HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 189


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


“Jadi ada apa dengan Prita dan John sebenarnya?..“ Gamma bertanya selepas kepergian para cucu perempuan yang tadi ada bersamanya dan mereka yang sedang bercengkrama di ruang keluarga Kediaman mereka tersebut.


“Jadi tuh, Papi tuh janji mau ngajak Mami pergi Candle Light Dinner –“ Gamma sebenarnya bertanya pada dua pasang orang tua yang berdomisili di KUJ selain Mami Prita dan Papi John.


Tapi anak dari tersangka yang sempat bertengkar di hadapan mereka yang ada di ruang keluarga itu yang menyambar untuk menjawab pertanyaan Gamma pada Daddy Dewa – Mom Ichel, serta Papa Bear – Mama Bear.


“Nah, tau-taunya si Papi ngebatalin. Padahal Mami udah dengdong segitu hebohnya sampe segala perawatan dari pagi demi kencan sama si Papi.” Aro menyambung cerita. “Nah lagi, Mami ngotot tuh suruh Papi pulang buru – buru tapi taunya Papi tetep bertahan di Bandung menghadiri itu acara.”


“Oooo ..”


“Padahal kan Mami itu – ‘Pipi udah dimenor – menorin, alis udah dilempeng – lempengin’” Aro dan kekonyolannya, membuat mereka yang bersamanya tekekeh geli atas kelakuan satu pewaris yang memang paling konyol kedua setelah Nathan. “Begono.”


“Padahal harusnya Papi John tuh pas pulang  ajak Mami Priwitan ke Emol ..” tukas Momma dengan celotehannya.


Yang mana tentu saja celotehan Momma itu mengundang mereka untuk mendengus geli atau terkekeh kecil bahkan juga tergelak jika celotehan-celotehan asal nan spontan itu keluar dari mulut Momma.


“Ke Pasar juga die girang –“


♥♥♥♥♥♥


Setelah mereka yang tadi terkikik sudah terlibat satu obrolan lain, dan beberapa terlihat bangkit dari tempatnya..


“Gaswat! Gaswat!..”


Ada Isha yang datang dengan setengah tergesa ke ruang keluarga kediaman mereka, dimana masih ada beberapa orang personel keluarganya yang masih nampak betah di tempat mereka selepas Isha dan para saudarinya berpamitan untuk pergi ke kamar mereka masing-masing terlebih dahulu-selepas perdebatan Mami Prita vs Papi John.


“Oh Aro, sepertinya ucapan kamu kejadian kalau kita bakal hidup terpisah..” ucap Isha sambil menatap pada saudara kembarnya yang kemudian mendongak dan melongo, termasuk mereka yang sedang bersama Aro yang ikutan memandang serempak ke arah Isha.


“Jangan bicara yang bukan-bukan, Baby,” tanggap Daddy Dewa yang berkomentar duluan kemudian.


Dimana dengan cepat Isha menyahuti ucapan Daddy Dewa barusan. “Ya itu habisnya, pas aku buka kamar, Mami udah rebahan di kasur aku.”


“Waduh, mendung tanpo udan ketemu lan kelangan nih!----“


“Kabeh kui sing diarani perjalanan----“


“Bocah gesrek kek emaknya! ..” celetuk Momma yang terkekeh atas kelakuan itu kembara kembar gesrek yang malah main sambar lagu.


“Macem Momma ga gesrek aja sendirinya? .. ya ga, Pop?”


Nathan yang ikutan cekikikan macam lainnya itu kemudian berceloteh.


“Lebih parah----“ sahut Poppa, lalu mereka yang berada di ruang keluarga itu cekikikan lagi.


♥♥♥♥♥♥


Triinngg ..


Suara dering ponsel menyudahi sesi cekikikan mereka yang berada di ruang keluarga kediaman The Adjieran Smith yang berada di Jakarta tersebut.


Ponsel Varen yang berdering.


Dan didetik berikutnya, si Pewaris Utama itu nampak mengernyit menatap ponselnya.


“Iya Bun, wa’alaikumsalam.”

__ADS_1


“Ya Allah Alva, maafin Bunda ganggu malem-malem gini.”


Suara di seberang sambungan telepon terdengar gusar.


“Iya ga apa-apa Bun. Ada apa? Suara Bunda panik begini?...”


Varen bangkit dari posisinya, namun tidak beranjak dari tempatnya.


Mendengar ucapan Varen, mereka yang ada di dekat Varen pun serta merta jadi memperhatikannya.


