
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Terima kasih masih setia baca yawgh.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“Lo dan tim bersiap, Gas.”
Suara Varen terdengar, ketika ia dan rombongan yang berada dalam jarak tertentu dengan rombongan Kafeel dan Zio ---- wakilnya Aro dan Rery serta adik dari salah seorang temannya Nathan, sudah lebih dulu berjalan menggiring musuh mereka ke tempat yang Varen dan pasukannya tentukan.
Dia yang maksud oleh Varen pun lekas menyahut.
Lalu seperti halnya tim yang sebelumnya, dia yang disebut oleh Varen tadi ---- bergegas memisahkan diri bersama kelompoknya, seperti tim yang sebelumnya.
Dan tim dari dia yang dimaksud Varen tadi, yakni Bagas ---- tak lama berhenti pada satu titik tersembunyi setelah mensenyapkan kendaraan yang ia dan kelompoknya gunakan.
‘Salah jalan, calon kakak ipar? ..’
“Masuk sekarang, Gas.” Suara Varen terdengar lagi, kala audio mereka menangkap suara dari orang yang dipastikan adalah pihak lawan yang telah mengepung Kafeel, Zio berikut rombongan.
“Aye Capt!” sahut Bagas dengan semangat.
Bagas pun melenggang santai namun gesit bersama kelompoknya dengan tanpa beban.
Karena tanpa pihak lawan sadari, beberapa orang dari kelompok mereka telah membaur di belakang para anggota geng kriminal yang tadi menyudutkan Kafeel dan rombongan sebelum masuk ke tempat mereka berada sekarang.
Dan Bagas pun dapat melenggang masuk bersama kelompoknya tanpa kendala untuk masuk mendekati Kafeel dan rombongan yang sedang dikepung itu, karena mereka yang tadi menyudutkan Kafeel, Zio dan kawan – kawan telah dirobohkan dengan begitu senyap oleh orang – orang terlatihnya The Adjieran Smith yang sudah menyamar menjadi anggota geng motor kriminal tersebut tanpa ada satupun dari geng tersebut yang menyadari hal itu.
♥
“Elah, itu segala cabe – cabean mereka bawa!”
Cibiran remeh terdengar dari dia yang berada di belakang kemudi sebuah sportcar yang ia tumpangi bersama satu orang lagi yang merupakan kakak tertua dalam garis pewaris muda dalam keluarga mereka.
“Antara mau sok pamer yakin menang, kalo engga buat jadi reporter dadakannya mereka ..”
Sahutan lalu terdengar di alat komunikasi milik Varen dan pasukan, menimpali cibiran dari dia yang petakilan selalunya barusan.
Nathan.
“Keprediksi ga tuh ponselnya itu para cabe? ..”
Lalu suara Sony terdengar kemudian di alat komunikasi mereka.
“Ann yang bakal urus soal itu ..”
Ucapan Varen pun membuat tenang semua pasukannya.
♥
‘Mau mati banyak bacot lu!’ Seruan bernada emosional terdengar di alat komunikasi Varen dan pasukannya yang telah berada dekat sekali di bangunan tempat satu kelompok besar geng motor yang menjadi target Varen dan kawan-kawan.
“Kita masuk sekarang.”
“Aye Capt!”
Lalu sahutan serempak pun terdengar menimpali ucapan Varen yang sudah menurunkan titah pada setiap timnya.
“Nih belakang tim kita semua atau ada dari anggota itu para berandalan kampungan?”
“Kalau mereka minggir, saat melihat kita masuk ---- berarti orang kita .. kalau tidak minggir ya berarti orang mereka----“
“Jadi, kita stop pas mereka ga minggir? ..”
Nathan kembali bertanya, dan dengan santainya Varen menjawab.
“Gue ogah lelah jalan jauh ..”
“Nah terus? ..”
“Tabrak ..”
*
Sementara itu di lain tempat ......
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Kasih tau Mama Bear, apaan tuh ‘jagung bakar’”
Ada mereka yang sedang nobar bersama di ruang keluarga pada KUJ of The Adjieran Smith.
Dimana Momma baru saja mengeluarkan celetukan yang agak asing dan aneh di telinga beberapa orang yang sedang ada bersamanya.
