
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...
“Ingat yang Val katakan sebelumnya ya Kak? Jika Dad R menuduh kita melakukan sesuatu yang ehem-ehem di kamar tamu tadi, Kak Kafeel iyakan, agar kita cepat dinikahkan.”
Val berbicara dengan cepat pada Kafeel saat mereka berjalan menghampiri Daddy R dan Mommy Ara, setelah Daddy R mendapati dirinya dan sang kekasih setengah om-omnya itu disinyalir oleh Daddy R baru keluar dari salah satu kamar yang ada di paviliun tamu dalam kediaman mereka tersebut.
Dan kata-kata Val yang terdengar seperti sedang mengingatkannya itu, membuat Kafeel sekali lagi melongo tak percaya pada permintaan kekasih kecilnya, yang tersenyum manis dengan tanpa beban kala ia mengatakan rencananya, karena beban itu dilimpahkan Val pada Kafeel.
“Ya, okay?” cecar Val.
‘Demi apa ini si Val...’ Kafeel sedang berkesah dalam hatinya, tak percaya dengan pendengarannya sendiri setelah mendengar kata-kata Val yang sungguh diluar nalar Kafeel.
Di detik dimana ..
“Awas saja kalau tidak.”
Ancaman keluar dari mulut Val kemudian.
Kafeel melongo lagi tak percaya jika kekasih kecilnya itu baru saja melontarkan kalimat yang bermakna ancaman dari mulut yang memiliki bibir ranum yang kini telah Kafeel candui rasanya.
‘Val .. Val ..’
Kafeel membatin geli saja.
*
“Jadi, habis melakukan apa kalian di dalam kamar itu, hah?! ..” cecar Daddy R kala Val dan Kafeel telah berada tepat dihadapannya dan Mommy Ara.
Namun kemudian Daddy R mengaduh dan meringis sambil menoleh ke arah Mommy Ara.
“Ouch! Sakit dong Babe ..”
Daddy R berkata sambil mengelus lengannya yang habis dicubit Mommy Ara dengan cepat.
“Biasa aja makanya.”
Mommy Ara menyahut sinis dan melempar pandangan malas pada Daddy R.
“Itu sudah biasa oh My Lovely Kyara...” kata Daddy R gemas.
“Kalian dari mana memangnya, hem?...”
Berbeda jauh dengan Daddy R yang bertanya dengan ketus pada Val dan Kafeel, Mommy Ara bertanya dengan suaranya yang selembut beledu.
“Sudah pasti mereka habis dari salah satu kamar tamu, kamu lihat sendiri mereka berjalan dari arah mana kan?!”
Daddy R menyambar.
Mommy Ara memutar bola matanya malas, karena sikap suaminya itu.
“Benar kalian habis dari salah satu kamar yang ada di paviliun tamu?...”
Mommy Ara tak menggubris cibiran Daddy R, dan ia kembali dengan sikapnya yang tenang dan lembut seperti biasa, bertanya kepada dua sejoli yang ada dihadapannya itu.
“Iya Mommy...”
“Iya Aunt...”
Val dan Kafeel menjawab secara bersamaaan.
“See?!”
Daddy R pun menoleh pada Mommy Ara untuk dan melemparkan tatapan bahwasanya dia tak pernah salah.
“Belum satu hari aku memberikan kalian ijin untuk menjalin asmara, dan kalian sudah mencari-cari kesempatan nakal, heh?!----“
“Tidak----“
“Ah Daddy, macam tidak pernah muda saja...” Val sudah keburu berbicara sebelum Kafeel hendak menyangkal dugaan Daddy R.
Didetik setelahnya Daddy R langsung mendelik dan berkacak pinggang. Dan Kafeel mengaduh di dalam hatinya.
‘Aduuuh Vaaal!!...’
Kafeel berkesah dalam hatinya, karena ucapan Val itu mengarah pada profokasi yang akan membuat biangnya ‘naga’ benar-benar salah paham.
Sementara Mommy Ara belum berkomentar, hanya memandangi Val dan Kafeel saja secara bergantian.
“Maksud?!...” tanya Daddy R spontan sambil menatap tajam pada sang putri kandung yang nampak woles itu, selepas Val mengucapkan kalimat yang terdengar ambigu.
