
RELATION - ( HUBUNGAN )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Pada episode sebelumnya:
“Jadi kita pacaran sekarang?” kata Val setelah ia mengurai pelukannya pada Kafeel. Dan Kafeel tersenyum geli. Dan satu tangan Kafeel memencet gemas hidung Val.
“Maunya Val?....” Kafeel balik bertanya.
“Maunya Val sih, Kak Kafeel cepat-cepat melamar Val!”
“Val, Val.... Buru-buru sekali?”
“Ya Val ingin saja cepat-cepat memiliki Kak Kafeel –“
“Kan sudah.” potong Kafeel. “Kakak sudah jadi milik Val sekarang, begitupun sebaliknya.”
“......”
“Beri Kakak waktu, untuk mempersiapkan semuanya. Ya?”
“Jadi Kak Kafeel benar-benar serius pada Val?!”
“Tentu Kakak serius pada Val,” ucap Kafeel yakin. “Nanti kalau Kakak ga serius, Val diambil orang?”
♥♥♥♥
“Aaa.... Kak Kafeel.....” Val memekik senang dengan sikap manja dan menggemaskan sambil menghamburkan pelukannya pada Kafeel.
Kafeel pun kembali membalas pelukan Val.
Karena sesungguhnya Kafeel ingin terus memeluk Val.
Merengkuh gadis tercintanya itu dalam eratnya dekapan.
♥
Kafeel terus saja tersenyum selama Val mendekap erat dirinya. Sedang menikmati pelukan hangat gadis yang telah membuat hati Kafeel bergejolak. Yang dapat membuat Kafeel merasakan seperti ada kupu-kupu yang sedang menari-nari di dalam hatinya. Gejolak perasaan suka yang pernah Kafeel rasakan dulu.
Gejolak saat Kafeel sedang mengagumi dan menyukai seorang wanita. Hanya saja, gejolak yang kini Kafeel rasakan karena Val, Kafeel rasa berbeda.
Kafeel pernah menjalin cinta dan hubungan dengan satu dua wanita yang diseriusi sebelumnya. Katakanlah Kafeel merasa bahagia kala itu dapat menjalin hubungan dengan wanita yang ia sukai dengan serius.
Tapi kala itupun, Kafeel tak sampai berpikir jauh tentang cinta, atau melangkah ke jenjang yang paling serius dalam suatu hubungan. Meskipun jalinan ikatan bersama satu dua wanita itu Kafeel jalani dengan serius.
Namun, Kafeel tidak pernah berpikir untuk sebuah pernikahan. Meskipun juga hubungan dengan satu dua wanita yang Kafeel pernah jalin dalam hidupnya itu, tidak bisa dikatakan sebagai hubungan iseng saja untuk Kafeel. Hanya saja kala itu, Kafeel belum siap untuk berkomitmen.
Padahal, satu dua wanita yang pernah serius menjalin hubungan dengan Kafeel itu dapat dikatakan sebagai wanita matang yang tentunya memiliki sikap dan pemikiran yang dewasa. Namun ternyata hal itu belum dapat menggugah hati Kafeel untuk berkomitmen dalam suatu pernikahan.
Pun, tidak Kafeel pikirkan dengan serius, sampai hubungannya dengan satu dua wanita yang pernah serius Kafeel sayangi itu kandas. Lalu Kafeel berhenti berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan wanita, saat keluarganya ditimpa tragedi yang sampai membuat sang ayah terbunuh dengan nama baik yang telah tercemar.
Tapi sekarang....
Gadis belia yang sedang memeluk erat dirinya ini....
Gadis yang tingkahnya masih terkadang kekanak-kanakan diusianya yang hampir mencapai delapan belas tahun, seolah telah membalikkan dunia Kafeel, hingga membuat Kafeel merasakan lebih dari yang pernah Kafeel rasakan sebelumnya pada para wanita yang pernah serius berhubungan dengannya. Hingga kalimat,
“Terima kasih telah membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tak bisa.”
Meluncur begitu saja dengan tulusnya dari mulut Kafeel pada Val. Saking hati Kafeel merasa begitu syahdunya karena Val.
“Mulai sekarang Kak Kafeel jaga hati Kak Kafeel hanya untuk Val seorang ya?” ucap Val yang merupakan sebuah permintaan bernada permohonan.
“Tentu, Val. Tentu saja Kakak akan menjaga hati Kakak untuk Val seorang mulai dari sekarang.”
♥
*“I love you*, Kak Kafeel.”
Val berucap sambil masih mendekap erat punggung Kafeel.
“I love you more, Val.”
