HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
D E S I R E - Keinginan


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jekardah, Indonesiah,


“Masih lama tidak?”


Adalah Val yang bertanya pada Kafeel yang sedang membukakan kancing kebaya pengantinnya yang letaknya di belakang kebaya tersebut, karena desakan panggilan alam yang tahu-tahu datang saat Kafeel masih membantu membukakan kancing kebayanya.


Seharusnya sih, Kafeel sudah selesai dengan tugasnya yang membantu membukakan kancing kebaya pengantin istri belianya itu—namun punggung mulus dan kaitan penutup dada Val yang terlihat langsung di mata Kafeel kala beberapa kancing telah ia buka, lalu sebelumnya sempat juga galfok dengan leher dan dua bukit kembar milik Val yang agak samar-samar terlihat bagian atasnya dari posisi Kafeel sekarang.


Membuat Kafeel jadi terkesima, dengan pikiran yang mulai melanglang buana. Bengong deh jadinya. “I-iya... sebentar. Sedikit lagi.“ makanya ketika suara Val yang sempat diam saja itu kemudian terdengar, Kafeel yang segera terkesiap, jadi sedikit tergagap menjawab Val yang langsung kembali bicara setelah Kafeel mencetuskan jawabannya.


“Val ingin pipis---“


“I-iya... iya...”


Kafeel pun segera mempercepat gerakan tangannya ketika mencetuskan kalimat jika dia ingin melakukan panggilan alam.


“Sudah, Baby...” ucap Kafeel kala semua kancing kebaya pengantin Val yang tidak tanggung-tanggung banyaknya itu, telah ia lepaskan semua dari pengaitnya.


“Terima kasih, Kak...”


Val langsung berucap sambil ia segera bergerak selepas Kafeel mengatakan jika tugasnya telah selesai.


Selain memang Val sudah agak kebelet, sebenarnya Val agak merasa malu juga—karena Val sempat melihat mata Kafeel yang melirik ke bagian depan tubuh serta lehernya lewat pantulan sebuah permukaan kaca yang dapat membiaskan refleksi benda di depannya.


Dari  pantulan itu juga, Val sempat memperhatikan kala Kafeel tengah tertegun memandangi bagian belakangnya.


Makanya Val dengan segera ngacir untuk masuk kembali ke kamar mandi, setelah Kafeel memberitahu kalau ia sudah selesai membukakan kancing kebayanya Val itu.


Habisnya Val malu.


Tubuhnya dipandangi itu oleh seorang pria dengan minat yang tersirat, meskipun suami itu telah berstatus suaminya. Dan meskipun Kafeel pernah juga menyentuh sebentar sepasang bagian tubuh sensitifnya yang tadi sempat diperhatikan oleh suaminya itu, tetap Val merasa canggung rasanya sekarang.


Jadi Val buru-buru melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam kamar mandi, untuk menghindari Kafeel menyadari kecanggungannya itu. Sementara Val masuk kembali ke kamar mandi, sesaat Kafeel tetap pada posisinya sambil memandangi istri belianya itu masuk ke dalam kamar mandi.


Lalu hengkang kemudian kembali ke tempatnya tadi, saat suara gemericik air sudah sayup-sayup Kafeel dengar dari dalamnya.


Melanjutkan kembali kegiatannya dengan ponsel saja seperti sebelumnya, untuk menepiskan pikiran nakalnya tentang Val. Lalu langsung gantian membersihkan dirinya, setelah Val selesai dari dalam kamar mandi dan telah berganti pakaian dengan pakaian santai juga—dan Kafeel menyuruh Val untuk langsung beristirahat saja tanpa perlu menunggunya selesai membersihkan diri.


Val pun menurut, karena ia juga merasakan tubuhnya lumayan lelah.


🌷


Sementara itu di kamar sepasang pengantin baru yang satu lagi,


“Kamu mau mandi duluan, Mi?...”


Ada Arya yang berujar pada Mika selepas ia menenangkan Mika yang gugup karena perkara ‘ritual suami istri’.


