah berada lebih dekat jaraknya dengan Kafeel.
“Tapi jika tidak, jangankan satu menit. Satu detikpun tidak akan aku biarkan orang yang telah membuat dunia putriku hancur lebur, memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya...”
Datar, Dad R berbicara.
Namun penegasan tergambar jelas di ucapannya.
“Seperti yang John katakan, Val dan kami, tidak butuh maafmu,” tukas Dad R.
Di detik dimana, Kafeel menurunkan kakinya.
Kafeel bersimpuh di tempatnya, seraya menundukkan kepala.
“Aku – mohon... Dad... Tuan Moreno... Maksudku... Maaf...” Kafeel tersedu. “Sebentar, aja... ijinkan aku bertemu Val... Aku, benar – benar... ingin meminta maaf, secara langsung padanya... to – long... Aku mohon...”
Yang lirihan permohonan Kafeel nan nampak pilu itu tidak membuat Dad R mengubah keputusannya. Meski --- sama seperti halnya Papi John tadi, Dad R juga lainnya menahan getir dalam hati mereka melihat Kafeel sekarang.
Nampak kacau dan tertekan.
Nampak juga hancur, selayaknya Val.
Rapuhnya pun begitu kentara.
Marah dan kecewa, tapi sungguh The Dads rasanya tak tega jika harus menghajar Kafeel habis – habisan seperti yang emosi inginkan saat melihat kondisi Kafeel yang sungguh tidak ada guratan sandiwara di lirihan permohonannya sekarang.
Geram dan rasa sayang sedang beradu dalam hati para Dads of Adjieran Smith yang menatap Kafeel datar, namun mata mereka mulai panas, dan di sudut hati yang paling ujung seperti ada yang mencubit.
Sedih juga melihat Kafeel sebenarnya.
Atas namanya kesilapan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Tapi The Dads dapat membaca, bahwa cintanya Kafeel pada Val masih tetap seperti semula.
Namun ya itu, Kafeel telah menorehkan kecewa yang teramat sangat juga di hati mereka atas kelakuannya.
Sebesar apapun penyesalannya, sebanyak apapun maaf yang terucap dari mulutnya, nasi telah menjadi bubur.
Bubur yang tidak bisa dikembalikan lagi menjadi nasi, dan butiran nasi pun tidak mungkin bisa dikembalikan lagi menjadi beras.
Semua sudah terjadi, semua sudah tersakiti.
Iya, The Dads sakit hati pada Kafeel yang tak bisa menjaga dirinya agar kesalahan fatal yang ia lakukan tidak terjadi.
Tapi The Dads sulit membenci dia gerangan yang sedang bersimpuh nampak begitu menyesali diri.
Kafeel Adiwangsa di luar dirinya yang menyakiti Val, adalah pribadi yang kiranya sudah mereka terlanjur sayangi.
Inginnya fisik Kafeel mereka hakimi, namun hati membentengi.
Jadi,
“Pergi dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapan kami semua tanpa terkecuali, jika kau masih tahu caranya menghargai segala hal yang pernah kami lakukan untukmu. Kau tahu bagaimana cara membalas budi, bukan?...”
Kafeel mendongak, menelan ludah yang dirasa pahit, lalu mengangguk lemah.
“Menjauh dari kami, dan kami anggap itu sebagai balas budimu pada kami.”
Jadi seperti itu saja Dad R katakan.
“Kau sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini. Apapun yang terjadi padamu di luar sana --- andai kau terkena masalah, maaf – maaf saja kami tidak akan mengulurkan tangan padamu dan keluargamu. Sebaliknya, semua tentang keluarga ini, tak perlu kau pedulikan lagi. Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain.”
Ya sudah.
Pembicaraan para Dads yang didominasi Dad R dan Kafeel telah selesai.
Untuk yang terakhir, mereka hanya bisa saling lempar pandang sebelum gerbang Kediaman The Adjieran Smith kembali di tutup.
Memisahkan dua sisi, yang tak hanya bermakna konotasi.
Karena berakhirnya hubungan Val dan Kafeel karena ‘noda’ yang Kafeel buat, membuat berakhir juga hubungan yang disebut sebagai kerabat.
Getir yang dirasa, pun sama rata.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
To be continue...