Kafeel pun membalas lembut ungkapan cinta Val barusan.
Tanpa sedikitpun Kafeel berusaha mengurai dekapan Val padanya itu.
♥
“Val tahu kalau jodoh itu sudah ada dalam ketentuan Tuhan yang sudah digariskan pada setiap makhluknya,” ucap Val setelah ia mengurai pelukannya pada Kafeel.“ Tapi Val ingin meminta satu hal pada Kak Kafeel ..”
“Katakan.”
Kafeel menyahut tanpa ragu.
“Kak Kafeel mau berjanji satu hal pada Val?” Sebuah permohonan tercetus dari mulut Val pada Kafeel.
“Jika Kakak memang sanggup, jangankan berjanji ...” ucap Kafeel. “Apapun yang Val minta akan Kakak lakukan.”
Kafeel serius mengucapkan, namun keteduhan tatapan Kafeel berikan pada Val.
Val tersenyum sumringah setelah mendengar ucapan yang merupakan jawaban pertanyaannya.
“Aa!!. Kak Kafeel sweet sekali sih... Val kan jadi semakin tergila-gila sama Kakak!” seru Val dengan riang.
Bahkan saking riang serta juga bahagia mendengar jawaban Kafeel yang romantis bagi Val itu, Val sampai gemas hingga mencubit gemas pipi Kafeel dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Kafeel jadi terkekeh dibuatnya. Dan ia kembali mengusap-usap lembut punggung Val, yang kembali memeluknya dengan cepat barusan. “Jadi, Val ingin Kakak menjanjikan apa?”
Kafeel kemudian berucap seraya bertanya pada Val. Tadinya ingin menarik tubuh Val dan mengurai pelukan mereka sesaat untuk menanyakan hal yang barusan Kafeel ucapkan.
Bukan karena risih dipeluk oleh Val, tapi karena Kafeel ingin lagi melihat wajah menggemaskan Val.
Setelah itu, setelah Val menjawab pertanyaannya, jika Val ingin memeluknya kembali bahkan tanpa dilepas pun tak apa – ibaratnya begitu.
Tapi berhubung Kafeel merasakan dekapan Val begitu eratnya, jadi tadi dia bertanya dalam keadaan ia dan Val masih saling berpelukan. Kafeel biarkan saja Val yang terus memeluknya itu.
“Seperti yang Val katakan tadi Kak... Bahwasanya Val tahu kalau jodoh itu sudah ada dalam ketentuan Tuhan yang sudah digariskan pada setiap makhluknya. Tapi meski begitu, Val ingin Kak Kafeel berjanji...” ucap Val. “Berjanji agar Kak Kafeel selalu menjaga hati Kakak untuk Val, berjanji jangan pernah menyakiti Val yang mencintai Kakak. Janji, jangan pernah meninggalkan Val...” pinta Val.
Dengan suara Val yang semakin ke belakang terdengar semakin sedikit pelan dan lirih, seolah Val sedang merasa ketakutan.
“Apa Kakak bisa menjanjikan itu pada Val?” tanya Val tanpa berniat mengurai pelukannya pada Kafeel dengan cepat.
“Janji.” jawab Kafeel tanpa perlu waktu untuk berpikir. “Janji, Kakak akan menjaga hati Kakak untuk Val.”
Kafeel mengeratkan pelukannya.
“Tidak akan pernah Kakak menyakiti hati Val.”
Bersuara dengan lembut, namun Kafeel penuh keyakinan saat mengucapkan kalimatnya barusan.
“Tidak akan pernah meninggalkan Val.” Janji Kafeel sungguh-sungguh. Bukan karena tak enak hati.
Melainkan,
‘Rasanya juga aku ga akan sanggup melakukannya Val.’
Memang itu yang sebenar-sebenarnya isi hati Kafeel mengenai permintaan Val padanya itu.
__ADS_1
“Kakak janji Val.” tegas Kafeel dengan suara yang lembut.
Dengan dirinya yang masih mendekap erat Val. Dimana Val yang sedang memeluk Kafeel itu, sedang tersenyum bahagia.
“Setelah apa yang terjadi diantara kita hari ini...”
Kafeel lanjut bicara.
“Nanti saat Val kembali ke London saja, Kakak sudah membayangkan jika Kakak akan merasa kehilangan.”
Val kembali tersenyum.
“Kakak ga akan bisa sering-sering dipeluk dan memeluk Val seperti ini...”
Kafeel kembali mengeratkan pelukannya pada Val. Namun dengan cara yang lembut.