“Kamu aja dulu deh, Ar,” jawab Mika. “Aku masih gerah...”


“Ya udah.”


🌷


“Kayaknya si Arya ga bawa baju ganti ke kamar mandi deh?... perlu gue siapin ga ya? Ah gue siapin aja deh. Daripada gabut?...”


Mika menggumam di tempatnya, tak lama setelah Arya masuk ke kamar mandi.


“Eh tapi kan ada connecting door ke walk in closet dari kamar mandi?...”


Kemudian Mika menggumam lagi, saat ia ingin melakukan niatnya—menyiapkan baju ganti untuk Arya.


Lalu terdiam sejenak untuk berpikir.


“Gue siapin aja deh... sekalian gue ganti baju juga.”


Mika pun melangkahkan kakinya ke dalam walk in closet dalam kamar hotel yang sedang ia tempati dengan Arya sekarang.


🌷


Mika sudah berada di dalam walk in closet kamar pengantinnya--katakanlah begitu, di hotel tempat ia dan Arya berada saat ini.


Ada dua buah koper berukuran sedang di sana, yang kemudian Mika buka salah satunya. Namun hanya Mika lirik saja.


Karena ia yakin, 2 buah koper yang merupakan miliknya dan Arya itu sudah kosong isinya—yang pasti sudah ditata dengan apik dalam lemari di walk in closet, oleh para aspri yang memang tugasnya mengurusi keperluan para pewaris muda The Adjieran Smith untuk ragam kepentingan—namun jika ada acara atau kepentingan khusus saja, beberapa orang aspri khusus para pewaris muda itu akan benar-benar bekerja.


Diluar itu, macam para Moms juga yang punya aspri—para pewaris muda The Adjieran Smith—dituntut untuk mandiri atas diri mereka masing-masing. Jangan kelewat lebay dengan melibatkan aspri dalam urusan pakaian yang mau dipakai sehari-hari, soalnya udah cukup dimanjakan perkara beli pakaian baru.


Dimana akan ada staf butik yang ditunjuk, untuk membawa beberapa koleksi mereka sesuai denga model pakaian yang diminta—lalu para wanita The Adjieran Smith dari yang tua dan muda, dapat belanja pakaian—hanya dengan duduk saja di rumah.


Tapi ga terlalu sering sih.


Sekali lagi, hanya pada saat-saat tertentu saja.


Atau bila hasrat belanja pakaian baru datang, tapi kaki rasanya mager.


Barulah itu butik-butik yang dipilih akan dihubungi—atau menggunakan tenaga para aspri yang akan bertugas menjadi personal shopper.


🌷


Sekarang ini, The Adjieran Smith Family sedang begitu repot sekali hitungannya.


Maka para aspri akan menumpuk tugasnya.


Terlebih ada dua nona muda dalam keluarga yang menikah.


Yang mana keduanya berikut suami masing-masing akan menjadi prioritas utama selama masa acara yang berhubungan dengan pernikahan 2 nona muda itu dengan para pasangannya.


Makanya Mika sudah menebak, jika pakaiannya dan Arya—sudah pasti telah ditata apik oleh para aspri itu, termasuk printilannya. Yang mencakup segala jenis skincare yang biasa dipakai oleh Mika dan Val.

__ADS_1


Dimana kesemuanya itu, Mika lihat telah tertata apik juga di atas meja rias—bersama beberapa botol parfum, yang mana tak hanya miliknya—namun milik Arya pun ada, jadi pakaiannya dan Arya—Mika tebak, sudah pasti ada di dalam lemari walk in closet tersebut.


🌷


“Ar?!...”


Mika mengetuk sebuah pintu yang merupakan pintu penghubung antara kamar mandi dan walk in closet kamar pengantinnya dan Arya di hotel tempat resepsi pernikahan mereka berikut Val dan Kafeel akan digelar lepas senja nanti.


Ingin mengatakan pada Arya, kalau baju ganti untuk si Recehboy yang kini rasanya akan Mika ganti sebutannya dengan Receh Husband—telah ia siapkan.