Momma pun langsung berkata sambil memandang ke arah Mama Jihan setelah mereka yang tidak paham kosakata yang pernah in di jamannya itu berkomentar seraya bertanya.
Dan Mama Jihan yang cekikikan kemudian berucap,
“Ja-blay tang-Gung Ba-ru me-Kar.”
♥
__ADS_1
“Btw, itu ngapain sih mereka segala bawa tuh jagung bakar?”
Isha yang bertanya.
“Mungkin gebetan itu yang pada bonceng tuh jagung bakar kali. Dibawa buat pamer kalo pacarnya kuat gitu punya geng motor yang nyeremin ...”
“Dih, mana ada nyeremin?!” tukas Isha menanggapi komentar Drea. “Jijay aku malah ngeliat itu cowok-cowok----“
“Iya betul!----“
“Tukang batagor depan sekolah aku aja lebih ganteng mukanya daripada itu cowok-cowok yang abstrak mukanya! ...”
“Sepertinya para cucuku memang memiliki bakat bermulut penuh sarkasme seperti para orang tuanya ...” Gappa berkomentar setelah mendengar ucapan seenaknya salah satu cucu perempuannya itu yang rata – rata memang bermulut ceriwis.
Gappa kemudian terkekeh geli bersama yang lainnya.
♥
“Kasihan gadis-gadis itu ya? ..”
Mama Jihan berkomentar setelah mereka berhenti terkekeh karena celetukan Gappa.
“Yah, mau bagaimana?” Dad R menimpali. “Banyak faktor yang dapat menyebabkan mereka terjerumus ke jalan yang keliru ..”
Perkataan Dad R diaminkan oleh yang lainnya.
“Itu mereka sadar ga sih, kalau mereka diajak ke tempat yang berbahaya? ..”
“Jagung bakar begitu biasanya sadar .. buat gegayaan. Tau mungkin pacarnya anak geng motor yang ditakutin, jadi pengen pansos sekaligus pamer pada sesama jagung bakar! ..”
“Bisa juga mendapat tugas memvideokan itu untuk mereka sebar di medsos kan? ..”
Mommy Ara menimpali perkataan Mom Ichel dan Mami Prita.
“Nah loh? bahaya ga tuh kalo sampe hal ini tersebar di medsos?”
Momma sedikit was-was.
Dimana Ann kemudian menimpali kekhawatiran Momma.
“Tenang saja Momma, hal itu tidak akan pernah terjadi .. Jangankan menyebarkan video, dapat digunakan ponsel mereka untuk apapun tidak akan bisa----“
“Oh iya, lupa keluarga ini punya Queen of Hacker.”
♥
‘Ganti gambarnya pakai gambar babi! Atau engga kecoak!---Kelompok pecundang banyak gaya!’
“Ya ampun Rery mulutnyaa ...“ Ada Drea yang spontan berkomentar ketika di layar televisi yang sedang ia dan mereka yang bersamanya, memperlihatkan gambar sang adik kandung yang sedang berbicara --- mengejek pihak lawannya Rery dan kawan-kawan.
“Nah kalo gini ga kebuang si Rery macam lo, Donald Bebek Tua!” Lalu ada Daddy Jeff yang ikutan nyeletuk kemudian setelah Rery terlihat dan terdengar bicara lagi dengan kalimat cibiran merendahkan lagi lawannya.
Kekehanpun sontak terdengar setelah celetukan komentar Drea dan Daddy Jeff terlontar dari mulut keduanya yang mengomentari Rery.
“Ho oh, lemes!” kemudian ada Momma yang menimpali ucapan Daddy Jeff yang berupa cibiran untuk Poppa.
Dimana yang bersangkutan langsung melirik ke arah istri tercintanya itu, lalu langsung juga berkomentar, “Excuse me? Bukankah Momma lebih lemes dariku, hem? ...”
Kekehan geli pun terdengar dari semua.
‘Jangan lo ajak ngomong dia, Ry. Busuk banget bau mulutnya sampe ke hidung gue ...’
“Sudah, tidak hanya Andrew pria lemes di keluarga ini. Itu dengar Aro bicara apa? Dia yang jago nyinyir pasti belajar juga dari para Dadnya yang pedas-pedas mulutnya kalau tidak suka pada seseorang!”
