
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Author’s POV,
Ada pepatah yang mengatakan,
Yang Sudah, Biarlah Berkesudahan.
Yang Lalu, Biarlah Berlalu.
Dalam hal ini, apa yang pernah terjadi diantara Val dan Kafeel.
Yakni cinta, serta luka dihati mereka.
Termasuk juga harapan untuk merajut masa depan dalam ikatan sah, yang kandas.
Lalu membuat sejumlah duka menyelimuti.
Tak hanya pada Val dan Kafeel, namun juga orang – orang terdekat mereka.
Dimana dada mereka, begitu terasa sesak.
Yang mana sekarang, dada yang sesak itu sudah lama mulai melonggar, duka yang menyelimuti pun sudah terhempas. Lega, dan mungkin bahagia yang pernah tertunda, akan berlanjut kepada kebahagiaan yang bulat.
Kala Val yang sempat amnesia -- meski tidak secara total, yang kini terfokus kepada seorang Kafeel Adiwangsa -- Kini mulai pulih dari amnesianya itu.
Dimana tentang Kafeel yang sempat Val lupakan, perlahan namun tak lambat serta pasti terus teringat – Sudah mulai kembali ke otak Val, bahkan menempel di sana.
Termasuk tentang cintanya Val yang begitu besar – malah terkesan berlebihan pada Kafeel, sudah Val ingat dan rasakan betul – betul dalam hatinya.
Bahwa cintanya pada Kafeel masih ada – tetap menempel di hatinya, meski sempat Val melupakan segala hal tentang Kafeel Adiwangsa.
Dan atas cintanya pada Kafeel yang tak pernah pergi dari hatinya itu, tak sulit bagi Val untuk menemukan kembali – lalu merasakan hangat dari cintanya pada Kafeel itu kala memori tentang pria tercinta Val tersebut telah gadis itu dapatkan.
Jadi dengan sadar, Val membulatkan keputusannya – untuk kembali merajut apa yang pernah terhenti diantaranya dirinya dan Kafeel, walau apapun yang pernah terjadi.
Dan beruntung Val memiliki keluarganya yang berpikiran terbuka, walau terkadang sisi otoriter dari para orang tua – para Dads yang seringnya menunjukkan sikap tersebut termasuk juga kakak tertua.
Namun tetap – menghargai setiap keinginan para anggota keluarga lainnya, itu yang diutamakan. Apalagi jika itu berhubungan dengan yang namanya kebahagiaan, selain memang adanya rasa kasih sayang yang besar diantara satu sama lainnya – maka Val tak sulit mendapatkan restu dari keluarganya untuk keputusannya kembali merajut tali cintanya dengan Kafeel.
Keberuntungan tentunya juga menerpa Kafeel, selain ia amat bersyukur mencintai gadis yang berasal dari keluarga super kaya – namun tak satupun dari keluarga Val yang peduli -- jika dilihat dari ukuran strata sosial Kafeel dan Val – kalau Kafeel, meskipun memang juga berasal dari keluarga berada namun keluarganya pernah jatuh di titik terendah – Kafeel berada pada beberapa tingkat strata di bawah Val.
Yang tak juga dipedulikan kelakuan buruk Kafeel dalam hal pergaulan di masa lalunya, hingga ijin untuk bersama Val – tak sulit Kafeel dapatkan sedari awal. Dan lagi, Kafeel memang sudah menunjukkan dirinya adalah pria baik di mata keluarga The Adjieran Smith, dikala usia kedewasaan nan matang sudah Kafeel jajaki.
Jadi masa lalu Kafeel dalam buruknya ia bergaul di masa itu, tidak keluarganya Val buat jadi pertimbangan untuk menolak Kafeel bersanding dengan Val – yang penting saat sudah masuk dalam lingkup mereka, Kafeel – katakanlah – amat bagus nilainya.
Juga tentang hal yang membuat Val sempat terluka begitu dalam, lalu keluarga Val dirundung duka yang cukup berkepanjangan – Kafeel tidak berlarut dipersalahkan, meski keputusannya sempat membuat mendung hitam bergelung di atas kepala keluarga Val.
Namun tak sedikitpun ada dendam untuk Kafeel dari keluarga Val.