Karena Mika berpikir, kalau Arya adalah tipe umum pria yang suka asal aja narik baju di lemari—sementara Mika punya sisi perfeksionis untuk masalah kerapihan.


Jadi agar isi lemari yang merupakan beberapa pakaiannya dan Arya--walau tidak banyak—nantinya berantakan kalau benar tebakan Mika, jika Arya adalah tipikal rata-rata pria yang asal main ambil aja baju yang sudah tertata dan terlipat rapi di lemari—jadi lebih baik Mika saja yang menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.


Daripada nanti Mika sebal melihat isi lemari berantakan, meskipun pakaiannya dan Arya hanya sebentar saja tersimpan di lemari dalam walk in closet tersebut. Karena setelah selesai acara resepsi selesai nanti malam, Mika dan para keluarganya akan hengkang dari hotel di esok harinya—memilih untuk melanjutkan istirahat di KUJ.


Home sweet home.


Bagi Mika dan keluarganya.


Yang merasa rumah mereka adalah tempat ternyaman di dunia.


Tentu, sebutannya saja rumah-baik KUJ ataupun Great Mansion mereka di London.


Namun hunian yang disebut Mika dan keluarganya sebagai rumah itu, selain tidak berbaur dengan orang lain kecuali para art yang sudah lama mengabdi—2 hunian The Adjieran Smith Family itu, tak kalah fasilitasnya dengan hotel bintang 5.


🌷


Tak mendapat sahutan dari dalam kamar mandi selepas dirinya mengetuk pintu penghubung sambil memanggil Arya dengan penggalan nama panggilannya, Mika lalu menempelkan telinganya di pintu penghubung tersebut—dan suara gemericik air yang Mika tangkap di telinganya yang sudah menempel di daun pintu itu. “Ga denger kayaknya.”


Mika lalu menggumam di tempatnya. Lalu ia menjauhkan telinga dan tubuhnya dari pintu penghubung antara walk in closet dan kamar mandi di kamar pengantinnya dalam hotel itu, kemudian berpikir mumpung Arya masih belum selesai dengan kepentingannya di kamar mandi—lebih baik dirinya mengganti dulu atasan kebaya pengantinnya dengan kaos santai.


“Gue siapin aja baju gantinya. Perkara nanti Arya pakai atau engga ya terserah dia kalau saat gue selesai ganti baju terus keluar dari sini dan Arya ga lihat pakaian gantinya yang udah gue siapin,” gumam Mika sambil ia berjalan kembali menuju lemari dalam walk in closet tersebut.


“Mi?...”


Namun disaat Mika sudah mengambil dua potong pakaian milik Arya untuk ia siapkan sebagai baju ganti suaminya itu, suara Arya terdengar dari arah pintu penghubung yang telah terbuka.


🌷


Mika agak terkejut, hingga dirinya sedikit berjengkit kala tiba-tiba suara Arya terdengar.


“Kamu manggil tadi?” suara Arya terdengar lagi dengan sosoknya yang juga sudah terlihat, menggeser pintu penghubung hingga menjadi lebih lebar.


“I-iya.”


Mika yang langsung menoleh ke sumber suara selepas dirinya berjengkit kecil karena sedikit terkejut, kemudian langsung menggigit bibir bawahnya dan langsung juga memalingkan wajahnya dari pemandangan yang mungkin saja bisa mengacaukan akal sehatnya.


🌷


Mika salah tingkah karena Arya. pasalnya Arya yang datang saat Mika menolehkan wajahnya ke arah pintu penghubung antara kamar mandi dan walk in closet itu, hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya pada pinggang hingga lututnya.


Pemandangan seorang Arya Narendra yang belum pernah ia lihat sebelumnya secara langsung.


**


Toh keluarganya dan keluarga Arya terbilang cukup sering liburan bersama.


Atau Arya yang sedang main ke KUJ saat Mika dan keluarganya sedang beraktifitas di kolam renang.


Dan Arya yang seringnya akan ikut nyebur ke kolam itu, pastilah akan menggunakan celana pendek saja tanpa atasan.


Yang kemudian pemandangan itu jadi biasa di mata Mika, apalagi kala itu dia belum ada rasa cinta pada Arya. jangankan cinta, suka aja engga. Sebel banget iya.


Jadi Arya yang kala itu bertelanjang dada dan sering Mika lihat, tak spesial bagi Mika. Dan lagipula, memang Mika sudah terbiasa dengan pemandangan cowok-cowok yang bertelanjang dada.


Setiap kali ke pantai pemandangan itu akan Mika lihat.


Bahkan di kampusnya pun Mika sudah biasa melihat cowok-cowok yang hanya memakai celana renang yang modelnya adalah celdam di kolam renang kampus tempat anak klub renang biasa latihan.


Namun Arya yang kini bertelanjang dada, hanya memakai sebuah handuk saja di tubuhnya. Lalu pemandangan itu juga pernah lihat sekali secara langsung memang, tapi kondisinya saat itu membuat Mika tak merasa berdebar canggung seperti sekarang. Melainkan karena kondisi Arya yang seperti itu, kemarahannya jadi mencuat.


Tapi sekarang ini berbeda. Arya yang hanya berbalut handuk tubuhnya dari pinggang hingga lututnya, kini benar-benar sempat Mika pandangi dengan seksama, walau sebentar saja.


Pria itu sudah menjadi suaminya, dan sekarang mereka pengantin sangat baru hitungannya.


Terlebih Arya dalam yang sedang dalam kondisi seperti itu, kini sedang berjalan ke arahnya. Mika gugup?


Tentu saja!


Meski sudah sempat ke tahap setengah intim dengan Arya, namun tidak bisa membuat diri Mika tidak gelisah sekarang.


Karena otak Mika kini memikirkan, dibalik handuk yang suaminya itu kenakan, tidak ada selembar kain lagi yang menempel di sana.


‘Duh, jadi penasaran.’ Mika membatin spontan. Namun kemudian ia merutuki dirinya sendiri. ‘Ish Mika! Apa-apaan?---‘


“Kenapa?” suara Arya membuyarkan Mika yang sibuk bermonolog dalam hatinya. “Udah gerah ya?” Arya berucap lagi seraya bertanya pada Mika.


“I-iya.”


Lalu sekali lagi, Mika menjawab dengan sedikit tergugu.


“Sa-ma itu... gue---“


“Kok balik lagi?---“


“Apanya yang balik lagi?...”


Mika balik bertanya. Namun dirinya pura-pura sibuk di lemari.


“Bahasain diri pake Gue,” jawab Arya.


“O-oh itu... sorry, lupa...” balas Mika.

__ADS_1


Arya tersenyum. dimana selanjutnya ia memposisikan dirinya di samping Mika sambil Arya bersandar di pintu lemari yang sedang menutupi satu sisi pintu lemari yang sudah Mika geser.


Mika jadi lebih gelisah lagi dari sebelumnya.


Karena Arya seolah sedang menggodanya, meski tak tampak ada ekspresi tengil Arya saat spontan melihat ke arah wajah suaminya itu yang mengambil posisi di dekatnya. Namun karena Mika sempat menelisik Arya dengan ekor matanya, makanya hati Mika berdebar tak karuan sekarang.


Arya yang hanya berbalut handuk dan rambutnya yang nampak basah itu berikut aroma sabun yang maskulin menguar dari tubuhnya, membuat Mika merasakan gelenyar aneh yang Mika rasa adalah tanda-tanda kalau otaknya yang lurus, akan menjadi jungkir balik.


Pasalnya Mika merasa, ada dorongan di dalam hatinya—untuk berhambur memeluk Arya.


Lalu... menarik handuk yang sedang Arya kenakan? ‘Pikiran kotor tolong hentikan!’ seru hati Mika pada otaknya yang mulai menunjukkan kenakalan.


Tentang benda yang bertulang yang katanya bisa bikin blingsatan. Duh! Mika malah jadi makin penasaran.


Benda tak bertulang di bawah perut Arya, apa benar dapat membuatnya blingsatan?