__ADS_1
“Ya kalau sepasang kekasih di kamar berduaan memangnya biasanya melakukan apa? Ya melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan di hadapan orang banyak lah, Dad ----“
‘Hah?!’ Kafeel sontak terperangah dalam hatinya. ‘Apa-apaan ini si Val?! Masa dia serius dengan yang dia ucapkan ke gue tadi????!!!!’
Kafeel tak habis pikir.
“Maksud kamu Baby?...” Mommy Ara yang lantas bertanya dengan keningnya yang mengernyit, namun nada suara Mommy Ara tetap tenang dan lembut.
“Maksudmu, kalian benar-benar?----“ Namun berbeda dengan Mommy Ara, Daddy R bertanya dengan melotot tajam pada Val, lalu pada Kafeel.
“Iya, Dad, Mom----”
Val segera lagi berbicara.
“Val dan Kak Kafeel tadi khilaf----“
“APA?!” Dua pria memekik secara bersamaan.
Sementara Mommy Ara nampak tenang saja, meskipun membatin jika seharusnya ia terkejut juga mendengar penuturan Val.
Tapi alih-alih merasa panik, Mommy Ara malah merasa geli dengan Daddy R dan Kafeel yang kompak memekik dengan tampang kedua pria tampan beda usia yang terkejut berjamaah itu.
Mommy Ara rasanya juga tidak percaya jika Val dan Kafeel sampai berbuat jauh seperti itu, apalagi di Kediaman mereka ini.
Dan hal yang Val sebut ‘Khilaf’ dimana satu kata itu mengarah pada sebuah tindakan tercela sepasang insan manusia yang belum menikah, tidaklah terjadi diantara Val dan Kafeel.
Coba saja lihat tampang Kafeel yang nampak syok seperti habis mendapat tuduhan melakukan kejahatan berat saat Val mengatakan jika putri bungsu kandungnya dan Daddy R itu telah khilaf bersama Kafeel dalam kamar.
Dan lagi, Mommy Ara tahu persis tentang cinta anak perempuan bungsunya ini pada Kafeel yang memang ngebet ingin menikah muda dengan pria itu. ‘Val, Val, ada aja kelakuannya ini anak.’
Mommy Ara membatin geli.
“Ulangi yang kau katakan tadi!”
Daddy R berkata sinis dan ketus seraya mendelik pada Val lalu pada Kafeel.
“Iya, Dad, Val dan Kafeel di kamar tadi, kami sudah---“ Val menjawab sambil memandang pada Daddy R dengan tampang yang dibuat bak orang yang merasa bersalah.
Didetik dimana Kafeel kelimpungan dan kembali terperangah. ‘Wah kacau!’
“Kami khilaf---“
“TIDAK!”
“Itu tidak benar---“
“Iya benar---“
Kafeel dan Val saling menyangkal.
“Tidak, tidak ada hal tercela yang aku dan Val lakukan di dalam kamar tamu tadi---“
“Ada!” sambar Val.
“Tidak ada---“
“Dad sama Mom percaya deh sama Val.” Sambar Vallagi. “Val dan Kak Kafeel itu sudah khilaf---“ kukuhnya.
‘Oh ya Ampun!’
Hati Kafeel berseru frustasi.
“Val, membohongi orang tua itu tidak baik oke??...”
Kafeel berucap pada Val, dengan senyum yang mengarah pada ringisan.
“Uncle R, Aunt Ara, percayalah tidak ada kekhilafan yang terjadi antara aku dan Val di kamar tamu tempat kami berada tadi. Val menyusulku saja yang berpamitan untuk ke kamar mandi beberapa waktu lalu. Karena menurut Val aku sudah terlalu lama pergi ke toiletnya jadi dia menyusulku kesana.”
Dan dengan cepat Kafeel berbicara panjang lebar untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya pada kedua orang tua kandung kekasih kecilnya itu.
“Pintu kamar terbuka lebar saat aku keluar dari kamar mandi. Aku dan Val hanya menghabiskan waktu kurang dari lima menit di dalam sana. Itupun hanya sekedar tanya jawab ringan, lalu kami keluar dari kamar dan aku menggenggam serta mengecup tangan Val setelah kami berada di luar kamar sambil berjalan. Demi Tuhan, itu yang sebenarnya terjadi... Jika tidak percaya padaku, Uncle dan Aunt bisa mengecek CCTV di lorong ini dan lihat durasi waktu dari Val menyusulku sampai kami keluar bersama.”
Kafeel kemudian berbicara lebih panjang lagi dengan cepat, agar tak lagi ucapannya di interupsi.
