HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
AKU DAN PERASAAN INI


__ADS_3

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


“Va ----“


Kafeel menghampiri Varen yang sedang bercengkarama dengan anak lelakinya dan beberapa anggota keluarga Varen yang lain di halaman belakang, selepas Val sedang pergi ke kamarnya untuk berkemas.


“Kenapa? Mau minta ijin gue buat jadi ipar?”


Varen menyahut dengan gurauan sambil ia mendengus geli.


“Bisa bicara berdua? ----“ Kafeel hanya menanggapi gurauan Varen dengan senyuman tipis.


Membuat Varen kini sedikit menampakkan wajah serius, karena dirinya menangkap suatu gelagat dari raut wajah Kafeel.


“Soal?...”


Varen pun bertanya.


“Gue dan Val.”


Varen pun langsung mengangguk setelah mendengar jawaban Kafeel.


Kemudian Varen undur diri sejenak pada beberapa anggota keluarganya yang ada didekat Varen saat ini.


Kafeel pun ikut pamit sebentar seperti halnya Varen.


“Apa sedang ada masalah di Perusahaan Than?”


“Ga ada Gam.”


“Kok si Kaka kayak tegang gitu mukanya? ..”


“Mungkin berantem sama si ulet bulunya belom selesai ..”


“Masa sih? ..”


“Siapa tau?” tukas Nathan.


“Ah tapi mereka tadi dateng gandengan tangan. Masa masih bertengkar tapi mau bergandengan tangan begitu? Mesra juga kok kelihatannya.”


“Pencitraan mungkin Gam.” Celetuk Ares.


Dimana Gamma langsung saja mencebik.


“Sok tahu kamu ah.” Tukas Gamma.


Nathan dan Ares pun terkekeh kecil.


“Ya udah si Gam, biarin aja kenapa?—“


Nathan lagi berbicara.


“Kepo banget Ratu Ernabeth.”


Gamma pun mencebik lagi karena selorohan Nathan barusan.


“Tau nih!...”


Ares menimpali.


“Nanti juga pasti dishare sama Abang.”


“Iya juga sih—“


Gamma manggut-manggut.


“Terus kamu ngapain masih disini?”


Gamma menggerakkan dagunya dan bertanya pada Ares.


“Ga ikut kakak-kakak kamu yang berangkat ke SIN hari ini?---“


“Ikut dong Gam. Masa engga?”


Ares menyahut cepat.


“Nah kenapa ga packing?---“


“Udah dong!...” sahut Ares lagi dan Gamma pun manggut-manggut.


__ADS_1


“Jadi? Kenapa dengan lo dan Val?---“


Varen mengajukan pertanyaan pada Kafeel yang mengajaknya bicara berdua, saat Val sedang pergi ke kamarnya untuk berkemas.


“Gue –“ Kafeel menyahut.


“Lo ragu dengan hubungan lo dan Val?” potong Varen.


“Iya.”


“Lalu?. Lo mau membatalkan hubungan kalian? –“ tembak Varen.


“Gue kayaknya ga pantes buat dia, Va---“


Kafeel berucap dengan menatap serius pada Varen. Dan Varen pun melakukan hal yang sama seperti Kafeel, dengan menatap serius pada pria yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanannya itu-juga merangkap sebagai kekasih adik kandungnya.


“To the point aja Ka, lo mau membatalkan hubungan lo dengan Val? Ya atau tidak?---“ tanya Varen dengan tetap menyoroti Kafeel yang sedang saling berhadapan dengannya saat ini. “Gue ga mau punya adik ipar yang plin – plan..”


Kafeel menyahut dengan sebuah kekehan kecil. “Secara perasaan, engga---“


Namun kekehan kecil Kafeel hanya sepersekian detik saja, sebelum ia kembali bicara dengan serius sambil menatap pada Varen.


“Gue sudah jatuh terlalu dalam pada satu adik lo itu.” sambung Kafeel.


“Lalu?”


“Tapi secara logika, Ya.”



“Val langsung istirahat setelah sampai SIN ya?” ucap Kafeel saat telah sampai mengantar Val ke Bandara, tempat jet pribadi keluarga kekasih kecilnya itu parkir.