Karena saat Varen menyebut ‘Bun’, mereka kiranya dapat menduga itu panggilan dari siapa yang sedang terhubung dalam panggilan telepon dengan Varen.


Dan melihat gurat wajah Varen serta suaranya yang terdengar was-was, semua orang yang berada di dekat si Abang itu pun langsung fokus pada Varen.


“Itu si AA, Alva...”


“Kaka kenapa Bun?...” tanya Varen yang terlihat was-was mendengarkan ucapan dari orang yang sedang menghubunginya dalam saluran telepon itu, yang adalah ibundanya Kafeel.


Dimana Varen langsung nampak fokus mendengarkan bundanya Kafeel berbicara.


“Si AA teh barusan pergi cari Lena.”


“Memang Lena kenapa?----“


♥♥♥♥♥♥


“Kenapa, Bang?...”


Nathan langsung bertanya ketika Varen nampak selesai berbicara dengan bundanya Kafeel, dimana pertanyaan Nathan barusan itu mewakili mereka yang sedang ada saat ini --- yang juga hendak bertanya pada Varen tentang apa yang disampaikan oleh bundanya Kafeel pada sambungan telepon, hingga wajah Varen nampak menjadi sedikit was – was.


“Wait....” ucap Varen sambil mengangkat dan mengarahkan sekilas telapak tangannya pada mereka yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi dan melibatkan Kafeel dan adik perempuannya karena mereka mendengar Varen menyebutkan dua nama itu sebelumnya.


Sambil Varen mengangkat sebentar tangannya ke arah para anggota keluarganya yang penasaran itu, satu tangan Varen yang bebas nampak sibuk kembali dengan ponselnya sesaat sebelum ponsel si Abang itu ia tempelkan di telinganya.


Suara Varen terdengar lagi, sedang berbicara di ponselnya.


“Bunda barusan telfon gue dan cerita, mending lo balik ke rumah sekarang....”


“Ga bisa Va, gue harus nemuin si Lena dan nyeret dia pulang. Apa – apaan tuh anak ngendap – ngendap keluar dari kamarnya malem – malem gini?!.... dan gue yakin dia pasti lagi sama itu berandal!”


Adalah Kafeel yang Varen hubungi.


“Selama ini begini kelakuan tuh anak ternyata.... Ngibulin gue dia ternyata bilang udah ga berhubungan sama itu berandal! Padahal baru dia gue ceramahin dia tadi soal fakta yang gue dapet dari lo, eh malah nekat juga masih mau nemuin itu berandal dengan kabur dari jendela kamarnya! Bikin gue emosi jiwa tuh anak!”


“Dengar.... lo tau kan siapa laki – laki pacarnya Lena itu?....” tukas Varen. “Jadi lo jangan gegabah!.... mau mati konyol lo? kalo ternyata Lena lagi sama itu berandal yang lagi ngumpul sama kumpulan berandalannya?!....”


“.......”


“Gue ngerti perasaan lo!....” lanjut Varen. “Tapi perlu lo pikirin juga tindakan lo-“


Sementara Varen sedang berbicara serius dengan Kafeel pada sambungan telepon itu, mereka yang sedang berada di dekat Varen pun fokus juga mendengarkan Varen yang sedang bercakap melalui ponselnya dengan mereka yang tidak ada yang bersuara satupun.


“Begini, kalau memang Lena sedang bersama berandal itu dan dia sedang ada sama kelompok berandalannya.... lo, mundur.”


Setelah mendapatkan jawaban dari Kafeel, Varen pun mematikan sambungan teleponnya dengan pria yang merupakan kandidat satu – satunya, calon adik iparnya itu.


♥♥♥♥♥♥


Varen langsung dicecar dengan pertanyaan dari mereka yang sedang bersamanya saat ini, terutama dari para orang tua yang masih ada di ruang keluarga dan juga Nathan yang kembali ikut melontarkan pertanyaan.


Varen pun menceritakan tentang hal yang awalnya diberitahukan oleh bundanya Kafeel beberapa saat yang lalu pada sambungan telepon, termasuk apa yang hendak Kafeel lakukan berdasarkan percakapannya dengan kandidat satu – satunya calon adik iparnya itu pada mereka yang sedang berada bersamanya saat ini.

__ADS_1


“Than lo hubungi Sony. Kalau dia memang ga sibuk, lo suruh dia ke titik si Kaka berada, atau minta dia kirim beberapa rekannya ke sana.”