“Jadi rasanya tidak mungkin Kakak akan meninggalkan Val. Apalagi sampai menyakiti Val. Berpikir pun tidak.” tutur Kafeel lembut, namun memang sungguh-sungguh.
“Terima kasih, Kak...” ucap Val pelan, dengan juga semakin mengeratkan pelukannya, dengan dagu Val yang ia topangkan di salah satu pundak Kafeel. “Terima kasih.”
Kafeel tersenyum mendengar penuturan Val yang berterima kasih padanya itu. “Tidak perlu berterima kasih, Val...” Kafeel mengelus lembut surai Val yang masih memeluknya itu.
“I love you, Kak.”
Kalimat cinta itu sekali lagi Val ucapkan.
“I love you more, Val.” dan jawaban dari Kafeel atas balasan ungkapan cinta Val padanya pun kembali terdengar. Tulus, juga sungguh-sungguh.
“Janji ya, Kak Kafeel tidak akan meninggalkan Val apapun yang terjadi?” Val kembali meminta, kali ini dengan suara yang bak rengekan manja.
Dimana Kafeel menarik sudut bibirnya.
Masih mendekap Val yang belum terlihat ingin mengurai pelukannya.
Tangan Kafeel juga masih membelai lembut kepala dan surai Val. “Janji.”
‘Terima kasih Kak...’ hati Val berucap. ‘Karena jika Kak Kafeel sampai meninggalkan Val, kemungkinan besar... Val, akan mati.’
♥
Val dan Kafeel telah bersiap untuk meninggalkan tempat mereka berada saat ini, selang beberapa saat setelah mereka selesai makan.
Kini, Val berjalan bersisian dengan Kafeel untuk meninggalkan area pantai. Namun tak terlihat pemandangan Val yang menggelayuti Kafeel seperti selalunya.
Pemandangan Val yang menggelayuti Kafeel telah berganti, karena kini Val berjalan-selain bersisian dengan Kafeel, dengan jemari mereka yang saling menggenggam.
Dengan mata yang saling juga bertautan sembari Val dan Kafeel berjalan menuju bagian restoran yang lain, untuk kemudian pergi melangkah melewati pintu keluar restoran yang juga berfungsi sebagai pintu masuk.
Tergambar dengan jelas, jika dua insan yang tangannya sedang saling menggenggam seraya mereka berjalan ini, adalah dua insan yang sedang kasmaran.
Dengan saling sering melempar senyum satu sama lain saat berjalan, dan mata yang seolah enggan untuk berpaling satu sama lain.
( Awas kesandung ).
♥
Sapaan riang dari Val terdengar, saat dirinya telah mencapai bagian restoran dimana Achiel telah berdiri dengan sigap disana. “Kak Achieell!!...” berikut senyuman lebar yang tampak di wajah Val yang ditujukan pada salah satu pengawal khususnya itu.
‘Begini nih, kalau punya pacar kelewat ramah.’
Kafeel membatin.
‘Siapa aja disenyumin.’
“Nona Muda, Tuan Kafeel...” sapaan pun keluar dari mulut Achiel. Dengan sopan seperti selalunya.
Kafeel menyahut, tapi hanya dengan deheman saja. “Hm.”
Dengan wajah Kafeel yang terpasang datar.
Kafeel sedikit menggerutu dalam hatinya, sambil melirik setengah sinis pada Achiel.
Sementara itu Val masih tersenyum lebar.
Lalu Val melangkah lebih dekat pada Achiel.
“Eh mau ngapain?” Pacar yang sebel dengan adegan Val yang mencubit gemes pipi salah seorang bodyguard khususnya itu bergerak cepat menghalangi Val yang tadinya hendak mendekat pada Achiel.
“Heu?...” Val sedikit terkejut.
“Mau apa?!”
Kafeel berkata pada Val dengan tatapan sedikit tajam.
“I-tu...” Val yang seketika menjadi sedikit gugup. Gugup, dan agak-agak heran sih sebenarnya dengan sikap Kafeel.
Akibat sikap sang pacar ( cieeeeh ) yang tiba-tiba berdiri dihadapan Val dengan tangan terentang.
Berdiri tegak diantara Val dan Achiel.
♥
Val yang sedikit gugup itu, sontak menoleh pada Kafeel seraya ia mendongak ketika Kafeel terdengar berkata dengan sedikit tajam padanya tadi kala bertanya Val mau apa dengan mendekati Achiel. Dimana Kafeel menyadari hal tersebut.
Menyadari kegugupan Val yang sedikit itu.
“Val cantik mau apa?” ucap Kafeel dengan pertanyaan yang sama tentang maunya Val.