“Kakak juga.” Tukas Val. “Jangan urusi pekerjaan dulu, karena Val yakin, Kak Kafeel semalam tidak beristirahat dengan cukup.”


Kafeel menjawab dengan anggukkan seraya ia tersenyum sambil mengusap lembut kepala Val.



Val nampak sendu saat salah seorang kru jet pribadi milik keluarganya mengatakan pada Val dan mereka yang akan pergi ke SIN, bahwasanya jet pribadi yang akan digunakan oleh para pewaris muda itu untuk bertolak dari Indonesia telah siap untuk berangkat.


“Kalo memang memungkinkan, Kak Kafeel sambangi Val ke SIN sebelum Val bertolak ke London yah?”


Val menatap penuh harap pada Kafeel.


“SIN itu kan dekat sekali dari sini, Kak? ---“


“Dengan pesawat komersil saja hanya kurang dari dua jam sudah sampai disana.”


Val masih berbicara.


Dengan harapan yang besar jika Kafeel tanpa ragu mengiyakan permintaannya.


Namun lagi-lagi Val harus kecewa karena jawaban Kafeel tidak sesuai dengan apa yang Val harapkan.


Bahkan Kafeel pun tidak mengiming-imingi Val dengan harapan, meski hanya sekedar harapan palsu yang dapat menyenangkan hatinya.


Kafeel mengatakan tidak bisa dengan tegasnya, walau tidak keras sama sekali. Dan Val hanya bisa menghela nafas lapang dada yang bercampur frustasi saja.


“Val yakin Abang pasti kasih ijin kalau hanya sebentar saja Kak. Kak Kafeel tidak perlu menginap di SIN. Hanya datang saja saat Val akan bertolak ke London dari sana. Kalau hanya sebentar saja, sepenting apapun pekerjaan Kakak, pasti akan ada yang bisa memback-upnya. Abang juga—“


“Val,” potong Kafeel. “Ngerti ya? –“ lanjutnya. “Apa bedanya aku dateng ke SIN sebelum kamu bertolak ke London atau engga? Toh kita juga akan hidup terpisah nantinya.” Sambung Kafeel. “Selama ini kan sudah seperti itu?.. kalau aku ke SIN, nanti kamu akan merasa lebih berat lagi untuk kembali ke London.” Kafeel masih lanjut bicara. “Yang ada nanti, urusan kamu terbengkalai lebih lama, dan akupun seperti itu .. Val kan harus kuliah, dan aku harus bekerja---“


Kafeel terdengar seperti menceramahi Val, namun tutur katanya begitu hati-hati serta penuh kelembutan. Semata-mata tidak ingin Val merasa tersinggung seperti saat ia yang menasehati Val dengan mengikuti suasana hatinya. Jadi Kafeel sudah lebih berhati-hati dalam bicara pada Val, jika tujuannya untuk menasehati. Val nampak merungut, namun tidak nampak ketidaksukaan di wajahnya seperti kemarin, pun tidak datar dan dingin ekspresi Val saat Kafeel sedang menasehatinya sekarang.


Val tidak menyela Kafeel yang panjang berbicara padanya saat ini.


“Jadi Val ngerti ya?---“ kata Kafeel lagi. “Val jangan terlalu tergantung pada Kakak juga.”


Kafeel tersenyum, sambil membelai lembut kepala dan surai Val.


“Kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Kakak juga kan tidak akan selalu bisa ada disamping Val. Lalu saat Val merengek Kakak harus ada di hadapan Val dengan segera nyatanya Kakak ga bisa, Kakak yang akan terbebani dengan rasa bersalah.”


Kafeel berujar dengan lembutnya.


“Val ngerti kan?” tanya Kafeel seraya membujuk seperti sebelumnya.


Meski sedikit kecewa, namun Val mengangguk. “Iya Val mengerti Kak.”



Val nampak sendu saat melambaikan tangannya pada Kafeel, kala ia hendak memasuki jet pribadi milik salah seorang Dad nya.