Varen lalu langsung memberikan tugas pada Nathan, yang langsung dengan cepat diiyakan oleh adik angkatnya itu.


Nathan yang ponselnya punya sistem pelacakan canggih seperti halnya seluruh ponsel para anggota keluarganya itu, tidak perlu lagi meminta Varen mengirimkan titik keberadaan Kafeel.


Dan Nathan pun langsung sibuk dengan ponselnya.


“Ry, panggil mereka yang sedang bertugas sekarang-“


“Iya, Dad.”


Rery yang dimintai tolong oleh Daddy Dewa itu dengan cepat mengiyakan dan bangkit dari tempatnya, lalu berjalan menuju sebuah interkom yang terpasang di dinding ruang keluarga Kediaman mereka tersebut. Dan Rery paham apa yang Daddy Dewa minta ia untuk lakukan.


“Ro, punya nomornya Bagus kan?....”


Varen beralih pada Aro yang langsung mengangguk selepas kakak tertuanya itu bertanya padanya.


“Hubungi dia, tanya dia dimana-“ titah Varen pada Aro. "Lihat di ponselmu titik keberadaan Kak Kaf, lalu infokan pada Bagas. Minta dia menyusul ke sana jika memungkinkan."


‘Iya Bang.”


♥♥♥♥♥♥


“Gimana Than?” Daddy R lantas bersuara untuk bertanya pada Nathan, kala satu anak angkatnya itu yang tadi sempat menjauh sebentar kala ia sedang menghubungi Sony-Kakak lelakinya Arya, yang mana adalah sobat kentalnya Nathan, telah kembali ke tengah-tengah mereka yang ada di ruang keluarga.


“Okay Dad.... si Sony kebetulan baru kelar tugas dan ada ga begitu jauh dari titik Kak Kaf mengarah, jadi dia langsung meluncur nyusulin Kak Kaf-“


“Ya sudah,” tukas Dad R.


Lalu gantian Varen yang bertanya pada Nathan.


“Sony sendirian atau bawa beberapa temannya?-“


“Ada lima orang yang ikut dia, Bang-“


“Ya sudah kalau begitu.... si Kaka tuh pasti lagi senget banget gara-gara kelakuan Lena ini soalnya.... dan kalau mode sengetnya lagi on begini lalu itu cowoknya Lena mancing emosinya, pasti tangannya si Kaka langsung hantam itu berandal.“


Varen mengatakan pendapatnya, karena sebagaimana Kafeel yang memahami sifat Varen-begitu juga Varen yang memahami sifat Kafeel sebagai sahabatnya selain satu sahabat Varen lainnya di Indonesia yang merupakan seorang Dokter.


Dimana semua orang yang sedang berada di dekat Varen pun menanggapi dengan anggukan, komentar si Abang barusan.


“Bott, kau pergi bawa beberapa orang ke titik Kafeel berada-“ titah Varen pada satu anak buah yang langsung dengan cepat menghadap setelah Rery memanggil perwakilan mereka yang sedang bertugas di Kediaman untuk menemui mereka yang sedang berada di ruang keluarga Kediaman mereka tersebut.


“Baik Tuan Alva.”


“Aku khawatir laki-laki itu sedang berada bersama kumpulannya dan paling sedikit ada puluhan berandal kalau mereka sedang berkumpul. Sony hanya berenam sekalipun mereka aparat.... jadi kau ajak lima orang juga berikut senjata api untuk berjaga-jaga jika memang dibutuhkan-”


“Baik Tuan Alva.”


♥♥♥♥♥♥


“Ck!”


Setengah jam berlalu, lalu ponsel Kafeel berbunyi, dimana satu notifikasi pesan masuk dari orang dari Kediaman yang dikirimkan juga ke tempat Kafeel berada untuk bala bantuan jika Kafeel kalah jumlah-selain memberikan laporan pada Varen.


“What is it ( Ada apa ), Boy?” Papa Lucca yang lekas bertanya, ketika Varen terdengar berdecak saat ia sedang menatap ponsel miliknya.


“Seperti yang kukatakan tadi Pap, sepertinya kekasih berandal Lena itu memancing emosi Kaka. Gio baru saja memberitahukan jika Kaka memberikan bogem mentah pada kekasih berandalnya Lena itu.... setelah ini aku yakin jika Kaka akan menjadi target bulan-bulanan kawanannya....”


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue........


Terima kasih masih setia baca...


__ADS_2