Ada Gamma yang berkomentar, selepas Aro kemudian terlihat di layar televisi. Dimana Aro langsung menghampiri Rery, setelah anak sulungnya Papi John dan Mami Prita itu turun dari motornya, yang kemudian menimpali cibiran ejekan Rery pada lawan mereka.
Dan kekehan geli pun terdengar lagi, hingga kemudian mereka yang sedang berkumpul itu kembali fokus ke layar televisi. Lalu tergelak bersama lagi dan riuh berkomentar, setelah Rery terdengar mencibir lagi ke pihak lawan yang sudah ada dua orang, yang lebih mendekat kepada Rery yang berdiri berdampingan dengan Aro.
“Bapak gue ga ada waktu ngurusin air kencing babi macam kalian! ..” kata Rery di layar televisi, yang membuat keluarganya yang sedang menonton video realtime itu tak hanya terkekeh, namun juga tergelak geli dan berkomentar sambil tertawa.
Namun tak lama, wajah-wajah mereka yang berada di kediaman dan hanya menonton apa yang terjadi nun di sana menjadi serius saat gambar menampilkan kerah jaket kulit yang Rery kenakan, diraih dengan kasar dan dicengkram dengan kuatnya oleh satu perwakilan dari pihak lawan yang terlihat urakan dan bengis menatap pada Rery.
Didetik berikutnya, ekspresi horor yang kemudian terlihat dari wajah-wajah penonton di ruang santai keluarga KUJ of The Adjieran Smith ---- kala satu adegan mengerikan terlihat di layar televisi, bersamaan dengan lengkingan suara kesakitan yang memulas telinga.
Sungguh mereka yang menonton adegan tersebut dibuat terperangah dan terkesima.
Seseorang membuat tangan yang sedang mencengkram kerah jaket Rery itu, membuat tangan tersebut lepas dari tempatnya.
Bertanya-tanya apakah adegan itu nyata, jika seseorang baru saja kehilangan tangannya akibat sabetan sebuah benda bermatakan pisau yang panjang dan sudah dipastikan tajam sekali ---- karena benda yang disebut katana itu, yakni pedang panjang khas Jepang ---- dapat dengan begitu mudahnya memotong tangan manusia hanya dalam sekejap mata.
Yang menonton sungguh dibuat ngeri melihatnya.
Para wanita sih.
Karena para pria, daripada terperangah ---- mereka lebih terlihat tercengang dengan adegan mengerikan tersebut.
Makanya para pria yang notabene para Dad itu malah tersenyum, disaat para wanita memekik agak histeris dan meringis melihat adegan yang dipastikan tanpa rekayasa itu.
‘Lancang.’
Para wanita yang sedang merasa ngeri itu kembali dibuat terperangah, ketika suara bariton nan dalam itu terdengar ---- dimana pemiliknya sungguh sangat mereka kenal.
‘Berani-beraninya sentuh adik gue dengan tangan kotor lo.’ Suara bariton nan dalam itu terdengar lagi, bersamaan dengan wajahnya yang menjadi lebih jelas di layar televisi.
__ADS_1
Dimana wajah itu kini berekspresi datar nan dingin.
Memegang dua buah katana di tangan kanan dan kirinya, dimana salah satu pedang khas Jepang itu telah terbubuhi warna merah dari darah tangan yang ditebas oleh katana tersebut.
Masih ketegangan dan kengerian yang tampak di wajah para wanita, ketika dia si pemilik suara bariton nan dalam yang mereka kenal itu kemudian berjalan maju dengan santai, dan pihak lawan melangkah mundur dengan spontan secara perlahan memperhatikan dia gerangan yang berjalan sambil menggesekkan ujung katananya ke atas permukaan tanah bersemen di bawah kakinya, hingga sedikit membuat pengang di telinga ---- selain membuat ngeri juga, karena ujung katana yang digesekkan ke permukaan semen itu sedikit mengeluarkan percikan api.
Lalu ia berdiri dengan tegaknya, di hadapan pihak lawan ---- membelakangi mereka yang berada di kubunya.
Membuat para wanita melirih kemudian, ketika pria matang yang mereka kenal dengan sangat itu kemudian nampak mengangkat satu katana yang bersimbah darah di tangan kirinya ---- sambil ia berucap,
‘Maju, sekarang gue mau kepala.’
