
( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.
Takut bawang bombay dan bawang merahnya kebanyakan di episode ini, kanebo -- bisa disiapin kayaknya.😁
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kemarin, kami terlalu bahagia. Hingga terlupa, jika kepedihan bisa datang kapan saja. Yang kini telah menghampiri, meremat dada dengan begitu hebatnya.
Sungguh, sakit dihadapkan atas kehilangan seseorang yang tersayang itu, seolah jantung direjam dengan tanpa belas kasihan.
🍂🍂🍂🍂🍂
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
“RERY?!”
Rery mendengar namanya dipanggil dengan kencang dari satu bagian mansion. Namun tidak Rery pedulikan, karena fokusnya adalah menuju ke tempat yang sama dengan Ann sebelum terlambat.
Rery meloncati beberapa anak tangga seperti halnya Ann menuju lantai tiga. Dan dibelakang Rery pun juga menyusul langkah-langkah yang terdengar berhamburan berlari dengan tergesa.
Dimana langkah-langkah itu adalah milik beberapa pria yang tadinya sedang bercengkrama di ruang tamu mansion saat Ann berteriak dengan membahanany, sambil berlari macam orang kesetanan.
“Ada apa ini??!!...”
Semua orang yang berada di dalam mansion kontan saja langsung berhamburan dari tempat mereka setelah mendengar teriakan super kencangnya Ann.
Dimana tak ada yang menjawab pertanyaan yang tercetus dari mereka yang tahu-tahu mendengar teriakan histeris Ann yang terdengar horor itu. Karena yang bertanya ada apa adalah mereka yang berada di kamar masing-masing.
Sementara yang harusnya menjawab, masih terdengar berteriak, lalu gedoran pada sebuah pintu terdengar dengan begitu kencangnya. Yang mana wajah terheran-heran kemudian nampak, saat mendapati genangan air di lantai tiga yang bersumber entah darimana.
Lalu kian terperangah saat mendapati kamar yang telah dimasuki Ann dan Rery yang berteriak memanggil-manggil si pemilik kamar yang pintu kokohnya mereka berdua gedor dengan kencang. “VAAAL!” Dengan histeris dan berlinang air mata, adalah sumber atas genangan air yang ada di sebagian lantai tiga mansion mereka.
Panik!.
Dan khawatir kemudian melanda para pria yang sudah menyusul Ann dan Rery yang sedang bekerjasama untuk mendobrak pintu kamar mandi seseorang yang namanya terus Ann dan Rery teriakkan dengan histeris dan menangis.
“Step aside!” Poppa langsung melesat diantara Rery dan Ann yang belum berhasil membuka pintu, tanpa lagi bertanya ‘Ada apa’ pada Rery dan Ann. Yang mana hati Poppa seperti dua Dad of Adjieran Smith serta Gappa sudah tidak karuan melihat genangan air di kamar yang adalah kamar Val, walaupun hanya sebatas telapak kaki saja.
Namun si pemilik kamar tidak ada di ruang utama kamar, dan pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
BRAKK!
Hanya sekali hentakan tendangan yang Poppa lakukan sekuat tenaga, pintu kamar mandi yang kokoh itu terbuka dengan paksa.
Lalu hati yang tak karuan rasanya itu, kian dibuat sesak melihat pemandangan dalam kamar mandi, dimana mata yang sudah masuk ke dalamnya tertuju ke satu bagian yang keran airnya nampak mengucur deras meskipun wadah tampungnya sudah luber sekali---dan ada sesosok tubuh di dalam satu bagian kamar mandi tersebut.
Tubuh sang pemilik kamar, yang telah terendam sepenuhnya, sampai punggungnya menyentuh dasar tempat yang disebut bathtub.
“VAAALL!!!...”
Dan teriakan histeris yang membahana kembali terdengar, dimana mata-mata yang kering kini mulai memanas dan basah secara perlahan.
Tidak hanya tubuh Rery dan Ann saja yang gemetar, tapi semua orang yang telah melihat pemandangan memilukan dan menakutkan hati setiap orang yang melihat pemandang sang pemilik kamar yang matanya telah tertutup rapat.
Dan tetap saja tertutup rapat, walau pertolongan pertama langsung dilakukan oleh Dad R setelah Poppa dengan begitu cepat mengangkat tubuh Val keluar dari dalam bathtub pada kamar pribadi satu putri mereka itu.