Pengen lihat deh? Segimana itu ukuran benda tak bertulang di bawah perut milik Arya.


‘Ish!’


Mika berseru dalam hatinya.


Kesal sendiri pada dirinya.


Dan rasanya ingin Mika ketuk kepalanya yang otaknya sudah mulai tak waras itu.


“Mi?”


Suara Arya kembali terdengar, Mika pun kembali pada kesadarannya.


“Y-ya?---“


“Bengong?”


Mika langsung menggeleng seraya tersenyum tipis. “Gu-aku bukannya bengong. Tapi lagi mau pilihin baju ganti kamu,” jawab Mika pada dugaan Arya.


Arya lalu langsung berdehem. Kemudian menegakkan dirinya dan menghadap ke arah lemari yang telah Mika buka. “Sembarang aja, yang penting baju santai. Ini kaos sama celana pendek aku---“


“Iya...” timpal Mika dengan cepat sambil lagi sok fokus menatap beberapa lembar pakaian yang terlipat di depannya. “Kamu udah selesai emangnya?...” tanya Mika kemudian.


“Belom sih. Baru selesai sabunan, dan mau keramas, tapi kayaknya denger suara pintu di ketok dan suara kamu manggil aku---“


“Ya udah terusin sana,” timpal Mika. “Aku tadi cuma mau bilang kalo baju ganti kamu mau aku siapin,” tambahnya. “Soalnya aku pikir pasti nanti kamu ngambilnya asal dan baju kamu jadi berantakan.”


Arya lalu terkekeh kecil. “Tau aja.”


Lalu merespons ucapan Mika sebelumnya.


“Ya udah sana terusin mandinya. Nanti baju ganti aku taruh di situ ya?...”


Mika berkata lagi, sambil satu telunjuknya terarah ke satu tempat dengan permukaan datar.


Arya pun mengangguk.


🌷


“Ya udah aku selesain bebersih dulu,” kata Arya setelah ia mengangguk. “Bentar kok. Cuma tinggal sampoan sama cumuk dan sikat gigi aja. Tapi aku akan cepet,” tambah Arya, dan gantian Mika yang mengangguk sambil juga menunjukkan senyuman tipis. “Ngomong-ngomong kamu mau berendem?”


Selanjutnya Arya mencetuskan pertanyaan.


“Kalo mau aku siapin air di bathtub.”


Mika menjawab dengan gelengan. “Ga. Aku mandi pake shower aja.”


Lalu berucap kemudian.


“Pengen cepet istirahat.”


“Ya udah... sebentar ya?---“


“Iya.”


🌷


Fuuhh...


Mika menghela nafasnya samar saat Arya telah ia lihat akan kembali ke kamar mandi.


Lalu Mika langsung menarik keluar pakaian milik Arya dari dalam tumpukan, yang sebelumnya suaminya itu sempat tunjuk.


Kemudian mengayunkan langkahnya dengan pendek, ke satu bagian dalam walk in closet yang sebelumnya juga sudah Mika tunjuk dihadapan Arya.


Dimana pakaian ganti suaminya itu akan Mika letakkan di sana. Kemudian Mika akan menunggu Arya selesai di kamar mandi pada luar walk in closet. Mika juga tidak lagi mencuri pandang ke arah Arya yang ia pikir sudah berjalan dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Karena bisa-bisa otaknya kembali menjadi jungkir balik dan malah dirinya bertingkah macam perempuan gatal yang haus belaian berikut sentuhan-sentuhan yang bisa membuat blingsatan.


Padahal begitu juga tak apa. Toh Mika bersikap ‘gatal’ kan pada suaminya.


🌷


Mika baru saja meletakkan dua potong pakaian gantinya Arya.


Greb!


Namun sedetik kemudian dirinya dibuat membeku.


“Ar-Arya?...“


Kala dirinya dipeluk dengan tiba-tiba dari belakang, oleh dia gerangan yang Mika sebut namanya.


Lalu hati Mika langsung berdentum. Kala Arya bilang,


“Mandi bareng, yuk?... Mi?...”

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


To be continue.....


__ADS_2