“Abaang ..”
*
Dimana ia yang sedang dilirihkan oleh para wanita dalam keluarganya itu masih berdiri tegak di tempatnya dengan begitu gagahnya, bak seorang Panglima Besar di medan perang.
“Maju, sekarang gue mau kepala.”
Varen mengarahkan satu katana miliknya ke arah lawan yang nampak menegang, akibat tadi melihat satu anggota mereka yang ditebas begitu saja tangannya oleh pria yang sedang berdiri tanpa terlihat gentar sedikit pun di hadapan lawannya.
Jika Varen adalah tokoh dalam film fantasy, maka mungkin akan ada sayap hitam besar yang sedang melebar di punggungnya.
Namun tidak, Varen hanya manusia biasa.
Hanya saja, Tuhan seperti sangat sedang berbahagia kala menciptakan satu pria ini.
Wajahnya terpahat sempurna dengan indahnya, dipadu dengan bentuk tubuh yang Varen buat demikian atletisnya.
Lalu otak jenius, dan jangan lupa besarnya kekayaan yang ia punya baik pribadi maupun keluarganya.
Sungguh Tuhan benar-benar berbahagia saat menciptakan Varen sepertinya, karena untuk ukuran seorang manusia, Alvarend Aditama Adjieran Smith memang sesempurna itu.
Ditambah lagi nyalinya yang tak berbatas ---- jika mengingat ucapan salah satu ayah angkat yang merangkap mertuanya Varen, yang memang memiliki nyali yang sungguh tiada batasnya. Hingga sebutan Black Drake pun tersemat untuk satu Dad itu, selain ayah kandung Varen sendiri yang merupakan satu dari dua pentolan mereka yang disebut Black Drakes.
Dan yah, begitulah.
Dengan nyali yang tak terbatas itu Varen sedang berdiri sekarang dengan gagahnya di hadapan para musuh.
Wajah tampan nan hangat Varen jika bersama sang istri dan keluarganya itu sedang menghilang, berganti dengan wajah dingin dengan sorot mata iblis yang tatapannya saja bisa mendominasi ketakutan lawannya.
“MAJU!”
Suara menggelegar Varen terdengar kemudian dengan tatapannya yang nyalang.
Membuat keterkejutan dari semua orang, tak hanya dari pihak lawan.
“Kampret si Abang, gue kaget atapiloohhh.”
Nathan merutuk pelan.
“MAJU! NGAPAIN TAKUT?! MEREKA TETEP KALAH JUMLAH SAMA KITA!”
Didetik berikutnya suara seruan yang tak kalah menggelegar terdengar dari mulut ketua pihak lawan.
“Yakin gue orang kalah jumlah? ..” sambar Varen sambil ia menyeringai.
Lalu didetik berikutnya, suara derungan motor terdengar lagi dari arah pintu masuk.
Dimana nampak puluhan motor sport berdatangan dengan tertib dan kemudian bergerak ke setiap sisi melingkar pada area luas dimana sekelompok besar orang itu sedang berkumpul.
Mereka yang mengepung Kafeel serta Varen dan rombongan yang baru menyusul, kini dikepung balik oleh puluhan motor dari pihak Varen.
“MAJU SEKARANG! MEREKA CUMA GERTAK!”
Seruan profokatif keluar lagi dari salah seorang pihak musuh yang ditengarai adalah wakil dari ketua geng motor kriminal tersebut.
Varen dan timnya menyeringai tinggi.
“DRAGONS!”
Varen berseru dengan kencang dan lantang.
Didetik dimana puluhan orang lagi muncul dari dalam gedung terbengkalai yang menjadi tempat pertarungan besar-besaran tersebut.
Yang mana tentu saja mengalihkan atensi para musuh yang sudah mengangkat senjata khas tawuran mereka.
“Tempat ini akan menjadi kuburan kalian,” ucap Varen dengan seringainya.
Pada para musuh yang kini nampak terpaku melihat orang-orang yang dua kali lipat banyaknya dari pihak mereka.
“Lo semua yang minta ..”
Varen kembali berucap.
“DRAGONS!”
Varen berseru kencang dan lantang sekali lagi.
“BANTAI TANPA SISA!”
******
__ADS_1
To be continue .......