Hanya embel-embel ‘Val Cantik’ Kafeel tambahkan, untuk mendukung sikapnya dalam bertanya pada Val menjadi tidak sedikit ketus seperti sebelumnya.
Jangan lupakan keramahan ekspresi Kafeel dengan bibir yang melengkung ke atas, berikut suara dengan nada yang begitu lembutnya.
“Itu Kak... Val hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Achiel... Karena tadi Kak Achiel memberikan Val nasihat-nasihat.”
Val menerangkan alasannya yang ingin mendekat pada Achiel tadi. Dan Kafeel hanya menanggapi langsung dengan ‘Oh’.
“Bicara dari tempat Val berdiri sekarang kan bisa.”
Kafeel berucap.
“Tidak perlu terlalu dekat—“
Lalu Kafeel sedikit memiringkan tubuhnya dan menoleh, sekaligus berbicara pada Achiel.
“Kau tidak tuli kan?” kata Kafeel sedikit sarkas dengan satu alis Kafeel yang nampak naik. Achiel menggeleng.
“Tidak Tuan... kuping saya masih normal.” Kemudian Achiel pun menjawab dengan ramah pada Kafeel.
Dan Kafeel kembali menghadapkan dirinya pada Val. “Tuh, Val dengar kan tadi dia bilang apa?. Kupingnya Achiel masih normal.”
“Iya Kak...”
Val pun menyahut.
“Jadi Val bisa mengucapkan terima kasih dari sini aja.”
Senyuman Kafeel tunjukkan pada Val yang juga menunjukkan senyuman lalu manggut-manggut.
“Uuumm...” Val menggumam pelan.
“Kenapa?...”
Kafeel sontak bertanya.
__ADS_1
“Bagaimana Val bisa berbicara pada Kak Achiel kalau Kak Kafeel menghalangi Val.”
‘Oh iya, ya?...’ batin Kafeel.
‘Gini nih kalo cinta udah bicara----‘
Yang ini, batinnya Achiel.
‘Orang bisa jadi oon seketika!’
Pada akhirnya Val terkekeh kecil karena sikap Kafeel itu.
“Kak Kafeel cemburu ya?”
“Hah, apa?... cemburu?...”
Kafeel balik bertanya pada Val yang mesam-mesem.
Val pun manggut-manggut dengan tampang jahil, namun sumringah.
Pasalnya sikap Kafeel memang seperti sedang cemburu pada Achiel, dan itu membuat Val bahagia.
‘Ya ampuunn...’ seru Val dalam hatinya. ‘Mimpi apa aku dicemburui Kak Kafeel?!...’ Val merasa tak percaya disela bahagianya.
“A-ku tidak cemburu...”
Kafeel menyanggah dugaan Val.
“Lagipula kenapa juga aku harus cemburu sama bodyguard kamu ini?”
Kafeel kembali berucap sembari melirik setengah sinis pada Achiel. Lalu berdecih kecil.
Val kembali terkekeh kecil sambil memperhatikan ekspresi dan sikap Kafeel.
“Ya sudah kalau begitu Kak Kafeel bergeser dong.”
Val memandang pada Kafeel yang akhirnya bergeser. Tapi hanya sedikit saja.
Val kembali terkekeh kecil.
“Kak Achiel, terima kasih ya untuk nasihat Kak Achiel pada Val tadi---“
“Sama-sama Nona---“
Achiel menyahut ramah.
“Biasa aja ga usah pake senyum-senyum!”
Lalu ada yang menyambar tiba-tiba ketika sang Nona Muda dan Bodyguard khususnya itu sedang bicara. “Sok banget tebar pesona...”
Yang menyambar menggerutu kemudian.
‘Katanya ga cemburu...’ Sang Nona Muda dan Bodyguard khususnya itu sama-sama membatin.
Dan orang tersebut juga sama-sama melirik pada orang yang barusan menyambar masuk dalam pembicaraan mereka, lalu menggerutu kemudian.
Dimana orang yang menyambar lalu menggerutu itu adalah AA Kafeel, sedang bersedekap dengan bibir yang mengerucut.
Sungguh pemandangan langka bagi Val dan Achiel, sekaligus membuat keduanya merasa geli sendiri.
‘Kak Kafeel menggemaskan banget ih kalau wajahnya seperti itu. Ingin aku kecup rasanya, kalau tidak ada Kak Achiel!’
Val membatin gemas.
‘Duh! Sayang gue ga bawa ponsel...’
Yang ini batinnya Achiel.