Dan lagi memang, Kafeel tak bisa dipersalahkan karena posisinya saat itu hingga membuatnya mengambil keputusan yang Kafeel tahu akan sangat melukai Val bahkan juga keluarganya. Yah, walaupun apa yang Kafeel lakukan terkait masa itu, begitu menyesakkan dan membuat geram keluarga Val.
Geram, bukan benci.
Karena sebelum Val mengumumkan kalau ia telah jatuh cinta pada Kafeel, pria itu sudah disayang dan dianggap bak anak sendiri oleh para orang tua The Adjieran Smith.
Bahkan Kafeel adalah anak angkat langsungnya papi John.
Menjadikan Kafeel benar – benar memiliki tempat dalam keluarga The Adjieran Smith.
Lalu kesalahan dari salah seorang anggota keluarga, patutnya dimaafkan jika yang bersangkutan begitu menyesali perbuatannya bukan?
Apalagi seseorang yang dianggap keluarga itu sudah begitu akrab, dan disayangi sebetul - betulnya keluarga.
Dan lagi, Kafeel juga ikut menderita karena keputusannya.
Jadi kasarnya, satu sama diantara Kafeel, Val dan keluarganya.
Namun ya itu, yang sudah – biarlah berkesudahan.
Dan yang berlalu, biar saja berlalu. Hal yang menyakitkan, rasanya tak perlu diingat lagi.
Tapaki saja hari ini, hari esok dan seterusnya, dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari hari kemarin.
Introspeksi – memperbaiki diri sendiri, lalu fokus meraih bahagia. Walau kendala pasti ada aja. Dan kendala itu – meski sekecil apapun, jangan dihadapi dengan gegabah.
__ADS_1
Jangan juga dipikirkan untuk ditakutkan karena ragam alasan yang mungkin berkenaan dengan masa lalu.
Karena masa lalu, biarlah masa lalu.
Masa lalu yang tak mengenakkan bahkan buruk dalam hal ini – antara Kafeel, Val dan keluarga The Adjieran Smith.
Walau yaah – masa lalu tidak bisa diabaikan juga, karena keberadaannya, masa sekarang dan masa depan ada.
Dilirik sesekali bolehlah, untuk sekedar mengingat – apalagi di masa lalu itu tidak hanya ada hal yang tidak menyenangkan dan menyakitkan.
Ada hal yang menyenangkan dan membahagiakan juga di dalamnya yang kiranya akan seru untuk diingat, bahkan senyum dan tawa pun bisa terus terlibat karena sebuah cerita yang bukan hal buruk di masa lalu.
Jadi masa lalu yang dibiarkan berkesudahan, adalah tentang segala yang kiranya pernah membuat hati rasa tersinggung bahkan teremat.
Tak bisa dibuang begitu saja.
Simpan saja dalam ‘kotak’.
Sebagai pengingat, agar hal buruk di masa lalu itu jangan sampai diulangi lagi.
End of Author’s POV.
🌷
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ( K.U.J ),
“Kau menginap saja di sini.” Adalah dad R yang berucap pada Kafeel.
“Oh iya, emang aku udah niat nginep sampe Val pulang ke London nanti. Udah bawa baju ganti buat seminggu.”
Dan Kafeel pun langsung merespons ucapan dad R tersebut, yang adalah sebuah penawaran yang tentunya memang sudah Kafeel harapkan.
Walau apa yang Kafeel ucapkan itu, hanya sekedar candaan saja yang sebenarnya tidak berniat untuk menginap di KUJ.
Tapi kalau ditawari begitu ya Kafeel ga nolak. Karena dirinya membayangkan bisa terus bersama Val yang masih ingin ia dekap lama – lama.
Yah, siapa tahu, Kafeel ketiban rezeki tambahan dimana satu hal yang bagi Kafeel rezeki itu ga jadi terjadi saat Val berada di kamarnya dini hari tadi.
Yakni, Val yang ngajak bobo bareng. Ehem!
🌷
“Apa kamu mengusirku dengan halus, Aro??? –“
“Yeeeu sensi deh –“
“Bercanda, Aroooo ....”
Val mencubit gemas pipi Aro sambil ia terkekeh kecil, ketika dirinya sedang bercengkrama bersama para saudara dan saudarinya yang berdomisili di KUJ, beserta juga Kafeel yang jadi menginap di KUJ.