Val menggunakan jet pribadi tersebut karena ukurannya lebih kecil dari milik Gappa yang dipersembahkan untuk keluarga mereka memang.


Toh yang berangkat sekarang hanya para pewaris muda dari mulai Mika sampai Ares saja, serta beberapa orang asisten yang akan mengurusi segala keperluan para pewaris muda tersebut, berikut beberapa bodyguard.


Sisanya akan menyusul esok hari.

__ADS_1


Val melayangkan senyuman pada Kafeel sebelum ia benar-benar masuk ke dalam jet.


“Bahkan Kak Kafeel tidak mencium bibirku---“ gumam Val. “Padahal kan lama kami tidak akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama?....”


‘Kok hanya di pipi? –‘


‘Aku ga enak dengan para saudara dan saudari kamu jika aku cium bibir kamu sekarang.’


‘Mereka juga pasti paham Kak –‘


‘Sudah masuk pesawat sana. Kasihan saudara dan saudari kamu sudah menunggu lama.’


‘Usahakan dapat mengunjungi Val di SIN sebelum Val bertolak ke London ya, Kak?’


‘Aku ga bisa janji Val.’


Val menghela nafasnya frustasi sambil ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi jet, seraya ia beberapa saat sebelum Val menaiki tangga jet yang akan ia tumpangi untuk bertolak ke salah satu negara tetangga.



Disisi lain, Kafeel membalas lambaian tangan Val yang sudah berdiri di tangga jet, dengan kecamuk dalam hatinya. Kafeel juga melayangkan senyuman pada Val kala ia melambaikan tangannya pada Val.


“Maafkan aku Val ....”


Kafeel bergumam dalam saat jet yang ditumpangi oleh Val dan para saudara saudarinya itu telah lepas landas.


Lalu Kafeel menghela nafasnya dengan berat. “Aku tak bermaksud bersikap dingin pada kamu.” Kata Kafeel masih dalam gumaman.


“To the point aja Ka, lo mau membatalkan hubungan lo dengan Val? Ya atau tidak? - Gue ga mau punya adik ipar yang plin – plan..”


Kafeel sedang mengingat percakapannya dan Varen, dimana Kafeel menyahut dengan sebuah kekehan kecil selepas mendengar ucapan Varen tersebut.


“Secara perasaan, engga--- “Gue sudah jatuh terlalu dalam pada satu adik lo itu.”


“Lalu?”


“Tapi secara logika, Ya.”


“Logika macam mana?. Jangan bilang, lo adalah satu primitif yang mempertimbangkan soal kasta sosial –“


“Bukan itu –“


“Usia?”


“Masa lalu gue Va.”


“......”


“Gue telat mikir, jadi gegabah dengan mengungkapkan perasaan gue pada Val.”


“......”


“Gue terlalu naif, Va..”



Singaparna....


Eh, Singapura....


Beberapa hari telah berlalu di sebuah negara yang memiliki ikon patung singa putih, dimana Val nampak bermuram durja dengan hatinya yang sedang merasa tak karuan.


‘Kak, Kakak sedang di Dubai?’


‘Iya.’


‘Kenapa tidak bilang?’


‘Urusan pekerjaan Val.’


‘Sebelum berangkat ke Dubai seharusnya Kakak bisa mampir sebentar menengok Val kesini.’


‘Hal yang mengenai pekerjaan, aku tidak bisa menyepelekannya Val.’


‘Dan Val Kakak anggap sepele?’


‘I’m sorry Val, aku harus kembali bekerja.’


Val sedang duduk di kursi penonton pada satu sudut lapangan tenis dimana Aro yang sukses masuk final dalam turnament profesional pertamanya, dan sedang membaca percakapannya dengan Kafeel.


‘Bahkan menghubungi aku saja tidak. Aku menghubunginya pun tidak boleh dengan alasan macam-macam. Lalu sekarang, ponselnya tidak dapat dihubungi. Jangankan menelepon, pesan chat aku dari kemarin pun belum dia baca.’


Val membatin lirih.


’Kenapa Kak Kafeel seolah sedang menghindariku ya? ..’


♥♥

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2