‘Kalo gue foto muka Tuan Kafeel yang lagi begini, gue rasa ga akan ada yang percaya kalau itu dia.’ Monolog Achiel dalam hatinya. ‘Apa katanya Tuan Alva kalau melihat orang kepercayaannya yang selama ini sama dinginnya dengan Tuan Alva itu tampangnya, jadi macam Tuan Muda Putra yang unyu-unyu itu kalau sedang merajuk...’
Achiel cekikikan dalam hatinya.
‘Pengen gue sentil ga tuh bibirnya Tuan Kafeel.’
“Sudah kan berterima kasihnya?” Suara Kafeel membuyarkan lamunan kedua orang yang sedang sibuk membatin itu.
‘Aduh, aku sampai lupa belum menyelesaikan kalimat terima kasihku pada Kak Achiel dengan lengkap!’ Batin Val yang terkesiap. ‘Bibir Kak Kafeel sungguh membuatku hilang fokus!’
♥
“Kak Achiel, terima kasih ya untuk nasihat Kak Achiel pada Val tadi---“ Val pada akhirnya kembali berbicara pada Achiel untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Tentu saja tetap pada jaraknya, dan tentu saja dengan Kafeel yang masih berdiri diantara Val dan Achiel dengan mata yang terus melirik setengah sinis pada Achiel sambil Kafeel mensedekapkan kedua tangannya.
“Karena tambahan nasihat dari Kak Achiel, Val semakin percaya diri untuk bertanya pada Kak Kafeel tentang perasaannya pada Val... dan sekarang Val sudah merasa lega!.” Ucap Val tulus dengan kepolosannya. “Karena dorongan nasihat tambahan dari Kak Achiel yang menyertai nasihat-nasihat dari keluarga Val, membuat Val memiliki keberanian untuk bertanya pada Kak Kafeel. Dan hasilnya, sekarang Val dan Kak Kafeel sudah menjalin kasih, karena kenyataannya Kak Kafeel juga mencintai Val...”
Ah, Kafeel jadi tersenyum hangat karenanya.
“Iya kan, Kak?” cetus Val pada Kafeel, dimana Kafeel langsung mengangguk dalam senyumannya, sambil membelai lembut puncak kepala Val. Dan Val, berhambur dengan spontan pada pinggang Kafeel.
Dan tentunya Kafeel menangkap lembut dan mesra tubuh Val yang berhambur merengkuhnya itu.
Sejenak, Val dan Kafeel saling melempar tatap dan senyuman. “Dan Val saangat bahagia sekarang!” lanjut Val dengan sumringah.
Achiel menarik sudut bibirnya kemudian.
Bodyguard khusus Val yang paling sering mendampingi Val jika gadis itu berada di Jakarta, rasanya ikut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang Nona Mudanya itu.
“Saya ikut merasa bahagia, kalau Nona Muda Valera bahagia.” Ucap Achiel tulus dan tersenyum.
Val pun melempar senyuman balasan pada Achiel.
“Terima kasih Kak Achieell!!” seru Val sumringah.
“Sama-sama Nona Valera.” Balas Achiel masih dengan tersenyum.
Lalu Val menoleh pada Kafeel.
“Kak Kafeel jangan cemburu sama Kak Achiel, karena Kak Achiel kan sudah dianggap keluarga.” Val berujar.
Kafeel kembali tersenyum hangat lalu mengangguk.
Well, bicara tentang keluarga...
Adri, supir yang mengantar Val dan Achiel ke tempat mereka berada sekarang datang menghampiri tiga orang yang sedang berdiri bersama saat ini.
Adri yang tadi makan bersama dengan Achiel diwaktu yang sama saat Val dan Kafeel makan tadi karena memang disuruh Kafeel untuk ikut memesan makanan dan minuman agar kedua orang itu makan seperti dirinya dan Val, datang dengan sedikit tergopoh ke hadapan Val, Kafeel dan Achiel.
“Nona Muda Valera, Tuan Kafeel...” sapa Adri pada kedua orang tersebut.
“Iya Mas Adri?” sahut Val.
“Ya? Kenapa Dri?” sahut Kafeel.
“Itu Tuan, Nona Muda Valera diminta untuk segera kembali ke Kediaman Utama. Termasuk Tuan Kafeel juga.”
Adri berbicara.
“Selain Tuan Alva, Tuan John, Tuan Jeff dan Tuan Dewa sudah menunggu di Kediaman Utama. Mau berbicara serius dengan Tuan Kafeel katanya.”
♥♥♥♥♥
To be continue...
__ADS_1
Semangat jalani hari, dan jangan lupa bahagia.