“Val.. Baby.. Wake.. Up.. Please..”
Suara Dad R terdengar merintih sambil ia terus mencoba memberikan pertolongan pertama untuk menolong korban tenggelam.
“Va-al... Baby...”
Lirihan dengan suara yang bergetar juga keluar dari para orang tua selain Dad R.
“V-aaalll...”
Begitu suara-suara yang bergetar terus memanggil Val yang matanya tetap saja tertutup rapat.
Dad R belum berhenti mencoba memberikan pertolongan pada Val yang wajahnya sudah seperti kapas itu.
“Val.. Jangan seperti ini..” Dad R merintih lagi, dengan wajahnya yang sudah basah. “Va-al..”
“Siapkan mobil!”
Poppa berseru dengan juga sudah berlinang air mata.
“No! Chopper! ( Tidak! helikopter! )” Papa Lucca langsung menyergah.
“VAL! WAKE UP!”
Dad R berteriak, namun suaranya terdengar putus asa.
Habis bagaimana?...
__ADS_1
Sudah sekuat tenaga percobaan CPR ia lakukan, namun Val bergeming.
Matanya yang terpejam tidak juga terbuka, pun tak ada sinyal pergerakan apapun.
“Move!”
Poppa menyadari sesuatu, namun enggan bicara banyak sambil ia dengan cepat menggeser tubuh Dad R, untuk kembali memberikan percobaan pertolongan pertama untuk korban tenggelam.
Namun sama saja hasilnya seperti percobaan Dad R di atas ranjang Val yang kering dari genangan. “Tidak seperti ini, Baby...” Poppa melirih frustasi.
Tangannya sudah memetakan pada beberapa titik di tubuh Val. Namun Poppa tidak mau mengatakan bahwasanya terpaan nafas tidak lagi terasa.
Detakan jantung Val juga tidak dapat Poppa rasa di telapak tangannya.
Pun garis nadi, yang jari Poppa tidak rasakan denyutnya.
“The chopper is ready ( Helikopter sudah siap )...”
Suara Achiel terdengar, dengan juga bergetar.
Yang langsung disambar tubuh Val oleh Papa Lucca dari atas ranjang untuk dibawa, bersama derai tangis mereka yang berkumpul di kamarnya.
“Terlalu lama untuk pergi ke rumah sakit!” seru Papa Lucca. “We have AED ( Kita memiliki defribilator )!”
Seruan Papa Lucca langsung di pahami oleh beberapa orang yang kemudian berlari mendahului Papa Lucca yang sedang menggendong tubuh Val yang sudah nampak lemas itu.
🍂
Val dibawa dengan cepat oleh Papa Lucca ke dalam safe house mereka, dimana beberapa alat untuk sesuatu yang mendesak memang dipersiapkan di sana.
“Let me ( Biarkan aku yang melakukannya )”
Salah satu kawan lama Poppa dan Dad R yang bertamu itu berinisiatif kala tubuh Val telah diletakkan diatas brankar dan mesin-mesin yang ada di sekeliling brankar tersebut telah lebih dulu dinyalakan oleh Rery dan Ann.
Satu mesin yang dapat memberikan kejutan listrik telah didekatkan ke brankar dimana Val dibaringkan di atasnya. Lalu saat dirasa siap, kawan lama Dad R dan Poppa yang memang seorang dokter yang pernah membantu menyelamatkan nyawa Momma itu, menempelkan alat pacu jantung dengan kejut listrik itu ke dada Val.
Namun tetap, Val bertahan dengan keadaannya.
Masih memejamkan matanya, masih tidak mau menyalakan detak jantung dan nadinya.
Bahkan setelah kejutan listrik diberikan sekali lagi setelah CPR telah sekali lagi dilakukan oleh dokter kawan lama Poppa dan Dad R yang bernama Mario itu, Val, tetap sama.
Membuat Dokter Mario menarik nafasnya dengan tertekan dan tak tega menatap satu-satu orang di hadapannya. “Very sorry..”
Dokter Mario tergugu berucap.
“She’s, gone ( Dia, sudah tiada )...”
Dokter Mario juga sudah nampak sangat berkaca-kaca matanya.
Lalu berucap pelan, mengulang kembali apa yang tercantum di monitor mesin defibrillator yang tadi digunakan untuk 'mengembalikan' Val.