Kemudian Val menjawab pertanyaan Aro padanya, kemudian mengobrolkan banyak hal. Tidak hanya dengan Aro, tapi juga dengan para saudara dan saudarinya yang ada di KUJ, termasuk tiga kakak yang ada di hunian mereka itu, dan juga Kafeel.
🌷
“Besok Val ada acara? –“
“Tidak ada, Kak.”
Val menjawab pertanyaan Kafeel yang seperti dirinya, sudah hendak bergegas masuk ke kamar masing – masing.
“Ada rencana ingin pergi ke suatu tempat? ....”
“Tidak ada juga. Val hanya ingin menunggu Abang yang katanya akan kembali dari Jepang esok hari –“
“Hmm –“
“Selain katanya Kak Celine juga datang bersama Abang dan melakukan pemeriksaan pada Val.”
“Apa ada keluhan di kepala dan tubuh kamu?? ....” Kafeel lantas langsung terlihat khawatir. “Kok ga bilang sama aku kalau ada sakit yang kamu rasa?? ....”
Val menerbitkan seutas senyuman pada Kafeel yang nampak khawatir itu, lalu berkata pada Kafeel setelahnya.
“Val tidak memiliki keluhan apa – apa, Kak –“
“Lantas Celine yang datang jauh – jauh dari Itali untuk memeriksa kamu? ....”
“Kak Celine kebetulan diminta Abang menyusul ke Jepang katanya. Dan memang Val rutin diperiksa setiap bulannya oleh Kak Celine.”
__ADS_1
Val menerangkan.
“Hanya satu dua bulan terakhir, Val sudah malas selain lelah melakukan pemeriksaan yang sama saja selalunya. Tetapi mungkin karena Val sudah mulai mengingat kembali apa yang Val lupakan, makanya Kak Celine dipanggil untuk memeriksa Val. Mungkin Uncle Mario juga akan datang –“
“Ya sudah kalau begitu ....” Kafeel sudah lega sekarang. “Tapi kalo emang ada keluhan atau ada rasa ga nyaman yang kamu rasa di kepala sama tubuh kamu, langsung kasih tau aku ya, Tuan Putri? ....”
“Iya Kak .... Kak Kafeel tidak perlu mengkhawatirkan Val dengan berlebihan. Val sudah merasa sangat baik sekarang. Nyeri di kepala yang Val kadang rasakan, kalau Val ingat – ingat lagi .... Itu timbul saat Val merasakan sebuah dejavu namun Val sulit mengingat – mendapatkan gambaran penuh dari dejavu itu yang 99% Val ingat itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan Kakak.”
Val berujar, sambil tangannya ia angkat lalu mengusap lembut kepala dan wajah Kafeel seraya Val tersenyum.
“Tapi karena Val sudah mengingat Kakak dan bahagia karena kita kembali bersama, rasanya nyeri di kepala yang Val suka rasakan itu tidak akan Val alami lagi ....”
“Aamiin.”
Kafeel dengan cepat menjawab ucapan Val.
“Love you, Tuan Putri,” tambah Kafeel sambil meraih tangan Val yang sempat mengelus kepala dan wajahnya itu, lalu Kafeel berikan kecupan di punggung tangan Val.
“Love you too and more, Kak,” balas Val tak kalah mesra. Dimana di detik berikutnya, Val dan Kafeel sama terdiam. Netra saling bertatapan, dan wajah sama – sama menyorong ke satu sama lainnya.
Wajah Val dan Kafeel sudah begitu dekatnya, tinggal sedikit lagi saja bibir mereka bertemu. Namun,
“Huacim!”
“Uhuk! Uhuk! Ogrok!”
Gagal bibir Kafeel menyentuh bibir Val akibat gangguan dua makhluk yang terdengar suara mengganggu mereka dari belakang Kafeel yang lantas menggerutu dalam hatinya.
‘Elah! Dikit lagi padahal –‘
🌷
“Kak Kafeel tadi tanya Val ada acara atau tidak dan juga bertanya pada Val apa Val ingin pergi ke suatu tempat, ada apa? .... apa Kakak mau mengajak Val ke suatu tempat?”
Setelah kepergok Aro dan Isha kala ia dan Kafeel hampir berciuman di depan kamar pribadi Val dalam KUJ, Val yang merasa malu itu langsung buru – buru undur diri dari hadapan Kafeel yang sempat mesam – mesem antara tengsin dan lucu juga, untuk masuk ke kamarnya.