“Iiiihh Kak Kafeeelll ---“
Val menyergah seraya mencebik.
“Dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin kami macam-macam seperti yang kalian pikirkan. Sungguh! Percayalah padaku. Jika tidak percaya juga, Uncle dan Aunt bisa mengecek keadaan tubuh Val. Utuh, tidak ada sedikit pun noda dikulit dan tubuhnya ---“
Namun Kafeel tak menggubris yang mencebik dan memandangnya seraya melayangkan tatapan protes padanya itu. Malahan, Kafeel meraih tubuh Val yang ia pegang kedua pundaknya, seraya Kafeel sodorkan lebih dekat kepada kedua orang tuanya.
“Uncle memiliki handy tool UV kan? Nah, Uncle bisa mengeceknya dengan itu jika masih tidak percaya padaku. Aku tidak berbuat hal yang tidak senonoh pada putri kalian di dalam kamar tadi, dan hanya sebatas menggenggam tangan Val saja, itupun saat kami sudah di luar kamar---“
__ADS_1
Lagi, Kafeel bercerocos untuk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya pada kedua orang tua Val, terutama pada Daddy R.
“That’s it.”
Kafeel mengakhiri penjelasannya dengan tampangnya yang serius.
‘Titik Koma Jebret!’
Lanjut Kafeel dalam hatinya.
‘Haahh .....’
Lalu Kafeel menghela nafasnya karena berbicara hampir tak bernafas untuk memberikan penjelasan pada kedua orang tua Val.
Dimana yang satu sudah mengulum senyum geli mendengar dan melihat Kafeel berbicara seraya menjelaskan kronologis kejadian yang mengarah pada salah paham yang dibuat oleh Val secara sengaja itu.
Yah, sebenarnya Daddy R juga sudah merasa geli dalam hatinya, saat Kafeel bercerocos ria memberikan penjelasan padanya dan Mommy Ara yang bibirnya belum berhenti bergerak-gerak menahan senyuman geli.
Namun Daddy R sok cool saja sekarang ini.
‘Lucu juga ini bocah Adiwangsa asal sudah panik dan berspekulasi takut gue marah...’
Hati Daddy R yang cekikan.
“Percayalah padaku Uncle R, Aunt Ara...”
Kafeel berbicara lagi.
“Ya sudah ---“
“Iya, Aunt percaya ---“
Daddy R dan Mommy Ara menyahut bersamaan.
Kafeel pun tersenyum lega.
“Ck!” Namun decakan tak lama terdengar dari mulut Val sambil ia merungut dan bersedekap.
Membuat tiga orang yang sedang berada di dekat Val lantas menoleh padanya yang melirik sinis pada Kafeel.
“Kak Kafeel bagaimana sih?! Sudah Val katakan ikuti rencana Val!”
Sebaris kalimat protes segera meluncur dari mulut Val pada Kafeel.
“Kalau rencananya ga baik ----“
“Katanya Kak Kafeel cinta sama Val!”
Val menyambar saat Kafeel berbicara padanya dengan nada suaranya yang terdengar sedang merasa sebal.
“Iya ----“
“Tapi Val bukakan jalan agar kita bisa menikah dengan cepat, malah tidak mau!”
Lagi, Val menyambar sebelum Kafeel lengkap berucap.
“Bukan begitu Val ----“ Kafeel hendak lagi berbicara.
“Ck! Kak Kafeel tidak asik!”
Val mencebik tajam sambil cemberut tajam memandang pada Kafeel.
Sementara Daddy R dan Mommy Ara menonton saja itu dua anak manusia yang kini terlibat argumen, sambil tersenyum geli.
“Val, aku itu ingin kita ----“ Kafeel hendak membujuk kekasih kecilnya yang sedang merajuk berat itu.
“Sudah ah! ----“
Namun lagi-lagi, ucapannya keburu di sambar Val.
“Kak Kafeel menyebalkan!” ketus Val seraya memotong perkataan Kafeel.
Lalu Val hengkang dari hadapan Kafeel dan kedua orang tua kandungnya.
“Dasar om-om labil!”
Val mencibir sambil berjalan dengan menghentakkan kakinya ke lantai dengan masih bersedekap.
Membuat Kafeel sampai melongo membuka mulutnya, karena dikatai Om-Om labil oleh kekasih kecilnya itu.
*
To be continue ....
__ADS_1