Ucapan yang biasanya Dokter Mario katakan, saat dia menghadapi situasi seperti ini.
Dimana ada seorang pasien yang tidak dapat bertahan.
Karena nafas, detak jantung serta denyut nadi, telah diambil oleh Sang Pemilik.
“Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, Time of death ( Waktu kematian ), 10 AM.”
🍂
Dari Val untuk Tuhan,
Val sudah tidak kuat.
Val, menyerah.
Ujian-Mu Val rasa terlalu berat untuk Val.
Ada atau tidak pun ruang di ‘tempat-Mu’ untuk Val...
Val sudah tidak ingin lagi berada di dalam tubuh yang hatinya dihuni jutaan rasa sakit serta rasa bersalah.
🍂
“VAALL!!”
Teriakan histeris bercampur tangisan hebat itu terdengar ramai dalam satu ruangan di safe house.
“Sayangnya The Moms... dan The Dads...” lirihan Mommy Ara yang memilukan. “Val cantiknya semua o-raan... bangun sa-yaang... Ya Allah---V-aalll...”
Melemas kemudian Mommy Ara yang dipegangi Dad R dan Momma yang juga sudah menangis dalam duka yang begitu dalam. Yang dibaringkan kemudian di bagian lain safe house, ketika didetik berikutnya Mommy Ara tak sadarkan diri.
🍂
Dari tujuh wanita utama The Adjieran Smith yang berdomisili di London, tiga orang telah tumbang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Empat lainnya bertahan untuk mengurusi, dengan menahan duka yang begitu dalam, diwakili oleh derasnya air mata yang menganak sungai.
Momma, Mama Fabi, Mika serta Gappa, sedang mengurusi mereka yang sedang tidak sadarkan diri bersama juga Dokter Mario yang mengecek kondisi Mommy Ara, Gamma dan Oma Anye.
Sementara Rery yang matanya sudah juga memerah basah itu, menemani Ann di satu sudut ruangan. Dimana Ann yang sama basah wajahnya, hanya terdiam dengan pandangan kosong dan terisak ke arah dimana ada Val yang terbaring di atas sebuah brankar dengan alas yang empuk.
Tiga Dads bergeming di tempat mereka, memandangi satu kesayangan yang benar-benar tidak lagi menunjukkan pergerakan. Menggigit bibir, mengusap sayang rambut yang basah menutupi keningnya tadi. Memegangi tangan yang dingin sekali akibat cukup lama berada di dalam air.
“Kenapaa, anak Daddy begitu bo-doh seperti ini, haa??...”
Ini Dad R, yang menangkup wajah Val dengan derai air mata nan derasnya, luapan rasa yang begitu sesak di dadanya.
“Jika Kau Memang Masih Menginginkannya Seharusnya Kau Katakan Padakuu!!! Akan Aku Seret Kafeel Adiwangsa Kehadapanmu Dan Akan Aku Langsung Nikahkan Kalian Tanpa Ragu! Tidak Peduli Kau Akan Menjadi Istri Keduanya Sekalipun! Kalau Perlu Akan Aku Habisi Istri Berikut Calon Anaknya Terlebih Dahulu!... ---- .... Tapi sekarang... Tolonglah... Bu-ka, matamu dulu... Bangun, Baby... Bangun... Dan merengeklah padaku... Ba-ngun Vaal... Sa-yang... BANGUUNN!!!!!—“
Tangisan Dad R pecah dengan begitu memilukan setelah ia berseru dan meracau histeris , dengan keningnya yang sudah ia tempelkan di kening putri kandungnya itu.
Poppa dan Papa Lucca serta hanya terdiam tanpa kata, namun air mata mereka pun tak henti turun dan sudah membuat wajah mereka begitu basahnya. Memegangi tangan Val dan membelai kepala Val dengan tangan keduanya yang gemetar.
“Wake up, Baby... Dad mo-hoon... Bangun, sayang... Dad janji... semua permintaanmu akan Dad kabulkaan... V-aalll...”
Dad R melirih parah, tenggorokannya begitu sakit ia rasa.
“Sudah Dad katakan... Bagi luka, dan sedihmu denganku... Bangun, Baby... Katanya sayang Dad-dyy sepenuh hati... Tapi Val, kenapa sampai tega meninggalkan Daddyy seperti ini...”
🍂
Tak pernah terpikirkan, pun tak sampai dibayangkan, jika keluarga mereka yang begitu membuat iri banyak orang di luar sana dengan kompak dan tampak sangat tentram bahagia---karena memang se-kompak, tentram dan bahagia itu keluarga mereka selama ini---harus menghadapi suatu keadaan yang tidak hanya sekedar menceloskan hati, namun begitu merejam jantung.
Sebagaimana yang dirasakan seorang kakak lelaki yang melihat adiknya nampak tertidur begitu lelapnya di atas sebuah tempat tidur yang menyerupai tempat tidur rumah sakit. Tubuh yang berdasarkan pemeriksaan telah tidak lagi memiliki nyawa itu masih dibiarkan di posisinya seperti saat diletakkan di atas sebuah tempat tidur yang menyerupai tempat tidur rumah sakit tersebut.
Tidak boleh ditutupi keseluruhan tubuh dengan wajah imut namun sudah sangat pucat itu, oleh tiga orang pria yang bergelar ayah untuk si pemilik raga yang sudah tanpa nyawa.
“Kamu, hanya sedang mengerjai kami, kan, Val?...”
Sang kakak yang pandangannya nanar dan matanya memerah basah itu mendekati sang pemilik raga.
Adik perempuan kandungnya. Yang cerewetnya luar biasa, yang suka rusuh tidurnya jika sedang mengadakan acara pesta piyama.
Yang susah diam, bahkan saat tidurpun kadang masih aktif bergerak andai di kanan kirinya tidak ada orang yang menghimpit. Lalu orang yang menghimpit si pemilik tubuh yang terbaring di atas sebuah ranjang yang menyerupai ranjang rumah sakit itu, akan terkena tindihan kaki atau tangan.
Val, hanya sedang tidur, kan?
Hati Varen yang masih tidak percaya dengan berita yang didengarnya saat masih di dalam jet kala hendak bertolak ke London.
Tapi kenapa si cerewet nan suka rusuh itu kini begitu tenang tidurnya?
“Val... Maafkan Abang, jika Abang ada salah pada Val. Bangun, sayang. Abang sudah rembukan dengan Kak Drea... Kalau Val maunya Abang sama Kak Drea dan Putra tinggal di sini... Abang, bersedia... Tapi, Val harus memintanya langsung pada Abang. Abang ga akan jawab ‘Abang pikirkan dulu’... Abang janji akan langsung Abang iyakan...”
Seperti halnya tiga Dads tadi, Varen telah berada di sisi Val.
Yang ia belai dengan sayang kepalanya, yang Varen genggam erat tangannya.
“Bangun dong... Val... Nanti Abang akan tunjukkan pada Val pulau rahasianya Abang sama Kak Drea. Kita ke sana sama-sama?”
Varen tersenyum, namun hatinya ia rasa begitu pedih.
Kenapa sih, Val hening begini?
“Yuk, bangun, adik Abang... Nanti kalau Val peluk Abang, Abang tunggu, Val-yang melepaskan duluan... Janji sepenuh hati, Abang ga akan lepaskan kalau Val belum melepaskan pelukan Val pada Abang...”
Harusnya setelah kalimat itu Varen katakan, Val akan bersorai dengan tawa kepuasan, lalu bilang, “Yeay! Abang luluh juga pada Val pada akhirnya!”
Tapi sayangnya, hal itu tidak terjadi.
Val bertahan dalam kebungkaman dengan tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Yang ucapan Varen seolah Val abaikan, yang seharusnya berujung pada omelan Varen pada Val kalau adiknya itu tidak menaruh perhatian padanya saat ucapannya diabaikan.
Tapi kali ini tidak, Varen tidak dapat mengomel. Tidak sanggup. Mau bicara lagipun harus berusaha keras, karena Varen seolah mengeluarkan batu besar dari tenggorokannya setiap kali ia berucap sekarang.
“Bangun, Val... Ayo Abang gendong belakang?... Abang gendong sampai Val bosan... Buka yuk, matanya, Val?...”
Putus asa, Varen menatap penuh harap pada adik kandungnya yang wajahnya teduh, namun menyimpan luka.
“Sa-yaang, Val...”
Pada sang adik Varen berkata, hingga kemudian Varen tenggelam dalam tangis yang memilukan.
🍂
Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh bersama derasnya tetes air mata
Kaubenamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu
__ADS_1
🍂🍂
To be continue....