Kemudian, Val yang merasa belum mengantuk itu pun menghubungi Kafeel dan kembali mengobrol dengan pria tercintanya itu dalam sambungan telepon setelah Val berada di dalam kamarnya -- dengan Aina dan Isha yang menemani Val di dalam kamar pribadinya tersebut.
Karena meski Val nampak akan sembuh dari amnesia spesifiknya, namun menemani Val masih rasanya perlu dilakukan oleh para saudarinya pada saat Val berada di kamarnya. Toh belum ada pengumuman dari para orang tua ataupun dari para kakak bahkan para kakek dan nenek mengenai Val yang tidak perlu ditemani lagi karena gadis itu kemungkinan akan normal kondisinya dengan pasti karena Val dan Kafeel telah kembali bersama jadi tidak mungkin rasanya Val kepikiran untuk mencoba bunuh diri lagi.
Namun begitu, sebelum ada info dan titah lebih lanjut tentang soal menemani Val itu dari mereka yang dituakan – maka Aina dan Isha layaknya Mika dan Ann, akan terus menemani Val saat Val dirasa akan berada pada suatu ruangan. Bahkan terkadang para saudara saudari lain Val selain empat ciwi tersebut di atas, juga ikut giliran menemani Val – selain, hal tentang menemani Val dirasa malah sudah menjadi suatu kebiasaan para pewaris muda generasi Varen sampai Ares.
🌷
“Kalau Val memang mau pergi ke suatu tempat, aku pasti antar dan temani kamu, Tuan Putri. Tinggal bilang mau kemana dan kapan .... Kafeelnya Val pasti standby.” Jawaban Kafeel atas pertanyaan Val yang sedang terhubung di sambungan telepon dengannya itu, dimana Kafeel tidur di kamar Aro bersama dengan Ares juga.
Karena si pewaris bontot itu mengajak Aro dan Kafeel untuk tidur di satu kamar yang sama seperti Val, Aina dan Isha. Dan Kafeel serta Aro mengiyakan permintaan si bontot itu. Meski sebenarnya Kafeel memiliki kamar khusus untuknya di paviliun tamu dalam KUJ.
“Tapi sekarang Tuan Putri lebih baik beristirahat dengan segera. Sambil dipikirin mau kemana dan kapannya. Kalaupun besok, ayo.” Kafeel lanjut bicara.
“Ya sudah deh nanti Val pikirkan –“
“Tapi tunggu Abang datang dari Jepang dan tunggu kamu selesai periksa sama Celine dan Uncle Mario ya?”
“Iya Kak. Tapi mungkin tidak besok kalau Val ingin pergi ke suatu tempat. Karena Val belum tahu Abang sampai ke sini jam berapa dari Jepang. Lalu jika Val besok melakukan pemeriksaan dengan Kak Celine dan Uncle Mario, itu akan memakan waktu yang agak lama pasti.”
🌷
“Tapi by the way, Kak Kafeel menanyakan apakah Val ada acara besok atau ingin pergi ke suatu tempat, apakah karena sebenarnya Kak Kafeel memiliki suatu urusan?”
Val lanjut bicara, dan kali ini ia bertanya – dimana Kafeel pun menjawab pertanyaan Val itu.“Eemm ....” hanya Kafeel terkesan ragu menjawab pertanyaan Val tersebut.
Namun Kafeel kemudian jujur bicara.
“Iya sih, ada sedikit urusan. Tapi kalau Tuan Putri memang ingin pergi atau ada acara dan mau aku menemani, urusan aku bisa ditunda.”
“Kak Kafeel jangan seperti itu .... Jangan karena Val, Kak Kafeel malah kian repot bahkan sulit –“
“Kamu jauh lebih penting daripada urusan aku.”
“Terima kasih, Kak. Val sungguh tersanjung. Tapi jangan terlalu – lalu juga Kak Kafeel mengorbankan kepentingan Kakak hanya untuk Val yang tidak penting.”
“Segala hal yang berhubungan dengan kamu itu penting buat aku, Tuan Putri.”
“Terima kasih, Kak. Val tersanjung sekali lagi. Tapi jika Val boleh tahu, memang Kak Kafeel ada urusan apa besok? –“
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue ....